cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Search results for , issue "2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI" : 85 Documents clear
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PADA KEGIATAN OPERASI TAMBANG DARAT BIJIH TIMAH MENGGUNAKAN METODE BOREHOLE MINING DI WIUP PT. TIMAH, TBK Nomensen Ricardo; Dewi Ayu Kusumaningsih; Teguh Nurhidayat
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.102

Abstract

ABSTRAK Borehole mining (BHM) merupakan metode penambangan menggunakan aliran air bertekanan tinggi (water jet) dan dikombinasikan dengan sistem pemompaan slurry dari bawah tanah. Dalam upaya meningkatkan produksi bijih timah, PT. TIMAH, Tbk melakukan kegiatan penambangan menggunakan metode BHM. Pemilihan metode penambangan BHM bertujuan untuk menambang sumberdaya marginal tanpa memerlukan stripping overburden (OB), dengan prinsip kerja: membuat lubang vertikal hingga dasar zona target menggunakan alat holemaker; dengan memanfaatkan tekanan water jet, air akan memberai material di sekelilingnya; saat material terberai, pompa tanah siap menghisap slurry hingga ke permukaan. Kapasitas penambangan efektif menggunakan metode BHM adalah 750 m3/bulan, dengan jam jalan efektif alat 125 jam/bulan. Kegiatan penambangan dengan metode BHM ini, berpotensi menimbulkan masalah lingkungan diantaranya terbentuknya lubang bekas penambangan (void) dan genangan air di sekitar lokasi tambang. Pemindahan tanah dari bawah permukaan pada kegiatan ore getting dengan volume 750 m3 dapat mengganggu struktur dan kekuatan tanah sehingga menyebabkan runtuhan/amblesan yang pada akhirnya menghasilkan void. Pengelolaan lingkungan yang tidak baik dapat menimbulkan masalah yang serius terhadap bentang lahan dan akan menimbulkan dampak turunan seperti masalah sosial. Perencanaan desain penutupan lahan dengan metode backfilling menjadi terobosan untuk mengatasi void yang ada. Prinsipnya, material yang akan diambil pada titik penambangan berikutnya ditransfer ke void sebelumnya yang telah terbentuk dan demikian seterusnya. Di samping itu, dilakukan revegetasi di sekitar lokasi penambangan BHM untuk meningkatkan daya dukung tanah. Limpasan air ke permukaan secara kontinu menyebabkan kondisi lahan sekitar menjadi lembab (jenuh air) sehingga daya dukung tanah menurun. Kegiatan penambangan menggunakan metode BHM di PT. TIMAH, Tbk memang merupakan suatu terobosan dalam konservasi cadangan bijih timah. Namun, aspek lingkungan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Pengelolaan lingkungan yang tepat dapat meminimalkan masalah lingkungan yang terjadi. Lubang-lubang berdiameter 1,5 hingga 3 meter yang dihasilkan dapat diatasi dengan sistem back-filling. Limpasan air di permukaan diatasi dengan perencanaan sistem penirisan tambang yang terencana yaitu dengan pembuatan jalur/paritan di sekitar area penambangan. Kata kunci: borehole mining, void, backfilling  ABSTRACT Borehole mining (BHM) is a mining method using high pressure water flow (water jet) and combined with an underground slurry pumping system. In an effort to increase tin ore production, PT. TIMAH, Tbk conducts mining activities using the BHM method. The selection of the BHM mining method aims to mine marginal resources without the need for stripping overburden (OB), with the working principle: making vertical holes to the bottom of the target zone using a holemaker; by utilizing the pressure of a water jet, water will fill the surrounding material; when the material is dispersed, the ground pump is ready to suction the slurry to the surface. The effective mining capacity using the BHM method is 750 m3 / month, with effective road hours of 125 hours / month. Mining activities using the BHM method have the potential to cause environmental problems including the forming of void pits and puddles around the mine site. Displacement of soil from below the surface in ore getting activities with a volume of 750 m3 can disrupt the structure and strength of the soil, causing collapse / subsidence which eventually produces voids. Improper environmental management can cause serious problems for the landscape and will cause derivative impacts such as social problems. Land cover design planning with backfilling method is a breakthrough to overcome existing voids. In principle, the material to be taken at the next mining point is transferred to the previously formed voids and so on. In addition, revegetation was carried out around the BHM mining location to increase the carrying capacity of the soil. The runoff of water to the surface continuously causes the surrounding land to become moist (saturated with water) so that the carrying capacity of the soil decreases. Mining activities use the BHM method at PT. TIMAH, Tbk is indeed a breakthrough in the conservation of tin ore reserves. However, environmental aspects also need to be considered. Proper environmental management can minimize environmental problems that occur. The holes with a diameter of 1.5 to 3 meters produced can be overcome with a back-filling system. Surface runoff is overcome by planning a planned mine drainage system by making a path / trench around the mining area Key Words: borehole mining, void, backfilling  
PREDIKSI PEMBENTUKAN DAN KUALITAS AIR PIT LAKE: BERDASARKAN KONDISI HIDROLGI DAN GEOKIMIA BATUAN Ginting J Kusuma; Kris Pranoto; Edy J Tuheteru; Imanuel Manege; Rudy S Gautama
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.118

Abstract

ABSTRAK Pada akhir masa penambangan, tambang batubara terbuka akan membentuk kolam tambang (pit lake) yang kualitas air bentukannya dipengaruhi oleh kualitas air lindian tiap litologi batuan dinding pit. Lokasi penelitian dilakukan di salah satu pit di wilayah Kalimantan, dengan litologi batuan dinding pit terdiri dari 30% batuan yang berpotensi asam dan 70% batuan yang tidak berpotensi asam dengan kualitas air sump memiliki pH yang rendah. Penilitian ini dilakukan untuk membuat prediksi pengisian pit dengan air dan waktu yang dibutuhkan sampai pit terisi dengan air secara penuh selain itu juga dilakukan prediksi kualitas air yang akan terbentuk. Berdasarkan data hidrologi yang ada, maka pit pada lokasi penelitian diprediksi akan terisi penuh dan mencapai permukaan air yang stabil pada tahun ke-36 dengan total volume air 24.000.000 m3, sumber air utama yang digunakan untuk menghitung lama waktu terisi air adalah air hujan yang jatuh langsung ke dalam pit, tanpa memperhitungkan luasan tangkapan hujan di sekitar pit. Prediksi kualitas air pada pit lake dilakukan dengan pencampuran (mixing) air lindian pada tiap litologi dinding pit menggunakan perangkat lunak PHREEQC dengan data karakteristik geokimia, kualitas air lindian sampel, dan kandungan mineral pada batuan, berdasarkan data tersebut, maka dilakukan prediksi kualitas air dengan menggunakan tiga skenario yakni skenario optimis, konservatif dan proporsional. Hasil yang diperoleh pada prediksi kualitas air terutama untuk nilai pH yang akan terbentuk di tahun ke-36 adalah sebagai berikut skenario optimis sebesar 6,8, skenario konservatif sebesar 3,13 dan skenario proporsional adalah sebesar 3,42.  
MANAJEMEN STOCKPILE DALAM MENINGKATKAN KEEFEKTIFAN DAN KETERATURAN STOCKPILE PT GAG NIKEL Gagah Arofat
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.59

Abstract

ABSTRAK PT Gag Nikel termasuk salah satu dari 13 perusahaan yang diperbolehkan melakukan aktivitas pertambangan dengan sistem tambang terbuka di wilayah hutan lindung, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Luas wilayah Kontrak Karya 13.136 Ha sedangkan luas Pulau Gag adalah 6.030,53 Ha. PT Gag Nikel memperoleh  Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan untuk Kegiatan Operasi Produksi Nikel dan Sarana Penunjangnya Seluas 603,25 Ha. Secara singkat geologi daerah Pulau Gag tersusun oleh 2 (dua) satuan batuan yang dominan yaitu batuan vulkanik bagian Utara (menempati 1/3 daratan) dan bagian Selatan batuan ultramafik (menempati 2/3 daratan). PT Gag Nikel memulai kegiatan operasional penambangan pada bulan Januari 2018 sedangakan untuk estimasi sumberdaya per 31 Desember 2018 adalah limonit 154,36 juta WMT kadar Ni 1,46 % dan saprolit 160,08 juta WMT kadar Ni 1,92 % dan untuk cadangan per 31 Desember 2018 adalah limonit 8,22 juta WMT kadar Ni 1,55 % dan saprolit 39,54 juta WMT kadar Ni 1.89 %. Manajemen stockpile adalah bagian penting dalam proses penambangan Nikel laterit, hal ini dikarenakan berkaitan dengan proses blending selanjutnya, proses pengeringan, dan kepastian barging serta penjadwalan pengapalan. Mengingat umur tambang yang masih panjang dengan target produksi 3 juta WMT tiap tahun untuk itu penanganan stockpile menjadi hal yang sangat penting dalam rantai produksi. Departemen yang berkaitan langsung dengan hal ini adalah Departemen Qa/ Qc. Departemen tersebut bertugas untuk memantau perkembangan stockpile terkait kuantitas dan kualitasnya. Setiap stockpile memiliki kadar (rata-rata), MC S/M yang berbeda-beda. Selama ini stockpile yang ada selalu diukur volume, MC, dan kadarnya, sehingga nantinya dapat digunakan/diprediksi untuk melakukan rencana blending dengan stockpile yang lain (secara keseluruhan) saat ditransport ke barge atau final stockpile area (EFO - Exported Final Ore). Pengambilan sample dilakukan dengan increement (per- 2 truck DT) dan dilakukan komposit setiap 10 increement (20 DT) untuk menghasilkan satu assay dari pit tambang menuju rencana stockpile yang akan ditempatkan (dumping). Dalam rangka untuk meningkatkan keefektifan dan keteraturan stockpile maka diperlukan sistem yang baik dalam penanganannya. Untuk itu dibuatlah metode terkait manajemen stockpile yang terdiri dari lokasi, desain, dan perawatan stockpiles. Diharapkan metoda ini dapat menjaga kualitas dan kuantitas serta memudahkan pengaturan blending. Kata kunci :  Cadangan, Manajemen, Pulau Gag, Sumberdaya, Stockpile
PENINGKATAN KUALITAS FRAGMENTASI DAN DIGGING TIME DENGAN MENGGUNAKAN DETONATOR ELEKTRONIK DI PIT CMD PT KALTIM PRIMA COAL Aris Hermawanto; Radja Nove Putra
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.76

Abstract

ABSTRAK Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kualitas hasil peledakan adalah tingkat keakurasian waktu tunda dari sistem inisiasi peledakan yang digunakan. Saat ini, peledakan di Pit PAMA CMD PT Kaltim Prima Coal (PT KPC) menggunakan detonator non electric (nonel) yang memiliki tingkat keakurasian waktu tunda sebesar ±97-98% dari waktu tunda rencana. Hasil analisis fragmentasi menggunakan software WipFrag™ dan pengukuran digging time pada peledakan nonel menunjukkan % passing 300 mm (P30) sebesar 80,64% dengan digging time 11,10 detik di Pit Pelikan dan P30 sebesar 82,66% dengan digging time 10,41 detik di Pit Kanguru. Ukuran fragmentasi pada peledakan nonel di Pit PAMA CMD aktualnya telah memenuhi standar ukuran fragmentasi yang diterapkan di PT KPC yaitu P30 ≥ 80%, namun masih terdapat potensi untuk meningkatkan hasil ini dengan menggunakan detonator elektronik DigiShot™ Plus (DS+). Penggunaan DS+ yang memiliki tingkat keakurasian waktu tunda mencapai ±99.8% dari waktu tunda rencana, selain dapat meningkatkan kualitas ukuran fragmentasi juga dapat memperbaiki digging time dan mengurangi penggunaan Lead in Line (LiL) dengan aplikasi remote firing. Hasil peledakan DS+ di Pit Pelikan menunjukkan P30 sebesar 86,24% atau 5,6% lebih tinggi dibanding peledakan nonel dengan digging time 10,22 detik atau 7,9% lebih cepat dibanding peledakan nonel. Sementara data yang didapat di Pit Kanguru menunjukkan P30 sebesar 87,55% atau 4,9% lebih tinggi dengan digging time 9,66 detik atau 7,2% lebih cepat dibanding peledakan nonel. Data ini didapatkan dari penggunaan DS+ sebanyak 8.541 unit di 89 lokasi peledakan di Pit Pelikan dan Pit Kanguru PAMA CMD PT KPC. Selaras dengan peningkatan pada kualitas fragmentasi dan digging time, peledakan DS+ di Pit PAMA CMD juga berkontribusi terhadap perbaikan produktivitas alat gali yang meningkat ±2,5% dan penghematan penggunaan LiL sepanjang 49,8 km. Dapat disimpulkan, penggunaan detonator elektronik pada peledakan sangat berpotensi untuk meningkatkan kualitas hasil peledakan dan penghematan biaya peledakan jika diaplikasikan dengan optimal. Kata kunci: elektronik, fragmentasi, digging time   ABSTRACT One important factor that influences the quality of blasting results is the accuracy of the delay of the blasting initiation system used. At present, the blast activity at PAMA CMD Pit PT Kaltim Prima Coal uses a non-electric (nonel) detonator which has a delay time accuracy of ± 97-98% of the planned delay. The results of fragmentation analysis using WipFrag™ software and measurement of digging time on nonel blasting showed % passing 300 mm (P30) was 80.64% with digging time of 11.10 seconds in the Pelikan Pit and P30 of 82.66% with digging time of 10.41 seconds in the Kanguru Pit.The size of the fragmentation in nonel blast at PAMA CMD Pit actually has met the standard fragmentation size applied at PT KPC which is P30 ≥ 80%, but there is still potential to increase this result by using the DigiShot ™ Plus (DS +) electronic detonator. The use of DS + which has an accuracy of delay time reaching ± 99.8% of the plan delay time, not only to increase the quality of the fragmentation size, but also improve digging time and reduce the use of Lead in Line (LiL) with remote firing applications. The results of DS + blasting in Pelikan Pit showed P30 was 86.24% or 5.6% higher than nonel blasting with digging time 10.22 seconds or 7.9% faster than nonel blasting. The data obtained in the Kanguru Pit showed P30 was 87.55% or 4.9% higher with a digging time of 9.66 seconds or 7.2% faster than nonel blasting. This data was obtained from the use of DS + as many as 8,541 units in 89 blasting locations in the Pelikan Pit and the Kanguru PAMA CMD Pit PT KPC. In line with the improvement in the quality of fragmentation and digging time, DS + blasting in the PAMA CMD Pit also contributed to improved digging equipment productivity which increased by ± 2.5% and savings in the use of LiL along 49.8 km. It can be concluded, the use of electronic detonators in blasting has the potential to improve the quality of blasting results and blast cost savings if applied optimally. Keywords: electronics, fragmentation, digging time
KAJIAN GEOTEKNIK UNTUK OPTIMALISASI DESAIN TAMBANG BATUBARA MENGGUNAKAN LIMIT EQUILIBRIUM METHOD1) Luqmanul Hakim Maulana; vJerry Dwi Fajar S.T
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.92

Abstract

ABSTRAKPT XYZ sebagai salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan batubara yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Telah merencanakan pembuatan pit dan timbunan di suatu lahan yang belum dibuka. Oleh karena itu diperlukan studi geoteknik untuk menganalisa geometri lereng bukaan tambang serta timbunan yang telah direncanakan oleh pihak perusahaan.Kegiatan penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data primer yang diperoleh dari pengeboran geoteknik, pengukuran muka air tanah dari 9 titik yang dianggap mewakili karakteristik massa tanah atau batuan dari beberapa pit. Lapisan batuan penyusun lereng tambang didominasi oleh batupasir dan batulempung, dijumpai pula batu lanau, carbon disamping batubara yang akan ditambang. Tanah atau batuan di lokasi penelitian termasuk kriteria batuan sedang sampai lemah, dibuktikan oleh pendekatan indeks kekuatan geologi dan sifat mekanik batuan. Pengukuran muka air tanah di daerah penelitian termasuk dalam kondisi jenuh dengan kedalaman MAT 0,88 - 11,975 meter.Penelitian dilakukan dengan jumlah pit sebanyak 7 pit, dan 13 penampang (section) yaitu penampang A-A’ sampai dengan penampang N-N’, yang merepresentasikan bentuk dari tiap pit penambangan batubara meliputi highwall dan lowwall. Kemantapan lereng untuk rencana desain tambang awal pada penampang A-A’ sampai dengan penampang N-N’ untuk lereng highwall dan lowwall faktor keamanannya terdapat yang sudah stabil namun masih dapat dioptimalkan, stabil dan tidak stabil, sehingga untuk lereng yang berada dalam kondisi stabil yang dapat dioptimalkan dilakukan desain ulang dengan kemiringan lereng yang curam dari sebelumnnya, kemudian untuk lereng yang tidak stabil dilakukan desain ulang dengan kemiringan lereng yang landai dari sebelumnnya. Rekomendasi lereng untuk penampang A-A’ lereng highwall yaitu overall slope angle 330 dan tinggi lereng 69,665 m serta untuk lereng lowwall yaitu overall slope angle 130 dan tinggi lereng 48,105 m, penampang B-B’ lereng highwall yaitu overall slope angle 290 dan tinggi lereng 34,139 m serta untuk lereng lowwall yaitu overall slope angle 220 dan tinggi lereng 40,109 m, penampang C-C’ lereng highwall yaitu overall slope angle 300 dan tinggi lereng 97,900 m serta untuk lereng lowwall yaitu overall slope angle 150 dan tinggi lereng 69,284  m, penampang D-D’ lereng highwall yaitu overall slope angle 490 dan tinggi lereng 77,023 m serta untuk lereng lowwall yaitu overall slope angle 70 dan tinggi lereng 132,16  m. Kata Kunci:  Kestabilan Lereng, Highwall, Lowwall, Sidewall, Metode Kesetimbangan Batas  ABSTRACT PT XYZ as one of the companies engaged in coal mining located in Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan Province. Planned construction of pits and waste dump on land that has not been cleared. Therefore a geotechnical study is needed to analyze the geometry of the mine opening slope and the pile planned by the company.Research activities carried out by collecting primary data obtained from geotechnical drilling, groundwater level measurements from 9 points that are considered to represent the characteristics of the soil mass or rock from several pits. Rock layers making up the mine slope are dominated by sandstone and claystone, silt stone, carbon in addition to the coal to be mined. The soil or rocks at the study site are of moderate to weak rock criteria, evidenced by the geological strength index approach and rock mechanical properties. Based on ground water level measurements in the study area included in saturated conditions with a MAT depth of 0.88 - 11.975 meters from the surface.The study was conducted with a total of 7 pits, and 13 section sections, namely A-A section to N-N section, which represent the shape of each coal mining pit including highwall and lowwall. Slope stability for the initial mine design plan on cross sections A-A 'to N-N cross sections for highwall and lowwall slopes there are safety factors that are already stable but can still be optimized, stable and unstable, so for slopes that are in stable conditions that are can be optimized redesigned with a steep slope from the previous, then for unstable slopes redesigned with a safety slope from the previous. Recommended slopes for cross section A-A 'highwall slopes are overall slope angle 330 and slope height 69,665 m and for lowwall slopes are overall slope angle 130 and slope height 48,105 m, cross section B-B' highwall slopes are overall slope angle 290 and slope height 34,139 m and for lowwall slopes namely overall slope angle 220 and slope height 40,109 m, cross section C-C 'highwall slope is overall slope angle 300 and slope height 97,900 m and for lowwall slopes are overall slope angle 150 and slope height 69,284 m, cross section D-D 'highwall slope is 490 overall slope angle and 77.023 m slope height and lowwall slope angle 70 overall and 132.16 m slope height. Key Word:  Slope Stability, Highwall, Lowwall, Sidewall, Limit Equilibrium Method  
PENGGUNAAN APLIKASI I-SAFE DALAM PENERAPAN KESELAMATAN PERTAMBANGAN PT. BORNEO INDOBARA KALIMANTAN SELATAN Bakhtiar Rusandi Sinaga; Kinanto Prabu Werdana; Dicky Irwanto; Noor Hanafi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.108

Abstract

ABSTRAK Salah satu penyebab kecelakaan pertambangan adalah kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman dari pekerja pekerja tambang. cara efektif dalam mengelola bahaya tersebut adalah dengan melaporkan bahaya tersebut. Saat ini pelaporan bahaya tersebut diwajibkan kepada seluruh pengawas operasional, sayangnya hasil dari aktifitas tersebut belum terdokumentasi dengan baik karena proses masukan masih dilakukan secara manual sehingga perlu waktu yang tidak sedikit dan hasilnya belum efektif untuk memberikan rekomendasi perbaikan terhadap bahaya tersebut. Selain itu media untuk melakukan kegiatan tersebut menggunakan kertas, terkadang pengawas operasional kesulitan mendapatkan form ketika berada di lapangan sehingga menyulitkan pembuktian dokumentasi dalam menemukan kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dibuat system dan aplikasi dalam memudahkan proses dokumentasi dalam bentuk aplikasi mobile yang dapat di akses dalam kondisi offline/online,dimanapun, kapanpun melalui mobile phone dan database yang direkam dapat digunakan sebagai acuan dalam analisa dan evaluasi data untuk pengendalian pencegahan kecelakaan. Analisa dari aplikasi tersebut terbukti meningkatkan jumlah pelaporan kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman hingga 15% dari pelaporan menggunakan formulir. berdasarkan pelaporan bahaya tersebut, kita dapat mengetahui tempat-tempat kritis yang sering ditemukan adanya penyimpangan sehingga pada area tersebut lebih prioritas dalam pengendalian bahaya dan resiko yang timbul. Lebih dari itu aplikasi ini juga linier dengan misi perusahaan dalam pengelolaan lingkungan karena pengurangan pemakaian kertas menjadi digital. Berdasarkan hasil kajian diatas implementasi aplikasi I-Safe dapat meningkatkan kepedulian pekerja tambang mengenai keselamatan kerja dan database yang direkam dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang valid. Hal ini sejalan sebagai salah satu bentuk penerapan pengelolaan keselamatan pertambangan Indonesia dalam menghadapi era industri 4.0 mengenai digitalisasi, keselamatan dan pertambangan. Kata Kunci : aplikasi, I-Safe, database, evaluasi, keselamatan             ABSTRACT One of the causes of mining accidents is unsafe conditions and unsafe actions from mining workers. an effective way to manage the hazard is to report the hazard. Currently the hazard reporting is required for all operational supervisors, unfortunately the results of these activities have not been well documented because the input process is still done manually so that it takes a lot of time and the results have not been effective to provide recommendations for improvement of the hazard. In addition to the media to carry out these activities using paper, sometimes operational supervisors have difficulty getting forms while in the field, making it difficult to prove documentation in finding unsafe conditions and unsafe actions. Based on these problems, systems and applications are made to facilitate the process of documentation in the form of mobile applications that can be accessed in an offline / online condition, anywhere, anytime through a mobile phone and a recorded database can be used as a reference in the analysis and evaluation of data for accident prevention control. Analysis of the application has been proven to increase the number of reporting unsafe conditions and unsafe actions to 15% of reporting using forms. Based on the reporting of hazards, we can find out critical places that are often found irregularities so that the area is more priority in controlling hazards and risks that arise. Moreover, this application is also linear with the company's mission in environmental management because of the reduction in the use of paper to become digital. Based on the results of the study above the implementation of the I-Safe application can increase the concern of mine workers regarding work safety and the recorded database can be used as a basis for valid decision making. This is in line as one form of the implementation of Indonesian mining safety management in the face of the industrial era 4.0 regarding digitalization, safety and mining. Keywords: application, I-Safe, database, evaluation, safety  
INVENTARISASI POTENSI MINERAL BATUAN SEBAGAI BAHAN GALIAN UNGGULAN DI KOTA JAYAPURA PROVINSI PAPUA Bevie Marcho Nahumury
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.124

Abstract

ABSTRAK Kota Jayapura salah satu wilayah di Provinsi Papua yang memiliki sebaran mineral batuan cukup potensial. Sebaran potensi sumberdaya mineral batuan antara lain batugamping, batuan beku ultra basa, batu lempung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat peta potensi sebaran mineral batuan dengan menggunakan software ArcGIS 10.3. Kebutuhan akan mineral batuan khususnya batugamping sangat meningkat, hal ini dikarenakan proses pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan dan pembangunan rumah toko (ruko). Menurut data salah satu perusahaan tambang peningkatan   produksi batugamping secara nominal pemakaian batugamping adalah  43.200 m3dengan harga jual adalah sebesar Rp. 400.000/ret yang dimanfaatkan oleh beberapa kontraktor pembangunan jalan. Dari seluruh potensi mineral batuan yang ada di Kota Jayapura, batugamping dan batuan beku ultrabasa berpeluang untuk diusahakan sebagai mineral unggulan. Kata Kunci : Inventarisasi, Potensi, Galian Unggulan, Batuan, ArcGIS 10.3.  ABSTRACT Jayapura City is one of the regions in Papua Province which has quite a potential distribution of rock minerals. These mineral resources include limestone, ultra base igneous rock, and clay stone. The purpose of this study was to map out the distribution of these mineral rocks using the ArcGIS 10.3 software. The need for limestone greatly increases. This is due to the process of infrastructure development such as roads, bridges and the construction of stores. According to data from a mining company, limestone production reaches 43,200 m3 with a selling price of Rp. 400,000 / truck purchased by several construction contractors. Of all the potential rock minerals in Jayapura, limestone and ultramafic igneous rocks have the opportunity to be cultivated as superior minerals.  Keywords: Inventory, Potential, superior mined minerals, Rock, ArcGIS 10.3.
RUBBLE ROAD: UPAYA MENIADAKAN REHANDLE DI PIT BENDILI PRIMA. Andi Ardianto
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.53

Abstract

ABSTRAK Rubble Road merupakan pilihan membuat jalan di floor batubara dengan metode blasting. Project ini dilakukan di floor BN, Pit Bendili Prima pada July 2019 lalu dan bertujuan membentuk jalan pengganti dari pit ke dump point. Rubble  road di lakukan pada floor batubara bukan basal dengan interburden yang cukup lebar terhadap basal seamnya. Sehingga dapat dibentuk badan jalan dan terproyeksikan dinding yang lebih tegak terhadap seam floor terganggu. Berbeda dengan metode konvensional dan praktis yang kerap dilakukan, untuk mendapatkan bentuk jalan di area floor dilakukan dumping material. Tentunya ini akan berdampak pada cost tambahan ditahun mendatang. Karena overburden (ob)  kbcm yang dipakai untuk construct jalan, harus digali kembali untuk mendalamkan Pit. Eksekusi rubble road ini juga melibatkan team geotek untuk assesmentnya agar stabilisasi jalan tidak menjadi kendala dimasa mendatang. Kata kunci : rubble road, jalan pengganti, meniadakan rehandle.   ABSTRACT Rubble Road is an option to create a road  on the coal floor by blasting method. The project was carried out on the BN floor, pit Bendili Prima in July 2019 and is intended to provide a replacement road from pit to dump point.Rubble road is carried out on a non basalt coal floor with afairly wide interburden on the basal seam.So that the road can be formed and projected a wall that is more upright against the disturbed seam floor.Unlike the conventional and practical methods that are often done, to get the shape of the road in the floor area is carried out dumping material.Surely this will have an impact on additional costs in the coming year.Due to the over burden (ob) used for road construction, it has to be dug back to deepen the pit.The execution of this road also involves the geotech team for its assessment, so that road stabilization is not an obstacle in the future. 
OPTIMALISASI PENGEBORAN STERILISASI DAN VERIFIKASI HASIL 3D IP SURVEI DI PARBOTIKAN, MARTABE GOLD MINE, SUMATERA UTARA Siti Khodijah; Candra Kusuma; Henny Purnamasari
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.69

Abstract

ABSTRAK Sejalan dengan peningkatan sumber daya dan cadangan emas-perak di PT. Agincourt Resources (PTAR) dari tahun 2017-2018 dan mengkaji fasilitas penyimpanan tailing yang ada saat ini diperhitungkan tidak mampu menampung peningkatan volume tailing sehingga dilakukan penentuan lokasi yang baru. Pemilihan beberapa lokasi baru untuk fasilitas ini sudah dimulai sejak pertengahan tahun 2018 dan Departemen eksplorasi bekerja sama dengan Departemen project development ditugaskan untuk menyelidiki bahwa daerah yang dipilih adalah lokasi yang sesuai. Pengeboran dan data IP (Induced Polarisation) geofiska, digunakan untuk menentukan apakah lokasi yang diusulkan merupakan lokasi yang steril dari sumber daya mineral ekonomis dan stabil secara geoteknik.  Program pengeboran fase pertama sudah selesai pada Q1 tahun 2019, berdasarkan data geology permukaan, geokimia dan geofisika yang sudah ada sebelumnya. Limabelas titik bor dengan total kedalaman 6.802m telah dilakukan di daerah rencana dengan rata-rata total kedalaman 500 meter. Data geologi, struktur dan geokimia bawah permukaan yang diperoleh dari hasil pengeboran akan dikaji untuk menentukan apakah lokasi yang dipilih tepat dan cocok untuk fasilitas tailing manajemen. Fase pengeboran tahap 2 atau tindak lanjut sedang dilakukan, namun tergantung dari hasil survei IP 3D yang baru saja selesai dan saat ini juga sedang dilakukan pemodelan hasil pembacaan geofisika berupa data resistivitas dan chargeabilitas (jika ada indikasi anomali) di area yang belum dilakukan pengeboran sebelumnya, untuk memastikan bahwa area tersebut steril atau tidak terdapat mineral ekonomis. Ketersediaan data teknis dari program eksplorasi juga dapat digunakan untuk mendukung pekerjaan di departemen lain dan hal ini menguntungkan secara signifikan untuk penghematan biaya serta dapat memastikan bahwa pekerjaan selain geologi tidak mempengaruhi potensi/target eksplorasi di daerah tersebut dan memberikan gambaran untuk perencanaan pengeboran lebih lanjut untuk kondisi geoteknik setempat. Kata Kunci: IP Survei, chargeabilitas, geoteknik, geofisika, mineral   ABSTRACT As a consequence of an increase in resources and reserves at the Martabe Gold Mine in 2017-2018 the current tailings management facility will be unable to handle the additional tailings and therefore a new location is being pursued. The selection of several new locations for this facility began in mid-2018 and the exploration department in collaboration with the project development department was tasked with investigating that the area chosen was the appropriate location. Drilling and IP (Induced Polarisation) geophysical data was used to determine if the proposed location is likely to contain any significant economic mineralisation and is geotechnically stable.A first phase drilling program that was based on historical surface geology, geochemical and geophysics data was completed in Q1 of 2019. Fifteen drill holes with total of 6,802m were collared within or proximal to the proposed location and were drilled to an average depth of 500m. Subsurface geology, structure and geochemical data acquired in the Phase 1 drilling program was reviewed to determine if the area was suitable for facility tailings management. A second or follow up drilling phase is being considered but is dependent on the results of a recently completed 3D IP survey that is currently being modelled which will provide resistivity and chargeability geophysical signatures (if any) over the area not yet drill tested to ensure that the area is sterile of economic mineralisation. The availability of technical data from Exploration programs being made available to other departments can be significant for cost saving measures and ensure that non geological projects do not affect the exploration potential in the district and provide an overview for further drill planning for geotechnical conditions. Keywords: IP Survey, chargeability, geotechnical, geophysics, mineral
MUNGKINKAH KERUGIAN LINGKUNGAN HIDUP AKIBAT PERTAMBANGAN DAPAT DIKATEGORIKAN SEBAGAI TINDAK PIDANA KORUPSI? Franky Butar Butar; Iqbal Feliciano; Thoriq Mulahela
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.129

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bermula dari inisiatif dari Jaksa pada KPK pada tahun 2017 yang mendakwakan bahwa kerugian lingkungan hidup dapat dianggap sebagai kerugian keuangan negara pada kasus pemberian izin usaha pertambangan oleh mantan gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam di beberapa daerah yang menjadi kewenangannya. Jaksa pada KPK menggunakan instrumen kerugian lingkungan hidup untuk menghitung kerugian keuangan negara yang merupakan salah satu elemen dalam tindak pidana korupsi. Tulisan ini akan menjelaskan secara deskriptif tentang peluang KPK untuk memperhitungkan kerugian lingkungan hidup sebagai kerugian keuangan negara dalam tindak pidana korupsi yang berujung pada persoalan apakah mungkin kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup akibat pertambangan dapat memenuhi unsur merugikan keuangan negara dalam tindak pidana korupsi. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian normatif dengan pendekatan peraturan perudang undangan dan studi kasus Nur Alam. Dari analisa hukum yang dilakukan bahwa ada beberapa permasalahan dalam penentuan kerugian lingkungan sebagai kerugian keuangan negara karena hal ini mencakup banyak hal yaitu terkait keuangan negara, perizinan pertambangan, penegakan hukum lingkungan dan terakhir mengenai kategorisasi tindak pidana korupsi. Lebih lanjut bahwa penelitian ini menjelaskan bahwa kerugian lingkungan hidup berpeluang menjadi sebagai tindak pidana korupsi karena lingkungan dianggap sebagai barang milik publik yang tercakup sebagai kekayaan negara sehingga kerusakan atas lingkungan hidup adalah kerusakan pada kekayaan negara yang berujung pada kerugian keuangan negara. Hal yang juga menjadi penting dalam hal ini adalah apakah dalam proses perizinan pertambangan memenuhi unsur unsur dalam tindak pidana korupsi. Selain itu jika tuntutan ini tidak dipenuhi, maka KPK dapat meminta kementerian yang berwenang untuk mengajukan gugatan secara perdata. Penerapan instrumen lingkungan ini juga memiliki tantangan terkait aturan yang jelas dan tegas terkait kerugian lingkungan hidup yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi.Kata Kunci: Kerugian Lingkungan Hidup, Pertambangan, Tindak Pidana Korupsi ABSTRACTThis research comes from the initiative of the Prosecutor at the Commission of Corruption Eradication of Indonesia (KPK) in 2017 which claims that environmental losses can be considered as state financial losses in the case of mining business licenses granted by former Southeast Sulawesi governor Nur Alam in several areas under his authority. Prosecutors at the KPK use environmental loss instruments to calculate state financial losses which are one of the elements of corruption. This paper will explain descriptively about the opportunity of the KPK to calculate environmental losses as state financial losses in corruption which lead to the issue of whether environmental damage and or pollution caused by mining can meet the elements of detrimental to state finances in criminal acts of corruption. The method used in this study is normative research by legal and case study approach. From the legal analysis, we can see that there are several problems in determining environmental losses as state financial losses because this includes interdisciplinary which related to state finance, mining licensing, environmental law enforcement and finally regarding the categorization of criminal acts of corruption. In addition, this research explains that environmental loss has the opportunity to become a criminal act of corruption because the environment is considered as public property which is included as state assets so that damage to the environment is damage to state assets which results in state financial losses. Moreover, this case considers whether the mining permit process fulfils elements in corruption. Furthermore, if this lawsuit is not met, the KPK can ask the authorized ministry to sue a lawsuit. The application of environmental instruments also has challenges related to clear rules related to environmental losses that can be categorized as criminal acts of corruption. Keywords: Environmental Losses, Mining, Corruption