cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN" : 5 Documents clear
Karakterisasi Kerenyahan dan Kekerasan Beberapa Genotipe Kentang (Solanum tuberosum L.) Hasil Pemuliaan Sri Efriyanti Harahap
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i3.358

Abstract

Kerenyahan dan kekerasan adalah salah satu parameter penting dalam produk keripik. Pada penelitian ini, perbedaan rasio amilosa dan amilopektin yang terkandung di dalam kentang dapat mempengaruhi tingkat kerenyahan dan kekerasan dari suatu keripik. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi beberapa genotipe kentang sebagai umpan balik kepada pemulia tanaman untuk mendapatkan genotipe yang sesuai dengan pengolahan keripik kentang. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi untuk mendapatkan beberapa genotipe kentang sebagai bahan baku keripik. Nilai kekerasan dari keripik yang telah umum beredar dipasaran (komersial)  berkisar 375.4 – 431.5 gf. Bila dibandingkan dengan hasil kekerasan 9 genotipe kentang yang dikembangkan, ada genotipe Gatsay  yang dapat mendekati nilai kekerasan keripik komersial. Hal ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk dikomersialkan sebagai keripik kentang yang cocok di pasaran.
PATI RESISTEN PADA BERAS : JENIS, PENYIAPAN, EFEK FISIOLOGIS, DAN APLIKASINYA Riyanti ekafitri
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i3.362

Abstract

Beras secara umum diketahui memiliki indeks glikemik (IG) yang relatif tinggi dibandingkan dengan makanan yang mengandung pati lainnya sehingga berpotensi menyebabkan penyakit diabetes. Salah satu ingridien pangan yang dapat berfungsi sebagai ingridien rendah IG dan dapat mencegah diabetes adalah pati resisten (RS). RS pada beras dapat disiapkan atau ditingkatkan kandungannya dengan modifikasi pati secara fisik, kimia dan enzimatis. Modifikasi pati akan mengakibatkan perubahan pada kandungan pati berdasarkan tingkat kecernaannya yaitu pati cepat cerna (RDS), pati lamat cerna (SDS) dan pati resisten (RS). RS dapat tergolong dalam RS tipe 1,2, 3, 4,dan 5. Proses modifikasi pati dapat meningkatkan kandungan RS dan menurunkan IG pati beras. Kandungan RS pada beras diketahui dapat menurunkan kandungan gula darah, meningkatkan berat badan pada mencit diabetes, menurunkan indeks organ, total kolestrol, dan total triasilgliserol serta dapat meningkatkan kadar HDL-kolesterol. Pada mencit obesitas, RS efektif menurunkan kenaikan berat badan dan memiliki pengaruh hipokolesterolemik. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi RS beras memberikan efek positif bagi kesehatan. Aplikasi penggunakan tepung beras tinggi pati resisten dan rendah IG menjadi cake  dan mie merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan keanekaragaman produk olahan pati/tepung beras rendah IG dan konsumsinya tidak memberikan efek peningkatan gula darah yang berujung pada penyakit diabetes. Rice is generally known has higher glicemic index than other starchy foods so it potentially cause diabetes.One of food ingredient that can function as low GI ingridient is resistant starch (RS). RS can be prepared or enhanced by modification of starch : physically, chemically and enzymaticall. Stach modification can cause change of starch content base on  the digestibility of starch, such as rapidly digestible starch (RDS), slowly digestible starch (SDS) and resistant starch (RS). RS can be classified into RS type 1, 2, 3, 4, and 5. The process of starch modification can increase RS content dan decrease GI of rice starch. RS of rice is known can decreases sugar blood, increases weight of diabetic mice, decreases organ index, total cholesterol and total triacylglyserol and increase HDL-cholesterol levels. In obesity mice, RS effectively decreases weight gain and has a hypocholesterolemic effect. So, it shows RS consumption has a positive effect on health. The application rice flour which contain  high RS and low IG to cake and noodle is one step to increase the diversity of processed products base on low IG starch/rice flour. Its consumption does not give effect of increasing blood sugar that cause diabetes.
Tempe Bungkil Kacang Tanah Khas Malang Malang Peanut Presscake Tempe Edy Tya Gullit
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i3.363

Abstract

Di Malang, Jawa Timur, terdapat pangan khas berbasis bungkil kacang tanah yang telah dikenal oleh masyarakat setempat sebagai “tempe kacang”. Tidak diketahui awal mula dan sejarah produk ini dan tidak banyak referensi yang membahas dan memberikan informasi secara mendetail. Keunikan yang dimiliki tempe bungkil kacang yaitu penggunaan ragi mirip ragi tape dan pemeraman yang dilakukan dalam keadaan terbuka. Dalam produksi tempe kedelai, ragi yang digunakan merupakan ragi tempe dan pemeraman dilakukan dalam keadaan tertutup plastik atau daun pisang. Tulisan ini mengulas  setiap lini proses produksi tempe bungkil kacang tanah  khas Malang serta potensinya sebagai pangan fungsional. Beberapa potensi manfaat kesehatan yang dimiliki produk ini antara lain dapat menurunkan trigliserida, kolesterol dan LDL, serta meningkatkan HDL dalam darah.In Malang, East Java, figured indigenous food based peanut presscake which been known by local as “tempe kacang”. There aren’t many information about origin and history of peanut presscake tempe and also the  specific detail about this product. Peanut presscake tempe has it own uniqueness about production process such as utilizing starter which similar to tapay starter and aging condition which was held in opened space. Regular soy tempe production utilized tempe starter and aging was wrap in plastic or banana leaves. This articles reviews every step of Malang peanut tempe production along its potency as fungsional food. The health potency of Malang peanut tempe has been reported such as decreasing blood triglyceride, cholesterol, LDL and increasing HDL.Di Malang, Jawa Timur, terdapat pangan khas berbasis bungkil kacang tanah y[A1] ang telah dikenal oleh masyarakat setempat sebagai “tempe kacang”. Tidak diketahui awal mula dan sejarah produk ini dan tidak banyak referensi yang membahas dan memberikan informasi secara mendetail. Keunikan yang dimiliki tempe bungkil kacang yaitu penggunaan ragi mirip ragi tape dan pemeraman yang dilakukan dalam keadaan terbuka. Dalam produksi tempe kedelai, ragi yang digunakan merupakan ragi tempe dan pemeraman dilakukan dalam keadaan tertutup plastik atau daun pisang. Tulisan ini mengulas  setiap lini proses produksi tempe bungkil kacang tanah  khas Malang serta potensinya sebagai pangan fungsional. Beberapa potensi manfaat kesehatan yang dimiliki produk ini antara lain dapat menurunkan trigliserida, kolesterol dan LDL, serta meningkatkan HDL dalam darah. [A1]
Karakteristik Fisikokimia Tepung Dari Berbagai Genotipe Baru Ubi Kayu Aris Purwanto; Septian Palma Ariany
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i3.367

Abstract

Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) adalah salah satu sumber karbohidrat yang berpotensi besar dikembangkan untuk mendukung program diversifikasi pangan. Ubi kayu menjadi sumber karbohidrat non-beras terbesar kedua dunia setelah jagung. Ubi kayu merupakan komoditas agroindusti yang potensial untuk dijadikan bahan baku berbagai industri seperti pangan, pakan, farmasi, kertas dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat fisikokimia dari 20 genotipe ubi kayu yang berasal dari tim pemulia tanaman ubi kayu IPB, sehingga dapat menjadi umpan balik bagi pemulia (breeder) untuk mendapatkan genotipe yang sesuai dengan tujuan pengolahan ubi kayu skala industri. Analisis fisikokimia dilakukan dengan analisis fisik meliputi analisis karakteristik pasta (pasting properties) dan analisis kimia meliputi (kadar air, total pati, amilosa, amilopektin, kadar HCN) dan rendemen tepung singkong. Dari hasil karakterisasi diperoleh bahwa setiap genotipe ubi kayu memiliki sifat fisiko-kimia tepung yang berbeda.  Kandungan air tertinggi, total pati, amilosa, amilopektin, HCN, dan rendemen pada tepung ubi kayu ditemukan pada varian V4D2-122 (varian Malang-4) (8,13 persen), V2D0-311 / 313 (Ratim) (90,44 persen), V3D1-423 (varian UJ-5) (31,69 persen), V2D0-311/313 (Ratim) (64,70 persen), V5D2-333 (varian Adira-4) (1,52 ppm), dan V2D0-311/313 (Ratim) (29,11 persen). Pada pengujian pasting properties genotipe V4D2-122 (varian Malang-4) memiliki viskositas puncak tertinggi (5703 cP). Genotipe ubi kayu dapat diaplikasikan pada produk pangan dan nonpangan yang sesuai dengan karakter fisikokimianya
Bekatul Beras sebagai Pencegah Kanker Kolon Winda Nurtiana; Slamet Budijanto
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i3.368

Abstract

Kanker kolon merupakan penyakit yang terjadi di permukaan usus besar. Kanker ini menempati urutan kedua di antara semua kasus kanker di dunia pada pria dan urutan ketiga pada wanita.  Faktor internal dan eksternal dapat menjadi pencetus penyakit ini dan dalam hal kanker kolon faktor eksternal menyumbang 90-95 persen. Pola makan merupakan faktor eksternal yang paling terkait dengan penyakit ini. Tingginya asupan lemak dan kolesterol serta rendahnya asupan serat pangan dan senyawa bioaktif pada diet sehari-hari akan meningkatkan prevalensi penyakit ini. Bekatul beras merupakan hasil samping pengolahan padi yang kaya akan serat pangan dan senyawa bioaktif, namun saat ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Berbagai laporan menunjukkan bahwa konsumsi diet kaya serat pangan dan senyawa bioaktif dapat mencegah kanker kolon. Bekatul dari beras berpigmen mengandung lebih banyak senyawa bioaktif terutama pigmen antosianin yang mempunyai aktivitas antioksidan yang dapat mencegah mutasi sel normal menjadi sel kanker. Kandungan pigmen antosianin pada beras hitam lebih tinggi daripada beras merah. Artikel ini mengulas peranan serat pangan dan senyawa bioaktif pada bekatul beras dalam upaya pencegahan kanker kolon dan juga potensi bekatul beras hitam yang dapat mencegah penyakit ini lebih efektif.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 3 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue