Articles
220 Documents
Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Balai Harta Peninggalan Dalam Pemberesan Harta Pailit
RAISA INAYATI
Notaire Vol. 1 No. 2 (2018): NOTAIRE
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (261.433 KB)
|
DOI: 10.20473/ntr.v1i2.9283
Kepailitan pada hakikatnya akan mengubah status cakap dari subjek hukum yang bersangkutan yaitu si debitor dalam pengurusan harta pailitnya, maka dalam prosesnya harus mengikuti syarat dan prosedur tertentu sehingga dinyatakan pailit dengan berdasarkan suatu keputusan hakim. Akibat putusan pernyataan pailit terhadap debitor yang mendasar tersebut akan menjadi suatu pijakan persoalan selanjutnya yaitu mengenai bagaimana para kreditor mendapatkan hak-haknya dari debitor pailit dan siapakah yang akan mengurus pembagian harta debitor pailit tersebut. Terhadap pernyataan ini, dalam Pasal 70 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diatur bahwa yang berhak melakukan itu adalah Balai Harta Peninggalan dan kurator. Membagi harta pailit merupakan bagian akhir dari proses kepailitan. Dalam penulisan ini dapat diketahui mengenai peran utama dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit yang dilaksanakan oleh Kurator/Balai Harta Peninggalan.
Kedudukan Legitieme Portie dalam Hal Pemberian Hibah Wasiat Berdasarkan Hukum Waris Burgerlijk Wetboek
Willliam Setiawan Marthianus
Notaire Vol. 2 No. 2 (2019): NOTAIRE
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (278.709 KB)
|
DOI: 10.20473/ntr.v2i2.13438
Will is one of the ways to inheritance. According to article 875 BW, a testament or last will is a deed, containing a statement of an individual’s wishes and intents to take effect following his death, and which deed can be revolved. Testament or last will can be made while the testator is still alive, but the implementation is only do able when the testator passed away. Testamentary offers an additional option to testator while he/she is still alive the inheritance can be distributed to the beneficiary or heir, according to article 957 BW, testamentary gifting is a special testament, under which the testator bestows onto one or more person his properties of a certain kind, for example, all of his properties, movable or immovable, or the usufruct rights over entire part of his estate. It is special testament because it can pass distributed the inheritance on special occasion such as when the amount of successor is more than one, it can give special and certain kind of properties, such as movable or immovable properties, and usufruct rights. Problem arise when testamentary gifting is given to the successor without obeying the provisions according to legitimate portie. This condition is contrary with article 913 BW which states that The Legitimate portion or the legal share of the inheritance is that portion of the estate which the lawful heirs in a direct line are entitled to and which the testator is not entitled to dispose of as a gift during his life time or by last will.
Prinsip Transparansi Dalam Rangka Perlindungan Hukum Bagi Nasabah di Bank Syariah
Davin Wahyu Ramadhan
Notaire Vol. 1 No. 1 (2018): NOTAIRE
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (348.701 KB)
|
DOI: 10.20473/ntr.v1i1.9096
Sama halnya dengan bank konvensional yang menghimpun dan menyalurkan dana dari masyarakat,perbankan syariah tidak pernah lepas dari risiko yang sewaktu-waktu dapat menyebabkan kerugian bank. Hal ini terjadi karena dalam praktik operasional perbakan selalu terjadi trade-off antara service and risk. Oleh karena itu bila ditinjau berdasarkan peraturan perundang-undangan disektor jasa keuangan, bank syariah memiliki kewajiban untuk melindungi nasabah dari risiko yang sewaktuwaktu dapat muncul. Metode penelitian yang digunakan dalam adalah metode penelitian teoritik dan metode penelitian doktrinal. Dari penelitian ini, dapat diketahui hasilnya bahwa Penerapan prinsip transparansi wajib diterapkan oleh bank syariah, terutama informasi mengenai kemungkinan akan timbulnya risiko sehubungan dengan transaksi atas produk yang ditawarkan terhadap nasabah, hal ini dilakukan untuk melindungi kepentingan nasabah sekaligus mencegah risiko-risiko yang mungkinakan timbul dikemudian hari, dan bilamana nasabah mengalami kerugian karena kelalaian yang telah dilakukan oleh pihak bank syariah, maka bank syariah wajib untuk bertanggung gugat. Selain itu selaku lembaga yang mengawasi sektor jasa keuangan, pihak Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia dapat mengenakan sanksi administrasif kepada bank syariah.
Aesthetic Performance Products as a Basis For Non Novelty of Industrial Design Based on The Public Domain Principle
Desy Rizki Ramadhani;
Puteri Melati;
Camellia Anand
Notaire Vol. 2 No. 1 (2019): NOTAIRE
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (328.727 KB)
|
DOI: 10.20473/ntr.v2i1.13055
Comparative products are very important and must be considered about it because, Industrial Design assesses the performance of products that can be proven from evidence that can be seen or assessed by clear eye such as photographic evidence, catalogs or other evidence that can be proved bye Industrial Design which has existed before. Industrial design is based on its external appearance which does not have an aesthetic impression and contradicts Article 1 point 1 of the Industrial Design Law and article 25 Paragraph 1 of the TRIPs agreement, which is form creation, solely for function or technical configuration. Aesthetically cannot be registered. In the absence of aesthetic elements, the product performance can be used as the basis for the absence of new industrial designs based on the principle of "Public Domain", considering the aesthetic elements are one of the requirements of an item that can be categorized as Industrial Design. In the other hand, the protection period has expired and became a "Public Domain" then it can be registered as an Industrial Design if it packed with an aesthetic elements. If an item does not have an aesthetic impression, it can be ascertained that the item is not an industrial design and can be possible not to have novelty and become public property. Aesthetic impressions do not contradict with the laws and regulations, but this is an important requirement so the design can be categorized as an industrial design. In ordinance No. 31 in 2000 concerning Industrial Design itself does not limit of the notion novelty and aesthetics so, the multiple interpretations are often occur.
Personal Data Protection Law Used in Mobile Phone Sim Card Registration in Indonesia
mahendri putri sholichah;
Dewi Rumaisa
Notaire Vol. 1 No. 2 (2018): NOTAIRE
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (307.267 KB)
|
DOI: 10.20473/ntr.v1i2.9434
The growths of technology make the privacy of personal information become an important issue in most countries, including Indonesia. Utilization of personal data is common things in most of our activity within the cyberspace and in this case, even the advancement of technology cannot neglect the privacy of personal information. The abusing of the data record, especially the data that belongs to the personal data category, the information that exists within this data could go to the public when it is leaked. One of the cases related to the personal data abuse is registration of thirty mobile phone SIM cards using one person’s personal information without the consent of personal information owner. This paper explains about personal data cases related to the mobile phone SIM card registration, and from this case, some issues about the abusing of personal data will be taken as an example to give consideration for legislating personal data protection. Moreover, this paper also explores the purpose of personal data collection, sensitive data collection, limitation of data collection, storage of collected personal data, transfer of collected personal data, and deletion of collected personal data. This paper convinces the urgency drafting of personal data protection law for country likes Indonesia. Therefore it is hoped that this paper will become one of many considerations for the Indonesian government to include personal data protection law into their national legislation program and legislate the personal data protection law in recent times.
Akibat Hukum Perjanjian Fidusia yang Dibuat dengan Akta Dibawah Tangan
Rexy Rionaldi Refri
Notaire Vol. 1 No. 1 (2018): NOTAIRE
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (23.165 KB)
|
DOI: 10.20473/ntr.v1i1.9101
Perkembangan di bidang ekonomi dan perdagangan telah mempengaruhi berkembangnya aneka jenis perjanjian dalam masyarakat. Salah satunya adalah perjanjian pinjam-meminjam melalui lembaga pembiayaan dengan perjanjian standar. Dalam hal Fidusia wajib membuat Akta Fidusia secara otentik serta melakukan pendaftaran agar terbit Sertipikat Fidusia agar memudahkan kreditor untuk melaksanakan eksekusi jika debitor cidera janji. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah doctrinal legal research. Akibat hukum perjannjian fidusia yang dibuat dibawah tangan yaitu mengenai akibat hukum terhadap proses eksekusi serta perlindungan hukum debitor. Ditinjau dari peraturan perundang-undangan di Indonesia Perusahaan pembiayaan konsumen dalam hal menyediakan barang kepada nasabah wajib diikuti dengan pembuatan akta jaminan fidusia dihadapan Notaris serta melakukan pendaftaran agar proses eksekusi tersebut dapat menjadi legal. Dalam hal perlindungan hukum debitor, Indonesia memiliki peraturan Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang didalamnya membahas mengenai lembaga Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), masyarakat diharapkan melakukan pelaporan kepada lembaga tersebut jika eksekusi yang dilakukantidak sesuai dengan Undang-Undang Jaminan Fidusia.
Akibat Hukum Pelanggaran Legitieme Portie Melalui Akta Wasiat Menurut Burgelijk Wetboek (Studi Kasus Putusan Nomor 3109 K/ PDT/2015)
Fisuda Alifa Mimiamanda Radinda;
Ricka Auliaty Fathonah
Notaire Vol. 2 No. 2 (2019): NOTAIRE
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (312.747 KB)
|
DOI: 10.20473/ntr.v2i2.13226
The purposes of this article are to know the legal consequences if the legitimate rights of Portie's heirs are violated due to the will of the heir. This research is normative legal research particulary prescriptive research. The data research are in the form of primary materials and secondary materials. The technique of collecting legal materials is literature study technique. The approaches in this research are legislation approach and case approach. The conceptual framework is deductive. The results of this article indicate that the legal consequences arising from the violation of the legitimate portie rights are the cancellation of the will. Because the will is deemed defective and should be null and void.
Konsep Pengelolaan Sumber Daya Air Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 85/PUU-XI/2013
Aqiel Al Rosyid Noor;
Alfian Khunaefi
Notaire Vol. 2 No. 1 (2019): NOTAIRE
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (398.338 KB)
|
DOI: 10.20473/ntr.v2i1.13167
On 2013 Supreme court nullified Law Number 7 Year 2004 on water resources management, and reenacted Law Number 11 Year 1974 on irrigation. Law Number 7 Year 2004 considered to oppose Constitution because right to utilize water can be given to the private party or individual. Although, right to utilize water by private party have been constituted under Law Number 7 Year 2004 also have been nullified by Supreme Court; however it doesn’t close any possibilities for any private party or individual to be able to manage water resource, because on Law Number 11 Year 1974 constitute that legal entitiy, social enterprise or individual authorize to utilize water and/or water resource with certain requirement through gained permission from government. However, it is question; although Law Number 7 Year 2004 have been nullified but Law Number 11 Year 1974 still in place; though, both Laws constitute similar concept on water utilization.
Asas Itikad Baik Dalam Memorandum Of Understanding Sebagai Dasar Pembuatan Kontrak
Margaretha Donda Daniella;
William Tandya Putra;
Erich Kurniawan Widjaja
Notaire Vol. 2 No. 2 (2019): NOTAIRE
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (329.725 KB)
|
DOI: 10.20473/ntr.v2i2.13122
Memorandum of Understanding (MoU) merupakan salah satu bentuk dari perjanjian pendahuluan yang digunakan sebagai pendahuluan untuk mengadakan perjanjian selanjutnya yang lebih rinci dan pasti yang termasuk kedalam fase prakontrak. Pada prinsipnya MoU tidak memiliki kekuatan mengikat sebagaimana kontrak pada umumnya, sehingga para pihak diwajibkan untuk menerapkan prinsip itikad baik dalam pembuatan dan pelaksanaan MoU, karena prinsip itikad baik ini memandang bahwa MoU merupakan tahap penting untuk ditindaklanjuti. Prinsip-prinsip dasar dalam MoU ialah prinsip kebebasan berkontrak, prinsip konsensualisme, prinsip daya mengikat kontrak (pacta sunt servanda) dan prinsip itikad baik. Substansi dari MoU ialah berisi kesepakatan para pihak tentang hal-hal yang bersifat umum, dan bukannya berisi hak dan kewajiban para pihak. Jika substansi MoU memuat hak dan kewajiban para pihak, maka MoU tersebut telah kehilangan esensinya sebagai perjanjian pendahuluan dan mengakibatkan MoU tersebut mengikat para pihaknya dan memiliki kekuatan hukum, sehingga segala bentuk pelanggaran dari MoU dapat diajukan gugatan atas perbuatan wanprestasi ataupun perbuatan melanggar hukum. Akan tetapi terhadap MoU sebagai perjanjian pendahuluan tidak dapat diajukan gugatan wanprestasi karena dalam MoU tersebut tidak memuat hak dan kewajiban sehingga tidak ada janji yang diingkari, akan tetapi dapat diajukan gugatan perbuatan melanggar hukum atas kerugian yang diderita oleh pihak yang dirugikan akibat pengingkaran dari MoU tersebut.
Akibat Hukum Anak Yang Lahir Dari Perjanjian Surrogate Mother
Ida Bagus Abhimantara
Notaire Vol. 1 No. 1 (2018): NOTAIRE
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (288.691 KB)
|
DOI: 10.20473/ntr.v1i1.9097
Kemajuan teknologi di bidang kedokteran khususnya mengenai kehamilan non-alamiah seperti surrogate mother yang dituangkan dalam suatu perjanjian tentunya akan memiliki akibat-akibat hukum khususnya pada tulisan ini mengenai akibat hukum anak yang lahir dari perjanjian surrogate mother. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah doctrinal legal research. Akibat hukum anak yang lahir dari perjanjian surrogate mother yaitu mengenai kedudukan hukum anak tersebut dan hak waris yang dimiliki anak tersebut. Ditinjau dari peraturan perundang-undangan di Indonesia anak yang lahir akibat dari perjanjian surrogate mother merupakan anak sah dari ibu penggantinya dan bukan merupakan anak sah dari orang tua biologisnya, dan dalam hal hak warisnya jika anak tersebut digolongkan sebagai anak sah maka anak tersebut dapat mewaris penuh dari ibu penggantinya dan suaminya, sedangkan jika anak tersebut digolongkan sebagai anak luar kawin maka anak tersebut hanya memiliki hubungan keperdataan saja dengan ibu yang melahirkannya.