cover
Contact Name
Adhitya Yudha Pradhana
Contact Email
buletinpalma@gmail.com
Phone
+62431-812430
Journal Mail Official
buletinpalma@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Mapanget, Manado 95001
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Palma
ISSN : 1979679X     EISSN : 25287141     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palma memuat artikel hasil-hasil penelitian kelapa dan palma lainnya. GENERAL REQUIREMENTS Bulletin of Palma is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research finding on coconut and other palm research results. SCOPE Scope of Bulletin of Palma are: 1. Scope of science: Agricultural Microbiology, Agricultural Socio-Economics, Agronomy, Bioetechnology, Plant Breeding, Plant pathology, Plant Protection, Plant Physiology, Soil Science, Seed Technology, Primary Post Harvest, Climate science, Genetic resources, Entomology,Farming system, Environment, Agricultural extension 2. Scope of commodities : spice, medicinal, aromatic and industrial crops The journal publishes Indonesian or English articles.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2014): Desember, 2014" : 9 Documents clear
Produktivitas Nira Beberapa Aksesi Kelapa Genjah NURHAINI MASHUD; YULIANUS MATANA R MATANA
Buletin Palma Vol 15, No 2 (2014): Desember, 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.487 KB) | DOI: 10.21082/bp.v15n2.2014.110-114

Abstract

Nira merupakan cairan bening yang terdapat dalam tandan kelapa yang belum terbuka. Nira kelapa diolah menjadi berbagai produk baik pangan maupun non pangan, namun umumnya nira kelapa diolah menjadi gula. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan kultivar kelapa Genjah dengan produktivitas nira yang tinggi (>2 l/tandan/hari) dengan mutu yang baik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tujuh perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah tujuh kultivar kelapa genjah, yang terdiri atas (1). Genjah Kuning Nias (GKN), (2). Genjah Raja (GRA), (3). Genjah Salak (GSK), (4). Genjah Orange Sagerat (GOS), (5). Genjah Hijau Jombang (GHJ), (6). Genjah Tebing Tinggi (GTT), dan (7). Genjah Kuning Bali (GKB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi nira per tandan per hari maupun per pohon per hari berbeda antar kultivar Genjah dengan produksi nira tertinggi diperoleh pada kelapa GTT, yaitu 2172,38 ml/pohon/hari dan lama penyadapan nira paling lama, yaitu 19 hari/tandan. Kadar gula nira tujuh kultivar kelapa Genjah tersebut berkisar 13,51-14,56% dengan pH 6,17-6,21.ABSTRACTSap Productivity of some Dwarf Coconut AccessionsCoconut sap is a clear liquid contained in the unpenend coconut bunches. Coconut sap is processed into various products both food and non food products, but generally coconut sap is processed into sugar. The study aims to obtain coconut dwarf cultivar with high production (>2 l/palm/day) and good quality of sap. The research was conducted using randomized block design with seven treatments and three replications. The treatments were seven different of coconut dwarf accessions which consisting of (1). Nias Yellow Dwarf (NYD), (2). Raja Brown Dwarf (RBD), (3). Salak Green Dwarf (SGD), (4). Sagerat Orange Dwarf (SOD), (5). Jombang Green Dwarf (JGD), (6). Tebing Tinggi Dwarf (TTD), and (7). Bali Yellow Dwarf (BYD). The result showed that the production of sap per bunch per day or per palm per day was differed among accessions with the highest production was obtained on Tebing Tinggi Dwarf (TTD), i.e 2,172.38 ml/palm/day and longest tapping duration of sap , ie 19 days/bunch. Sugar content of sap of seven dwarf coconut accessions ranged from 13,51 to 14,56% with the pH from 6.17 to 6.21.
Identifikasi Agens Polinasi pada Tanaman Pinang (Areca catechu L.) nFN SALIM; nFN MIFTAHORRACHMAN
Buletin Palma Vol 15, No 2 (2014): Desember, 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.413 KB) | DOI: 10.21082/bp.v15n2.2014.141-149

Abstract

Informasi tentang sistem penyerbukan pada suatu tanaman sangat penting dalam persilangan untuk menghasilkan varietas unggul. Pada tanaman pinang, agens penyerbuk masih belum pasti; ada yang menyatakan dilakukan melalui angin atau serangga. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi agens penyerbuk pada tanaman pinang. Penelitian dilakukan pada koleksi dua varietas pinang, yaitu Mongkonai dan Huntu di Kebun Percobaan Kayuwatu, Manado. Kegiatan mulai dilakukan pada awal musim penghujan yaitu bulan September sampai bulan Oktober 2013. Jumlah sampel tanaman pinang sebanyak 12 pohon setiap aksesi yang berumur 10 tahun. Identifikasi agens penyerbuk dilakukan dengan dua cara, yaitu pengamatan kunjungan serangga pada tandan bunga pinang dan perangkap serbuk sari menggunakan media agar yang diletakkan di bawah malai bunga betina. Hasil penelitian menunjukkan kunjungan serangga penyerbuk pada bunga pinang sangat sedikit (8 sampai 13 jenis dan rata-rata jumlah serangga antara 0,2-261,8 serangga per pohon) dibanding dengan kunjungan serangga pada bunga kelapa (14 jenis dengan rata-rata jumlah antara 0,2-901 serangga per pohon). Selama masa anthesis bunga betina, tidak terjadi kunjungan serangga hal ini disebabkan bunga betina pinang tidak menghasilkan nektar. Jumlah polen yang terperangkap dalam media yang pemasangannya selama 24 jam hanya berkisar antara 4-6 polen pada posisi media tegak, sedangkan media yang dipasang tertelungkup polen yang terperangkap sedikit sekali, yaitu hanya 1-2 polen. Ini menggambarkan sekalipun posisi bunga betina tertelungkup serbuk sari masih bisa diserbuki oleh angin. Jumlah polen yang terperangkap selama 144 jam (hari ke enam) bertambah antara 144-174 polen untuk pemasangan media perangkap dengan posisi tegak dan 54-82 polen untuk pemasangan media dengan posisi tertelungkup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agens penyerbuk pada tanaman pinang adalah angin. Bunga pinang tidak disukai oleh serangga penyerbuk karena jumlah serbuk sari yang sedikit dan tidak menghasilkan nektar.Kata kunci: Pinang, agens polinasi, serangga penyerbuk, angin, serbuk sari, bunga betina. ABSTRACTIdentification of Pollination Agen on Arecanut (Areca catechu L.)Information about pollination system on a crop is very important in hybridization to produce superior varieties. In arenut crop, pollinators agens is still uncertain; there are states carried by wind or insects. The purpose of the study is to identify the agents of pollinators on arecanut.The study was conducted on two varieties of arecanut collection, namely Mongkonai and Huntu at the Kayuwatu Experiment Garden, Manado. Activity began in the early rainy season is September to October 2013. The number of samples as many as 12 tree for each accession of 10 years old. Identification of agents pollinators done in two ways, namely observation of insects visit the flower cluster nut and pollen traps using media that is put under the female flower bunches.The results showed pollinating insects visit the flower of arecanut very little (8 to 13 types and number of insects between 0,2-261,8 insects per palm) compared with insects visit the flowers of coconut (14 species with a number between 0,2-901 insects per palm). During the period of female flower anthesis, no insects visit, this occurs due to the female flowers do not produce nectar. This illustrates the female flowers with down position at bunches, can still be pollinated by wind. Total pollen trapped in the installation media for 24 hours only range between 4-6 pollen on media vertical position, while media with headlong position pollen trapped that is only 1-2.Total pollen trapped for 144 hours (six days) increased between 144-174 pollen traps for the installation media to the vertical position and 54-82 pollen trapped for installation media with headlong position. The research showed that the pollinating agent in arecanut is the wind. Arecanut flowers are not favored by insect pollinators for pollen counts are few and do not produce nectar.Keywords: Arecanut, pollination agents, insect pollinators, wind, pollen grain, female flower.
The Introduction of Predatory Bird Lanius Schach from Yogyakarta to Salibabu Island for Controlling Sexava Spp. On Coconut Palm F X WAGIMAN; NUGROHO SUSETYO PUTRO; FREDY LALA; MELDY L. A. HOSANG
Buletin Palma Vol 15, No 2 (2014): Desember, 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v15n2.2014.115-119

Abstract

The chronic, endemic, and outbreak of a longhorn grasshopper (Sexava spp.) occurs at central production of coconut palms in Indonesia, such as North Sulawesi, Maluku, North Maluku, Papua and West Papua. Farmers suffer from very significant economic-losses due to the pest attack, for example in Salibabu Island. Previous study in 2010 at District of Bolaang Mongondow Selatan, Province of North Sulawesi, revealed that the predatory bird Lanius schach is promising for biological control of the pest. In areas of the pest outbreak, the bird is absent, on the other hand, it is abundant in Yogyakarta. As many as 30 males and 10 females of the bird were introduced to Salibabu Island and they were intended to control the pest. All birds were successfully introduced and released at Sub District of Moronge. Within 2 months after release the birds were observed at 5 km away from the release site. Trends on reduction of the pest population-density and leaf damage were observed within 2 months after predator release. Next program on acceleration of the predator increase in numbers is urgently attempted to keep the predator being under controlled within expected period of 3 years. ABSTRAKIntroduksi Burung Predator Lanius schach dari Yogyakarta ke Pulau Salibabu untuk Pengendalian Sexava Spp. pada Tanaman Kelapa Ledakan populasi belalang antena panjang (Sexava spp.) yang kronis dan endemik terjadi pada sentra produksi kelapa di Indonesia, seperti Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Serangan hama ini mengakitkan petani mengalami kerugian ekonomi yang sangat signifikan, misalnya serangan di Pulau Salibabu. Penelitian awal pada tahun 2010 di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, mengungkapkan bahwa predator burung Lanius schach berpeluang sebagai agens pengendalian hayati hama tersebut. Di daerah ledakan populasi hama, burung ini tidak ada, tetapi, burung tersebut berlimpah di Yogyakarta. Sebanyak 30 jantan dan 10 betina burung berhasil dintroduksi ke Pulau Salibabu. untuk mengendalikan hama tersebut, predator burung Lanius schach telah diintroduksi sebanyak 30 ekor jantan dan 30 ekor betina ke Pulau Salibabu. Predator yang berhasil diintroduksi ini dilepas di Kecamatan Moronge. Dua bulan setelah pelepasan, burung dapat diamati pada jarak 5 km dari lokasi pelepasan. Kepadatan populasi hama dan kerusakan daun cenderung menurun dalam waktu 2 bulan setelah pelepasan predator. Program berikutnya adalah percepatan peningkatan jumlah predator dan diusahakan supaya predator dapat diawasi dalam jangka waktu sekitar 3 tahun. Kata kunci: Introduksi, tanaman kelapa, Sexava, Lanius schach, pengendalian hayati.
Karakteristik Virgin Coconut Oil dengan Metode Sentrifugasi pada Dua Tipe Kelapa STEIVIE KAROUW; CHANDRA INDRAWANTO; MARIA L KAPU’ALLO
Buletin Palma Vol 15, No 2 (2014): Desember, 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v15n2.2014.128-133

Abstract

Virgin Coconut Oil (VCO) merupakan minyak berkualitas tinggi yang diekstraksi dari daging buah kelapa. Penelitian bertujuan mengetahui rendemen VCO yang diolah dengan cara sentrifugasi menggunakan buah dari kelapa Genjah Salak dan kelapa Dalam Mapanget serta karakteristik VCO yang dihasilkan dari variasi cara pengadukan. Penelitian ini terdiri atas dua tahap, yaitu pengolahan VCO menggunakan daging buah kelapa Genjah Salak dan kelapa Dalam Mapanget. Jenis kelapa yang menghasilkan VCO paling banyak selanjutnya digunakan untuk tahap yang kedua, yaitu pengolahan VCO menggunakan hand mixer dan pengaduk mekanis. Hasil penelitian diperoleh bahwa daging buah dari kelapa Genjah Salak tidak sesuai digunakan sebagai bahan baku untuk proses pengolahan VCO dengan cara sentrifugasi. Pengadukan mekanis menghasilkan rendemen VCO 13,5% dibandingkan dengan hand mixer hanya 8,01%. VCO yang diekstraksi dari daging buah kelapa Dalam Mapanget dengan cara sentrifugasi memiliki sifat fisikokimia (warna, bau, bilangan peroksida, kadar air, bilangan iod dan bilangan penyabunan) serta profil asam lemak yang sesuai dengan standar APCC. Kata kunci: VCO, jenis kelapa, rendemen, sifat fisikokimia, profil asam lemak.ABSTRACTProperties of Virgin Coconut Oil Using Fruit from Two Types of Coconut Through Sentrifugation MethodVirgin Coconut Oil (VCO) was a high quality coconut oil, which was extracted from fresh coconut kernel. The objective of the research is to evaluate the yield of VCO processed through sentrifugation using kernel of Dwarf Salak and Mapanget Tall coconut fruit and properties of VCO made by variation of stiring methods.The research was conducted in two activities, the first step was processing of VCO by using coconut kernel from Genjah Dwarf and Mapanget Tall coconut fruit. The type of coconut obtained the higher yield of VCO was then used for the next step. The second step was to observe effect of different method of stiring on the yield of VCO. The VCO was then measured for its physychochemical properties and fatty acids profile. The results showed that the kernel of Salak Dwarf coconut was not suitable for raw materials on processing of VCO by sentrifugation method. The mechanical stiring obtained higher yield of VCO arround 13,5% compared to hand mixer was 8.01%. The VCO extracted from fruit of Mapanget Tall having physychochemical properties (colour, flavor, peroxide value, moisture, iodin value and saponification value) and fatty acids profile according with APCC standard Keywords: VCO, coconut types, yield, physychochemical properties, fatty acids.
KEUNGGULAN VARIETAS KELAPA BUOL ST-1 DAN POTENSI PENGEMBANGANNYA TENDA, ELSJE T.; TULALO, MEITY A.; KUMAUNANG, JEANETTE; ISMAIL MASKROMO, ISMAIL MASKROMO
Buletin Palma Vol 15, No 2 (2014): Desember, 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v15n2.2014.93-101

Abstract

Rendahnya produksi merupakan masalah dalam perkelapaan di Indonesia, sehingga perlu dicari kelapa-kelapa unggul lokal yang sudah beradaptasi baik pada suatu daerah untuk digunakan sebagai sumber benih dalam pengembangan kelapa. Kabupaten Buol, adalah salah satu daerah penghasil utama kelapa di Sulawesi Tengah. Penelitian dilakukan sejak tahun 2011 sampai 2013 di desa Mokupo, kecamatan Karamat, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah dengan metode observasi. Pengamatan dilakukan terhadap karakter morfologi meliputi karakter vegetatif, generatif, komponen buah, dan kimia daging buah. Selain itu dilakukan penilaian populasi/blok pertanaman, seleksi dan evaluasi pohon induk sebagai sumber benih. Hasil observasi menunjukkan Kelapa Buol memiliki potensi produksi tinggi > 3 ton kopra/ha/tahun, kadar minyak kopra 61%, dan memiliki ciri spesifik, yaitu cepat berbuah ± 40 bulan (sama dengan kelapa Genjah), pertambahan batang lambat (tinggi 11 bekas daun < 1 m), dan batangnya memiliki bole. Karakter-karakter tersebut merupakan karakter antara kelapa tipe Genjah dan tipe Dalam. Hasil penilaian populasi/blok pertanaman diperoleh bahwa populasi kelapa Buol memenuhi syarat sebagai Blok Penghasil Tinggi. Seleksi pohon induk kelapa terhadap 3000 tanaman di Desa Mokupo diperoleh sebanyak 300 pohon induk terpilih. Potensi benih dari sejumlah pohon induk terpilih tersebut sebanyak 28.800 butir benih per tahun yang dapat digunakan untuk pengembangan kelapa di lahan seluas 131 ha per tahun. Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, maka populasi kelapa Buol telah dilepas sebagai varietas kelapa unggul lokal, dengan nama kelapa Buol ST-1. Pohon-pohon induk terpilih dari populasi kelapa Buol ST-1 akan menjadi materi pemuliaan untuk perakitan varietas unggul dan sebagai sumber benih untuk pengembangan kelapa di daerah-daerah yang memiliki iklim seperti di Kabupaten Buol. ABSTRACTAccessions Superiority of Buol ST-1 variety and It?s Potential DevelopmentLow of production is the problem coconut plantation in Indonesia, therefore it is necessary to find a local superior coconut that has adapted to an area that can be used as a source of seeds in coconut development. Buol is one of the main coconut producing region in Central Sulawesi. The study was conducted from 2011 to 2013 in the Mokupo Village, Karamat District, Buol Region, by using observation method. Data were collected for morphological characters include vegetative characters, generative characters, fruit components, and chemical content of endosperm. Additional evaluations were done on assessment of population/block planting, selection and evaluation of the mother plant as a source of seed. Observations indicate that Buol ST-1 coconut has a high production potential as much as 3.3 tons of copra/ha/year, copra oil content of 61 %, and has a specific characteristic that is early bearing fruits ± 40 months (same with dwarf coconut), stem slow accretion (height of 11 leaf scars < 1 m ), and the stem has a bole. These characters are between Tall type and Dwarf type. The assessment results of Buol coconut populations obtained that qualify as High Yeilding Block. About 300 trees were selected as mother palms. Potential seed could be produced from selected mother palm as much as 28,800 seed per year that can be used for development in 131 ha land per year. Based on valuations have been done, the coconut Buol ST-1 has been released as the local superior coconut varieties, with names Buol ST-1. Selected mother palms of coconut population of Buol ST-1 will be using as a matterial for the breeding to assemby superior varieties and as a source of seed for coconut development in the province of Central Sulawesi and the areas that have the climate like in Buol district. 
Optimasi Dosis Nitrogen dan Kalium pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Pembibitan Utama nFN HALIM; nFN SUDRADJAT; nFN HARIYADI
Buletin Palma Vol 15, No 2 (2014): Desember, 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v15n2.2014.86-92

Abstract

Tanaman kelapa sawit merupakan salah satu komoditas ekspor dan menjadi sumber devisa Indonesia. Perluasan areal dan intensifikasi perkebunan kelapa sawit berkembang dengan pesat. Kebutuhan bibit kelapa sawit yang berkualitas terus meningkat seiring dengan permintaan petani dan perusaahaan perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan menentukan dosis optimum pupuk nitrogen dan kalium di pembibitan utama. Pelaksanaan Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Cikabayan Kampus Darmaga IPB, Bogor. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Faktorial dalam lingkungan Acak Kelompok (RAK), perlakuan terdiri atas dua faktor, faktor pertama pemupukan N dan faktor kedua pemupukan K. Pemupukan N terdiri atas 4 taraf, yaitu N0 = 0 g, N1 = 8,35 g, N2 = 16,7 g dan N3 =33,4 g bibit-1. Pemupukan K terdiri atas 4 taraf yaitu K0=0 g, K1=10,9 g, K2=21,8 g, dan K3=43,6 g bibit-1. Peubah yang diamatai adalah peubah morfologi dan kadar N dan K dalam jaringan daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk N dan K meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang bibit kelapa sawit. Berdasarkan tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang, dosis optimum pupuk N adalah 22,27g dan pupuk K adalah 35,13 g selama enam bulan di pembibitan utama. ABSTRACT Optimizing of Nitrogen and Potassium Rates for Oil Palm Seedling (Elaeis guineensis Jack) in Main NurseryPalm oil is one of the main export commodity and as a source of foreign exchane in Indonesia. Extention area and extensification of palm oil plantation are growing rapidly. The needofoil palm seedlings increase with the growing demand from farmers and plantation companies. This research aimed to determine the growth response of oil palm seedlings to various rate sand to determine the optimum rate of nitrogen and potassium fertilizer on oil palm seedlings. The experiment was carried out at Cikabayan Experimental Station at IPB Darmaga Campus, Bogor, West Java. The experimental design used was factorial randomized block design with three replications. The treatment consisted of two factors, the first factor was N fertilizer and the second factor was K fertilizer. N fertilizer consists of four levels ( N0 = 0 g, N1 = 18:25 g, N2 and N3 = 36.5 g = 73 g seedling-1) and K fertilizer consists of four levels (K0 = 0 g, K1 = 18:25 g, K2 = 36.5 g, and K3 = 73 g seedling-1). The result of the experiment shows that N and K fertilizer increase the plant height, number of frond and stem diameter. Base on the plant height, the optimum rate of N fertilizeris 23.33 g and K fertilizer is 41.82 g during six months in the main nursery.
Pengembangan Metode Analisa Warna Gula Aren JULIUS PONTOH
Buletin Palma Vol 15, No 2 (2014): Desember, 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v15n2.2014.150-153

Abstract

Salah satu kriteria mutu gula aren yang telah ditetapkan oleh standard nasional industri adalah warna gula. Penentuan warna ini hanya didasarkan pada pengamatan dengan mata telanjang. Metode ini sangat subjektif sehingga perlu dikembangkan suatu metode yang objektif. Penelitian ini ditujukan untuk mengembangkan metode analisa yang objektif untuk menentukan warna gula. Spektrofotometer merupakan alat yang dapat digunakan untuk tujuan ini. Oleh karena itu, telah diteliti konsentrasi larutan gula yang dapat memberikan hasil optimal dalam penentuan warna gula. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi gula 1,25 persen adalah yang terbaik digunakan untuk analisa warna gula aren. Indeks warna gula aren yang ada dipasaran bervariasi dari sekitar 16000 sampai 50000. Kata kunci: Gula aren;kualitas;warnaABSTRACTMethod Development for Color Analysis of Palm Sugar One of the quality criteria that has been determined in industrial national standard for palm sugar is the sugar color. The method is only based on the visual color by naked eyes. This method is very subjective, therefore, it is need a more objective method. This research is focused on the development of a more objective method for color determination in palm sugar. Spectrophotometer has been used for this measurement. It has been studied that the brown sugar concentration that gave optimal measurement for the color of brown sugar. The results show that the sugar concentration of 1.25 percent is the best for sugar color analysis of brown sugar. It has been found that the color index of various brown sugar marketed in North Sulawesi various from 16000 to 50000. Keywords: Palm sugar, quality, color.
Pemanfaatan Cendawan Antagonis untuk Pengendalian Penyakit Gugur Buah Kelapa nFN RAHMA; HIASINTA F.J. MOTULO
Buletin Palma Vol 15, No 2 (2014): Desember, 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v15n2.2014.120-127

Abstract

Phytophthora palmivora termasuk cendawan patogen tular tanah penyebab penyakit gugur buah kelapa yang menimbulkan kerugian besar sehingga membutuhkan penanganan tepat untuk pengendaliannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara dan formulasi yang tepat untuk mengendalikan cendawan P. palmivora dengan cendawan antagonis. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2011 sampai dengan Desember 2013 di Laboratorium Fitopatologi, KP. Mapanget dan KP. Paniki, Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado, Sulawesi Utara. Penelitian dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu: pengujian antagonis secara in vitro, pengujian antagonis pada buah di laboratorium dan di lapangan serta pengujian cendawan antagonis dengan aplikasi formulasi pada tanaman kelapa. Cendawan antagonis digunakan adalah Penicillium pinopillum dan Aspergillus flavus. Varietas tanaman kelapa yang digunakan adalah Genjah Kuning Bali (GKB) dan kelapa Dalam Bali (DBI) dengan enam ulangan. Analisis data menggunakan Analisis Sidik Ragam dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan cendawan antagonis A. flavus dan P. pinophillum dapat menekan perkembangan patogen P. palmivora baik pada pengujian in vitro maupun pengujian langsung pada buah bila diaplikasikan sebelum serangan patogen. Sebaliknya kedua cendawan antagonis tersebut belum dapat menekan perkembangan penyakit di lapangan. Kedua cendawan antagonis tersebut lebih efektif digunakan sebagai agens pengendali yang bersifat pencegahan.Kata kunci : Phytophthora palmivora, gugur buah kelapa, cendawan antagonis. ABSTRACTUtilization of Antagonist Fungi to Control Nutfall DiseasePhytophthora palmivora is one of pathogenic soil borne fungi that causes coconut nutfall disease. This may lead to high losses and thus requires proper handling to control. The aim of this study was to determine the proper way and formulation in controlling P. palmivora by using antagonist fungis. The research was conducted in March 2011−Desember 2013 at Laboratory of Phytopathology, Mapanget Experimental Garden and Paniki Experimental Garden, Indonesian Palm Crops Research Institute, Manado, North Sulawesi. The research was done in three stages: testing of in vitro antagonist, testing of antagonists on the fruit under laboratory and field condition. testing of antagonists fungi by application of the formulation on coconut palm. The antagonists fungi were used are Penicillium pinopillum and Aspergillus flavus. The coconut palm varieties used are Bali Yellow Dwarf and Bali tall with six replications. Analysis of data using analysis of variance, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) using SPSS. The results showed that the use of antagonists fungi A. flavus and P. pinophillum can inhibit the growth P. palmivora both in vitro testing and directly testing on the fruit when applied before attack. Two antagonists fungi can not inhibit the development of the disease in the field. Thus, both the antagonists fungi is more effectively used as a preventive agent control.Keywords : Phytophthora palmivora, nutfall disease, antagonist fungi.
Keragaman Komponen Buah dan Kuantitas Endosperma Kelapa Dalam Kopyor Kalianda dan Kelapa Genjah Kopyor Pati MASKROMO, ISMAIL; NOVARIANTO, HENGKY; SUKENDAH, nFn; SUKMA, DEWI; SUDARSONO, nFn
Buletin Palma Vol 15, No 2 (2014): Desember, 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v15n2.2014.102-109

Abstract

Sifat kopyor pada kelapa ditemukan pada kelapa tipe Dalam, Genjah maupun Hibrida alami yang tersebar di beberapa sentra kelapa di Indonesia, dengan jumlah tegakan yang terbatas. Sifat kopyor yang diduga merupakan hasil mutasi alami tersebut, terekspresi dalam bentuk abnormalitas endosperma dengan tekstur yang remah dan terlepas dari tempurung buah kelapanya. Harga buah kelapa kopyor di pasaran jauh lebih mahal dari kelapa normal dan tergantung ukuran buah serta kuantitas endospermanya. Informasi keragaman komponen buah dan karakteristik endosperma diperlukan dalam penyusunan program pemuliaan untuk mengembangkan varietas unggul kelapa kopyor baru dengan ukuran buah yang ideal, dengan endosperma tebal dan penuh mengisi rongga buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman komponen buah dan kuantitas endosperma kelapa Dalam kopyor Kalianda dan kelapa Genjah kopyor Pati. Evaluasi dilakukan mulai bulan Juni 2011 sampai dengan Desember 2013 dengan metode observasi lapang dan pengamatan di laboratorium Biologi Molekuler (PMB Lab.) IPB, Bogor. Pengamatan lapang dilakukan di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung dan Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pengamatan dilakukan terhadap penampilan warna dan ukuran buah, karakter komponen buah dan karakteristik endosperma. Hasil pengamatan menunjukkan adanya keragaman yang tinggi untuk karakter berat buah utuh, berat buah tanpa sabut, dan berat endosperma, baik pada aksesi kelapa Dalam kopyor Kalianda maupun pada kelapa Genjah kopyor Pati. Kuantitas endosperma buah kelapa kopyor tipe Dalam Kalianda diidentifikasi memiliki skor 1 – 9, sedangkan pada kelapa tipe Genjah memiliki skor 1 – 6. Karakteristik komponen buah dan kuantitas endosperma tersebut dapat dijadikan sebagai dasar penilaian kualitas buah kopyor untuk standardisasi produk buah kopyor dan sebagai dasar seleksi untuk program perakitan varietas unggul kelapa kopyor. Kata kunci: Skor kuantitas endosperma, keragaman morfologi buah, Sifat unggul kelapa kopyor, pemuliaan kelapa kopyor. ABSTRACTEndosperm Quantity and Fruit Character Variabilities of Kalianda Tall Kopyor and Pati Dwarf Kopyor CoconutKopyor trait in coconut exists in a limited number of provenances in either Tall, Dwarf, and natural Hybrid types spreading in various coconut production centers in Indonesia. Kopyor trait is a natural mutant expressed in the endosperm of coconut. Unlike the hard endosperm of normal coconut, the abnormal kopyor endosperms are soft, fluffy and peeled off from the shell of the nuts. Commercial values of this kopyor mutant coconuts are much higher than the normal one and it depends on fruit size and the endosperm quantity. Information about endosperm quantity and fruit character variabilities are required to support breeding for developing improved kopyor coconut varieties having ideal fruit size, high quantity and thicker endosperm. The objectives of this evaluation were to determine variability of endosperm quantity and fruit character variabilities of Kalianda Tall kopyor and Pati Dwarf kopyor coconuts. The study was conducted during the period of June 2011 to December 2013 by field observations and laboratory works. Field observations were conducted in the kopyor coconut production centers in Kalianda, South Lampung, Lampung Province and Tayu, Pati, Central Java and laboratory works were at PMB Lab, IPB, Bogor. The results showed the existance of high variabilities of the fruit, nut, and meat weight, both for the Kalilanda Tall kopyor or Pati Dwarf kopyor coconut. The scores for endosperm quantities of Kalianda Tall kopyor ranged from 1-9, while those of Pati Dwarf kopyor ranged from 1-6. The fruit characters and endosperm quantity could be used as standard for kopyor fruit quality and for selection criteria in the breeding program to develop improved kopyor coconut varieties.

Page 1 of 1 | Total Record : 9