cover
Contact Name
Studi Budaya Nusantara
Contact Email
jsbn@ub.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jsbn@ub.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Studi Budaya Nusantara
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 26211068     DOI : -
Jurnal Studi Budaya Nusantara (SBN) adalah media komunikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Seni dan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya Malang. Jurnal ini dimaksudkan untuk mewadahi hasil penelitian dan kajian ilmiah di bidang seni dan budaya Nusantara sebagai bentuk sumbangan masyarakat ilmiah bagi pengembangan wawasan seni dan budaya dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Terbit 2 kali setahun (Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2017)" : 6 Documents clear
Strategi Enkulturasi Nilai-Nilai Anti Tindakan Kekerasan Dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara Amry Marzali
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.01.01

Abstract

Negara Indonesia didirikan dalam setting negara multikultur untuk mengakomodir berbagai keragaman yang ada di dalamnya. Itulah sebabnya, Pancasila dipilih sebagai dasar negara guna mengatur tata hidup bersama sebagai bangsa. Pengalaman hidup berbangsa di Indonesia menunjukkan bahwa idealisme multikultur itu sering ternodai oleh tindakan kekerasan karena gesekan antar elemen-elemen yang saling berbeda di dalamnya. Selama ini, penekanan pada tindakan pencegahan dan public policy diandalkan sebagai strategi penanganan konflik dan kerusuhan. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi sumbangan pemikiran tentang bagaimana caranya agar nilai-nilai anti tindakan kekerasan dapat ditanamkan dan dijaga dalam masyarakat multietnik Indonesia. Dengan memandang “budaya tindakan kekerasan” dari sudut tiga tataran, yaitu tataran struktural, kultural, dan institusional, strategi enkulturasi nilai-nilai anti kekerasan mendapat wujudnya secara berbeda-beda. ABSTRACTIndonesian state was founded in the multicultural country setting to accommodate a wide range of diversity that exists in it. That is why, Pancasila chosen as as the national principle to govern the diverse lives of the people as a nation. However, during the life of this nation as Indonesian, it has shown that the ideals of multiculturalism is often marred by acts of violence caused by friction between elements that differs from each others. All this time, the strategy of handling conflict and violence is emphasised on prevention and public policy. This paper is intended to contribute thoughts about how the values of anti-acts of violence can be implanted and maintained in a multiethnic society. By looking at the "culture of of violence" in terms of three levels, i.e. the level of structural, cultural, and institutional, the strategy of enculturation of non-violence values got its differs forms.  
Eksplorasi Metode Penciptaan Seni Rupa Komunitas kentjingandjing Melalui Proyek Seni Rupa Unreasonableness” Di Kota Malang Aditya Nirwana; Tegar Andito
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.139 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.01.06

Abstract

Proyek seni rupa “Unreasonableness” dilaksanakan dengan bertolak dari beberapa permasalahan yang dihadapi oleh komunitas Kentjingandjing, yakni (1) Permasalahan seputar menejemen pameran seni rupa, yang meliputi permasalahan pendanaan, sumber daya manusia, dan infrastruktur kesenian, (2) Pandangan publik seni kota Malang terhadap “fungsi” seni, serta (3) Penumbuhan kesadaran seniman sebagai seorang ilmuwan. Proyek dilaksanakan dengan mengimplementasikan metode penciptaan seni rupa yang bersifat ilmiah, yang terdiri dari 3 tahap yakni : (1) Internalisasi dan Inkubasi Gagasan; (2) Rumusan Konsep Penciptaan; dan (3) Eksekusi Penciptaan Karya Seni. Kesimpulan yang didapat dari aktivitas ini bahwa kegiatan ini telah secara efektif menjadi solusi dari permasalahan seputar manajemen seni rupa, namun untuk menumbuhkan kesadaran seni di kalangan masyarakat, kegiatan semacam ini masih memerlukan massifikasi, atau setidaknya merupakan kegiatan yang berkesinambungan dimana berbagai disiplin ilmu dapat terlibat. Disamping itu, metode ilmiah yang diimplementasikan dalam kegiatan ini dinilai cukup efektif oleh beberapa orang seniman yang terlibat, namun sebagian berpendapat penggunaan metode yang ‘rigid’ seperti ini justru membelenggu eksplorasi ide dan gagasan penciptaan, disamping itu kurang fleksibel bagi fluktuasi-fluktuasi yang akan sangat mungkin terjadi dalam proses penciptaan seni. ABSTRACT"Unreasonableness" art project conducted by starting from some problems faced by the Kentjingandjing, which is (1) The problems of an art exhibition management, which includes issues of funding, human resources, and infrastructure of the arts, (2) public view towards the "function"of art, and (3) artist awareness as a scientist. This projects conducted by implementing scientific methods of art creation, which consists of three stages: 1) Internalization and Incubation of Idea; 2) The formulation of the concept of Creation; and 3) Creation of Art. The conclusion that this activity has effectively become the solution of the issues surrounding the management of art, but to raise awareness of the arts in society, this activity still requires massification, or at least is sustainable activities in which various disciplines can be involved. Besides, the scientific method that implemented in this activity is effective by some of the artists, but some argue the use of methods that 'rigid' like this, would handcuff the idea of creation, in addition to the lack of flexibility for the fluctuations which may occur in the process of artistic creation.  
Dangdut Koplo: Memahami Perkembangan hingga Pelarangan Michael H.B. Raditya
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.38 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.01.02

Abstract

Dangdut Koplo kini telah menjadi produk massal, yang terus terkomodifikasi oleh industri musik tanah air. Terlahir di pesisir pantai utara pulau Jawa –Pantura–, Dangdut Koplo telah berkembang sejak Dangdut televisi mengemuka. Hingga pada tahun 2003, fenomena Inul merebak, dan menggantikan posisi bintang Dangdut yang tenar saat itu, seperti: Rhoma Irama. Namun Rhoma Irama tidak menerimanya, pelbagai cara mencekal Inul dan Dangdut Koplo dilakukan. Bertolak dari ihwal tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwasanya Dangdut Koplo berkembang karena pelarangan. Pelbagai usaha pelarangan dari Rhoma Irama dan kolega, hingga kalangan yang mengatasnamakan agama turut mempersoalkan Inul dan musiknya, Koplo. Namun kuasa komodifikasi berkerja, Inul dan banyak penyanyi Pantura berjaya. Pada tahun 2016, pelarangan kembali terjadi. Giliran KPI ambil bagian mencekal tigabelas lagu Dangdut Koplo. Bertolak dari ihwal tersebut, maka artikel ini akan membahas perkembangan dan pelarangan yang telah terjadi. Alih-alih diposisikan untuk mendukung kubu yang saling berkonfrontasi, artikel ini lebih diarahkan sebagai artikulasi atas makna yang terkandung dari Dangdut Koplo itu sendiri. Hasil dari artikel ini adalah sebuah tawaran alternatif dalam menyikapi pelarangan di kedua belah pihak. ABSTRACTNowadays, Dangdut Koplo has become a mass product, which commodified by industry music of Indonesia. Was born in the northern coast of Java -Pantura-, Dangdut Koplo has develop since Dangdut Television become popular. In 2003, Inul phenomenon was replacing Dangdut star whose fame at the time, such as: Rhoma Irama. But Rhoma and colleagues didn't accept that, and try to ban Inul and Dangdut Koplo in Dangdut Industry.  It is undeniable that Dangdut Koplo developed by ban process. Rhoma Irama and Many Groups who has a corelation with religion tried to ban Dangdut Koplo, and Inul. But the commodification's power worked, Inul and singers from Pantura more popular. In 2016, KPI do the ban Dangdut Koplo. Thirteen songs Dangdut Koplo blocked. Regarding from these thing, this article will discuss about existance of Dangdut Koplo, about developing and barriers. And this article isn't support group who confronted each other, this article who i wrote it, is trying to articulate about essence that contained on Dangdut Koplo. The result of this article is an alternative point of view's to face the problem in holistic way.
Belis dan Harga Seorang Perempuan Sumba (Perkawinan Adat Suku Wewewa, Sumba Barat Daya, NTT) Dony Kleden
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.993 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.01.03

Abstract

Perkawinan antara laki-laki dan perempuan, atau bahkan sesama jenis sekali pun di sana selalu hadir yang namanya kebutuhan akan saling menyayangi, mencintai dan memberikan diri satu sama lain. Dengan demikian, di dalam perkawinan itu sendiri ada rasa saling ketergantungan, saling membutuhkan, saling memberi dan menerima, ada resiprositas antar pribadi. Dan tentu, di tiap daerah atau suku, selalu mempunyai keunikan dan kekhasan terkait dengan proses atau pagelaran perkawinan. Suku Wewewa, yang adalah salah satu suku yang berada di Pulau Sumba, mempunyai kekahasan juga dalam hal proses perkawinan. Belis (mas kawin) selalu menjadi kata kunci untuk membuka pintu pembicaraan kalau memang ada rencana untuk mengadakan sebuah perkawinan. Dan karena belis selalu menjadi kata kunci, maka tidak heran, kalau rasa cinta dalam banyak kasus pernikahan menjadi alpa. Tulisan singkat saya ini akan fokus pada macam-macam jenis pernikahan yang ada di Suku Wewewa dengan segala akrobat dan rakayasa. Tulisan ini berangkat dari hasil penelitian saya beberapa bulan yang lalu, dengan pendekatan observasi partisipasi. Di akhir tulisan ini, akan saya berikan catatan kritis dengan menggunakan teori resiprositas. ABSTRACTMarriage betwen man and woman, even man and man, or woman and woman, there is always talk about necessity to love one each other, and to need one each other. There for, in marriage, there are any dependence, any necessity, any reciprocity betwen man and woman, or minimal two persons. Of course, every place and culture, has uniqueness about the process or celebration of marriage. Wewewa ethnic is one of ethnic in Sumba island has uniqueness too in celebrationing marriage. Belis (bride-price) always be key of word if they want to talk about marriage. And because Belis always to be the key of marriage, feel of love sometimes not be the first of the marriage. This my short writing will be focused to many kinds of marriage in Wewewa ethnic and all games in itself. This writing based of my research few moths ago, with observation-participation approach. At the end of this writing, I will give my critical note using reciprocity theory.
Masyarakat Yei-Nan di Erambu dan Ritus Kematiannya: Studi Kasus untuk Menemukan Makna Ritus Kematian dalam Masyarakat Yei-Nan di Erambu, Kabupaten Merauke – Papua Maximilian Boas Pegan
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.518 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.01.04

Abstract

Suku Yei-nan merupakan sebuah suku kecil di wilayah paling Timur Indonesia.Di dalamnya terdapat berbagai unsur budaya yang sangat kaya akan makna duniawi sekaligus religius, yang menjiwai seluruh siklus hidup manusia sejak kelahiran hingga kematian. Seperti yang terdapat dalam berbagai kebudayaan Melanesia, masyarakat Yei-nan juga melakukan berbagai ritual yang berkaitan dengan kematian. Ritual kematian berpusatkan pada upaya keluarga untuk menghantarkan orang yang meninggal menuju ke dunia roh. Namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa ternyata ritual kematian juga menjadi sarana untuk mempererat kembali relasi manusia dengan sesama, alam dan dunia roh.ABSTRACTThe Yei-nan are a small tribe inhabiting the east mostregion of Indonesia. They posess a culture rich in both spiritual and mundane values, these distinct teachings influence all aspects of life, from birth until the passing away of tribe members. Common the most Melanesian cultures, the Yei-nan also have numerous rituals concerning mortality. The ritual centered upon the belief that the mourning family may aid in sending the deceased to the afterlife or spirit world. However this is not the sole purpose, undeniably these elaborate rituals also serve to re-strengthen the ties between man, fellow members, nature and the spirit realm.
Tradisi Seni Patrol dan Identitas Budaya Kampung Bandulan di Kota Malang Annise Sri Maftuchin; Ary Budiyanto
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.618 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.01.05

Abstract

Tradisi lokal tidak selalu mengalami pelemahan budaya di ranah global. Tradisi seni patrol di Bandulan Malang adalah salah satunya, seni ini tumbuh dalam proses invented tradition yang diwadahi lewat aktivitas festival. Invented tradition dari konsep Hobsbawn (2000), menjelaskan bahwa pemunculan tradisi difungsikan agar tradisi tidak dipandang sebagai sesuatu yang tua atau identik dengan kuno. Penelitian mengenai tradisi seni patrol ini ditujukan untuk menjawab permasalahan mengenai bagaimana masayarakat Bandulan menciptakan identitas baru bernuansa lokal di ranah global? Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan secara antropologis dimana observasi, observasi partisipasi dan wawancara mendalam dilakukan. Metode tersebut menjadi tumpuan dalam menguraikan fenomena di masyarakat Bandulan. Hasil penelitian ini menunjukan adanya proses invented tradidition secara berkesinambungan dan didukung penuh oleh proses globalisasi yang ada pada ranah festival. Tradisi seni patrol yang di-invented-kan merupakan pengembangan dari tradisi patrol sahur lokal. Dalam perkembangannya konsep culture contact Liep (2001) juga turut berperan mengaktifkan proses pembentukan identitas dari konsep Hall (1990). Kajian ini melibatkan unsur identity as being Bandulan yang dipertemukan dengan budaya luar Bandulan dan budaya global. Percampuran ini kemudian menyatu menjadi hasil akhir suatu kebudayaan utuh dimana cita rasa lokal masih terasa kuat disana. Tradisi seni patrol tampil menjadi suatu produk identity as becoming pada festival patrol di Bandulan. Seni patrol bandulan memiliki karakteristik yang berbeda dengan referensinya yaitu ul-daul meskipun sekilas sama, namun seni patrol Bandulan memiliki corak musik yang khas. Karakteristik campursari yang berkembang di Bandulan dan ritme ketukan yang lebih pelan dari pada ul-daul menjadi patokan bahwa penciptaan identitas seni patrol lewat referensi lokal berupa tradisi adalah benar adanya.    ABSTRACTLocal traditions are not always weakened traditional form of culture in the global area. Bandulan patrol art tradition in Malang is one of them, this art is growed by invented tradition process with festival mode. Invented tradition is Hobwbawn (2000) concept which describe of the appearance of a tradition that is not viewed as old. This patrol art traditions research is intended to answer a research problem about how Bandulan local society make create in a new identity on the global area? To answer these problems, researchers used anthropological methode where observation, participatory observation and in-depth interview are used by the research. The method form use to describing phenomena in the Bandulan society. These results indicate the existence of a process invented tradidition going on basis and is fully supported by the process of globalization that exist in the festival media. patrol Art tradition which processed by invented is development of a local patrol sahur tradition , that the development is processed by contact culture who concepted by Liep (2001) helped to describe for process of establishing the identity of of Hall concept (1990). The pattern is related identity as being Bandulan confronted with foreign cultures and global cultures. This mixed process form is fused into the end result of a culture intact where local taste of culture still feels strong up there. The tradition of the art patrol appear to be a identity product of the becoming on the art festival patrol in Bandulan. Bandulan art patrol have different characteristics with ul–daul music though near same , but the Bandulan art patrol has a different style of music that have identic character. Bandulan art patrol has a identic style of typical of art music patrol . Characteristics campursari music what growing up in Bandulan and the slowler rhythm beats than ul-daul be identic style from the creation of identity what have style of local culture which can survive in global area that is true.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6