cover
Contact Name
Isna Mutia
Contact Email
isnamutia23@gmail.com
Phone
+6282286585642
Journal Mail Official
jurnalmuashirah@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh, 23111
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif
ISSN : 16937562     EISSN : 25992619     DOI : 10.22373/jim
Publisher media for Koran and Hadis with multy perspective. Research with social perspective, psikological perspective, lingusistic perspective, antropology perspective
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2020)" : 6 Documents clear
Bahaya Riba dalam Perspektif Hadis HamdIah Latif
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v17i2.9047

Abstract

This article aims to discuss the purpose of riba (usury) prohibition within The Prophet Tradition perspective. As it is known undoubtfully, the terminology of riba (usury) is forbidden not only in Islam as a religion but also in Jew as well as Christian. In Al-Qur’an itself, the prohibition of riba has gradually been prohibited, at least through four passages that are found in four disparate surahs in which riba (usury) at last is forbidden and condemned; even it is also considered as a great sin. By using bibliography studies, this article would like to dig and elaborate on some of the Prophet hadith regarding the prohibition of riba and its impact within society. It is believed that riba is a great sin in Islam because it leads to social jealousy and injustice. Therefore the tradition of riba is aiming at promoting gracious, wisdom, a mutual benefit that can realize a more just economic system that is based on Islamic ethics to perform justice and prosperity.AbstrakArtikel ini ingin membahas tujuan dari pelarangan riba dalam perspektif hadis. Tidak diragukan lagi, istilah riba sebenarnya dilarang dalam semua agama samawi, baik Yahudi, Kristen maupun Islam. Di dalam Al-Qur'an sendiri, pelarangan riba memiliki empat ayat yang ditemukan pada empat surat berbeda, di mana riba jelas-jelas dikutuk dan dilarang, bahkan riba dinyatakan pula sebagai dosa yang sangat serius. Dengan menggunakan studi literatur, artikel ini ingin menggali dan mendalami beberapa hadis tentang larangan riba dan dampaknya di masyarakat. Dikatakan bahwa riba adalah dosa dalam Islam, karena mengarah pada kehancuran, sedangkan sedekah mengarah kepada pertumbuhan. Oleh karena itu, penghapusan riba sebenarnya bertujuan untuk memajukan sistem ekonomi yang merahmati, lebih berkeadilan, hubungan sosial yang lebih berimbang serta nilai-nilai etika yang sejalan dengan ajaran Islam.    
Mashdar dalam Surat Al-Kahfi: Suatu Kajian Morfologis Emi Suhemi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v17i2.9180

Abstract

Masdar is a word that shows an event that is independent of time. The researcher chose masdar as the object of research because masdar has a very important role in Arabic, especially the recording of masdar as part of shigat or a part of the wazan tasrif isthilahy form, and even some scholars mention masdar as the origin of ushul from a word or lafadh. Researchers are interested in choosing surah al-kahfi as the object of study on masdar because al-Kahfi is one of the surahs that has virtue. And in surah al-Kahfi, almost half of the verse uses the masdar form. This research is library research using a content analysis method or content analysis. And this research has found some 37 forms of masdar consisting of masdar fill stulasty.AbstrakMasdar adalah kata yang menunjukkan suatu kejadian tanpa terikat dengan waktu. Peneliti memilih  masdar sebagai objek penelitian  karena masdar memiliki peranan yang sangat penting dalam bahasa Arab terutama tercatatnya masdar sebagai bagian dari shigat atau satu bagian dari bentuk wazan tasrif isthilahy dan bahkan oleh sebagian ulama menyebut masdar sebagai asal ushul dari suatu  kata atau lafadh . Peneliti tertarik memilih surah al-kahfi sebagai objek kajian tentang masdar karena al-Kahfi adalah salah satu surah yang memiliki keutamaan. Dan dalam surah al-Kahfi ini  hampir setengah dari ujung ayatnya menggunakan bentuk masdar. Penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan menggunakan methode content analisis atau analisis isi . Dan penelitian ini telah menemukan sejumlah 37 bentuk masdar yang terdiri dari masdarnya fiil- fiil stulasti.
Konsep Sabar dalam Perspektif Al-Qur’an Miskahuddin Miskahuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v17i2.9182

Abstract

Patience is the inner human attitude in restraining the emotions and desires of all needs. The strength of faith and aqidah under Islamic law can affect patients. The ability to be patient by controlling lust will be glorified by Islam. An attitude of patience can make humans refrain from degrading human dignity. Therefore, the concept of patience in the Al-Qur'an is human self-control based on Islamic aqidah in the guidance of the Al-Qur'an al-KarimAbstrakSabar merupakan sikap batin manusia dalam menahan emosi dan keinginan segala kebutuhan. Kekuatan iman dan aqidah yang sesuai dengan  syariat Islam dapat mempengaruhi kesabaran. Kemampuan bersikap sabar dengan cara mengendalikan hawa nafsu akan dimuliakan oleh agama Islam. Sikap sabar dapat membuat manusia menahan diri dari perbuatan merendahkan harkat martabat kemanusian. Oleh karena itu, konsep sabar dalam Al-Qur’an pada dasarnya adalah pengendalian diri manusia berdasarkan aqidah Islam dalam bimbingan Al-Qur’an al-Karim
Tafsir Al-Qur’an tentang Jual Beli Zainuddin Zainuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v17i2.9240

Abstract

The views of the commentators on buying and selling in surah Al-Baqarah verse 275 are interesting to study. Why does Allah repeat the parable of the ignorant Arab society before? It may be that a parable is a form of reality that exists and is not different until now. That is why it is so important that God talks about buying and selling and his position. The analyzes of the commentators are very diverse. Practical facts in the field about buying and selling and usury have not been quietly talked about throughout the ages. This study uses the method of tahlili, one central verse is discussed in detail, through a tafsir approach. The main sources in this study are tafsir books to know the sale and purchase according to the commentators. The result of this finding is that God wants trading to be completely lawful, free from the practice of usury, financial monopolies, and unilateral risk-bearing so that in the practice of trading, the principles of oneness, humanity, justice, and peace are established. AbstrakPandangan  para mufasir mengenai jual beli dalam surah Al-Baqarah ayat 275 menarik untuk dikaji. Mengapa Allah menyebut kembali perumpamaan masyarakat Arab jahiliyah dahulu. Bisa jadi permisalan tersebut merupakan bentuk kenyataan yang ada dan tidak berbeda sampai saat ini. Karenanya begitu penting Allah membicarakan tentang jual beli dan kedudukannya. Analisa-analisa para mufassir sangat beragam. Kenyataan praktik di lapangan tentang jual beli dan riba tidak sepi dibicarakan sepanjang zaman. Kajian ini menggunakan metode tahlili, satu ayat sentral dibahas secara rinci, melalui pendekatan tafsir. Sumber utama dalam kajian ini adalah kitab-kitab tafsir dengan tujuan hendak mengetahui jual beli menurut para mufasir. Hasil temuan ini adalah bahwa Allah menginginkan jual beli benar-benar halal, terhindar dari praktik riba, monopoli keuangan, dan penanggungan resiko sepihak sehingga di dalam praktik jual beli terbangun prinsip ketauhidan, kemanusiaan, keadilan dan kedamaian.
Pemikiran Kebahasaan Syeikh Al-Shabuni dalam Kitab Shafwat Al-Tafasir: Analisis terhadap Penafsiran Surat Al-Fatihah Suhaimi Suhaimi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v17i2.9076

Abstract

Sheikh Muhammad Ali al-Shabuni is a contemporary commentator. The book of Tafsir that he composed was a book entitled Shafwat al-Tafasir. This book has been spread to various countries. One of the aspects that he pays attention to when dealing with verses of the Koran is the linguistic aspect, whether in the form of isytiqaq, balaghah, or other. This has its appeal for every researcher of linguistics and tafsir because it is very useful in applying various linguistic theories through the examples of verses in the Koran. This simple paper focused on seeing it, specifically in surah Al-Fatihah. Through this article, it is hoped that it can describe in general the linguistic thoughts of Sheikh al-Shabuni. AbstractSyeikh Muhammad Ali al-Shabuni merupakan salah seorang mufasir kontemporer. Kitab Tafsir yang ia karang adalah kitab yang berjudul Shafwat al-Tafasir. Kitab ini telah tersebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Salah satu sisi yang beliau perhatikan dalam setiap menghadapi ayat Al-Quran adalah aspek kebahasaan, baik berupa isytiqaq, balaghah ataupun lainnya. Hal tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap peneliti kebahasaan dan tafsir, karena hal tersebut sangat bermanfaat dalam mengaplikasikan berbagai teori kebahasaan melalui contoh-contoh ayat dalam Al-Quran. Makalah sederhana ini difokuskan untuk melihat hal tersebut, khusus dalam surat Al-Fatihah. Melalui artikel ini, diharapkan dapat menggambarkan secara umum tentang pemikiran kebahasaan  Syeikh al-Shabuni..
Syu'aib a.s dalam Perspektif Al-Qur'an Muhammad Thaib Muhammad
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v17i2.9104

Abstract

Syu'aib a.s is one of the prophets mentioned ten times in several surahs in the Al-Qur'an al -Karim. His full name is Syu'aib bin Maikiil bin Masyjur ibn Madyan, the son of Prophet Ibrahim a.s and his mother was the son of Prophet Lut a.s. He was sent to Ahlu Madyan who had deviated from the religion of Abraham a.s. Ahlu Madyan lives in a fertile area near the bay of Aqabah. Ahlu Madyan cheated on the scales and did damage to the face of the earth. When Syu'aib a.s delivered his message inviting Ahlu Madyan to return to the true religion, they refused the invitation with great arrogance and humiliation. Even asked Syu'aib to bring something down from the sky and asked Syu'aib a.s to stop preaching. If it doesn't stop they will take it out with the believers from their village. As a result of Ahlu Madyan's denial and arrogance, Allah lowered the heat for seven days, then brought a black cloud so that they took shelter under it. Ahlu Madyan thought it would rain. But Allah sent down a rain of fire and a strong wind so that all of them died lying in their homes. That is how Allah SWT destroyed Ahlu Madyan.AbstrakSyu’aib a.s adalah salah seorang nabi yang yang disebut dalam Al-Qur’an al –Karim sebanyak sepuluh kali dalam beberapa surat. Nama lengkapnya Syu’aib bin  Maikiil bin Masyjur ibnu Madyan Anak Nabi Ibrahim a.s dan Ibunya adalah anak Nabi Luth a.s. Beliau diutus kepada ahlu Madyan yang sudah menyimpang dari  agama Ibrahim a.s. Ahlu Madyan tinggal di sebuah wilayah yang subur dekat  teluk Aqabah. Ahlu Madyan melakukan kecurangan dalam timbangan dan melakukan kerusakan di muka bumi. Ketika Syu’aib a.s menyampaikan dakwah mengajak Ahlu Madyan kembali kepada agama yang benar, mereka menolak ajakan tersebut dengan penuh kesombongan dan penghinaan. Bahkan meminta Syu’aib untuk menurunkan sesuatu dari langit serta meminta Syu’aib a.s untuk berhenti berdakwah. Jika tidak berhenti mereka akan mengeluarkannya bersama orang beriman dari desa mereka. Akibat dari keingkaran dan kesombongan Ahlu Madyan tersebut, Allah menurunkan kepanasan selama tujuh hari, kemudian mendatangkan  awan hitam sehingga mereka berteduh dibawahnya. Ahlu Madyan menyangka hujan akan turun. Akan tetapi Allah menurunkan hujan api dan angin kencang , sehingga semua mereka mati bergelimpangan di rumah mereka masing-masing. Begitulah Allah SWT menghancurkan Ahlu Madyan

Page 1 of 1 | Total Record : 6