cover
Contact Name
Fakhriyadi Ainiyah
Contact Email
fakhriyadi044@gmail.com
Phone
+6285812783110
Journal Mail Official
fakhriyadi044@gmail.com
Editorial Address
Dsn. Agung Ds. Cagak Agung Rt.03 Rw.02 Kecamatan. Cerme Kabupaten. Gresik Jawa timur
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Ad-Deenar: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam
ISSN : 23561866     EISSN : 26148838     DOI : -
Core Subject : Economy, Science,
Ad-Deenar: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam accepts original manuscripts in the field of Islamics Economics, including research reports, case reports, application of theory, critical studies and literature reviews. The spread of Islamic Economics include: 1. Islamic Finance and Capital Market 2. Islamic Banking 3. Management of Islamic Business and Entrepenuership 4. Islamic Financial Institution non Bank�
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 01 (2017)" : 7 Documents clear
Sugeng Priyono Sugeng Priyono
Ad-Deenar: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam Vol 1, No 01 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.429 KB) | DOI: 10.30868/ad.v1i01.227

Abstract

Selama ini pendekatan kebijakan distribusi ekonomi didasarkan pada dua mazhab,yaitu mazhab klasik (ortodoks) dan mazhab strukturalis. Kesenjangan yang semakinmeningkat antara kelompok kaya dan kelompok miskin seperti dilansir riset the NewEconomics Foundation dan Human Development Report 2006 adalah bukti kegagalan keduamazhab tersebut. Maka urgensi pendekatan konsep ekonomi Islam merupakan solusi yangsemestinya diupayakan oleh para penentu kebijakan (policy makers) terutama di Negaranegaramayoritas muslim, terlebih trend dunia saat ini mengarah pada Sharing-BasedEconomy. Kewajiban zakat dalam Islam sangat fundamental dan berkaitan erat dengan aspekaspekketuhanan dan sosial ekonomi. Aspek-aspek ketuhanan dapat ditelusuri daribanyaknya ayat-ayat dalam al-Qur'an yang menyebut masalah zakat. Perintah zakat dapatdipahami sebagai salah satu kesatuan sistem yang tak terpisahkan dalam pencapaiankesejahteraan sosial ekonomi dari aspek al-'adalah al-ijtima'iyah. Implikasi zakat dapatmeminimalisir kesenjangan sosial dalam masyarakat, zakat diharapkan dapat meningkatkandan menumbuhkan perekonomian baik individu maupun masyarakat. Zakat adalah keputusanpolitik paling penting dalam Islam (high politic). Ijtihad nishab zakat kontemporer sebagaiupaya realisasi zakat di era modern. Disamping merupakan rukun Islam, jika dikeloladengan baik, zakat dapat memberikan efek rambatan (multiplier effect) yang besar.Logikanya dengan zakat akan meningkatkan konsumsi mustahik (aggregate demand), makaakan mendorong investasi yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan ekonomi, yangtentu akan meningkatkan kesejahteraan umum.Kata kunci: Zakat, Nishab, Ijtihad ulama
Kajian Teori Laba Pada Transaksi Jual Beli Dalam Fiqh Mu’āmalah (Studi Komparasi Teori Laba Ekonomi Konvensional) Fachri Fachrudin
Ad-Deenar: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam Vol 1, No 01 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.539 KB) | DOI: 10.30868/ad.v1i01.228

Abstract

Islam memiliki nilai komprehensif yang berarti syariah islam merangkum seluruhaspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun social (mu’āmalah). Ibadah diperlukan untukmenjaga ketaatan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Khaliq-nya. Ibadah jugamerupakan sarana untuk mengingatkan secara kontinyu tugas manusia sebagai khalifah-Nyadi muka bumi ini. adapun mu’āmalah diturunkan untuk menjadi rules of the game atauaturan main manusia dalam kehidupan sosialnya.Dalam Islam ekonomi adalah bagian dari tatanan islam yang perspektif. Islammeletakan ekonomi posisi tengah dan keseimbangan yang adil. Keseimbangan ini diterapkandalam segala bidang ekonomi. Segi imbang antara modal dan usaha, antara produksi dankonsumsi, antara produsen, perantara, dan konsumen dan antara golongan-golongan dalammasyarakat. Termasuk dari keadilan dalam pola produksi, distribusi, dan sirkulasi ekonomiadalah adanya pelarangan jual beli yang dipandang merugikan keduabelah pihak atau salahsatunya.Kata Kunci: Teori Laba, Jual Beli, Fiqh Mu’amalah
PERSPEKTIF THE RESOURCE BASED VIEW (RBV) DALAM MEMBANGUN COMPETITIVE ADVANTAGE Ating Sukma
Ad-Deenar: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam Vol 1, No 01 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.917 KB) | DOI: 10.30868/ad.v1i01.229

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk menganalisis kerangka dari teori Resource Based View(RBV) yang dikemukakan para ahli dalam pembahasan manajemen strategik dan tertutamayang berkaitan dengan kekuatan dan kelemahan perusahaan dengan cara mengidentifikasiapa yang menjadi kekuatan dan kapabilitas perusahaan serta menghindari kelemahan yangdimiliki untuk keunggulan bersaing, dengan penekanannya pada konsep tentang RBV danmenganalisis perkembangan teori RBV dalam manajemen stratejik,serta menganalisislingkungan internal dilihat dari sudut kekuatan dan kelemahan yang akan membantuperusahaan agar mampu mengambil keuntungan dari peluang-peluang yang ada dan mampumenghindari dinamis ancaman yang mungkin timbul.Metode penelitian yang digunakanadalah berdasarkan pendekatan historis dan review literatur dari pendapat para ahli yangmembahas teori RBV dalam kaitannya dengan kapabilitas dan kompetensi dalammenciptakan daya saing yang unggul,Studi ini akan memberikan gambaran mengenai karateristik dari pendekatan sumberdaya yang dapat memberikan kontribusi dalam praktek manajemen strategi danmeningkatkan kapabilitas serta kompentensi dari perusahaan untuk meningkatkan keunggulan bersaing melalui pendayagunaan sumber daya, baik yang bersifat fisik maupunnon fisik. Dengan memperhatikan kekuatan dan kelemahan,diharapkan perusahaan dapat mengoptimalkan core competencies sumber daya yang dimilikinya dan dapat meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan.Pada makalah ini akan diarahkan kepada analisa berbagai pendapat para ahliekonomi mengenai kerangka sumber daya yang akan menghasilkan suatu kapabilitas yaknikeahlian-keahlian yang ada pada setiap individu,serta menganalisa keunikan dari sumberdaya yang dimiliki baik yang bersifat fisik, maupun yang bersifat intangible assetsyang akanmendukung keunggulan bersaing dari suatu perusahaanKeywords :Resource Based View,Kapabilitas,Kompetensi,Keunggulan Bersaing
SISTEM EKONOMI ISLAM BERLANDASKAN ETIKA BISNIS Irfan Bahar Nurdin
Ad-Deenar: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam Vol 1, No 01 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.149 KB) | DOI: 10.30868/ad.v1i01.224

Abstract

Ekonomi Islam adalah ekonomi ilahiah, karena titik berangkatnya dari Allah,tujuannya mencari ridha Allah dan cara-caranya tidak bertentangan dengan syariat-Nya.Kegiatan ekonomi, baik produksi, konsumsi, penukaran, dan distribusi, diikatkan padaprinsip ilahiah dan pada tujuan ilahi.Islam adalah sistem yang sempurna bagi kehidupan, baik kehidupan pribadi,kehidupan umat, kehidupan dengan semua seginya seperti pemikiran, jiwa dan akhlak. Jugapada segi kehidupan dibidang ekonomi, sosial maupun politik. Ekonomi adalah bagian dariIslam. Ia adalah bagian yang dinamis dan bagian yang sangat penting, tetapi bukan asasdan dasar bagi bangunan Islam, bukan titik pangkal ajarannya, bukan tujuan risalahnya,bukan ciri peradabannya dan bukan pula cita-cita umatnya.Kata Kunci: Ekonomi Islam, Etika Bisnis
ETIKA KONSUMSI DALAM ISLAM Eka Sakti Habibullah
Ad-Deenar: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam Vol 1, No 01 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.119 KB) | DOI: 10.30868/ad.v1i01.230

Abstract

Kajian Islam tentang konsumsi sangat penting, agar seseorang berhati-hati dalam menggunakan kekayaan atau berbelanja. Suatu negara  mungkin memiliki kekayaan melimpah, tetapi apabila kekayaan tersebut tidak diatur pemanfaatannya dengan baik dan terukur maslahahnya, maka kesejahtera-an (welfare) akan mengalami kegagalan. Jadi yang terpenting dalam hal ini adalah cara penggunaan yang harus diarahkan pada pilihan-pilihan (preferensi)  yang mengandung maslahah (baik dan bermanfaat), agar kekayaan tersebut dimanfaatkan pada jalan yang sebaik-baiknya untuk kemakmuran dan kemaslahatan individu,masyarakat dan rakyat secara menyeluruh. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan naluri manusia. Sejak kecil, bahkan ketika baru lahir, manusia sudah menyatakan keinginan untuk memenuhi kebutuh-annya dengan berbagai cara, misalnya dengan menangis untuk menunjukkan bahwa seorang bayi lapar dan ingin minum susu dari ibunya. Semakin besar dan akhirnya dewasa, keinginan dan kebutuhan seorang manusia akan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada usia tertentu untuk seterusnya menurun hingga seseorang meninggal dunia. Kata Kunci: Etika, Konsumsi, Islam
KEBIJAKAN FISKAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM (BAITUL MAAL SEBAGAI BASIS PERTAMA DALAM PENDAPATAN ISLAM) Sulaeman Jajuli
Ad-Deenar: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam Vol 1, No 01 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.82 KB) | DOI: 10.30868/ad.v1i01.225

Abstract

Al-Daulah al-Islâmiyyah pertama kali dibentuk setelah Rasulullah hijrah dari Makkah ke al-Madinah al-Munawarah dan menetapnya Rasulullah di Madinah dengan parasahabat . Kaum Muhajirin sebagai pendatang dan kaum Anshor sebagai ahlulbait atau pemilik tempat telah mengikhlaskan rumah-rumah mereka untuk dijadikan sebagai tempat tinggaloleh para pendatang (kaum Muhajirin). Satu tahun setelah menetapnya kaum Muhajirin dansetelah bersatunya hati-hati kaum Muhajirin dan kaum Anshor, timbullah peperangan antarakaum Musyrikin Makkah dengan kaum Muslimin di Madinah. Kemenangan-kemenanganyang diraih kaum muslimin dalam peperangan terus berlanjut, klimaksnya kaum Musliminbanyak mendapatkan harta ghanîmah, sehingga menimbulkan pertentangan dan perselisihandalam pembagiannya Adapun pada masa Nabi Muhammad, para shahabat yang telahmenang dalam peperarangan, mereka berhak membawa harta ghanîmah ke rumah, makatimbullah berbagai pertanyaan; untuk siapa harta rampasan tersebut, milik siapa,bagaimana cara pembagiannya, tanah yang telah berhasil dikuasai, siapakah yang memilikidan mengolahnya.Dengan adanya berbagai macam pertanyaan dan permasalahan yang terjadi sekitarharta rampasan/ghanîmah, maka permasalahan tersebut memerlukan jawab-an dengansegera. Rasulullah dan para shahabatnya membuat sebuah lembaga untuk menampung hartayang telah dimiliki kaum muslimin khususnya setelah terjadi peperangan. Tempatpenampungan harta tersebut dinamakan dengan Baitul maal. Baitul maal sebagai lembagadan wadah tempat penyimpanan harta yang dimiliki masyarakat Muslim pertama kalidiadakan dalam Islam.Kata Kunci: Kebijakan Fiskal, Hukum Islam, Baitul Maal
GADAI DALAM SYARI'AT ISLAM Abdurrahman Misno
Ad-Deenar: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam Vol 1, No 01 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.132 KB) | DOI: 10.30868/ad.v1i01.226

Abstract

Manusia tidaklah selamanya berkecukupan harta, ada masa-masa dimana ia sangat membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika melihat kenyataan di masyakarat maka didapati banyak orang yang membutuhkan uang karena adanya suatu keperluan mendesak. Gadai menjadi solusi bagi kebutuhan keuangan yang mendesak yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sayangnya praktek gadai di masyarakat mengandung unsur riba yang diharamkan oleh Islam, sehingga dibutuhkan adanya teori dan praktek riba yang sesuai dengan syariah Islam. Gadai dalam khazanah Islam disebut dengan rahn, ia adalah menggadaikan suatu barang sebagai jaminan atas transaksi hutang yang dilakukannya. Karena sifatnya adalah akad tabaru’ maka tidak boleh ada manfaat yang diambil oleh murtahin (orang yang menerima gadai). Harta yang digadaikan sendiri adalah tetap menjadi milik dari rahin (penggadai) sehingga tidak boleh digunakan tanpa adanya izin dari pemiliknya. Murtahin diperbolehkan mengambil uang pemeliharaan dari rahin jika harta gadaian tersebut membutuhkan pemeliharaan. Inti  dari akad gadai dalam Islam adalah saling tolong-menolong untuk meringankan beban orang lain.  Kata Kunci: Rahn, Fiqh Islam, Hukum Islam, Islam Indonesia

Page 1 of 1 | Total Record : 7