cover
Contact Name
arief yanto
Contact Email
arief.yanto@unimus.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
asti@stikestelogorejo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Keperawatan Komunitas
ISSN : -     EISSN : 26213001     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmu Keperawatan Komunitas (e-ISSN : 2621-3001) is an e-journal that publishes scientific articles from practitioners and nursing researchers. The scope of this journal covers the fields of community, family and gerontik nursing. Jurnal Ilmu Keperawatan Komunitas will be published twice in the know, namely in May and November.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2019)" : 5 Documents clear
PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELLITUS DENGAN TERAPI FISIK Erika Dewi Noorratri
Jurnal Ilmu Keperawatan Komunitas Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jikk.v2i1.301

Abstract

Latar belakang: Diabetes mellitus adalah kelainan metabolisme yang disebabkan oleh pankreas kronis yang tidak menghasilkan cukup insulin atau secara efektif menghasilkan insulin yang tidak dapat digunakan oleh tubuh. Prevalensi diabetes mellitus yang tergantung insulin pada tahun 2012 di Provinsi Jawa Tengah adalah 0,06 lebih rendah dari tahun 2011 (0,09%). Kabupaten Semarang adalah prevalensi tertinggi 0,66%. Sedangkan pada tahun 2012 prevalensi kasus DM tipe II menurun dari 0,63% menjadi 0,55%. Pada tahun 2014 Kota Sukoharjo melaporkan bahwa sebanyak 5.413 kasus meningkat dibandingkan dengan kasus pada tahun 2013 sebanyak  5.052 kasus. Kualitas hidup sangat penting dalam mengelola suatu penyakit, seperti penyakit DM. Kualitas hidup pasien DM dapat ditingkatkan melalui terapi fisik. Tujuan: Untuk menganalisis peningkatan kualitas hidup pasien DM melalui terapi fisik. Metode: Metode eksperimen semu. Desain tes kelompok sebelum desain dengan kelompok kontrol. Hasil: Pada kelompok perlakuan kualitas hidup pasien DM mengalami peningkatan yang signifikan dari pertemuan pertama sampai keenam, dengan nilai p = 0,000 (p <0,05). Perawatan terapi fisik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup pasien dengan diabetes mellitus, perawatan kontrol tidak secara signifikan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan diabetes mellitus dan perawatan terapi fisik lebih baik dalam meningkatkan kualitas hidup dibandingkan dengan kontrol. Kesimpulan: Terapi terapi fisik berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup pasien diabetes mellitus.
PENGARUH PEER EDUCATION TERHADAP SELF EFFICACY DAN MOTIVASI PADA IBU MENYUSUI DALAM PEMBERIAN ASI Maya Cobalt Angio
Jurnal Ilmu Keperawatan Komunitas Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jikk.v2i1.302

Abstract

Keberhasilan ibu dalam pemberian ASI dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya self efficacy dan motivasi ibu dalam pemberian ASI. Rendahnya motivasi dan self efficacy ibu menyusui disebabkan kurangnya pengetahuan ibu tentang menyusui, ibu mengalami kendala dalam menyusui, dan kurangnya keterpaparan informasi mengenai ASI. Upaya peningkatan self efficacy dan motivasi ibu salah satunya dapat dilakukan dengan sharing berupa peer education. Intervensi tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan keyakinan diri ibu sehingga self efficacy dan motivasi ibu juga meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan self efficacy dan motivasi ibu dalam pemberian ASI. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperiment dengan pendeketan pre and post with control group. Sampel berjumlah 50 responden, sampel diambil dengan stratified random. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner karakteristik responden, kuesioner BSES-SF dan kuesioner BMIMS. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon, Paired T-Test, Independen T-test. Uji Wilcoxon didapat hasil nilai p value pada kelompok kontrol 0,850 dan kelompok intervensi didapat hasil nilai p value 0,000. Uji Paired T-test didapat hasil nilai p value pada kelompok kontrol 0,594 dan kelompok intervensi didapat hasil nilai p value 0,000. Uji Independen T-test didapatkan nilai p value 0,000 < 0,05 artinya ada pengaruh self efficacy dan motivasi ibu dalam pemberian ASI sebelum dan sesudah pemberian paket sukses menyusui antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kesimpulannya adalah terdapat pengaruh yang signifikan antara peer edukasi terhadap peningkatan self efficacy dan motivasi ibu dalam pemberian ASI. Peer edukasi dapat dijadikan salah satu solusi dalam meningkatkan self efficacy dan motivasi ibu menyusui
HUBUNGAN KARAKTERISTIK PREDISPOSING DENGAN KUNJUNGAN PELAYANAN VOLUNTARY COUNSELLING AND TESTING (VCT) ULANG PADA WARIA Ahmad Kusnaeni
Jurnal Ilmu Keperawatan Komunitas Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jikk.v2i1.303

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah waria atau waria yang rentan terhadap HIV, hal ini disebabkan oleh banyak waria yang terkait dengan tindakan berisiko seperti penggunaan kondom yang tidak konsisten dan menggunakan obat-obatan atau alkohol. Tingginya jumlah IMS dan HIV terjadi pada transeksual. Deteksi dini, pencegahan HIV / AIDS dengan mengunjungi VCT terkait dengan perilaku transeksual dalam menggunakan layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik predisposisi kunjungan layanan VCT berulang kali ke transeksual. Metode penelitian menggunakan survei analitik, waktu penelitian dengan cross sectional. Teknik analisis menggunakan chi square. Data diambil dengan memberikan kuesioner kepada 135 waria yang tergabung dalam IWACI dengan melakukan total sampling. Hasil penelitian menyatakan bahwa karakteristik predisposisi yang berhubungan dengan kunjungan layanan VCT berulang kali ke transeksual di Cilacap adalah tentang riwayat infeksi (p = 0,036), persepsi terhadap layanan VCT (p = 0,000), persepsi terhadap perilaku seksual (p = 0 , 0005), dan dukungan kelompok (p = 0,008). Faktor usia (p = 0078). Pendidikan (p = 0,776), ekonomi sosial (p = 0,731), pengetahuan tentang VCT (p = 0,054) VCT sebagai gerbang penting untuk pencegahan dan pengobatan HIV, dapat meningkatkan berulang kali cakupan VCT ke transeksual dengan meningkatkan layanan yang lebih baik dan kemanusiaan, dan juga mengubah persepsi negatif transeksual ke layanan VCT dengan pendekatan pribadi.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERSEPSI TENTANG MASALAH KESEHATAN KERJA DAN PERILAKU PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI PETANI TEMBAKAU Megah Andriany; Kusyogo Cahyo; Aditya Kusumawati
Jurnal Ilmu Keperawatan Komunitas Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jikk.v2i1.299

Abstract

Petani tembakau merupakan kelompok berisiko menderita Green Tobacco Sickness. Sedikit peneliti yang meneliti hubungan antara pengetahuan dan persepsi petani tembakau terkait masalah kesehatan yang berhubungan dengan pekerjaan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan persepsi tentang masalah kesehatan terkait pekerjaan ini dan perilaku perlindungan diri petani pembakau. Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan 90 petani tembakau sebagai responden yang tiggal dan bekerja sebagai petani tembakau minimal satu tahun di sebuah kecamatan di Kabupaten Kendal. Metode sampling menggunakan simpel random sampling. Peneliti mengembangkan kuesioner berdasarkan Model Promosi Kesehatan Pender. Pengumpulan data menggunakan metode survei dan data dianalisis menggunakan analisis data bivariate dengan metode Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan alat pelindung diri dengan pengetahuan (0,000) dan persepsi manfaat dari tindakan (0,003), namun tidak terdapat hubungan antara penggunaan alat pelindung diri dengan persepsi kerentanan (0,066), keparahan (0,086), dan hambatan terhadap tindakan (0,247). Penelitian ini merekomendasikan kebutuhan pendidikan kesehatan terkait manfaat penggunaan alat pelindung diri dan beberapa strategi untuk menghilangkan hambatan untuk melaksanakan perilaku.
BEBAN DAN KOPING CAREGIVER LANSIA DEMENSIA DI PANTI WREDHA Rita Hadi Widiastuti
Jurnal Ilmu Keperawatan Komunitas Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jikk.v2i1.300

Abstract

Lansia demensia memiliki perubahan dalam aspek fisik, psikologis, aktivitas sehari-hari, hubungan sosial dan kualitas hidup. Perubahan pada lansia demensia menyebabkan timbulnya situasi stress pada caregiver, sehingga berisiko mengalami beban. Adanya masalah ini, maka penggunaan strategi koping Problem Focused Coping (PFC) maupun Emotional Focused Coping (EFC) diperlukan untuk menghadapi situasi stres sehingga dapat mengurangi beban caregiver. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beban caregiver dan strategi koping caregiver lansia demensia di panti wredha. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan yaitu consecutive sampling dengan jumlah sampel 82 responden. Hasil penelitian dianalisis menggunakan analisa univariat dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil menunjukkan bahwa beban caregiver yaitu beban ringan sebanyak 56,7%, beban sedang sebanyak 24,4% dan caregiver mengalami beban berat sebanyak 16,6% sedangkan strategi koping caregiver yaitu 52,4% caregiver menggunakan PFC dengan domain yang paling sering digunakan yaitu planful problem dan 47,6% caregiver menggunakan EFC dengan domain yang sering digunakan seeking social support, accepting responsibility, dan postive reappraisal. Berdasarkan penelitian diharapkan perawat mampu memberikan bimbingan/konseling dan pelatihan untuk caregiver, diharapkan panti wredha mampu menjadi fasilitator dalam memasukkan support group therapy dalam jadwal rutin.

Page 1 of 1 | Total Record : 5