cover
Contact Name
Erda Fitriani
Contact Email
erdafitriani@fis.unp.ac.id
Phone
+6285278103477
Journal Mail Official
culture@ppj.unp.ac.id
Editorial Address
Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang (Integrated Classroom B UNP Air Tawar Padang) Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar, Padang
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research
ISSN : 26863421     EISSN : 2686343X     DOI : https://doi.org/10.24036/culture
Culture & Society: Journal of Anthropological Research was published to develop and enrich scientific discussion for scholars who put interest on socio-cultural issues in Indonesia. Editors welcome theoretical or research based article submission. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The criteria of the submitted article covers the following types of article: first, the article presents the results of an ethnographic/qualitative research in certain topic and is related with ethnic/social groups in Indonesia; second, the article is an elaborated discussion of applied and collaborative research with strong engagement between the author and the collaborator’s subject in implementing intervention program or any other development initiative that put emphasizes on social, political, education and cultural issues; last, a theoretical writing that elaborates social and cultural theory linked with the theoretical discourse of anthropology, especially in Indonesia.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 2 (2025): Culture " : 6 Documents clear
Makna simbol Maarak Anak dalam Upacara Perkawinan di Nagari Tabek Patah Maharani Daswan; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.191

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna simbol maarak anak dalam upacara perkawinan di Nagari Tabek Patah, Sumatera Barat. Simbol yang terdapat pada tradisi tersebut seperti, kain panjang, kambiang, ganggah, salomak kuniang dan boban. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pemilihan informan yang dilakukan dengan purposive sampling. Data dikumpulkan dengan cara observasi partisipasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Analisis data dilakukan dengan teori interpretivisme simbolik oleh Clifford Geertz. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa simbol dalam maarak anak seperti alat-alat, makanan hantaran, hewan yang dipakai dalam kegiatan maarak anak adalah kain panjang, kambiang, ganggah, salomak kuniang, dan boban. Secara emik makna simbol maarak anak dimaknai oleh masyarakat sebagai simbol restu dari pihak bako, kedekatan dan keakraban, kasih sayang bako dengan membantu kehidupan anak pisang, dan kesanggupan bako secara ekonomi. Sedangkan secara etik makna simbol maarak anak mempererat hubungan antara bako dengan anak pisang, memperlihatkan status sosial dan ekonomi, gotong royong dan kebersamaan, serta sebagai kebanggaan bako.
Basapa ke Gunung Bungsu: Pendidikan Surau Nagari Taeh Baruah Kabupaten Limapuluh Kota Anggun Destia; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.196

Abstract

Aktivitas keagamaan di Minangkabau memperlihatkan percampuran antara agama dan tradisi. Istilah basapa merupakan tradisi tahunan masyarakat Minangkabau, khususnya Padang Pariaman Sumatera Barat, untuk mengenang jasa penyebar agama Islam, Syekh Burhanuddin di Ulakan. Aktivitas basapa di Ulakan yaitu ziarah ke makam syekh, berdoa bersama sebagai penghormatan kepada syekh. Pendidikan di surau Nagari Taeh Baruah memiliki aktivitas basapa ke Gunung Bungsu. Di bukit Gunung Bungsu, tidak terdapat makam, aktivitas anak-anak surau yaitu mengaji bersama, mengadakan perlombaan, dan makan bersama. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pendidikan di surau melalui aktivitas Basapa ke Puncak Gunung Bungsu di Nagari Taeh Baruah Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Limapuluh Kota. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori konstruktivisme sosial oleh Lev Vigotsky. Aktivitas Basapa yang dilakukan oleh surau pada anak-anak mengaji berfungsi untuk membentuk kognisi sosial anak-anak. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe studi kasus. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Informan penelitian berjumlah 16 orang, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan model analisis dari Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas basapa ke Gunung Bungsu yang dilakukan dalam pendidikan surau mendidik anak-anak mengaji dengan cara belajar agama dengan menyenangkan (joyful learning) sambil bertamasya dan berolahraga.
Negosiasi Piti Sasuduik dalam Perkawinan Adat Minangkabau Latifa Latifa; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.202

Abstract

Adat perkawinan di Indonesia berbeda-beda di setiap sukubangsa. Orang Minangkabau memiliki sistem kekerabatan matrilineal, secara umum aturan adat perkawinan pihak perempuan memberikan harta kepada pihak laki-laki. Namun dalam adat perkawinan Minangkabau terdapat aturan nagari yang berbeda seperti masyarakat daerah Payakumbuh, pihak laki-laki yang memberikan harta kepada pihak perempuan. Di Nagari Situjuah Banda Dalam Payakumbuh terdapat tahapan penting menjelang pernikahan yaitu, mengantarkan piti sasuduik. Piti sasuduik merupakan harta benda atau uang yang diserahkan oleh pihak laki-laki kepada keluarga pihak perempuan (bride wealth). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses negosiasi piti sasuduik antara pihak keluarga perempuan dan laki-laki sebelum melangsungkan pernikahan. Penelitian ini dianalisis dengan teori strukturalisme oleh Claude Lévi-Strauss. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling dan pengumpulan data secara observasi, wawancara mendalam dan dokumen. Berdasarkan hasil penelitian proses negosiasi piti sasuduik diawali dengan perwakilan niniak mamak atau panghulu calon pengantin laki-laki melakukan negosiasi mulai dari jumlah piti sasuduik yang diminta oleh keluarga perempuan, proses kedua niniak mamak pihak laki-laki mencoba menyebutkan alasan kemenakan memberi uang tidak sesuai dengan permintaan calon mertuanya, proses ketiga niniak mamak perempuan memberikan keputusan terbaik untuk kemenakan, proses yang terakhir niniak mamak perempuan memakan sirih jika negosiasi diterima, tetapi kalau niniak mamak perempuan mulai berbicara atau tidak memakan sirih tandanya negosiasi ditolak.
Makna Simbol Upacara Panggih Pengantin pada Masyarakat Jawa di Nagari Lunang Laila Friska; Lia Amelia
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.203

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna simbol upacara panggih pengantin dalam upacara perkawinan masyarakat Jawa di Nagari Lunang Barat, Kecamatan Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Panggih pengantin dipraktekkan oleh migran asal Jawa di Sumatera Barat. Penelitian ini dianalisis dengan teori interpretivisme simbolik Clifford Geertz. Pendekatan penelitian dilakukan secara kualitatif dengan tipe etnografi. Jumlah informan keseluruhan sebanyak 11 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Untuk mendapatkan data yang valid dilakukan triangulasi data. Analisis data menggunakan model analisis etnografi Clifford Geertz. Hasil penelitian makna simbol upacara panggih pengantin, yaitu: (1) daun sirih dan beras kuning yang bermakna pengantin menyatukan hati dan pikiran untuk menjalani rumah tangga, (2) potong benang yang bermakna tidak ada lagi jarak pemisah kedua pengantin, (3) ngidak endog dan wijikan yang bermakna sebagai tanda bakti istri kepada suami dan sebaliknya, (4) kain sindur binayung bermakna telah selesainya tanggung jawab orang tua terhadap anak hingga mengantarkan anaknya untuk menjalani rumah tangga, (5) sungkeman yang bermakna tanda bakti anak kepada orang tua, (6) kacar kucur bermakna bahwa suami bertanggung jawab memenuhi nafkah kepada istri, (7) pakaian adat yang dikenakan memiliki makna dan harapan bahwa kedua pengantin memiliki kepribadian yang halus dan sabar dalam menjalani bahtera rumah tangga, (8) musik pengiring yang digunakan pada upacara panggih pengantin masyarakat Jawa di Nagari Lunang Barat adalah salah satu simbol menunjukkan identitas budaya Jawa.
Peran Urang Tuo dalam Menyampaikan Informasi pada Masyarakat yang Terhambat Teknologi dan Infrastruktur Yeni Darmiati; Mira Hasti Hasmira
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.205

Abstract

Artikel penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran Urang Tuo dalam menyampaikan informasi pada masyarakat Korong Kubu Alahan Kuranji Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu Kecamatan Sungai Geringging Kabupaten Padang Pariaman. Penelitian ini menarik untuk dilakukan karena di tengah kemajuan teknologi komunikasi saat ini masih terdapat daerah yang terkendala dalam memperoleh informasi. informasi yang dimaksud adalah informasi dari nagari mengenai bantuan dan infrastruktur yang disebabkan oleh jarak yang jauh, jaringan telekomunikasi yang buruk .Urang Tuo merupakan salah satu pimpinan dalam suatu kampung memiliki tugas secara adat. Berdasarkan permasalahan tersebut pertanyaan peneliti adalah bagaimana peran Urang Tuo sebagai tokoh masyarakat yang membantu masyarakat dalam penyelesaian permasalahan tersebut. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori peran Biddle dan Thomas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan informan terdiri dari Datuak Mudo, Urang Tuo dan anggota masyarakat Korong Kubu Alahan Kuranji. Pengumpulan dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah dalam penyampaian informasi pada masyarakat Urang Tuo memiliki peran sebagai berikut: (1) menjembatani informasi dari nagari kepada masyarakat, (2) menjamin kebenaran informasi kepada masyarakat (3) menyampaikan aspirasi masyarakat kepada nagari.
Konservasi Budaya Seni Dendang Masyarakat Serawai Manya Deptiana Sari; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.211

Abstract

Eksistensi seni dendang masyarakat Serawai sudah mulai terancam. Era modern saat ini masyarakat sudah jarang menggunakan seni dendang sebagai hiburan di acara- acara adat seperti pernikahan, aqiqah ataupun sunat rasul serta generasi muda sudah kurang tertarik mempelajari seni dendang. Sehingga diperlukan adanya konservasi terhadap warisan budaya seni dendang masyarakat Serawai untuk pelestarian dan penyelamatan kesenian Serawai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan konservasi warisan budaya seni dendang yang dilakukan oleh Sanggar Tiga Serangkai di Desa Suka Bandung. Penelitian ini dianalisis dengan teori habitus dan modal budaya oleh Pierre Bourdieu. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe penelitian studi kasus. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 12 orang dengan kriteria tokoh adat, pengurus sanggar, anggota sanggar, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen, serta menggunakan analisis data model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukan konservasi budaya yang dilakukan sanggar Tiga Serangkai agar eksistensi Seni Dendang Desa Suka Bandung tetap terjaga keberadaanya yaitu dengan: pertama mengenalkan seni dendang pada generasi penerus, kedua melatih generasi muda, ketiga melakukan pertunjukan melalui perlombaan baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten, keempat mempromosikan seni dendang di media sosial. Kelima mempersingkat waktu penampilan tanpa mengurangi makna. Implikasi penelitian ini mengusulkan agar konservasi warisan budaya seni dendang tidak hanya melibatkan generasi muda laki-laki tapi juga bisa melibatkan generasi muda perempuan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2025 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025) Vol 7 No 1 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2025) Vol 6 No 2 (2024): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2024) Vol 6 No 1 (2024): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2024) Vol 5 No 2 (2023): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2023) Vol 5 No 1 (2023): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2023) Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022) Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022) Vol 3 No 2 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2021) Vol 3 No 1 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (September 2021) Vol 2 No 4 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2021) Vol 2 No 3 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (March 2021) Vol 2 No 2 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2020) Vol 2 No 1 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (September 2020) Vol 1 No 4 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2020) Vol 1 No 3 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (March 2020) Vol 1 No 2 (2019): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2019) Vol 1 No 1 (2019): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (September 2019) More Issue