cover
Contact Name
Ir. Jhon Hardy Purba, M.P.
Contact Email
jhon.purba@unipas.ac.id
Phone
+6236223588
Journal Mail Official
jhon.purba@unipas.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian, Universitas Panji Sakti Jl. Bisma No. 22, Banjar Tegal, Singaraja, Bali - 81117
Location
Kab. buleleng,
Bali
INDONESIA
Agro Bali: Agricultural Journal
ISSN : -     EISSN : 2655853X     DOI : https://doi.org/10.37637/ab.v2i2
Core Subject : Agriculture,
Agro Bali: Agricultural Journal is an information media that contains articles from research, theoretical studies, and scientific writings on agriculture especially agrotechnology i.e.: agronomy, horticulture, plant breeding, soil sciences, plant protection, and other pertinent field related to plant production.
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2023)" : 25 Documents clear
Sustainability Study of Horticultural Development in Mandailing Natal District With RAPFISH-MDS Analysis Agung Budi Santoso; Erpina Delina Manurung; Deddy Romulo Siagian; Hendri Ferianson P Purba; Perdinanta Sembiring
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1170

Abstract

Mandailing Natal district as the second largest district in North Sumatra Province has great potential for horticultural development. This study aimed to determine the sustainability level of horticultural development in Mandailing Natal district through 5 dimensions, namely ecological, economic, social, technological and institutional. The RAPFISH-MDS analysis method was used to measure the index and sustainability status. The results showed that the criteria for the sustainability of horticultural development in Mandailing Natal district was quite sustainable (52.61) with the sustainability index value of the ecological, institutional, social, economic and technological dimensions, respectively, 58.06; 56.86; 53.76; 51.99; and 51.08. Sensitive attributes supporting sustainability are erosion rate for the ecological dimension, post harvest management for the economic dimension, extension intensity for the social dimension, land management technology for the technological dimension, and conflicts between farmer groups for the institutional dimension. The realization of horticultural development can be through the development of government programs and extensions that change farmers' perceptions of the environment and the application of eco friendly technologies in their farming.
Respons Tiga Jenis Tanaman Sayuran Daun terhadap Perbedaan Konsentrasi Ca(NO3)2 pada Hidroponik DFT Ni Nyoman Suryantini; Gede Wijana; I Wayan Suarna; I Made Surya Adi Putra Putra
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1223

Abstract

Tanaman membutuhkan unsur hara yang cukup dan sesuai dengan fase pertumbuhannya. Tanaman kale, pakcoy dan selada merupakan tanaman yang dikembangkan sampai fase vegetatif dan dimanfaatkan daunnya, karena bernilai ekonomis tinggi. Tanaman yang berkembang sampai fase vegetatif dominan membutuhkan unsur hara nitrogen, untuk pembentukan klorofil, yang berperan dalam proses fotosintesis, dan unsur Ca (kalsium) karena berperan untuk meningkatkan penyerapan nitrogen dalam bentuk nitrat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui respon tanaman terhadap perbedaan konsentrasi Ca(NO3)2 yang diaplikasikan, serta untuk mengetahui konsentrasi Ca(NO3)2 optimum dari masing-masing tanaman yang dicobakan. Penelitian ini dirancang menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola tersarang, dengan perlakuan dua faktor yaitu perbedaan konsentrasi Ca(NO3)2 (0 ppm, 200 ppm, 250 ppm dan 300 ppm) dan jenis tanaman (kale, pakcoy dan selada) yang diulang sebanyak tiga kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi Ca(NO3)2 berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kale, pakcoy, dan selada yang dibudidayakan dengan teknik hidroponik DFT. Konsentrasi Ca(NO3)2 yang optimum untuk tanaman kale yaitu sebesar 249,29 ppm, untuk tanaman pakcoy yaitu sebesar 260 ppm dan untuk tanaman selada sebesar 171,25 ppm.
Efisiensi Penggunaan Lahan Melalui Pengaturan Pola Tanam Tumpangsari Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dan Cabai (Capsicum annum L.) Nanok Julianto; Eko Widaryanto; Ariffin Ariffin
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1286

Abstract

Efisiensi penggunaan lahan dapat dilakukan dengan memperbaiki cara berbudidaya seperti pemanfaatan sistem tanam tumpangsari. Penelitian ini merupakan pengaturan pola tanam antara bawang merah dan cabai. Tujuan Penelitian iniadalah 1. Menganalisis efisiensi energi matahari yang diterima pada setiap pola tanam. 2. Menganalisis nilai efisiensi penggunaan lahan terhadap hasil pada setiap pola tanam. 3. Menganalisis nilai usahatani untuk mendapatkan pola tanam yang menghasilkan nilai ekonomis tinggi. Rancangan yang digunakanadalah Rancangan Acak Kelompok. Terdiri dari 8 kombinasi perlakuan yang diulang 4 kali. Adapun kombinasi perlakuan adalah sebagai berikut : 1. Bawang merah monokultur 20 x 20 cm (P1), 2. Tumpangsari jarak dalam baris  Cabai Besar  40 cm waktu Tanam 20 HST (P2), 3. Jarak dalam baris Cabai Besar 40 cm waktu Tanam 30 HST (P3), 4. Tumpangsari jarak dalam baris Cabai Besar 60 cm waktu Tanam 20 HST (P4), 5. Tumpangsari jarak dalam baris   Cabai Besar 60 cm waktu Tanam 30 HST (P5), 6. Tumpangsari jarak dalam baris Cabai Besar 80 cm waktu Tanam 20 HST (P6), 7. Tumpangsari jarak dalam baris Cabai Besar 80 cm waktu Tanam 30 HST (P7) dan 8. Cabai Besar Monokultur 40 x 40 cm (P8). Penelitian ini terdiri dari 8 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali sehingga terdapat 32 satuan percobaan. Dengan luasan lahan setiap satuan percobaan adalah 2,8 x 1 m. Pengaturan pola tanam antara tanaman bawang merah dan cabai berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Pengaturan jarak tanam dan waktu tanam berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan cahaya matahari. Pengaturan pola tanam tumpangsari berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan lahan dan kelayakan usaha tani.
The Effect of Application of Diplazium Esculentum Leaf Extracts and GA3 on the Berry Quality of Grape (Vitis Vinifera L.) Cultivar of ‘Prabu Bestari’ I Nyoman Gede Astawa; Rindang Dwiyani; Ni Nyoman Ari Mayadewi; Prila Kartika Manulang; Anak Agung Made Astiningsih
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1218

Abstract

This study investigated the effect of extract of Diplazium esculentum leaves and GA3 on the berry quality of Vitis vinifera c.v. Prabu Bestari. The objective of this research was to find out the effect of the application of D. esculentum leaf Extract and GA3 on the berry quality of grape c.v. Prabu Bestari. This study was conducted in the Vineyard at the Experimental Station of the Faculty of Agriculture, Udayana University during April to October 2021. A total of five different treatments were applied on inflorescences of grape (by dipping them), i.e. T0= control, only distilled water; T1 = 200 cc leaf extract was diluted with distilled water in to 1 L (200 cc L-1); T2=400 cc L-1; T3 = 600 cc L-1; T4= 500 ppm GA3 (as control positive). There were five treatments arranged in a randomized block design with 6 repetition.  The results showed that all treatments were not able to induce seedless, as seeds still presented inside berries, however, the number of seeds in the treatment of 500 ppm GA3 reduced significantly compared to other treatments.  Weight per seed decreased significantly at 400 cc L-1 D. esculentum extract, 600 cc L-1 D esculentum extract and 500 ppm GA3.
Pertumbuhan Dua Genotipe Pisang Ambon Lokal Rejang Lebong Hasil In Vitro pada Tahap Aklimatisasi Rini Suryani; Irfan Suliansyah; Warnita Warnita; Aprizal Zainal; Sukartini Sukartini
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1114

Abstract

Aklimatisasi adalah faktor yang menentukkan keberhasilan pertumbuhan bibit hasil kultur jaringan.  Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pertumbuhan 2 genotipe pisang ambon lokal Rejang Lebong hasil kultur jaringan. Rancangan penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor yaitu faktor genotipe pisang ambon lokal Rejang Lebong, yaitu ambon kuning dan ambon hijau. Setiap percobaan terdiri dari 3 ulangan, sehingga ada 6 unit percobaan. Data dianalisis dengan menggunakan analisis varians pada taraf 5%. Uji lanjut yang digunakan untuk menguji nyata tidaknya perbedaan adalah BNT (beda nyata terkecil). Ambon kuning memberikan pertumbuhan yang terbaik pada peubah tinggi tanaman dan panjang daun. Rata rata tinggi bibit ambon kuning yaitu 19.74 cm sedangkan ambon hijau tinggi tanamannya 15.18 cm. Panjang daun ambon kuning 11.89 cm  dan ambon hijau 9.61 cm. Diharapkan bibit ambon kuning hasil kultur jaringan ini bisa dibudidayakan oleh petani Rejang Lebong. 
Inventarisasi dan Karakterisasi Morfologi dan Agronomi Tanaman Nanas (Ananas comosus (L.) Merr) pada Beberapa Sentra Produksi di Pulau Jawa, Indonesia Henrietto Innosensius Prasetyo; Gede Wijana; Ida Ayu Putri Darmawati
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1222

Abstract

Persebaran nanas umumnya sangat berkembang pesat di Indonesia khususnya Pulau Jawa. Pengetahuan dan pemanfaatan hasil di beberapa sentra produksi yang masih minim menyebabkan inventarisasi dan karakterisasi tanaman nanas perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi sentra produksi beserta karakter yang terdapat pada suatu varietas nanas dan pemanfaatan hasil tanaman. Informasi tentang keberadaan tanaman nanas ini dapat dilakukan dengan kegiatan inventarisasi. Tahap selanjutnya adalah kegiatan identifikasi. Identifikasi merupakan suatu kegiatan karakterisasi pada suatu tanaman. Kegiatan karakterisasi ini meliputi identifikasi berdasarkan karakter morfologi dan agronomi. Data hasil pengamatan ditabulasi dan ditampilkan dalam bentuk tabel beserta gambar yang dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan penghasil buah terbanyak terdapat di empat kabupaten di Pulau Jawa. Tanaman nanas yang ditemukan dibudidayakan secara intensif mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan pascapanen. Tanaman nanas yang dibudidayakan di Kabupaten Subang adalah Nanas Subang, Kabupaten Bogor adalah Nanas Gati dan Nanas Kapas, Kabupaten Pemalang adalah Nanas Madu, dan Kabupaten Kediri adalah Nanas Madu dan Pasir Kelud 1. Berdasarkan hasil karakterisasi Tanaman Nanas Subang dan Nanas Pasir Kelud 1 dikategorikan Varietas Cayenne dengan ciri buah besar, rasa manis asam, banyak mengandung air, mata lebar dan daun tidak berduri.  Sementara itu, Nanas Gati, Nanas Kapas, Nanas Madu Pemalang, dan Nanas Madu Kediri dikategorikan Varietas Queen dengan ciri buah kecil, rasa manis, sedikit air, mata menonjol, dan daun berduri. Selain dijual dan dikonsumsi dalam bentuk segar, buah nanas juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan olahan seperti keripik nanas, manisan, wajik, dan dodol. 
Sharecropping and Production Risk of Rice Farming Redini Shaqilha Zakaria; Dwi Rachmina; Netti Tinaprilla
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1203

Abstract

Sharecropping is a form of cooperation between landowners and tenants. Two types of sharecropping systems for rice farming in Bone District, South Sulawesi, impact income and production risks. This study aims to (1) analyze the implementation of the sharecropping system and (2) analyze income and production risk. This study used primary data from 117 Berebbo sub-district, Bone district farmers. Data were analyzed using income analysis and production risk. The results showed that the sharecropping system has been implemented traditionally according to customs and is not guided by Law No. 2 of 1960 about the sharecropping system. The sharecropping system has survived to this day because, in addition to improving the economy, it also strengthens farmers' social relations through honesty, trust, and helping each other.  There are two types of sharecropping of grain; type 1 is 1:2, and type 2 is 1:1. In type 1, the landowner only provides the land, while in type 2, the landowner provides the land and shares the cost of fertilizers, pesticides, and transportation. The profit of farming using type 2 is higher than type 1, but the risk level of type 2 is also higher than type 1. But the landowner gets a higher profit than tenants because the output distribution is grain without considering farming costs. The output should share the profits to provide justice for both parties. The results of this study can become literature for future researchers to study production risks in sharecropping systems.
Farmers’ Varietal Perception towards Improved Bread Wheat Technologies in Ethiopia: an Implication for Bread Wheat Technology Development Negussie Muluneh Siyum; Almaz Giziew; Atrsaw Anteneh; Jhon Hardy Purba; Habtamu Mossie; Emam Adem
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1148

Abstract

This study was proposed to analyze farmers’ varietal perception of bread wheat. From Meket district, four kebeles were randomly selected to achieve the above objective. The study uses cross-sectional data collected from randomly selected 214 farming households through an interview schedule. Fourteen Likert items were included in two categories as advantages and disadvantages of the technology.  Five-point Likert scale was used to analyze varietal perceptions. One-way ANOVA was employed for testing the overall mean differences among bread wheat technology adoption categories. In addition, the Relative Importance Index (RII) was used to analyze item relative importance. Farmers supported improved bread wheat varieties for specific attributes such as, high marketability, early maturity, better grain yield, grain color, food quality, and storability were found to be taking the average score of 4.43, 4.43, 4.33, 4.01, 3.85, 3.45, and 3.26, respectively. Whereas, improved bread wheat varieties were perceived to be unsuitable for shattering problems, straw quality, and low yield performances in poor soil types. Therefore, breeding objectives should be oriented towards improving bread wheat variety traits related to shattering and straw quality. Limitation of labor is one of the major reasons for the low adoption rate of row planting. Hence, machinery should be carried out to promote row planting of bread wheat. Moreover, the study indicates the need to entertain farmers’ perception of bread wheat technologies for creating wider adoption. 
Application of Biogas with Fermenting Bacteria from Manure Raw Material on Stoves and Generators Rudy Yulianto; Sukardi Sukardi; Meika Syahbana Rusli; Sari Sekar Ningrum
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1270

Abstract

The raw biogas from the digester is a gas produced by bacterial fermentation which has a composition of methane (CH4), carbon dioxide (CO2), hydrogen sulfide (H2S), water vapor, and various other gases. Gases other than methane in raw biogas can damage the combustion system if used directly. The digester that produces biogas is used to move the generator engine using raw materials, such as cow feces, goat feces, fowl feces, straw, husks, and clean water. In the mixing process, all the raw materials are stirred or mixed evenly in the digester. Next is the process with five stages, namely (1). In the first stage: on the 11th day, adding clean water and fermentation carried out for 21 days, (2). The second stage: adding starter, hormones, charcoal flour, cow feces, fowl fees, goat feces, straw, and husks, then fermented for 7 days. (3). The third stage: adding a starter and fermenting it for 7 days. (4). Fourth stage: ready-to-use compost or solid fertilizer is ready to produce. (5). Fifth stage: liquid fertilizer is ready for production. In the gathering stage: all raw materials are stirred or mixed evenly in the digester and fermented for 1.5 months to become biogas. The last stage is the distribution of biogas: for household needs, and generators. From this research, it can conclude that the water column height (h) is 10.42 cm, and the maximum water column height is 9 cm so that the reactor is safe and the maximum pressure that can be attained is 879.1918 kg.m-1.s-2. The heating rate for ratio A is 0.0600 oC.s-1 and the heating rate for ratio B is 0.0640 oC.s-1. The calorific value produced from heating 1 liter of clean water using biogas from ratio A is 297.99315 kJ, and the calorific value of ratio B is 288.9174 kJ. With a compressor pressure of 8 psi, biogas can be inserted in this using a freon tube for a maximum of 6000 seconds with a mass of 6163 grams. In filling biogas, the biogas manometer should show the maximum number (between 16.50 – 25.50).
Aplikasi Pupuk Organik Cair dan Pupuk NPK untuk Meningkatkan Karakter Agronomis Tanaman Kedelai Hitam Ayu Setianingrum; Pangesti Nugrahani; Makhziah Makhziah
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1198

Abstract

Permintaan terhadap kedelai terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan kesadaran yang semakin tinggi mengenai manfaat makanan nabati yang kaya protein, namun produksi kedelai masih tidak mencukupi, sehingga perbaikan teknik budidaya perlu dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk dan pupuk NPKterhadap pertumbuhan serta perkembangan tanaman kedelai hitam (Glycine max L. Merrill). Percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan 2 faktor perlakuan yang diulang 3 kali. Faktor pertama adalah konsentrasi pupuk organik yang terdiri dari 4 taraf (0, 2, 4 dan 6 mL.L-1) dan sebagai faktor kedua pupuk anorganik NPK terdiri dari 3 taraf (3, 6 dan 9 g.tanaman-1). Hasil pengamatan perlakuan interaksi 4 mL.L-1 air dan 9 g.tanaman -1 menunjukkan pengaruh sangat nyata pada parameter jumlah bunga. .Perlakuan tunggal pupuk organik cair konsentrasi 4 mL.L-1 air menunjukkan pengaruh terbaik pada parameter jumlah bunga, sedangkan pada perlakuan tunggal pupuk NPK dosis 6 g.tanaman -1 merupakan perlakuan terbaik pada parameter seluruh parameter kecuali berat biji per tanaman. Hasil dari penelitian menunjukkan perlunya dilakukan penelitian lanjutan untuk memperoleh pertumbuhan dan hasil kedelai hitam yang sesuai.

Page 2 of 3 | Total Record : 25