cover
Contact Name
Hery Fajeriadi
Contact Email
heryfaje@gmail.com
Phone
+6285332834301
Journal Mail Official
bioinoved@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. Brigjend. H. Hasan Basry, Gedung Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Bio-Inoved : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan
ISSN : 26849062     EISSN : 27149803     DOI : -
Core Subject : Education,
Bio-Inoved: The Journal of Biology-Educational Innovation [p-ISSN 2684-9062] publishes scientific articles on the results of biology education research and innovations (Focus and Scope). Articles are written by following the manuscript writing rules (Author Guidelines). This journal is published twice a year, in April and October.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2025): June 2025" : 17 Documents clear
Development of SETS-based modules for understanding zoological concepts on Lemukutan Island Tesa Manisa; Mustika Sari
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.20977

Abstract

Zoology, as a branch of biology, not only focuses on theoretical aspects but also requires mastery of practical skills in observing, analyzing, and understanding the interactions between organisms and their environment. Observations during the field study on Lemukutan Island revealed that many students were still confused about identifying the names of species and body parts of invertebrate animals encountered during the field exploration. This study aims to determine the validity, student responses, and effectiveness of the SETS-based teaching module through invertebrate exploration on Lemukutan Island. This research is an R&D study using the ADDIE model. The data collection tools used in this study included validation sheets, student response questionnaires, and zoology concept understanding tests. Data analysis involved calculating validation scores, student questionnaires, and N-gain score results from the zoology concept understanding test. The results showed that the SETS-based module is valid, practical, and effective for enhancing students' conceptual understanding of zoology. It received an average validity score of 1.00, a student response percentage of 79%, and an N-gain score of 0.783 (high category). These findings suggest that the module is suitable for integration into the invertebrate systematics curriculum and can improve the relevance and engagement of learning by linking zoological content to local biodiversity contexts such as those on Lemukutan Island.Abstrak. Zoologi sebagai salah satu cabang ilmu biologi tidak hanya menitikberatkan pada aspek teoritis saja, tetapi juga menuntut penguasaan keterampilan praktis dalam mengamati, menganalisis, dan memahami interaksi antara organisme dengan lingkungannya. Hasil observasi pada saat kuliah lapangan di Pulau Lemukutan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa yang masih bingung ketika menyebutkan nama-nama spesies dan bagian tubuh hewan invertebrata yang ditemukan pada saat eksplorasi lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas, respon mahasiswa, dan efektivitas modul ajar berbasis SETS melalui eksplorasi invertebrata di Pulau Lemukutan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian R&D dengan menggunakan desain ADDIE. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar validasi, angket respon mahasiswa, dan tes pemahaman konsep zoologi. Analisis data menggunakan perhitungan skor validasi, angket mahasiswa, dan skor hasil N-gain tes pemahaman konsep Zoologi mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul berbasis SETS valid, praktis, dan efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep zoologi mahasiswa. Modul ini memperoleh skor validitas rata-rata sebesar 1,00, persentase respons mahasiswa sebesar 79%, dan skor N-gain sebesar 0,783 (kategori tinggi). Temuan ini menunjukkan bahwa modul layak diintegrasikan ke dalam kurikulum sistematika invertebrata dan dapat meningkatkan relevansi serta keterlibatan pembelajaran dengan mengaitkan konten zoologi pada konteks keanekaragaman hayati lokal seperti di Pulau Lemukutan. 
The role of artificial intelligence in enhancing biology education: A bibliometric perspective Arinda Eka Lidiastuti; Rikardus Herak; Handi Darmawan; Netti Yuniarti; Stephani Yane
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22001

Abstract

Mapping of research trends, collaborations, and developments in the application of artificial intelligence (AI) in biology education is still inadequate and has not been systematically explored. Evidence-based insight investigations that can guide future research and provide guidance on effective AI integration strategies in biology education are needed. Biology learning, which involves abstract concepts and complex data, is expected to be integrated with AI to support the innovation of interactive learning tools, improve critical thinking skills, and enrich the learning experience. This research aims to analyze the role of AI in improving the quality of biology education through a bibliometric approach. This research uses data from Scopus with the keywords “artificial AND intelligence AND biology AND education,” which includes 302 publications from 2000 to 2025. The analysis was conducted using Bibliometrix and Biblioshiny on the RStudioVR platform. The results show a significant upward trend in publications, especially after 2018, with a peak in 2023. The United States and China are the main contributors to these publications, with scientific articles (40.9%) and conference papers (25.1%) as the most dominant document types. In addition, Lecture Notes in Computer Science emerged as the most relevant source, demonstrating the important role of computer science in the development of AI for biology education. The findings are expected to provide strategic insights for more effective AI implementation in the future.Abstrak. Pemetaan mengenai tren penelitian, kolaborasi, dan perkembangan dalam penerapan kecerdasan buatan (AI) di bidang pendidikan biologi masih belum memadai dan belum dieksplorasi secara sistematis. Penyelidikan wawasan berbasis bukti yang dapat mengarahkan penelitian masa depan dan memberikan panduan strategi integrasi AI yang efektif dalam pendidikan biologi diperlukan. Pembelajaran biologi yang melibatkan konsep-konsep abstrak dan data kompleks diharapkan dapat diintegrasikan dengan AI untuk mendukung inovasi alat bantu pembelajaran yang interaktif, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan memperkaya pengalaman belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran AI dalam meningkatkan kualitas pendidikan biologi melalui pendekatan bibliometrik. Penelitian ini menggunakan data dari Scopus dengan kata kunci “artificial AND intelligence AND biology AND education” yang mencakup 302 publikasi dari tahun 2000 hingga 2025. Analisis dilakukan menggunakan Bibliometrix dan Biblioshiny pada platform RStudioVR. Hasil penelitian menunjukkan adanya tren peningkatan signifikan dalam publikasi, terutama setelah 2018, dengan puncak pada 2023. Amerika Serikat dan China menjadi kontributor utama dalam publikasi ini, dengan artikel ilmiah (40,9%) dan makalah konferensi (25,1%) sebagai jenis dokumen yang paling dominan. Selain itu, Lecture Notes in Computer Science muncul sebagai sumber paling relevan, menunjukkan peran penting ilmu komputer dalam pengembangan AI untuk pendidikan biologi. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan strategis untuk implementasi AI yang lebih efektif di masa depan.
The argumentation of the students about plant biodiversity: Quasi-experimental research Luthfiana Nurtamara; Sri Amintarti; Aulia Ajizah; Dewi Amelia Widiyastuti; Noorhidayati Noorhidayati; Amalia Rezeki
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22369

Abstract

Argumentation in science learning is crucial to form scientific explanations supported by strong claims with evidence and explanations. The study used two classes, namely the control class using the discovery learning model, using textbooks from the school, and the experimental group using the STEM PJBL learning model, assisted by teaching modules developed by researchers. The control class consisted of 35 students, and the experimental class consisted of 36 students. The research used a quasi-experimental research method with a posttest-only control design. Post-test results in the control group had an average of 24.28, and the experimental group 50.278. The statistical test used the Mann-Whitney U non-parametric test with a significance value of 0.000, which means that the P-value is less than the 0.05 significance level, so H0 is rejected, so there is a difference in value between the control class and the experimental class on argumentation skills. The results of this research conclude that most students at level 1 are only able to make claims without being supported by data and reasoning. The low level of argumentation is caused by the lack of argumentation training and the lack of conceptual understanding of students, so it is recommended that science teaching be given argumentation training with contextual and constructivist learning models.Abstrak. Argumentasi dalam pembelajaran sains sangat penting untuk membentuk argumentasi ilmiah yang didukung oleh klaim yang kuat dengan bukti dan penjelasan. Penelitian ini menggunakan dua kelas, yaitu kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran discovery learning dengan menggunakan buku teks dari sekolah, dan kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran STEM PJBL dibantu dengan modul pembelajaran yang dikembangkan oleh peneliti. Kelas kontrol terdiri dari 35 siswa dan kelas eksperimen terdiri dari 36 siswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuasi eksperimen dengan posttest-only control design. Hasil posttest pada kelompok kontrol memiliki rata-rata 24,28, dan kelompok eksperimen 50,278. Uji statistik yang dapat dilakukan adalah uji non parametrik Mann-Whitney U dengan nilai signifikansi 0,000 yang berarti nilai P-value lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05, maka H0 ditolak, sehingga terdapat perbedaan nilai antara kelas kontrol dan kelas eksperimen pada keterampilan argumentasi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa kebanyakan berada di level 1 sehingga peserta didik hanya mampu membuat claim tanpa disertai data dan alasannya. Rendahnya nilai argumentasi disebabkan karena kurangnya pelatihan berargumentasi dan kurangnya penguasan konsep peserta didik, sehingga diharapkan pembelajaran sains diberikan pelatihan berargumentasi dengan model pembelajaran kontekstual dan konstruktivis.
Exploring students' misconceptions using three-tier diagnostic test as the preliminary analysis for e-modules development on global warming and environmental pollution Adika Muhammad Aziz; Mimin Nurjhani Kusumastuti; Taufik Rahman
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22243

Abstract

Misconceptions are challenges in education. Misconceptions can occur in science learning topics, one of which is the topic of global warming and environmental pollution. Misconception analysis is conducted as one of the diagnostic tests to analyze misconceptions in students and as an early stage of developing teaching materials. This study aims to provide an overview of student misconceptions that occur in the material of global warming and environmental pollution. This research uses a quantitative descriptive method with the data from multiple-choice answers using the three-tier diagnostic test misconception question and the results were grouped using a three-level misconception categorization. The sample in this study amounted to 96 students, with global warming and environmental pollution as the focused topics. The results showed that 57.9% of students' answers were misconceptions, 30.1% of students' answers were scientific knowledge, 2.7% of students' answers were lucky guesses, and 9.3% of students' answers were lack of knowledge. The larger number of misconception categories indicates that students still do not correctly understand the concepts of global warming and environmental pollution. Students who are included in the misconception category appear to have believed in the wrong knowledge about global warming and environmental pollution. This belief in erroneous knowledge is a challenge for educators to correct students' misconceptions. Thus, the results of this misconception analysis can be an important asset for the development of e-modules to reduce the level of students' global warming and environmental pollution misconceptions.Abstrak. Miskonsepsi merupakan tantangan dalam pendidika. Miskonsepsi dapat terjadi pada topik pembelajaran sains, salah satunya adalah topik pemanasan global dan pencemaran lingkungan Analisis miskonsepsi dilakukan sebagai salah satu tes diagnostik untuk menganalisis miskonsepsi pada siswa dan sebagai tahapan awal pengembangan bahan ajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai miskonsepsi siswa yang terjadi pada materi pemanasan global dan pencemaran lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data yang digunakan adalah hasil jawaban pilihan ganda menggunakan intrumen tes diagnostik tiga-tingkatan dan hasilnya dikelompokkan menggunakan kategorisasi tiga-tingkatan Sampel pada penelitian ini berjumlah 96 siswa, dengan materi pemanasan global dan pemcemaran lingkungan sebagai topik yang difokuskan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 57,9% jawaban siswa mengalami miskonsepsi, 30,1% jawaban siswa merupakan scientific knowledge, 2,7% jawaban siswa merupakan lucky guess, dan 9,3% jawaban siswa merupakan lack of knowlegde. Jumlah kategori miskonsepsi yang lebih banyak menunjukkan bahwa siswa masih belum memahami dengan benar konsep-konsep pada materi pemanasan global dan pencemaran lingkungan. Siswa yang termasuk dalam kategori miskonsepsi rupanya telah meyakini pengetahuan yang salah terhadap pemanasan global dan pencemaran lingkungan. Keyakinan terhadap pengetahuan yang keliru ini merupakan tantangan bagi pendidik untuk meluruskan kesalahpahaman siswa. Dengan demikian, hasil dari analisis miskonsepsi ini dapat menjadi modal penting bagi pengembangan e-modul guna menurunkan tingkat miskonsepsi pemanasan global dan pencemaran lingkungan siswa.
Use of e-module based on local potential projects to provide creative thinking abilities for high school students Nisrina Nur Rahmi; Kusnadi Kusnadi; Yanti Hamdiyati
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.21629

Abstract

Students have the ability to create solutions to problems based on local, national or global issues related to understanding biodiversity according to the demands at the end of learning. The solution to meet these demands is to conduct learning using e-modules based on local potential utilization projects. This study aims to obtain information on the use of e-modules based on local potential utilization projects to equip students with creative thinking skills. This learning is carried out using e-modules related to the syntax of project based learning (PjBL). Pre-experimental with one group pretest-posttest design. Participants in this study were 10th grade students consisting of 64 students. Data on students' creative thinking skills were obtained from the results of the pretest and posttest. The results of the study on students' creative thinking skills obtained an average N-Gain value of 0.56 which is included in the moderate category. Student responses related to the use of e-modules based on local potential utilization projects were obtained that 83.88% meant that almost all students said that e-modules could be used in learning. Based on the results of the study, the use of e-modules can be an alternative to improve students' creative thinking skills. Creative thinking skills possessed by students will increase students' creative abilities to innovate in order to utilize existing local potential.Abstrak. Siswa memiliki kemampuan menciptakan solusi atas permasalahan-permasalahan berdasarkan isu lokal, nasional atau global terkait pemahaman keanekaragaman hayati sesuai dengan  tuntutan diakhir pembelajaran. Solusi untuk memenuhi tuntutan tersebut dengan melaukan pembelajaran menggunakan e-modul berbasis proyek pemanfaatan potensi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai penggunaan e-modul berbasis proyek pemanfaatan potensi lokal untuk membekalkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Pembelajaran ini dilakukan dengan penggunaan e-modul yang terkait dengan sintaks project based learning (PjBL).  Pre- experimental dengan desain one group pretest-posttest. Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa kelas 10 yang terdiri dari 64 siswa. Data kemampuan berpikir kreatif siswa diperoleh dari hasil pretest dan posttest. Hasil penelitian kemampuan berpikir kreatif siswa didapatkan nilai rata-rata N-Gain yaitu 0.56 yang termasuk kategori sedang. Respons siswa terkait dengan penggunaan e-modul berbasis proyek pemanfaatan potensi lokal didapatkan bahwa 83.88 % berarti hampir seluruh siswa mengatakan bahwa e-modul dapat digunakan dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian penggunaan e-modul dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Kemampuan berpikir kreatif yang dimiliki siswa akan meningkatkan kemampuan kreativitas siswa untuk melakukan inovasi untuk memanfaatkan potensi lokal yang ada. 
Development of SETS e-module on endocrine system material to improve scientific literacy and learning independence of high school students Mahbengi Niate; Paidi Paidi
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.21357

Abstract

The level of scientific literacy, learning independence, and student learning outcomes in the endocrine system material are still relatively low. This indicates the need for the development of teaching materials that are able to produce scientific concepts in everyday life and encourage active student participation. This study aims to develop a SETS (Science, Environment, Technology, and Society)-based e-module that is feasible, practical, and effective in improving scientific literacy and learning independence. The study used the Research and Development (R&D) method with the ADDIE development model consisting of five stages: analysis, design, development, implementation, and evaluation. The subjects of the study consisted of 64 grade XI MIPA students at SMA Negeri 1 Mlati. Data collection techniques included interviews, questionnaires, and tests, with descriptive and inferential data analysis using MANOVA. The results showed that the SETS-based e-module was feasible, practical, and effective. The MANOVA test showed a significance value of 0.00 (p <0.05), while the N-gain results showed an increase in scientific literacy of 0.320 and learning independence of 0.460, both of which were in the moderate category. The results of this study provide scientific evidence that the application of the SETS approach through e-modules has a positive impact on students' science literacy and learning independence in biology. This study recommends that SETS e-modules can be used as alternative teaching materials in biology learning and opportunities for further research to develop SETS e-modules for other subjects.Abstrak. Tingkat literasi sains, kemandirian belajar, dan hasil belajar siswa pada materi sistem endokrin masih tergolong rendah. Hal ini menunjukkan perlunya pengembangan bahan ajar yang mampu menghasilkan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari serta mendorong partisipasi aktif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-modul berbasis SETS (Science, Environment, Technology, and Society) yang layak, praktis, dan efektif dalam meningkatkan literasi sains dan kemandirian belajar. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang terdiri atas lima tahap: analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian terdiri dari 64 siswa kelas XI MIPA di SMA Negeri 1 Mlati. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, angket, dan tes, dengan analisis data secara deskriptif dan inferensial menggunakan MANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul berbasis SETS tergolong layak, praktis, dan efektif. Uji MANOVA menunjukkan nilai signifikansi 0,00 (p < 0,05), sedangkan hasil N-gain menunjukkan peningkatan literasi sains sebesar 0,320 dan kemandirian belajar sebesar 0,460, keduanya termasuk kategori sedang. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah berupa bukti bahwa penerapan pendekatan SETS melalui e-modul berdampak positif terhadap literasi sains dan kemandirian belajar siswa pada topik biologi. Penelitian ini merekomendasikan bahwa e-modul SETS dapat dijadikan alternatif bahan ajar pada pembelajaran biologi dan peluang untuk penelitian selanjutnya mengembangkan e-modul SETS pada materi lainnya.
Enhancing high school students’ critical thinking skills through the flipped-guided inquiry learning model with concept mapping Sulfahmi Mursalim; Susriyati Mahanal; Hendra Susanto
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22131

Abstract

Critical thinking is a key 21st century skill vital for students’ academic and professional development. Preliminary studies at SMA Negeri 1 Singosari indicate that students' critical thinking skills are moderate and need improvement. This study examines the effect of the flipped-guided inquiry learning (FGIL) model integrated with concept mapping on the critical thinking skills of 11th-grade students. A quasi-experimental design with a nonequivalent control group was applied, involving pre- and post-tests. The critical thinking test comprised six essay items evaluated using Ennis’s rubric. ANCOVA results (p < 0.05) demonstrated a significant difference in performance among the FGIL-concept map group, FGIL-only group, and guided inquiry group. The FGIL model with concept maps showed the most substantial improvement. These findings suggest the potential of integrating concept mapping into flipped-guided inquiry to enhance students’ critical thinking in biology education.Abstrak. Berpikir kritis merupakan keterampilan utama abad ke-21 yang sangat penting bagi perkembangan akademis dan profesional siswa. Studi pendahuluan di SMA Negeri 1 Singosari menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa tergolong sedang dan perlu ditingkatkan. Studi ini mengkaji pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terbalik (FGIL) yang diintegrasikan dengan pemetaan konsep terhadap keterampilan berpikir kritis siswa kelas 11. Desain kuasi-eksperimental dengan kelompok kontrol non-ekuivalen diterapkan, yang melibatkan tes pra dan pasca. Tes berpikir kritis terdiri dari enam item esai yang dievaluasi menggunakan rubrik Ennis. Hasil ANCOVA (p < 0,05) menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kinerja antara kelompok peta konsep FGIL, kelompok hanya FGIL, dan kelompok inkuiri terbimbing. Model FGIL dengan peta konsep menunjukkan peningkatan yang paling substansial. Temuan ini menunjukkan potensi mengintegrasikan pemetaan konsep ke dalam inkuiri terbimbing terbalik untuk meningkatkan pemikiran kritis siswa dalam pendidikan biologi.
Practicality test of SaLDI biology learning model integrated with TPACK on biology materials Suhardi Aldi; Adnan Adnan; Andi Asmawati Azis
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22322

Abstract

The existing learning models in biology education still have limitations in practically integrating technology, pedagogy, and content, often resulting in passive student learning and suboptimal critical thinking development. Therefore, it is necessary to explore and test the feasibility of biology learning models, specifically TPACK-integrated SaLDI biology learning model, in creating active and student-centred biology learning that aligns with the demands of the 21st century. The purpose of this study was to test the practicality of the SaLDI learning model integrated with TPACK. This type of research is descriptive quantitative which tests the practicality of the TPACK-integrated SaLDI biology learning model. The population in this study were all students and teachers who participated in Biology learning at SMAN 14 Makassar which became the research location. The sampling technique used was random sampling, as many as 32 students and 2 teachers. The instrument used was student and teacher response questionnaire. The instrument that has been developed is used to collect data on the practicality of the TPACK-integrated SaLDI biology learning model. The data generated was then analysed quantitatively. Based on the results of the study, it can be seen that the practicality of the TPACK-integrated SaLDI learning model, as viewed from the perspective of teachers and students, is very practical. The conclusion of this study is that this learning model is very practical to use by teachers and students. This practicality encourages more effective, interactive, and adaptive Biology learning. The suggestion of this research is that it is still necessary to test the implementation of the TPACK-integrated SaLDI learning model on a wider scale.Abstrak. Model pembelajaran yang ada dalam pendidikan biologi masih memiliki keterbatasan dalam mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan konten secara praktis, seringkali mengakibatkan pembelajaran peserta didik yang pasif dan pengembangan pemikiran kritis yang kurang optimal. Oleh karena itu, perlu untuk mengeksplorasi dan menguji kelayakan model pembelajaran biologi dalam hal ini adalah SaLDI yang terintegrasi dengan TPACK dalam menciptakan pembelajaran biologi yang aktif dan berpusat pada peserta didik sesuai dengan tuntutan abad ke-21. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji kepraktisan model pembelajaran SaLDI terintegrasi TPACK. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif yang menguji kepraktisan model pembelajaran Biologi SaLDI terintegrasi TPACK. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik dan guru yang mengikuti pembelajaran Biologi di SMAN 14 Makassar yang menjadi lokasi penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu random sampling, sebanyak 32 peserta didik dan 2 guru. Instrumen yang digunakan adalah angket respon peserta didik dan guru. Instrumen yang telah dikembangkan digunakan untuk pengumpulan data kepraktisan model pembelajaran Biologi SaLDI terintegrasi TPACK. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis secara kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian menggambarkan bahwa tingkat kepraktisan model pembelajaran SaLDI terintegrasi TPACK ditinjau dari kepraktisan guru dan peserta didik tergolong sangat praktis. Kesimpulan penelitian ini yaitu model pembelajaran ini sangat praktis digunakan oleh guru dan peserta didik. Kepraktisan ini mendorong pembelajaran Biologi yang lebih efektif, interaktif, dan adaptif. Saran penelitian ini yaitu masih perlu menguji implementasi model pembelajaran SaLDI terintegrasi TPACK pada skala lebih luas.
Advancing biology education through HOTS-based learning on digestive system concepts: A systematic literature review Tiffany Safitri; Didit Ardianto; Irvan Permana; Surti Kurniasih; Eni Nuraeni
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.21669

Abstract

Developing higher-order thinking skills—critical thinking, creative thinking, and problem-solving—is essential for preparing students to address complex, real-world problems. This systematic literature review, conducted using the PRISMA 2020 guidelines and qualitative content analysis, explores how HOTS is integrated into teaching the human digestive system in secondary education by addressing three key questions: (1) which HOTS are most frequently developed, (2) which instructional strategies are most effective, and (3) what challenges and opportunities exist in implementation. Fourteen peer-reviewed articles published between 2020 and 2024 were analyzed. Results show that critical thinking is the most emphasized skill, followed by creative and problem-solving abilities. Problem-Based Learning (PBL) emerged as the most widely used strategy (21.4%), with STEM, the discovery learning model, and the contextual teaching learning model contributing significantly. Key challenges include curriculum transitions, limited scaffolding, and uneven student participation. Conversely, opportunities arise from integrating technology, applying real-world contexts, and promoting collaboration. While the search included international databases, most studies meeting the inclusion criteria were authored by Indonesian researchers, which may limit cross-contextual generalization. This review underscores the value of combining student-centered learning models with contextual and technological support to enhance HOTS in biology education.Abstrak. Pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi—berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah—merupakan hal penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi permasalahan kompleks di dunia nyata. Studi tinjauan literatur sistematik ini dilakukan berdasarkan pedoman PRISMA 2020 dan menggunakan pendekatan analisis isi kualitatif untuk mengeksplorasi integrasi HOTS dalam pembelajaran sistem pencernaan manusia di jenjang pendidikan menengah, dengan menjawab tiga pertanyaan utama: (1) HOTS apa yang paling sering dikembangkan, (2) strategi pembelajaran apa yang paling efektif, dan (3) tantangan serta peluang apa yang muncul dalam implementasinya. Sebanyak 14 artikel terbitan tahun 2020–2024 ditelaah. Hasil menunjukkan bahwa berpikir kritis merupakan keterampilan yang paling dominan, diikuti oleh berpikir kreatif dan pemecahan masalah. Problem-Based Learning merupakan strategi paling banyak digunakan (21,4%), disusul pendekatan STEM, model discovery learning, dan model contextual teaching learning. Tantangan utama meliputi transisi kurikulum, kebutuhan scaffolding, dan partisipasi siswa yang tidak merata. Di sisi lain, peluang muncul melalui integrasi teknologi, penerapan konteks nyata, dan kolaborasi aktif. Meskipun pencarian dilakukan melalui basis data internasional, sebagian besar artikel yang memenuhi kriteria inklusi ditulis oleh peneliti Indonesia, yang dapat membatasi generalisasi lintas konteks. Kajian ini menegaskan pentingnya kombinasi pendekatan kontekstual, teknologi, dan pembelajaran berpusat pada siswa dalam meningkatkan HOTS di pendidikan biologi.
The relationship of learning motivation and higher-order thinking skills with students scientific literacy ability Yusril Haq Ismail; Firdaus Daud; Rachmawaty Rachmawaty
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22503

Abstract

Scientific literacy is a key 21st-century competency that students must possess. However, assessment results show Indonesian students’ science literacy remains low. This study aims to determine the relationship between learning motivation and higher-order thinking skills (HOTS) toward students’ scientific literacy. A quantitative approach with an ex post facto design was used. The sample consisted of 350 twelfth-grade science students selected through cluster random sampling from four public high schools in Maros Regency. Instruments included a learning motivation questionnaire, a HOTS test, and a scientific literacy test. Results showed average scores for learning motivation (67.41), HOTS (64.29), and scientific literacy (66.70), all in the moderate category. Correlation analysis revealed significant relationships between learning motivation (r = 0.626) and HOTS (r = 0.430) with scientific literacy. Simultaneously, both variables contributed 22.6% to science literacy (R² = 0.226; sig. = 0.00). These findings emphasize the importance of integrating affective and cognitive aspects to improve students’ scientific literacy in science education. It is recommended that efforts to improve science literacy focus on strengthening students' affective and cognitive aspects through contextual, project-based, and inquiry-based learning approaches that are relevant to real life. Abstrak. Literasi sains merupakan kompetensi penting abad ke-21 yang harus dimiliki peserta didik. Namun, hasil asesmen menunjukkan tingkat literasi sains siswa Indonesia masih rendah. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dan keterampilan berpikir tingkat tinggi terhadap literasi sains peserta didik SMA. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto. Sampel terdiri dari 350 siswa kelas XII IPA yang dipilih secara cluster random sampling dari empat SMA di Kabupaten Maros. Instrumen berupa angket motivasi belajar, tes HOTS, dan tes literasi sains. Hasil menunjukkan nilai rata-rata motivasi belajar sebesar 67,41, HOTS sebesar 64,29, dan literasi sains sebesar 66,70 (kategori sedang). Uji korelasi menunjukkan motivasi belajar berhubungan signifikan dengan literasi sains (r = 0,626), demikian pula HOTS (r = 0,430). Secara simultan, kontribusi kedua variabel terhadap literasi sains sebesar 22,6% (R² = 0,226; sig. = 0,00). Temuan menekankan pentingnya penguatan aspek afektif dan kognitif dalam pembelajaran untuk meningkatkan literasi sains. Direkomendasikan upaya peningkatan literasi sains difokuskan pada penguatan aspek afektif dan kognitif siswa melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, berbasis proyek, dan inkuiri yang relevan dengan kehidupan nyata.

Page 1 of 2 | Total Record : 17