cover
Contact Name
Andi Muhammad Ikhsan
Contact Email
andimuhammad.ikhsan@umi.ac.id
Phone
+6281342502866
Journal Mail Official
losari.arsitekturjurnal@umi.ac.id
Editorial Address
Jl. Urip Sumohardjo Km.5 Kampus Universitas Muslim Indonesia Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Losari : Jurnal Arsitektur, Kota dan Pemukiman
ISSN : 25024892     EISSN : 25278886     DOI : https://doi.org/10.33096/losari.v6i1
Core Subject : Engineering,
LOSARI Jurnal Arsitektur Kota dan Pemukiman adalah jurnal yang terbit 2 kali setiap tahun pada bulan Februari dan Agustus.  LOSARI Jurnal Arsitektur Kota dan Pemukiman adalah  peer reviewed jurnal yang memuat artikel-artikel ilmiah mengenai arsitektur dan Rancang  Kawasan  Binaan pada lingkup ilmu arsitektur, lansekap, interior, perencanaan wilayah kota dan kawasan. 
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 2 Agustus 2019" : 6 Documents clear
STASIUN KERETA API DENGAN KONSEP UTOPIA DI KOTA MAKASSAR Melita Thila; Noviar Nurdin Kasim; Meldawati Artayani
LOSARI Jurnal Arsitektur, Kota dan Permukiman Vol 4 No 2 Agustus 2019
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.982 KB) | DOI: 10.33096/losari.v4i2.70

Abstract

Kota Makassar sebagai,pintu gerbang perdagangan di Indonesia Timur dan juga merupakan salah satu kota besar di Indonesia, membutuhkan moda transportasi massal yakni kereta api yang telah ditindaklanjuti dengan adanya jaringan jalur kereta api Trans Sulawesi pada tahun 2015 di Kabupaten Barru. Sejauh ini perencanaan kereta api hanya sebatas rencana jaringan jalur kereta tanpa adanya rencana rancangan stasiun. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah desain Stasiun Kereta Api di Kota Makassar sebagai induk dari stasiun-stasiun penghubung antarkota lainnya. Penggunaan metode pendekatan utopia menekankan bentuk fasade yang geometris dan dinamis yang ditransformasikan dari bentuk lumba-lumba untuk menghadirkan kesan futuristik pada bangunan yang berlokasi pada Kecamatan Tallo tersebut. Dengan luas lahan terbangun 2,7 Ha dan lahan terbuka 1,8 Ha, Stasiun didesain tiga lantai dengan sistem struktur rangka ruang dipadukan GFRC (Glass Fiber Reinforced Concrete). Pada tapak terdapat pembagian jalur enterance antara penumpang, pengelola dan barang atau kargo. Fasilitas yang disediakan pada tapak adalah halte angkutan umum yakni BRT dan pete-pete guna memperlancar perpindahan moda transportasi penumpang. Stasiun Kereta Api dengan konsep utopia ini penulis sajikan agar dapat menjadi ikon Kota Makassar, sesuai dengan program kerja pemerintah yakni menjadikan Kota Makassar sebagai kota dunia. Selain itu juga dapat memperpanjang masa pakai bangunan dari segi arsitektural sehingga bangunan tidak perlu direnovasi dalam kurun waktu yang singkat.
PRIORITAS PENINGKATAN PRASARANA BERKELANJUTAN PERUMAHAN BUKIT BARUGA DI MAKASSAR Adithya Yudistira
LOSARI Jurnal Arsitektur, Kota dan Permukiman Vol 4 No 2 Agustus 2019
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.049 KB) | DOI: 10.33096/losari.v4i2.71

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis ketersediaan prasarana berkelanjutan perumahan permukiman dan prioritas peningkatan prasarana perumahan permukiman. Penelitian ini bersifat deskriptif komparatif. Penelitian dilakukan pada perumahan Bukit Baruga Kecamatan Manggala Kelurahan Antang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan kuisioner. Sampel yang diambil adalah kepala rumah tangga yang dipilih secara sampel klaster. Data dianalisis dengan analisis AHP (Analytic Hierarchy Process). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ketersediaan prasarana transportasi, drainase, air bersih dan sanitasi perumahan secara teknis sudah memadai namun belum sepenuhnya memenuhi standar berkelanjutan. Hasil analisis prioritas peningkatan menggunakan AHP menunjukkan prioritas pertama peningkatan prasarana transportasi dengan bobot 0,31, prioritas kedua prasarana sampah dan air limbah dengan bobot 0,27, prioritas ketiga prasarana air bersih dengan bobot 0,25 dan prioritas keempat prasarana drainase dengan bobot 0,17.
AKSESIBILITAS MERAPI PARK WORLD LANDMARK SEBAGAI DESTINASI YANG RAMAH BAGI DIFABEL Luluk Nihayati; Rekta Deskarina
LOSARI Jurnal Arsitektur, Kota dan Permukiman Vol 4 No 2 Agustus 2019
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.543 KB) | DOI: 10.33096/losari.v4i2.72

Abstract

Pariwisata yang aksesibel menjadi isu menarik dalam Konvensi PBB pada Rights of Disabled Person, bahwa akses dalam bidang pariwisata merupakan hak setiap orang. Difabel memiliki motivasi yang sama untuk berwisata seperti halnya masyarakat pada umumnya, tetapi kenyataannya mereka ridakmemperoleh kesempatan berwisata yang sama. Untuk membuka kesempatan bagi difabel, diperlukan fasilitas yang aksesibel dalam berwisata. Penelitian ini akan membandingkan temuan lapangan dengan teori yang ada secara kualitatif. Di samping itu juga dilakukan koding terhadap hasil wawancara dan kemudian dilanjutkan dengan mengelompokkan hasil koding tersebut ke dalam tema yang telah ditentukan untuk selanjtnya dianalisa. Peneliti perlu melakukan penelitian tentang kelayakan aksesibilitas bagi kaum difabel, penelitian serupa di Merapi Park World Landmark belum pernah dilakukan. Sehingga dapat diketahui kelayakan aksesibilitas yang dapat membuat wisatawan difabel merasa nyaman dan tidak mendapatkan kendala selama berwisata. Kondisi eksisting fasilitas diukur dari kondisi ketersediaan dan kesesuaian, standar yang digunakan dalam penilaian merujuk pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14 Tahun 2017, tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung. Terdapat enam aspek yang dinilai yaitu jalur pedestrian, jalur pemandu, area parkir, ramp, toilet, rambu dan marka. Jalur pedestrian dan ramp merupakan aspek yang telah memenuhi standar baik dari kesesuaian maupun ketersediaan. Aspek rambu dan marka serta jalur pemandu tidak memenuhi standar sama sekali. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa fasilitas yang tersedia di Merapi World Landmark bagi difabel belum memenuhi standar dan belum dikatakan layak.
PERENCANAAN REST AREA DENGAN KONSEP MICHI-NO EKI DI JALUR NON-TOL (Studi Kasus: Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan) Muhammad Yusri Lukman; Muhammad Zaki; Ermywati H Rako
LOSARI Jurnal Arsitektur, Kota dan Permukiman Vol 4 No 2 Agustus 2019
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.574 KB) | DOI: 10.33096/losari.v4i2.73

Abstract

Penelitian ini adalah dasar acuan analisis dan standar yang akan digunakan dalam pekerjaan pembangunan tempat peristirahatan pengguna jalan raya. Penelitian ini bersifat deskriptif, Penelitian dilakukan di kecamatan Soppeng Riaja desa Lawallu Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi selatan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Data kendaraan yang dibutuhkan disamping volume arus lalulintas adalah jenis kendaraan dan arah pergerakannya. Metode analisis yang digunakan adalah metode hubungan sebab akibat. Suatu fenomena akan dianalisis tentang akibat yang terjadi dari suatu perlakuan. Hasil kajian yang memberi dampak positif akan dikembangkan sementara efek kajian yang bernilai negatif akan ditelusuri secara mendalam untuk mendapatkan hasil keputusan optimal. Metode dan standar ini meliputi dasar hukum perbandingan dan ketentuan dasar pergerakan kendaraan. Standar yang dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah persyaratan umum yang harus dipenuhi untuk memberi pelayanan minimum kepada kendaraan dan pengguna rest area. Michi no Eki adalah sebuah konsep rest area yang menyediakan tempat beristirahat nyaman dan layanan berkualitas lainnya bagi pengguna jalan, dengan melibatkan peran serta masyarakat lokal.
KONSEP PERENCANAAN PERUMAHAN NELAYAN DI PANTAI POHUWATO PENDEKATAN PADA ARSITEKTUR VERNACULAR Nurmiah Miah
LOSARI Jurnal Arsitektur, Kota dan Permukiman Vol 4 No 2 Agustus 2019
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.828 KB) | DOI: 10.33096/losari.v4i2.74

Abstract

Nelayan merupakan kelompok masyarakat yang mata pencahariannya sebagian besar bersumber dari aktivitas menangkap ikan dan mengumpulkan hasil laut lainnya. Ini merupakan aktifitas keseharian, untuk tipe Nelayan dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu nelayan buruh, nelayan juragan dan nelayan perorangan. Pola aktifitas dan tipe ini sangat mempengaruhi akan model bangunan dan pola visual fungsi bangunan pada suatu kawasan Kehidupan permukiman nelayan selalu di indentikkan dengan kumuh salah satu faktor adalah kemiskinan merupakan suatu masalah yang bersifat multi dimensional, dalam arti berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi,budaya, politik dan aspek lainnya. kemiskinan merupakan masalah dalam pembangunan yang ditandai dengan pengangguran dan keterbelakangan, yang kemudian meningkat menjadi ketimpangan. Sebagai suatu masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, masyarakat memiliki karakteristik sosial tersendiri yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di wilayah daratan. Di beberapa kawasan pesisir yang relatif berkembang pesat, struktur masyarakatnya bersifat heterogen, terbuka terhadap perubahan dan interaksi sosial. Hal ini menjadikan facade dan arah perencanaan kawasan yang tidak terarah antara bangunan lama dan bangunan baru yang tumbuh di kawasan ini . Sehingga dalam penelitian ini saya menganilisis untuk mendapatkan konsep perencanaan kawasan yang tepat bagi perumahan nelayan khususnya pada facade bangunan apakah pendekatan nilai nilai vernakular bisa di terapkan pada perencanaan kawasan rumah nelayan ini khususnya di rumah nelayan desa pohuwato timur
MUSEUM DENGAN PENDEKATAN KONSEP ARSITEKTUR TROPIS MODERN Eva Gracia Anggina; Kelik Hendro Basuki
LOSARI Jurnal Arsitektur, Kota dan Permukiman Vol 4 No 2 Agustus 2019
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.334 KB) | DOI: 10.33096/losari.v4i2.75

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman budaya, tradisi dan adat istiadat yang sudah turun termurun ada dan harus dijaga dan dilestarikan oleh penerus bangsa. Karya seni dan budaya yang ada di Indonesia itu telah melekat pada kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Seperti batik, songket, kain ulos, tenun sebagai kebutuhan sandang, ritual adat, makanan khas daerah, rumah-rumah adat, dan lainnya. Pentingnya keberadaan pengetahuan akan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat ini sangat diperlukan. Untuk itu diperlukan wadah untuk melestarikan, menjaga peninggalan tersebut yaitu bangunan Museum. Seiring berkembangnya zaman modern, masyarakat khususnya pada wilayah perkotaan mulai melupakan pentingnya peran dalam hal melestarikan budaya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar masyarakat kurang berminat atau tertarik akan budaya yang terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Dari sebanyak 328 museum di seluruh Indonesia, dalam setahun hanya mampu menarik 10 juta kunjungan. Angka tersebut relatif kecil dibandingkan dengan museum di negara lain dimana satu museum bisa menarik hingga 6 juta kunjungan. Museum sebagai hasil perancangan dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan dan mendukung aktifitas manusia yang berada dalam bangunan tersebut. Kondisi ruangan yang baik adalah ruangan yang dapat memenuhi persyaratan kenyamanan yang meliputi kenyamanan terhadap suara, pencahayaan, kenyamanan. Oleh karena itu dalam pendekatan konsep yang diterapkan pada bangunan harus memperhatikan faktor iklim di indonesia, yaitu iklim tropis sehingga dapat tercipta lingkungan dan bangunan yang memberikan kenyamanan, kenikmatan, dan keselamatan terhadap pemakainya.

Page 1 of 1 | Total Record : 6