cover
Contact Name
Dr. Keliopas Krey
Contact Email
jurnalvogelkop@unipa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalvogelkop@unipa.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. manokwari,
Papua barat
INDONESIA
VOGELKOP: Jurnal Biologi
Published by Universitas Papua
ISSN : -     EISSN : 26849682     DOI : -
VOGELKOP: Jurnal Biologi merupakan jurnal Biosains yang fokus publikasi penelitian mencakup semua bidang Biologi, seperti Bioteknologi, Biodiversitas, Ekologi, Sistematika, Mikrobiologi, Konservasi Sumberdaya Hayati dan aplikasi pemanfaatannya. Semua bentuk kehidupan seperti mikroba, tumbuhan dan hewan merupakan cakupan dalam jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2018)" : 5 Documents clear
IKTIOFAUNA AIR TAWAR PADA BEBERAPA SUNGAI DI AIFAT TIMUR, MAYBRAT, PAPUA BARAT Emmanuel Manangkalangi
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i1.22

Abstract

ABSTRACTSeven fish species from seven families are found during this study. The most common species found are Melanotaenia irianjaya (9/10 sites). No introduced species were found in any of the sites. Species richness ranged from 1-5 species per site and was highest in Aikrer Usem stream and Aisen stream. This difference between sites is partially attributed to position in order system and fishing effort. Higher order which is a combination of several creeks provided more diverse microhabitat than the lower ones, thus supporting higher fish diversity. A total of three species (42.9%) which endemic to southern Vogelkop Peninsular and northern Bomberai. Most of species are found including carnivorous, with diet consisted of aquatic and terrestrial insects, and the other benthic invertebrates. The presence of prey group is very closely related to the availability of riparian vegetation in the streams and creeks. Recommendations will include implementation of good forest management in the watershed to maintain the pattern of hydrology and water discharge in natural conditions, and also protection of riparian zones that exist as a source of energy for the stream ecosystem and as a buffer against an input from the terrestrial. ABSTRAKDitemukan tujuh spesies ikan dari tujuh famili selama penelitian ini. Spesies yang paling umum ditemukan adalah Melanotaenia irianjaya (9/10 lokasi). Tidak ditemukan spesies ikan introduksi pada lokasi survei. Kekayaan spesies ikan berkisar 1-5 spesies per lokasi dan paling tinggi ditemukan pada Sungai Aikrer Usem dan Sungai Aisen. Perbedaan di antara lokasi ini sebagian berhubungan dengan posisi dalam sistem ordo dan upaya penangkapan. Ordo yang lebih tinggi yang merupakan gabungan dari beberapa anak sungai menyediakan mikrohabitat yang lebih beranekaragam dibandingkan ordo yang lebih rendah, sehingga mendukung keankeragaman ikan yang lebih tinggi. Sebanyak tiga spesies (42,9%) endemik Semenanjung Vogelkop bagian selatan dan Bomberai bagian utara. Sebagian besar spesies yang ditemukan termasuk kelompok karnivora, dengan makannya terdiri danri insekta air dan darat, serta avertebrata bentik lainnya. Keberadaan kelompok mangsa ini sangat berkaitan erat dengan ketersediaan vegetasi riparia yang berada di bagian tepi sungai maupun anak sungai. Rekomendasi yang diberikan meliputi implementasi pengelolaan hutan yang baik di daerah tangkapan air untuk mempertahankan pola hidrologi dan kondisi debit air secara alami serta perlindungan zona-zona riparia yang ada sebagai sumber energi bagi ekosistem sungai dan sebagai penyanggah terhadap bahan masukan dari daratan.
MAMALIA ASAL PULAU GAM, KEPULAUAN RAJA AMPAT DENGAN BEBERAPA CATATAN BARU Aksamina Maria Yohanita
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i1.20

Abstract

ABSTRACTDuring 4 days fieldwork rapid inventory on the low land forest Gam Island, Raja Ampat Archipelago West Papua. Eksploration is the methods used in this study. Mammals were collected on the night with mist-net, and life trap (elliot trap)in forest, garden, and cave araund Yenbeser village. The result showed that 14 species of mammalian and six other allegedly species were found. We found an endemic species of Waigeo Island, Spilocuscus papuensis, and nine other mammals as the new record. That place showed a very good habitat forest to support many species of animal live. There are three species enter the Appendix II CITES and Indonesian government regulation, PP RI No. 7 1999. So far, there is no threat for the forest habitat of mammals by local communities.                                          ABSTRAKInventarisasi cepat mamalia di Pulau Gam Kepulauan Raja Ampat selama empat hari menggunakan metode eksplorasi dengan teknik penangkapan langsung, pemasangan jaring kabut, pemasangan perangkap hidup, dan observasi malam. Habitat yang dikunjungi meliputi hutan, kebun dan goa di sekitar Kampung Yenbeser Pulau Gam. Hasil temuan mengejutkan, sebanyak 14 spesies mamalia berhasil dicatat dan dugaan kehadiran spesies lainnya sebanyak enam spesies menghuni pulau Gam. Pada penelitian ini juga berhasil menemukan spesies endemik Pulau Waigeo yaitu Spilocuscus papuensis dan sembilan spesies mamalia lainnya termasuk laporan baru dalam penelitian ini. Dari 20 spesies mamalia, tiga spesies diantaranya masuk CITES Appendix II serta dilindungi oleh regulasi Indonesia, PP RI No 7 tahun 1999. Sejauh ini, tidak terlihat adanya ancaman dari masyarakat lokal terhadap hutan sebagai habitat mamalia sehingga keberlangsungan hidup hewan dapat terjaga dengan baik.
KEANEKARAGAMAN, KERAPATAN, DAN DOMINANSI CACING TANAH DI BENTANG ALAM PEGUNUNGAN ARFAK Rini Mambrasar; Keliopas Krey; Sita Ratnawati
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i1.30

Abstract

ABSTRAKCacing tanah memiliki peran ekologis yang sangat esensi dalam tanah. Dalam kondisi alamiah keanekaragaman, kerapatan dan dominansi spesies cacing tanah sangat dipengaruhi oleh letak geografis, kondisi biotik dan abiotik habitat, termasuk iklim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman, kerapatan dan dominansi spesies cacing tanah di bentang alam Pegunungan Arfak. Pengambilan sampel dilakukan di empat habitat berbeda mewakili dataran rendah hingga dataran tinggi yaitu Laguna Kabori, Sungai Prafi, Danau Anggi Giji dan Sungai Iray Anggi. Total 56 individu diidentifikasi menjadi tujuh spesies mewakili tiga famili yaitu Lumbricidae, Eudrilidae, dan Megascolecidae berdasarkan ciri-ciri morfologi antara lain: bentuk tubuh, panjang tubuh, jumlah segmen, letak dan warna klitelum, permukaan kulit, prostomium, gerakan, lubang dorsal dan warna tubuh. Hasil analisis terhadap faktor abiotik menunjukan bahwa suhu, kelembaban dan pH merupakan kunci penting bagi distribusi, keanekaragaman, kelimpahan dan dominansi spesies cacing tanah di bentang alam Pegunungan Arfak.
JENIS TUMBUHAN DAN TIPE HABITAT DI HUTAN DATARAN RENDAH HAYA, MAMBERAMO, PAPUA Marthen Jitmau; Amon A Rumbino
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i1.37

Abstract

ABSTRACTMamberamo lowland areas are generally contains of primary rainforests. Until now, basic research needs to documentation all of biology resourches because of many other important genetic data, evolution, and their implication to conservation management are not realy know. On the other hand, the development of new regency (Daerah Otonom Baru or DOB) still available to certain habitat use. The purpose of this study is to analyse habitat diversity, and identify plant species scattered in lowland forests around the Haya village, Mamberamo. Total 123 species (40 of family) of plants were found in Haya. We found there are two families of plant with highly dominant spescies in this region i.e. Arecaceae with 12 species or 9.75%, and 11 species of Moraceae (8.9%) are dominant of famili of plant found in this region. There are tree type of habitat at Haya i.e. plains, hills and seasionally inundeted.  ABSTRAKDataran rendah Mamberamo pada umumnya masih berupa hutan primer dan belum diteliti secara menyeluruh. Saat ini, masih diperlukan penelitian dasar untuk mendokumentasikan seluruh sumberdaya biologi karena banyak data penting genetik, evolusi dan implikasinya terhadap manajemen pelestarian belum diketahui secara pasti. Disisi lain, pemekaran wilayah DOB masih terus tersedia untuk menggunakan habitat tertentu. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa keragaman habitat, dan mengidentifikasi spesies tumbuhan yang tersebar di hutan dataran rendah sekitar kampung Haya, Mamberamo. Total 123 spesies (40 famili) tumbuhan ditemukan di hutan dataran rendah Haya, Mamberamo. Famili dengan jumlah spesies terbanyak adalah Arecaceae 12 spesies (9.75%) dan 11 spesies Moraceae (8.9%). Terdapat tiga tipe habitat di Haya yaitu dataran rendah (plains), perbukitan rendah (hills), area yang secara musiman tergenang air (seasionally inundeted).
UJI AKTIVITAS ENZIM SELULASE ISOLAT BAKTERI DARI SEDIMEN LAMUN PERAIRAN RENDANI MANOKWARI Tirza Bandi; Hermawaty Abubakar; Rina A Mogea
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i1.34

Abstract

ABSTRACTIndonesia has the potential of renewable natural resource which are abundant both in number and types of plants containing cellulose fiber. In natures cellulose cannot be completely degraded because it needs of microorganisms such as fungi and bacteria which will produce cellulase enzymes so that it can degrade cellulose in nature. The purpose of this study was to analysed the activity of cellulase enzymes produced by bacterial isolates obtained from seagrass sediments. Cellulase activity of 11 bacterial isolates was determined by the cellulotic index value passing through the Congo Red staining method on 1% CMC solid media. A total of seven isolates indicated a positive result and the highest index value was produced by SI-E isolates, that is 4.7 mm. After that the value of cellulase enzyme activity from the seven positive isolates was determined by counting substrate reducing sugars through the 3.5-dinitrosalicylic (DNS) method. The results showed that SI-H isolates had the highest activity of 0.071 U/mL. ABSTRAKIndonesia memiliki potensi berupa sumber daya alam terbaharukan yang melimpah baik dalam jumlah maupun jenis tumbuhan yang mengandung serat selulosa. Di alam selulosa tidak dapat terdegradasi secara sempurna oleh karena itu dibutuhkan bantuan mikroorganime seperti jamur dan bakteri yang akan menghasilkan enzim selulase sehingga dapat mendegradasi selulosa yang berada di alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas enzim selulase yang dihasilkan oleh isolat bakteri yang digunakan. Aktivitas selulase dari 11 isolat bakteri ditentukan dengan nilai indeks selulotik melaluli metode pewarnaan merah kongo pada media padat CMC 1%. Sebanyak tujuh isolat yang menandakan hasil positif dan nilai indeks tertinggi dihasilkan oleh isolat SI-E yaitu 4.7 mm. Setelah itu nilai aktivitas enzim selulase dari ketujuh isolat positif ditentukan dengan menghitung gula pereduksi substrat melalui metode 3.5-dinitrosalisilat (DNS). Hasil menunjukkan isolat SI-H memiliki aktivitas tertinggi yaitu 0.071 U/mL.

Page 1 of 1 | Total Record : 5