cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 3 (2009): September 2009" : 6 Documents clear
HUBUNGAN KEKERABATAN GENETIK ANTAR SEMBILAN AKSESI KELAPA ASAL PROVINSI SULAWESI UTARA TENDA, ELSJE; TULALO, MEITY; MIFTAHORRACHMAN, MIFTAHORRACHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n3.2009.139-144

Abstract

ABSTRAKInformasi jarak genetik dan hubungan kekerabatan sangatdiperlukan dalam merakit varietas unggul. Semakin jauh jarak genetikantar tetua maka peluang dihasilkan kultivar baru dengan variabilitasgenetik yang luas akan menjadi semakin besar. Sebaliknya, persilanganantar tetua berkerabat dekat akan menghasilkan variabilitas yang sempit.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2007 di Kabupaten MinahasaUtara, Minahasa Selatan dan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Disetiap kabupaten ditetapkan tiga desa contoh pada ketinggian yangberbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkatkekerabatan dan jarak genetik sembilan aksesi plasma nutfah kelapa asalSulawesi Utara yang akan digunakan sebagai materi pemuliaan dalamperakitan kelapa unggul. Untuk mengetahui kekerabatan antara sembilanaksesi kelapa tersebut diukur jarak genetiknya dengan menggunakanperhitungan nilai D 2 statistik dari Mahalanobis didasarkan pada delapankarakter komponen buah, yaitu panjang buah, lebar buah, berat buah utuh,berat buah tanpa sabut, berat buah tanpa air, berat daging buah, tebaldaging buah, dan berat tempurung. Hasil penelitian menunjukkan bahwakesembilan aksesi kelapa tersebut membentuk lima kelompok dan jarakgenetik terbesar terdapat antara kelompok II (Dalam Lansot, DalamMongkonai, Dalam Dua Saudara) dan IV (Dalam Kaleosan, Dalam Kema)dengan nilai D 2 = 2.196,57. Sumbangan terbesar terjadinya jarak genetiktersebut diperoleh dari karakter tebal daging buah.Kata kunci : Cocos nucifera L., kekerabatan, genetik, kelapa dalamABSTRACTGenetic relationship among nine coconut accessions fromNorth SulawesiThe research was conducted in May 2007 at North Minahasa, SouthMinahasa, and Bolaang Mongondow Regions, North Sulawesi Province.From each region, three villages with different elevation were determined.The objective of the research was to find out genetic relationship amongnine coconut germplasm accessions for breeding material in composinghigh yielding coconut. The genetic relationships were estimated using D 2Mahalanobis Statistics based on eight characters of fruit component, suchas length of fruit, width of fruit, fruit weight, unhusked fruit weight,weight of fruit without water, weight of endosperm, thickness of kernel,and weight of shell. The result showed that the nine accessions weredivided into five groups and the widest genetic distance had been foundbetween group II (Lansot Tall, Mongkonai Tall, Dua Saudara Tall) and IV(Kaleosan Tall, Kema Tall) with the D 2  value of 2,196.57. The highestcontribution to the genetic relationship was thick of kernel (50%contribution). Lansot Tall and Kaleosan Tall can be used as parents forprepotent coconut.Key words : Cocos nucifera L., genetic relationship, tall coconut
PENDUGAAN AKSI GEN DAN DAYA WARIS KETAHANAN KAPAS TERHADAP Amrasca biguttula MOCH. MACHFUD; E. SULISTYOWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n3.2009.131-138

Abstract

ABSTRAKAmrasca biguttula merupakan salah satu hama utama kapas yangmampu menurunkan hasil secara nyata. Penggunaan varietas tahan hamasecara genetik merupakan salah satu dari sekian metode pengendalianyang efektif untuk menurunkan kerusakan hama. Penelitian bertujuanuntuk mengetahui aktivitas kerja gen dan daya waris gen yang mengen-dalikan sifat ketahanan terhadap hama pengisap daun A. biguttula.Penelitian dilakukan di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur daribulan Mei sampai Oktober 2006. Pengujian dilakukan terhadap 17genotipe yang terdiri dari (a) tiga varietas tetua jantan berbulu lebat yaituLRA 5166, SRT-1, dan Laxmi; (b) dua varietas tetua betina yangditingkatkan ketahanannya yaitu Kanesia-8 dan Kanesia-9; (c) enamgenotipe generasi F1 hasil persilangan tetua jantan dan betina tersebut diatas, dan d) enam genotipe generasi F2 yang merupakan keturunan darihasil persilangan F1. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok(RAK), diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga genotipeF1 dari pasangan persilangan Kanesia-8 x LRA 5166, Kanesia-9 x LRA5166, dan Kanesia-8 x Laxmi menunjukkan penampilan gen yangmengatur kelebatan bulu daun bersifat dominansi sebagian negatif.Sedangkan penampilan gen pada pasangan persilangan Kanesia-8 x SRT-1, Kanesia-9 x SRT-1, dan Kanesia-9 x Laxmi adalah dominansi sebagianpositif. Nilai heritabilitas dalam arti luas dari gen yang mengatur kelebatanbulu daun pada empat pasangan persilangan Kanesia-8 x SRT-1, Kanesia-9 x SRT-1, Kanesia-8 x Laxmi, dan Kanesia-9 x Laxmi adalah tinggi,sedangkan dua pasangan persilangan Kanesia-8 x LRA 5166 dan Kanesia-9 x LRA 5166 nilai heritabilitasnya sedang. Korelasi nyata terjadi antarajumlah bulu daun, populasi nimfa dan nilai JRI. Tingkat kehadiranpopulasi nimfa wereng dan nilai JRI sangat dipengaruhi oleh kerapatanbulu daun.Kata kunci : Gossypium hirsutum, Amrasca biguttula, kerapatan bulu,ketahanan, daya warisABSTRACTEstimation of Gene Action and Resistance Heritability ofCotton to Amrasca biguttulaAmrasca biguttula is one of main pests attacking cotton that causessignificant yield loss. The use of resistant varieties is genetically aneffective way to control the pest. An experiment was conducted to studythe activity and heritability of gene(s) responsible for controlling cropresistance to jassid, A. biguttula. The test involved 17 genotypes consistingof (a) three varieties with high trichome density as male parents i.e. LRA5166, SRT-1, and Laxmi; (b) two varieties to be improved their resistanceto jassid as female parents i.e. Kanesia-8 and Kanesia-9; (c) six genotypesof F1 generation resulted from crossing between male and female parents,and d) six genotypes of F2 generation resulted from selfing of genotypes.The test was arranged in randomized block design with three replications.Experimental result showed that the action of gene(s) responsible intrichome density or leaf pubescent of three F1 genotypes i.e. Kanesia-8 xLRA 5166, Kanesia-9 x LRA 5166, and Kanesia-8 x Laxmi were partlynegative dominance, whereas those of F1 genotypes of Kanesia-8 x SRT-1, Kanesia-9 x SRT-1, and Kanesia-9 x Laxmi were partly positivedominance. The heritability of that gene(s) in Kanesia-8 x SRT-1,Kanesia-9 x SRT-1, Kanesia-8 x Laxmi, and Kanesia-9 x Laxmicombinations were high, whereas those in Kanesia-8 x LRA 5166 andKanesia-9 x LRA 5166 combinations were medium. A significantcorrelation was observed between trichome density, nymph population,and JRI value, in which nymph population and JRI were significantlyinfluenced by trichome density.Key words : Gossypium hirsutum, Amrasca biguttula, gene action,heritability
PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU BAKTERI NILAM MENGGUNAKAN Bacillus spp. DAN Pseudomonad fluoresen CHRISNAWATI CHRISNAWATI; NASRUN NASRUN; TRIWIDODO ARWIYANTO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n3.2009.116-123

Abstract

ABSTRAKPenelitian pengendalian penyakit layu bakteri nilam (Ralstoniasolanacearum) menggunakan Bacillus spp. dan Pseudomonad fluoresen dikebun petani nilam di Nagari Kajai, Pasaman Barat, Sumatera Barat telahdilakukan pada bulan Mei sampai November 2006. Penelitian ini bertujuanuntuk mendapatkan Bacillus spp. dan Pseudomonad fluoresen yangberpotensi untuk mengendalikan penyakit layu bakteri, dan meningkatkanpertumbuhan dan produksi nilam. Isolat Bacillus spp. Bc 26; Bc 80 dan Bc81 dan Pseudomonad fluoresen Pf 101; Pf146 dan Pf 170 dalam bentukkombinasi sebagai perlakuan yang diisolasi dari rizosfer nilam sehat, dandiseleksi berdasarkan kemampuan antagonistik terhadap R. solanacearumsecara in vitro di laboratorium dan in planta di rumah kaca KP BalittroLaing Solok. Isolat Bacillus spp. dan Pseudomonad fluoresen tersebutdiintroduksikan ke nilam dan dibiarkan selama 1 minggu sebelum ditanam.Tanaman yang telah diperlakukan dengan isolat Bacillus spp. danPseudomonad fluoresen ditanam pada kebun nilam yang telah terinfeksioleh bakteri patogen pada bulan Mei 2006. Perlakuan yang diuji disusundalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Parameterpengamatan adalah perkembangan penyakit layu bakteri meliputi masainkubasi dan intensitas penyakit, pertumbuhan dan produksi tanaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi isolat Bacillus spp. Bc26dan Pseudomonad fluoresen Pf101 dapat mengendalikan penyakit layubakteri nilam lebih baik dibandingkan dengan isolat Bacillus spp. Bc 26dan Pseudomonad fluoresen Pf 101 secara terpisah dan isolat Bacillus spp.dan Pseudomonad fluoresen lainnya secara kombinasi dan terpisah.Kombinasi isolat Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonad fluoresen Pf 101dapat menunda masa inkubasi gejala penyakit layu bakteri dari 21 harisetelah tanam (HST) menjadi 63 HST dan menekan intensitas penyakitlayu bakteri dari 63,90% menjadi 14,67%. Di samping itu kombinasikedua isolat tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman sepertitinggi tanaman dari 35,53 cm menjadi 52,77 cm, jumlah daun total dari32,00 daun/tanaman menjadi 104,67 daun/tanaman, jumlah tunas dari10,33 tunas/tanaman menjadi 25,33 tunas/tanaman, berat basah daun dari16,20 g/petak menjadi 81,73 g/petak dan berat kering daun dari 5,44 g/petak menjadi 27,15 g/petak. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwakombinasi isolat Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonad fluoresen Pf 101mempunyai kemampuan tertinggi dalam mengendalikan penyakit layubakteri dan meningkatkan pertumbuhan tanaman nilam di lapang.Kata kunci: Pogostemon  cablin  Benth,  penyakit  layu  bakteri,pengendalian, Bacillus spp., Pseudomonad fluorescentABSTRACTUse of Bacillus sp. and Fluorecent Pseudomonad to Control Bacterial Wilt Disease on Patchouli PlantThe study of controlling bacterial wilt disease on patchouli plant(Ralstonia solacearum) with Bacillus spp. and Fluorescent pseudomonadwas carried out in farmer field in Kajai Village, West Pasaman, WestSumatra from May to November 2006. The aims of the study were to findout the effectiveness of Bacillus spp. and Fluorescent pseudomonad forcontrolling bacterial wilt disease, and increasing plant growth andproduction. Isolates of Bacillus spp. Bc 26, Bc 80, and Bc 81, andFluorescent pseudomonad Pf 101, Pf 146 and Pf 170 in combination orseperation as treatments were isolated from the rhizosphere of healthypatchouli plant, and selected based on antagonistic activity on R.solanacearum in vitro at the laboratory and in planta at green house of KP.Balittro Laing Solok. Isolates were inoculated on patchouli plant andremained for one week before planting. The plants, treated with Bacillusspp. and Fluorescent pseudomonad isolates, were planted in the fieldinfected with pathogen bacterial in May 2006. The treatment was arrangedin a randomized block design (RBD) with three replications. Theassessment parameters were incubation period, disease intensity, plantgrowth and production of patchouli plants. The results showed thatcombination of Bacillus spp. and Fluorescent pseudomonad could controlthe bacterial wilt disease better than Bacillus spp. Bc 26 and Fluorescentpseudomonad seperately, and the other Bacillus spp. and Fluorescentpseudomonad either in combination or separation. Combination ofBacillus spp. Bc26 and Fluorescent pseudomonad Pf 101 delayed theincubation period from 21 to 63 days and decreased the disease intensity ofbacterial wilt from 63.90 to 14.67%. In addition combination of bothisolates could affect the increase of plant growth, i.e plant height from35.53 to 52.77 cm, total numbers of leaves from 32.00 to 104 leaves/plant,budding numbers from 10.33 to 25.33 budding/plant, wet weight of leavesfrom 16.20 to 81.73 g/plot, and dry weight of leaves from 5.44 to 27.15g/plot. The results of the experiment showed that Bacillus spp. Bc 26 andFluorescent pseudomonad Pf 101 isolates have the highest activity oncontrolling the bacterial wilt disease and increase the growth of patchouliplant in the field.Key words: Patchouli, Pogostemon cablin Benth, bacterial wilt disease,biological control, Bacillus spp., Fluorescent pseudomonad
EVALUASI KETAHANAN HIBRIDA SOMATIK NILAM TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI (Ralstonia solanacearum) NASRUN NASRUN; NURMANSYAH NURMANSYAH; HERWITA IDRIS
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n3.2009.110-115

Abstract

ABSTRAKPenelitian evaluasi ketahanan hibrida somatik nilam terhadappenyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) telah dilaksanakan dilaboratorium dan rumah kaca KP Laing Solok dari bulan Januari sampaiDesember 2007. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan nomor hibridasomatik nilam yang tahan terhadap penyakit layu bakteri. Kegiatanpenelitian meliputi pengambilan sampel tanaman nilam terinfeksi penyakitlayu bakteri di lapangan, dan isolasi dan perbanyakan isolat bakteripatogen di laboratorium. Uji patogenisitas isolat bakteri patogen pada bibitnilam dilaksanakan di rumah kaca. Selanjutnya perbanyakan bibit nilamhibrida somatik, inokulasi bibit dengan bakteri somatik, dan inkubasi bibittersebut dilaksanakan di rumah kaca. Penelitian ini menggunakan beberapanomor nilam hibrida somatik sebagai perlakuan yang disusun dalamrancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Parameter yangdiamati adalah masa inkubasi menunjukkan gejala awal penyakit untuk ujipatogenisitas isolat bakteri patogen. Masa inkubasi menunjukkan gejalaawal penyakit dan kematian serta intensitas penyakit. Selanjutnya jugadiamati pertumbuhan tanaman dan produksi daun basah untuk pengujianketahanan nomor hibrida somatik nilam terhadap bakteri patogen. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa hibrida somatik 2IV/4 dan 9II/21 sertavarietas Girilaya sampai akhir pengamatan tidak menampakkan gejalapenyakit. Sementara itu hibrida somatik 2IV/6; 9II/34; 2IV/9; 9IV/3; dan9IV/6 menunjukkan gejala awal penyakit (118,5 – 133,6 hari setelahinokulasi ”HSI”) dan kematian bibit (130,5 – 182,2 HSI) paling lamadengan intensitas penyakit (29,6 – 48,2%) lebih rendah dibandingkandengan hibrida somatik lainnya. Selanjutnya, penyumbatan pembuluhkayu sangat rendah yaitu 5,20 – 9,50% pada bagian akar, tetapi padabagian pangkal batang dan pucuk tidak ada penyumbatan. Pertumbuhandan produksi daun basah lebih tinggi dibandingkan dengan hibrida somatiklainnya, yakni tinggi tanaman 78,00 – 104,00 cm; jumlah daun 66 – 112daun, dan produksi daun basah 55,00 - 99,19 g. Sebaliknya hibridasomatik 9IV/4; 9II/23; 9II/33; 9IV/14; dan 2IV/1 memperlihatkan gejalaawal penyakit (32,3 -105,84 HSI) dan kematian bibit nilam (41,5 – 125,0HSI) lebih cepat, dan intensitas penyakit lebih tinggi (75 – 100%)dibandingkan hibrida somatik lainnya termasuk varietas Sidikalang.Penyumbatan pembuluh kayu oleh bakteri patogen sebesar 12,46 – 31,25%pada bagian akar, 6,10 – 22,50% pada bagian batang, dan 4,17 – 6,25%pada pucuk. Begitu juga dengan pertumbuhan dan produksi daun basahlebih rendah dibandingkan dengan hibrida somatik lainnya, dengan tinggitanaman 42,20 – 61,85 cm, jumlah daun 24 - 37 daun, dan produksidaun basah 18,00 - 41,20 g. Berdasarkan hasil penelitian ini terpilih duanomor hibrida somatik yaitu (2IV/4 dan 9 II/21) yang tahan terhadappenyakit layu bakteri, dan lima nomor hibrida somatik yaitu (9IV/6, 9IV/3,9II/34, 2IV/9, dan 2IV/6) yang toleran terhadap penyakit layu bakteri dirumah kaca.Kata kunci : Pogostemon cablin Benth., nilam, penyakit layu bakteri,evaluasi ketahanan, hibrida somatikABSTRACTEvaluation on the Resistance of Hybrid Somatic PatchouliPlant to Bacterial Wilt Disease (Ralstonia solanacearum)The study on the resistance evaluation of somatic hybrid patchouliplant to bacterial wilt disease (Ralstonia solanacearum) had beenconducted in green house KP.Laing Solok from January to December2008. The objective of this study was to find the somatic hybrid numbersof patchouli plants resistant to bacterial wilt disease. The studied activitieswere collection of patchouli plant that was infected by bacterial wiltdisease in the field. Isolation and culture of the pathogen bacterial wereconducted in the laboratory and virulence test of pathogen bacterial onpatchouli plant was in the green house. In addition, sub culture of thesomatic hybrid seeds of patchouli plants, inoculation of these seeds bybacterial pathogen, and incubation of them were done at green house. Thestudy used some numbers of somatic hybrid as treatments that werearranged in completely randomized design (CRD) with three replicates. Asparameters were incubation period showing the first disease symptom forpathogenicity test of bacterial pathogen. Incubation period showed thefirst symptom died plant and diseases intensity. Plant growth and leafproduction were also observed for the study of number resistance ofsomatic hybrid patchouli plant to bacterial pathogen. The results showedthat somatic hybrid 2 IV/4 and 9 II/21 and Girilaya varieties did not showany symptoms. However, somatic hybrid 2IV/6, 9II/34, 2IV/9, 9IV/3, and9IV/6 showed the first symptom (118.5 – 133.6 days after inoculation”DAI”) and dead period (41.5 – 125.0 DAI) were the longest and thedisease intensity (29.6 – 48.2%) was lower than other somatic hybrid.Occluded xylem vessel by pathogen bacterial on root was lowest 5.20 –9.50%, but it was not found on base and young stems. They are alsohigher in the growth and leaf production than another somatic hybridpatchouli plant with 75.00 – 104.00 cm plant height, 66 -112 leaves/plant,and fresh leaf production of 55.00 – 99.19 g/pot. However, somatic hybrid9 IV/4, 9 II/23, 9 II/33, 9 IV/14, and 2 IV/1 showed earlier diseasesymptom, quicker seed death and higher disease intensity (75 -100%) thanother somatic hybrid patchouli plants including Sidikalang variety. Inaddition they had occluded xylem by bacterial pathogen 12.46 - 31.25% onthe root, 6.10 - 22.50% on the stem, and 4.17 – 6.25% on young stem.Plant growth and leaf production were lower than other somatic hybridpatchouli plants as of was 42.20-61.85 cm plant height; 24-37 leaves/plant,and fresh leaf production 18.00-41.20 g/pot. According to these results,experiment selected two numbers of somatic hybrid (2IV/4 and 9II/21)which were resistant to bacterial wilt disease, and five numbers of somatichybrid (9 IV/6, 9IV/3, 9II/34, 2IV/9, and 2IV/6) that were tolerant tobacterial wilt disease in the glass house.Key words: Pogostemon cablin Benth., patchouli, bacterial wilt disease,resistant evaluation, somatic hybrid patchouli plant
PENGGUNAAN SELASIH DALAM PENGENDALIAN HAMA LALAT BUAH PADA MANGGA KARDINAN, AGUS; BINTORO, M.H.; SYAKIR, M.; AMIN, A.A
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n3.2009.101-109

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan di Kabupaten Sumedang pada bulan Januarihingga April 2009 dengan tujuan untuk menggali kearifan lokalpenggunaan selasih dalam pengendalian hama lalat buah. Sumedangmerupakan sentra produksi mangga, sehingga menjadi sumber matapencaharian utama bagi beberapa petani. Lalat buah merupakan hamautama pada komoditas mangga di Sumedang yang mengakibatkankerugian berupa kuantitas dengan rontoknya buah-buahan yang terserangdan berupa kualitas, yaitu busuknya mangga yang terserang. Penelitiandirancang dalam acak kelompok, empat perlakuan dan enam ulangan.Perlakuan terdiri dari pestisida nabati formula petani berupa (1) air sulingselasih, (2) minyak selasih petani, (3) minyak selasih yang diproses diBalittro, (4) atraktan lalat buah yang sudah dikomersialkan (pembanding).Semua formula diteteskan sebanyak 0,25 ml pada gumpalan kapas, kecualiair suling selasih dengan cara mencelupkan kapas ke dalam air sulingnya,kemudian ditempatkan di dalam botol perangkap yang terbuat dari botolminuman air mineral volume 600 ml dan digantungkan pada pohonmangga setinggi 2 m di atas permukaan tanah yang ditempatkan secaraacak. Penempatan perangkap dilakukan pada enam blok kebun yangterpisah dan merupakan ulangan. Aplikasi formula hanya dilakukan satukali, untuk melihat daya tahan masing-masing formula dalam me-merangkap lalat buah di lapangan. Pengamatan dilakukan setiap mingguterhadap jumlah, jenis dan kelamin lalat buah yang terperangkap sertakandungan bahan aktif pada masing-masing formula dengan menggunakanGas Kromatografi. Aspek sosial ekonomi dilakukan terhadap 30 orangpetani yang diambil secara acak, termasuk pedagang buah dengan carawawancara melalui kuesioner yang telah dipersiapkan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa penggunaan pestisida selasih sebagai atraktan untukmengendalikan hama lalat buah, dapat menurunkan penggunaan pestisidasebanyak 62%, menurunkan tingkat kerusakan buah-buahan sebesar 34%dan meningkatkan hasil sebesar 73%. Air suling selasih dengan kandunganmetil eugenol sebesar 0,46% mampu memerangkap hama lalat buahselama satu minggu, setelah itu perlu aplikasi ulang pada setiapminggunya, sedangkan minyak selasih hasil petani dengan kandunganmetil eugenol sebesar 77,9% mampu memerangkap hama lalat buahselama satu bulan, setara dengan minyak selasih yang diproses di Balittrodengan kandungan metil eugenol sebesar 73,6% dan lebih baik daripadaatraktan lalat buah komersial yang mengandung metil eugenol sebesar75%. Lalat buah yang terperangkap didominasi oleh spesies Bactroceradorsalis (97%) dan sisanya adalah Bactrocera umbrosus (3%) sertadidominasi oleh lalat buah berkelamin jantan.Kata kunci : Ocimum minimum, Bactrocera dorsalis, Mangifera indicaABSTRACTUsing Ocimum spp. on controlling fruit flies on mangoThe objective of the research is to digest indigenous technology(local wisdom) of using botanical pesticide in controlling fruit flies.Research was conducted by evaluating the effectiveness of farmerstechnology (indigenous knowledge) in formulating botanical pesticide forcontrolling fruit flies (fruit flies attractant), compared to fruit fliesattractant formulated in the laboratory of Indonesian Medicinal andAromatic Research Institute (IMACRI) and commercial fruit fliesattractant. Research was arranged by randomized block design, fourtreatments and six replications. Treatments consist of (1) farmerstechnology, i.e. distilled water of basil (Ocimum spp.), (2) farmerstechnology, i.e. essential oil of basil (Ocimum spp.), (3) essential oil ofbasil formulated in IMACRI and (4) commercial attractant. Each formulawas dropped as much as 0.25 ml on cotton bud, except distilled water ofbasil which is applied by dipping the cotton bud into the distilled water,placing it in the trap made from 600 ml volume drinking water, thenhanging it as high as 2 m on the mango tree. Dropping of formula wasdone just one time to evaluate the duration of attractant on trapping fruitflies in the field. Observations were done every week on the number,species, sex ratio of fruit flies trapped, and the duration of attractant abilityon trapping fruit flies in the field. The active ingredient of formula wasanalyzed by Gas Chromatograph conducted in IMACRI. The social andeconomy aspects were done by interviewing the farmers throughquestionnaires. The number of the farmers interviewed were 30 farmers,including the trader of mango. Result showed that indigenous technologyof the farmer was effective and efficient since it can decrease the use ofpesticide as much as 62% and decrease fruit damage as much as 34% andincrease their income as much as 73%. Technology of farmers in the formof distilled water of basil could stand as long as a week on trapping fruitflies, hence its application must be repeated every week. Meanwhile in theform of essential oil could stand for one month and is not significantlydifferent with attractant formulated in IMACRI, even better thancommercial attractant, hence its application can be done every month.Only male fruit flies can be trapped and most of them consist ofBactrocera dorsalis species (97%) and the rest is Bactrocera umbrosusspecies (3%). The active ingredient content (Methyl eugenol – C 12  H 24 O 2 )in the distilled water of basil is 0.43%. Meanwhile in essential oil of thefarmer is 77.9% and in essential oil of IMACRI is 73.6% and incommercial attractant is 75%.Key words : Ocimum minimum, Bactrocera dorsalis, Mangifera indica
KESESUAIAN BEBERAPA GALUR KAPAS BERDAUN OKRA PADA SISTEM TANAM RAPAT PRIMA DIARINI RIAJAYA; FITRININGDYAH TRI KADARWATI; EMY SULISTYOWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n3.2009.124-130

Abstract

ABSTRAKTanaman kapas dengan bentuk daun yang menjari (okra) diharapkanbisa dikembangkan dengan sistem tanam rapat untuk meningkatkan hasilkapas berbiji. Penelitian lapang dilakukan di Kebun Percobaan Asem-bagus, Situbondo, Jawa Timur mulai Februari-Juli 2007 dan bertujuanuntuk mengetahui kesesuaian galur kapas berdaun okra pada sistem tanamrapat. Sistem tanam rapat yang dimaksud adalah sistem tanam monokulturdengan jarak tanam dalam barisan dirapatkan yaitu dengan jarak tanam100 cm x 10 cm (100.000 tan/ha). Percobaan disusun dalam rancanganacak kelompok dengan 3 ulangan dan 1 ulangan monokultur dengan sistemtanam normal (100 cm x 25 cm; 40.000 tan/ha). Perlakuan terdiri dari 14galur/varietas kapas yang terdiri atas 12 galur berdaun okra dan 2 varietasberdaun normal (Kanesia 8 dan Kanesia 13) sebagai pembanding.Paramater yang diamati adalah tinggi tanaman, lebar kanopi, jumlahcabang generatif, jumlah buah/tanaman setiap bulan mulai 60-120 HST.Bobot buah, jumlah buah terpanen dan hasil kapas berbiji diamati saatpanen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan populasi tanam-an menurunkan jumlah cabang generatif, jumlah buah dan bobot buah pertanaman. Semua galur okra yang dicoba pada sistem tanam rapat rata-ratahanya meningkatkan hasil kapas berbiji 2,12% dibanding pada populasinormal. Rata-rata hasil kapas berbiji galur okra pada populasi rapat adalah2.315,8 kg/ha dan pada populasi normal 2.293,2 kg/ha. Selanjutnya hasilkapas berbiji berdaun normal Kanesia 8 dan Kanesia 13 pada populasirapat masing-masing 2.159 dan 2.179 kg/ha dan pada populasi normal1.983 kg/ha dan 2.525 kg/ha. Galur okra 98040/3 dan 98048/2 menghasil-kan produksi tertinggi pada populasi rapat (masing-masing 2.640 kg/hadan 2.627 kg/ha) dan pada populasi normal (2.688 kg/ha dan 2.807 kg/ha).Kedua galur okra tersebut mempunyai potensi hasil yang lebih tinggidibanding kapas berdaun normal (Kanesia 8 dan Kanesia 13) baik padapopulasi rapat maupun populasi normal.Kata kunci: Gossypium hirsutum L., tanam rapat, daun okraABSTRACTSuitability of Cotton Lines with Okra Leaves UnderNarrow Interrow SpacingOkra leaf cotton crop may have a potential increase in the seedcotton yield under narrow inter row spacing. Okra leaf cotton lines weretested in relative performance under high interrow spacing. The field trialwas conducted at the Asembagus Experimental Station, Situbondo, EastJava from February to July 2007. Okra leaf cotton lines were planted asmonocrop with plant spacing of 100 cm between rows and 10 cm withinrows (100,000 plants/ha). Experiment was arranged in a randomized blockdesign with three replicates. In addition, one plot was allocated formonocrop with normal inter row spacing (100 cm between rows and 25 cmwithin rows; 40,000 plants/ha). Fourteen selected cotton lines consistingof 12 lines with okra leaf and 2 varieties (Kanesia 8 and Kanesia 13) withnormal leaf as check varieties were tested. Cotton plant height, canopywidth, number of fruiting branches, and boll/plant were measured monthlyfrom 60-120 dap. Boll weight, number of harvested bolls, and seed cottonyield were counted at harvesting. Results showed that increased plantdensity resulted in reduced fruiting branches, boll count, and boll weight.The okra leaf cotton under high crop density system showed a yieldincrease by 2.12% compared to normal spacing. Average seed cotton yieldunder narrow interrow spacing was 2,315.8 kg/ha and the average yieldunder normal interrow spacing was 2,293.2 kg/ha. Okra lines cotton98040/3 and 98048/2 showed the highest yield under narrow interrowspacing (2,640 and 2,627 kg/ha) and under normal interrow spacing (2,688kg/ha dan 2,807 kg/ha). Both lines offered higher yield than those withnormal leaf under high interrow spacing and normal population.Key words: Gossypium hirsutum L., high interrow spacing, okra leaf

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue