Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 4 No 2 (2018)"
:
10 Documents
clear
PELANGGARAN SIARAN TELEVISI LOKAL DAN PEMBERIAN SANKSI OLEH KPID SULSEL DI KOTA MAKASSAR
Andriansyah Andriansyah;
Andi Alimuddin Unde;
Hasrullah Hasrullah
Jurnal Jurnalisa: Jurnal Jurusan Jurnalistik Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jurnalisa.v4i2.6901
Televisi Lokal di Makassar sering melakukan pelanggaran P3SPS dan berulang-ulang pada pelanggaran yang sama hal ini berdasarkan ekspose hasil monitoring KPID Sulsel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelanggaran isi siaran yang dominan yang dilakukan oleh televisi lokal, bagaimana KPID Sulsel dalam mengelola sanksi, serta strategi kebijakan KPID Sulsel dalam meminimalisir pelanggaran. Desain penelitian adalah deskriptif kualitatif melalui pengamatan langsung terhadap objek dengan mewawancarai Komisioner KPID Sulsel dan Ketua KPI Pusat serta kajian pustaka. Data dianalisis dengan menggunakan tabel frekuensi dan memperhatikan kebijakan komunikasi yang diambil oleh KPID Sulsel dalam meminimalisir pelanggaran isi siaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelanggaran televisi lokal yang paling dominan didapatkan oleh KPID Sulsel adalah Pelanggaran Penggolongan Program Siaran. Untuk tahun 2014 terdapat 17.392 pelanggaran dan tahun 2015 terdapat 15.306 pelanggaran. Pengelolaan sanksi KPID Sulsel tidak maksimal karena perbedaan yang sangat siginifikan antara pelanggaran dengan pemberian sanksi dan strategi kebijakan yang dikeluarkan oleh KPID Sulsel adalah kebijaksanaan terkait penempatan penggolongan program siaran, serta melakukan sosialisasi, pelatihan dan pembinaan kepada lembaga penyiaran melalui program kegiatan antara lain GESIT, KPID AWARD, FGD serta Literasi Media kepada Masyarakat melalui Program Kegiatan GEMES, FMPPS.
DISEMINASI INTEGRASI KEILMUAN JURNALISME PROFETIK DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM JURUSAN JURNALISTIK
Firdaus Muhammad
Jurnal Jurnalisa: Jurnal Jurusan Jurnalistik Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jurnalisa.v4i2.6891
Penelitian ini difokuskan pada diseminasi integrasi keilmuan Jurnalistik Profetik dipertautkan dengan dimensi Islam atau kenabian. Dalam penelitian Jurnalistik Profetik ini, penulis menyajikan perlunya internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai Islam bukan semata yang berdasar pada syar’i atau syariat. Kajian Jurnalistik Profetik pada dasarnya masih tergolong baru, karenanya aspek tersebut menarik dikaji. Sementara penekanan dimensi Islamnya justru diinternalisasikan dan diaktualisasikan dalam proses komunikasi tersebut sehingga mampu mewarnai perilaku Jurnalistik Profetik dengan penekanan pada pesan-pesan keislaman. Pengembangan kurikulum jurnalistik menjadi aspek penting sebagai respons terhadap perkembangan keilmuan jurnalistik era digital yang terhadang dimensi etika yang acapkali terabaikan. Karenanya, penting dilakukan diseminasi pengembangan jurnalisme profetik.Temuan dalam penelitian ini, kurikulum jurusan jurnalistik masih didominasi muatan jurnalistik bersifat umum. Hal itu belum berimbang dengan tuntutan terhadap alumni jurusan jurnalistik UIN memiliki perbedaan pada karakter penulisan berita. Integrasi keilmuan jurnalistik dengan ilmu-ilmu keislaman di FDK-UIN belum terwujud, ditandai mata kuliah jurnalsitik secara parsial. Tidak ada mata kuliah jurnalistik untuk penguatan SDM jurnalis Islami sesuai visi-misi jurusan, kecuali mata kuliah jurnalisme profetik yang posisinya sebatas mata kuliah pilihan. Rekomendasi penelitian ini, jurusan jurnalistik harus melakukan revisi kurikulum untuk penguatan jurusan yang melahirkan jurnalis Islami. Alumni yang dilahirkan selama ini belum memenuhi kreteria tersebut.
AGRESI MEDIA DAN KEMATIAN RUANG SOSIAL (Tafsir Sosiologis atas Hegemoni Media Sosial)
Sakaruddin Mandjarreki
Jurnal Jurnalisa: Jurnal Jurusan Jurnalistik Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jurnalisa.v4i2.6896
Ada fenomena lompatan kuantum dalam realitas kehidupan kita saat ini terutama pada aspek bagaimana pergeseran pola-pola interaksi terjadi, yakni dari interaksi yang bersifat obyektif (off line interaction) ke pola interaksi virtual yang palsu (on line interaction). Media sosial mensegregasi tatanan sosialitas masyarakat ke dalam dua corak atau fragmen besar; off line society dan on line society. Nyaris tak seorang pun saat ini yang tidak terpapar ekstasi media yang makin hegemonik. Euforia menyeruak ke permukaan seolah tenggelam dalam perayaan kelahiran budaya baru yang sebenarnya berkarakter destruktif. Kita mengalami disrupsi, terasing dari dunia realitas yang sebenarnya yang ditandai dengan memudarnya kohesi sosial antara individu yang satu dengan lainnya. Baudrillard melukiskan situasi ini dengan ungkapan “implosion”. Media massa telah menyatukan manusia lalu kemudian membiarkannya meledak ke dalam batas-batas geografi, bangsa, ideology, kelas, cair luluh begitu saja. Yang tertinggal hanya satu; massa dengan ketidakpastian ini muncul akibat goncangan dan penetrasi media yang terus menerus. Ziqmunt Bauman mengilustrasikan situasi ini sebagai menguatnya wilayah estetik dan sekaligus memudarnya wilayah kognitif dan wilayah moral. Martin Buber selanjutnya menamainya fenomena “mismeeting”; orang lain tidak berdiri sebagai sebagai sesama (neighbor) maupun orang asing (alien) melainkan stranger. Mereka berada di satu tempat tetapi tidak kenal. Atau menurut St. Sunardi, mereka satu rasa namun ada civic indifference. Ringkasnya, media saat ini, khususnya media sosial telah hadir dengan wajah ganda; ia dipuja namun dicaci. Dipuja karena manusia terfasilitasi secara mudah untuk mengintegrasikan dirinya ke dalam sebuah dunia yang kompleks namun tanpa sistem pengendalian yang efektif. Dan dicaci karena media sosial juga mengandung polusi media yang terbukti mampu memberangus secara kasar moralitas dan sosialitas masyarakat penggunanya.
JURNALIS SEBAGAI JURU DAKWAH
Qudratullah Rustam
Jurnal Jurnalisa: Jurnal Jurusan Jurnalistik Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jurnalisa.v4i2.6892
Menjamurnya media saat ini menjadi salah satu tantangan masyarakat dalam menjaga kondisi lingkungan yang lebih harmonis. Sebagaimana diketahui bahwa media banyak mengambil peran dalam memengaruhi perilaku masyarakat. bukan hanya memberikan pengaruh positif, tetapi juga pengaruh negative yang banyak mengancam keharmonisan di lingkungan masyarakat. sebagai bagian dari media, jurnalis diharapkan mampu menjadi bagian utama dari terciptanya lingkungan yang harmonis melalui berita-berita yang disajikan kepada khalayak. Dengan adanya kesamaan antara jurnalis dan juru dakwah, yakni sama-sama menyebarkan informasi kepada khalayak luas. Sehingga jurnalis akan lebih mudah melakukan peran ganda sebagai jurnalis dan juga juru dakwah. Tentu dengan menyajikan berita-berita yang mengandung nilai-nilai dakwah yakni mengajak pada kebaikan, kedamaikan dan memiliki nilai-nilai kegembiraan bagi masyarakat. Selain itu, jurnalis juga diharapkan mampu memberikan cerminan diri yang baik dari perilakuka di lapangan ketika menjalankan tugasnya. Seruan kepada kebaikan dan seruan menjahi kemungkaran oleh seorang jurnalis sudah sepantasnya dilakukan sebagai bagian dari terciptanya kondisi masyarakat yang harmonis.
TINGKAT PENGETAHUAN DAN PEMAHAMAN WARTAWAN TERHADAP KODE ETIK JURNALISTK (WARTAWAN KOTA MAKASSAR)
Harmin Hatta
Jurnal Jurnalisa: Jurnal Jurusan Jurnalistik Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jurnalisa.v4i2.6897
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Wartawan Terhadap Kode Etik Jurnalistik. Kemudian, mengetahui Pemahaman Wartawan Terhadap Kode Etik Jurnalistik. Selain itu untuk mencari tahu Penerapan Pengetahuan dan Pemahaman Kode Etik Jurnalistik. Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian kuantitatif-kualitatif konstruktif. Kemudian pengumpulan data yaitu: Observasi, interview, kuesioner, dokumentasi. Responden sekaligus sebagai Informan dalam penelitian ini adalah wartawan yang ada di Kota Makassar. Analisis data dalam pendekatan kualitatif-konstruktivis didahului oleh upaya mengungkap trustworthiness dari pada subjek penelitian. Trusworthiness ini diuji melalui pengujian: credibility subjek, autehenticity, Selanjutnya peneliti melakukan triangulation analisys serta reasoning yang logis. Tahapan berikutnya adalah melakukan intersubjectivity analisys. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan Kode Etik Jurnalistik sangat di butuhkan oleh para insan Pers yang mencari berita di lapangan. Kode Etik Jurnalistik tentunya diharapkan akan menjadi bekal para wartawan untuk menekuni sebuah profesi jurnalistik sehingga mereka dapat bekerja dengan baik dan benar. Kemudian upaya-upaya yang dilakukan oleh para wartawan dalam menekuni profesi ini sehingga mereka dapat melaksanakan, menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai wartawan yang profesional. Implementasi penelitian ini, ada beberapa hal yang menjadi harapan penulis sehubungan dengan Tingkat Pengetahuan Wartawan Terhadap, Kode Etik Jurnalistik Wartawan Kota Makassar, yaitu sebagai berikut :1). Kinerja wartawan hari ini lebih ditingkatkan lagi dalam mencari dan menerbitkan sebuah berita dan lebih mengedepankan nilai-nilai etika dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistrik sesuai dengan fakta yang terjadi dilapangan. 2). Tidak menyalah gunakan profesinya sebagai wartawan seperti, memeras narasumber yang dianggap punya masalah dengan hukum. 3). Lebih serius dalam menjalankan tugas sebagai wartawan, tentang apa yang mereka ketahui, pahami dan menjalankannya sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Dewan Pers pada tanggal 14 Maret Tahun 2006.
ETIKA DAN TANGGUNG JAWAB JURNALIS (STUDI PEMBERITAAN HOAX MELALUI MEDIA ONLINE DI KOTA MAKASSAR)
Andi Fadli
Jurnal Jurnalisa: Jurnal Jurusan Jurnalistik Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jurnalisa.v4i2.6893
Pengaruh besar digitalisasi teknologi informasi makin dirasakan saat ini. Pada konteks penyebaran informasi, digitalisasi membuka tranformasi atau pertukaran informasi dan pengetahuan pada arena yang lebih luas dengan jejaring yang serba cepat dan menjangkau hingga ke pelosok daerah. Digitalisasi teknologi informasi juga membawa informasi semakin dekat dengan individu baik dari segi waktu dan tempat. Lebih pesat lagi karena lahirnya aplikasi telepon pintar berteknologi digital, membuka akses terhadap informasi berlangsung kapan saja, dan di mana saja. Dengan berbekal aplikasi telepon pintar setiap individu bahkan dapat berperan secara langsung sebagai penyebar pesan atas peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Perkembangan ini membawa banyak dampak positif bagi keberlangsungan arus informasi sebagai satu ciri masyarakat yang inklusif dan demokratis. Dalam hal ini, arus informasi publik tidak lagi menjadi milik media-media mainstream yang akhir-akhir ini selalu dicurigai sebagai alat kepentingan.
PROSES GATEKEEPING TERKAIT REDISTRIBUSI KONTEN MEDIA SOSIAL: PERSFEKTIF GENERASI Z
Muannas Muannas
Jurnal Jurnalisa: Jurnal Jurusan Jurnalistik Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jurnalisa.v4i2.6898
Media sosial tampil menawarkan ladang subur bagi beranakpinaknya informasi. Para penggunanya menikmati layanan VIP (Very Important Person) dan dimanjakan dengan layanan kemudahan menerima dan mengirim informasi, tanpa sekat-sekat ruang dan waktu. Arus informasi pun mengalir deras dari berbagai arah yang tak terduga hingga melimpah ruah. Di media sosial, setiap orang adalah opinion leader, tidak hanya konsumen, juga sekaligus produsen dan distributor informasi. Di Indonesia, jumlah pengguna media sosial melampaui angka 130 juta dari 265,4 juta jiwa penduduk (Survei We Are Social yang bekerjasama dengan Hootsuite). Sementara pengguna internet berjumlah 143 juta jiwa lebih (survei APJII, 2017). Artinya, hampir seluruh pengguna internet juga pengguna media sosial, yang didominasi usia 19 hingga 34 tahun (49,52 persen). Kelompok usia ini digelari generasi Y (generasi milenial) dan generasi Z. Generasi ini memiliki tendensi membagikan apapun ke media sosial. Generasi Z adalah penutur asli generasi internet (iGen). Penelitian ini ingin mengetahui persfektif generasi Z terkait proses gatekeeping dalam redistribusi informasi di media sosial. Proses gatekeeping akan menentukan kualitas informasi yang diredistribusi. Jika gatekeeper cermat menyeleksi informasi maka konten positiflah yang bakal menyebar, sebaliknya ketika gatekeeper abai dalam proses gatekeeping, maka konten negatif yang akan terdistribusi. Hasil penelitian diharapkan berguna secara praktis dalam merumuskan strategi dan pola literasi penggunaan media sosial oleh generasi Z. Selain itu, diharapkan juga hasil penelitian menjadi masukan bagi pengembangan ilmu komunikasi, khususnya terkait proses gatekeeping dalam studi komunikasi.
JURNALISME PARTISAN DALAM PUSARAN KEPENTINGAN EKONOMI POLITIK MEDIA
Abdul Halik
Jurnal Jurnalisa: Jurnal Jurusan Jurnalistik Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jurnalisa.v4i2.6894
Sistem demokrasi membuka iklim keterbukaan informasi. Publik membutuhkan akses informasi yang memadai, tidak saja dari sisi jangkauannya, tetapi juga dari aspek keberimbangan konten. Praktik jurnalisme sebagai perwujudan dari penggunaan ruang publik terjebak dalam lingkaran kepentingan ekonomi politik media. Produksi teks media tidak mampu merefleksikan realitas sosial secara objektif. Media dengan jurnalismenya justru menjadi bagian dari sarana dominasi. Wartawan berada dalam tekanan lembaga media untuk merelevankan teks yang diproduksinya dengan kekuatan yang melingkupinya (konteks). Fenomena jurnalisme partisan mengindikasikan kesulitan yang dihadapi lembaga media dalam mewujudkan operasi media yang lebih profesional dan berkepentingan sosial (out-ward looking).
PROFESIONALISME JURNALIS LULUSAN JURUSAN JURNALISTIK UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Andi Fauziah Astrid
Jurnal Jurnalisa: Jurnal Jurusan Jurnalistik Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jurnalisa.v4i2.6900
Profesionalisme seseorang biasanya diukur dari kemampuan kerja dan kepatuhan terhadap kode etik dan kemampuan menerapkan poin kompetensi sesuai bidang. Seorang jurnalis juga dituntut hal yang sama dalam bekerja. Dua poin utama yang harus dimiliki seorang jurnalis yaitu pematuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik dan Standar Kompetens Jurnalis. Hal yang sama berlaku bagi lulusan Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar. Sekalipun mereka menimba ilmunya secara langsung, tetapi pengalaman dan proses kerja yang membentuk profesionalisme yang mereka miliki
JURNALISME DAN BENCANA (Refleksi Peran Jurnalis dalam Liputan Bencana Gempa, Tsunami dan Likuifaksi Palu-Donggala)
Hartinah Sanusi
Jurnal Jurnalisa: Jurnal Jurusan Jurnalistik Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/jurnalisa.v4i2.6895
Studi-studi terkait jurnalis dan liputan bencana umumnya menunjukkan kritik tajam terhadap pola-pola dan etika peliputan yang menonjolkan dramatisasi dan seringkali mengeksploitasi korban bencana baik narasi maupun audio visual. Jurnalis memainkan peran yang sangat penting dalam setiap peristiwa bencana. Bukan sekedar tuntutan profesi, mengumpulkan data dan informasi di lokasi bencana dan menyebarluaskannya dalam bentuk berita di media massa. Lebih dari itu, jurnalis juga diharapkan menunjukkan peran-peran jurnalisme yang lebih baik. Sebuah kesadaran dari para jurnalis dalam meliput peristiwa bencana dengan perspektif yang beragam dan utuh. Bahwa persoalan bencana tidak hanya pada saat bencana itu terjadi, melainkan ketika bencana tidak terjadi, sebelum terjadi dan juga setelah bencana terjadi. Diskursus mengenai peran jurnalis dalam peristiwa bencana menjadi penting di tengah tingginya tingkat kerawanan bencana di tanah air. Tulisan ini mencoba mengkaji lebih jauh kecenderungan peran jurnalisme yang dimainkan para jurnalis dalam meliput peristiwa bencana gempa, tsunami dan likuifaksi di kota Palu dan sekitarnya.