cover
Contact Name
Ahmad Sulaiman
Contact Email
sulaiman_ahmad@umm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
cognicia@umm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Cognicia
ISSN : 2746 8976     EISSN : 26858428     DOI : 10.22219
The scope and the focus of the journal is conceptual proposal and empirical studies in many aspects of cognitive psychology (motivation, cognition and metacognition) with the application in various field such Industrial and Organizational Psychology, Developmental Psychology, Educational Psychology, Spiritual Psychology and Social Psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 1 (2015)" : 13 Documents clear
DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN TINGKAT KEPERCAYAAN DIRI ANAK YANG MENGALAMI TUNARUNGU Norahmasari, Diny
Cognicia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v3i1.2143

Abstract

Dukungan sosial keluarga sangat dibutuhkan untuk membentuk kepercayaan diri pada anak yang mengalami tunarungu. Dengan adanya dukungan sosial keluarga anak merasa mendapat perhatian, mendapat kasih sayang, merasa dicintai sehingga anak merasa berharga, maka kepercayaan diri pada anak tunarungu akan tumbuh. Sedangkan anak tunarungu yang memiliki tingkat kepercayaan diri rendah, akan malu dalam bergaul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan sosial keluarga dengan tingkat kepercayaan diri anak yang mengalami tunarungu. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik total sampling dan menggunakan 30 anak yang mengalami tunarungu sebagai subjek. Instrumen penelitian ini menggunakan dua skala yaitu skala kepercayaan diri dan skala dukungan sosial keluarga. Hasil penelitian ini menunjukan ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan tingkat kepercayaann diri terhadap anak yang mengalami tunarungu setelah dianalisa menggunakan korelasi product moment. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah semakin tinggi dukungan sosial yang didapatkan, maka kepercayaan diri yang dimiliki semakin tinggi. ( r = 0,73 ; p = 0,00 ≤ 0,01 ) Kata kunci: Dukungan sosial keluarga, kepercayaan diri, tunarungu Family social support is needed to establish the confidence of children who have hearing impairment, whit the childs family social support was gained attention, got the love, feel loved so that children feel valved, than the confidence will grow in deaf children. While have children who have low sealf confidence, he would be ashement to associate. Purpose of this study was to determine the relationship of social support to the family confidence level of children who are deaf. This research is a quantitative study. Thesampling technique used is total sampling techniques and the use of 30 children who are deaf as a subject. This research instruments uses two scales, the scale of self-confidence and family social support scale. The results of this study indicate there is a significant positife relationship between social support families with a level of confidence to the children who have hearing impairment after analyzed using product moment correlation. Result obtained from this study is that the higher the social support obtained, then the confidence possessedhigher. ( r = 0,73 ; p = 0,00 ≤ 0,01 ) Keyword : Self confidence, family social support, deaf
PENGUNGKAPAN DIRI REMAJA TERHADAP ORANG TUA DENGAN KENAKALAN REMAJA Rahma, Layla Nudia
Cognicia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v3i1.2319

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengungkapan diri remaja terhadap orang tua dengan kenakalan remaja. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan populasi mahasiswa.Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling dan menggunakan 147 mahasiswa psikologi.Metode pengumpulan data menggunakan skala pengungkapan diri dan skala kenakalan remaja.Analisa dalam penelitian ini menggunakan analisa korelasi product moment dari Pearson’s. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif yang signifikan (r= -0,563 ; p/sig=0,000) antara pengungkapan diri remaja terhadap orang tua dengan kenakalan remaja. Sumbangan efektif dari pengungkapan diri dengan kenakalan remaja sebesar 31,7 %, sedangkan sumbangan dari faktor lain diluar variabel yang diujikan 68,3 %.  Kata kunci: Pengungkapan diri, kenakalan remaja. This research is purpose to reveal the relationship of self disclosure toward parents with the juvenile delinquency. This research use corelationship. The sampling technic which used for this researchis cluster random sampling and used 147 university students of fourth grade psychology departement as subject. The method of collecting data used self disclosure scale and juvenile delinquency scale. The analysis of this research used correlation analysis product moment of Pearson’s. The result of this research is there is a significant negative relationship between juvenile self disclosure towards parent with the juvenile delinquency. Effective contribution of self-disclosure with juvenile delinquencyby 31.7%, while the contribution of other factors beyond thevariables tested68.3%. Keywords: Self disclosure, juvenile deliquecy. 
Perilaku Agresif Remaja di Tinjau dari Kepribadian (Big Five Personality) Maryani, Setyawati Kusuma
Cognicia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v3i1.2314

Abstract

Aksi- aksi yang biasa dilakukan di kalangan remaja adalah perkelahian, tawuran pelajar atau masal. Terdapat faktor yang mempengaruhi terjadinya aksi tersebut salah satunya adalah faktor internal. Faktor internal (dari dalam individu) sendiri seperti halnya ciri-ciri kepribadian turut berperan dalam perilaku agresif. Penelitian ini menggunakan pendekatan Big Five Personality  dimana kepribadian tersebut memiliki dimensi yang berdiri sendiri antar dimensinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku agresif ditinjau dari kepribadian (Big Five Personality). Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif kausal komparatif dengan menggunakan skala Buss-Perry Aggression dan skala Big Five Inventory. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dan melibatkan 155 siswa. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik anova one way. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan perilaku agresif yang signifikan ditinjau dari Big Five Personality yang diketahui dengan membandingkan hasil uji anova (0,028) dengan taraf signifikansi (0,028< 0,05). Kata kunci: Perilaku agresif, big five personality, remaja Brawls and fights are known as the act that most frequently happen among adolescent. One of factors that influence it is internal factors. Internal factors such as personality traits plays important role in aggressive behavior. The researcher used Big Five Personality approach in which the dimension of personality stands alone among its dimensions. Through this research, the researcher tried to figure out whether there are differences in aggressive behavior in terms of personality (Big Five Personality), and the purpose of this study was to determine the differences in aggressive behavior in terms of personality (Big Five Personality). This quantitative causal comparative study employed two scales; Buss-Perry Aggression and Big Five Inventory. This study used purposive sampling and involved 155 students.  Anova one way analysis used to analyze the data of this study. The result showed that there were significant differences from Big Five Personality which was revealed by comparing the result of anova (0,028) with significance level (0,028< 0,05). Keywords: Aggressive behavior, big five personality, adolescent
MODEL PEER PRESSURE DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PRODUK MAKANAN PADA REMAJA Khadafi, Muhammad Rizky
Cognicia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v3i1.2144

Abstract

Banyaknya jenis produk-produk makanan saat ini menjadi masalah utama pada remaja yang memiliki perilaku konsumtif dalam hal produk-produk makanan. Peer pressure merupakan salah satu faktor yang menjadi penyebabnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara model peer pressure dengan perilaku konsumtif produk makanan pada remaja, menggunakan desain non-eksperimen dengan pendekatan kuantitatif korelasional. Incidental sampling sebagai teknik pengambilan sampel yang dilakukan pada 311 remaja di Malang, menggunakan instrumen model peer pressure dan perilaku konsumtif produk makanan pada remaja untuk mengumpulkan data. Data di analisis dengan korelasi product moment, hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara model peer pressure behavior dengan perilaku konsumtif makan pada remaja (r = 0,460; p = 0,000), ada hubungan positif yang signifikan antara model peer pressure normative regulation dengan perilaku konsumtif makan pada remaja (0,245; p = 0,000). Tidak ada hubungan antara model structuring opportunities dengan perilaku konsumtif produk makanan (r = 0,025; p = 0,664). Semakin tinggi model  peer pressure, perilaku konsumtif produk makanan akan semakin tinggi juga. Kata kunci: model peer pressure, perilaku konsumtif produk makanan Many food products are currently being major problem in adolescents as they had consumptive behavior for food products. Peer pressure was one of many factors behind it. This study aimed to determine the correlation between peer pressure model with consumptive behavior for food products in adolescents, using non-experimental design with correlation quantitative research. Incidental sampling as sampling techniques was conducted to 311 adolescents in Malang, using peer pressure model and consumptive behavior for food products instrument to collect the data. Data was analyzed using correlation product moment, the result showed that there was significant positive correlation between peer pressure model behavior with excessive food product behavior in adolescents (r = 0,460; p = 0,000). There was significant positive correlation between peer pressure model normative regulation with excessive behavior for food product in adolescents (r = 0,245; p = 0,000). There was not significant correlation between peer pressure structuring opportunities model with excessive behavior for food product in adolescents (r = 0,025; p = 0,664). As peer pressure model was higher, consumptive behavior for food product would be high as well. Keywords: Model  peer pressure, consumptive food product behavior
Dukungan Sosial dengan Culture Shock Pada Mahasiswa Susilo, Prisza Indra
Cognicia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v3i1.2320

Abstract

Universitas Muhammadiyah Malang memiliki mahasiswa dari berbagai budaya diantaranya berasal dari Sumatera, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi dan Papua. Kemungkinan, dalam proses akulturasi mahasiswa yang berasal dari luar Jawa ada yang mengalami kesulitan untuk beradaptasi dan tidak ada yang mengalami kesulitan dalam beradaptasi. Istilah yang digunakan untuk menyebut individu yang mengalami kesulitan untuk beradaptasi adalah culture shock. Salah satu unsur untuk mengurangi tingkat culture shock yaitu dengan dukungan sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan culture shock yang dialami oleh mahasiswa baru Fakultas Psikologi UMM. Penelitian ini menggunakan skala dukungan sosial dan skala culture shock dengan model skala likert. Jumlah subjek sebanyak 103 mahasiswa yang berasal dari luar Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan  negatif antara dukungan sosial dengan culture shock pada mahasiswa luar Jawa di Fakultas Psikologi UMM yang  dibuktikan dengan hasil perhitungan korelasi product moment. Semakin tinggi dukungan sosial yang didapatkan maka semakin rendah tingkat culture shock yang dialami (r = -0.370 ;p = 0.000; p = 0 < 0.01 ).   Kata kunci: Dukungan sosial, culture shock, mahasiswa, luar Jawa   University of Muhammadiyah Malang have a students from different cultures which are from Sumatera, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi and Papua. Possibility, in the process of acculturation a students are come from outside of Java there are having difficulty to adapt and experiencing no difficulties in adapting. The term used to explain individuals are have difficulty to adapt is culture shock. One element to reduce the rate of culture shock is the social support. The purpose of this study was of social support relationships with the culture shock experienced by new students of the Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang. This study used a questionnaire and social support for overseas culture shock questionnaire with Likert scale modesl. The number of subjects as many as 103 students from outside of Java. The results showed that there is a negative relationship between social support with culture shock on foreign students at the Faculty of Psychology UMM Java as evidenced by the results of the calculation of the product moment correlation. The higher the social support obtained, the lower level of culture shock experienced (r = -0.370 ;p = 0.000; p = 0 < 0.01 ). Keywords : social support, culture shock, students, outside java
BUDAYA INOVASI DITINJAU DARI PERSEPSI TERHADAP KEPEMIMPINAN Sajiwo, Bagus
Cognicia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v3i1.2141

Abstract

Pada setiap organisasi atau perusahaan selalu memiliki ciri-ciri inovasi dan  menghasilkan karya inovatif yang berkali-kali dimana hal ini pengaruhi oleh pemimpin dalam perusahaan tersebut. Peranan seorang pemimpin sebagai penggerak sekelompok orang dalam berorganisasi untuk mencapai tujuan bersama sangatlah penting. Di dalam perusahaan ada peran dan pengaruh yang sangat penting dalam proses memunculkan atau memicu budaya inovasi yaitu kepemimpinan yang ada di dalam perusahaan itu sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada perbedaan atau tidak antara kepemimpinan transaksional dan transformasional terhadap budaya inovasi. Subjek penelitian ini adalah karyawan tetap pada perusahaan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Penelitian ini menggunakan teknik analisis uji T-test menguji ada perbedaan atau tidak antara kepemimpinan transaksional dan transformasional terhadap budaya inovasi. Setelah dilakukan analisisuji T-test, diperoleh hasil bahwa ada perbedaan antara kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional dalam berbudaya inovasi nilai (t= -5.624: p=0.000).   Kata kunci: Budaya inovasi, persepsi kepemimpinan, karyawan   In  organization or company always has the characteristics of innovation and always produce innovative work that many times where it is influenced by the leader. The role of a leader as the driving force in organizing a group of people to achieve a common goal is essential. In the company there is a role and a very important influence in the process raise or trigger a culture of innovation is leadership that is in the company itself. The purpose of this study was to determine there is a difference or not between transactional and transformational leadership to the culture of innovation. The subjects were permanent employees in the company. Data was collected using a questionnaire. This study uses the technique of test T-test analysis test or not there is a difference between transactional and transformational leadership to the culture of innovation. After analyzing the test T-test, the results showed that there is a difference between transactional leadership andtransformational leadership in innovation culture obtained from( t-value=-5.624; p= 0.000).   Keywords: Cultural innovation, perceived leadership , employee
HARGA DIRI DAN KECENDERUNGAN AGRESI PADA REMAJA SAKSI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Fransiska, Inaria
Cognicia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v3i1.2315

Abstract

Kekerasan dalam rumah tangga meningkat setiap tahunnya dan membawa dampak beragam bagi yang melakukan, korban, maupun yang menyaksikan. Dampak yang muncul pada saksi kekerasan ini adalah terpengaruhnya harga diri dan munculnya perilaku agresivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri dan kecenderungan agresi pada remaja saksi kekerasan dalam rumah tangga. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan subjek berjumlah 212 orang dengan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan skala harga diri dan skala kecenderungan agresi dengan metode analisa data product moment. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tidak ada hubungan negatif antara harga diri dan kecenderungan agresi (r = -0.134 dan p = 0.051 ; p > 0.05).   Kata Kunci: Harga diri, kecenderungan agresi, remaja   Domestic violence increase every year and had implications for the performer, the victim, and the witness. Impact appears to witness this violence is impact of self-esteem and the emergence of aggressive behavior. This research aims to determine the relationship between self-esteem and aggression in adolescent who witness domestic violence. This research is a quantitative study with 212 subject with a purposive sampling technique. Methods of data collection using self-esteem scale and aggression scale with product moment method of data analysis. Result showed there is no significant negative relationship between self-esteem and aggression(r = -0.134 and p = 0.051 ; p > 0.05).   Keywords: Self-esteem, aggression, adolescent  
KEMATANGAN EMOSI DENGAN PEMAAFAN PADA REMAJA Yuniardita, Martina Indra
Cognicia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v3i1.2145

Abstract

Pada masa remaja, kesalahpahaman dan konflik seringkali terjadi di dalam interaksi mereka. Remaja dapat berbuat salah kepada sesamanya, dan ia tentu pernah mengalami hal yang sama, yaitu mendapatkan perlakuan dan situasi yang mengecewakan ataupun menyakitkan. Dalam proses perkembangan menuju kematangan emosi, diharapkan remaja nantinya dapat memberikan maaf kepada seseorang yang melakukan kesalahan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kematangan emosi dengan pemaafan pada remaja awal dalam berhubungan dengan kawan sebaya. Metode pengumpulan data menggunakan skala pemaafan dan skala tingkat kematangan emosi dengan model skala likert. Jumlah subjek sebanyak 244 orang dengan rentang usia 13 tahun sampai 16 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kematangan emosi dengan pemaafan yang dibuktikan dengan hasil perhitungan korelasi product moment. Semakin tinggi kematangan emosi seorang remaja, maka semakin tinggi pula pemaafannya. Sebaliknya semakin rendah kematangan emosi seorang remaja, maka semakin rendah juga tingkat memaafkannya (r = 0,334; p = 0,000; p< 0,01). Kata kunci: Kematangan emosi, pemaafan During adolescence, misconception and conflict often happed as they interacted with one another. Teenagers might treat their peers badly, and they might experience the same things such as disappointing or even paintful treats and situations. While not all people could sincerely forgive other and forget their mistake, adolescents were required to be able to control their feelings in the process of developing emotional maturity in which they were expected to understand and control their emotions. This study aimed at investigating the correlation between emotional maturity and forgiveness on early adolescents in maintaining the relationship with their peers. This study employed non test method by using forgiveness scale and emotional maturity level of Likert. The subject were 244 people ranging from 13 to 16 years old. The finding showed that there was a positive correlation between emotional maturity and forgiveness, which was proved by the result of product moment correlation. The higher the adolecents’ emotional maturity was, the higher their forgiveness was. Accordingly, the lower their emotional maturitywas, the lower the forgivenees was (/r/ = 0,334; /ρ/ = 0,000; /ρ/ < 0,01). Keywords: Emotional maturity, forgiveness
SIKAP TERHADAP KESELAMATAN KERJA DENGAN KEPRIBADIAN Mahmudah, Aisyah Dhiya
Cognicia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v3i1.2140

Abstract

Setiap berbagai kajian keselamatan kerja, kepribadian turut berkontribusi dalam menjelaskan bagaimana para pekerja bersikap dan bertindak terhadap keselamatan di lingkungan kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap terhadap keselamatan kerja dan kepribadian. pada 100 sampel karyawan PT. Pupuk Kaltim yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian dengan menggunakan analisa multipel regresi ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan sikap terhadap keselamatan kerja ditinjau dari kepribadian pada karyawan Kompartemen Pemeliharaan (F=7,398; Sig=0,000<0,001). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara dimensi Agreeableness, Conscientiousness, Openness to Experience, dan Extraversion dan sikap terhadap keselamatan kerja, serta terdapat hubungan yang negatif dan tidak signifikan pada dimensi Neuroticsm dan sikap terhadap keselamatan kerja. Dimensi Agreeableness diketahui merupakan prediktor yang paling baik pada sikap terhadap keselamatan kerja.   Katakunci: Sikap terhadap keselamatan kerja, kepribadian   The purpose of this research was to determine the relationship between  safety attitude and personality using 100 PT. Pupuk Kaltim (Maintanance Compartment) employees were taken using purposive sampling method. The result of multiple regression analysis showed that there is a significant and positive correlation towards safety attitude and personality on PT. Pupuk Kaltim employees (F=7,398; Sig=0,000<0,001). Results showed that there are significance positive correlations between Agreeableness, Conscientiousness, Openness to Experience, Extraversion, and safety attitude, while there is a negative correlation between Neuroticsm and safety attitude. Agreeableness has been found might be  predict worker safety attitude as well.   Keyword: Safety attitude, personality
PERBEDAAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) PADA PEGAWAI DENGAN TIPE KEPRIBADIAN A DAN B Hendarto, Veldinor Dwi
Cognicia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Psychology, University of Muhammadiyah Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v3i1.2146

Abstract

Karyawan yang bekerja di bidang industri mempunyai job description yang berbeda – beda. Perilaku yang mengarah pada organizational citizenship behavior (OCB) akan muncul tergantung dari insiatif masing – masing karyawan dalam membantu rekan kerjanya. Karyawan yang berperilaku OCB mempunyai dampak positif untuk keefektifan perusahaan dalam menghasilkan produksi yang berkualitas. Salah satu faktor yang dapat memunculkan perilaku OCB ialah faktor kepribadian.Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui perbedaan Organizational Citizenship Behavior (OCB) ditinjau pada karakteristik kepribadian. Penelitian ini menggunakan skala kepribadian dengan model skala Guttman dan Skala Organizational Citizenship Behavior dengan model skala Likert. Jumlah subjek dalam penelitian ini sejumlah 134 dengan status karyawan tetap. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan ada perbedaan Organizational Citizenship Behavior antara tipe kepribadian A dan B (t = 3.910; p = 0.000).   Kata kunci: Organizational citizenship behavior, karyawan, kepribadian   The employees who work in the industry has a different job description. The behavior of OCB will appear depending on the initiative of the employees to help his co-workers. Theemployees who behave OCB has a positive impact on the effectiveness of the company in the production of high quality produce.One of the factors that can bring OCB are personality factors. The purpose of this study was to determine differences in Organizational Citizenship Behavior reviewed the characteristics of personality.One of the factors that can influence the behavior of OCB are personality factors. The purpose of this study was to determine differences in Organizational Citizenship Behavior reviewed the characteristics of personality.This study used a non-test method is by using a scale model of personality with the Guttman scale and Organizational Citizenship Behavior Scale with Likert scale models. The number of the subject of as much as 134 people with the status of permanent employees an age range of 25-50 years.The results of this study showed that there are differences in Organizational Citizenship Behavior, between personality types A and B is evidenced by test of the t-test that obtain (t=3.910 ; p=0.000).   Keywords: Oganizational citizenship behavior, employee, personality.

Page 1 of 2 | Total Record : 13