cover
Contact Name
Husnun Amalia
Contact Email
husnun_a@trisakti.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jbiomedkes@trisakti.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 2621539x     EISSN : 26215470     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Biomedika dan Kesehatan is an official publication of Faculty of Medicine Trisakti University. Jurnal Biomedika dan Kesehatan is a third-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Jurnal Biomedika dan Kesehatan online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 4 (2020)" : 5 Documents clear
Respon imun hospes terhadap Sarcoptes scabiei Reqgi First Trasia; Ika Puspa Sari
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.183-192

Abstract

Skabies, penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya, masih menjadi masalah kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia pada tahun 2017 menyatakan bahwa skabies termasuk dalam Neglected Tropical Disease (NTD) yang memerlukan pengontrolan skala besar. S. scabiei spesifik terhadap hospes dan hal tersebut akibat perbedaan fisiologis tungau dan variabel hospes seperti diet, bau, respon imun, dan faktor-faktor fisik. Manifestasi klinis pada manusia berupa inflamasi kulit akan timbul lebih dari 4 minggu setelah terinfestasi. Lambatnya respon imun itu adalah efek dari kemampuan S.scabiei dalam memodulasi berbagai aspek respon imun dan inflamasi hospes. Telur, feses, ekskreta, saliva, dan tubuh S.scabiei yang mati juga menstimulasi respon imun. S.scabiei mendorong keluarnya anti-inflammatory cytokine interleukin-1 receptor antagonist (IL-1ra) dari sel fibroblas manusia. IL-1ra menginhibisi sitokin proinflamasi IL-1 dengan mengikat reseptor IL-1 yang ada dalam sel limfosit T, sel limfosit B, natural killer cell, makrofag dan neutrofil. Berdasarkan patogenesis skabies, antigen tungau merangsang respon imun adaptif pada manusia agar muncul produksi imunoglobulin. Pengetahuan mengenai respon imun hospes terhadap Sarcoptes scabiei ini dapat dijadikan dasar untuk pengembangan metode serodiagnostik dalam rangka menegakkan diagnosis skabies, sehingga membantu eliminasi skabies di Indonesia.
Mesothelioma akibat inhalasi debu asbes Tjam Diana Samara; Meylan Fitriyani; Paluvi Safitri; Puti Shahnaz; Isra Sabrina; Syadza Maisarah
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.193-201

Abstract

Mesothelioma adalah kanker yang berkembang mengenai lapisan paru-paru, adomen, atau jantung. Risiko mesothelioma tidak turun dari waktu kewaktu setelah paparan asbes berhenti. Sebanyak 80% mesothelioma disebabkan oleh inhalasi debu asbes. Masa laten mesothelioma dapat terjadi 10 sampai 50 tahun. Mesothelioma pleura adalah mesothelioma yang paling sering ditemukan dengan gejala sesak nafas, batuk kering, nyeri dada, hemoptoe, mudah lelah, demam disertai keringat terutama malam hari, berat badan menurun, dan efusi pleura. Standar penegakan diagnosis mesothelioma pleura dapat dilakukan dengan beberapa pilihan pemeriksaan antara lain rontgen thoraks, Computed Tomography (CT) Scan, Positron-Emission Tomography (PET) Scan, atau Magnetic Resonance Imaging (MRI). Terapi mesothelioma terutama pada mesothelioma pleural dapat dilakukan pembedahan, kemoterapi, radioterapi atau kombinasi dari keduanya atau lebih atau yang disebut sebagai terapi multimodal. Prognosis untuk kanker mesothelioma umumnya buruk dan banyak pasien yang hidup kurang dari satu tahun.
Hubungan sikap tubuh saat bekerja dengan keluhan muskuloskeletal akibat kerja pada karyawan Queena Raihan Salsabila; Magdalena Wartono
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.169-175

Abstract

LATAR BELAKANG Gangguan muskuloskeletal akibat kerja adalah gangguan pada struktur muskuloskeletal pada leher, punggung, ekstremitas atas dan bawah yang disebabkan oleh mikro-trauma kumulatif akibat biomekanikal atau pajanan lain dari pekerjaan. Gangguan ini jarang mengancam jiwa, tetapi dapat meningkatkan absenteisme, menurunkan produktivitas kerja, menurunkan kualitas hidup, dan meningkatkan beban finansial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan risiko sikap tubuh saat bekerja dengan timbulnya keluhan muskuloskeletal. Selain itu penelitian juga melihat faktor lain seperti masa kerja dan karakteristik jenis kelamin serta hubungannya dengan keluhan muskuloskeletal. METODEPenelitian menggunakan studi observasional analitik cross-sectional dengan jumlah responden 60 pekerja kantor. Risiko sikap kerja dinilai dengan menggunakan Rapid Upper Limb Assessment (RULA) dan keluhan muskuloskeletal dinilai dengan menggunakan Nordic Body Map (NBM). Selain itu juga dikumpulkan data tentang jenis kelamin dan masa kerja. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan uji Fisher. HASILHampir sebagian besar pekerja (91.7%) mengalami keluhan muskuloskeletal dan sebagian besar di antaranya adalah pekerja laki-laki (96.9%). Keluhan muskuloskeletal yang tinggi didapatkan pada pekerja yang sudah bekerja lebih dari 4 tahun (96.7%) dan juga pada pekerja dengan sikap kerja berisiko tinggi (90%) namun berdasarkan hasil uji statistik tidak didapatkan hubungan antara jenis kelamin, masa kerja dan tingkat risiko sikap tubuh dengan keluhan muskuloskeletal (p> 0.005). KESIMPULANPrevalensi keluhan muskuloskeletal pada pekerja kantor sangat tinggi demikian juga dengan tingkat risiko sikap tubuh saat bekerja. Pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara risiko sikap tubuh, jenis kelamin dan masa kerja dengan keluhan muskuloskeletal. Dengan demikian perlu diteliti faktor-faktor lain yang mungkin menyebabkan keluhan ini. Walaupun tidak didapatkan hubungan yang bermakna, angka prevalensi yang tinggi ini perlu menjadi perhatian bagi perusahaan.
Hubungan pemberian kapsul vitamin A dan pengetahuan caregiver dengan stunting pada anak usia 24-59 bulan Danya Fatimah; Fransisca Chondro
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.176-182

Abstract

LATAR BELAKANGStunting adalah masalah gizi kronik yang sering terjadi pada anak usia 24-59 bulan dan akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Hasil Riskesdas 2018, terdapat 30.8% kejadian stunting di Indonesia. Salah satu faktor risiko stunting adalah vitamin A dan pengetahuan caregiver. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian kapsul vitamin A program pemerintah dan pengetahuan caregiver dengan stunting pada anak usia 24-59 bulan di Puskesmas Kecamatan Grogol Kusuma Wijaya tahun 2019. METODEDesain Penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 123 anak yang didapat dengan cara consecutive non random sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Oktober 2019. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran tinggi badan anak dan wawancara kuesioner. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dan uji Fisher-exact. HASILProporsi anak stunting di Puskesmas Kecamatan Grogol Kusuma Wijaya mencapai 22%, kelengkapan vitamin A sebesar 92.7%, dan pengetahuan caregiver sebagian besar sedang yaitu 49,6%. Analisis uji statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara vitamin A dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan (p=0.024). Dan menunjukan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan caregiver dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan (p=0.000). KESIMPULANPemberian kapsul vitamin A dan pengetahuan caregiver dalam penelitian ini berhubungan dengan terjadinya stunting.
Pentingnya olahraga selama pandemi COVID-19 Dyah Ayu Woro Setyaningrum
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.166-168

Abstract

BACKGROUND Many women complain of uncomfortable symptoms a few days before menstruation in the form of emotional problems to discomfort in the abdominal area, this condition is called premenstrual syndrome.Lack of nutrients, one of which is vitamin B6, is a risk factor for premenstrual syndrome. This study was conducted to assess the relationship between vitamin B6 intake and premenstrual syndrome in junior high school students. METHODS The study used an analytical observational method with a cross-sectionaldesign, in 162 students of SMPN 75 Jakarta, which was taken with cluster random samplingand simple random samplingtechniques. Measurement of the incidence of premenstrual syndrome was carried out using sPAF questionnaires and vitamin B6 intake using SQ-FFQ questionnaires. The data from the study were analyzed using thechi-squaretest. The research was conducted after obtaining the approval of the number ethics 7/KER-FK/II/2022. RESULTS The results showed that female students who experienced premenstrual syndrome were mostly aged 15-16 years (20.8%), had menarche at the age of under 12 years (16.4%), did less exercise (15.6%), had a body mass index (BMI) in the category of excess nutrition (25.0%), andconsumed foods that contained enough vitamin B6 (15.0%). The results of the bivariate analysis between free and dependent variables found no meaningful relationship between premenstrual syndrome and age (p = 0.054), menarche age (p = 0.630), exercise (p = 0.726), BMI (p = 0.131), and vitamin B6 intake (p = 1.000). CONCLUSIONS There was no relationship between vitamin B6 intake, sociodemographic characteristics (age, menarche age), exercise, and body mass index (BMI) and premenstrual syndrome.

Page 1 of 1 | Total Record : 5