cover
Contact Name
arief yanto
Contact Email
arief.yanto@unimus.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurkep.anak@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Keperawatan Anak
ISSN : 23382074     EISSN : 2621296X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmu Keperawatan Anak (JIKA) was published by Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah. Jurnal Keperawatan Ilmu Keperawatan Anak (JIKA)is published twice in a year. JIKA publishes research results, research-based community service results, literature reviews, and case studies in the field of child nursing written by lecturers, nursing students, and clinic nurses in hospitals or health centers. JIKA is a continuation of Jurnal Keperawatan Anak with ISSN 2338-2074 published by the PPNI Jawa Tengah journal development team. JIKA is an online version of the journal with e-ISSN 2621-296X with the latest edition, the Jurnal Keperawatan Anak is no longer published.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2020): Mei 2020" : 5 Documents clear
Perbedaan Pola Pemberian Nutrisi pada Balita dengan Stunting dan Non-Stunting di Desa Rempoah Kecamatan Baturaden Lely Oktavia Ningtias; Umi Solikhah
Jurnal Ilmu Keperawatan Anak Vol. 3 No. 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1633.305 KB) | DOI: 10.32584/jika.v3i1.529

Abstract

Stunting adalah kegagalan memenuhi pertumbuhan seperti memenuhi mikronutrien, lingkungan yang tidak mendukung dan penyediaan perawatan yang tidak adekuat yang dapat mempengaruhi kondisi pertumbuhan balita. Asupan gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting. Mengetahui Perbedan pola pemberian nutrisi pada balita dengan stunting dan non-stunting di Desa Rempoah Kecamatan Baturaden. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan observasi analitik, dengan desain cross sectional . Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok kasus yaitu balita stunting dan kelompok kontrol yaitu balita non stunting. Jumlah sampel 68 terdiri dari 34 balita  stunting dan 34 balita non stunting, dengan metode teknik cluster sampling pengambilan sampel secara purposive sampling Pengambilan data menggunakan lembar kuesioner, analisa data menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu pada balita yang mengalami stunting pola pemberian nutrisi tidak tepat terdiri dari 26 responden (76,5%) dan sebagian besar ibu pada balita yang non-stunting pola pemberian nutrisi tepat terdiri dari 23 responden (67,6%). Terdapat perbedaan pola pemberian nutrisi pada balita dengan stunting dan non-stunting di Desa Rempoah Kecamatan Baturaden (p-value= 0,0001). Terdapat Perbedaan Pola Pemberian Nutrisi Pada Balita Dengan Stunting dan Non-stunting Di Desa Rempoah Kecamatan BaturadenStunting is a condition resulted from the  failure to meet daily needs of micronutrients. An environment that is not supportive and providing inadequate treatment can affect the conditions of toddlers' growth. Nutrient intake is one of the factors that influences stunting.To illustrate the differences in providing nutritional pattern for toddlers with stunting and non-stunting in Rempoah village, Baturaden sub district. It was a quantitative study using analytic observation with a cross sectional design. The populations in this study were stunting toddlers as the case groups and non-stunting toddlers as the control group. There were 68 toddlers as the samples. There were 34 stunting toddlers and 34 non-stunting toddlers who classified by cluster sampling technique. The samples were collected by purposive sampling. Questionnaire sheets were used to collect the data. The data were analyzed by using Chi-square test. The results discovered that there were 26 respondents (76.5%) with stunting because of improper nutritional patterns. There were 23 respondents (67.6%) with non-stunting because of proper nutritional patterns. There were differences in the administration of nutritional patterns for toddlers with stunting and non-stunting in Rempoah Village, Baturaden District (p-value = 0,0001). There are differences in administration of nutritional pattern for toddlers with stunting and non-stunting in Rempoah village, Baturaden sub-district
Analisis Faktor Fetus dan Tali Pusat terhadap Risiko Asphyxia Perinatal di Surakarta Siti Lestari; Dyah Dwi Astuti; Fachriza Malika Ramadhani
Jurnal Ilmu Keperawatan Anak Vol. 3 No. 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jika.v3i1.521

Abstract

Asfiksia perinatal merujuk pada kekurangan oksigen selama persalinan, sehingga berpotensi menyebabkan kematian dan kecacatan. WHO memperkirakan  4 juta anak terlahir dengan asfiksia setiap tahun, dimana 1 juta di antaranya meninggal dan 1 juta anak bertahan hidup dengan gejala sisa neurologis yang parah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko fetal dan tali pusat pada asfiksia neonatal.Penelitian dilakukan di lakukan di RS Dr Moewardi Surakarta dengan pendekatan  quantitative retrospective case control study. Data diambil dari rekam medis antara  tahun 2013-2018. Penelitan ini melibatkan  264 neonatal yang terdiri dari 88 kelompok kasus dan 176  kelompok control. Kelompok kasus adalah bayi dengan diagnosa  asfiksia yang  dilakukan analisis terhadap faktor risiko fetal, sedangkan bayi yang tidak mengalami asfiksia dijadikan  kelompok kontrol. Hasil analisis statistik uji Chi-Square dan Fisher Exact ditemukan bahwa  kelahiran prematur (OR 2,07 CI 95% P 0,02), persalinan dengan tindakan (OR 3,61 CI 95% P 0,00), berat bayi (OR 2,85 CI 95% P 0,00), posisi janin (OR 2,37 CI 95% P 0,05), tali pusat ( QR 3,071 CI 95%  P 0,01)  berisiko terhadap insiden asfiksia perinatal. Air ketuban yang bercampur meconium (OR 1,51 CI 95% P 0,16) tidak memiliki risiko  dengan Asfiksia perinatal. Kesimpulan: Risiko terhadap insiden asfiksia perinatal  meliputi kelahiran prematur, persalinan dengan tindakan, berat bayi, posisi janin,  dan tali pusat.Perinatal asphyxia refers to a lack of oxygen during labor, which has the potential to cause death and disability. WHO estimates  4 million children born with asphyxia each year, in  which 1 million dies and 1 million survive with severe neurological sequelae. This study aims to analyze fetal and umbilical risk factors in neonatal asphyxia.This research is a quantitative retrospective case-control study, which was conducted at The Dr. Moewardi  hospital,  Surakarta. Data was taken from  medical records from 2013-2018. The case group was patients diagnosed  asphyxia, while those who did not experience asphyxia were treated as a control group.  A total of 264  samples, consisting of 88 case group respondents and 176 control group respondents. Statistical analysis Chi- Square and Fisher Exact found that preterm birth (OR 2.07 CI 95% P 0.02), labor with instrument or complication (OR 3.61 CI 95% P 0.00), infant weight (OR 2.85 CI 95% P 0, 00), fetal position (OR 2.37 CI 95% P 0.05), umbilical cord (QR 3.071 CI 95% P 0.01) are at risk for the incidence of perinatal Asphyxia. The amniotic fluid mixed with meconium (OR 1.51 CI 95% P 0.16) has no risk with perinatal asphyxia.The risk factors of incidences of perinatal asphyxia were  preterm birth, labor with instrument or complication, baby weight, fetal position and umbilical cord. 
Hubungan Pemberian Asi Eksklusif dan Kelengkapan Imunisasi dengan Kejadian ISPA pada Anak Usia 12-24 Bulan Fitri Wahyuni; Ulvi Mariati; Titi Septia Zuriati
Jurnal Ilmu Keperawatan Anak Vol. 3 No. 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2712.552 KB) | DOI: 10.32584/jika.v3i1.485

Abstract

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 kejadian ISPA di Indonesia sebesar 4.4% dan diketahui kejadian di provinsi Sumatera Barat mencapai 4.1%. Penyakit ISPA di Puskesmas Lubuk Buaya Padang menjadi penyakit urutan pertama dari 10 penyakit terbanyak pada anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan pemberian ASI eksklusif dan kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA pada anak usia 12-24 bulan. Jenis penelitian Analitik dengan rancangan Case Control dilakukan diwilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya dimulai tanggal 10 sampai 24 Mei 2019. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling pada kelompok  kasus dan dengan metode pencocokan (matching) pada kelompok control dengan perbandingan 1 : 1, total responden pada penelitian ini adalah 78 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan pemberian ASI  eksklusif dengan kejadian ISPA pada anak usia 12-24 bulan, (ρ value= 0.007 dan OR = 4.018) dan ada hubungan kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA pada anak usia 12-24 bulan, didapatkan nilai (ρ value = 0.002 dan OR = 5.091). Kesimpulan dari hasil penelitian didapatkan adanya hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA pada anak usia 12-24 bulan diwilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang Tahun 2019.5Based on 2018 Riskesdas data, the incidence of ARI (Acute Respiratory Infection) in Indonesia is 4.4%. The incidence of ARI in West Sumatra province reached 4.1%. ARI at the Lubuk Buaya Health Center in Padang is the first of 10 diseases in children. Analytical research with Case Control design was conducted in the working area of the Lubuk Buaya Health Center from 10 to 24 May 2019. Samples were taken by simple random sampling technique in case groups and by matching methods in control groups with a ratio of 1: 1, a total of 78 respondents. The instruments used were questionnaires and observation sheets. The results showed that 52.56% of children who did not receive exclusive breastfeeding did not receive complete immunizations. Bivariate analysis shows there is a relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of ARI in children aged 12-24 months, (values ρ = 0.007 and OR = 4.018). There is a correlation between the completeness of immunization with the incidence of ARI in children aged 12-24 months, obtained values (values ρ = 0.002 and OR = 5.091). The conclusion from the results of this study found a relationship between exclusive breastfeeding and completeness of immunization with the incidence of ARI in children aged 12-24 months in the working area of Lubuk Buaya Health Center in 2019.
Hubungan Persepsi tentang Keputihan dengan Perilaku Pencegahan dan Penanganan Keputihan pada Remajaputri di SMAN 1 Banjaran Kabupaten Bandung Hani Triana
Jurnal Ilmu Keperawatan Anak Vol. 3 No. 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jika.v3i1.382

Abstract

Latar belakang: Perubahan yang terjadi pada masa remaja salah satunya adalah perubahan fisiologis yang sering terjadi pada organ reproduksi.Salah satu gangguan klinis dari infeksi pada organ reproduksi wanita adalah keputihan. Sekitar 75% wanita di dunia mengalami keputihan  paling tidak sekali dalam hidupnya dan sekitar 90% wanita Indonesia mengalami keputihan karena Indonesia adalah daerah yang beriklim tropis. Hasil studi pendahuluan masih terdapat remaja putri yang menganggap keputihan merupakan suatu hal yang biasa dan tidak berbahaya.Tujuan: mengetahui hubungan persepsi dengan perilaku penanganan dan pencegahan keputihan pada remaja putri di SMAN 1 BanjaranMetode: penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian yang digunakan adalah korelasional dengan pendekatan  cross-sectional. Jumlah sample dalam penelitian ini sebanyak 84 orang dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalahstratified random sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan analisis data menggunakan uji Chi Square.Hasil:. Hasil penelitian menggunakan uji statistik diperoleh nilai signifikansi p-value sebesar  p=0,035.Kesimpulan: Dikarenakan nilai p-value < 0,05 maka Ho ditolak yang artinya terdapat hubungan  yang bermakna antara persepsi dengan perilaku pencegahan dan penanganan keputihan. Background: Changes that occur in adolescence one of which is the physiological changes that often occur in the reproductive organs. One of the clinical disorders of infection in the female reproductive organs is vaginal discharge. Around 75% of women in the world experience vaginal discharge at least once in their lives and around 90% of Indonesian women experience vaginal discharge because Indonesia is a tropical climate. Results of preliminary studies are still young women who consider vaginal discharge to be a normal and harmless thing.Aim: The purpose of this study was to determine the relationship between perception and behavioral treatment and prevention of vaginal discharge in young women at SMAN 1 Banjaran. Methods: This research is a quantitative study with the type of research used is correlational with cross-sectional approach. The number of samples in this study were 84 people with the sampling technique used was stratified random sampling. Data collection instruments used in this study were questionnaires and data analysis using the Chi Square test.Results: The results of the study using statistical tests obtained p-value significance of p = 0.035. Because the p-value <0.05.Conclusion: Ho is rejected, which means there is a meaningful relationship between perception and behavioral prevention and treatment of vaginal discharge.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Orang Tua Terhadap Penggunaan Antibiotik pada Anak Putwi Marinesia Nur; Meira Erawati
Jurnal Ilmu Keperawatan Anak Vol. 3 No. 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1542.927 KB) | DOI: 10.32584/jika.v3i1.342

Abstract

Latar belakang: Penggunaan antibiotik pada anak memiliki perbedaan dengan orang dewasa. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman orang tua tentang penggunaan antibiotik pada anak.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada anak.Metode: Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross sectional. Dengan menggunakan teknik Stratified sampling, sebanyak 270 orang tua yang dijadikan responden penelitian dan mengisi kuesioner penelitian.Hasil: Analisis data didasarkan pada analisis univariat dan analisis bivariat yang dilengkapi dengan spearman. Uji statistik telah dilakukan oleh "Spearman’s rho" itu menunjukkan bahwa ada korelasi yang signifikan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada anak-anak (p <0,05).Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan antara usia, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan orang tua, dan sikap orang tua dengan perilaku orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada anak. Ada hubungan tindakan orang tua dengan perilaku orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada anak. Background: The use of antibiotics in children is different from adults. Therefore, parents was need understands use antibiotics in children.Aim: This study aims to assess the factors related to parents towards antibiotic use in children.Methods: This study was conducted by studying cross sectional analytic study method. Using the Stratified sampling technique, 270 parents were used as research respondents and filled out the research questionnaire.Results: The data analysis was based on univariate analysis and bivariate analysis equipped with spearman. Statistical test has been conducted by “Spearman’s rho” it shows that there is a significant correlation between factors related to parents towards antibiotic use in children (p<0,05).Conclusion: This research does not show the relation between parents age, education, knowledge, and attitude with parents behavior on giving antibiotics to their child. There is some significant relation between parents action and parents behavior on giving antibiotics to their child.

Page 1 of 1 | Total Record : 5