cover
Contact Name
Rizky Saputra
Contact Email
rizkysaputra01b@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
komunikologi@uinsu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial
ISSN : 25287583     EISSN : 26218267     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Komunikologi : Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial merupakan jurnal di bawah pengelolaan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2024)" : 5 Documents clear
Manifestasi Misogini Terinternalisasi (Internalized Misogyny) Pada Tren Tiktok “Pick Me Girl” Indiarma, Verani
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i2.23668

Abstract

AbstrakFenomena "Pick Me Girl" yang berkembang di platform TikTok merepresentasikan manifestasi dari misogini terinternalisasi, di mana perempuan secara sadar atau tidak sadar merendahkan sesama perempuan demi mendapatkan validasi dari laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tren ini mengungkapkan aspek-aspek misogini yang terinternalisasi dan bagaimana generasi Z memahami serta mengalami fenomena tersebut dalam kehidupan nyata. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis video TikTok serta diskusi kelompok, penelitian ini menemukan bahwa tren "Pick Me Girl" memperkuat stereotip gender, melemahkan solidaritas perempuan, dan menciptakan persaingan tidak sehat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran tentang dampak misogini terinternalisasi dan mendorong perubahan sosial yang lebih inklusif.AbstractThe Pick Me Girl phenomenon that has emerged on TikTok represents a manifestation of internalized misogyny, where women, consciously or unconsciously, undermine other women to gain validation from men. This study aims to analyze how this trend reveals aspects of internalized misogyny and how Generation Z perceives and experiences this phenomenon in real life. Using a qualitative approach with TikTok video analysis and focus group discussions, this research finds that the Pick Me Girl trend reinforces gender stereotypes, weakens female solidarity, and fosters unhealthy competition. The findings of this study are expected to raise awareness about the impact of internalized misogyny and promote more inclusive social change.  
Penggunaan AI sebagai Atribut Kampanye dalam Pengambilan Keputusan Mahasiswa Memilih Capres dan Cawapres Afrilia, Cicilia Afrilia; Geraldine, Siona
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i2.19854

Abstract

Pemilu 2024 telah selesai diselenggarakan pada tanggal 14 Februari 2024. Pemilu adalah sarana mewujudkan partisipasi politik dalam bentuk pesta demokrasi yang dilaksanakan secara luber dan jurdil. Sebelum pemilu berlangsung tiap paslon melakukan kampanye. Kampanye adalah cara atau upaya yang dilakukan para paslon untuk mempengaruhi masyarakat agar memilih paslon pada saat pemilu berlangsung. Saat ini kampanye dilakukan dengan memanfaatkan teknologi AI. Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang dapat menirukan gaya manusia dan memiliki cara berpikir layaknya seperti manusia. Salah satu paslon memanfaatkan AI untuk berkampanye dengan tujuan menarik perhatian masyarakat dalam memilih. Penggunaan AI tersebut berupa videotron billboard 3D, reklame AI berbentuk kartun serta website yang diluncurkan untuk foto bersama capres dan cawapres yaitu fotober2.ai. Penelitian ini dibuat dengan tujuan mengetahui bahwa kampanye dengan memanfaatkan AI menjadi alasan mahasiswa memilih paslon sebagai presiden dan wakil presiden 2024-2028. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian kualitatif adalah penelitian untuk memahami fenomena pada subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan yang dialami subjek penelitian melalui deskripsi dalam bentuk kata dan bahasa. Sampel dari penelitian ini yaitu mahasiswa yang sudah memiliki hak suara dengan jumlah empat (4) informan. Sumber data yang diperoleh adalah data sekunder dan data primer. Hasilnya menunjukan bahwa AI memang menarik dan dianggap sebagai atribut kampanye yang unik dan modern. Namun, AI tidak menjadi alasan bagi mahasiswa untuk mengambil keputusan memilih karena disamping itu mahasiswa tetap memperhatikan visi, misi serta program kerja kedepan yang akan dijalankan oleh capres dan cawapres berikutnya.Keywords: Atribut Kampanye, AI, Pengambilan Keputusan, Memilih
Makna Simbolik Tradisi Angpao Perayaan Imlek Pada Masyarakat Etnis Tionghoa di Kota Bengkulu Charoline, Novita; Hadiprashada, Dhanurseto; Firmansyah, Mas Agus
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i2.17542

Abstract

AbstrakAngpao merupakan hadiah berbentuk uang yang dibungkus dalam sebuah amplop merah. Tradisi angpao sangat melekat dan masih di lakukan dalam berbagai acara khususnya perayaan Imlek pada masyarakat etnis tionghoa. Namun kebanyakan dari kalangan masyarakat tidak mengetahui secara utuh makna yang terkandung didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbolik tradisi angpao perayaan imlek pada masyarakat etnis tionghoa di Kota Bengkulu. Teknik pengumpulan data melalui, wawancara secara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian berjumlah lima orang yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang berasal dari wawancara terhadap tokoh dan masyarakat etnis tionghoa serta masyarakat non etnis tionghoa yang ikut merayakan tradisi angpao di Kota Bengkulu. Sedangkan data sekunder didapat melalui jurnal penelitian, penelitian terdahulu, buku atau dokumen. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa pemaknaan simbol tradisi angpao menggunakan konsep objek interaksi simbolik oleh blumer yaitu objek fisik, objek sosial dan objek abstrak. Pemaknaan atau objek abstrak dari angpao berupa simbol berbagi rejeki, simbol bentuk saling menghormati dan simbol berbagi kebahagiaan. Terdapat ketentuan orang yang memberikan angpao yaitu orang tua dan orang yang sudah menikah memberi angpao kepada orang tua dan anak-anak yang belum menikah. Berdasarkan interaksi simbolik Blumer, manusia dapat memiliki pemaknaan yang berbeda-beda terhadap suatu objek yang sama. AbstractAngpao is a gift in the form of money wrapped in a red envelope. The Angpao (money envelope) tradition is very attached and is still carried out at various events, especially Chinese New Year celebrations in ethnic Chinese communities. However, most people do not know the whole meaning contained therein. This research aims to determine the symbolic meaning of the Angpao tradition for Chinese New Year celebrations in the Chinese ethnic community in Bengkulu City. Data collection techniques included in-depth interviews, direct observation, and documentation. Five informants in the research were obtained using purposive sampling techniques. The data source used was primary data originating from interviews with ethnic Chinese figures and communities as well as non-ethnic Chinese communities who participate in celebrating the Angpao tradition in Bengkulu City. Meanwhile, secondary data was obtained through research journals, previous research, books, or documents. The results of this research explained that the meaning of the Angpao tradition symbol uses Blumer's concept of symbolic interaction objects, namely physical objects, social objects, and abstract objects. The meaning or abstract object of Angpao is a symbol of sharing good fortune, mutual respect, and sharing happiness. There are provisions for people giving Angpao, namely parents and married people giving Angpao to parents and unmarried children. Based on Blumer's symbolic interaction, humans can have different meanings for the same object.
Pengaruh Promosi Penjualan 'Free Photo Card Korean Idol Group' Terhadap Perilaku Membeli Pada Produk E-Commerce Tokopedia Larasati, Maulida; Elita, Rd Funny Mustikasari; Wirakusumah, Teddy Kurnia
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i2.22532

Abstract

AbstrakPromosi merupakan salah satu kegiatan penjualan dan pemasaran untuk memberikan informasi dan mendorong permintaan produk ataupun jasa dengan membuat ide yang memengaruhi konsumen dan setiap e-commerce memiliki strategi promosi masing-masing, dan semakin banyak promo yang diberikan tentu membuat konsumen makin menyadari kehadiran suatu produk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh adanya PC Korean Idol Gratis pada setiap pembelian di e-commerce Tokopedia. Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif deskriptif, dengan mengambil responden melalui teknik accidental sampling dengan jumlah 100 orang yang berada di daerah Jakarta dan menggunakan e-commerce dalam kurun waktu 3 bulan terakhir. Sumber data utama mengumpulkan informasi melalui penggunaan kuesioner yang didasarkan pada skala Likert dan menggunakan SPSS 26 untuk melakukan uji data. Hasil dari temuan peneliti yaitu bawa free photocard Korean Idol Group tidak menjadi salah satu strategi yang diminati. Banyak konsumen yang melakukan pembelian di Tokopedia karena produk serta promo lain yang ditawarkan pada platform tersebut. AbstractPromotion is one of the sales and marketing activities to provide information and encourage demand for products or services by creating ideas that influence consumers and each e-commerce has its own promotional strategy, and the more promotions given of course make consumers more aware of the presence of a product. This research aims to analyze the influence of the Free Korean Idol PC on every purchase on Tokopedia e-commerce. This type of research is descriptive quantitative, taking respondents using an accidental sampling technique with a total of 100 people who are in the Jakarta area and have used e-commerce in the last 3 months. The main data source collects information through the use of a questionnaire based on a Likert scale and using SPSS 26 to test the data. The findings of the researcher indicate that free photocards of Korean idol groups are not a preferred strategy. Many consumers make purchases on Tokopedia due to the products and other promotions offered on the platform.
Komodifikasi Boneka Labubu dalam Penampilan Lisa Blackpink pada Akun Instagram @lalalalisa_m Pohan, Syafruddin; Batubara, Siti Aisyah; Rambe, Patimah
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i2.22460

Abstract

AbstrakStudi ini mengkaji komodifikasi boneka Labubu yang dipopulerkan oleh Lisa Blackpink dalam konteks filsafat kritis. Fenomena ini mencerminkan bagaimana industri budaya mengeksploitasi produk untuk menciptakan kebutuhan palsu di masyarakat. Tujuannya adalah menganalisis proses komodifikasi tersebut serta implikasinya terhadap kondisi sosial-ekonomi kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metodologi observasi langsung terhadap konten Instagram @lalalalisa_m. Kerangka teoritis yang digunakan adalah ekonomi politik media kritis dari perspektif Theodor Adorno, Max Horkheimer, dan Vincent Mosco. Hasil analisis menunjukkan bahwa melalui popularitas Lisa Blackpink sebagai influencer, boneka Labubu mengalami pergeseran nilai dari sekadar mainan menjadi simbol status dan gaya hidup modern yang dikomodifikasi secara masif. Proses ini mencerminkan fenomena industri budaya pop yang memanipulasi nilai guna menjadi nilai tukar, serta menciptakan kebutuhan artifisial di kalangan konsumen. Temuan ini mengungkapkan bagaimana kekuatan kapital dan media bersinergi untuk mempertahankan struktur kekuasaan kapitalis melalui budaya populer. Studi ini memberikan pemahaman kritis tentang interaksi antara individu, budaya, dan ekonomi dalam era digital, serta implikasi sosial dari komodifikasi produk budaya.AbstractThis study examines the commodification of the Labubu doll popularized by Lisa Blackpink through a critical philosophy lens. The phenomenon reflects how the culture industry exploits products to create false needs in society. The aim is to analyze this commodification process and its implications for contemporary socio-economic conditions. The research employs a qualitative approach with direct observation methodology on the @lalalalisa_m Instagram content. The theoretical framework used is the critical political economy of media from the perspectives of Theodor Adorno, Max Horkheimer, and Vincent Mosco. The analysis reveals that through Lisa Blackpink's influence as an influencer, the Labubu doll underwent a value shift from a mere toy to a commodified symbol of modern status and lifestyle. This process exemplifies how the pop culture industry manipulates use value into exchange value, creating artificial needs among consumers. The findings unveil how capital and media forces synergize to maintain capitalist power structures through popular culture. The study provides critical insights into the interplay between individuals, culture, and economy in the digital era, as well as the social implications of cultural product commodification.

Page 1 of 1 | Total Record : 5