Abdul Kadir Ahmad
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PERANAN SYARA' DALAM PROSES ALIHPERAN KB MANDIRI DI KABUPATEN GOWA Abdul Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 4, No 1 (1992)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.114 KB) | DOI: 10.31969/alq.v4i1.649

Abstract

Penelitian ini dilakukan di tiga kecamatandalam Kabupaten Gowa, masingmasingKecamatan Sombaopu, Pallanggadan Bontonompo. Kecamatan yang disebutkanpertama merupakan wilayah kotasesuai dengan posisinya sebagai ibukotakabupaten dan berbatasan langsung dengankotamadya Ujung Pandang; sementara duakecamatan lainnya termasuk wilayah pedesaan.Namun demikian, polarisasi initidaklah ekstrim secara kultural, sebab sulituntuk memberikan pembatasan antara "kota"dan "desa" ketika proses transfonnasi budayaberjalan hampir secara masal di kawasanmanapun pada era moderen sekarang ini.
PESANTREN HID AYATULLAH GUNUNG TEMBAK DAN ISSU TERORISME Abdul Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 13, No 1 (2007)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.252 KB) | DOI: 10.31969/alq.v13i1.569

Abstract

This research was conducted in Balikpapan, East Kalimantan. This researchaims to describe relation between Pesantren Hidayatullah andterrorism issue. Data was collected using interview and observation.Data was analyzed by descriptive analysis..This research indicates that vision, mission and all education programof Pesantren Hidayatullah doesn't relate to terrorism issue. The programsof Pesantren Hidayatullah are education in all degrees, informaleducation such as course, cadre et al, and also social and economicprogram. So, the accusation that Pesantren Hidayatullah is part of globalterrorism was lied.
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM Abdul Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 9, No 2 (1997)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.584 KB) | DOI: 10.31969/alq.v9i2.596

Abstract

Penelitian ini dilakukan di KotamadyaMataram Nusa Tenggara Barat. Sasaranpenelitian adalah suatu masyarakat lokal yangmenamakan dirinya orang Sekarbela, berdiamdi Kelurahan Karang Pule KecamatanAmpenan Kotamadya Mataram. Merekamenarik untuk dijadikan fokus penelitian,karena dengan nama khas Sekarbela, merekamenampilkan prilaku keagamaan yang dalambanyak hal berbeda dengan komunitas Islamsekitarnya, terutama dalam tradisi haul dandalam memperingati Maulid Nabi Muhammadsaw.Sebagai bagian dari budaya daerahyang secara operasional dijadikan sebagai alatuntuk menangkal dampak budaya asing yangtidak sesuai dengan nilai-nilai luhur dankepribadian bangsa, identifikasi terhadapbudaya lokal semacam itu menjadi amatpenting atas dasar berbagai pertimbangan.Pertama, pesatnya kemajuan ilmu pengetahuandan teknologi telah mendorong interaksiantar bangsa, terutama teknologi komunikasidan transportasi, mengakibatkanderasnya arus informasi dan masuknya nilainilaiajaran agama dan nilai-nilai budayaluhur budaya bangsa. Kedua, masuknya nilainilaiyang bertentangan tersebut mengakibatkanterjadinya pendangkalan nilai-nilai moraldan nilai-nilai luhur budaya bangsa, yangpada akhirnya dikhawatirkan akan mengakibatkanterjadinyqa krisis jati diri kepribadianbangsa. Ketiga, masyarakat Indonesia belumsepenuhnya mempunyai daya tangkal yanghandal dan kemampuan untuk memilih danmemilah berbagai pengaruh dari luar, sehinggadampak negatif globalisasi dapatdihindari. Keempat, perlunya memperkuatjati diri dan kepribadian bangsa Indonesiasehingga mempunyai ketahanan sosial budayayang tangguh dan handal.Fokus penelitian adalah perwujudanagama dalam upacara haul dan maulid, duajenis upacara keagamaan yang secara tradisionalhidup dan berlaku dalam sistembudaya masyarakat Sekarbela. Upacaratradisional tersebut dilaksanakan setiap tahundan dianggap sebagai upacara suci dengancorak spesifik yang amat mencerminkannuansa lokal. Dengan demikian penelitianbertujuan untuk memperoleh pengetahuanmengenai corak kehidupan keagamaan dalamkonteks lokal, yang memperlihatkan ekspresikeagamaan yang khas.Yang dimaksud dengan upacara keagamaandalam penelitian ini adalah upacarayang bersifat keramat/suci yang berhubungandengan peristiwa dalam rangka suatu sistemkeyakinan yang bersumber pada ajaran-ajarandalam sistem itu telah terwujud sebagai tradisidalam masyarakat. Dalam pengertiantradisi tersebut, tercakup pengertian kuatdalam sistem budaya dari suatu kebudayaanyang menata tindakan manusia dalam kehidupansosial kebudayaan itu (Koentjaraningratdkk. 1984 : 2).Sehubungan dengan pengertian tersebut,konsep-konsep dasar yang perlu dijelaskandalam penelitian ini adalah berkaitandengan agama dan upacara atau upacara danagama serta kaitan hubungan antara keduanya.Ajaran dalam pengertian ini dipahamisebagai suatu sistem keyakinan yang dianutdan tindakan-tindakan yang diwujudkan olehNo. 14 Th. IX Juli/Desember 1997 1DMENSIBUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAULDAN MAULIDAN BAGIKOMUNITAS SEKARBELA MATARAMsuatu kelompok atau masyarakat dalammenginterpretasikan dan memberi responsterhadap apa yang dirasakan dan diyakinisebagai suci (Suparlan, 1988 : v-vi). Sedangkanupacara dapat dilihat sebagai sistemaktivitas atau rangkaian tindakan yang ditataoleh adat atau hukum yang berlaku yangberhubungan dengan berbagai macam peristiwatetap yang biasanya terjadi dalammasyarakat yang bersangkutan (Koenjtaraningratdkk.,1984 : 1989).Dengan pengertian seperti itu, pertalianagama dan upacara secara jelas dapat diidentifikasi.Upacara dapat dilihat sebagai salahsatu corak perwujudan agama dalam kehidupansehari-hari bagi penganut agama yangbersangkutan. Tindakan yang bertujuanmencari hubungan dengan dunia gaib yangdilaksanakan menurut tata kelakuan yangbaku pada dasarnya merupakan upacarakeagamaan yang menurut Koentjaraningrat(1985 : 243), terdiri dari empat komponenyaitu : (1) tempat upacara, (2) saat upacara,(3) benda-benda dan alat-alat upacara, dan(4) orang yang melakukan dan memimpin.Semua komponen upacara tersebut bersifatsakral. Dalam kenyataannya, upacarakeagamaan itu dapat terwujud dalam bentuk(1) bersanji, (2) berkurban, (3) berdoa, (4)makan bersama, (5) menari dan menyanyi,(6) berprosesi, (7) memainkan seni drama,(8) berpuasa, (9) intoksikasi, (10) bertapa,dan (11) bersamadi (Koentjaraningrat, 1985 :235).Pendekatan yang digunakan dalam penelitianini adalah holistik atau sistematik,yaitu memperlakukan sebuah masyarakatsebagai bagian unsur-unsur sosial budayadalam hubungan struktural fungsional yangsaling berkaitan antara satu dengan lainnyadan secara keseluruhan merupakan sebuahsatuan utuh dan menyeluruh. Dalam pendekatanseperti ini, haul dan maulid sebagaisasaran kajian diperlakukan sebagai sebuahkasus.Sesuai dengan pendekatan yang digunakandalam penelitian ini, maka pengumpulandata dilakukan melalui metode-metode(1) Studi kepustakaan, yaitu mempelajaridokumen-dokumen atau tulisan-tulisan yangberkaitan dengan masyarakat atau kebudayaansetempat, (2) wawancara mendalamdengan informan kunci yang terdiri atas TuanGuru, penghulu, dan pemuka agama lainya;pemuka adat/masyarakat, pejabat pemerintahdan pendukung upacara tersebut serta wargamasyarakat lainnya; (3) Pengamatan terlibatstruktur kegiatan masyarakat sehari-hari, danketika upacara maulid berlangsung. Sayangsekali metode ini tidak dapat dilakukan untukupacara haul karena kebetulan waktu penelitiansulit dikompromikan dengan waktupelaksanaan haul.Dari penelitian ini ditemukan bahwaternyata kedua upacara tersebut (haul danmaulid) tetap mampu mempertahankan eksistensinyadan kelestariannya; dan dalam kelestarianitu nuansa lokal mewujudkan diridalam bentuk mengkota dan modern. Dalampenampilan upacara yang dipentingkan bukanmakna material dari upacara haul dan maulidakan tetapi lebih pada makna simbolis,berupa kecintaan kepada tokoh yang diperingatidalam hal ini Tuan Guru MuhammadRais untuk upacara haul, dan NabiMuhammad untuk upacara maulid. Resistensihaul dan maulid dalam aroma lokal dantradisional mengalami penguatan dari adanyatantangan dari luar (modernintas di satu sisidan tarikan sejarah kepahlawanan orangorangSekarbela dalam mempertahankanbendera Islam di tengah pergulatan Islam-Hindu di zaman Penjajahan Anak Agung dariBali
POTENSILATEN PREJUDICE DAL AM HUBUNGAN UMAT BERAGAMA Abdul Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.697 KB) | DOI: 10.31969/alq.v11i2.587

Abstract

Bagaimana pun juga hubungan antar berbagai umat beragamaakan terpola dalam bentuk harmonisasi dan konflik. Harmonis, jikapara penganut agama mampu melokalisir energi keagamaan merekadalam bentuk yang positif. Dan konflik, jika energi agama diarahkankepada radikalisasi keyakinan.Penelitian ini mengungkapkan kedua hal tersebut (harmonis dankonflik) dalam pandangan tokoh-tokoh agama dari dua agama besaryang memiliki tradisi yang panjang di Indonesia, yaitu Agama Islamdan Agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensikerawanan sosial khusunya di kota Makassar sangat besar. Indikatorutamanya adalah bahwa para tokoh agama mengungkapkankekhawatiran akan posisi mereka dan kekhawatiran akan didominasioleh kelompok lain.
DIMENSI PENGENALAN SISWA SLTP TERHADAP ALQURAN Abdul Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 8, No 2 (1996)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v8i2.619

Abstract

Alquran adalah kitab suci bagi orangMuslim yang diturunkan Allah SWT sebagaipetunjuk (hudan) bagi ummat manusia, berisipenjelasan (tibyan) tentang segala sesuatu.Sebagai kitab suci, maka menjadi kewajibanbagi orang Muslim untuk memahami danmengamalkan kandungan Alquran. Selainitu, Alquran juga merupakan bagian danterkait dengan ibadah kaum Muslimin. Surahdan ayat-ayat tertentu dari Alquran harusdibaca dalam shalat. Dalam suasana beribadahpada bulan Ramadhan membacaAlquran adalah sesuatu yang dianggap afdol.Bagi sebagian komunitas Muslim Alquranj u g a dibaca ketika mengalami musibahkematian. Bahkan diyakini, bahwa membacaAlquran tanpa terkait dengan peristiwa tertentupun sudah merupakan ibadah, danmendapat pahala
Responsi Masyarakat Desa Terhadap Perkembangan Kaset Agama (Studi Kasus di Desa Datara Kab. Gowa) Abdul Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 6, No 1 (1994)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.801 KB) | DOI: 10.31969/alq.v6i1.629

Abstract

Menurut Onong Uchjana Effendy,media massa merupakan media komunikasiyang mampu menjangkau khalayak yangjumlahnya relatif amat banyak, heterogen,otonom, terpencar-pencar, sertabagi komunikatoryang menyebarkan pesannya bersifatabstrak. Media tersebut meliputi pers,radio, televisi, dan film, dengan cirinyayang utama menimbulkan keserempakan(simultanity) dan keserentakan (instantaneousness)pada khalayak tatkala diterpapesan-pesan yang disebarkan kepadanya.1Alvin Toffler dalam The Third Wave(1980) membagi tiga tahap perkembanganperadaban manusia, yaitu gelombang pertama,tahap agricultural, tahap kedua, tahapindustrial, dan tahap ketiga, tahap informasi,atau disebut pula gelombang ke tiga.Setiap gelombang memiliki ciri khas masing-masing, baik dalam bidang teknosfer,infosfer, sosiosfer, dan fiskosfer. Yangmenjadi sumberkekuatan gelombang ketigabukan lagi pada sumber daya alam danpemilikan alatproduksi, melainkan terletakpada informasi sebagai kekuatan utama
ORIENTASI PEMIKIRAN KEAGAMAAN MAHASISWA Abdul Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 3, No 2 (1991)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.143 KB) | DOI: 10.31969/alq.v3i2.657

Abstract

Secara common sense, adagejalapeningkatankesadaran mahasiswa terhadap kehidupan keagamaan.Hal itu boleh jadi, merupakan salah satusisi dari terjadinya degradasi kiprah mahasiswadalam masyarakat akibat adanya restrukturisasidan semboyan back to campus, pasca tahun 70-an. Di sisi lain, boleh jadi gejala itu sebagaibagian dari ekskalasi kesadaran beragama yangsecara umum terjadi dalam masyarakat. Yangpasti, mahasiswa menemukan dimensi bamdalam kehidupannya sebagai moral force, yanglebih berorientasi kc dimensi pergumulan religius.Gejala itu dapat dengan mudah ditemukandalam banyak hal. Masjid-masjid kampus saratdengan kegiatan keagamaan baik pengajian,pcngkajian maupun aktivitas belajar agamadalam bentuk lain. Dalam hal yang lebih transparan,mahasiswa wanita cenderung memperlihatkankesadaran keberagamaan secara formaldalam bentuk pemakaian busana berciri khasislami.
PERAN KEAGAMAAN ULAMA DI MAKASSAR DAN GOWA AWAL DAN AKHIR ABAD KE-20: KEBERLANGSUNGAN DAN PERUBAHAN Abdul Kadir Ahmad
EDUCANDUM Vol 5 No 1 (2019): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemahaman ajaran dan praktik keagamaan di suatu masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan ulama yang menjadi rujukan di masyarakat tersebut. Hal itu terkait hubungan intensif ulama dengan masyarakatnya dalam konteks pelaksanaan fungsi-fungsi tablig, tibyan, tahkim,dan uswah yang menjadi otoritasnya. Karena itu, penelitian tentang berbagai aspek peran keagamaan ulama menjadi penting dalam rangka memahami Islam secara utuh di suatu kawasan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi peran-peran keagamaan ulama dalam masyarakat era tahun 1930-an – hingga akhir abad ke-20 serta kesinambungan dan perubahan dalam peran-peran tersebut, khususnya di Gowa dan Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara dan studi dokumen sebagai metode pengumpulan data. Keduanya kemudian dianalisis dengan masing-masing menggunakan analisis deskriptif dan analisis isi. Penelitian menemukan beberapa peran ulama yaitu (i) ulama sebagai pegawai sarak, (ii) peran ulama menginisiasi organisasi keulamaan; (iii) peran ulama merajut persatuan melalui dakwah kolektif, dan (iv) perannya menjawab tantangan zaman dengan menggeluti medan politik.