cover
Contact Name
Abu Muslim
Contact Email
abumuslim@kemenag.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Qalam
ISSN : 08541221     EISSN : 2540895X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Qalam Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan 2 edisi dalam setahun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Terbit sejak tahun 1990. Fokus Kajian Jurnal berkaitan dengan penelitian Agama dan Sosial Budaya. Lingkup Jurnal meliputi Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Naskah keagamaan Kontemporer, Sejarah sosial keagamaan, Arkeologi religi, Seni dan Budaya Keagamaan Nusantara.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (1997)" : 6 Documents clear
FAHAM THEOLOGI DAN KAITANNYA DENGAN ETHOS KERJA PENGUSAHA MUSLIM DI UJUNGPANDANG Muhammad arsyad
Al-Qalam Vol 9, No 2 (1997)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.084 KB) | DOI: 10.31969/alq.v9i2.603

Abstract

Pada masa lampau di Nusantara ini,dikenal adanya istilah 5 (lima) "S" singkatandari : Saudagar, Saudara, Syahbandar, Sufi,dan Sastrawan. Istilah tersebut melahirkanpola-pola interaksi sosial di kalangan masyarakatMuslim maupun masyarakat nonMuslim. Kehadiran para Saudagar Muslimdi bumi Nusantara ini, dimungkinkan berperanganda. Disatu sisi mereka secaraprofesional berperan sebagai pedagang, danpada sisi lain mereka berperan mengembangsuatu missi (Dakwatul Islamiyah). Padamasa kini di Ujungpandang sebutan Saudagardigantikan oleh sebutah Pengusaha. Merekaada pada kategori golongan Perusahaan/-Perdagangan Besar, Perdagangan Menengah,dan Perdagangan Kecil. Dalamorganisasi professi mereka tergabung dalam :KADIN (Kamar Dagang Indonesia), HIPMI(Himpunan Pengusaha Muda Indonesia),GAPENSI (Gabungan Pengusaha NasionalIndonesia), dan Perhimpunan Pengusaha danPedagang Kecil. Baik pada masa lampaumaupun di masa kini, kondisi kemitraanantara golongan aqniya (hartawan) dengangolongan umara' (Pemerintah) harmonis, atasdasar prinsip ukhuwah dan prinsip ta'awun.Namun sampai kini belum ada suatu penelitianyang mampu mengungkap tentang ethoskerja yang dimiliki para pengusaha (Saudagar)muslim di masa lampau kaitannyadengan faham theologis yang mereka anut.
CORAK PESANTREN AL AZIZIYAH DESA GUNUNGSARI KABUPATEN LOMBOK BARAT PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT Abdul aziz albone
Al-Qalam Vol 9, No 2 (1997)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.792 KB) | DOI: 10.31969/alq.v9i2.599

Abstract

Pesantren merupakan lembaga pendidikanIslam tertua di Indonesia. Lembagaini tumbuh dan berkembang bersama iramaperkembangan Islam itu sendiri, terutamapada daerah-daerah dan pusat-pusat perkembanganIslam. Semula pesantren lebihmerupakan lembaga pendidikan Islam yangdijadikan wadah untuk mempelajari agamadan kepentingan penyebaran Islam. Akantetapi dalam perjalanan selanjutnya pesantrensemakin mengalami ekspansi sosial danekonomi umat, bahkan merupakan unsurdinamis bagi suatu komunitas, unsur elit danpelopor pengembangan masyarakat
PROSPER INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN BIDANG AGAMA (ISLAM) DI KODYA MATARAM : Sebuah Kajian Awal harisun arsyad
Al-Qalam Vol 9, No 2 (1997)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.7 KB) | DOI: 10.31969/alq.v9i2.605

Abstract

Keberhasilan suatu pembangunan tidakterkecuali bidang agama, akan sangat mudahdiukur apabila memiliki suatu rumusan yangdisebut indikator. Namun bagi pembangunanbidang agama, meskipun telah dilakukanupaya ke arah itu, sampai saat ini belummemiliki rumusan indikator yang tegas danmewakili semua kalangan umat beragama.Hal ini karena agama selain mempunyaibanyak dimensi juga termasuk kategoripembangunan non fisik. Padahal untukmemantapkan sasaran pembangunan padasetiap Repelita dalam Pembangunan JangkaPanjang II rumusan-rumusan keberhasilanpembangunan di bidang agama tersebutsangat diperlukan dan mendesak
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM Abdul Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 9, No 2 (1997)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.584 KB) | DOI: 10.31969/alq.v9i2.596

Abstract

Penelitian ini dilakukan di KotamadyaMataram Nusa Tenggara Barat. Sasaranpenelitian adalah suatu masyarakat lokal yangmenamakan dirinya orang Sekarbela, berdiamdi Kelurahan Karang Pule KecamatanAmpenan Kotamadya Mataram. Merekamenarik untuk dijadikan fokus penelitian,karena dengan nama khas Sekarbela, merekamenampilkan prilaku keagamaan yang dalambanyak hal berbeda dengan komunitas Islamsekitarnya, terutama dalam tradisi haul dandalam memperingati Maulid Nabi Muhammadsaw.Sebagai bagian dari budaya daerahyang secara operasional dijadikan sebagai alatuntuk menangkal dampak budaya asing yangtidak sesuai dengan nilai-nilai luhur dankepribadian bangsa, identifikasi terhadapbudaya lokal semacam itu menjadi amatpenting atas dasar berbagai pertimbangan.Pertama, pesatnya kemajuan ilmu pengetahuandan teknologi telah mendorong interaksiantar bangsa, terutama teknologi komunikasidan transportasi, mengakibatkanderasnya arus informasi dan masuknya nilainilaiajaran agama dan nilai-nilai budayaluhur budaya bangsa. Kedua, masuknya nilainilaiyang bertentangan tersebut mengakibatkanterjadinya pendangkalan nilai-nilai moraldan nilai-nilai luhur budaya bangsa, yangpada akhirnya dikhawatirkan akan mengakibatkanterjadinyqa krisis jati diri kepribadianbangsa. Ketiga, masyarakat Indonesia belumsepenuhnya mempunyai daya tangkal yanghandal dan kemampuan untuk memilih danmemilah berbagai pengaruh dari luar, sehinggadampak negatif globalisasi dapatdihindari. Keempat, perlunya memperkuatjati diri dan kepribadian bangsa Indonesiasehingga mempunyai ketahanan sosial budayayang tangguh dan handal.Fokus penelitian adalah perwujudanagama dalam upacara haul dan maulid, duajenis upacara keagamaan yang secara tradisionalhidup dan berlaku dalam sistembudaya masyarakat Sekarbela. Upacaratradisional tersebut dilaksanakan setiap tahundan dianggap sebagai upacara suci dengancorak spesifik yang amat mencerminkannuansa lokal. Dengan demikian penelitianbertujuan untuk memperoleh pengetahuanmengenai corak kehidupan keagamaan dalamkonteks lokal, yang memperlihatkan ekspresikeagamaan yang khas.Yang dimaksud dengan upacara keagamaandalam penelitian ini adalah upacarayang bersifat keramat/suci yang berhubungandengan peristiwa dalam rangka suatu sistemkeyakinan yang bersumber pada ajaran-ajarandalam sistem itu telah terwujud sebagai tradisidalam masyarakat. Dalam pengertiantradisi tersebut, tercakup pengertian kuatdalam sistem budaya dari suatu kebudayaanyang menata tindakan manusia dalam kehidupansosial kebudayaan itu (Koentjaraningratdkk. 1984 : 2).Sehubungan dengan pengertian tersebut,konsep-konsep dasar yang perlu dijelaskandalam penelitian ini adalah berkaitandengan agama dan upacara atau upacara danagama serta kaitan hubungan antara keduanya.Ajaran dalam pengertian ini dipahamisebagai suatu sistem keyakinan yang dianutdan tindakan-tindakan yang diwujudkan olehNo. 14 Th. IX Juli/Desember 1997 1DMENSIBUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAULDAN MAULIDAN BAGIKOMUNITAS SEKARBELA MATARAMsuatu kelompok atau masyarakat dalammenginterpretasikan dan memberi responsterhadap apa yang dirasakan dan diyakinisebagai suci (Suparlan, 1988 : v-vi). Sedangkanupacara dapat dilihat sebagai sistemaktivitas atau rangkaian tindakan yang ditataoleh adat atau hukum yang berlaku yangberhubungan dengan berbagai macam peristiwatetap yang biasanya terjadi dalammasyarakat yang bersangkutan (Koenjtaraningratdkk.,1984 : 1989).Dengan pengertian seperti itu, pertalianagama dan upacara secara jelas dapat diidentifikasi.Upacara dapat dilihat sebagai salahsatu corak perwujudan agama dalam kehidupansehari-hari bagi penganut agama yangbersangkutan. Tindakan yang bertujuanmencari hubungan dengan dunia gaib yangdilaksanakan menurut tata kelakuan yangbaku pada dasarnya merupakan upacarakeagamaan yang menurut Koentjaraningrat(1985 : 243), terdiri dari empat komponenyaitu : (1) tempat upacara, (2) saat upacara,(3) benda-benda dan alat-alat upacara, dan(4) orang yang melakukan dan memimpin.Semua komponen upacara tersebut bersifatsakral. Dalam kenyataannya, upacarakeagamaan itu dapat terwujud dalam bentuk(1) bersanji, (2) berkurban, (3) berdoa, (4)makan bersama, (5) menari dan menyanyi,(6) berprosesi, (7) memainkan seni drama,(8) berpuasa, (9) intoksikasi, (10) bertapa,dan (11) bersamadi (Koentjaraningrat, 1985 :235).Pendekatan yang digunakan dalam penelitianini adalah holistik atau sistematik,yaitu memperlakukan sebuah masyarakatsebagai bagian unsur-unsur sosial budayadalam hubungan struktural fungsional yangsaling berkaitan antara satu dengan lainnyadan secara keseluruhan merupakan sebuahsatuan utuh dan menyeluruh. Dalam pendekatanseperti ini, haul dan maulid sebagaisasaran kajian diperlakukan sebagai sebuahkasus.Sesuai dengan pendekatan yang digunakandalam penelitian ini, maka pengumpulandata dilakukan melalui metode-metode(1) Studi kepustakaan, yaitu mempelajaridokumen-dokumen atau tulisan-tulisan yangberkaitan dengan masyarakat atau kebudayaansetempat, (2) wawancara mendalamdengan informan kunci yang terdiri atas TuanGuru, penghulu, dan pemuka agama lainya;pemuka adat/masyarakat, pejabat pemerintahdan pendukung upacara tersebut serta wargamasyarakat lainnya; (3) Pengamatan terlibatstruktur kegiatan masyarakat sehari-hari, danketika upacara maulid berlangsung. Sayangsekali metode ini tidak dapat dilakukan untukupacara haul karena kebetulan waktu penelitiansulit dikompromikan dengan waktupelaksanaan haul.Dari penelitian ini ditemukan bahwaternyata kedua upacara tersebut (haul danmaulid) tetap mampu mempertahankan eksistensinyadan kelestariannya; dan dalam kelestarianitu nuansa lokal mewujudkan diridalam bentuk mengkota dan modern. Dalampenampilan upacara yang dipentingkan bukanmakna material dari upacara haul dan maulidakan tetapi lebih pada makna simbolis,berupa kecintaan kepada tokoh yang diperingatidalam hal ini Tuan Guru MuhammadRais untuk upacara haul, dan NabiMuhammad untuk upacara maulid. Resistensihaul dan maulid dalam aroma lokal dantradisional mengalami penguatan dari adanyatantangan dari luar (modernintas di satu sisidan tarikan sejarah kepahlawanan orangorangSekarbela dalam mempertahankanbendera Islam di tengah pergulatan Islam-Hindu di zaman Penjajahan Anak Agung dariBali
PENGELOLAAN ZAKAT DALAM KAITANNYA DENGAN PENGENTASAN KEMISKINAN DI SULAWESI SELATAN DAN KALIMANTAN TIMUR Muhammad As'ad
Al-Qalam Vol 9, No 2 (1997)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.537 KB) | DOI: 10.31969/alq.v9i2.601

Abstract

Agama Islam datang membawa ajaran,selain mengatur hak individual, juga mengaturhak hidup masyarakat. Suatu kenyataandalam sejarah umat manusia, setiap masyarakatmengenal adanya Si Kaya dan si Miskin.Menghadapi kenyataan hidup ini dengansegala perbedaannya, Islam meletakkankemiskinan sebagai salah satu problemmasyarakat yang harus diatasi dalam rangkamenjamin kemaslahatan dan martabatmanusia.
DUKUNGAN STRUKTUR SOSIAL TERHADAP KERUKUNAN HIDUP UMAT BERAGAMA (Studi Kasus di Kecamatan Mariso Kotamadya Ujung Pandang) Badruzzaman Badruzzaman
Al-Qalam Vol 9, No 2 (1997)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.399 KB) | DOI: 10.31969/alq.v9i2.606

Abstract

Penelitian ini mempermasalahkantentang gambaran kerukunan umat beragama,faktor-faktor pendukung terciptanya kerukunanumat beragama dan upaya-upaya yangditempuh dalam peningkatan pembinaankerukunan hidup umat beragama di masyarakatperkotaan dengan mengambil sampelKecamatan Mariso Kotamadya Ujungpandangmelalui studi kasus.Hal ini didasari bahwa, BangsaIndonesia merupakan negara yang penduduknyaheterogen dalam suku, adat, budayadan agama. Heterogenitas dalam hal agamaterjadi karena masuknya agama-agama besarke Indonesia yang diawali oleh agama Hindudan Budha, kemudian Islam, Kahtolik danKristen Protestan (Syamsuhadi Marse, Makalah:1). Heterogenitas agama dengan sendirinyamelahirkan pengelompokanpengelompokan(fluralistik) dalam praktekkeberagamaan masyarakat Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 6