Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016"
:
10 Documents
clear
PERAN KELAS IBU HAMIL DALAM KEBERHASILAN ASI EKSKLUSIF
yeni utami
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (75.477 KB)
ABSTRAK Pendahuluan : Salah satu program unggulan dalam upaya menurunkan AKI dan AKB adalah melalui penyelenggaraan kelas ibu hamil. Tujuan program kelas ibu hamil salah satunya adalah keberhasilan dalam pemberian ASI eksklusif. Namun pencapaian target pemberian ASI eksklusif di wilayah Puskesmas Tawangrejo baru mencapai 62,14% dari target 70%, sehingga dikatakan kelas ibu hamil belum berhasil mencapai tujuannya. Hal ini dikarenakan belum banyak ibu hamil yang berperan aktif dalam program kelas ibu hamil. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan keikutsertaan kelas ibu hamil dengan pemberian ASI eksklusif. Metode : Jenis penelitian ini adalah analitik observasional menggunakan rancang bangun penelitian cross sectional study. Lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas Tawangrejo, Kartoharjo, Kota Madiun. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki Balita usia 7-12 bulan yang berada di wilayah Puskesmas Tawangrejo, Kartoharjo, Madiun sebanyak 70 ibu balita. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebesar 42 ibu balita dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square dengan program SPSS versi 16. Hasil : Ibu yang memberikan ASI eksklusif hampir seluruhnya pada ibu yang mengikuti kelas ibu hamil. Terdapat hubungan keikutsertaan kelas ibu hamil dengan pemberian ASI eksklusif. Ibu yang mengikuti kelas ibu hamil berpeluang 55 kali memberikan ASI eksklusif. Rekomendasi : perlu meningkatkan fasilitas terhadap pelaksanaan kelas ibu hamil, sehingga bisa merata di semua desa, Bidan lebih inovatif dan meningkatkan intensitas sosialisasi denan melibatkan kader dalam menjaring ibu hamil agar aktif dalam mengikuti kelas ibu hamil. Kata Kunci : Kelas ibu hami, Ibu Balita, ASI eksklusif
HUBUNGAN DESKRIPSI PEKERJAAN, REVIEW KINERJA, PENGETAHUAN DAN PELATIHAN DENGAN KINERJA BIDAN PRAKTIK MANDIRI (BPM) DALAM PELAKSANAAN PELAYANAN ANTENATAL TERPADU DI KOTA SEMARANG
Nessi Meilan
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (81.569 KB)
Kematian maternal di Kota Semarang meningkat, dari 29 kasus pada Tahun 2013 menjadi 36 kasus pada tahun 2014. Penyebab kematian terbanyak adalah pre eklampsia berat, perdarahan dan penyakit jantung yang dapat dicegah memalui deteksi awal pemeriksaan kehamilan. Separuh dari jumlah ibu yang meninggal mempunyai riwayat pemeriksaan di Bidan Praktik Mandiri (BPM) Kota Semarang, hal ini berkaitan dengan kinerja BPM dalam pelayanan antenatal terpadu. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Variabel terikat adalah kinerja BPM dalam pelayanan antenatal terpadu dan variabel bebasnya adalah deskripsi pekerjaan, revew kinerja, pengetahuan, dan pelatihan. Data diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Populasi penelitian adalah BPM di Kota Semarang dan metode pengambilan sampel adalah multi stage random sampling. Dari 9 wilayah ranting IBI dipilih wilayah I dan III, dengan jumlah subjek penelitian 78 orang. Analisis bivaiat dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan BPM yang memiliki kinerja kurang sebanyak 52,6%. Variabel yang berhubungan dengan kinerja BPM adalah deskripsi pekerjaan (p=0,018), review kerja (p=0,011), pengetahuan (p=0,001), sedangkan pelatihan tidak ada hubungan (p=0,096). Disarankan kepada DKK Semarang untuk melakukan pengawasan ketat terhadap kompetensi dan pemberian sanksi apabila diperlukan. IBI juga dapat meningkatkan review kinerja melalui uji kompetensi dan BPM harus memperbaharui pengetahuannya secara berkelanjutan.
Persepsi ibu dalam pemberian makanan tambahan pada bayi di Puskemas Pembantu Desa Joho wilayah kerja Puskesmas Pace Kabupaten Nganjuk
siti maemonah
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (52.108 KB)
MOTHER’S PERSEPTION OF SUPPLEMENTARY FEEDING FOR INFANT IN PUBLIC HEALTH ASSISTANT OF JOHO VILLAGE WORKING AREA PACE’S PUBLIC HEALTH NGANJUK Siti Maemonah, Ahmad Abi Lahabi (Program Studi D3 Keperawatan Kampus Sidoarjo) sitimaemonah71@yahoo.com Perception of a mother in feeding their babies may differ perhaps also the same as anyone else. This is because many factors affect a person's perception. The purpose of this study was to determine the perceptions of mothers in infant feeding in rural health centers Joho the pace of work centers Nganjuk district. In this study the method used is qualitative in-depth interview technique (depth interview). Informants were mothers who come to the village health centers Joho. The number of informants 10 people consisting of mothers who now have children younger than 1 year. The interviews were analyzed qualitatively by comparing the informant answers that include the theme of supplementary feeding with a theory that has been obtained from the literature. From this study it can be concluded that the perception of women in supplementary feeding is given butter milk food, food that is given as breast milk, food that is given when the infant cries, the food given as an infant, was given when aged less than 6 months or more than 6 months in order for a large fast infant, infant is not fussy, adequate nutrition, good development, and prevent malnutrition. Expected to be more attention again to the local health workers for about providing health education on a regular basis about infant feeding for mothers to find out how the provision of supplementary food is good and right so it will not interfere with the baby's health Key words: perception, supplementary feeding, infant
Pengaruh Konseling Menggunakan Lembar Balik dan Leaflet Terhadap Kepatuhan Ibu Hamil Mengkonsumsi Tablet Besi Di Kota Tangerang Tahun 2013
Niken Purbowati
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (78.28 KB)
Prevalensi anemia tertinggi di Kota Tangerang terjadi di Puskesmas Kedaung Wetan (67,5%). Upaya penanggulangan anemia melalui pemberian tablet besi telah dilakukan, namun masih banyak ibu hamil tidak mengkonsumsi tablet besi (20%). Diperlukan strategi Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) untuk meningkatkan kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet besi. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh konseling terhadap kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet besi. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimental dengan pre test-post test control group design. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur dan observasi kepatuhan konsumsi tablet besi. Jumlah sampel kelompok perlakuan dan kelompok kontrol masing-masing 33 ibu hamil. Analisis data dilakukan dengan uji Chi Square, Wilcoxon, Paired t Test, Mann Whitney dan Independent t Test. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik ibu hamil (umur, pendidikan, dukungan suami, pekerjaan, pendapatan) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Ada perbedaan bermakna skor pengetahuan setelah perlakuan antara kedua kelompok (p=0,001). Ada perbedaan bermakna skor sikap setelah perlakuan antara kedua kelompok (p=0,001). Kepatuhan konsumsi tablet besi lebih tinggi pada kelompok perlakuan (89,7%) daripada kelompok kontrol (25,9%). Ada perbedaan bermakna kepatuhan mengkonsumsi tablet besi antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (p=0,001). Kata Kunci : Konseling, kepatuhan, ibu hamil, tablet besi
STIGMA DAN DISKRIMINASI ODHA DI KABUPATEN MADIUN
heni eka
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (57.042 KB)
PendahuluanPersentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual (45,6%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (10,6%), dan LSL (10,3%). Salah satu kendala dalam pengendalian penyakit HIV/AIDS adalah stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS (ODHA). Timbulnya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA disebabkan oleh faktor risiko penyakit ini yang terkait dengan perilaku seksual yang menyimpang dan penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya atau narkoba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan stigma dan diskriminasi terhadap kualitas hidup ODHA. Metode Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan populasi ODHA di wilayah Kabupaten madiun yang aktif di kelompok dukungan sebaya “Sehati” pada bulan Mei 2016 sebanyak 30 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Variabel penelitian ini adalah stigma dan diskriminasi ODHA. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan pendekatan statistic deskriptif yang disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Hasil sebagian besar ODHA berjenis kelamin laki-laki sebanyak 16 orang (53%). Sebagian besar pendidikan responden pendidikan menengah sebanyak 22 orang (73%), sebagian besar responden bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 13 orang (43%). Dan sebagian besar responden berstatus perkawinan menikah sebanyak 17 orang (57%). sebagian besar responden ODHA mengalami terstigma dan diskriminasi sebesar 19 orang (63%). Rekomendasi Perlunya dukungan dan perhatian bagi ODHA dari masyarakat khususnya Kelompok Dukungan Sebaya agar dapat memberikan semangat hidup bagi penderita HIV AIDS
PERBEDAAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BAYI USIA 6–9 BULAN YANG MENDAPAT DAN TIDAK MENDAPAT ASI EKSKLUSIF
teta puji rahayu
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (69.958 KB)
PERBEDAAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BAYI USIA 6–9 BULAN YANG MENDAPAT DAN TIDAK MENDAPAT ASI EKSKLUSIF
HUBUNGAN PAPARAN MEDIA DENGAN PRAKTEK PEMBERIAN SUSU FORMULA PADA BAYI USIA KURANG DARI 6 BULAN
eny qurniyawati
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (39.643 KB)
ABSTRAK Pendahuluan : ASI mengandung nutrien dan zat protektif yang sesuai dengan kebutuhan bayi, ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi misalnya: infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah, diare, dan otitis media. Kolostrum mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu matur (matang). Sebanyak 136.700.000 bayi dilahirkan di seluruh dunia dan hanya 32,6% dari mereka yang mendapat ASI secara eksklusif pada usia 0 sampai 6 bulan pertama. Hal tersebut menggambarkan cakupan pemberian ASI eksklusif di bawah 80% dan masih sedikitnya ibu yang memberikan ASI secara eksklusif pada bayi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan paparan media dengan praktik pemberia susu formula pada bayi usia di bawah 6 bulan di Desa Kare Kecamatan Kare Kabupaten Madiun. Metode : Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret hingga Mei 2016 menggunakan desain penelitian cross sectional. Lokasi penelitian di Desa Kare Kecamatan Kare Kabupaten Madiun. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki bayi usia kurang dari 6 bulan di Desa Kare Kecamatan Kare Kabupaten Madiun. Jumlah populasi 35 responden, jumlah sampel total populasi yaitu 35 responden Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square . Hasil : Ada hubungan antara paparan media dengan praktek pemberian susu formula pada bayi usia kurang dari 6 bulan. Rekomendasi : perlu meningkatkan program promosi pemberian ASI eksklusif sehingga dapat melindungi bayi usia kurang dari 6 bulan Kata Kunci : Paparan Media-Praktek Pemberian Susu formula-Bayi Usia kurang dari 6 Bulan
HUBUNGAN POLA MAKAN TERHADAP KEJADIAN BALITA USIA 1–3 TAHUN DENGAN BERAT BADAN DI BAWAH GARIS MERAH (BGM) DI DESA BENDOARUM KECAMATAN WONOSARI BONDOWOSO
eni subiastutik
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (57.745 KB)
Balita BGM yaitu berat badannya kurang menurut umur dengan melihat plot pada KMS berada pada garis merah atau dibawah garis merah. Salah satu faktor penyebabnya dipengaruhi pola makan. Di Puskesmas wonosari Tahun 2013 terdapat 76 kasus BGM, Tahun 2014 meningkat 83 balita. Berdasarkan studi pendahuluan pada 10 ibu balita BGM di dapatkan 6 (60%) orang mengatakan tidak mengetahui pola makan anaknya, dan tidak memberikan susu. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola makan terhadap kejadian balita BGM usia 1-3 tahun di Desa Bendoarum Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso. Desainnya adalah korelasi, pendekatan Cross Sectional. Populasinya ibu yang mempunyai balita usia 1 - 3 tahun sejumlah 27 orang, sampel 27 orang menggunakan tekhnik Total Sampling. Hasilnya, pola makan sesuai 8 (29,6%) dan tidak sesuai 19 (70,4%). Uji statistik Chi Square didapatkan χ2 hitung > χ2 tabel yaitu 4,481 > 3,841, maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan pola makan terhadap kejadian Balita usia 1-3 tahun dengan BGM. Disimpulkan bahwa pola makan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi balita BGM. Apabila pola makan tidak sesuai, menimbulkan status gizi yang kurang. Sehingga untuk menurunkan kejadian BGM diharapkan puskesmas meningkatkan penyuluhan tentang gizi seimbang, khususnya gizi seimbang pada usia 1-3 tahun. Kata Kunci : Pola Makan, Balita BGM
Pengaruh Menyusui Dini Terhadap Lamanya Pengeluaran Air Susu Ibu (ASI) Pada Ibu Post Sectio Caesarea Di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tarakan
yuni retnowati
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (60.986 KB)
Jumlah pemberian ASI Ekslusif di Indonesia masih rendah yaitu 32% dari kelahiran bayi. Masalah menyusui pada keadaan khusus adalah ibu melahirkan dengan secsio Caesarea. Di Indonesia jumlah kelahiran dengan Sectio Caesarea tergolong tinggi. Ibu dengan persalinan SC belum dilaksanakan inisiasi menyusu dini, kontak antara ibu dan bayi dimulai setelah ibu berada diruang perawatan. Hal ini tentu saja berdampak pada penundaan stimulasi ASI antara Ibu dan bayiÇ di masa krisisnya, yaitu satu jam setelah melahirkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh menyusui dini terhadap lamanya pengeluaran ASI pada ibu post Sectio Caesarea di RSUD Tarakan. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian jenis quasi-eksperimen dengan menggunakan bentuk rancangan ”Posttest Only Control Group Design”. Total responden sebanyak 70 orang dengan 36 ibu sebagai kelompok perlakuan (dilakukan menyusui dini) dan 34 ibu sebagai kelompok kontrol. Lokasi penelitian di Ruang Rawat Gabung Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tarakan. Hasil penelitian menunjukkan menunjukkan bahwa lamanya pengeluaran ASI pada ibu post Sectio setelah dilakukan menyusui dini lebih banyak terjadi kurang dari 24 jam (77,78%) sedangkan ibu yang tidak dilakukan menyusui dini.lamanya pengeluaran ASI lebih banyak terjadi setelah 24 jam (76,47%). Setelah dilakukan uji statistic didapatkan bahwa dilakukan menyusui dini mempengaruhi lamanya pengeluaran ASI pada ibu post Sectio Caesarea dengan OR = 5,235
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN RISIKO KEJADIAN PENYAKIT KUSTA (MORBUS HANSEN)
Riska Ratnawati
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (76.895 KB)
Pendahuluan : Kusta merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh bakteri kusta (Mycobacterium leprae ) yang menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat. Kusta tipe Multi Basiler (MB) merupakan sumber utama penularan penyakit kusta, namun cara penularan yang pasti belum diketahui. Indonesia hingga saat ini merupakan salah satu negara dengan beban penyakit kusta yang tinggi. Pada tahun 2013, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia setelah India dan Brazil. Tahun 2013, Indonesia memiliki jumlah kasus kusta baru sebanyak 16.856 kasus dan jumlah kecacatan tingkat 2 di antara penderita baru sebanyak 9,86%. Banyaknya kasus kusta di daerah endemik yang terjadi tanpa adanya kontak langsung dengan penderita kusta memungkinkan adanya sumber penularan di luar manusia seperti lingkungan dan hewan yang dapat menyebabkan kejadian kusta. Faktor geografi, etnik atau suku dan sosial ekonomi (pendidikan dan pekerjaan ) diduga dapat mempengaruhi kejadian kusta. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan resiko kejadian penyakit kusta (Morbus Hansen) di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bringin Kabupaten Ngawi. Metode : Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga Maret 2016 menggunakan rancang bangun penelitian case control study. Lokasi penelitian di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bringin Kabupaten Ngawi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita kusta yang terdaftar dalam anggota Paguyuban Budi Utomo di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bringin Kabupaten Ngawi tahun 2015. Jumlah populasi kelompok kasus sebesar 18 orang, sedangkan populasi kelompok kontrol sebesar 36 orang. Jumlah sampel dalam penelitian ini pada kelompok kasus 18 penderita (Total Populasi)dan sampel kelompok kontrol sama besar jumlahnya dengan kelompok kasus dengan perbandingan 1:2. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square . Hasil : Variabel yang merupakan faktor risiko penyakit kusta adalah kondisi sanitasi rumah meliputi kondisi dinding rumah, kondisi lantai rumah, jamban sehat dan karakteristik masyarakat meliputi pendidikan dan riwayat kontak . Rekomendasi : perlu meningkatkan penemuan penderita baru secara aktif dengan cara lebih mengoptimalkan program survey kontak, RVS (Rapid Village Survey) dan mengaktifkan kembali paguyuban dan kader kusta. Kata Kunci : Resiko-penyakit kusta