Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan, e-issn; 2613-9820, issn cetak; 2477-0523 mengundang para ilmuwan untuk mempublikasikan karya ilmiah berupa penelitian atau makalah yang dibuat dalam bentuk artikel berkaitan dengan isu-isu politik, sosial, hukum, kebudayaan dan perekonomian warga negara berdasarkan pancasila. Kewarganegaraan diperlakukan sebagai konsep strategis dalam analisis Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan diterbitkan setiap bulan April dan November.
Articles
14 Documents
Search results for
, issue
"Vol 4, No 1 (2018)"
:
14 Documents
clear
Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Menumbuhkan Karakter Dan Nasionalisme Pada Siswa Kelas X TKR SMKN 1 Rejotangan Kabupaten Tulungagung
Kurnia, Ricky
RONTAL: Jurnal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v4i1.996
Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu pelajaran yang mendidik siswa agar menjadi individu atau warga negara yang baik berkarater dan nasionalisme sesuai nila pancasila. Rumusan masalah dalam penelitian adalah 1) Bagaimanakah proses menumbuhkan karakter dan nasionalisme siswa kelas X TKR ? 2) Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam menumbuhkan karakter dan nasionalisme siswa di kelas X TKR? Hasil penelitian dalam skripsi ini adalah 1) Bagaimanakah proses menumbuhkan karakter dan nasionalisme siswa di kelas X TKR yaitu a) Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMKN 1 Rejotangan sudah menghasilkan karakter dan nasionalsime siswa dengan baik, walaupun belum semua siswa di kelas X TKR telah menumbukan karakter dan nasionalsimenya. b) pada sila ke satu siswa telah menumbuhkan karakter religiusnya. c) Pada sila ke dua siswa telah menumbuhkan karakter toleransi. d) pada sila ke tiga siswa telah menumbuhkan nasionalsime e) pada sila ke empat siswa kelas X TKR sudah menumbuhkan karater toleransi. f) pada sila ke lima siswa kelas X TKR sudah dapat menumbuhkan sikap yang adil dalam sekolah. 2) Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam menumbuhkan karakter dan nasionalisme siswa di kelas X TKR yaitu a) meningkatkan kwalias guru yang baik. b) sarana dan prasarana dalam pembelajaran harus memadai c) siswa yang akitf dalam mengikuti pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Faktor penghambat pembelajaran Pendidikan kewarganegaraan untuk menumbuhkan karakter dan nasionalisme pada siswa. a) kurangnya waktu dalam pembelajaran. b) guru sedikit kesulitan dalam mendidik berbagai perbedaan individu siswa. c) lingkungan sekitar kelas. d) kondisi cuaca disiang hari. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi SMKN 1 Rejotangan Kabupaten Tulungagung untuk lebih memperhatikan hal-hal yang dapat mendorong siswan untuk mewujudkan nilai-nilai pancasila pada pembelajran Pendidikan Kewarganegaran agara menumbuhkan Karakter dan Nasioanalisme.
Pola Asuh Orang Tua Dalam Pengembangan Karakter Disiplin Anak Remaja
Phrawito Suci, Ahmad Khobir
RONTAL: Jurnal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v4i1.992
Pola asuh adalah suatu gaya mendidik yang dilakukan oleh orang tua untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya dalam proses interaksi yang bertujuan memperoleh suatu perilaku yang diinginkan. Melalui penelitian kualitatifdengan pendekatan fenomenologi dapat diketahui bahwa proses pengembangan karakter disiplin pada anak usia remaja dilakukan melalui perhatian, pembiasaan, cerita dan kisah . Berdasarkan hal itu disarankan kepada orang tua, hendaknya orang tua harus lebih memahami dan mengerti perkembangan jiwa anaknya baik dari segi fisik maupun psikis
Peran Ekstrakurikuler Pramuka Dalam Membangun Karakter Siswa Sebagai Bentuk Implementasi Dari Revolusi Mental Pada Siswa Kelas X Di SMAN 1 Pakel
Putri, Siwi Krisno
RONTAL: Jurnal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v4i1.997
Pendidikan Karakter adalah pendidikan yang menitik beratkan kepada perubahan atau peningkatan sikap dan mental siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Ekstrakurikuler yang dapat dikembangkan sebagai sarana untuk membangun karakter tersebut adalah ekstrakurikuler yang bersifat pembinaan karakter sikap dan mental. Kegiatan pramuka tidaklah asing bagi warga Negara Indonesia, terutama bagi mereka yang berada di lingkungan pendidikan. Pengimplementasian gerakan revolusi mental dengan pendidikan yang berbasis karakter hal pertama yang dilakukan dilakukan dalam dunia pendidikan yakni hal pertama yang perlu direvolusi atau dirubah yakni dari pendidik atau tenaga kependidikannya.
Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar PPKn Melalui Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Pada Kompetensi Dasar Menganalisis Dinamika Peran Indonesia Dalam Perdamaian Dunia Di Kelas XI MIPA-1 SMA Negeri 1 Boyolangu
Santoso, Endro
RONTAL: Jurnal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v4i1.993
Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil/prestasi belajar siswa. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SMA Negeri 1 Boyolangu Kabupaten Tulungagung di kelas XI MIPA-1 Tahun Pelajaran 2017-2018. Dilaksanakan dalam kurun waktu lebih kurang 3 (tiga) bulan mulai Januari 2018 sampai dengan pertengahan Maret 2018. Subyek penelitianya adalah guru dan siswa sejumlah 44 siswa terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 27 siswa perempuan. Selama proses pembelajaran berlangsung aktivitas siswa cukup baik/tinggi. Peningkatan aktivitas siswa selama proses pembelajaran tersebut diikuti dengan peningkatan hasil/prestasi belajar siswa. Dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) = 70 data awal sebelum dilaksanakan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran snowball throwing menunjukkan bahwa prestasi rata-rata siswa 74,17. Dari 44 siswa kelas XI MIPA-1 SMA Negeri 1 Boyolangu sebanyak 32 (72,73%) siswa tuntas dan 12 (27,27%) harus mengikuti remidi. Prestasi yang dicapai siswa pada evaluasi siklus I diperoleh data sebanyak 36 siswa = 81,82 % siswa tuntas dan 8 siswa = 18,18 % belum tuntas (remidi) dengan rata-rata nilai siswa 78,27. Pada siklus II sebanyak 41 siswa = 93,18 % tuntas , dan yang belum tuntas (remidi) sebanyak 3 orang = 6,81 %,dengan rata-rata nilai siswa 80,57. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran snowball throwing dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas XI MIPA-1 SMA Negeri 1 Boyolangu Tahun pelajaran 2017-2018 dapat meningkatkan aktivitas dan hasil/prestasi belajar siswa pada kompetensi dasar menganalisis dinamika peran Indonesia dalam perdamaian dunia
Makna Pendidikan Bagi Remaja Keluarga Broken Home Dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Pada Siswa Dari Keluarga Broken Home Di UPTD SMP Negeri 1 Boyolangu Kabupaten Tulungagung Tahun 2017)
Nurmaisaroh, Siti
RONTAL: Jurnal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v4i1.998
Konsep diri bukan bawaan sejak lahir, konsep diri terbentuk melalui proses belajar yang berlangsung sejak masa pertumbuhan hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman, dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan konsep diri seseorang. Lingkungan yang kurang mendukung atau anak-anak broken home yang kurang perhatian, arahan serta kontrol dari keluargacenderung mempunyai konsep diri negatif, anak cenderung menilai dirinya berdasarkan apa yang ia alami dan dapatkan dari lingkungannya. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya berharga, sehingga perkembangan konsep dirinya pun positif. Konsep diri bertujuan agar diri kita tidak terjerumus pada hal-hal yang dinilai kurang baik atau negatif.Pembentukan konsep diri tersebut melibatkan pendidikan keluarga dan pendidikan formal atau sekolah, bagaimana lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah tersebut dalam mendidik para remaja, agar bisa mengonsep diri mereka agar dapat berperilaku baik
Strategi Pembinaan Moral Siswa Melalui Pembudayaan 3S (Senyum, Sapa, Salam) Di SMA Negeri 1 Tulungagung
Yunitasari, Lucky
RONTAL: Jurnal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v4i1.994
Program pemerintah dalam peningkatan moralitas untuk generasi bangsa melalui pendidikan karakter. Melalui pembudayaan 3S yang diberlakukan di lingkungan SMA Negeri 1 Tulungagung merupakan stretegi pembinaan moral yang dilakukan melalui pembiasaan hal yang baik yang diterapkan secara umum untuk seluruh warga sekolah khususnya siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tulungagung yang merupakan tergolong sekolah yang baru berdiri namun sudah berusaha untuk mewujudkan siswa yang bermoral untuk seluruh siswa melalui pembudayaan 3S. Penelitian ini bertujuan untuk nengetahui tahapan dalam membudayakan 3S dan untuk mengetahui hambatan dalam pembudayaan 3S sebagai strategi pembinaan moral siswa. Metode penelitian ini menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa dalam tahapan pembudayaan 3S dilakukan melalui strategi oleh guru dengan cara sosialisasi pada waktu awal penerimaan siswa, penyisipaan kalimat-kalimat yang mengacu pada pembudayaan 3S di kegiatan-kegiatan sekolah. Pemberian contoh secara langsung dari guru yang bersifat mengajak siswa untuk ikut membudayakan 3S , dan slogan tulisan yang menghimbau pembudayaan 3S. Namun dalam pembudayaan 3S yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tulungagung juga mengalami hambatan berupa perbedaan karakter siswa, perbedaan cara pembinaan moral yang dilakukan dirumah denga disekolah, perubahan perkembangan jaman yang memepengaruhi perbedaan pemikiran generasi sekarang dan sifat yang berlebihan dalam menerapkan pembudayaan 3S di sekolah
Peran Guru Sebagai Pembimbing Dalam Meningkatkan Nilai-Nilai Pancasila Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Pakel Tulungagung Tahun Ajaran 2016-2017
Ariska, Pinda Alrois
RONTAL: Jurnal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v4i1.995
Peran penting guru, yang merupakan tenaga pengajar pada lembaga pendidikan sangatlah nyata, sehingga dapat dikatakan bahwa posisi guru tidak dapat digantikan oleh siapapun. Dipandang dari dimensi pembelajaran, peran guru dalam masyarakat Indonesia tetap dominan sekalipun teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran perkembangannya sangat pesat. Dari hasil penelitian ini peranan guru dalam meningkatkan nilai-nilai pancasila bagi siswa kelas X SMA Negeri 1 Pakel tahun ajaran 2016-2017 adalah baik. Peranan guru dalam meningkatkan nilai-nilai pancasila bagi siswa SMA Negeri 1 Pakel adalah cukup baik, secara umum dapat disimpulkan bahwa peranan guru dalam meningkatkan nilai-nilai pancasila pada siswa SMA Negeri 1 Pakel Tahun ajaran 2016-2017 adalah baik. Dengan kata lain bahwa guru telah mengaplikasikan peranannya dengan baik dalam meningkatkan nilai-nilai pancasila pada siswa SMA Negeri 1 Pakel Kabupaten Tulungagung Tahun ajaran 2016-2017.
Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Menumbuhkan Karakter Dan Nasionalisme Pada Siswa Kelas X TKR SMKN 1 Rejotangan Kabupaten Tulungagung
Ricky Kurnia
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v4i1.996
Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu pelajaran yang mendidik siswa agar menjadi individu atau warga negara yang baik berkarater dan nasionalisme sesuai nila pancasila. Rumusan masalah dalam penelitian adalah 1) Bagaimanakah proses menumbuhkan karakter dan nasionalisme siswa kelas X TKR ? 2) Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam menumbuhkan karakter dan nasionalisme siswa di kelas X TKR? Hasil penelitian dalam skripsi ini adalah 1) Bagaimanakah proses menumbuhkan karakter dan nasionalisme siswa di kelas X TKR yaitu a) Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMKN 1 Rejotangan sudah menghasilkan karakter dan nasionalsime siswa dengan baik, walaupun belum semua siswa di kelas X TKR telah menumbukan karakter dan nasionalsimenya. b) pada sila ke satu siswa telah menumbuhkan karakter religiusnya. c) Pada sila ke dua siswa telah menumbuhkan karakter toleransi. d) pada sila ke tiga siswa telah menumbuhkan nasionalsime e) pada sila ke empat siswa kelas X TKR sudah menumbuhkan karater toleransi. f) pada sila ke lima siswa kelas X TKR sudah dapat menumbuhkan sikap yang adil dalam sekolah. 2) Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam menumbuhkan karakter dan nasionalisme siswa di kelas X TKR yaitu a) meningkatkan kwalias guru yang baik. b) sarana dan prasarana dalam pembelajaran harus memadai c) siswa yang akitf dalam mengikuti pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Faktor penghambat pembelajaran Pendidikan kewarganegaraan untuk menumbuhkan karakter dan nasionalisme pada siswa. a) kurangnya waktu dalam pembelajaran. b) guru sedikit kesulitan dalam mendidik berbagai perbedaan individu siswa. c) lingkungan sekitar kelas. d) kondisi cuaca disiang hari. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi SMKN 1 Rejotangan Kabupaten Tulungagung untuk lebih memperhatikan hal-hal yang dapat mendorong siswan untuk mewujudkan nilai-nilai pancasila pada pembelajran Pendidikan Kewarganegaran agara menumbuhkan Karakter dan Nasioanalisme.
Pola Asuh Orang Tua Dalam Pengembangan Karakter Disiplin Anak Remaja
Ahmad Khobir Phrawito Suci
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v4i1.992
Pola asuh adalah suatu gaya mendidik yang dilakukan oleh orang tua untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya dalam proses interaksi yang   bertujuan memperoleh suatu perilaku yang diinginkan. Melalui penelitian kualitatifdengan pendekatan fenomenologi dapat diketahui bahwa proses pengembangan karakter disiplin pada anak usia remaja dilakukan melalui perhatian, pembiasaan, cerita dan kisah . Berdasarkan hal itu disarankan kepada orang tua, hendaknya orang tua harus lebih memahami dan mengerti perkembangan jiwa anaknya baik dari segi fisik maupun psikis
Peran Ekstrakurikuler Pramuka Dalam Membangun Karakter Siswa Sebagai Bentuk Implementasi Dari Revolusi Mental Pada Siswa Kelas X Di SMAN 1 Pakel
Siwi Krisno Putri
Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tingi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29100/jr.v4i1.997
Pendidikan Karakter adalah pendidikan yang menitik beratkan kepada perubahan atau peningkatan sikap dan mental siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Ekstrakurikuler yang dapat dikembangkan sebagai sarana untuk membangun karakter tersebut adalah ekstrakurikuler yang bersifat pembinaan karakter sikap dan mental. Kegiatan pramuka tidaklah asing bagi warga Negara Indonesia, terutama bagi mereka yang berada di lingkungan pendidikan. Pengimplementasian gerakan revolusi mental dengan pendidikan yang berbasis karakter hal pertama yang dilakukan dilakukan dalam dunia pendidikan yakni hal pertama yang perlu direvolusi atau dirubah yakni dari pendidik atau tenaga kependidikannya.