cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 27 No. 2 (2018)" : 8 Documents clear
Tradisional atau Modern: Dampak Kebijakan Perumahan Rakyat terhadap Bangunan Tradisional di Lembah Bada, Sulawesi Selatan Citra Iqliyah Darojah
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v27i2.451

Abstract

Abstract. Public housing has become Indonesian Government’s main consideration since 1970s. As one of public welfare indicator, three categories of house based on its material are amongst government’s policy of public housing. Discussing the impact of government’s public housing policy implementation into traditional houses in Indonesia is the aim of this article. Qualitative method consists of field survey and desktop survey used as primary data collection. Field survey at Bada was conducted in 2012 and followed by desktop survey. Result of the study shows that traditional houses built from organic materials like wood, thatch, bamboo, rattan, palm fiber, and leaves, considered as non-permanent house. Thus, the category is a legitimation for people to shift from traditional houses to modern houses (permanent house), following social and economics factor that triggered the phenomena. In Bada it happened in rapid movement and endangered the existence of traditional houses.Keywords: traditional house, policy, government, BadaAbstrak. Perumahan rakyat telah menjadi pusat perhatian Pemerintah Indonesia sejak tahun 1970-an. Sebagai salah satu indikator kesejahteraan, tiga tipe rumah berdasarkan materialnya ada di dalam kebijakan pemerintah terkait perumahan rakyat. Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk mendiskusikan dampak penerapan kebijakan perumahan rakyat tersebut terhadap rumah-rumah tradisional di Indonesia. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode kualitatif terdiri dari survei lapangan dan survei data sekunder. Survei lapangan di Bada dilakukan pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan survei data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tradisional yang dibangun dengan bahan-bahan organik seperti kayu, bambu, ijuk, rotan, serat palem, dan dedaunan, termasuk dalam kategori rumah tidak permanen. Pengkategorian tersebut adalah legitimasi masyarakat untuk beralih dari rumah tradisional ke rumah modern (rumah permanen), mengikuti faktor perubahan sosial dan ekonomi yang menjadi pemicu fenomena tersebut. Di Bada hal tersebut terjadi cukup cepat dan mengancam keberadaan rumah-rumah tradisional.   Kata kunci: rumah tradisional, kebijakan pemerintah, Bada
MOTIF HIAS PADA ARSITEKTUR BANGUNAN PENINGGALAN ZENDING DI PULAU ROON DAN WASIOR, KABUPATEN TELUK WONDAMA, PROVINSI PAPUA BARAT Marlin Tolla
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v27i2.456

Abstract

Abstrak. Misionaris yang bergabung dalam perkumpulan Zending Ultrecht untuk Misi Kristen Protestan (UZV) melakukan pengenalan agama Kristen Protestan di daerah Mansinam dan daerah sekitar unik yang diaplikasikan pada bagian tertentu pada bangunan yang ada. Tulisan ini bertujuan mengekplorasi  dan mengetahui makna dari arsitektur bangunan, dalam hal ini motif hias yang diterapkan pada bangunan yang didirikan oleh zending dalam misi kristiani yang dilakukan di daerah Roon dan Wasior. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif  dengan menggunakan data etnografi yang diperoleh melalui studi pustaka. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa bangunan peninggalan yang ada di kedua daerah ini menggunakan bahan yang sesuai dengan iklim setempat, sedangkan motif yang diterapkan sangat kuat dipengaruhi oleh budaya adat Saireri. Adopsi budaya lokal pada motif bangunan dimotivasi oleh nilai luhur yang terkandung dalam motif tersebut yang selanjutnya diaplikasikan pada bangunan sebagai pengingat untuk tetap dipedomani oleh masyarakat pada masa lalu.Kata Kunci: Zending, Motif hias, Pekabaran Injil, Roon dan Wasior  Abstract. Ultrecht Protestant Mission Union (UZV), also known as Zending Ultrecht, is group of missionaries of Dutch government who did evangelism in Mansinam and its surrounding areas in Cenderawasih Bay. Architectures built for the mission can be found in this area, including in Roon and Wasior. This paper aims to explore the history of Christianity in Roon and Wasior areas reflected in materials used for the construction as well as the architecture ornaments. The descriptive method and literature-based ethnography study were applied in this study to explain the meaning of the ornaments and the influence of local cultures to the colonial legacy. The results shows that the local culture, Saireri, strongly influenced the variety of ornaments used in the architectures. Another factor is adaptation with local climate that can be seen from its building materials. The use of local culture was to serve as life guidance by the community.Keywords: Zending, decorative ornaments, Christianity, Roon and Wasior
“OMO HADA” Arsitektur Tradisional Nias Selatan Diambang Kepunahan Muhammad Fadhlan Syuaib Intan; Nasruddin Nasruddin
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v27i2.458

Abstract

AbstractThe South Nias cultural heritage presented through the artifacts, in the form of traditional architectural buildings, as well as various megalithic stone buildings with all their forms, is an ancestral cultural work that not only contains aesthetic values, uniqueness and art, but also local wisdom as a source of knowledge which is very valuable to be studied and studied. This important and very valuable heritage must be preserved and preserved. But the attitudes and views of the people towards their cultural heritage are changing, as if they no longer have sacred values, even the value of local wisdom begins to fade over time. The existence of South Nias traditional houses is relatively more sustainable compared to other traditional houses. To maintain its existence, changes are needed to accommodate the current residential needs of the community. On the other hand, these changes have the potential to eliminate the character or authenticity of traditional Nias Selatan architecture. This study aims to find out about traditional technologies and architectural changes that occur and their impact on the existence of traditional South Nias houses. From the various problems of the South Nias cultural heritage that are being faced, this study tries to highlight aspects of traditional architecture and local wisdom, including the accompanying megalithic elements. The subjects that will be studied use an ethno-archaeological approach with emphasis on the observation method through direct observation of objects of material culture and social aspects at the research site. In this way it makes it easier for us to observe directly and in detail the architectural forms and components, both exterior and interior as well as the decorative types in the past cultural context of South Nias.Keywords: Traditional Architecture, Megalithic, Cultural HeritageAbstrak Warisan budaya Nias Selatan yang dipresentasikan lewat  peninggalan artefak, berupa  bangunan berarsitektur tradisional, maupun beragam bangunan batu megalit dengan segala rupa bentuknya, merupakan karya budaya leluhur  yang tidak hanya mengandung nilai estetika, keunikan dan seni semata, tetapi juga merupakan kearifan lokal sebagai sumber ilmu pengetahuan yang sangat berharga untuk dikaji dan dipelajari.  Warisan yang penting dan sangat berharga  ini wajib dipelihara dan dilestarikan. Namun sikap dan pandangan masyarakatnya  terhadap warisan budayanya, sedang berubah, seakan tidak lagi memiliki nilai-nilai sakral, bahkan  nilai kearifan lokal pun mulai luntur seiring perjalanan waktu. Keberadaan rumah tradisional Nias Selatan relatif lebih bertahan eksistensinya dibandingkan rumah tradisional lainnya. Untuk mempertahankan eksistensinya, diperlukan perubahan untuk mengakomodasi kebutuhan hunian masyarakat saat ini. Di sisi lain, perubahan tersebut berpotensi menghilangkan karakter atau keaslian  arsitektur tradisional Nias Selatan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui teknologi tradisional dan perubahan arsitektur yang terjadi dan dampaknya terhadap eksistensi dari rumah tradisional Nias Selatan. Dari berbagai masalah warisan budaya Nias Selatan yang sedang dihadapi itu,  maka penelitian ini mencoba menyoroti aspek  arsitektur tradisional maupun kearifan lokalnya, termasuk unsur megalitik yang menyertainya. Subyek yang akan  dikaji ini memakai pendekatan etnoarkeologi dengan  penekanan  pada metode  observasi melalui pengamatan langsung terhadap obyek-obyek budaya material dan aspek sosial di lokasi penelitian. Dengan cara ini memudahkan kita mengamati secara langsung dan detil bentuk-bentuk arsitektur dan komponennya, baik eksterior dan interior maupun ragam hias dalam konteks budaya masa lalu Nias Selatan.Kata Kunci: Arsitektur Tradisional, Megalitik, Warisan Budaya
Dua Tipe Ornamentasi Candi Perwara di Kompleks Candi Sewu Ashar Murdihastomo
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v27i2.462

Abstract

AbstractSewu Temple, located in Prambanan, is one of the Buddhist temple complex that have lots of uniqueness. One of the uniqueness can be seen on Perwara Temple that have two ornamentations. But, many scholars never make the research about it. Therefore, in this article, I want to describe the background of the two ornamentations on perwara temple. The research is carried out by observation and literature study. From the research, I find out that the two ornamentations on perwara temple in Sewu Temple complex have relation with the religion conception.Keywords: Buddha, Sewu Temple, perwara temple, ornamentation.AbstrakCandi Sewu, yang terletak di daerah Prambanan, merupakan salah satu kompleks percandian agama Buddha yang masih menyimpan banyak keunikan. Salah satu keunikannya adalah dua corak ornamentasi yang terdapat pada candi perwaranya. Keberadaan kedua ornamentasi ini belum pernah dibahas detail oleh peneliti mana pun. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis berusaha untuk mengkaji dua corak ornamentasi itu dengan tujuan memberikan gambaran terkait dua corak ornamen tersebut serta mencoba untuk mengetahui latar belakang perbedaan tersebut. Penelitian dilakukan melalui pengamatan langsung dan analisis dengan bantuan studi pustaka. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kedua corak ornamentasi pada candi perwara tersebut terkait dengan konsep keagamaan.Kata kunci: Buddha, Candi Sewu, candi perwara, ornamentasi.
PERKEMBANGAN RAGAM HIAS PADA OMO SEBUA DI NIAS SELATAN, SUMATERA UTARA Elyada Wigati Pramaresti
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v27i2.463

Abstract

Abstract. Omo Sebua or chief’s house is a cultural material heritage found in South Nias Regency, North Sumatera. In the past, each village in South Nias has one Omo Sebua. However, currently there are only four houses that still exist located in Hilinawalö Mazinö, Hilinawalö Fau, Onohondrö, and Bawömataluo. Each house has its own ornament style which rather different to each other. The main purpose of this article is to find out about the development of the ornaments on four remaining omo sebua which were built in different periods. The methods used in this research were by making shape-based ornament classification then followed by analysis to identify the quantity of its sub-theme, location, and ornament morphology. The result reveals that ornaments on those four houses have developed through times which caused by many factors, such as time, skill, and influence from other cultures. This research attempts to provide documentation of ornaments on Omo Sebua before these fine buildings completely destroyed, as well as to introduce the cultural material heritage of Nias to general public so that it can become an asset for tourism in the future.Keywords: Omo sebua, ornaments, classification, development Abstrak. Omo sebua atau rumah bangsawan merupakan salah satu tinggalan budaya materi di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Dahulu, tiap desa di Nias Selatan mempunyai satu omo sebua. Kini, hanya empat omo sebua yang masih berdiri di Nias Selatan, yakni di Desa Hilinawalö Mazinö, Hilinawalö Fau, Onohondrö, dan Bawömataluo. Ragam hias pada omo sebua tidak sama antara satu  dan yang lain. Masing-masing rumah mempunyai gaya ragam hiasnya sendiri. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini berkaitan dengan perubahan ragam hias pada empat omo sebua yang didirikan dalam waktu yang berbeda-beda. Tujuan penelitian ini adalah melihat perkembangan ragam hias yang ditemukan pada keempat omo sebua di Nias Selatan. Metode yang digunakan untuk menjawab permasalahan adalah klasifikasi ragam hias berdasarkan bentuk, dilanjutkan dengan analisis jumlah subtema, keletakan, dan morfologi ragam hias. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam hias pada keempat omo sebua mengalami perkembangan dari rumah tertua hingga rumah termuda. Perkembangan ragam hias terjadi karena faktor waktu, keterampilan seniman, dan pengaruh budaya asing di Nias Selatan. Manfaat dari penelitian ini adalah menyediakan dokumentasi ragam hias sebelum keempat omo sebua yang tersisa rusak sekaligus memperkenalkan tinggalan budaya materi di Nias kepada masyarakat umum sehingga dapat menjadi modal dalam sektor pariwisata di masa yang akan datang.Kata kunci: Omo sebua, ragam hias, klasifikasi, perkembangan 
Preface Kalpataru Volume 27, nomor 2, tahun 2018 Puslit Arkenas Puslit Arkenas
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover Kalpataru Volume 27, Nomor 2, Tahun 2018 Puslit Arkenas Puslit Arkenas
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Appendix Kalpataru Volume 27, nomor 2, tahun 2018 Kalpataru Puslit Arkenas
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 8