cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Seni Tari
ISSN : 22526714     EISSN : 25032585     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue " Vol 5 No 1 (2016)" : 16 Documents clear
KAJIAN NILAI ESTETIS TARI MEGAT-MEGOT DI KABUPATEN CILACAP Wiji Pritaria Arimbi, Agiyan; Indriyanto, Indriyanto
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.59 KB) | DOI: 10.15294/jst.v5i1.9633

Abstract

  Abstrak Tari Megat-Megot merupakan tari kerakyatan yang diciptakan di Kabupaten Cilacap. Tari Megat-Megot memiliki nilai keindahan yang dapat dilihat dari aspek wujud, bobot atau isi, dan penampilan. Aspek wujud dalam Tari Megat-Megot dapat dilihat dari bentuk sajian Tari Megat-Megot, yang terdiri dari gerak yang bervariasi dan memiliki keunikan gerak dengan memadukan ragam gerak tradisional dan ragam gerak non tradisional. Iringan musik Tari Megat-Megot yang dinamis khususnya pada pola kendang menjadikan Tari Megot-Megot lebih menarik dan unik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan Tari Megat-Megot dan menemukan nilai estetis yang terkandung dalam Tari Megat-Megot di Kabupaten Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan estetis dan pendekatan koreografis, data yang dihasilkan merupakan data deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data diawali dari tahap pengenalan tentang komponen pertunjukan Tari Megat-Megot, pendeskripsian komponen Tari Megat-Megot, memahami hubungan antar komponen Tari Megat-Megot, Interpretasi tentang keindahan Tari Megat-Megot dan peneliti melakukan evaluasi tentang nilai estetis Tari Megat-Megot. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi, Peneliti melakukan pengecekan data dengan membandingkan data hasil penelitian di lapangan melalui sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Hasil penelitian Tari Megat-Megot dapat dilihat dari tiga aspek meliputi bentuk, bobot atau isi, dan penampilan. Aspek bentuk meliputi gerak yang dinamis dan kompak, dengan diiringi gamelan Calung Banyumasan yang dinamis dengan tempo yang relatif cepat disertai dengan penggunaan tata rias pada wajah penari yang menggunakan tata rias korektif. Tata busana penari Tari Megat-Megot menggunakan busana bermotif batik berwarna coklat dengan kombinasi orange sehingga menimbulkan kesan cerah dan gembira. Aspek  bobot meliputi, suasana yang terdapat dalam Tari Megat-Megot  yaitu ceria dan meriah, gagasan disampaikan melalui ragam gerak Tari Megat-Megot yang menceritakan pergaulan dan gaya remaja di Kabupaten Cilacap. Aspek penampilan meliputi penguasaan wiraga, wirama dan wirasa yang harus dimiliki oleh setiap penari. Saran kepada pencipta Tari Megat-Megot  hendaknya dapat mengembangkan lagi karya tarinya agar lebih menarik dan diminati  oleh masyarakat secara umum, untuk LKP Giyan Lakshita Cilacap hendaknya lebih giat dalam mempromosikan karya-karya tarinya.
EKSISTENSI TAYUB MANUNGGAL LARAS DESA SRIWEDARI KECAMATAN KARANGANYAR KABUPATEN NGAWI Wulansari, Nina
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.783 KB) | DOI: 10.15294/jst.v5i1.9634

Abstract

Abstrak Kesenian Tayub tumbuh dan berkembang di Kabupaten Ngawi. Kesenian Tayub masih menjadi tontonan favorit masyarakat Kabupaten Ngawi. Kesenian Tayub di Kabupaten Ngawi banyak diundang untuk pentas pada acara hajatan pernikahan dan khitanan. Diantara sekian banyak Kelompok Tayub yang paling diminati dan paling dikenal oleh masyarakat Kabupaten Ngawi yaitu Kesenian Tayub Manuggal Laras Desa Sriwedari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi.Masalah dalam penelitian ini adalah eksistensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi Eksistensi Tayub Manunggal Laras Desa Sriwedari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi. Hasil penelitian menunjukan bahwa eksistensi Tayub Manunggal Laras tercermin dari kemampuan Tayub tersebut menjaga keutuhan dan kualitas pertunjukan sehingga masyarakat di Kabupaten Ngawi dan sekitarnya memiliki keinginan yang tinggi untuk mengundang Tayub Manunggal Laras pentas pada acara yang diselenggarakan. Eksistensi Tayub Manunggal Laras dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor Internalnya adalah kemapuan pemain karawitan, ledhek atau penari Tayub, dan sindhen Tayub manunggal Laras. Faktor eksternal yang mendukung eksistensi Kelompok Tayub Manunggal Laras yaitu adanya media yang berupa radio.
INTERAKSI SOSIAL PENARI BUJANGGANONG PADA SALE CREATIVE COMMUNITY DI DESA SALE KABUPATEN REMBANG Rachma Permatasary, Nur; Indriyanto, R.
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.226 KB) | DOI: 10.15294/jst.v5i1.9635

Abstract

Sale Creative Community (SCC) merupakan gabungan dari beberapa lembaga dan kelompok kesenian. Komunitas ini berdiri di desa Sale kabupaten Rembang. Berdirinya komunitas ini merupakan bentuk interaksi sosial yang tumbuh dan berkembang dari berbagai kalangan dan lembaga. Banyak anggapan bahwa kelompok kesenian memiliki fenomena interaksi sosial yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya dan adanya pernyataan lain bahwa antara penari memiliki karakter yang berbeda untuk dapat menyesuaikan dalam sebuah kelompok kesenian Bujangganong.Masalah penelitian ini adalah bagaimana interaksi sosial penari Bujangganong pada Sale Creative Community (SCC) di desa Sale kabupaten Rembang.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya interaksi sosial penari Bujangganong Sale Creative Community(SCC) diantaranya terjadi kontak sosial antaraindividu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok dan adanya komunikasi yang terjalin. Bentuk interaksi sosial yang muncul adalah kerjasama, asimilasi, akomodasi, persaingan, pertentangan, dan kontravensi. Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial penari Bujangganong Sale Creative Community yaitu faktor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati.Berdasarkan hasil penelitian peneliti, diharapkan penari Bujangganong Sale Creative Community(SCC) untuk tetap mempertahankan nilai-nilai sosial agar terjalin hubungan yang harmonis dan mempunyai rasa kebersamaan yang kuat dan diharapkanSale Creative Community membuat acara-acara yang kreatif dan inovatif untuk tetap menjaga eksistensi kesenian Bujangganong Sale Creative Community dan melestarikan kesenian Bujangganong.
PEMBELAJARAN SENI TARI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO-VISUAL DALAM MATA PELAJARAN SENI BUDAYA KELAS XI DI SMA NEGERI 1 BOJA KABUPATEN KENDAL Ade Wjaya, Kartika
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.868 KB) | DOI: 10.15294/jst.v5i1.9636

Abstract

Masalah utama dalam penelitian ini adalah Bagaimana proses pembelajaran seni tari dengan menggunakan media audio-visual dalam mata pelajaran seni budaya di kelas XI SMAN 1 Boja dan apakah manfaat media audio-visual dalam proses pembelajaran sei tari kelas XI di SMAN 1 Boja Kabupaten kendal. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui atau mendeskripsikan manfaat media audio-visual dalam pembelajaran seni tari kelas XI di SMA Negeri 1 Boja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana metode ini memiliki sifat deskriptif. Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian pembelajaran seni tari dengan menggunakan media audio-visual dalam mata pelajaran seni budaya kelas XI di SMA Negeri 1 Boja Kabupaten Kendal menunjukkan bahwa didalam kegiatan proses pembelajaran di SMA Negeri 1 Boja meliputi kegiatan pendahuluan, penyajian, dan kegiatan penutup. Proses pembelajaran di kelas, guru menggunakan media audio-visual seperti LCD (Liquid Crystal Display), Laptop, Televisi, Speaker, dan Kaset VCD tari, selain itu guru juga menggunakan metode demostrasi dan ceramah. Manfaat menggunakan media audio-visual dapat meningkatkan apresiasi siswa, kreativitas siswa dan hasil belajar menjadi lebih baik, selain itu dengan menggunakan media audio-visual dalam pembelajaran di kelas tidak menimbulkan rasa jenuh terhadap siswa dan dalam penyampaian materi menjadi lebih kreatif. Sedangkan hambatan dalam penggunaan media audio-visual dalam proses pembelajaran seni tari di SMA Negeri 1 Boja Kabupaten Kendal adalah permasalahan pendanaan dan operasional penggunaan media audio-visual oleh siswa.
KAJIAN NILAI ESTETIS TARI RENGGA MANIS DI KABUPATEN PEKALONGAN Rizanti, Elisa; Indriyanto, Indriyanto
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.403 KB) | DOI: 10.15294/jst.v5i1.9637

Abstract

Tari Rengga Manis merupakan tarian tunggal putri yang biasanya ditarikan lebih dari satu orang penari. Tarian ini mempunyai nilai keindahan dari segi gerak, rias busana serta iringan. Dari gerak lembut yang ditarikan, ada gerak-gerak dengan tekanan yang tegas serta cepat terdapat pada gerakan silat atau beladiri yang memiliki pesan tertentu.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, memahami nilai-nilaiestetis yang ada dalam tari Rengga Manis di Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Estetis Koreografis, dengan lokasi penelitian di Desa Nyamok,Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi.Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu.Nilai estetis tari Rengga Manis dapat dilihat dari bentuk koreografi yang terdiri dari aspek gerak tari yaitu tenaga, ruang dan waktu, serta iringan tari, tata rias busana, pelaku tari, tempat pementasan dan penikmat/penonton. Nilai estetis tari Rengga Manis juga dapat dilihat dari komponen pendukung koreografi seperti rias dan busana tari, iringan, isi tari yang terdiri dari suasana, gagasan, pesan serta yang terakhir yaitu penampilan terdiri dari wiraga, wirama dan wirasa. Dilihat dari geraknya memunculkan kesan lembut, terlihat lincah saat gerakan dengan tekanan yang kuat dan tempo cepat.Tarian ini menggunakan iringan “Renggong Manis” dengan ciri khas pada kendhang dan bonang yang merupakan campuran cengkok Solo, Banyumas dan Sundasehingga kesan yang dihasilkan rancak dan dinamis. Pekalongan menggunakan notasi ji yang diganti pi sehingga menghasilkan nada yang rancak dan menarik. Didukung dengan busana yang dipakai menggunakan perpaduan warna hijau yang memberikan kesan ketenangan dan warna kuning yang memberikan kesan bahagia dan semangat.
Kajian Gaya Tari Jaranan “Sindhung Riwut” di Desa Doplang Kecamatan Jati Kabupaten Blora Anjarsari, Rindang
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v5i1.9656

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan mengenai kajian gaya tari jaranan “Sindhung Riwut” di Desa Doplang Kecamatan Jati Kabupaten Blora dan untuk mengetahui dan mendeskripsikan mengenai bentuk pertunjukan tari jaranan “Sindhung Riwut”. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, tahapan teknik pengumpulan data, observasi yang dilakukan adalah meneliti tentang tari jaranan “Sindhung  riwut”,  wawancara  dilakukan  dengan  para  tokoh  yang  ada  di  kelompok kesenian “Sindhung riwut” dan dokumentasi gambar-gambar tari jaranan, teknik analisis yang digunakan adalah mengenali dan mendeskripsikan tari jaranan, memahami antar hubungan antara komponen pertunjukan, melakukan interpretasi dan melakukan evaluasi pada   tari   jaranan.  Teknik  keabsahan  data  menggunakan  teknik  triangulasi  waktu. Berdasarkan hasil penelitian Tari jaranan “Sindhung Riwut” di Desa Doplang Kecamatan Jati Kabupaten Blora memiliki  57 ragam gerak dan 6 ragam gerak inti. Gerak pada tari jaranan menggambarkan kesan lincah, kuat dan berani dengan unsur gerak seperti unsur gerak  kaki,  unsur  gerak tangan,  unsur  gerak kepala  dan  unsur  gerak badan. Bentuk pertunjukan tari jaranan ini secara berkelompok dan dapat ditarikan dipanggung ataupun lapangan terbuka. Gaya tari jaranan dilihat melalui aspek pokok dan aspek pendukung. Kesimpulan bahwa gaya pada tari jaranan “Sindhung Riwut” dilihat dari gerak dan aspek pendukung tari jaranan. Tari jaranan mempunyai gerak napak, sabetan, ndegar, mencak, sembahan dan perang, sedangkan aspek pendukungnya ada musik iringan, tata rias, tata busana, properti, pelaku, tata panggung, tata suara dan penonton. 
BENTUK PENYAJIAN DAN FUNGSI SENI BARONG SINGO BIROWO DI DUKUH WONOREJOPASIR DEMAK Isnaini, Mentari; Hasan Bisri, Mohammad
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.115 KB) | DOI: 10.15294/jst.v5i1.9712

Abstract

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah tentang bentuk penyajian dan fungsi seni Barong Singo Birowo di Dukuh Wonorejopasir Desa Timbulsloko Kecamatan Sayung Kabupaten Demak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Proses pengambilan data meliputi teknik observasi, teknik dokumentasi dan teknik wawancara. Teknik keabsahan data yang digunakan peneliti ialah menggunakan teknik triangulasi. Peneliti menggunakan tiga tahap analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian mengenai bentuk penyajian dan fungsi seni Barong Singo Birowo di Dukuh Wonorejopasir Desa Timbulsloko Kecamatan Sayung Kabupaten Demak adalah sebagai berikut seni Barong Singo Birowo merupakan sebuah kesenian yang terbentuk pada tahun 1992 dengan jumlah anggota 44 orang. Bentuk penyajian seni Barong Singo Birowo meliputi urutan penyajian yang dimulai dari pembukaan, acara inti dan penutup. Iringan menggunakan gending-gending Jawa yang dikolaborasikan dengan musik dangdut. Menggunakan panggung terbuka, tata busana sesuai peran, tata rias fantasi dan karakter, serta tata suara berupa speaker besar, mikropon, dan media power amplifier. Fungsi dari seni Barong Singo Birowo yaitu hiburan untuk masyarakat, hiburan bagi para anggota/pemain dan sebagai presentasi estetis atau tontonan.  
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TARI SORENG DI DESA LEMAHIRENG BAWEN KABUPATEN SEMARANG Khairunnisa, Anis; lanjari, restu
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.057 KB) | DOI: 10.15294/jst.v5i2.12559

Abstract

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TARI SORENG DI DESA LEMAHIRENG BAWEN KABUPATEN SEMARANG Anis Khairunnisa Restu Lanjari Alumni Mahasiswa Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang Email: anisdewangga11@gmail.com     Sari                 Tari Soreng merupakan jenis tari kerakyatan yang berada di Desa Lemahireng. Tari Soreng menggambarkan semangat para pasukan prajurit pilihan pemberani yang siap untuk berperang laga. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu: Persepsi Masyarakat terhadap Tari Soreng di Desa Lemahireng Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat di Desa Lemahireng Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang dan untuk mengetahui upaya yang harus dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan melakukan penelitian dengan metode pendekatan sosiologi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari beberapa persepsi yang diperoleh dari masyarakat tentang Tari Soreng. Persepsi yang tidak mendukung terdapat pada pada masyarakat usia anak-anak (12-17 Tahun) dan usia muda (17-25 Tahun) dan yang mendukung cenderung masyarakat pada usia tua (25-85 Tahun). Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap Tari Soreng di Desa Lemahireng Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang adalah yang melatar belakangi lahirnya persepsi dimasyarakat seperti tingkat pendidikan yang tinggi membuat cara pandang masyarakat lebih terbuka dan modern. Adapun Upaya yang harus dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang yaitu melakukan pembinaan Tari Soreng harus dimulai dengan masyarakatnya sendiri di daerahnya masing-masing, juga dilakukan oleh kelompok paguyuban Soreng kridho wargo budhoyo, salah satu bentuk pembinaan yang efektif adalah dengan mengadakan festival atau lomba.Simpulan dari penelitian adalah : Permasalahan persepsi disuatu masyarakat tergantung pada sudut pandang dan cara melihat suatu kesenian. persepsi tentang Tari Soreng berubah di berbagai elemen masyarakat Desa Lemahireng seiring dengan semakin majunya jaman. Saran untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang, untuk lebih memaksimalkan upaya pelestarian dalam pemanfaatan Tari Soreng dalam bidang ilmu pengetahuan dan pariwisata. Generasi muda diharapkan dapat lebih mudah memelajari Tari Soreng dan diharapkan dapat melestarikan dan mengembangkannya.                                   Kata Kunci : Tari Soreng, Persepsi Masyarakat Di Desa Lemahireng;                               THE PUBLIC PERCEPTIONSTOWARDS SORENG DANCE AT LEMAHIRENG VILLAGE BAWEN SEMARANG   AnisKhairunnisa Restu Lanjari Graduate Students of Dance and Music Departement, Languanges and Arts Facull, Semarang State University Email: anisdewangga11@gmail.com     ABSTRACT                   Soreng dance is a kind of populist dance in the village Lemahireng. Dance Soreng describe the morale of the troops brave choice soldiers prepared for war games. Issues examined in this study are: Public perception of the Dance in the Village Lemahireng Soreng Bawen District of Semarang District. Goals to be achieved in this research is to determine the public perception in the village Lemahireng Bawen District of Semarang District and to determine the measures to be undertaken by the Department of Education and Culture. This study uses qualitative research methods and conduct research with a sociological approach method. Data were analyzed using data reduction, data presentation and conclusion. The results showed that of some perceptions obtained from the community about Tari Soreng. Perception is not present in the community to support children age (12-17 years) and younger age (17-25 years) and that support tends society in old age (25-85 years). Factors that affect the public perception of dance in the village Soreng Lemahireng Bawen District of Semarang District is the background for the birth of the perception of the community as a high level of education makes way people view more open and modern. The effort to do Office of Education and Culture of Semarang District is to provide guidance Dance Soreng should start with their own community in their respective regions, also carried out by a group of community Soreng kridho Wargo budhoyo, one form of effective formation is to hold a festival or competition. The conclusions of the study are: Problems sector in the public perception depends on your viewpoint and how to view an art. Dance Soreng perception of change in different elements of society Lemahireng village along with the advancement of age. Suggestions for the Education and Culture District of Semarang, to further maximize conservation efforts in the utilization of Dance Soreng in science and tourism. The younger generation is expected to be more easily studied dance Soreng and is expected to preserve and develop it.           Keywords : soreng Dance, public perceptions of lemahireng village;  
KAJIAN NILAI ESTETIS TARI MEGAT-MEGOT DI KABUPATEN CILACAP
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016): Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v5i1.9633

Abstract

Abstrak Tari Megat-Megot merupakan tari kerakyatan yang diciptakan di Kabupaten Cilacap. Tari Megat-Megot memiliki nilai keindahan yang dapat dilihat dari aspek wujud, bobot atau isi, dan penampilan. Aspek wujud dalam Tari Megat-Megot dapat dilihat dari bentuk sajian Tari Megat-Megot, yang terdiri dari gerak yang bervariasi dan memiliki keunikan gerak dengan memadukan ragam gerak tradisional dan ragam gerak non tradisional. Iringan musik Tari Megat-Megot yang dinamis khususnya pada pola kendang menjadikan Tari Megot-Megot lebih menarik dan unik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan Tari Megat-Megot dan menemukan nilai estetis yang terkandung dalam Tari Megat-Megot di Kabupaten Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan estetis dan pendekatan koreografis, data yang dihasilkan merupakan data deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data diawali dari tahap pengenalan tentang komponen pertunjukan Tari Megat-Megot, pendeskripsian komponen Tari Megat-Megot, memahami hubungan antar komponen Tari Megat-Megot, Interpretasi tentang keindahan Tari Megat-Megot dan peneliti melakukan evaluasi tentang nilai estetis Tari Megat-Megot. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi, Peneliti melakukan pengecekan data dengan membandingkan data hasil penelitian di lapangan melalui sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Hasil penelitian Tari Megat-Megot dapat dilihat dari tiga aspek meliputi bentuk, bobot atau isi, dan penampilan. Aspek bentuk meliputi gerak yang dinamis dan kompak, dengan diiringi gamelan Calung Banyumasan yang dinamis dengan tempo yang relatif cepat disertai dengan penggunaan tata rias pada wajah penari yang menggunakan tata rias korektif. Tata busana penari Tari Megat-Megot menggunakan busana bermotif batik berwarna coklat dengan kombinasi orange sehingga menimbulkan kesan cerah dan gembira. Aspek bobot meliputi, suasana yang terdapat dalam Tari Megat-Megot yaitu ceria dan meriah, gagasan disampaikan melalui ragam gerak Tari Megat-Megot yang menceritakan pergaulan dan gaya remaja di Kabupaten Cilacap. Aspek penampilan meliputi penguasaan wiraga, wirama dan wirasa yang harus dimiliki oleh setiap penari. Saran kepada pencipta Tari Megat-Megot hendaknya dapat mengembangkan lagi karya tarinya agar lebih menarik dan diminati oleh masyarakat secara umum, untuk LKP Giyan Lakshita Cilacap hendaknya lebih giat dalam mempromosikan karya-karya tarinya.
EKSISTENSI TAYUB MANUNGGAL LARAS DESA SRIWEDARI KECAMATAN KARANGANYAR KABUPATEN NGAWI
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016): Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v5i1.9634

Abstract

Abstrak Kesenian Tayub tumbuh dan berkembang di Kabupaten Ngawi. Kesenian Tayub masih menjadi tontonan favorit masyarakat Kabupaten Ngawi. Kesenian Tayub di Kabupaten Ngawi banyak diundang untuk pentas pada acara hajatan pernikahan dan khitanan. Diantara sekian banyak Kelompok Tayub yang paling diminati dan paling dikenal oleh masyarakat Kabupaten Ngawi yaitu Kesenian Tayub Manuggal Laras Desa Sriwedari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi.Masalah dalam penelitian ini adalah eksistensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi Eksistensi Tayub Manunggal Laras Desa Sriwedari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi. Hasil penelitian menunjukan bahwa eksistensi Tayub Manunggal Laras tercermin dari kemampuan Tayub tersebut menjaga keutuhan dan kualitas pertunjukan sehingga masyarakat di Kabupaten Ngawi dan sekitarnya memiliki keinginan yang tinggi untuk mengundang Tayub Manunggal Laras pentas pada acara yang diselenggarakan. Eksistensi Tayub Manunggal Laras dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor Internalnya adalah kemapuan pemain karawitan, ledhek atau penari Tayub, dan sindhen Tayub manunggal Laras. Faktor eksternal yang mendukung eksistensi Kelompok Tayub Manunggal Laras yaitu adanya media yang berupa radio.

Page 1 of 2 | Total Record : 16