cover
Contact Name
Adhitya Yudha Pradhana
Contact Email
buletinpalma@gmail.com
Phone
+62431-812430
Journal Mail Official
buletinpalma@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Mapanget, Manado 95001
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Palma
ISSN : 1979679X     EISSN : 25287141     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palma memuat artikel hasil-hasil penelitian kelapa dan palma lainnya. GENERAL REQUIREMENTS Bulletin of Palma is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research finding on coconut and other palm research results. SCOPE Scope of Bulletin of Palma are: 1. Scope of science: Agricultural Microbiology, Agricultural Socio-Economics, Agronomy, Bioetechnology, Plant Breeding, Plant pathology, Plant Protection, Plant Physiology, Soil Science, Seed Technology, Primary Post Harvest, Climate science, Genetic resources, Entomology,Farming system, Environment, Agricultural extension 2. Scope of commodities : spice, medicinal, aromatic and industrial crops The journal publishes Indonesian or English articles.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2018): Juni 2018" : 5 Documents clear
Respon Pertumbuhan Bibit Kelapa Genjah Terhadap Berbagai Dosis Pupuk Organik [The Response of Dwarf Coconut Seedling Growth on the Different Dose of Organic Fertilizer] Alfred Pahala Manambangtua, SP; Linda Trivana; Yulianus Rompah Matana
Buletin Palma Vol 19, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.564 KB) | DOI: 10.21082/bp.v19n1.2018.47-56

Abstract

One of the way to reduce the negative impact of the use of inorganic fertilizer is the using of organic fertilizer. Organic fertilizer in compsted form of compos has an important role in the improvement of chemical, physical, and biological of the soil and as a source plants nutriens. The organic fertilizer used in this research comes from coconut coir dust and composting of goat manure. Dust husk contains nutrient elements such as N, P, K, Ca, Fe, Mg, Na, Mn, Cu, Zn and Al. Goat manure contains relatively high nutrients because the goat muck is mixed with urine which also contains nutrients. Coir dust is a waste of coconut fiber. This research aims to determine the response of seedling growth of coconut seedling to organic fertilization. The research was conducted at Greenhouse, Indonesian Palma Plant Research Institute, from September to March 2017. The research used Completely Randomized Design (RAL) with five treatments and six replications to obtain 30 experimental units. The treatment tested was the dosage of organic fertilizer seedlings, consisting of no organic fertilizer (control), 250 g organic fertilizer, 500 g organic fertilizer, organic fertilizer 750 g, organic fertilizer 1.000 g. Organic fertilizer gives a real effect on plant height, stem circumference, and the content of K elements in the plant tissue. However, organic fertilizer fertilization does not affect for the number of leaves, root dry weight, dry weight of stem, the content of N and P elements in plants significantly. The use of organic fertilizer on coconut seeds can reduce the cost of fertilization using inorganic fertilizers and improve soil structure.ABSTRAKSalah satu cara untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan pupuk anorganik adalah penggunaan pupuk organik. Pupuk organik dalam bentuk yang telah dikomposkan berperan penting dalam perbaikan sifat kimia, fisika, dan biologi tanah serta sebagai sumber nutrisi tanaman. Pupuk organik yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari debu sabut kelapa dan pengomposan kotoran kambing. Debu sabut mengandung unsur hara seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe, Na, Mn, Cu, Zn, dan Al. Kotoran kambing mengandung unsur hara yang relatif tinggi karena kotoran kambing tercampur urine yang juga mengandung nutrisi. Debu sabut merupakan limbah dari penyeratan sabut kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kelapa genjah terhadap pemupukan organik. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca, Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado dari bulan September-Maret 2017. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan enam ulangan sehingga diperoleh 30 satuan percobaan. Perlakuan yang diuji adalah dosis pupuk organik perbibit, yang terdiri atas tanpa pemberian pupuk organik (kontrol), pupuk organik 250 g, pupuk organik 500 g, pupuk organik 750 g, pupuk organik 1.000 g. Pemberian pupuk organik memberi pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, lingkar batang, dan kandungan unsur K dalam jaringan tanaman. Namun pemupukan pupuk organik tidak mempengaruhi untuk jumlah daun, berat kering akar, berat kering batang, kandungan unsur N dan P pada tanaman secara nyata. Penggunaan pupuk organik pada bibit kelapa dapat mengurangi biaya pemupukan menggunakan pupuk anorganik dan memperbaiki struktur tanah.   
Kelimpahan Brontispa longissimaGestro (Coleoptera: Chrysomelidae) dan Musuh Alami pada Tanaman Kelapa [The Abundance of Brontispa longissima Gestro (Coleoptera: Chrysomelidae) and Natural Enemies on Coconut Palms] Novalisa T.E Lumentut; Sri Karindah; Meldy L.A Hosang
Buletin Palma Vol 19, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v19n1.2018.1-14

Abstract

The abundance of Brontispa longissima and its natural enemies on coconut palms have been explored in North Minahasa,South Minahasa and Southeast Minahasa Districts in February 2012 - January 2013. The aims of the research were to study the abundance of B. longissima an natural enemies in the field. The research was conducted on unproduced coconut palm and productive coconut palm. Sampling is done randomly plated or Stratified random sampling using quadrant system. The results showed that the abundance of B. longissima fluctuated, the highest abundance occurred in August and September 2012 in unproductive palms. In productive palms, the highest abundance of B. longissima at the altitude of 300-600 m above sea level occurred in August 2012, which was 70.3 individuals / young leaves, then at altitude > 600 m above sea level occurred in September 2012, ie 64 individuals / young leaves, and at an altitude of <300 m above sea level occurred in June 2012, which is 62 individuals / young leaves. Brontispa longissima natural enemies found at altitudes <300 m above sea level, 300-600 m above sea level, and> 600 m above sea level in unproduced coconut palms are parasitoid Tetrastichus brontispae, Chelisoches morio predator, and entomopathogen Metarhizium anisopliae var. anisopliae. The natural enemies found in productive coconut palm at three different altitudes are Tetrastichus brontispae parasitoids, and Chelisoches morio predators. Entomopatogen M. aanisopliae var. anisopliae is not found on the productivecoconut palms at all three altitudes. The abundance of natural enemies and percentage of parasitism in the three different altitudes both in unproductive coconut palm and productive coconut palm was low is between 0.33-14.47%. This is due to the influence of abiotic and biotic factors on the abundance of B. longissima.ABSTRAK Kelimpahan Brontispa longissima dan musuh alaminya pada tanaman kelapa telah dieksplorasi di Kabupaten Minahasa Utara, Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara pada bulan Februari 2012 - Januari 2013. Penelitian bertujuan untuk mempelajari kelimpahan B. longissima dan musuh alaminya pada pertanaman kelapa. Penelitian dilaksanakan pada tanaman kelapa belum berproduksi dan tanaman kelapa produktif. Pengambilan contoh dilakukan secara acak berlapis atau Stratified random sampling dengan menggunakan sistem kuadran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan B. longissima berfluktuasi, kelimpahan tertinggi terjadi pada bulan Agustus dan September 2012 pada tanaman belum berproduksi. Pada tanaman produktif kelimpahan B. longissima tertinggi berturut-turut pada ketinggian tempat 300-600 m dpl terjadi pada bulan Agustus 2012, yaitu 70,30 individu/pelepah, kemudian pada ketingian tempat >600 m dpl terjadi pada bulan September 2012, yaitu 64 individu/pelepah dan pada ketinggian <300 m dpl terjadi pada bulan Juni 2012, yaitu 62 individu/pelepah. Musuh alami B. longissima yang ditemukan pada ketinggian tempat <300 m dpl, 300- 600 m dpl, dan >600 m dpl pada tanaman belum berproduksi adalah parasitoid Tetrastichus brontispae, predator Chelisoches morio, dan entomopatogen Metarhizium anisopliae var. anisopliae. Musuh alami yang ditemukan pada tanaman berproduktif diketiga ketinggian tempat tersebut adalah parasitoid Tetrastichus brontispae, dan predator Chelisoches morio. Entomopatogen M. anisopliae var. anisopliae tidak dijumpai pada tanaman produktif diketiga ketinggian tempat tersebut. Kelimpahan musuh alami dan persentase parasitisme di tiga ketinggian tempat tersebut baik pada tanaman belum berproduksi maupun tanaman produktif ternyata rendah yaitu antara 0,33-14,47%. Hal ini disebabkan pengaruh faktor abiotik dan biotik terhadap kelimpahan B. longissima.  
Evaluasi Karakter Morfologi Untuk Perbaikan Genetik Tanaman Pinang ( Areca Cathecu L.) di Padang Pariaman [Evaluation Of Morphological Characters For Arecanut (Areca Cathecu L.) Genetic Improvment In Padang Pariaman] nFN Miftahorrachman; Firman Mantau; Dina Hervina
Buletin Palma Vol 19, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v19n1.2018.15-25

Abstract

 Evaluation of morphological characters that directly affect the yield is the first step in genetic improvement of areca nut requiring knowledge of the relationship of morphological characters especially production. Morphological characters that are affected directly to yield will be utilized as a basis for selection to increase crop production. The aim of this research is to know morphological characters that directly influence the number of fruits per bunchas the basis of selection for plant improvement. The research was conducted in Korong Koto Padang and Korong Toboh, Nagari Sikucua, V Koto Kampung Dalam District, Padang Pariaman District, West Sumatera Province in December 2017. The result of path analysis indicated that character of girth (r = 0,4190), number of bunches (r = 0,4488), equatorial length of fruit (r = 0,8420), kernel weight (r = 0,5451), equatorial length of kernel (r = 0,6785), and polar length of kernel (r = 0,8443) has a direct effect on fruit production of Local arecanut. For Wangi arecanut only obtained one character that is equatorial length of fruit (r = 0.4984) that directly affect fruit production. The variety of appearance of Local areca nut characters leads to greater selection opportunities compared to Wangi arecanut.The research showed that for Local areca nut, the character of girth, number of bunches, equatorial length of whole fruit, kernel weight, equatorial length of kernel, and polar length of kernel can be used as the selection for the production, while for Wangi arecanut only characters of equatorial length of fruit can be used as the basis of selection.ABSTRAKPerbaikan genetik Pinang membutuhkan pengetahuan tentang hubungan karakter morfologi terutama dengan produksi. Penelitian bertujuan untuk mencari karakter-karakter morfologi yang berpengaruh secara langsung terhadap jumlah buah per tandan untuk dijadikan dasar seleksi bagi perbaikan tanaman. Penelitian dilakukan di Korong Koto Padang dan Korong Toboh, Nagari Sikucua, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat  pada bulan Desember Tahun 2017. Analisa sidik lintas antara sebelas  karakter morfologi dan komponen buah dengan jumlah buah menggunakan rumus dari Singh dan Chaudary. Hasil analisis sidik lintas diperoleh karakter Lingkar Batang (r = 0.4190) , Jumlah Tandan (r = 0.4488) , Panjang Equatorial Buah Utuh (r = 0.8420), Berat Kernel (r = 0.5451) ,  Panjang Equatorial Kernel (r = 0.6785), dan Panjang Polar Kernel (r = 0.8443) berpengaruh langsung terhadap produksi buah untuk pinang local. Pada Pinang Wangi hanya diperoleh satu karakter yaitu Panjang Equatorial Buah (r = 0.4984) yang berpengaruh langsung terhadap produksi buah. Manfaat hasil penelitian ini adalah karakter-karakter Lingkar Batang, Jumlah Tandan, Panjang Equatorial Buah Utuh, Berat kernel, Panjang Equatorial Kernel, dan Panjang Polar Kernel dapat dijadikan dasar seleksi untuk perbaikan produksi Pinang Lokal, sementara untuk Pinang Wangi hanya karakter Panjang Equatorial Buah Utuh yang dapat dijadikan dasar seleksi.   
Pengaruh Rasio Debu Sabut Kelapa dan Kotoran Kambing terhadap Waktu Pengomposan dan Kualitas Pupuk Organik [The Effects of Coconut Coir Dust - Goat Debris Rasio on Composting Time and Organic Fertilizer Quality] Linda Trivana; Adhitya Yudha Pradhana
Buletin Palma Vol 19, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v19n1.2018.33-46

Abstract

The coconut coir dust nutrients suitable for use as organic fertilizer. Nitrogen and phosporus levels in coir dust is still low, so it’s requires additional organic materials, such as goat debris. The purpose of this research was to determine the influence of composting time of coconut coir dust and goat debris mixture on organic fertilizer quality. The study used a Completely Randomized Design with 5 treatments and 5 replications so that 25 units of experiments were obtained, and each treatment added 20 ml EM4 bioactivator. The mixture of coir dust- goat debris consist of: A (80:20), B (60:40), C (50:50), D (40:60), and E (20:80). The peak temperature of composting of organic fertilizer with ratio of coir dust- goat debris 80:20 and 60:40 occured on the 21st-days of composting, while organic fertilizer with ratio of coir dust- goat debris 50:50, 40:60, 20:80 on the 12th days of compositing. Organic fertilizer with ratio of coir dust- goat debris 80:20 and 60:40 during composting time 21 days didn’t in accordance SNI standards (C/N ratio 10-20), namely 21.28 and 21.10. Organic fertilizer with ratio of coir dust- goat debris 80:20 and 60:40 were require longer composting time more than 21 days. Organic fertilizer with ratio of coir dust- goat debris 50:50 and 40:60 that’s unqualified SNI 19-7030-2004 standard at composting time 21 days. Organic fertilizer with ratio of coir dust - goat debris 20:80 on composting that’s 7th, 14th, and 21st days unqualified SNI standard, because C/N ratio do not meet SNI standard (C/N ratio 10-20), that is 28.64, 21.89 and 7.93 respectively. The ideal time of composting for organic fertilizer with ratio of coir dust- goat debris 20:80 between 14 - 21 days.ABSTRAKDebu sabut mengandung unsur hara yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Kadar N dan P debu sabut masih rendah sehingga membutuhkan tambahan bahan organik lain seperti kotoran kambing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pengomposan campuran debu sabut kelapa dan kotoran kambing terhadap kualitas pupuk organik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan lima ulangan sehingga diperolah 25 satuan percobaan dan setiap perlakuan ditambahkan bioaktivator EM4 sebanyak 20 ml. Perlakuan yang diuji adalah komposisi debu sabut (DS)-kotoran kambing (KK) yang terdiri atas A (80:20), B (60:40), C (50:50), D (40:60), dan E (20:80). Suhu puncak pengomposan untuk pupuk organik dengan komposisi DS-KK 80:20 dan 60:40 terjadi pada hari ke-21, sedangkan pupuk organik dengan komposisi DS-KK 50:50, 40:60, dan 20:80 pada hari ke-12. Pupuk organik dengan komposisi DS-KK 80:20 dan 60:40 selama pengomposan 21 hari tidak memenuhi standar SNI (rasio C/N 10-20), yaitu 21,28 dan 21,10. Pupuk organik dengan komposisi DS-KK 80:20 dan 60:40 memerlukan waktu pengomposan yang lebih lama (lebih dari 21 hari). Pupuk organik dengan komposisi DS-KK 50:50 dan 40:60 memenuhi standar SNI 19-70302004 pada waktu pengomposan 21 hari. Pupuk organik dengan komposisi DS-KK 20:80 pada pengomposan 7, 14, dan 21 hari tidak memenuhi standar SNI, karena nilai rasio C/N pupuk E tidak sesuai dengan SNI (rasio C/N 10-20), yaitu masing masing sebesar 28,64, 21,89 dan 7,93. Waktu ideal pengomposan untuk pupuk E antara 14-21 hari.   
Stabilitas Santan Kelapa pada Variasi Penambahan Emulsifier Natrium Kaseinat [Stability of Coconut Milk on Various Addition of Sodium Caseinate as Emulsifier] Karouw, Steivie; Santosa, Budi
Buletin Palma Vol 19, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v19n1.2018.27-32

Abstract

Coconut meat is a part of the coconut that has been widely used as a food product. Coconut milk is one of the products that can be processed from coconut meat. The purpose of this study is to evaluate the characteristics of coconut meat and coconut milk stability with the addition of sodium casein as emulsifier. The research was conducted from January to December 2013 at Laboratory of Indonesian Palm Crops Research Institute, Laboratory of Faculty of Agricultural Technology and Laboratory of LPPT, Gadjah Mada University, Yogyakarta and Laboratoty of Pusat Antar Universitas, IPB, Bogor. The main raw materials used are meat of Mapanget Tall coconut variety with fruit age of 11-12 months obtained from KP Kima Atas, North Sulawesi. The results showed that coconut meat of Mapanget Tall which was used as raw materials contained 15 types of amino acids and 10 of them are essential amino acids. Glutamic acid is an amino acid with the highest proportion of 1.22%, followed by arginine and tyrosine respectively 0.89% and 0.62%. Coconut milk produced on the various concentration of sodium caseinate was safe to be consumed until 28 days of storage at 8oC, which indicated by the total of microbes of 100 - 300 cfu. The results of organoleptic testing showed that coconut milk has an ordinary color to like, the aroma was usual to likes and taste was dislikes to likes. Coconut milk produced without addition of sodium casein emulsifier tends to be more stable than that of added sodium caseinate.ABSTRAKDaging buah kelapa merupakan bagian buah kelapa yang telah dimanfaatkan secara luas sebagai produk pangan. Santan kelapa merupakan salah satu produk yang dapat diolah dari daging buah kelapa. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui karateristik daging buah kelapa dan stabilitas santan kelapa dengan penambahan emulsifier natrium kaseinat. Penelitian dilakukan sejak bulan Januari sampai Desember 2013 di Laboratorium Pascapanen Balai Penelitian Tanaman Palma Manado, Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian dan Laboratorium LPPT, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta serta Laboratorium Pusat antar Universitas, Institut Pertanian Bogor(IPB), Bogor. Bahan baku utama yang digunakan yaitu buah kelapa varietas Dalam Mapanget (DMT) dengan umur buah 11-12 bulan yang diperoleh dari KP Kima Atas, Sulawesi Utara. Santan yang diperoleh dari buah kelapa DMT ditambahkan natrium kaseinat 0,6%, 0,8% dan 1,0% kemudian disimpan pada suhu 8C selama 0, 7, 14, 21, dan 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging buah kelapa dari varietas Dalam Mapanget mengandung 15 jenis asam amino dan 10 di antaranya adalah asam amino esensial. Asam glutamat merupakan asam amino dengan proporsi tertinggi yaitu 1,22%, disusul arginin dan tirosin masing-masing 0,89% dan 0,62%. Santan kelapa yang dihasilkan pada variasi konsentrasi emulsifier natrium kaseinat tahan simpan 28 hari pada suhu 8oC yang ditunjukkan dengan jumlah mikroba sebanyak 100 -300 cfu sampai penyimpanan 28 hari. Hasil pengujian organoleptik menunjukkan bahwa santan kelapa memiliki warna biasa sampai suka, aroma biasa sampai suka dan rasa tidak suka sampai suka. Susu kelapa yang dihasilkan tanpa penambahan emulsifier natrium kaseinat cenderung lebih stabil dibanding yang ditambahkan natrium kaseinat  

Page 1 of 1 | Total Record : 5