cover
Contact Name
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik
Contact Email
jurnal.tbbt@b4t.go.id
Phone
+62-22-2504088
Journal Mail Official
jurnal.tbbt@b4t.go.id
Editorial Address
Jl. Sangkuriang no. 14, Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik
ISSN : 20894767     EISSN : 27159116     DOI : 10.37209/jtbbt
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik is a peer-reviewed and open access scientific journal. This journal is published by Center for Material and Technical Product (B4T) since 2011. Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik is published twice a year, in June and December. Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik publishes research results, conceptual ideas, and application of theory with a focus on technology of material and technical product. The scope of this journal are: Material Engineering, Energy Diversification, and Technology for Industry 4.0.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2018)" : 5 Documents clear
Pengaruh Konsentrasi Thinner terhadap Ketahanan Korosi Lapisan Epoksi pada Baja Karbon Rendah Asep Ridwan Setiawan; Egi Setiawan
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Bahan dan Barang Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.982 KB) | DOI: 10.37209/jtbbt.v8i2.117

Abstract

Epoxy coating is frequently used to protect steel substrate from corrosion.  However, it was found that the epoxy coated steel was also very often attacked by corrosion. Insufficient coating procedure, substrate preparation, selection of coating composition and mechanical damage are several factors which might contribute to the epoxy coating failure. In this work, the effect of thinner concentration on epoxy coating resistance to corrosion was studied. Epoxy coating was applied onto carbon steel substrate using conventional spray method. The concentration of thinner used for this study were 0; 15 and 30% volume. The thickness, surface roughness, hardness and permeability of epoxy coating were evaluated. The corrosion resistance of epoxy coating was evaluated in 5% NaCl solution using salt spray test. The epoxy coating with addition of 15% thinner had the highest adhesiveness, i.e 1.875 MPa. Salt spray test indicated that the epoxy coating with the addition of 15% thinner had very good underfilm corrosion resistance, with Xmax 0.64 mm, and Ymax 0.69 mm. Moreover, the increase of thinner concentration in epoxy coating decrease the thickness and surface roughness of epoxy coating formed. FTIR result showed that the addition of thinner onto epoxy coating did not modify the epoxy chemical structures.Lapisan epoksi sering digunakan untuk melindungi baja karbon dari korosi. Namun baja yang diberi lapisan epoksi dapat terserang korosi. Prosedur pelapisan yang kurang baik, preparasi permukaan, pemilihan komposisi lapisan dan kerusakan mekanis adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan rusaknya lapisan epoksi pada baja. Pada penelitian ini akan dipelajari pengaruh konsentrasi thinner terhadap ketahanan korosi lapisan epoksi. Lapisan epoksi dengan konsentrasi thinner yang bervariasi diaplikasikan pada substrat baja menggunakan metoda spray. Konsentrasi thinner yang divariasikan adalah 0, 15 dan 30 % volume. Pengukuran ketebalan, kekasaran, kekerasan dan permeabilitas pelapisan dilakukan sebagai data pendukung. Ketahanan korosi lapisan ini diuji pada lingkungan NaCl 5% dengan pengujian korosi siklus kabut garam. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sampel dengan konsentrasi thinner 15% memiliki nilai daya lekat paling tinggi yaitu 1,875 MPa. Pengujian korosi siklus kabut garam menunjukkan bahwa lapisan epoksi dengan 15% thinner memiliki ketahanan korosi underfilm yang sangat baik, dengan Xmax 0,64 mm dan Ymax 0,69 mm. Seiring dengan peningkatan konsentrasi thinner, ketebalan dan kekasaran permukaan lapisan menurun. Hasil pengujian FTIR menunjukkan bahwa penambahan thinner tidak mempengaruhi struktur kimia dari lapisan epoksi yang terbentuk.
Pengaruh Ground Granulated Blast Furnace Slag terhadap Sifat Fisika Semen Portland Jenis-I Gaos Abdul Karim; Eny Susilowati; Wieke Pratiwi
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Bahan dan Barang Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.288 KB) | DOI: 10.37209/jtbbt.v8i2.118

Abstract

Research on The Effect of Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) on Physical Properties of Portland Cement Type I has been conducted. GGBFS with activity class of 100 was added to Portland cement at 0% (as control), 10%, 20%, 30%, 40% and 50% variation. The characteristic of compressive strength, setting time,  autoclave expansion and sulphate expansion was tested. Compared to the control, the compressive strength of mixtures at curing time of 3 and 7 days, was lower compared to the control. But at curing time of 28 days, the compressive strength reached more than control and optimum at 50% variation of GGBFS was achieved. The addition of GGBFS at whole mixture indicated of increasing setting time, lower autoclave expansion, and lower sulphate expansion. Penelitian mengenai Pengaruh Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) terhadap Sifat Fisika Semen Portland Jenis-I telah dilakukan. GGBFS kelas aktifitas 100 digunakan sebagai bahan tambahan pada Semen Portland Jenis-I dengan variasi GGBFS  pada campuran  yaitu 0% (kontrol), 10%, 20%, 30%, 40% dan 50 %. Terhadap setiap campuran dilakukan uji kuat tekan, waktu setting, pemuaian dengan autoclave dan pemuaian karena sulfat. Dibandingkan dengan karakter kontrol, kuat tekan mortar pada umur 3 dan 7 hari lebih rendah pada semua variasi, tetapi pada kuat tekan 28 hari, kuat tekan campuran umumnya lebih tinggi dari kontrol dan optimum pada perbandingan 50:50. Penambahan GGBFS menyebabkan penambahan waktu setting, penurunan sifat pemuaian  pada uji pemuaian dengan autoclave,  dan penurunan pemuaian karena sulfat.
Pengaruh Laju Alir Larutan Asam Sitrat terhadap Korosi Aluminium Isdiriayani Nurdin; Pramujo Widiatmoko; Hary Devianto; Ferdyan Ihza Akbar; Tiara Calista Shandy
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Bahan dan Barang Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.273 KB) | DOI: 10.37209/jtbbt.v8i2.119

Abstract

Corrosion behaviour of alumina in a citric acid solution has been investigated under a dinamic condition of fluid. The corrosion test was conducted using the Rotating Disk Electrode and potentiostat. The citric acid concentration were 2, 3.5 and 5% w/v. The corrosion rates were found to be severe, within the rate of 2.12 – 24.86 mm/year. The corrosion rate under the citric acid concentration of 5% was found lowest due to the formation of passive layer. The corrosion was of a one step irreversible reaction, and the corossion product of Al2O3 was unstable.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku korosi aluminium dalam larutan asam sitrat pada kondisi fluida dinamis. Pengujian laju korosi dilakukan dengan menggunakan Rotating Disk Electrode (RDE) dan potensiostat. Konsentrasi asam sitrat divariasikan 2%, 3,5% dan 5%–w/v pada rejim aliran transisi dan turbulen. Hasil penelitian menunjukkan laju korosi aluminium yang ganas, dalam rentang 2,12–24,86 mm/tahun. Konsentrasi asam sitrat 5%-w/v memberikan laju korosi aluminium yang lebih rendah akibat pembentukan lapisan pasif. Reaksi korosi yang terjadi bersifat irreversible satu tahap dengan produk korosi berupa Al2O3 yang tidak stabil.
Peningkatan Kualitas Pasir Silika Lokal Asal Sidrap sebagai Pasir Standar untuk Pengujian Mutu Semen Wieke Pratiwi; Gaos Abdul Karim; Titi Rachmawati
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Bahan dan Barang Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.969 KB) | DOI: 10.37209/jtbbt.v8i2.120

Abstract

Silica sand from Sidrap, South Sulawesi has been processed to substitute for Ottawa sand as a standard sand in testing of cement quality. The main processing was milling in a 3.5 L replica ball mill made of 2 mm steel with a rotational speed of 30 rpm for 30 minutes. Milling was carried out using ceramic or steel grinding balls with diameters of 13 and 17 mm. This milling resulted the following cumulative particle size distribution: 9.6% (+18, retained in 18 mesh sieve), 66.0% (+35), 11.6% (+50), 7.2% (+100), 3.6% (+170) and 2.0% passed through 170 mesh sieves. This particle size distribution  was more or less similar to that obtained from a standard laboratory ball mill having the same dimensions. This particle size distribution also met that the standard sand for the testing of cement quality. Milling caused a surface abrasion of Sidrap sand particles resulting a change in roundness (representing the smoothness of the surface). Milling of Sidrap sand using this replica ball mill gave a roundness of 0.27 (using ceramic milling balls), and 0.24 (steel balls), while Ottawa sand as a comparison has a roundness in the range of 0.27 - 0.30. Pasir silika asal Sidrap, Sulawesi Selatan telah diolah untuk dijadikan pengganti pasir Ottawa sebagai pasir standar untuk pengujian mutu semen. Pengolahan utama adalah penggerusan di dalam sebuah ball mill replika volum 3,5 L yang dibuat dari baja 2 mm dan kecepatan putar 30 rpm selama 30 menit. Penggilingan dilakukan dengan bantuan bola-bola penggerus dengan diameter 13 dan 17 mm dari bahan keramik atau bola baja. Penggerusan ini berhasil menjadikan pasir Sidrap memiliki distribusi ukuran partikel kumulatif sebagai berikut 9,6% (+18, tertahan pada ayakan 18 mesh), 66,0% (+35), 11,6% (+50), 7,2% (+100), 3,6% (+170) dan 2,0% lolos ayakan 170 mesh. Distribusi partikel hasil penggerusan dengan ball mill replika ini mirip dengan yang dari standard laboratory ball mill dengan dimensi sama. Distribusi ukuran partikel ini juga memenuhi distribusi ukuran partikel pasir standar untuk pengujian mutu semen. Penggerusan juga menghasilkan abrasi permukaan partikel pasir Sidrap, sehingga terjadi perubahan roundness (indeks kebundaran) yang mencerminkan kemulusan permukaan. Penggerusan dengan ball mill replika menghasilkan indeks kebundaran 0,27 (dengan bola penggerus keramik), dan 0,24 (bola baja), sedangkan pasir Ottawa sebagai pembanding memiliki indeks kebundaran antara 0,27 – 0,30.
Karakterisasi dan Kinetika Kalsinasi Dolomit Winny Wulandari; Subagjo Subagjo; Adnanta Rio; Pratama Istiadi
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Bahan dan Barang Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.382 KB) | DOI: 10.37209/jtbbt.v8i2.121

Abstract

Calcination is a key processing step to increase added value of dolomite to many end-products, including as a feedstock for magnesium metal, as a flux for steelmaking, and refractory bricks. This research dealt with calcination of dolomite from Gresik, East Java. Calcination was carried out in a tubular reactor with a diameter of 3 cm, at an atmospheric pressure and using nitrogen as an elusion gas with the rate of 50 mL/min. Reaction temperature was varied at 700, 800 and 900°C and the reactions were carried out for 1, 2, 3, and 4 hours. The conversion of dolomite calcination reaches 98 to 99% as the calcination conducted at 800 and 900°C. The experimental results were presented using various kinetics models. The diffusion Ginstling-Brounshtein model was found as the best for describing the calcination reaction, which implied the reaction was controlled by internal diffusion of reactants. For the Ginstling-Brounshtein model, the apparent activation energy of dolomite calcination was found to be 77.07 kJ/mol.Kalsinasi merupakan salah satu proses untuk meningkatkan nilai tambah dolomit menjadi berbagai jenis produk akhir, seperti bahan baku pembuatan logam magnesium, sebagai fluks untuk pembuatan baja, serta batu bata tahan api. Penelitian ini dimaksudkan untuk menentukan kinetika kalsinasi dolomit Gresik, Jawa Timur. Temperatur reaksi divariasikan 700, 800 dan 900˚C. Kalsinasi dilakukan selama 1, 2, 3, dan 4 jam di dalam sebuah reaktor tubular dengan diameter 3 cm pada tekanan atmosfer. Reaksi kalsinasi dilakukan dalam kondisi gas nitrogen yang dialirkan sebagai gas-elusi dengan laju alir 50 mL/menit. Konversi dolomit mencapai 98 hingga 99% ketika kalsinasi dilakukan pada temperatur 800 dan 900˚C. Model difusi Ginstling-Brounshtein dapat dijadikan model yang paling sesuai untuk menggambarkan reaksi kalsinasi yang dikendalikan oleh perpindahan massa difusi di dalam partikel. Untuk model Ginstling-Brounshtein, energi aktivasi kalsinasi dolomit terhitung sebesar 77,07 kJ/mol.

Page 1 of 1 | Total Record : 5