cover
Contact Name
Ali Usman
Contact Email
ali.usman@uin-suka.ac.id
Phone
+628122957493
Journal Mail Official
afi@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Jalan Marsda Adisucipto, Papringan, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
ISSN : 14119951     EISSN : 25484745     DOI : https://doi.org/10.14421/uin-suka.refleksi
Refleksi adalah jurnal filsafat dan pemikiran Islam. Fokus dan ruang lingkup dari jurnal ini adalah Filsafat Islam, Kalam (Teologi Islam), dan Tasawwuf (Sufisme).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2018)" : 8 Documents clear
Nasionalisme Banser NU (Nasionalisme dalam perspektif Banser NU Magelang) Moh. Fatkhan
Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Keislaman Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.049 KB) | DOI: 10.14421/ref.2018.%x

Abstract

This paper seeks to see nationalism among Banser in Magelang District. In the historical record, Multiple Ansor Movement of the Nahdlatul Ulama (NU) nationalism is undoubtedly, among other things how Banser secures Pancasila and actively participates with society and government in maintaining the unity and defending NKRI. History has proven post-G 30 S / PKI eruption, GP. Ansor and Banser have been instrumental in the G.30.S / PKI crackdown. Ansor Multipurpose Group is the core force of Ansor Youth Movement as a cadre of movers, caretakers and security of social programs of Ansor Youth Movement. The aforementioned cadres are members of the Ansor Youth Movement that have qualifications: Discipline and high dedication, strong physical and mental resilience, mental and religious as the bastion of the ulama and can realize the ideals of Ansor Youth Movement and the common good. Based on the results of this study found that the attitude of Banser nationalism in the willingness to sacrifice can be realized by helping friends and others with sincerity without expecting any reward, able to prioritize the public interest rather than personal interests, and willing to defend the nation and state. In the context of Diklatsar Banser, there is a great need for awareness to raise citizens who are dedicated to the nation and state.[Tulisan ini berupaya melihat nasionalisme di kalangan Banser di Kabupaten Magelang. Dalam catatan sejarah, nasionalisme Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) sudah tidak diragukan lagi, di antaranya saat bagaimana Banser mengamankan Pancasila dan berpartisipasi aktif bersama masyarakat serta pemerintah dalam menjaga keutuhan dan mempertahankan NKRI. Sejarah telah membuktikan pasca meletusnya G 30 S/PKI, GP. Ansor dan Banser telah berjasa dalam penumpasan G.30.S/PKI. Barisan Ansor Serbaguna adalah tenaga inti Gerakan Pemuda Ansor sebagai kader penggerak, pengemban dan pengaman program-program sosial kemasyarakatan Gerakan Pemuda Ansor. Kader dimaksud adalah anggota Gerakan Pemuda Ansor yang memiliki kwalifikasi: Disiplin dan dedikasi yang tinggi, ketahanan fisik dan mental yang tangguh, penuh daya juang dan religius sebagai benteng ulama dan dapat mewujudkan Gita-cita Gerakan Pemuda Ansor dan kemaslahatan umum. Berdasarkan hasil penelitian ini didapat bahwa sikap nasionalisme Banser dalam aspek rela berkorban dapat diwujudkan dengan cara membantu teman maupun orang lain dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun, mampu mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, dan bersedia membela bangsa dan negara. Di dalam konteks Diklatsar Banser, amat dibutuhkan kesadaran untuk membangkitkan warga negara yang penuh dedikasi terhadap bangsa dan negara.]
Hermeneutika Modern dan Implikasinya Terhadap Islamic-Studies Fahruddin Faiz
Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Keislaman Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.379 KB) | DOI: 10.14421/ref.2018.%x

Abstract

As a new perspective that brings great influence in the study of contemporary Religion, the presence of hermeneutics in turn also influences the study of Islam. The presence of hermeneutics in Islamic studies is of course originated from the character of Islamic thought, as almost all types of religious thought, which tend to be multi-interpreted. The following text is generally more likely to see the influence of hermeneutics on Islamic Studies and more specifically its influence on the interpretation of the Qur’an.[Sebagai sebuah perspektif baru yang membawa pengaruh besar dalam studi Agama kontemporer, kehadiran hermeneutika pada gilirannya juga berpengaruh terhadap kajian Islam. Kehadiran hermeneutika dalam kajian Islam ini tentu saja berawal dari karakter pemikiran Islam, sebagaimana hampir semua jenis pemikiran keagamaan, yang cenderung bernuansakan multi-interpretasi. Tulisan berikut secara umum lebih cenderung melihat pengaruh hermeneutika terhadap Islamic-Studies dan secara lebih khusus lagi pengaruhnya terhadap interpretasi kitab suci Al-Qur’an.]
Mannheim Membaca Tafsir Quraish Shihab dan Bahtiar Nasir Tentang Auliya’ Surah Al-Maidah Ayat 51 Ramli Ramli
Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Keislaman Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.255 KB) | DOI: 10.14421/ref.2018.%x

Abstract

The author will examine al-Maidah verse 51 according to Quraish Shihab and Bachtiar Nasir, on the one hand, which as the holy book of Muslims with social phenomena arising from events in the Thousand Islands, on the other. It will be analyzed using the sociology of Mannheim’s knowledge. Quraish Shihab interprets auliya ‘not just one meaning: leader, because basically the word comes from a close meaning. So he, in al-Maidah verse 51, then raises the meaning of supporters, defenders, patrons, lovers and more important: all of which refer and have affiliation of the meaning of closeness. So it can be concluded in this conclusion that Quraihs Shihab is extrinsically disagreeing with the leader as the only meaning in the verse. In contrast to Quraish Shihab, Bachtiar Nasir actually interpreted auliya ‘as a leader. This meaning is based on the asbab al- nuzul which he describes in Tadabbur al-Qur’an, that the historicity in this verse has a leadership precedent.[Penulis akan menelaah Al-Maidah ayat 51 menurut Quraish Shihab dan Bachtiar Nasir, di satu sisi, yang sebagai kitab suci umat Islam dengan fenomena sosial yang muncul akibat dari peristiwa di Kepulaun Seribu, di sisi yang lain. Ini akan dianalisis menggunakan sosiologi pengetahuan Mannheim. Quraish Shihab menafsirkan auliya’tidak hanya satu makn: pemimpin, karena pada dasarnya kata tersebut berasal dari makna dekat. Sehingga ia, dalam Al-Maidah ayat 51 ini, kemudian memunculkan makna pendukung, pembela, pelindung, yang mencintai dan lebih utama: yang kesemuanya merujuk dan memiliki afiliasi makna kedekatan. Sehingga bisa disimpulkan dalam penutup ini bila Quraihs Shihab secara ekstrinsik tidak menyetujui pemimpin sebagai satu-satunya arti dalam ayat yang bersangkutan. Berbeda dengan Quraish Shihab, Bachtiar Nasir justru memaknai auliya’ sebagai pemimpin. Pemaknaan ini dilandasi oleh asbab al-nuzul yang ia jelaskan dalam Tadabbur al-Qur’an, bahwa kesejarahan dalam ayat ini memiliki preseden kepemimpinan.]
Diskursus Estetika Realisme Sosialis: Kajian Filsafat Pendidikan Moral atas Sastrawan Kreatif di Bandung Robby Habiba Abror
Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Keislaman Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.184 KB) | DOI: 10.14421/ref.2018.%x

Abstract

Culture and art attached to the city of Bandung. The dialectical process in the realm of aesthetics becomes an integral part of the discourse of literaryists and literary connoisseurs in the flower city. Although it is debatable whether Bandung poets purely ideological socialist, realist, or religious maybe even a combination of socialist socialist or socialist realism, did not reduce the passion of creativity of creative writers in Bandung to give birth to various forms of literary artwork needed by its citizens to build a city with a moral breath and heed the elements of nature in harmonizing modernity and local culture. The digital age makes the media a locus of creative literary education and praxis to build the aesthetic of socialist realism based on morality.[Kebudayaan dan kesenian melekat pada Kota Bandung. Proses dialektik dalam ranah estetika menjadi bagian integral dalam diskursus para sastrawan dan penikmat sastra di kota kembang itu. Kendati masih diperdebatkan apakah para sastrawan Bandung murni berideologikan sosialis, realis, ataukah religius bahkan mungkin juga kombinasi realisme sosialis atau sosialis religius, tak mengurangi gairah kreativitas para sastrawan kreatif di Bandung untuk melahirkan berbagai bentuk karya seni sastra yang dibutuhkan warganya untuk membangun kota dengan nafas moral dan mengindahkan unsur alam dalam mengharmoniskan modernitas dan budaya lokal. Era digital menjadikan media sebagai lokus pendidikan sastra kreatif dan praksis untuk membangun estetika realisme sosialis berdasarkan moralitas.]
Transendensi Filsafat Ilmu () Muhammad Saifullah
Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Keislaman Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.853 KB) | DOI: 10.14421/ref.2018.%x

Abstract

Judul buku     : Filsafat Ilmu, Integrasi dan TransendensiPenulis           : Musa Asy’ariePenerbit          : LESFI UIN Sunan KalijagaTahun terbit    : 2016Halaman        : 143Pengulas        : Muhammad Saifullah
Etika Plato dan Aristoteles: Dalam Perspektif Etika Islam Muhammad Taufik
Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Keislaman Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.826 KB) | DOI: 10.14421/ref.2018.%x

Abstract

Ethics try to think about the concept of morals or human behavior, such as how to know and assess the difference between good deeds and bad deeds, including how to know what is right and what is wrong. Many philosophers speak of this theme, including prominent philosophers Plato and Aristotle. According to Plato ethics it is intellectual and rational, meaning can be explained logically. For him the purpose of human life is to obtain the joy of life and the joy of his life gained with knowledge. Although it looks the same, but Aristotle has another view in his opinion, moral goodness can be understood as eudaimonia (happiness) or that is translated in English with well-being. The real happiness according to Aristotle is when humans are able to realize the best possible as a human being. It means that happiness can be achieved when man manifests the highest wisdom based on reason or reason. In contrast to the Greek philosophers’ theory in this case Plato and Aristotle, Islam seems to provide a significant distinction. The apparent difference between Greek ethics and Islamic ethics is the existence of an Islamic ethical system that includes philosophical, theological and eschatological morality (in this case the teachings of monotheism) which are certainly not known in Greek ethics. In Islamic ethics there is a harmony of the dimensions of reason and revelation as divine references in deciding both good and bad. If we look at Greek ethics then a good is done because it contains the value of virtue as a moral obligation. So in Islamic ethics more than that, not merely a virtue, but doing good is bringing benefit to all people and get appreciation from God with reward reward. In some of these ethical concepts many Muslim philosophers attribute this ethics to the goal of attaining the happiness of man in the world and in the hereafter.[Etika mencoba memikirkan tentang konsep akhlak atau tingkah laku  manusia, seperti bagaimana mengetahui dan menilai perbedaan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk, termasuk cara untuk mengetahui mana yang benar dan mana ya salah. Banyak filosof yang berbicara tentang tema ini, termasuk filosof ternama Plato dan Aristoteles. Menurut Plato etika itu bersifat intelektual dan rasional, artinya bisa dijelaskan secara logis. Baginya tujuan hidup manusia adalah memperoleh kesenangan hidup dan kesenangan hidupnya diperoleh dengan pengetahuan. Menurut Plato lebih lanjut, ada dua macam budi: budi filosofis dan budi biasa. Plato juga mengatakan bahwa orang itu baik apabila ia dikuasai oleh akal budi, buruk apabila ia dikuasai oleh keinginan dan hawa nafsu. Walau tampak sama, tetapi Aristoteles punya pandangan lain menurutnya, kebaikan moral dapat dimengerti sebagai eudaimonia (kebahagiaan) atau yang diterjamahkan dalam bahasa Inggris dengan well-being. Kebahagiaan sejati menurut Aristoteles adalah bila manusia mampu mewujudkan kemungkinan terbaik sebagai manusia. Artinya bahwa kebahagiaan dapat tercapai ketika manusia mewujudkan kebijaksanaan yang tertinggi berdasarkan rasio atau akal budi Berbeda dengan teori filosof Yunani dalam hal ini Plato dan Aristoteles, Islam tampak memberikan pembedaan yang signifikan. Perbedaan yang tampak antara etika Yunani dan etika Islam adalah adanya sistem etika Islam yang mencangkup moralitas filosofis, teologis dan eskatologis (dalam hal ini ajaran tauhid) yang barang tentu tidak dikenal dalam etika Yunani. Dalam etika Islam ada harmoni dimensi akal dan wahyu sebagai rujukan ilahiyah  dalam menentukan baik dan buruk. Bila kita melihat etika Yunani maka sebuah kebaikan itu dilakukan karena mengandung nilai keutamaan sebagai kewajiban moral. Maka dalam etika Islam lebih dari itu, bukan hanya sekedar keutamaan, tapi melakukan kebaikan itu membawa kemanfaatan bagi semua orang dan mendapatkan apresiasi dari Tuhan dengan balasan pahala. Dalam beberapa konsep etika ini banyak para filosof muslim menghubungkan etika ini dengan tujuan pencapaian kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.]
Orientalisme, Oksidentalisme dan Filsafat Islam Modern dan Kontemporer (Suatu Agenda Masalah) Muh. Syamsuddin
Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Keislaman Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.814 KB) | DOI: 10.14421/ref.2018.%x

Abstract

The intellectual nature of Islam is not a strange but soon to be felt, that Orientalism and Oksentialism are not always lived in the same image, understood in the same sense, or spoken of by using the same idioms. These differences, in addition to the variation in accentuation, also involve logical differences, both with regard to the conceptual framework, as well as with regard to the scope of interest and interests of each. Problems will arise and differences will be felt if Orientalism and Oksidentalism are not simply viewed as scientific studies, but confronted as “objective”. Orientalism and Oksidentalism as objective reality, how are they defined? Are there lingering prejudices? It should be mentioned first, that this paper wants to take a problematic position, and what is attempted here is to find the agenda of the problem. Who knows, such a position will more refer to the response and criticism that will be useful to us.[Dikalangan intelektual Islam bukan suatu yang asing akan tetapi segera akan terasakan, bahwa Orientalisme dan Oksidentalisme tidak selalu dihayati dalam citra yang sama, dipahami menurut pengertian yang sama, atau dibicarakan dengan memakai idiom-idiom yang sama. Perbedaan-perbedaan ini selain menyangkut variasi dalam aksentuasi juga melibatkan perbedaan logika, baik yang menyangkut kerangka konseptual, maupun berkenaan dengan lingkup minat dan kepentingan masing-masing. Persoalan akan timbul dan perbedaan akan terasa jika Orientalisme dan Oksidentalisme tidak sekedar dipandang sebagai suatu kajian ilmiah, tetapi dihadapkan sebagai “obyektif”. Orientalisme dan Oksidentalisme sebagai kenyataan objektif, bagaimana keduanya didefinisikan? Adakah prasangka yang membayangi? Perlu dikemukakan terlebih dahulu, bahwa tulisan ini ingin mengambil posisi problematis, dan yang diusahakan disini adalah mencari agenda persoalan. Siapa tahu, posisi yang demikian itu akan lebih mengacu respons dan kritik yang akan berguna bagi kita.]
Eksistensi Tuhan Dalam Tasawuf Emha Ainun Nadjib Faiz Fauzi
Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Keislaman Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.921 KB) | DOI: 10.14421/ref.2018.%x

Abstract

One of the poets, writers, artists, writers, cultural artists who popularized the popular mass media in the 1980s to the 1990s, is Emha Ainun Nadjib or Emha. His works found many religious and spiritual discourses, especially in his essays and poems. This study highlights Emha’s thoughts about the Existence of God within the framework of Sufism. The results of the study explained that the process of natural creation lasted for six days. The cycle will eventually be reunited with God. God’s execution according to Emha is the Emanation of God within the framework of the wahdah al-wujud. All come from God and will reunite with God (al-Haq).[Salah satu penyair, penulis, seniman, sastrawan, budayawan yang mewarnasi media massa yang popular diera 1980 hingga 1990-an yaitu Emha Ainun Nadjib atau Emha. Karya-karyanya banyak ditemukan wacana religious dan spiritual, khususnya dalam esai dan puisinya. Kajian ini menyoroti tentang pemikiran Emha tentang Eksistensi Tuhan dalam kerangka tasawuf. Hasil dari kajian menjelaskan bahwa proses penciptaan alam berlangsung selama enam hari. Siklus tersebut pada akhirnya akan manunggal (menyatu) kembali bersama Allah. Eksestensi Tuhan menurut Emha adalah Emanasi Tuhan yang dalam kerangka wahdah al-wujud. Semua berasal dari Allah dan akan menyatu kembali dengan Allah (al-Haq).]

Page 1 of 1 | Total Record : 8