cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015" : 8 Documents clear
Front Cover Vol. 7 Edisi No. 2 Desember- 2015 Redaksi Papua Jurnal Penelitian Arkeologi
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v7i2.15

Abstract

Redaksi, Kata Pengantar, Daftar Isi dan Abstrak Redaksi Papua Jurnal Penelitian Arkeologi
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1582.712 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i2.16

Abstract

BENTUK MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT PENDUKUNG SITUS GUNUNG SROBU [Prehistory Livelihood in the Srobu Site] Erlin Novita Idje Djami
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.719 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i2.18

Abstract

Research on the form of the people’s livelihood support Gunung Srobu sites is very important. This research aims to determine the extent of the development of human knowledge and ability to face the challenges of the natural environment to maintain the existence of the community, as well as expertise in generating technology equipment. Since the public support for culture Gunung Srobu Site does not exist any longer, so the study of forms of livelihood can be done through cultural material remnants preserved their activities. This study uses a qualitative approach to the form of inductive reasoning, while strategies are applied through literature and field observations. All the data collected in this study is then processed by indentifying by type and analyzed qualitative description that aims to know the meaning or interpret the empirical reality that the objects contained in the study. The results of this study are in the form of various types of artifacts such as pottery, stone tools, tool shells, animal bone remains, and shells litter. Culture material is closely related to the public livelihood support form Gunung Srobu site namely horticulture, hunting, gathering, fishing, farming, and industry. AbstrakPenelitian tentang bentuk matapencaharian masyarakat pendukung situs Gunung Srobu sangat penting dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan pengetahuan manusia dan kemampuannya dalam menghadapi tantangan lingkungan alam demi mempertahankan eksistensi komunitasnya, serta kemahirannya dalam menghasilkan teknologi peralatan hidup. Karena masyarakat pendukung budaya situs Gunung Srobu sudah tidak ada, maka kajian tentang bentuk matapencahariannya dapat dilakukan melalui kajian terhadap materi budaya sisa-sisa aktivitasnya yang terawetkan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan bentuk penalaran induktif, sedangkan strategi pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan observasi di lapangan. Semua data yang berhasil dihimpun dalam penelitian ini kemudian diolah dengan mengidentifikasi berdasarkan jenisnya dan kemudian dianalisis deskriptif kualitatif untuk memahami makna atau menafsirkan realitas empiris yang terkandung pada objek-objek kajian. Penelitian ini berhasil menemukan beragam jenis artefak seperti tembikar, alat batu, alat kerang, sisa tulang binatang, dan sampah kerang. Materi-materi budaya tersebut berkaitan erat dengan bentuk matapencaharian masyarakat pendukung situs Gunung Srobu yaitu bercocoktanam, berburu, meramu, nelayan, beternak, dan industri.
DOMESTIKASI DI DAERAH PEGUNUNGAN PAPUA MELALUI PEMBUDIDAYAAN TANAMAN: STUDI ETNOARKEOLOGI [Domesticated landscape in the highland of Papua through agricultural practices: ethnoarchaeological study] Marlin Tolla
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v7i2.19

Abstract

In the highland of Papua, various kinds of archaeological evidence has been used to argue the appearance of agricultural activities. Though assessing the evidence in different ways, the more relevant interpretation mostly leads to the changes of technology and economical reason. The presence or exploitation of three of the major plants such as taro, yam and bananas have brought the interpretation towards to domestication practices. The purpose of this paper is to explore the domestication practices of plants in the highland of Papua particularly to analyze the possibility of other plants that have become part of the domestication besides taro, yams and bananas. Data collections in this paper consists of literature study and also through etnoarchaeological data. The result shown that Casuarinas and some species of bean are expected has been introduced in the highland of Papua through domestication practices. AbstrakSelama ini praktek pertanian di dataran tinggi Papua telah menjadi topik yang hangat dalam sejumlah penelitian arkeologi. Hasil dari penelitian tersebut telah menghadirkan beberapa macam interpretasi, diantaranya praktek pertanian tumbuh karena adanya pengembangan teknologi serta kebutuhan ekonomi. Kehadiran beberapa jenis tumbuhan seperti talas (taro), ubi jalar (yams) dan tumbuhan pisang diperkirakan telah menjadi bagian dari praktek budidaya di masa lalu. Tujuan dari tulisan ini yaitu untuk menelusuri praktek domestikasi tumbuhan di daerah dataran tinggi Papua terutama untuk menganalisis kemungkinan adanya tumbuhan lain yang telah menjadi bagian dari praktek domestikasi dimasa lalu selain talas, pisang, dan ubi jalar. Tulisan ini menggunakan metode pengumpulan data melalui studi pustaka dan juga menggunakan data etnoarkeologi. Berdasarkan hasil yang diperoleh, domestikasi tumbuhan di wilayah pegunungan Papua pada masa lalu diperkirakan juga telah membudidayakan jenis-jenis tumbuhan lain seperti Casuarina dan beberapa jenis kacang-kacangan.
RUMAH POHON SUKU MOMUNA, YAHUKIMO [The Tree House of Momuna Tribe in Yahukimo] Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1394.57 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i2.20

Abstract

This paper examines about the traditional house of Momuna Tribe in Yahukimo, Papua. The purpose of this paper is to determine the shape of the tree house, knowing the concept and philosophy and cultural values of Momuna's tree houses. Etnoarchaeology approach used to reconstruct the meaning of the culture in the past. The result of this research has shown some elemental concept of Southeast Asian architecture, showing by conception of house without room where the main family living. The representation of this concept towards to philosophical meaning especially as a protection from some kind of the treathness.This paper heading to gain knowledge about the traditional house in Papua as well in Indonesia as a big part. AbstrakTulisan ini mengkaji rumah tradisional suku Momuna di Yahukimo, Papua. Tujuannya, untuk mengetahui bentuk, konsep, filosofi serta nilai budaya rumah tradisional suku Momuna. Dengan metode kualitatif dan penalaran induktif, pokok masalah yang akan dibahas berkaitan dengan bentuk rumah tradisional suku Momuna, konsep dan filosofinya, serta nilai budayanya. Dengan pendekatan etnoarkeologi diharapkan budaya masa lampau dapat direkontruksi lewat data etnografi dari tradisi masyarakat yang masih hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tradisional suku Momuna memiliki bentuk dasar arsitektur Asia Tenggara dengan konsep tanpa kamar yang dihuni keluarga inti dan menegaskan filosofi dasar aman dari ancaman. Tulisan ini diharapkan dapat menambah referensi rumah suku yang ada di Papua khususnya dan di Indonesia umumnya.
TINGGALAN KOLONIAL PULAU NUMFOR KABUPATEN BIAK NUMFOR [Colonial Relics in Numfor Island, Biak Numfor Regency] Sonya Martha Kawer
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v7i2.21

Abstract

The process of colonization to the eastern region of Indonesia has left many archaeological remains in the areas that became the center or connecting power. Biak Noemfoor become one of the important areas of colonization. Colonial heritage in Biak Noemfoor found, such as: the former home of the Netherlands, the former home of America, attributes wars, currency, and caves hideout Japanese army during World War II. To identify the findings, this study used qualitative methods by applying the techniques of interview, observation, and literature study. The findings intended to be utilized as educational materials Papua historical colonial period. In addition, this study also aims to demonstrate the historic sites that need to be maintained and preserved or developed as a historical tourist attraction. AbstrakProses kolonisasi ke wilayah timur Indonesia telah meninggalkan banyak tinggalan arkeologi di daerah-daerah yang menjadi pusat atau penghubung kekuasaannya. Biak Numfor menjadi salah satu daerah penting kolonisasi. Peninggalan kolonial di Biak Numfor yang ditemukan, berupa: bekas rumah Belanda, bekas rumah Amerika, atribut perang, mata uang, dan gua-gua tempat persembunyian tentara Jepang pada saat Perang Dunia II. Untuk mengidentifikasi temuan, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menerapkan teknik wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil temuan ditujukan untuk dapat didayagunakan sebagai bahan pendidikan sejarah Papua masa penjajahan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan menunjukkan situs bersejarah yang perlu dijaga dan dilestarikan dan atau dikembangkan sebagai objek wisata sejarah.
ALAT TULANG SITUS PLESTOSEN JAWA: BAHAN BAKU, TEKNOLOGI, DAN TIPOLOGI [Bone tools from Pleistocene Site of Java: Raw Materials, Technology, and Typology] Ilham Abdullah
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1646.742 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i2.22

Abstract

During this time knowledge about Homo erectus bones tool comes only from trusted Ngandong, but now it has a lot of bone tools found and published on the Site Pleistocene in Java. This paper is the result of a data-base processing using microscopic methods against all findings bone tools from sites Pleistocene in Java which aims to provide comprehensive information about the presence of bone tools. A total of 48 specimens of bone tools findings of Sangiran, Ngandong Site, Site Sambungmacan, Patiayam Site and Site Bringin. The analysis showed that there are 12 types of anatomical components of animal bones were used as tools. Type of animal bones were used as a bone tool is Cervus sp. (deer), Cervus hippelaphus (deer), Sus sp. (pig), Bos sp. (cow), Bibos palaeosondaicus (bull), rhinoceros (rhinoceros), Elephantidae (the elephants), and Bovidae. The technique used in making bone tools are broken techniques, pruning techniques, techniques sides, press techniques, and techniques rub. This type of tool is produced bone knife, lancipan, spatula, and spear AbstrakSelama ini pengetahuan tentang alat tulang Homo erectus hanya berasal dari Situs Ngandong, tetapi sekarang ini telah banyak alat tulang ditemukan dan dipublikasikan dari Situs Plestosen di Jawa. Tulisan ini merupakan hasil pengolahan data-base menggunakan metode mikroskopis terhadap semua temuan alat tulang dari situs-situs Plestosen di Jawa yang bertujuan memberi informasi komprehensif tentang keberadaan alat tulang. Sebanyak 48 spesimen alat tulang temuan dari Situs Sangiran, Situs Ngandong, Situs Sambungmacan, Situs Patiayam, dan Situs Bringin. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 12 jenis komponen anatomis binatang yang digunakan sebagai alat tulang. Jenis binatang yang tulangnya digunakan sebagai alat tulang adalah Cervus sp. (rusa), Cervus hippelaphus (rusa), Sus sp. (babi), Bos sp. (sapi), Bibos palaeosondaicus (banteng), rhinoceros (badak), elephantidae (gajah), dan bovidae. Teknik yang digunakan dalam membuat alat tulang adalah teknik pecah, teknik pangkas, teknik belah, teknik tekan, dan teknik gosok. Jenis alat tulang yang dihasilkan adalah pisau, lancipan, spatula dan mata tombak.
Indeks, Ketentuan Naskah dan Biodata Penulis Redaksi Jurnal Penelitian Arkeologi
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.246 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i2.140

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 More Issue