cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 28 No. 2 (2019)" : 7 Documents clear
PENATAAN RUANG DALAM RANGKA PELESTARIAN KAWASAN CAGAR BUDAYA: KAJIAN KOTA KUNO BANTEN LAMA Yosua Adrian Pasaribu
KALPATARU Vol. 28 No. 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v28i2.577

Abstract

Abstract The old city of Banten Lama was an international port city developed in the 16-18th century AD. This old city, which once was the capital city of one of Indonesian Great Kingdom who has an ambassador in the Great Britain, can still be reconstructed based on the trace of monuments left scattered on the site at Kasemen District, Serang City. The preservation planning of this cultural heritage of an ancient city fits with the regional planning. Problems with this region heritage are the proximity between heritages and houses or shops and destructive activities. The data of spatial problems has never been mapped with a measured method. Spatial planning in this heritage area was done by aerial photography mapping. This paper reviews the use of the aerial photography method in planning for the preservation of space for cultural heritage areas. This method shows the existing condition of heritage buildings and sites that have proximity with houses, roads, and shops. This study shows that the preservation of the ancient city of Banten Lama can be done by providing substitutes for green open spaces for people who have been using cultural heritage sites for general recreational purposes, encouraging the development of settlements outside cultural heritage areas, and involving the community in community empowerment in the use of cultural heritage in harmony with preservation.Keywords: Banten Lama, Cultural Heritage Area Preservation, Spatial Planning, Indonesia Abstrak Kota Kuno Banten Lama merupakan kota pelabuhan internasional yang berkembang pada abad 16-18 M. Ibu kota kerajaan tradisional Indonesia yang memiliki duta besar di Inggris ini masih dapat direkonstruksi berdasarkan monumen-monumen yang tersebar di wilayah Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Pelestarian kawasan kota kuno bersinggungan dengan penataan ruang di wilayah tersebut. Permasalahan dalam pelestarian situs dan bangunan cagar budaya di Banten adalah kedekatan jarak antara cagar budaya dengan permukiman atau pertokoan dan pemanfaatan yang tidak selaras dengan pelestarian. Data permasalahan keruangan tersebut belum pernah dipetakan dengan metode yang terukur. Tulisan ini mengulas mengenai penggunaan metode foto udara dalam perencanaan pelestarian ruang kawasan cagar budaya. Metode tersebut dapat memperlihatkan kondisi eksisting situs dan bangunan cagar budaya yang bersinggungan dengan permukiman, jalan, dan pertokoan. Kajian menunjukkan bahwa pelestarian kota kuno Banten Lama dapat dilakukan dengan menyediakan pengganti lapangan terbuka hijau bagi masyarakat yang selama ini menggunakan situs-situs cagar budaya sebagai sarana rekreasi umum, mendorong pembangunan permukiman di luar kawasan cagar budaya, dan melibatkan masyarakat dalam pemanfaatan cagar budaya yang selaras dengan pelestarian. Keywords: Banten Lama, pelestarian kawasan cagar budaya, perencanaan tata ruang, Indonesia
Tiga Tipe Tata Ruang Desa Tradisional di Nias Selatan, Sumatera Utara Elyada Wigati Pramaresti
KALPATARU Vol. 28 No. 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v28i2.579

Abstract

South Nias is one of many regions in Indonesia that still mantains the existence of traditional settlement. Villages found in this regency have unique characteristic as are shown by their linear forms with two rows of houses facing each other. Although the villages seem to have similar forms, in fact, there are three types of spatial patterns which present in South Nias traditional villages. The main purpose of this research relates to the variations of spatial patterns in this region’s traditional settlement. Moreover, its aim is to obtain the classification of settlement forms in South Nias. The research method used to answer the question is qualitative and the data are obtained by field observation, interviews, and literature study. The result reveals that traditional villages in South Nias have spatial patterns in the form of branched linear, I-shaped linear, and T-shaped linear. Classification of the settlement form is based on differences in the shape and location of village materil components. This research also intents to conduct documentation about South Nias traditional villages together with their components which become scarce in present day because damaged by natural factors or deliberately replaced by modern components.Nias Selatan adalah salah satu wilayah di Indonesia yang masih mempertahankan keberadaan permukiman tradisional. Desa-desa yang ditemukan di kabupaten tersebut memiliki karakteristik yang unik, yaitu berbentuk linear dengan dua baris rumah yang saling berhadapan. Meskipun sekilas desa-desa itu tampak memiliki bentuk yang sama, sebenarnya terdapat tiga tipe bentuk tata ruang yang dijumpai pada desa tradisional di Nias Selatan. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan variasi bentuk tata ruang permukiman tradisional di wilayah tersebut. Tujuannya untuk memperoleh klasifikasi bentuk permukiman tradisional Nias Selatan. Metode penelitian yang digunakan untuk menjawab permasalahan adalah metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan desa tradisional di Nias Selatan memiliki bentuk tata ruang linear bercabang, linear I, dan linear T. Klasifikasi bentuk permukiman tersebut didasarkan atas perbedaan bentuk dan keletakan komponen materi desa. Penelitian ini juga berupaya untuk melakukan dokumentasi desa-desa tradisional Nias Selatan beserta komponennya yang kini menjadi langka karena rusak oleh faktor alam maupun sengaja diganti dengan komponen yang modern.
POLA PEMUKIMAN KAMPUNG ADAT ANAKALANG: KEBERLANJUTAN BUDAYA MEGALITIK DI SUMBA TENGAH Retno Handini
KALPATARU Vol. 28 No. 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v28i2.580

Abstract

AbstractThis research aims to determine how the settlement pattern of Anakalang community in Central Sumba which are supporters of the megalithic tradition. This research also aims to determine the extent of sustainability of megalithic culture in the Anakalang region. The research methods carried out were participation observation, in-depth interviews and literature studies. Through the participatory observation method, the author is easier to know and understand the interconnectedness of the cultural elements of the Sumba community, especially concerning the place of residence. In-depth interview techniques were carried out on the informants. The results of the study show that the pattern of occupancy of traditional villages in Anakalang is almost entirely linear with houses facing each other, in the middle part of the village is a field (talora) where there are stone graves and traditional rituals are performed. Although many old traditional villages were abandoned and they established villages in new places, the strong kinship made the Anakalang community always return to their villages if there were traditional ritual events. As a settlement that has the characteristics of a megalithic tradition, traditional houses in Anakalang are almost certainly always associated with stone graves and menhirs. The establishment of stone tombs and traditional rituals are united in the daily lives of the Anakalang community, with a background of religious conceptions that are seen as ancestral heritage that must be held firmly. The variety of megalithic cultures in Anakalang has through the time period in a theoretical way, and continues to this day as a tradition. Keywords: Residential pattern, megalithic, Anakalang, Sumba Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola pemukiman masyarakat Anakalang di Sumba Tengah  yang merupakan pendukung tradisi megalitik. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keberlanjutan budaya megalitik di wilayah Anakalang.   Metode penelitian yang dilakukan adalah observasi partisipasi, wawancara mendalam dan studi pustaka. Melalui metode observasi partisipasi,  penulis lebih mudah untuk mengetahui dan memahami keterkaitan unsur-unsur budaya masyarakat Sumba terutama menyangkut tempat tinggal. Teknik wawancara mendalam dilakukan terhadap para informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pemukiman kampung adat di Anakalang hampir seluruhnya  berbentuk linier dengan rumah yang saling berhadapan, di bagian tengah kampung merupakan lapangan (talora) tempat kubur-kubur batu dan tempat melakukan ritual adat. Meski banyak kampung adat lama ditinggalkan dan mendirikan kampung di tempat baru   namun kuatnya kekerabatan membuat masyarakat Anakalang  selalu kembali ke kampung asal jika ada acara ritual adat. Sebagai pemukiman yang memiliki ciri tradisi megalitik, rumah adat di Anakalang hampir pasti selalu berasosiasi dengan kubur-kubur batu dan menhir.  Pendirian kubur batu dan ritual adat menyatu dalam keseharian masyarakat Anakalang, dengan latar belakang konsepsi religi yang dipandang sebagai warisan nenek moyang yang harus dipegang teguh. Ragam budaya megalitik di Anakalang telah menembus batas periode waktu secara teoritis, dan berlangsung hingga kini sebagai sebuah tradisi. Kata kunci : Pola hunian, megalitik, Anakalang, Sumba 
TATA RUANG PEMUKIMAN MEGALITIK, SITUS TANJUNG ARO KECAMATAN DEMPO UTARA, KOTA PAGAR ALAM Kristantina Indriastuti
KALPATARU Vol. 28 No. 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v28i2.587

Abstract

Situs-situs megalitk di Sumatera Selatan biasa dikenal dengan budaya megalitik Pasemah, arealnya merupakan dataran tinggi yang memanjang sekitar 70 km arah baratlaut-tenggara, antara Bukit Barisan dan Pegunungan Gumai, meliputi daerah yang luasnya sekitar 80 km 2. Situs-situs megalitik tersebar di dataran tinggi, di puncak gunung, di lereng dan ada yang di lembah. Pada umumnya situs-situs megalitik berada di ketinggian 400 – 800 meter dpl, berdasarkan hasil dating diperkirakan budaya megalitik di Sumatera Selatan berkembang sekitar abad 10-11 Masehi.Daerah Pasemah wilayahnya meliputi Bukit Barisan dan di kaki pegunungan Gumai. Salah satu situs yang akan dilakukan penelitian berada di kota Pagar Alam yaitu situs Tanjung Aro.Situs Tanjung Aro pertama kali dilakukan penelitian sejak zaman Belanda dan berbagai macam tinggalan megalitik dapat kita temukan seperti; 2 buah bilik batu, arca orang dibelit ular, dolmen, batu datar, selain areal pemujaan, ternyata di situs ini ditemukan juga struktur benteng tanah, parit sekitar benteng dan fragmen gerabah yang cukup tebal yang berada di luar benteng yang kemungkinannya merupakan wadah atau bekal penguburan. Untuk itu pada penelitian yang akan dilakukan pada kesempatan ini yaitu mengetahui bagaimanakah pola pemukiman dan cara-cara bermukim masyarakat pendukung situs Megalitik Tanjung Aro, apakah kaitannya antara benteng tanah, gerabah, dan bangunan-bangunan megalitik di situs Tanjung Aro.
Jejak-jejak Permukiman Kuno Di Kawasan Teluk Semangka, Propinsi Lampung Rusyanti Rusyanti; Agel Vidian Krama; Irwan Setiawidjaya
KALPATARU Vol. 28 No. 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v28i2.592

Abstract

AbstractThe Gulf is an area of water jutting inland and is often used as a port. In the 15th century — 17 M the Gulf of Semangka was passed by a sea-trading route before heading to Teluk Betung. However, this region is rarely mentioned in historical sources even though the ancient settlements have been found in the upstream of the Way Semangka since in the 10th century, so the absence of historical records in the downstream area or the gulf of Semangka becomes an important problem to solve. Through a descriptive reasoning method with geoarchaeological surveys and interviews, there were found 15 ancient settlements in the gulf of Semangka area as well as on a floodplain by leaving ceramic fragments from the 19 — 20 century. Results indicated that the settlement allegedly was built by the initial settlers of the Saibatin clan whose inhabiting the Gulf of Semangka through a short-haul river, and cross the ridge. The gap of settlement chronology between upstream and downstream is indicated due to the environmental vulnerability in this region as a result of its position on the active-control of Semangka fault.  Keywords: Ancient settlement, the gulf of Semangka, Tanggamus.   AbstrakTeluk merupakan wilayah perairan yang menjorok ke daratan dan seringkali dimanfaatkan sebagai pelabuhan. Pada abad ke-15-17 M wilayah Teluk Semangka dilewati sebagai jalur perdagangan sebelum menuju Teluk Betung. Meskipun demikian, wilayah ini jarang sekali disebut dalam sumber sejarah, padahal permukiman kuno telah ada di bagian hulu Way Semangka sejak abad 10 M. Absennya catatan sejarah di wilayah hilir atau teluk Semangka menjadi masalah yanng menarik. Melalui metode penalaran deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui survei geoarkeologi dan wawancara, ditemukan 15 titik permukiman di kawasan Teluk Semangka dan sekaligus berada pada dataran limpahan banjir. Artefak yang ditemukan dominan berupa fragmen keramik abad ke19--20 M. Hasil penelitian mengindikasikan permukiman tersebut sebagai sebaran dari pemukim awal marga saibatin yang mendiami wilayah Teluk  Semangka yang  datang dari hulu di wilayah Liwa melalui sungai Semangka yang curam dengan jarak pendek, melintasi hutan dan punggung bukit. Jauhnya rentang kronologi permukiman antara hulu dan hilir diindikasi karena faktor kerentanan lingkungan akibat bencana karena lokasinya dipengaruhi oleh kontrol aktif sesar Semangka. Kata kunci: Permukiman kuno, Teluk Semangka, Tanggamus
Cover Kalpataru Volume 28, nomor 2, tahun 2019 Puslit Arkenas Puslit Arkenas
KALPATARU Vol. 28 No. 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Appendix Kalpataru Volume 28, nomor 2, tahun 2019 Puslit Arkenas
KALPATARU Vol. 28 No. 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 7