cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2012)" : 6 Documents clear
ANALISIS KEJADIAN CURAH HUJAN EKSTREM DI PULAU SUMATERA BERBASIS DATA SATELIT TRMM DAN OBSERVASI PERMUKAAN [ANALYSIS OF EXTREME RAINFALL EVENTS OVER THE SUMATERA ISLAND BASED ON TRMM SATELLITE DATA AND SURFACE OBSERVATION] Sartono Marpaung; Didi Satiadi; Teguh Harjana
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1538.742 KB)

Abstract

Kejadian curah hujan ekstrem dapat memberikan dampak yang merugikan bagi manusia dan lingkungan. Seperti terjadinya banjir dan tanah longsor yang dapat mengakibatkan kerugian harta benda dan korban jiwa. Oleh sebab itu dalam makalah ini dilakukan suatu kajian untuk menganalisis kejadian curah hujan ekstrem. Metode yang digunakan untuk menentukan nilai ambang batas curah hujan ekstrem adalah fungsi distribusi kumulatif. Hasil analisis data curah hujan dari satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) menunjukkan, nilai ambang batas untuk Pulau Sumatera dan sekitarnya antara 60 sampai 130 mm/hari. Ambang batas di sekitar ekuator lebih tinggi dibanding bagian utara dan selatan, akibat pengaruh dari faktor ekuinoks yang lebih kuat dibanding monsun. Kejadian curah hujan ekstrem dengan jumlah hari kejadian 1 sampai 2 hari pertahun dominan terjadi. Tahun 1998/1999 terjadi peningkatan jumlah hari kejadian curah hujan ekstrem di laut sebelah barat dan timur Pulau Sumatera, diduga akibat pengaruh faktor global (La Niña dan Dipole Mode). Total jumlah hari kejadian curah hujan ekstrem yang dominan terjadi dalam 14 tahun adalah 20 sampai 30 hari. Kejadian dengan jumlah hari tertinggi terjadi di perairan sebelah barat Pulau Sumatera, diduga akibat pengaruh dari Samudera Hindia sebagai sumber uap air. Hasil perbandingan dengan curah hujan observasi permukaan menunjukkan nilai ambang batas dan jumlah kejadian hujan ekstrem lebih tinggi dibanding hasil dari satelit TRMM. Kata kunci: Ekstrem, Curah hujan, Ambang batas, Distribusi kumulatif
ANALISIS KOMPATIBILITAS INDEKS IONOSFER REGIONAL [COMPATIBILITY ANALYSIS OF REGIONAL IONOSPHERIC INDEX] Sri Suhartini
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.219 KB)

Abstract

Indeks ionosfer regional (indeks T) diturunkan berdasarkan hubungan linier antara frekuensi kritis lapisan F2 ionosfer (foF2) dengan aktivitas matahari yang diwakili oleh rata-rata berjalan 12 bulan bilangan sunspot (R12). Indeks T regional telah diturunkan menggunakan data foF2 dari Loka Pengamatan Dirgantara Sumedang dan Vanimo. Analisis kompatibilitas indeks ionosfer regional terhadap R12, menunjukkan bahwa gradien kemiringan garis korelasi linier antara indeks T terhadap R12 mempunyai nilai positif untuk semua bulan untuk kedua lokasi. Hal ini menunjukkan bahwa indeks T akan naik seiring dengan kenaikan R12. Korelasi yang tinggi antara indeks T regional dengan R12 (koefisien korelasi: R2= 0,88–0,98 untuk Sumedang, dan 0,86–0,950 untuk Vanimo) untuk semua bulan, untuk kedua lokasi, menunjukkan kompatibilitas antara kedua parameter tersebut. Pengujian terhadap nilai foF2 yang dihitung untuk nilai indeks T minimum (-50), menengah (100), dan maksimum (200), dibandingkan dengan minimum dan maksimum foF2 hasil pengamatan memberikan hasil kesesuaian nilai foF2 hasil perhitungan dan hasil pengamatan. Dari analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa indeks T regional dapat digunakan sebagai indeks ionosfer yang menggantikan R12 dalam hubungan antara aktivitas matahari dengan foF2 di daerah sekitar lokasi pengamatan. Kata kunci: Indeks ionosfer, foF2, Bilangan sunspot
KETIDAKTERATURAN LAPISAN IONOSFER DAN KAITANNYA DENGAN PROSES-PROSES KOPLING ATMOSFER-IONOSFER INDONESIA [IONOSPHERIC IRREGULARITIES AND ITS RELATION TO COUPLING PROCESS OF ATMOSPHERE-IONOSPHERE OVER INDONESIA] Dyah Rahayu Martiningrum
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1547.959 KB)

Abstract

Ketidakteraturan ataupun ketidakstabilan plasma di lapisan ionosfer perlu dijelaskan mekanismenya sehingga akan bermanfaat dalam pembangunan maupun pengembangan model lapisan ionosfer. Dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh, dalam hal ini adalah radar MF, Radar Atmosfer Ekuator (EAR), dan GNU Radio Beacon Receiver, sinyal-sinyal keluarannya diolah untuk mendapatkan parameter dinamika atmosfer-ionosfer. Hubungan antara ketidakteraturan lapisan ionosfer berupa Equatorial Spread F (ESF) dengan proses dinamis yang terjadi di lapisan atmosfer bawah dapat dijelaskan melalui mekanisme penjalaran gelombang gravitas dari atmosfer bawah ke atmosfer atas. Selain itu ditemukan juga adanya proses kopling antara lapisan E dan lapisan F yang berperan dalam terbentuknya ketidakteraturan lapisan ionosfer tersebut. Hasil lainnya menunjukkan adanya keterkaitan antara aktivitas matahari dengan ketidakteraturan di lapisan ionosfer dengan munculnya Equatorial Spread F (ESF) malam hari di wilayah ekuator Indonesia. Kata Kunci: Equatorial Spread F (ESF), Kopling lapisan E dan F
SEMBURAN RADIO MATAHARI TIPE III SEBAGAI INDIKATOR PENINGKATAN INTENSITAS ANGIN SURYA [TYPE III SOLAR RADIO BURSTS AS INDICATOR OF SOLAR WIND INTENSITY ENHANCEMENT] - Suratno; Santi Sulistiani; Johan Muhamad
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1129.916 KB)

Abstract

Fenomena flare, lontaran partikel energi tinggi, semburan radio tipe III dan angin surya merupakan rangkaian kejadian yang memiliki keterkaitan yang kuat. Semburan tipe III dipicu oleh kejadian flare dan lontaran partikel bermuatan energi tinggi di korona matahari dengan kecepatan kira-kira sepertiga kali kecepatan cahaya. Partikel energetik ini akan mengakibatkan peningkatan densitas dan kelajuan angin surya yang terdeteksi di atmosfer atas bumi. Beda waktu antara waktu awal semburan tipe III dan waktu puncak angin surya merupakan waktu penjalaran dari partikel energetik. Waktu penjalaran partikel energetik dapat diturunkan dari pergeseran frekuensi semburan tipe III. Hasil analisis sebanyak 34 pasangan data semburan tipe III dan angin surya ditemukan bahwa beda waktu antara waktu awal semburan tipe III sampai dengan puncak kelajuan angin surya berada pada rentang 7 sampai 60 menit dan beda waktu antara waktu awal tipe III dengan puncak densitas berada pada rentang 10 sampai 60 menit. Beda waktu penjalaran partikel energetik yang diturunkan dari pergeseran frekuensi tipe III dengan data pengamatan menunjukkan bahwa nilainya akan semakin mendekati nol apabila klas flare sinar-X tinggi (kelas M dan atau X) dan atau posisi flare berada di sekitar meridian tengah dan belahan barat matahari. Kata Kunci: flare, Semburan radio tipe III, Angin surya
CME HALO DAN DAMPAKNYA PADA INTENSITAS SINAR KOSMIK [HALO CME AND ITS IMPACT TO THE COSMIC RAY INTENSITY] Clara Y. Yatini
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.972 KB)

Abstract

Aktivitas matahari terkait erat dengan intensitas sinar kosmik, dan keduanya mempunyai korelasi yang terbalik atau memiliki fase yang berlawanan, yang berarti bahwa aktivitas matahari yang meningkat mengakibatkan turunnya intensitas sinar kosmik. Tahun 2011 merupakan fasa naik dari aktivitas matahari siklus ke 24. Pada tahun ini mulai banyak terjadi lontaran masa korona (Coronal Mass Ejection/CME), diantaranya merupakan CME halo. CME halo mempunyai lontaran yang tersebar merata sehingga mempunyai kemungkinan cukup besar untuk sampai ke bumi, dan mengkibatkan turunnya intensitas sinar kosmik yang teramati di bumi. Dalam penelitian ini dilakukan analisis pengaruh CME halo ini terhadap intensitas sinar kosmik. Data CME halo diperoleh dari Computer Aided CME Tracking (CACTUS), sedangkan data sinar kosmik merupakan data dari Moscow Neutron Monitor. Dalam beberapa peristiwa terlihat bahwa pengaruh CME halo tidak mempunyai pola yang sama. Beberapa CME halo mengakibatkan turunnya intensitas sinar kosmik secara jelas, sementara lainnya tidak mempunyai pola penurunan intensitas yang jelas. Untuk itu dilakukan analisis terhadap intensitas sinar kosmik dalam selang waktu tertentu untuk mengetahui seberapa jauh CME halo berperan dalam penurunan intensitas sinar kosmik. Hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa perubahan intensitas sinar kosmik bukan hanya disebabkan oleh terjadinya CME halo, tetapi dipengaruhi juga oleh fenomena lain yang terjadi di ruang antarplanet. Kata kunci: Lontaran masa korona, Sinar kosmik
ANALISIS POTENSI ANOMALI SATELIT-SATELIT ORBIT RENDAH DALAM SIKLUS MATAHARI KE-23 [ANALYSIS OF POTENTIAL ANOMALY FOR LOW ORBITING SATELLITES IN SOLAR CYCLE 23] Nizam Ahmad
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3201.35 KB)

Abstract

Analisis potensi anomali pada satelit-satelit orbit rendah bumi dapat dilakukan berdasarkan data anomali satelit dari operator satelit. Analisis ini menggunakan data bilangan sunspot (SSN), indeks F10,7, indeks Kp dan Dst serta data energi dan fluks partikel yang tersebar di orbit rendah bumi. Satelit-satelit yang berada dalam wilayah sebaran proton dan elektron diasumsikan berinteraksi langsung dengan partikel dan memberikan pengaruh yang bervariasi pada satelit. Analisis memperlihatkan bahwa kasus peluruhan orbit satelit dominan terjadi pada saat puncak aktivitas matahari, sedangkan kasus anomali satelit dominan terjadi pada tahun 2003. Analisis kejadian anomali juga memperlihatkan bahwa sistem kontrol sikap satelit paling rentan mengalami kerusakan. Identifikasi terhadap satelit-satelit yang belum diketahui penyebab anomalinya seperti Fuse (1), Fuse (2) dan Monitor-E memberikan informasi bahwa kemungkinan besar anomali dipengaruhi oleh peningkatan plasma ketika terjadi badai geomagnet. Anomali pada satelit Kirari, Obrview 3 dan HST diduga terkait dengan masalah pada sistem satelit sendiri. Analisis pada beberapa satelit yang digunakan untuk studi kasus seperti satelit Tiros 10, Landsat 5, Oceansat 1 dan CBERS 1 memberikan informasi bahwa semua satelit tersebut berpotensi mengalami anomali pada suatu waktu dan kebanyakan disebabkan oleh proton dan elektron dengan variasi fluks. Analisis potensi anomali ini sangat bermanfaat dalam membangun sistem peringatan dini gangguan operasional satelit-satelit Indonesia pada masa mendatang. Kata kunci: Anomali Satelit, Proton, Elektron

Page 1 of 1 | Total Record : 6