cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2018)" : 5 Documents clear
STRATIGRAFI SEISMIK CEKUNGAN ARU, PAPUA BARAT Dida Kusnida; Tommy Naibaho; Yulinar Firdaus; Ali Albab
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (917.195 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.2.2018.548

Abstract

Studi rekaman seismik multi-kanal dari Cekungan Aru, Papua Barat yang diperoleh dengan menggunakan KR Geomarin III pada tahun 2016, bertujuan untuk menginventarisir dan memetakan aspek-aspek geologi serta untuk studi geo-tektonik dan sejarah geologi. Data seismik menunjukan bahwa urutan sedimen di Cekungan Aru ditandai oleh sedimen pra-ekstensi, sedimen sin-ekstensi, sedimen pos-ekstensi dan sedimen sin-inversi. Pengamatan mikroskopis inti sedimen permukaan dasar laut umumnya menunjukkan adanya fragmen cangkang kerang dan foraminifera, mineral mafik dan residu organik dari lignit berwarna coklat kehitaman. Kata kunci: Cekungan Aru, stratigrafi seismik, sedimen.Study on multi-channel seismic records from the Aru Basin, West Papua obtained using RV Geomarin III in 2016 were aimed to invent and map geological aspects and for geo-tectonic and geological history studies. Seismic data confirmed that sediment sequence in Aru Basin is characterized by pre-extension sediments, syn-extension sediments, syn-extension sediments and syn-inversion sediments. Microscopic observations of the core of surficial sediments generally show the presence of shell fragments and foraminiferas, mafic minerals and organic residuals of blackish-brownish lignite. Key words: Aru Basin, seismic stratigraphy, sediments.
SEBARAN PASIR LAUT SEBAGAI BAHAN GALIAN DI LEPAS PANTAI SELAT RIAU Deny Setiady; Udaya Kamiludin; Ildrem Syafri
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2350.487 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.2.2018.545

Abstract

Daerah penelitian terletak di perairan antara Pulau Batam dan Pulau Bintan (Selat Riau), termasuk ke dalam wilayah Kotamadya Batam dan Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Metode penelitian yang dilakukan adalah pengambilan posisi (navigasi), pengukuran kedalaman dasar laut, pengamatan dan pengambilan contoh sedimen pantai, pengambilan contoh sedimen dasar laut, serta analisis laboratorium. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sebaran pasir pasir laut, serta ketebalannya berdasarkan karakteristik ukuran butirannya, agar potensi bahan galian tersebut dapat diketahui. Berdasarkan analisis ukuran butir sedimen di pantai Pulau Batam dan Pulau Bintan diketahui berukuran pasir, kerikil pasiran, pasir kerikilan dan lanau pasiran, sedangkan sebaran sedimen dasar laut terdiri dari: kerikil pasiran, pasir kerikilan, pasir, pasir lanauan dan lanau pasiran. Kedalaman sedimen pasir di pantai Pulau Batam antara 1 meter sampai 2,6 meter, sedangkan ketebalan sedimen pasir di Pulau Bintan antara 0,6 meter sampai 2 meter. Kata Kunci: sedimen, ukuran butir, pasir, bahan galian, Selat RiauThe study area is located in offshore area between Batam and Bintan Islands (Riau Strait), including of Batam and Bintan regency, Kepulauan Riau Province. The research methods carried out were position taking (navigation), depth of seabed measurement (bathymetry), observation and coastal sediments sampling, seabed sediments sampling, and laboratory analysis. The objectives of the study is to know the sand beach and sea sand distribution and its thickness based on characteristics of grain size, as well as to know those construction materials. Based on sediment grain size analysis on the Batam and Bintan islands, sand beach consists of: sand, sandy gravel, gravelly sand and sandy silt, while seafloor surficial sediments distribution consist of sandy gravel, gravelly sand, sand, silty sand and sandy silt. The depth of sand sediment on Batam beach is between 1 to 2.6 meters, while the depth of sand sediment in Bintan Island coastal is between 0.6 meters to 2 meters. Keywords: sediment, grain size, sands, substrate material, Riau Strait
DATA GEOLOGI DAN GEOFISIKA SELAT LEMBEH SEBAGAI PENDUKUNG PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR PELABUHAN Nineu Yayu Geurhaneu; Godwin Latuputty; Delyuzar Ilahude
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2356.078 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.2.2018.379

Abstract

Selat Lembeh sepanjang 16 km dengan lebar sekitar 1 km mempunyai kedalaman laut mencapai 380 m di bagian utaranya, memasuki selatnya mendangkal (20 m) dan ke arah selatannya mendalam (120 m). Dasar laut Selat Lembeh ditutupi oleh sedimen permukaan pasir kerikilan dan kerikil pasiran yang berkomposisi volkanoklastik dan bioklastik bersifat gampingan. Ke dua jenis sedimen ini relatif mempunyai kesesuaian dengan hasil interpretasi sidescan sonar dan seismik, masing-masing sebagai pasir dan sedimen berbutir sedang-kasar (Runtunan D). Daratannya, berdasarkan peta geologi Daerah Bitung dan sekitarnya didominasi oleh batuan gunungapi muda dengan kemiringan pantai antara 0-5o dan tidak ditemukan adanya indikasi sesar. Daerah penelitian mempunyai besaran kegempaan magnitudo kecil dan tsunami terlindung oleh Pulau Lembeh. Kawasan ini berdasarkan peta hidrogeologi termasuk kedalam akuifer setempat, produktif sampai produktif sedang penyebaran luas. Data dasar geologi dan geofisika ini sangat berperan dalam pengembangan Selat Lembeh terutama rencana pengembangan infrastruktur di kawasan Bitung dan sekitarnya. Kata kunci: Kedalaman laut, sedimen permukaan, batuan gunungapi muda, topografi, akuifer dan pengembangan Selat Lembeh.The Lembeh Strait with a length of 16 km and a width of about 1 km has a depth of 380 m in its northern part, entering the strait has a shallow depth of 20 m and to the south it has a depth of 120 m. The seabed of the Lembeh Strait is covered by surface sediment of gravelly sand and sandy gravel formed by volcanoclastic and bioclastic materials. The two types of sediments are relatively similar to the results of the side scan sonar and seismic interpretations, each of which is sand and medium-coarse grain sediments (Sequence D). In the mainland, based on the geological data of the Bitung Region and its surroundings, its lithology is dominated by young volcanic rocks with a slope on the coast between 0-5o and no indications of faults were found. This area is valued of seismicity relatively small magnitude and safe from tsunami waves because it is protected by Pulau Lembeh. This area based on hydrogeological data is classified into local aquifers, productive to medium productive with wide distribution. The basic data of the geological and geophysical aspects play a part in the development of the Lembeh Strait, especially the infrastructure development plan in the Bitung area and its surroundings.Keywords: Depth of sea, surface sediment, young volcanic rocks, topography, aquifers and development of Lembeh Strait.
INDIKASI LEMBAH PURBA SEBAGAI WADAH MINERAL PLASER DAN UNSUR TANAH JARANG DI PERAIRAN TANJUNG BERIKAT DAN SEKITARNYA, BANGKA TENGAH, BANGKA BELITUNG Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5384.288 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.2.2018.566

Abstract

Secara regional daerah Bangka merupakan bagian dari Jalur Granit Utama Pembawa Timah.  Daratan nya ditandai oleh intrusi Granit Klabat yang merupakan batuan penting sumber endapan plaser. Untuk mengetahui lembah purba  maka dilakukan perekaman seismik saluran tunggal. Daerah penelitian secara administratif merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bangka Tengah, Propinsi Bangka Belitung. Perairan  Tanjung Berikat dan sekitarnya dicirikan oleh kelerengan dasar laut rata-curam dengan  kedalaman terukur antara 0-45 meter. Interpretasi seismik saluran tunggal menunjukkan stratigrafi seismik dari muda ke tua yaitu Runtunan A, Runtunan B, intrusi, dan Runtunan C sebagai dasar akustik. Ketebalan sedimen Runtunan A antara  5-30 meter dari  permukaan dasar laut. Lembah purba memanjang cukup lebar dan dalam pada Runtunan B yang diduga sebagai fasies pengisian lembah berupa onlap fill.  Fasies ini memiliki internal reflektor bebas pantulan-kaotik yang ditafsirkan sebagai wadah mineral plaser dan mineral ikutan pembawa  unsur tanah jarang. Endapan plaser diperkirakan merupakan  hasil pengerjaan ulang batuan granitoid.Kata Kunci : Dasar laut, runtunan stratigrafi, lembah/alur Purba, endapan plaser, dan Perairan Tanjung Berikat dan Sekitarnya, Bangka-Belitung. Geologically regional, the Bangka area is part of the Main Tin Belt Granite. The mainland of the study area is characterized by Klabat Granite intrusion which is an important rock source of placer deposits. To find out the placer availability of deposits on Paleo channel it was carried out for the recording of single channel seismic data. The study area is administratively part of the area of Central Bangka, Bangka-Belitung Province. Tanjung Berikat waters and its vicinity are characterized by the slope of the flat sea floor to steep with a measured depth of 0-45 meters. Seismic interpretation shows seismic stratigraphic from young to old consisting of sequence A, sequence B, Intrusion, and sequence C as acoustic basement. Sediment thickness of sequence A between 5-30 meters from seafloor surface sediment. Paleo channel with an elongated shape that is wide enough and deep in sequence B is interpreted as a channel filling facies in the form of onlap fill. This facies is characterized by the free to chaotic reflector configuration which is interpreted as a place for mineral placer and accessory minerals which contain rare earth elements. The availability of placer deposits is interpreted as the result of reworking of granitoid source rock.Keywords: Sea floor, stratigraphic seismic, Paleo channel, placer deposits, and Tanjung Berikat waters and surrounding, Bangka-Belitung.
POTENSI BAHAYA GEOLOGI DI PERAIRAN LHOKSEUMAWE ACEH Lukman Arifin; Subarsyah Subarsyah
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2490.263 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.2.2018.565

Abstract

Penelitian seismik pantul dangkal di perairan Lhoksemawe dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi di bawah permukaan dasar laut. Adanya potensi bahaya geologi suatu daerah penelitian dapat diketahui dengan menganalisis kondisi geologinya. Hasil interpretasi rekaman seismik memperlihatkan struktur geologi sesar, pengangkatan, pelipatan dan intrusi. Sesar-sesar aktif yang terdapat di darat umumnya menerus hingga ke pantai dan lepas pantai. Untuk menentukan daerah yang mungkin dapat mengakibatkan terjadinya bahaya geologi maka dibuat zonasi berdasarkan morfologi dasar laut. Kewaspadaan terhadap bahaya geologi yang mungkin terjadi di laut terutama pada zona B dan zona C. Longsoran dapat terjadi di zona B karena morfologinya agak terjal, dan sesar aktif pada zona C dapat mengakibatkan gempa. Zona A dengan kedalaman antara 0 hingga 200 meter dapat dikatagorikan sebagai zona cukup aman. Pembangunan di daerah pantai hingga lepas pantai cukup aman pada kawasan kedalaman hingga 200 meter. Kata kunci: potensi, bahaya geologi, struktur geologi, LhokseumaweShallow seismic reflection research in the Lhokseumawe waters was conducted to determine the geological conditions beneath the seabed surface. The geological hazard potential of study area can be known to analyze its geological conditions. The results of seismic interpretation shows that geological structures as fault, up lift, fold and intrusion. Active faults on land are generally being up to the coast and offshore. To determine areas that may result in the geological hazards created zoning based on morphological seabed. Precautions against geological hazards that may occur in the sea, mainly in zones B and C.Landslide can be occured in B zone because the morphology rather steep, and the active fault on C zone can be resulted the earthquakes. The A zone with the depth between 0 to 200 meters can be considered safe zone. Development in coastal to offshore areas may be quite safe in the depth up to 200 meters.Keyword: Potency, geological hazard, geology structure, Lhokseumawe

Page 1 of 1 | Total Record : 5