cover
Contact Name
Adhitya Yudha Pradhana
Contact Email
buletinpalma@gmail.com
Phone
+62431-812430
Journal Mail Official
buletinpalma@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Mapanget, Manado 95001
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Palma
ISSN : 1979679X     EISSN : 25287141     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palma memuat artikel hasil-hasil penelitian kelapa dan palma lainnya. GENERAL REQUIREMENTS Bulletin of Palma is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research finding on coconut and other palm research results. SCOPE Scope of Bulletin of Palma are: 1. Scope of science: Agricultural Microbiology, Agricultural Socio-Economics, Agronomy, Bioetechnology, Plant Breeding, Plant pathology, Plant Protection, Plant Physiology, Soil Science, Seed Technology, Primary Post Harvest, Climate science, Genetic resources, Entomology,Farming system, Environment, Agricultural extension 2. Scope of commodities : spice, medicinal, aromatic and industrial crops The journal publishes Indonesian or English articles.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012" : 8 Documents clear
Pengaruh Peningkatan Dosis Abu Pengasapan Kopra dan Pengurangan Dosis Pupuk Kalium Terhadap Produksi Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) J.M. PAULUS; B.R.A. SUMAYKU; R. MEDLAMA
Buletin Palma Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.537 KB) | DOI: 10.21082/bp.v13n1.2012.27-31

Abstract

Nitrogen fosfor dan kalium, merupakan hara makro yang mutlak diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman ubi jalar. Untuk kalium paling banyak dibutuhkan karena berperan penting dalam meningkatkan aktifitas fotosintesis terutama pada periode pembentukan ubi. Abu pengasapan kopra mengandung unsure hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman antara lain kalium. Penelitian ini bertujuan untuk mensubtitusi pupuk kalium anorganik dengan abu pengasapan kopra sebagai sumber kalium organik untuk meningkatkan produksi ubi jalar. Percobaan dilaksanakan di Kelurahan Maesa, Kecamatan Tondano Kabupaten Minahasa, selama 4 bulan pada tahun 2010. Variabel yang diamati, meliputi jumlah ubi/tanaman, jumlah ubi/plot, berat ubi/ tanaman, dan berat ubi/plot. Data dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa abu pengasapan kopra sebagai sumber kalium organik dapat mensubstitusi peranan kalium anorganik terhadap produksi ubi jalar. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada petani khususnya di Sulawesi Utara sebagai daerah penghasil kopra, untuk memanfaatkan limbah abu pengasapan kopra dalam budidaya ubi jalar karena harga pupuk kimia di pasaran yang semakin mahal dan juga untuk menunjang penerapan sistem pertanian organik. Kata kunci : Ubi jalar, abu pengasapan kopra, organik.ABSTRACTInfluence of Increasing Copra Ash Remaining Dosage and Decreasing Potassium Fertilizer Dosage on Sweet Potato (Ipomoea batatas (L.) Lam.) ProductionNitrogen, phosphor and potassium are macro essential nutrient for the growth and development of sweet potato. Potassium is needed for the most important role in enhancing the photosynthetic activity, especially in the period of tuber formation. Copra ash remaining contains macro and micro nutrients needed by plants such as potassium. This research aimed to substitute inorganic potassium fertilizer with copra ash remaining as a source of organic potassium to increase sweet potato production. The experiments conducted in the Village Maesa, Tondano District Minahasa regency, during four months in 2010. Observed variables, including the number of tubersplant, number of tubersplot, the weight of tubers/plant and weight of tubers/plot. Data were analyzed using analysis of variance. Results showed that copra ash remaining as a source of organic potassium could substitute the role of inorganic potassium on sweet potato production. From the results of this study was suggest to farmers, especially in North Sulawesi as copra-producing areas to utilize the waste ash in the cultivation of sweet potato, considering the price of chemical fertilizers on the market was getting higher and also to support the implementation of organic farming systems.
Pengolahan Gula Semut dari Aren G.H. JOSEPH; PAYUNG LAYUK
Buletin Palma Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v13n1.2012.60-65

Abstract

Nira aren sangat berpotensi untuk dijadikan gula karena nira tersebut mengandung komponen gula yang dominan dalam bentuk sukrosa. Untuk meningkatkan nilai jual maka perlu dilakukan pengolahan gula semut. Penelitian bertujuan untuk mengetahui suhu pembibitan dan takaran gula pasir yang tepat dalam menghasilkan gula semut yang berkualitas. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor variabel, yaitu penambahan gula pasir dan suhu pembibitan. Faktor pertama adalah penambahan gula pasir yang terdiri 4 taraf, yaitu tanpa penambahan gula pasir 0% (S1) 10% (S2), 20% (S3) dan 30% (S4) ). Faktor kedua adalah suhu pembibitan tiga taraf yaitu suhu pembibitan 110 0C (T1), 120 0C (T2) dan 130 0C (T3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah penambahan gula pasir 30% dengan suhu pembibitan 120 0C yang hasilnya mendekati Standar Industri Indonesia (SII), dimana kadar air, 2,75%, gula reduksi 4,35%, sukrosa 81.14, gula total 89,86, kadar abu 1,91%, indeks pencoklatan 0,20 abs/g dan rendemen 81,36. Sedangkan uji organoleptik yang paling disukai adalah perlakuan penambahan gula pasir 30% dengan suhu pembibitan 120 0C dengan nilai warna 6,95, aroma 5,70 dan rasa 5,70. Mutu gula semut yang dihasilkan telah memenuhi syarat Standar Industri Indonesia. Analisis ekonomi gula cetak yang sudah meleleh memberi keuntungan Rp778.800/bulan, gula semut memberi keuntungan Rp1.606.000/bulan, dengan nilai R/C masing-masing 1,15 dan 1,28. Usaha gula semut tergolong usaha yang memberi keuntungan 2 kali lipat dengan tingkat harga relatif lebih tinggi dibanding gula cetak. Kata kunci : Pengolahan, gula cetak, gula semut, kualitas.ABSTRACTGranular Sugar Processing From Sugar PalmToddy of sugar palm has the potential to be used as brown sugar, because it containing sucrose as dominant sugar. The granular sugar processing is needed to increase the sale value. This research objective is to knowing the seedling temperature and the right dose of sugar additing to produce the granular sugar of sugar palm. This research using random block design with 2 factors: the additing of sugar treatments and the seedling temperature. The first factor are 4 treatments of sugar additing such as: Without sugar additing 0% (S1), 10% (S2), 20% (S3) and 30% (S4). The second factor is seedling temperature with 3 treatments: 110 0C (T1), 120 0C (T2), and 130 0C (T3). The result showed the best treatment is 30% additing of sugar in 130 0C the seedling temperature it nearly approach Indonesian Industrial Standard (SII), with 2.75% water level, 4.35% sugar reduction, 81.14% sucrose, 89.86% total sugar, 1.91% ash level, 0.20 browning index and 81.36 rendement. Organoleptic test result showed that the treatment of 30% sugar addting, in 120 0C seedling temperature, 6.95 colour and each 5.70 for aroma and flavours is the most likely by respondent. All the granular sugar are qualified based on SII. Economic analysis showed that a benefits of brown sugar is Rp778,000/month granular sugar gives Rp1,606,000/month with the value ratio of R/C is 1.15 and 1.28. Granular sugar business is two times more profitable than brown sugar.
Kajian Adaptasi Varietas Unggul Baru Jagung diantara Pertanaman Kelapa di Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara YENNY TAMBURIAN
Buletin Palma Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v13n1.2012.32-40

Abstract

Usahatani kelapa secara monokultur menyebabkan pendapatan petani sangat rendah. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani adalah menerapkan tanaman sela jagung diantara kelapa. Kajian adaptasi VUB Jagung diantara pertanaman kelapa telah dilakukan di Desa Teep Kecamatan Amurang Barat Kabupaten Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara. Pengkajian dilaksanakan sejak Maret sampai Juli 2010. Kajian ini bertujuan untuk mendapatkan varietas unggul baru (VUB) jagung yang beradaptasi pada lahan diantara pertanaman kelapa, produksi tinggi sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dalam usahatani kelapa. Perlakuan yang dikaji terdiri dari lima VUB jagung yaitu Srikandi Kuning, Sukmaraga, Lamuru, Lagaligo dan Gumarang serta varietas lokal Manado Kuning sebagai pembanding. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Hasil pengkajian menunjukkan kelima VUB jagung layak diusahakan pada lahan diantara pertanaman kelapa karena dapat memberikan hasil yang cukup tinggi dibandingkan varitas lokal Manado Kuning. Hasil teringgi dicapai oleh varietas Sukmaraga dan Srikandi Kuning masing-masing yaitu 6,80 dan 6,50 t/ha menyusul Gumarang, Lamuru dan Lagaligo berturut-turut 6,40; 6,30 dan 6,20 t/ha sedangkan Manado Kuning paling rendah yaitu 3,20 t/ha. Analisis usahatani menunjukkan kelima VUB tersebut memberikan keuntungan masing- masing Sukmaraga (Rp7.677.500), Srikandi Kuning (Rp7.077.500), Gumarang (Rp6.877.500), Lamuru (Rp6.677.500) dan Lagaligo (Rp6.477.500). Produksi kelapa per hektar sebanyak 1540 kg buah kelapa per 3 bulan, dengan harga Rp1.100/kg, maka penerimaan petani kelapa per hektar per tahun Rp 1.694.000. Bila penerimaan dikurangi dengan biaya Rp1.016.400 maka keuntungan yang diraih Rp 677.600, suatu jumlah yang sangat tipis atau marginal. Analisis usahatani menunjukkan dengan mengusahakan tanaman jagung diantara tanaman kelapa akan diperoleh nilai tambah sekitar 90,53 - 91,89% atau (Rp6.477.500 - Rp7.677.500) lebih tinggi dari pada monokultur kelapa (Rp677.600). Kata kunci : Kelapa, jagung, lahan diantara kelapa, hasil, pendapatan.ABSTRACTAssesment of New Superior Varieties Corn under the Coconut Plantation at South Minahasa District, North Sulawesi ProvinceThe coconut monoculture farming has low farmer income. Efforts for increasing farmers income is applied intercropping corn under the coconut plantation. Assessment of new superior varieties corn under the coconut plantation has been done in the Teep village of South Minahasa district of North Sulawesi Province. Assessment was conducted from March until July 2010. This study aims to obtain new superior varieties (NSV) corn which is adapted to under coconut and high production so as to increase the income of coconut farmers. The treatments consisted of five NSV studied the Srikandi Kuning, Sukmaraga, Lamuru, Lagaligo, and Gumarang well as local varieties Manado Kuning as a comparison. The design used was randomized block design with four replication. The results of the assessment showed fifth NSV decent corn crop cultivated on the between the coconut as it can give results quite high compared to local varieties Manado Kuning. The results achieved by varieties Sukmaraga, Srikandi Kuning namely 6.80 and 6,50 t/ha. Gumarang, Lagaligo, lamuru respectively 6,40; 6,30 and 6,20 t/ha while Manado Kuning low at 3,20 t/ha. Analysis of farming system showed the five NSV is profit able each Sukmaraga (Rp7,677,500), Srikandi Kuning (Rp7,077,500), Gumarang (Rp6,877,500), Lamuru (Rp6,677,500) and Lagaligo (Rp6,477,500). Coconuts production as much as 1,540 kg per hectare per 3 months, the price of Rp. 1,100 kg, the acceptance of coconut farmers per hectare per 3 months Rp. 1,694,000. If revenue is reduced by the cost of the benefits achieved Rp1.016.400 Rp 677,600, an amount that is very thin or marginal. Analysis shows commercialize farming maize among coconut trees added value will be around 90.53 to 91.89% or (Rp6.477.500 - Rp7.677.500) higher than coconut monoculture (Rp677.600).
Identifikasi Sistem Penyerbukan Pinang Molinow-1 dan Mongkonai WEDA MAKARTI MAHAYU; nFn MIFTAHORRACHMAN
Buletin Palma Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v13n1.2012.22-26

Abstract

Sistem penyerbukan pada tanaman pinang belum diketahui secara pasti terutama pada tipe genjah sehingga untuk program pemuliaan pinang perlu diteliti sistem penyerbukannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sistem penyerbukan pada tanaman pinang Mongkonai (Genjah) dan Molinow-1 (Dalam) agar dapat ditentukan sistem persilangan yang tepat. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Kayuwatu, Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado, Sulawesi Utara pada Juni 2011 sampai Maret 2012 dalam bentuk percobaan faktorial 2 x 4 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dua faktor dan tiga ulangan, masing-masing ulangan terdiri atas 3 pohon. Faktor pertama adalah aksesi pinang (A), terdiri atas: (A1) pinang Molinow-1 dan (A2) pinang Mongkonai ; faktor kedua adalah sistem persilangan (B) yang terdiri atas: (B1) emaskulasi + kerodong, (B2) emaskulasi tanpa kerodong, (B3) tanpa emaskulasi + kerodong dan (B4) tanpa emaskulasi tanpa kerodong. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan adanya interaksi antar perlakuan. Sementara hasil uji BNT memperlihatkan bahwa, pinang Molinow memiliki sistem penyerbukan silang yang lebih besar dari sistem penyerbukan sendiri, sebaliknya pinang Mongkonai memiliki sistem penyerbukan silang dan sendiri yang hampir sama persentasenya. Dengan diketahuinya sistem persilangan kedua aksesi pinang tersebut maka dapat ditentukan sistem persilangan yang tepat dalam perbaikan sifat genetis maupun perakitan varietas baru. Kata kunci: Sistem penyerbukan, buah jadi, Molinow-1, Mongkonai.ABSTRACTIdentification of Pollination System of Molinow-1 and Mongkonai ArecanutThere is still lack of information about pollination system on Areca nut especially on dwarf type. The research was conducted to find out pollination system of areca nut that could be applied on breeding program. Three treatments had tested on nine years-old Molinow-1 and Mongkonai population at Kayuwatu Experimental Garden, Indonesian Palmae Research Institute, Manado, North Sulawesi at June 2011 – March 2012. The study was conducted in a factorial experiment of 2 x 4 with Randomized Block Design. Using two factors with three replications and each replication consisted of three trees. The first factor is the accession of areca nut (A), consists of: (A1) Molinow-1 and (A2) Mongkonai, whereas the second factor is the system crosses (B) consists of: (B1) emasculation with bagging, (B2) emasculation without bagging, (B3) without emasculation with bagging and (B4) without emasculation and no bagging. The differences of the treatments were analyzed by ANOVA and Least Significant Difference test (LSD). The result showed that there is different pollination system between accession of Molinow-1 and Mongkonai on one month fruit set, while pollination system using bag significantly different with pollination system without bagging. Molinow-1 has cross pollination greater than Mongkonai, where as Mongkonai has two pollination system with a similar percentage.
Substitusi Tepung Sagu dan Virgin Coconut Oil (VCO) pada Pengolahan Biskuit RINDENGAN BARLINA; PATRIK PASANG; DANIEL TORAR; STEIVIE KAROUW
Buletin Palma Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v13n1.2012.54-59

Abstract

Untuk mengurangi penggunaan tepung terigu dan meningkatkan pemanfaatan Virgin Coconut Oil (VCO), telah dilakukan pengolahan biskuit yang disubstitusi tepung sagu dan VCO. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mutu biskuit yang disubstitusi tepung sagu dan VCO serta mendapatkan formula yang disukai konsumen. Penelitian dimulai bulan Maret 2011 sampai November 2011, di Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado, Sulawesi Utara dan Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, UGM-Yogyakarta. Perlakuan disusun secara faktorial dalam rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah sumber lemak, berasal dari margarin (a1) dan VCO (a2). Faktor kedua, perbandingan tepung sagu (TES) dan tepung terigu (TER), terdiri dari b1= TES : TER = 100: 0, b2 = TES : TER = 80 : 20, b3= TES : TER = 60 : 40, b4 = TES : TER = 40 : 60, b5= TES : TER = 20 : 80 dan b6= TES : TER = 0 : 100. Hasil analisa fisikokimia dan organoleptik menunjukkan, bahwa lima formula biskuit yang disubstitusi tepung sagu (20-100%) yang ditambah margarin, mengandung kadar air berkisar 0,15-0,36%, abu 1,46-1,62%, protein 6,04-11,61%, lemak 17,79-18,52%, serat kasar 4,54-5,39%, karbohidrat 68,72-74,24%, kerenyahan 3,87-4,13 dan rasa 3,93-4,40. Sedangkan yang ditambah VCO, kadar air berkisar 0,09-0,31%, abu 1,31-1,41%, protein 4,92-10,48%, lemak 18,77-21,18%, serat kasar 7,11-8,23%, karbohidrat 67,73-74,89%, kerenyahan 3.80-3.93 dan rasa 3.87-4.13. Biskuit yang disubstitusi tepung sagu 80%, ditambah margarin dan VCO, masing-masing mengandung asam lemak rantai medium (C10 dan C12) 0,38% dan 42,51%. Formula biskuit yang baik adalah yang disubstitusi tepung sagu 80% dan sumber lemak dari VCO. Kata kunci: tepung sagu, substitusi, VCO, biskuit.ABSTRACT Substitution of Sago Flour and VirginCoconut Oil (VCO) in Processing of BiscuitsIn order to reduce of using wheat flour and increasing utilization Virgin Coconut Oil (VCO), processing biscuit substituted sago flour and VCO has done. This study was conducted to determine quality of biscuits as substituted sago flour and VCO, and to find formula preferred by consumers. Research began in March 2011 to November 2011, at Indonesian Palms Research Institute, Manado, North Sulawesi and Laboratory of Agricultural Technology, UGM Yogyakarta. The experiment was arranged factorially using completely randomized design, with 3 replications. The first factor is source of fat, margarine (a1) and VCO (a2). The second factors is the ratio of sago flour (TES) and wheat flour (TER), consisting of b1 = TES: TER = 100: 0, b2 = TES: TER = 80: 20, b3 = TES: TER = 60: 40, b4 = TEST: TER = 40: 60, b5 = TES: TER = 20: 80 and b6 = TES: TER = 0: 100. The results of physicochemical and sensory analysis showed that five formula biscuits were substituted sago flour (20-100%) added margarine, contains of moisture content ranging from 0.15- 0.36%, ash 1.46-1.62%, protein 6.04-11.61%, fat 17.79-18.52%, crude fiber 4.54-5.39%, carbohydrate 68.72-74.24%, crispness 3.87-4.13 and flavor 3.93-4.40. While added VCO, moisture content ranging from 0.09-0.31%, ash 1.31-1.41%, protein 4.92-10.48%, fat 18.77-21.18%, crude fiber 7.11-8.23%, carbohydrate 67.73-74.89%, crispness 3.80-3.93 and flavor 3.87-4.13. Biscuits substituted sago flour 80%, added margarine and VCO, containing medium-chain fatty acids (C10 and C12) 0.38% and 42.51%, respectively. The good formula is fat source of VCO and sago flour substitution of 80%.
Inang Alternatif Phytophthora palmivora Penyebab Penyakit Busuk Pucuk Kelapa A.A. LOLONG
Buletin Palma Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v13n1.2012.1-6

Abstract

Salah satu kendala yang dihadapi dalam usaha peningkatan produktivitas kelapa adalah adanya serangan penyakit busuk pucuk yang disebabkan oleh jamur Phytophthora palmivora. Masalah ini masih terus berlangsung dan bahkan dilaporkan bahwa penyakit busuk pucuk telah menyerang jenis kelapa Dalam yang sebelumnya dilaporkan tahan. Pengendalian penyakit busuk pucuk sulit dilaksanakan karena tanaman terserang dapat mati atau tidak dapat disembuhkan lagi. Tindakan pencegahan dianjurkan dengan cara sanitasi tanaman dan kebun serta melakukan perlakuan dengan bahan kimia untuk tanaman disekitar tanaman sakit. Penanaman tanaman sela dengan tidak memperhatikan jenis tanaman yang merupakan inang alternatif dari P. palmivora akan mendorong meningkatnya populasi tanaman rusak di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mengidentifikasi tanaman inang dan potensi pembentukan oospora dari beberapa isolat P. palmivora asal kelapa dan tanaman lainnya. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi dan Kebun Percobaan Mapanget Balai Penelitian Tanaman Palma pada bulan Januari - Juni 2009. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap dengan 8 perlakuan (jenis tanaman) dan 5 ulangan. Setiap perlakuan dilakukan inokulasi dengan 19 isolat. P. palmivora mampu menginfeksi tanaman kakao, pepaya dan lada sehingga dapat merupakan inang alternatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Isolat P. palmivora asal kelapa, kakao dan lada sangat virulen terhadap spesifik inang masing-masing dan tidak mampu menginfeksi tanaman vanili. Inokulasi silang dapat terjadi antara isolat asal kelapa dengan isolat asal kakao dan lada dengan produksi oospora yang sangat banyak, sehingga kakao dan lada tidak dianjurkan untuk menjadi tanaman sela pada kelapa di daerah endemik penyakit busuk pucuk. Kata kunci : Inang alternatif, isolat, Phytophthora palmivora, kelapa.ABSTRACTAlternate Host of Several Isolates Phytophthora palmivora Causing Coconut BudrotOne of the obstacles encountered in efforts to increase the productivity of coconut is the bud rot disease caused by the fungus Phytophthora palmivora. This issue is still continous and it is reported that the disease can attack Tall type of coconut which was previously reported resistant. Control for bud rot disease is difficult because of infected plants may die or can no longer be cured. Precautions recommended by sanitation plants and farms as well as chemicals treatment around the plants. Intercropped with alternate hosts of P. palmivora will encourage the increased population of damaged plants in the field. This study aims to determine, identify potential host plants and oospore formation of several isolates of P. palmivora coconut and other plant origin. Research conducted in the Fitopatology laboratory and in the Mapanget experimental garden of the Indonesian Palmae Research Institute in January-June 2009. The design used was completely randomized with eight treatments (plant species) and five replications. Each treatment is carried out inoculation with 19 isolates. Result show that P. palmivora can infect cocoa coconut, papaya and pepper and can be an alternative host. Isolates of P. palmivora from coconut, cocoa and pepper showed highly virulent for each specific host and is not capable of infecting vanilla plants. Cross inoculation can occur between isolates from the isolates from cocoa coconut and pepper with the production Oospores very much, so the cocoa and pepper plants are not recommended to be intercrop in the coconut in endemic area of budrot diseases.
Peningkatan Persentase Buah Kelapa Kopyor melalui Penyerbukan Sendiri HENGKY NOVARIANTO; A.A. LOLONG
Buletin Palma Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v13n1.2012.7-16

Abstract

Buah kelapa kopyor memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dari kelapa normal. Penyediaan bibit kelapa kopyor yang murah, mudah diperoleh dan produktivitas yang tinggi sangat membantu petani kelapa kopyor. Pengembangan kelapa kopyor dapat dilakukan menggunakan bibit alami dari buah maupun bibit hasil kultur embrio. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan persentase kelapa kopyor melalui penyerbukan sendiri. Penyerbukan sendiri akan meningkatkan persentase genotipe homozigote resesif (kk), dan genotipe heterozygote (Kk). Metode penelitian yang dilakukan, yaitu seleksi dan persilangan kelapa dengan tiga perlakuan, yaitu (1) Tandan bunga dikerodong dengan penyerbukan sendiri secara buatan; (2) Tandan bunga dikerodong, tanpa penyerbukan secara buatan; dan (3) Tandan bunga tanpa dikerodong, dan penyerbukan secara alami. Seleksi pohon contoh, emaskulasi dan polinasi dilakukan sejak awal Juni 2010, dan panen buah kelapa kopyor hasil penyerbukan sendiri pada bulan Maret 2011. Buah kelapa normal hasil dari ketiga pola penyerbukan ini dikecambahkan pada bulan Mei 2011 dan pengamatan pertumbuhan serta perkembangan bibit dilakukan sampai bulan Desember 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah buah kopyor pada ketiga pola persilangan berkisar antara 1,20 butir sampai 1,92 butir per tandan. Persentase yang tertinggi pada pola persilangan kerodong tanpa penyerbukan secara buatan, yaitu sebesar 45,71%, diikuti pola kerodong dengan penyerbukan sendiri secara buatan, yaitu sebesar 29,93%, dan terendah pada persilangan tanpa kerodong, yakni 15,75%. Pola persilangan dikerodong dan tanpa penyerbukan sendiri secara buatan ternyata dapat meningkatkan persentase buah kelapa Genjah Kopyor Heterozygote sampai 45,71%. Benih kelapa kopyor hasil penyerbukan sendiri ternyata lebih lambat berkecambah. Bibit yang dihasilkan memiliki lingkar batang lebih kecil, bibit lebih pendek, dan jumlah daun lebih sedikit dibandingkan dengan benih dan bibit yang dihasilkan pada penyerbukan alami. Persilangan buatan pada kelapa kopyor dapat meningkatkan persentase buah kopyor dan bibit kopyor alami. Kata kunci: Kelapa kopyor, genjah, penyerbukan sendiri, kerodong, heterozygote, homozygote, resesif.ABSTRACTEncrease Percentage of Kopyor Coconut Fruits by Selfing Pollination Kopyor coconuts have a higher economic value than normal coconut. Provision of cheap kopyor coconut seedlings and easily obtained with high productivity can support Kopyor coconut farmers. Kopyor coconut development can be done using natural seeds from the fruit or kopyor coconut derived seedling through embryo culture technique. The purpose of this study was to increase the percentage of coconut Kopyor through self-pollinating. Self pollination will increase the percentage of homozygote recessive genotype (kk), and the heterozygote genotype (Kk). Methods of research was conducted, in term of selection and crosses coconut with three treatments, namely (1) Flower bunches were covered by isolation bag with artificially assisted self-pollinating, (2) Flower bunches were covered by isolation bag without artificial pollination, and (3) Flowers bunches without isolation bag were naturally pollination. Selection of sample palms, emasculation, and pollination were done since the beginning of June 2010 and kopyor coconut fruits harvested in March 2011. Normal coconut seeds were sourced in May 2011, and observation of seedlings growth and development were done until December 2011. The result showed that the number of kopyor fruits per bunch in third cross patterns ranged from 1.70 to 1.92 nuts. The highest percentage in the pollination pattern of isolation bag without artificial pollination 45.71%, followed by a pollination pattern of isolation bag with artificial pollination 29.93%, and a pollination pattern of naturally pollination without isolation bag 15.75%. Artificial pollination without isolation bag can increase the percentage of heterozygote dwarf kopyor coconut to 45.71%. Kopyor coconut seeds produced from artificial pollination appeared to be shown to germinate, the seedlings have small girth, short in plant height, and less number of leaves compared with seeds and seedlings produced from natural pollination. Artificial pollination on kopyor coconut can increase the percentage of kopyor nuts and natural kopyor seedlings.
Pengaruh Waktu Fermentasi Air Kelapa Terhadap Produksi dan Kualitas Nata de Coco PAYUNG LAYUK; M. LINTANG; G.H. JOSEPH
Buletin Palma Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v13n1.2012.41-45

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh penundaan waktu fermentasi air kelapa terhadap produksi dan kualitas nata de coco. Penelitian dilakukan 4 variasi penundaan waktu fermentasi, yaitu 0, 2 , 4 dan 6 hari. Pengamatan dilakukan terhadap rendemen, ketebalan, kekerasan dan komposisi nata de coco (kadar air, karbohidrat, kadar lemak dan serat) serta uji organoleptik terhadap warna, kekenyalan dan rasa nata de coco. Hasil penelitian diperoleh bahwa rendemen dan ketebalan nata de coco tertinggi diperoleh pada penundaan fermentasi air kelapa selama 4 hari yaitu 98,20% dengan ketebalan 1,5 cm. Penundaan waktu fermentasi air kelapa tidak berpengaruh pada kadar air, karbohidrat, lemak dan serat nata de coco yang dihasilkan. Hasil organoleptik terhadap tekstur/kekenyalan, warna dan rasa berkisar antara 2,9 – 4,2 (cukup suka sampai sangat suka), ditinjau dari sifat organoleptik perlakuan terbaik adalah waktu fermentasi 4 hari. Kata kunci : Fermentasi, air kelapa, nata de coco dan kualitas. ABSTRACT Effect of Coconut Delayed Fermentation Time Coconut Water to Production and Quality of Nata de Coco The objective of this research was to study the effect of delayed time water coconut fermentation to nata de coco production and quality. The experiment was done with four time variation fermentation, that are 0, 2, 4 and 6 days. Observation data are yield, thickness, hardness, and composition of nata de coco (moisture, carbohydrat, fat and fiber content). The result showed that coconut water that highest yield and thickness nata de coco was obtained from treatment fermentation time delayed of water coconut during 4 days that is 98.20% with thickness 1.5 cm. Fermentation time delayed was not significant to moisture, carbohidrat, fat and fiber of yield nata de coco. Organoleptic test to texture, elasticity, color and taste is among 2.9-4.2 (almost like until very like). Based on organoleptic properties, the best treatment is four days fermentation time delayed.

Page 1 of 1 | Total Record : 8