cover
Contact Name
Muhammad Ulul Albab
Contact Email
stitrsg@gmail.com
Phone
+623139923805
Journal Mail Official
stitrsg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dermaga Sungaiteluk Kecamatan Sangkapura Kabupaten Gresik
Location
Kab. gresik,
Jawa timur
INDONESIA
Tadrisuna : Jurnal Pendidikan Islam dan Kajian Keislaman
ISSN : 26158477     EISSN : 26203057     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
the aim is how to share the idea in all paper into international. Tadrisuna : Jurnal Pendidikan Islam dan Kajian Keislaman, This journal was published by the STIT Raden Santri Gresik Islamic Education Study Program (PAI) twice a year in April and September with the concentration of Islamic Education and Islamic Studies. This journal contains internal papers from the campus as well as external papers from other universities.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2020): September 2020" : 6 Documents clear
Studi Komparasi Model Pembelajaran PAI Antara Peserta Didik Program Unggulan Dan Smart Tahfiz Kelas 1 MINU Trate Putri Gresik Mahbubah, Anisatul; Amaliati, Siti
Tadrisuna : Jurnal Pendidikan Islam dan Kajian Keislaman Vol. 3 No. 2 (2020): September 2020
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tabiyah Raden Santri Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana model pembelajaran yang diterapkan di MINU Trate Putri Gresik. Sebagai obyek dari penulisan ini adalah MINU Trate Putri Gresik. Penulisan ini merupakan perbandingan antara model pembelajaran yang diterapkan pada program kelas unggulan dan program kelas smart tahfiz kelas 1. Pada penelitian ini peneliti meninjau kembali bagaimana proses belajar dalam madrasah, peneliti mendapatkan banyak hal baik secara pengamatan maupun informasi tentang proses pembelajaran di program Unggulan dan Smart Tahfiz yang dimana pada kedua program ini menerapkan proses pembelajaran yang berbeda. Pada proses pembelajarannya dua kelas ini sedikit terdapat perbedaan dalam modelnya. Yang mana pada program unggulan menggunakan model pada umumnya sedangkan pada program smart tahfiz pembelajarannya menggunakan model yang ditambahi dengan pembelajaran al-Qur’an. Dengan berbedanya dua program kelas ini maka berbeda pula model dalam pembelajaran peserta didik di program ini pula. Hasil dari model pembelajarannya yang dapat terlihat secara langsung yaitu berbedanya kebiasaan anak dalam setiap melakukan kegiatan disekolah. Pada pengamatan penulisan ini penulis menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk mencari data yang pasti. Dengan melihat proses pembelajaran seperti itu penulis melakukan pengamatan dan membandingkan antara model pembelajaran di program unggulan dan program smart tahfiz. Dan dari pengamatan yang dilakukan penulis dapat dihasilkan bahwa model pembelajaran antara dua program ini hampir sama dalam modelnya tetapi berbeda dalam prosesnya.
Model Pembelajaran Guru PAI Dalam Menghadapi Peserta Didik Era Millenial Di MA Islamiyah Ujungpangkah Gresik Putri, Eni Musrifatin; Rochmawati, Ida
Tadrisuna : Jurnal Pendidikan Islam dan Kajian Keislaman Vol. 3 No. 2 (2020): September 2020
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tabiyah Raden Santri Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realita yang terjadi sekarang ini masih ada guru mata pelajaran PAI dalam proses pembelajarannya masih menggunakan metode ceramah. Dalam penelitian ini digunakan metode observasi, metode interview dan dokumentasi. Metode obsevasi adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap obyek yang diselidiki. Metode Interview merupakan metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara peneliti dengan subyek. Sedangkan metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, dan buku. Peserta didik di MA Islamiyah termasuk dalam karakteristik peserta didik era millenial yang merupakan generasi dengan adaptasi dan kemampuan teknologi di akun media sosial. Sedangkan model pembelajaran guru PAI yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (MPBM) hanya satu guru saja guru SKI Eva Maulidiyah, S. Hum. Kemudian guru yang menggunakan model pembelajaran kooperatif ada dua guru, dan yang menggunakan model pembelajaran PAIKEM hanya ada satu guru saja yang memakai model PAIKEM lebih adaptif terhadap peserta didik era millenial.
Konsep Emansipatoris dalam Kajian Gender (Analisis Teori Subyektivisme) Albab, Muhammad Ulul
Tadrisuna : Jurnal Pendidikan Islam dan Kajian Keislaman Vol. 3 No. 2 (2020): September 2020
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tabiyah Raden Santri Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam epistemologi sebuah penelitian sosial memiliki banyak paradigma dalam pemikiran. Ragam pandangan dan perdebatan panjang akan melahirkan kebenaran menurut prespektif masing-masing. Kajian yang menggunakan pola subjektivisme menjadi teori yang tidak bisa dilepas dalam pandangan sosiologi. Peneliti juga menyebutnya bahwa paradigma subjektif itu termasuk bagian penelitian kualitatif. Tentunya, dalam penelitian ini perlu adanya pendekatan fenomenologi (lapangan), etnografi, dan biografi (tokoh). Sehingga dalam kesempatan ini, peniliti mecoba mengkaji pola penelitian subjektif dalam nalar emansipatoris terkait gender. Gerakan aktifis dan pejuang emansipasi wanita dalam memperjuangkan hak-hak yang sudah lama tertindas. Ada beberapa alasan yang memicu bangkitnya perempuan yang memperjuangkan haknya. Salah satunya adalah kesadaran posisi yang terpinggirkan dan didukung gerakan femninisme yang menyuarakan equality antara laki-laki dan perempuan. Pemikiran emansipatoris mencoba menyadarkan pada realitas sosial terkait kemampuan wanita dalam lingkaran kehidupan. Sehingga terbentuklah pandangannya secara subjektif dalam menilai gender.
Produksi Hiperrealitas pada Komunitas Utopia di Indonesia Indrawati
Tadrisuna : Jurnal Pendidikan Islam dan Kajian Keislaman Vol. 3 No. 2 (2020): September 2020
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tabiyah Raden Santri Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena Dimas Kanjeng Taat Pribadi (2016), Kerajaan Ubur-ubur (2018), Kerajaan Agung Sejagat (2020), Sunda Empire (2017) menjadi wacana dominan di Indonesia pada dasawarsa ini. Fenomena tersebut menyedot perhatian publik dan membuat para aparat hukum sibuk untuk mengusut fenomena tersebut. Fenomena yang dikenal dengan komunitas utopia, ini mampu menarik pengikut dengan jumlah banyak temasuk tokoh penting masyarakat. Kasus Dimas Kanjeng menarik pengikut ribuan orang dan mampu menyeret nama besar Marwah Daud Ibrahim, kerajaan Agung Sejagat yang diikuti hingga 450 orang, Kerajaan Ubur-ubur 20 orang pengikut, dan Sunda Empire menarik pengikut hingga 1000-an orang. Fokus dari kajian ini adalah 1) memaparkan motif pendirian komunitas utopia tersebut, mekanisme mereka mencari pengikut hingga menarik ribuan orang, 2) karakteristik pengikut komnunitas utopia. Untuk menjawab kajian pertama ini ini dikaji dengan menggunakan perspektif Hiperrealitas Jean Baudrillard, sedangkan pertanyaan kedua dengan menggunakan motif perilaku dengan perspektif Max Weber.Hasil kajian menemukan bahwa fenomena komunitas utopia tersebut menunjukkan bahwa mereka masing-masing memiliki motif-motif yang berbeda antara lain ada yang bermotif ekonomi (uang), yaitu Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Kerajaan Agung Sejagat, kerajaan Ubur-ubur masih dalam tahap diduga bermotif ekonomi (uang), sedangkan Sunda Empire bermotifkan keinginan si pendiri untuk 2 putrinya yang pada waktu itu ditahan oleh pihak migrasi Malaysia karena didapati menggunakan paspor Sunda Empire, namun keseluruhan empat komunitas utopia tersebut memiliki kesamaan yaitu sama-sama memproduksi hiperrealitas berupa pengakuan mereka terhadap masyarakat bahwa mereka sanggup melakukan sesuatu yang luar biasa di luar dari natural/nalar/rasional. Pengakuan mereka tersebut sengaja disampaikan secara terbuka dengan menggunakan media sosial yang bertujuan untuk menarik pengikut.
Aplikasi Kaidah Al-Umur Bi Maqasidiha Dalam Pernikahan Khuluq, Moh. Sahlul
Tadrisuna : Jurnal Pendidikan Islam dan Kajian Keislaman Vol. 3 No. 2 (2020): September 2020
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tabiyah Raden Santri Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaidah-kaidah Fiqih merupakan kaidah yang awalnya adalah titk temu dari masalah-masalah fiqih yang tersebar dalam khazanah buku buku tentang hukum Islam. Mengetahui kaidah-kaidah fiqih akan memberikan kemudahan untuk menerapkan fiqih dalam waktu dan tempat yang berbeda untuk kasus, keadaan dan adat kebiasaan yang berlainan. Selain itu juga akan lebih moderat di dalam menyikapi masalah-masalah sosial, ekonomi, politik, budaya dan lebih mudah dalam memberi solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan berkembang dengan tetap berpegang kepada kemaslahatan, keadilan, kerahmatan dan hikmah yang terkandung di dalam fiqih. Mengingat kaidah Fiqih merupakan salah satu cabang keilmuan dalam Islam yang biasa disebut Ilmu Qawaid Al-Fiqhiyyah atau dalam terminologi lain dikenal Al-Asybah Wa Al-Nazhair. Ilmu ini juga memenuhi prasyarat sebagai ilmu yang independen dan memiliki teori-teori seperti pada khasanah keilmuan pada umumnya serta ruang lingkup yang sangat luas. Dalam ilmu kaidah fikih ada lima kaidah dasar yaitu 1, al Umur bi Maqasidiha. 2. Al Yaqin la yuzal bi al-syak. 3. Al-Masyaqqah tajlib al-Taysir 4. Al-Dhoror Yuzal dan yang ke 5. Al-‘adah muhakkamah. Selain lima kaidah tersebut ada lebih banyak kaidah lagi yang disebutkan dalam kajian ilmu kaidah fikih. Adapun artikel di sini menjelaskan kaidah yang pertama yaitu al-Umur bi Maqasidiha sebagai landasan dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari terlebih pada kehidupan dalam jenjang pernikahan. Karena untuk mencapai keberhasilan dalam melaksanak apapun, terlebih dalam membangun mahligai rumaha tangga maka tujuan akhir atau maqashid menjadi sangat penting. Pembangunan fisik tidak akan berhasil kecuali kita membangun mental. Membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rohmah harus diawali dengan niat yang benar-benar tulus dan ikhlash untuk mencari keridhoan Allah. Pernikahan bukanlah orientasinya hanya memenuhi kebutuhan biologis semata, karena manusia tidaklah sama dengan makhluq yang lain.
Makna Pluralisme Agama Perspektif Majelis Ulama Indonesia (Respons Mui Terhadap Maraknya Ajaran Pluralisme Agama) Kristianto, Aris
Tadrisuna : Jurnal Pendidikan Islam dan Kajian Keislaman Vol. 3 No. 2 (2020): September 2020
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tabiyah Raden Santri Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menjawab pertanyaan masyarakat tentang maraknya ajaran pluralisme agama yang berkembang dan dikhawatirkan oleh para ulama terjadi pendangkalan akidah akibat menyamakan semua agama dan menghilangkan identitas kebenaran agama Islam, maka Majelis Ulama Indonesia melalui Munas VII di Jakarta mengeluarkan keputusan fatwa MUI Nomor 7 Tahun 2005 tentang keharaman pluralisme agama. Studi ini berangkat dari pemaknaan MUI tentang makna khusus pluralisme agama di Indonesia dan metode istinbath (penggalian hukum) yang difokuskan pada keabsahan fatwa sebagai respons maraknya ajaran pluralisme agama era 2000-an. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan library research. Analisis berpijak pada konsep pluralisme agama menurut para pengusungnya, makna dan metode penggalian hukum keharaman pluralisme indifferent menurut MUI. Hasil studi menunjukkan, pertama, pemaknaan pluralisme agama menurut MUI bermakna khusus karena berangkat dari pengertian awal pemahaman masyarakat. Kedua, sebelum munculnya pemaknaan baru pluralisme nonindifferent, maka Keputusan Fatwa MUI Nomor 7 Tahun 2005 dengan sendirinya adalah absah. Dengan mempertimbangkan ketentuan umum yang bersifat empiris berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits yang dijadikan sumber hukum dan dalil dalam memutuskan hukum pluralisme agama, maka pluralisme agama dalam perspektif MUI adalah ajaran yang bertentangan dengan Islam sehingga bernilai haram.

Page 1 of 1 | Total Record : 6