cover
Contact Name
Indar Sabri
Contact Email
indarsabri@unesa.ac.id
Phone
+6281357970529
Journal Mail Official
getersendratasik@unesa.ac.id
Editorial Address
Prodi Pendidikan Sendratasik, Jurusan Sendratasik, FBS, Universitas Negeri Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik
ISSN : -     EISSN : 26552205     DOI : -
Core Subject : Art,
Jurnal Gétér adalah Jurnal Seni Pertunjukan yang mewadahi pikiran kritis dan akademis melalui berbagai pendekatan maupun perspektif.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2019)" : 14 Documents clear
ANALISIS dan PENERAPAN BALANCE DALAM PADUAN SUARA Hartati, RA. Dinar Sri
GETER Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v2n2.p41-50

Abstract

Balance adalah satu unsur penting dalam penyajian musikal Paduan Suara. Paduan suara adalah satu genre musikal dan terdiri dari sejumlah kategori, baik Anak-anak, remaja/pemuda, dewasa, baik sejenis maupun campuran. Komposisi musikal Paduan Suara ada yang diciptakan berdasar ide absolut, dan ada pula yang progmatik. Pencapaian keindahannya ada yang sifatnya estetis semata, namun ada pula yang pragmatis. Untuk mendapatkan satu sajian suara yang balance diperlukan analisis secara detail dan komprehensif dengan memperhatikan tiga kondisi yakni: komposisi suara, akustik ruang penyajian, maupun aspek kompositoris karya tersebut. Artikel ini menyajikan metode analisis dan strategi penataan balance berdasar tiga kondisi tersebut.
PENDIDIKAN INDONESIA : RAMAI DI DAPUR, SEPI DI PANGGUNG ( Sebuah Tinjauan Perkembangan ) Hidajad, Arif
GETER Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v2n2.p1-11

Abstract

ABSTRAK  Pendidikan adalah pondasi sebuah bangsa. Pembentukan pola pikir, bertindak dan mengembangkan lingkungan diajarkan dan di transformasikan melalui dunia pendidikan. Sejarah pendidikan kita belum mempunyai pondasi kultural secara mandiri. Kurikulum yang berkembang belum bisa menghadirkan kebutuhan pembentukan karakter anak didik. Hal tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, namun berkaitan dengan politik, ekonomi, dan arah pembangunan bangsa Indonesia.Ditinjau dari sejarah, pendidikan Indonesia selalu mencari formulasi yang tepat. Ketepatan itu baru sebatas kebutuhan pembangunan dan tergantung arah politik pada saat itu. Konsep pendidikan menjadi tidak permanen dan selalu berubah. Dunia pendidikan kita selalu berkaca pada pola pendidikan diluar Indonesia. Padahal secara kultural bangsa tersebut sudah dulu berkembang dan melalui tahapan yang panjang. Sementara kemajuan jaman mendorong kita untuk instan, begitu juga konsep pendidikan yang diadopsi. Padahal secara sejarah kita bisa membuat konsep pendidikan dari keberagaman kultural yang ada. Tanpa harus tergesa menerapkanya dan butuh waktu. Pendidikan hendaknya bisa menjadi seutuhnya selain mencerdaskan juga membentuk manusia yang berkarakter. Pendidikan karakter adalah membentuk insan yang membumu dan tidak asing dengan lingkunganya sendiri. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi dokumen dan pustaka serta pengalaman selama menjadi pengajar.Sebagai bangsa yang merdeka kita tentu mempunyai karakteristik yang berbeda dengan bangsa lain. Selama ini kita selalu mengadopsi pola pendidikan kita dari luar yang tidak berakar dari akar budaya sendiri. Paling tidak kita sudah mempunyai dasar pijakan yaitu kebudayaan yang didalamnya mengandung pemngajaran tentang karakter.  
WAYANG KULIT WONG LAKON MENJUNJUNG LANGIT MENCIUM BUMI: TEKS PERTUNJUKAN DALAM SEMIOTIKA TEATER Arisyanto, Prasena
GETER Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v2n2.p62-73

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis makna pertunjukan Wayang Kulit Wong dalam lakon Menjunjung Langit Mencium Bumi. Sebagai analisis adalah konsep semiotika teater Tadeus Kowzan yang di fokuskan pada analisis teks pertunjukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan semiotika teater. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menjelaskan bahwa Wayang Kulit Wong lakon menjunjung langit mencium bumi yang ditampilkan dalam acara peringatan sumpah pemuda mempunyai makna pada pertunjukannya yang dianalisis dari 13 sistem tanda Tadeus Kowzan, yaitu tanda kata, nada, mimik, gerak isyarat, gerakan-gerakan, tata rias, gaya rambut, kostum, properti, seting, tata cahaya, musik, dan pengaruh bunyi. Inti makna pertunjukan Wayang Kulit Wong pada lakon menjunjung langit mencium bumi sesuai dengan makna sumpah pemuda yaitu agar para pemuda harus menghargai berbagai perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai kekayaan bangsa dan memanfaatkan berbagai perbedaan tersebut untuk menjaga persatuan dan kesatuan negara Indonesia.
PROFESIONALISME GURU SENI BUDAYA DI SEKOLAH Alam, Samsul; Nur Zuama, Shofiyanti
GETER Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v2n2.p12-21

Abstract

Profesi guru merupakan suatu bidang pekerjaan yang wajib dikerjakan dengan kualifikasi keahlian yang sesuai dengan pekerjaan guru. Sebagai sebuah profesi, guru harus mahir, cakap serta memenuhi standard mutu minimal yang didapatkan melalui pendidikan profesi guru. Oleh karena itu guru harus professional. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan kompetensi professional guru seni. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan yaitu penulis menggunakan berbagai sumber rujukan baik yag berasal dari hasil penelitian maupun hasil pemikiran penulis lainnya yang dirumuskan kembali oleh penulis. Sehingga melahirkan konsep baru dalam penulisan artikel ini. Guru seni yang profesional bukan hanya ahli dalam menguasai ilmu seni namun harus memiliki keahlian dalam mengajarkan ilmunya kepada para peserta didik. Keahlian guru seni dalam dalam menguasai bidang ilmu seni harus diiringi dengan kemampuan memahami keadaan peserta didik, analisis dan pengembangan kurikulum, merencanakan pembelajaran seni, melakukan penilaian dan evaluasi.

Page 2 of 2 | Total Record : 14