cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN
Published by Forum Ilmiah Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 25485970     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017" : 10 Documents clear
HUBUNGAN PERSEPSI PASIEN TENTANG KUALITAS PELAYANAN RUMAH SAKIT TERHADAP MINAT PEMANFAATAN KEMBALI RIANA MAHENDRANI
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.249 KB)

Abstract

RSUD dr. Sayidiman Magetan merupakan rumah sakit negeri kelas C, sebagai rumah sakit rujukan dari puskesmas. Berdasarkan data Survei Kepuasan Masyarakat pada Instalasi Rawat Inap, nilai Indeks Kepuasan Masyarakat sebesar 74,25%. Hal tersebut masih belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu sebesar ≥ 90%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi pasien tentang kualitas pelayanan rumah sakit terhadap minat pemanfaatan kembali di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Sayidiman Magetan. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan metode deskriptif analitik. Sampel penelitian 79 responden pasien umum rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian pelayanan berkualitas di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Sayidiman Magetan sebesar 74,4% pelayanan tidak berkualitas 12%, pasien yang tidak minat memanfaatkan kembali sebesar 38,5% minat memanfaatkan kembali 61,5%. Analisis bivariat persepsi pasien tentang kualitas pelayanan rumah sakit terhadap minat pemanfaatan kembali di instalasi rawat inap RSUD dr. Sayidiman Magetan memperoleh hasil ρ value = 0,008 dengan nilai ɑ = 0,05. Kesimpulan penelitian ada hubungan persepsi pasien tentang kualitas pelayanan rumah sakit terhadap minat pemanfaatan kembali di instalasi rawat inap RSUD dr. Sayidiman Magetan. Saran yang dapat peneliti berikan RSUD dr. Sayidiman Magetan tetap mempertahankan kualitas pelayanan yang baik serta lebih ditingkatkan kembali.
KOMPLIKASI KEHAMILAN SEBAGAI FAKTOR RISIKO GANGGUAN SPEKTRUM AUTISTIK PADA ANAK rosni lubis
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.224 KB)

Abstract

KOMPLIKASI KEHAMILAN SEBAGAI FAKTOR RISIKO GANGGUAN SPEKTRUM AUTISTIK PADA ANAK Rosni Lubis, SST, MKeb Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Jakarta III Email: rosnilubis@gmail.com ABSTRAK Gangguan spektrum autistik (GSA) merupakan penyebab penting gangguan tumbuh kembang anak yang insidensi maupun prevalensinya dewasa ini cenderung meningkat. Sampai saat ini penyebab GSA belum diketahui dengan pasti, namun komplikasi kehamilan tampaknya berperan penting dalam patogenesis terjadinya GSA seperti perdarahan antepartum, preeklamsi, dan hiperemesis gravidarum. Penelitian ini bertujuan untuk menilai faktor risiko perdarahan antepartum, preeklamsi dan hiperemesis gravidarum dan menentukan faktor yang paling berisiko terhadap terjadinya GSA. Penelitian kasus kontrol menggunakan teknik consecutive sampling dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2011 pada ibu yang memiliki anak berusia 3–11 tahun yang datang ke RSAB Harapan Kita Jakarta. Kelompok kasus terdiri atas 40 ibu dengan anak GSA dan kelompok kontrol 40 ibu dengan anak non-GSA. Data komplikasi kehamilan diperoleh dari rekam medik dan anamnesis terhadap ibu kandung. Analisis data menggunakan uji chi-kuadrat atau eksak Fisher untuk menilai komplikasi kehamilan sebagai faktor risiko GSA dan regresi logistik ganda untuk mengetahui komplikasi kehamilan yang paling berisiko terhadap kejadian GSA. Hasil penelitian secara bivariabel menunjukkan bahwa perdarahan antepartum meningkatkan risiko kejadian GSA (OR=9,15; p=0,002; IK 95%: 1,91–43,9), preeklamsi dan hiperemesis gravidarum bukan faktor risiko terjadinya GSA dengan masing-masing variabel didapatkan (OR=4,75; p=0,054; IK 95%: 0,94–23,99) dan (OR=1,54; p=0,500, IK 95%: 0,26–2,36). Analisis multivariabel menunjukkan perdarahan antepartum merupakan komplikasi kehamilan yang paling berisiko terhadap kejadian GSA (OR=8,284; p=0,010; IK 95%: 1,653–41,510). Simpulan, perdarahan antepartum merupakan faktor komplikasi kehamilan yang paling berisiko terhadap terjadinya GSA. Kata kunci: faktor risiko, gangguan spektrum autistik, hiperemesis gravidarum perdarahan antepartum, preeklamsi. PENDAHULUAN Autism spectrum disorders (ASD) atau gangguan spektrum autistik (GSA) merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang berat, ditandai dengan gangguan perkembangan dalam interaksi sosial, komunikasi yang timbal balik, serta minat dan perilaku yang terbatas dan berulang. Gangguan perkembangan ini sudah tampak sejak anak berusia di bawah 3 tahun. Sekarang ini, banyak peneliti menggolongkan GSA ke dalam pervasive developmental disorders (PDD).1,2 Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth edition, Text Revision (DSM-IV-TR) yang termasuk ke dalam PDD yaitu gangguan autistik, sindrom Rett, gangguan disintegratif masa kanak, sindrom Asperger, dan pervasive developmental disorder not otherwise specified (PDD-NOS).3 Dari perjalanan gangguan perkembangan autistik, sindrom Asperger, dan PDD-NOS memiliki kesamaan, yaitu manifestasi gejala sudah terlihat sebelum anak berusia 3 tahun, namun manifestasi gejalanya sangat bervariasi dan heterogen. Hal ini yang menyebabkan para peneliti mengelompokkan ketiga gangguan tersebut dengan istilah GSA.4 Pada anak GSA disebut sebagai gangguan spektrum yang artinya bahwa gejala dan karakteristik yang ditampilkan dalam kombinasi dan tingkat keparahan yang berbeda-beda antara satu anak dan yang lain. Gejalanya sangat variatif, antara lain sering berperilaku hiperaktif, pasif, agresif, bahkan menyakiti diri sendiri, sehingga membahayakan jiwa penyandang.5,6 Meskipun gangguan ini tidak menimbulkan kematian, tetapi dapat memberikan dampak negatif bagi penyandang, keluarga, lingkungan sosial, dan negara. Hal ini terjadi karena anak GSA mengalami gangguan dalam aspek interaksi sosial, komunikasi, bahasa, perilaku, emosi, dan persepsi sensori serta motoriknya. Keadaan tersebut akan menimbulkan masalah yang sangat besar bagi sumber daya manusia di masa mendatang.6,7,8 Laporan yang dikeluarkan oleh Autism Research Institute di Amerika Serikat menunjukan peningkatan jumlah penyandang GSA. Pada tahun 1987 diperkirakan terdapat 1 penyandang GSA di antara 5.000 anak, sedangkan pada tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah GSA yang sangat besar, yaitu 1 di antara 160 anak. Peneliti lain di Amerika Serikat mendapatkan angka 1 anak GSA di antara 150 anak, sedangkan di Inggris laporan tahun 2002 menunjukan bahwa dari 10 anak 1 di antaranya dicurigai GSA.6,9 Di Indonesia, anak GSA juga mendapat perhatian luas dari masyarakat maupun profesional, karena jumlah anak GSA menunjukan peningkatan yang makin mencolok.6 Sampai saat ini jumlah anak GSA belum diketahui dengan pasti, karena belum ada survei yang meneliti jumlah penyandang GSA. World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia sekitar 7–10% dari total jumlah anak. Menurut data survei sosial ekonomi nasional (Susenas) tahun 2003, di Indonesia terdapat 679.048 anak usia sekolah berkebutuhan khusus atau 21,42% dari seluruh jumlah anak berkebutuhan khusus.10 Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2009 jumlah sekolah negeri untuk penyandang GSA sebanyak 20 sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 639 anak. Di Jakarta, sekolah swasta yang khusus menangani GSA hingga kini sebanyak 111 (6,3%) sekolah di antara 1.752 sekolah untuk penyandang GSA di Indonesia.10 Gangguan neurotransmiter berperan dalam patofisiologi GSA. Gangguan yang terjadi terutama pada sistem dopaminergik, serotoninergik, dan gamma amino butyric acid (GABA). Gangguan sistem neurotransmiter berhubungan dengan munculnya gejala gangguan perilaku. Berbagai penelitian terdahulu memperlihatkan disfungsi sistem neurokimiawi pada penyandang GSA yang meliputi sistem serotonin, norepinefrin, dan dopamin. Gangguan sistem neurokimiawi tersebut berhubungan dengan perilaku agresif, obsesif kompulsif, dan stimulasi diri sendiri (self stimulating) yang berlebih.4 Sampai saat ini penyebab GSA secara pasti belum diketahui, diperkirakan bersifat multifaktorial. Secara garis besar, berbagai faktor yang diduga memiliki peranan pada GSA dapat dibagi ke dalam faktor genetik dan lingkungan.11,12 Faktor genetik ditunjukkan dengan terdapat penyandang GSA yang berasal dari anak kembar monozigotik atau dizigotik.13 Faktor lingkungan yang mempengaruhi GSA terbagi dalam masa kehamilan, persalinan, dan bayi baru lahir.14,15 Meskipun penyebab GSA belum diketahui secara pasti, tetapi dengan mengetahui dan mengendalikan faktor-faktor yang diduga berperan terjadinya GSA, maka dapat dilakukan tindakan pencegahan atau intervensi dini pada anak penyandang GSA. Peranan seorang bidan dalam hubungannya dengan kejadian GSA, terutama memperhatikan faktor lingkungan kehamilan. Hingga saat ini faktor kehamilan yang telah diteliti berkaitan dengan GSA yaitu infeksi toksoplasma, rubela, gangguan autoimun, gangguan perkembangan otak janin, komplikasi kehamilan, obat-obatan selama kehamilan seperti asam talidomid dan valproat, usia ibu, usia kehamilan, paritas, serta kebiasaan merokok selama kehamilan.16 Komplikasi kehamilan yang paling sering dikaitkan dengan kejadian GSA yaitu perdarahan antepartum, preeklamsi, dan hiperemesis gravidarum. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan gangguan dalam proses perkembangan otak, sehingga para ahli mengemukakan hipotesis bahwa awal terjadinya GSA yaitu sebelum lahir.17-21 Penelitian faktor risiko terjadinya GSA telah dilaporkan Muhartomo 22 dalam penelitian di Semarang dengan desain kasus kontrol yang menunjukan bahwa ibu yang mengalami perdarahan antepartum memiliki risiko untuk melahirkan anak GSA sebesar 4,3 kali dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mengalami perdarahan antepartum. Perdarahan antepartum dianggap sebagai keadaan yang berpotensi mengganggu fungsi otak janin. Perdarahan selama kehamilan paling sering disebabkan karena komplikasi plasenta, di antaranya plasenta previa dan abrupsio plasenta. Kondisi tersebut mengakibatkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi yang mengakibatkan gangguan pada otak janin.22,23 Berdasarkan hasil metaanalisis dari 40 studi yang pernah dilakukan sebelumnya, Gardner dkk.24 mendapatkan perdarahan antepartum, hiperemesis gravidarum, dan preeklamsi sebagai faktor risiko terjadinya GSA. Di antara ketiga komplikasi tersebut, perdarahan antepartum memiliki risiko paling besar untuk mengakibatkan GSA pada anak. Dalam perjalanan kehamilannya, tidak tertutup kemungkinan seorang ibu mengalami lebih dari satu komplikasi kehamilan, misalnya hiperemesis gravidarum dan preeklamsi, hiperemesis gravidarum dan perdarahan antepartum, atau preeklamsi dan perdarahan antepartum.19,25 Berbagai penelitian sebelumnya yang menghubungkan komplikasi kehamilan seperti perdarahan antepartum, preeklamsi, dan hiperemesis gravidarum dengan kejadian GSA dilakukan dengan melihat berbagai faktor risiko kehamilan, persalinan dan pada bayi baru lahir.23 Pada penelitian ini hanya melihat komplikasi kehamilan sebagai faktor risiko anak dengan GSA dengan menelusuri dari riwayat komplikasi kehamilan tanpa memperhatikan faktor lain. Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita di Jakarta Barat termasuk salah satu rumah sakit rujukan yang memiliki jumlah kasus GSA dan ibu bersalin dengan komplikasi kehamilan yang cukup tinggi. Komplikasi kehamilan yang paling sering yaitu preeklamsi, perdarahan antepartum, dan hiperemesis gravidarum. Berdasarkan penelusuran data, pada tahun 2007–2010 ditemukan angka kejadian preeklamsi sebanyak 497 kasus, diikuti dengan perdarahan antepartum sebanyak 336 kasus, dan hiperemesis gravidarum sebanyak 286 kasus. Angka kejadian kasus baru GSA yang datang ke RSAB Harapan Kita mengalami peningkatan dari tahun 2007–2010. Tahun 2007 terdapat 139 kasus, sedangkan pada tahun 2008, 2009, dan 2010, angka kejadian kasus baru GSA di RSAB Harapan Kita berturut-turut sebesar 163, 206, dan 278 kasus. Dari latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan tema sentral penelitian sebagai berikut: GSA pada anak dapat memberikan dampak negatif berupa gangguan aspek interaksi sosial, ganguan emosi, dan persepsi sensori serta motorik. Penyebab pasti gangguan ini belum diketahui secara jelas, tetapi diduga terdapat peranan genetik dan lingkungan dalam kejadiannya. Faktor prenatal yang paling sering dihubungkan dengan kejadian GSA yaitu komplikasi kehamilan berupa perdarahan antepartum, preeklamsi, dan hiperemesis gravidarum. Penelitian ini hanya melihat komplikasi kehamilan sebagai faktor risiko pada anak dengan GSA tanpa memperhatikan faktor risiko yang lain . Selain itu akan diteliti faktor yang paling berisiko di antara ketiganya dalam kejadian GSA. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat analitik menggunakan rancangan kasus kontrol. Data komplikasi kehamilan dan kejadian GSA diperoleh dari rekam medis, kemudian ditelusuri terhadap orangtua dengan cara memberikan kuesioner. Untuk mengurangi variabel perancu dilakukan matching terhadap usia ibu dan usia kehamilan. Pengumpulan data diawali dari data sekunder, dengan melihat hasil pendokumentasian rekam medis untuk mengetahui anak dengan diagnosis GSA yang mendapat penanganan di RSAB Harapan Kita Jakarta. Setelah itu baru dapat dilakukan pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dipakai sebagai panduan wawancara. Wawancara langsung dilakukan sebagai upaya untuk mengantisipasi terhadap responden yang tidak memahami bahasa yang digunakan dalam kuesioner. Populasi target pada kelompok kasus penelitian ini semua ibu yang memiliki anak usia 3–11 tahun dengan GSA di Jakarta, sedangkan populasi terjangkau ibu yang memiliki anak usia 3–11 tahun dengan GSA yang datang ke KKTK dan POTAS RSAB Harapan Kita. Jumlah sampel sebanyak 80 orang, pada kelompok kasus sebanyak 40 orang dan kelompok kontrol 40 orang. Penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal 1 Agustus sampai dengan 8 Oktober 2011. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Regresi Logistik Ganda. HASILDAN PEMBAHASAN Tabel 4.1 Hubungan Karakteristik Umum Anak dengan Kejadian GSA Karakteristik Anak Kejadian GSA Statistik Uji Nilai p Kasus-GSA Non GSA Jenis Kelamin Laki-laki 32 (80%) 19(47%) 2= 9,14 0,002 Perempuan 8 (20%) 21(53%) Usia Anak 3 tahun 25 (63%) 25 (63%) 2= 3,33 0,189 4 tahun 10 (25%) 5 (12%) 5 tahun 5 (12%) 10 (25%) Hasil penelitian yang menghubungkan jenis kelamin dengan kejadian GSA menunjukkan bahwa anak laki-laki lebih banyak mengalami GSA dibandingkan dengan anak perempuan (p=0,002). Tidak ada perbedaan kelompok usia anak pada anak GSA dan non-GSA. (Tabel 4.1) Tabel 4.2 Hubungan Karakteristik Subjek Penelitian dengan Kejadian GSA Karakteristik subjek penelitian Kejadian GSA Total χ2 Nilai p GSA Non GSA n % n % Usia (tahun) ≥35
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PENYAKIT DBD riska ratnawati
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.069 KB)

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Desa Jatisari merupakan salah satu desa di wilayah Puskesmas Geger Kabupaten merupakan daerah endemis DBD setiap tahunnya. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Desember 2015 menggunakan rancang bangun penelitian case control study. Lokasi penelitian di Di Desa Jatisari Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Jumlah sampel 329. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Faktor-faktor yang berhubungan dengan Perilaku Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sedangkan variabel terikatnya Perilaku Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Analisis data menggunakan uji chi square. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan penyakit DBD adalah umur dan pengetahuan responden. Faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan perilaku pencegahan penyakit DBD adalah pendidikan, pekerjaan dan penghasilan. Dari hasil penelitian disarankan perlu peningkatan kegiatan PSN DBD di lingkungan masyarakat.
ANALISIS WAKTU TUNGGU PELAYANAN PASIEN RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT EVA RUSDIANAH
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.009 KB)

Abstract

Instalasi farmasi merupakan bagian penting di sektor rumah sakit. Pelayanan farmasi dituntut untuk memberikan kepuasan pasien. Pelayanan resep sebagai garis depan pelayanan farmasi kepada pasien harus dikelola dengan baik, karena mutu pelayanan resep farmasi yang baik umumnya dikaitkan dengan kecepatan dalam memberikan pelayanan. Berdasarkan data tingkat kepuasan terhadap pelayanan farmasi, pasien rawat jalan di Instalasi Farmasi RSI Siti Aisyah Madiun, bahwa 83,3 % pasien menyatakan tidak puas dengan waktu tunggu pelayanan obat dan 16,7 % menyatakan puas. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan metode deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran waktu tunggu pelayanan resep pasien rawat jalan di instalasi farmasi RSI Siti Aisyah Madiun. Populasi penelitian ini adalah resep untuk pasien rawat jalan berjumlah 2.492 resep. Pengambilan sampel untuk resep dengan purposive sampling sebanyak 344 resep. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat jadi adalah 8,62 menit, waktu tunggu pelayanan resep obat racikan adalah 13,49 menit, sedangkan rata-rata total waktu tunggu pelayanan resep adalah 9,17 menit. Rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat jadi dan obat racikan telah memenuhi standar PERMENKES Nomor. 129/MENKES/SK/II/2008 yaitu waktu tunggu obat jadi kurang dari 30 menit dan untuk obat racikan kurang dari 60 menit.
HUBUNGAN PROSES PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN NISSA KUSSARIANA
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.996 KB)

Abstract

Tingkat efisiensi pemakaian tempat tidur (BOR) Rumah Sakit Paru Dungus pada tahun 2014 sebesar 37% dan tahun 2015 sebesar 38,33%, sedangkan untuk standart Nasional BOR yaitu 60%-85%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Perilaku Dokter dengan Perilaku Perawat dalam memberikan Pelayanan Kesehatan terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Paru Dungus Madiun tahun 2016. Desain penelitian ini yaitu analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode Purposive Sampling dengan jumlah sampel 59 responden. Analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi-square. Hasil analisis hubungan perilaku dokter terhadap kepuasan pasien di ruangan rawat inap Rumah Sakit Paru Dungus Madiun p-value 0,006. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku Dokter terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Paru Dungus Madiun. Hasil analisis hubungan perilaku Perawat terhadap kepuasan pasien di ruangan rawat inap Rumah Sakit Paru Dungus Madiun dengan hasil p-value 0,006. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku Perawat terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Paru Dungus Madiun. Diperlukan peningkatkan softskill Dokter dan perawat dari segi reliability dan responsiveness serta perilaku Perawat dari segi assurance dan empaty untuk tercapainya kepuasan pasien dalam menjaga kualitas pelayanan dalam pemberian pelayanan kepada pasien yang dapat sesuai dengan harapan rumah sakit dan pasien khususnya untuk peningkatan mutu rumah sakit.
HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN KOORDINATOR UKP DENGAN MOTIVASI KERJA KARYAWAN PUSKESMAS RETNO WIDIARINI
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.058 KB)

Abstract

Puskesmas Sukomoro sebagai salah satu puskesmas yang akan diubah statusnya menjadi BLUD diharapkan dapat meningkatkan tanggung jawabnya dalam menyajikan layanan kesehatan. Untuk itu diperlukan kinerja karyawan yang baik maka karyawan harus mempunyai motivasi yang tinggi dan loyal terhadap institusi sehingga tujuan institusi akan lebih mudah tercapai. Untuk mencapai hal tersebut maka perlu didukung oleh gaya kepemimpinan terutama koordinator karyawan yang berhubungan langsung dengan kinerja bawahannya sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan dan meningkatkan mutu pelayanan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan gaya kepemimpinan koordinator UKP dengan motivasi kerja karyawan Puskesmas Sukomoro Kabupaten Magetan Tahun 2016. Jenis penelitian ini adalah studi korelasional dengan desain cross sectional. Populasi studi adalah seluruh karyawan UKP meliputi Poli Umum, KIA/KB. Jumlah sampel adalah 35 orang dengan teknik simple random sampling. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar jenis gaya kepemimpinan koordinator UKP di Puskesmas Sukomoro yakni gaya kepemimpinan partisipatif sebesar 23 responden (65,71%). Tingkat motivasi kerja karyawan Puskesmas Sukomoro sebanyak 18 responden (51,43%) memiliki motivasi kerja yang tinggi dan 17 responden (48,57%) memiliki motivasi rendah. Berdasarkan hasil output uji Chi Square diketahui nilai probabilitas (asymp.sig) uji Chi Square sebesar 0,024 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan gaya kepemimpinan koordinator UKP dengan motivasi kerja karyawan Puskesmas Sukomoro Kabupaten Magetan. Hasil output uji koefisien kontingensi sebesar 0,024, yang berarti tingkat hubungan antara gaya kepemimpinan koordinator UKP dengan motivasi kerja karyawan Puskesmas Sukomoro Kabupaten Magetan sangat rendah.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIRETROVIRAL PADA ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA) EDY BACHRUN
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.882 KB)

Abstract

Kepatuhan menentukan seberapa baik pengobatan antiretroviral (ARV) dalam menekan jumlah viral load jika terapi yang dijalankan tidak serius maka virus akan menjadi resistensi. Dukungan keluarga atau orang terdekat karena keluarga merupakan orang terdekat yang mempunyai hubungan kekerabatan yang diharapkan mampu sebagai pendorong dan memotivasi ODHA dalam mengkonsumsi obat ARV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat ARV pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kelompok Dukungan Sebaya Sehati. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel penelitian sebanyak 50 responden. Pada penelitian ini menggunakan teknik sampling yaitu Purposive sampling. Data diolah menggunakan metode, univariat, bivariat dan chi-square. Hasil penelitian keluarga yang mendukung ODHA di KDS Sehati sebesar 54%, keluarga yang tidak mendukung sebesar 46%, kepatuhan minum obat ARV di KDS Sehati sebesar 48%, ketidak patuhan minum ARV sebesar 52%. Sedangkan untuk analisis chi-square dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat ARV pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di KDS Sehati memperoleh nilai p value = 0,004 dengan nilai α = 0,05, yang berarti ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat ARV pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di KDS Sehati. Dukungan keluarga diperlukan karena ODHA akan mengalami rasa bosan sehingga tidak merasa putus asa, diharapkan dengan adanya dukungan keluarga dapat menunjang semangat hidupnya. Untuk itu disarankan kepada masyarakat dan keluarga untuk memberikan dukungan penuh kepada ODHA untuk patuh dalam minum obat ARV.
KONSENTRASI LOGAM BERAT CADMIUM DAN TIMBAL PADA AIR DAN SEDIMEN DI TELUK AMBON Gracia Victoria Souisa
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.939 KB)

Abstract

Pencemaran berbagai jenis logam berat telah menjadi perhatian utama karena efek toksisitas yang dapat ditimbulkannya. Beberapa kegiatan yang mencemari Teluk Ambon antara lain limbah domestik akibat berkembangnya pemukiman di wilayah pantai Teluk Ambon, pembuangan limbah oleh PLTD, pembuangan limbah dari depot pertamina, galangan kapal, transportasi laut ferri dan speedboat, bangkai kapal yang tersebar di sekitar teluk, dan limbah pertanian yang berpotensi menyumbangkan berbagai cemaran logam berat seperti Timbal (Pb) dan Cadmium (Cd). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang konsentrasi cadmium dan timbal pada air dan sedimen di Teluk Ambon bagian dalam. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik observasional. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Pemeriksaan konsentrasi cadmium dan timbal dalam air dan sedimen dilakukan di BTKL PPM Kelas II, Ambon dengan menggunakan AAS Shimadsu, type AA-6300. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi Cd dan Pb di perairan Teluk Ambon bagian dalam masih berada pada ambang batas normal. Sedangkan konsentrasi Cd pada sedimen berkisar antara 0.0086 – 0.0517 mg/L dan konsentrasi Pb pada sedimen berkisar antara 0.0817- 0.5329 mg/L juga masih berada dibawah nilai ambang batas. Kata Kunci : Konsentrasi Cadmium, Timbal, Air, Sedimen
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN AIR SUSU IBU (ASI) PADA SUHU -15ºC TERHADAP KUALITAS ASI Griennasty Clawdya Siahaya
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.066 KB)

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan ideal bagi bayi untuk dapat tumbuh optimal baik perkembangan otak maupun fisiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu penyimpanan ASI pada suhu -15ºC terhadap kualitas ASI (protein, total mikroba, pH, warna dan aroma). Penelitian ini dilaksanakan di dua Laboratorium, yaitu di Laboratorium Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Universitas Kristen Indonesia Maluku, dan Laboratorium Biologi-Kimia, Fakultas MIPA Universitas Pattimua Ambon. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan penyimpanan meliputi penyimpanan ASI pada suhu -15ºC dengan lama waktu penyimpanan 0 (nol) hari (A0), 4 hari (A1), 8 hari (A2) dan 12 hari (A3) dan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan lama waktu penyimpanan ASI pada suhu -15°C berpengaruh nyata terhadap kualiatas ASI yakni kadar protein, total bakteri dan keasaman (nilai pH) ASI dengan hasil uji analisis ragam diperoleh nilai Fhitung nilai Ftabel 5%. Analisis terhadap kualitas warna dan aroma ASI yang dianalisis secara deskriptif memberikan hasil warna ASI yang disimpan pada penyimpanan beku -15°C selama 12 hari tidak mengalami perubahan masih terlihat berwarna putih susu kekuningan, dan untuk aroma atau bau ASI yang disimpan pada penyimpanan beku -15°C mengalami perubahan aroma di hari ke-8 dan ke-12 hari tercium aroma agak anyir disertai bau logam dan bau atau aroma ASI mendekati aroma santan kelapa.
PENGARUH PEMAHAMAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA PERAWAT INSTALASI RAWAT INAP SUHADI PRAYITNO
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.07 KB)

Abstract

Rumah Sakit Islam Siti Aisyah Madiun merupakan salah satu rumah sakit di Kota Madiun yang memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat. Oleh karena itu Rumah Sakit Islam Siti Aisyah Madiun sangat memerlukan SDM yang berkualitas. Pada tahun 2015 tingkat kinerja perawat tergolong masih rendah, terlihat dari nilai Indikator Kinerja Individu (IKI) tahun 2015 di RSI Siti Aisyah Madiun yaitu dari 90 perawat instalasi rawat inap terdapat 7 perawat yang mendapat nilai baik sebanyak 23,3% dan 83 perawat mendapat nilai cukup sebanyak 76,6. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemahaman budaya organisasi terhadap kinerja perawat instalasi rawat inap di RSI Siti Aisyah Madiun. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik, dengan desain cross sectional study. Populasi adalah perawat instalasi rawat inap di RSI Siti Aisyah Madiun. Dari populasi sejumlah 90 orang, dengan menggunakan teknik sampling proporsionate statisfied random sampling, diperoleh sampel sebanyak 73 orang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Teknik analisis yang digunakan adalah Analisis Korelasi Kendall Tau (t) untuk mengetahui korelasi atau hubungan antara dua variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat instalasi rawat inap di RSI Siti Aisyah Madiun kurang memahami budaya organisasi dan nlai indikator Kinerja Individu (IKI) perawat sebagian besar mendapat niilai cukup. Sedangkan hasil uji Kendall” tau_b menunjukkan bahwa nilai sig adalah 0,017 < 0,05 dan koefisien korelasi Kendall” tau_b yaitu 0,205 disebut hubungan linier yang positif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemahaman budaya organisasi terhadap kinerja perawat. Pimpinan RSI Siti Aisyah Madiun hendaknya lebih menginternalisasi budaya organisasi kepada seluruh anggota RSI Siti Aisyah Madiun.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025 Vol 15, No 3 (2025): Juli-September 2025 Vol 15, No 2 (2025): April-Juni2025 Vol 15, No 1 (2025): Januari-Maret 2025 Vol 14, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024 Vol 14, No 3 (2024): Juli-September 2024 Vol 14, No 2 (2024): April-Juni 2024 Vol 14, No 1 (2024): Januari-Maret 2024 Vol 13, No 4 (2023): November 2023 Vol 13, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 13, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 13, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 12, No 4 (2022): November 2022 Vol 12, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 12, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 12, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 12 (2022): Nomor Khusus Hari AIDS Sedunia Vol 11, No 4 (2021): November 2021 Vol 11, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 11, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 11, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 10, No 4 (2020): November 2020 Vol 10, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 10, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 10, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 9, No 4 (2019): November 2019 Vol 9, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 9, No 2 (2019): MEI 2019 Vol 9, No 1 (2019): FEBRUARI 2019 Vol 8, No 4 (2018): NOVEMBER 2018 Vol 8, No 3 (2018): AGUSTUS 2018 Vol 8, No 2 (2018): MEI 2018 Vol 8, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 8 (2018): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional Vol 7, No 4 (2017): NOVEMBER 2017 Vol 7, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 7, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 7 (2017): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional Vol 7 (2017): Nomor Khusus Hari Ibu Vol 6, No 4 (2016): November 2016 Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 6 (2016): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional Vol 6 (2016): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional Vol 5, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 5, No 1 (2015): Februari 2015 More Issue