cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jsdlbbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jsdlbbsdlp@gmail.com
Editorial Address
Balai Besar penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Jln. Tentara Pelajar no 12, kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16114
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau mengenai kebijakan. Ruang lingkup artikel tinjauan ini meliputi bidang: tanah, air, iklim, lingkungan pertanian, perpupukan dan sosial ekonomi sumberdaya lahan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2014)" : 6 Documents clear
SISTEM SURJAN: KEARIFAN LOKAL PETANI LAHAN PASANG SURUT DALAM MENGANTISIPASI PERUBAHAN IKLIM Susilawati, Ani; Nursyamsi, Dedi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.021 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v8n1.2014.%p

Abstract

Abstrak. Sektor pertanian merupakan sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim yang berpotensi memberikan dampakbesar terhadap ketahanan pangan nasional. Selain perubahan iklim, pembangunan pertanian menghadapi berbagai kendala, antaralain alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian sehingga usaha pengembangan pertanian diarahkan ke lahan marginalseperti lahan rawa pasang surut. Penataan lahan ini perlu dilakukan agar kondisi lahan sesuai untuk kebutuhan tanaman sehinggaproduktivitasnya menjadi optimal. Sistem surjan adalah salah satu bentuk penataan lahan yang biasa dilakukan oleh petani lahanpasang surut dan terbukti mampu mengantisipasi perubahan iklim. Sistem ini memiliki perspektif budaya, ekologi, dan ekonomi,yang memadukan antara kearifan lokal dengan inovasi teknologi terkini. Paket teknologi dalam sistem surjan meliputi:pengelolaan air sistem satu arah yang dilengkapi pintu otomatis (flapgates) dan tabat (stoplog), penggunaan tanaman adaftif lahanpasang surut, pengolahan tanah minimum, kalender tanam rawa terpadu, aplikasi DSS lahan rawa pasang surut, dan penggunaanpupuk biotara.Abstract. Agricultural sector is the most vulnerable sector to climate change that could potentially contribute a great impact onnational food security. Beside climate change, agricultural development faces many obstacles, including a conversion ofagricultural land into non-agriculture so that agriculture extensification are directed to marginal land areas such as tidalswamplands. Lands arrangement is needed to make favorable soil condition to plants growth so that its productivity increases.Surjan system is a land arrangement which is usually applicated by tidal swampland farmers and has high ability to anticipateclimate change. This system has cultural, ecological, and economical perspectives which combines local knowledge with the latesttechnological innovations. The technologies in surjan system include: one way system of water management with automatic door(flapgates) and tabat (stoplog), use of adaptive plant on tidal swampland, soil minimum tillage, applicatiopn of integrated croppingcalender and DSS of tidal swamplands as well as use of biotara fertilizer.
TEKNOLOGI IRIGASI SUPLEMEN UNTUK ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM PADA PERTANIAN LAHAN KERING Haryati, Umi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.849 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v8n1.2014.%p

Abstract

Abstrak. Lahan kering di Indonesia cukup potensial untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian ditinjau dari segi luasan. Luas lahan kering di Indonesia mencapai lebih dari 140 juta ha. Lahan kering adalah lahan yang hanya mengandalkan air hujan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan airnya. Ketidak pastian iklim di daerah ini, dengan adanya perubahan iklim, merupakan salah satu kendala dalam sistem produksi pertaniannya. Oleh karena itu penggunaan air secara efisien merupakan perhatian utama dalam usaha pertanian di lahan kering. Irigasi suplemen merupakan salah satu teknologi yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhaan air sesuai kebutuhan tanaman dengan tingkat efisiensi penggunaan air yang berbeda tergantung jenis teknologi yang digunakan. Makalah ini bertujuan untuk mengemukakan tentang prospek implementasi teknologi irigasi suplemen untuk adaptasi perubahan iklim di lahan kering berdasarkan: 1) Prinsip dasar irigasi di lahan kering, 2) Potensi sumberdaya air di lahan kering, 3) Alternatif teknologi irigasi suplemen di lahan kering dan 4) Strategi implementasi teknik irigasi suplemen untuk usahatani di lahan kering.Abstract. Upland is the land that only depend on the rainfall as the main water source to fullfill its water needs. Unpredictable climate in this area, even with climate change appereance, is one of the problem/constraint in its agriculture production. So that, water use efficiency should become the main concern on farming system practise in upland. Suplemental irrigation is one of technology that facilitate to fullfill water needs as well as crop water requirement with different water use efficiency level, depend on the kind of technology that be used. This paper was aim to inform about the implementation prospect of suplemental irrigation technology for adaptation of climate change in upland base on: 1) Principle of irrigation in upland, 2) Potential water source in upland, 3) Alternatives of suplemental irrigation technology in upland and 4) Strategy of suplemental irrigation technology implementation for farming system in upland.
COVER JSL VOL.8(1) 2014 Lahan, Jurnal Sumberdaya
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.265 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v8n1.2014.%p

Abstract

Cover JSL Vol.8(1) 2014
Karakteristik dan Potensi Pemanfaatan Lahan Gambut Terdegradasi di Provinsi Riau Masganti Masganti; Wahyunto Wahyunto; Ai Dariah; Nurhayati Nurhayati; Rachmiwati Yusuf
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.448 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v8n1.2014.%p

Abstract

Abstrak. Luas lahan gambut di Indonesia diperkirakan sekitar 14,95 juta hektar dimana sekitar 6,66 juta hektar atau 44,6% telahterdegradasi. Degradasi lahan gambut terjadi antaranya disebabkan oleh kebakaran lahan, kesalahan dalam pengelolaan air, dankegiatan penambangan. Lahan gambut terdegradasi merupakan lahan gambut yang mengalami penurunan fungsi hidrologi,produksi, dan ekologi akibat memburuknya sifat kimia, fisika dan biologi gambut, sehingga produktivitasnya menurun, bahkansebagian menjadi tidak produktif dan dibiarkan menjadi semak belukar dan lahan terbuka bekas tambang sebagai lahan terlantar.Riau merupakan provinsi di pulau Sumatera yang mempunyai lahan gambut terluas, yakni 3,89 juta hektar dari 6,49 juta hektartotal luas lahan gambut di pulau Sumatera. Akan tetapi sekitar 2,31 juta hektar telah terdegradasi. Meskipun terdegradasi,sebagian lahan gambut atau hampir separuhnya dimanfaatkan masyarakat sebagian besar untuk budidaya tanaman perkebunanmeliputi kelapa sawit, karet, disusul tanaman pangan meliputi padi, jagung, kedele, ubijalar dan ubikayu, selanjutnya tanamanhortikultura buah berupa nanas, pisang, rambutan, buah naga, cempedak, nangka, jeruk, melon, kedondong, dan belimbing,sayuran buah meliputi cabe, timun, kecipir, labu, dan tomat, dan sayuran daun terdiri dari kangkung, bayam, sawi, dan selada.Dari 934.130 ha lahan gambut terdegradasi yang belum dimanfaatkan, sekitar 585.217 ha potensial dikembangkan untuktanaman perkebunan, pangan dan hortikultura.Abstract. Peatland area in Indonesia is estimated to be around 14.95 million hectares of which about 6.66 million hectares, or44.6% had been degraded. Peatland degradation occurs which is caused by fires, water miss-management, and mining activities.A degraded peatlands which is peatland that have decreasing on hydrology , production, and ecology function due to thedeteriorating nature of chemistry, physics and biology peat, so that productivity decreases, even partially be unproductive andmostly covered by shurbs, bush and bare land as the former mining wasteland. Riau is a province on the island of Sumatra, whichhas the widest peat, which is 3.89 million hectares from 6.49 million hectares of the total peatland area in Sumatra island.However, approximately 2.31 million hectares have been degraded. Although degraded, partially or almost half of them peatlandcommunities largely utilized for the cultivation of plantation crops including oil palm, rubber, followed by food crops include rice,corn, soybean, sweet potato and cassava, further horticultural fruit crops such as pineapple, banana, rambutan, dragon fruit ,Cempedak, jackfruit, oranges, melons, kedondong, and star fruit, fruit vegetables including peppers, cucumbers, winged bean,squash, and tomatoes, and leafy vegetables consisted of kale, spinach, collards, and lettuce. Of the 934,130 ha of degradedpeatlands indicated potential for developing plantation crops, food and horticulture for about 585,217 ha.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Sumberdaya Air: Identifikasi, Simulasi, dan Rencana Aksi Popi Rejekiningrum
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v8n1.2014.%p

Abstract

Abstrak. Perubahan iklim saat ini telah terjadi secara global. Bukti-bukti tentang hal itu telah dilaporkan secara sistematis oleh Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) dan The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Perubahan iklim telah dan akan menyebabkan bahaya langsung berupa perubahan pola curah hujan, kenaikan suhu, kenaikan muka air, dan kejadian iklim ekstrim. Berbagai proses yang memicu perubahan iklim global dan perubahan iklim telah diterima banyak pihak sebagai keniscayaan yang dicirikan oleh pemanasan global, dengan dampak langsung terhadap daur hidrologi, sehingga perubahan iklim diyakini memberi dampak secara nyata terhadap sumberdaya air di banyak wilayah di dunia dengan konsekuensi luas pada kehidupan masyarakat dan lingkungan. Makalah ini membahas dampak perubahan iklim terhadap sumberdaya air di Indonesia melalui identifikasi dengan data dan fakta empirik terjadinya tren perubahan curah hujan dan debit aliran sungai‐sungai di Indonesia dan berbagai upaya antisipasi melalui adaptasi, serta Undang Undang dan Rencana Aksi yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya air dalam menyikapi perubahan iklim global. Upaya-upaya tersebut diharapkan menjadi strategi untuk mengurangi kerentanan dan risiko perubahan iklim sektor sumberdaya air.Abstract. Climate change has been occurring globally. Evidence of it has been reported systematically by Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) and the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Climate change has and will cause immediate impact on changes in precipitation patterns, rising temperatures, sea level rise, and extreme climate events. The processes that lead to global climate change and climate change has been accepted by many as a necessity which is characterized by global warming, with a direct impact on the hydrological cycle, so that climate change is believed to significantly impact on water resources in many regions of the world with broad consequences on people's lives and the environment. This paper discusses the impact of climate change on water resources in Indonesia through identification with the scientific evidence of the empirical facts and data change trend in rainfall and river flow rivers in Indonesia, shows the various efforts to anticipate through adaptation, and Law and Action Plan related to water resources management in facing of global climate change. These efforts are expected to be a strategy to reduce vulnerability and risks of climate change on the water resources sector.
Perkembangan Pemetaan Zona Agro-Ekologi (ZAE) di Indonesia Hikmatullah Hikmatullah; Sofyan Ritung
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v8n1.2014.%p

Abstract

Abstrak. Peta Zona Agro-Ekologi atau yang populer dengan peta AEZ adalah data geospasial tematik turunan dari peta tanah atau satuan lahan, yang menyajikan sebaran satuan-satuan lahan yang mempunyai kesamaan karakteristik iklim, terrain, tanah, dan potensi untuk pengembangan komoditas pertanian. Peta AEZ awalnya dikembangkan oleh FAO sekitar tahun 1978 pada skala kecil untuk membantu negara-negara berkembang di Afrika dalam menyediakan informasi geospasial sumberdaya lahan untuk perencanaan penggunaan lahan. Di Indonesia, peta AEZ berbasis pulau skala 1:1.000.000 dan provinsi skala 1:250.000 telah diperkenalkan pada awal tahun 1990-an menggunakan sumber data dari peta tanah tinjau atau peta sistem lahan. Peta AEZ tersebut memberikan informasi pewilayahan komoditas pertanian, yang dapat dimanfaatkan untuk membantu perencanaan pertanian tingkat nasional dan provinsi. Saat ini peta AEZ skala 1:250.000 berbasis provinsi telah diterbitkan tahun 2013 untuk seluruh Indonesia dengan menggunakan peta dasar rupabumi terbaru dari Badan Informasi Geospasial (BIG) mendukung Gerakan Menuju Kebijakan Satu Peta (One Map Policy). Untuk perencanaan operasional tingkat kabupaten, peta AEZ tersebut perlu didetilkan delineasinya menjadi skala 1:50.000 yang berbasis wilayah kabupaten. Penyusunan peta AEZ skala 1:50.000 sudah dimulai sejak awal tahun 2000-an, tetapi secara sistematis baru dimulai tahun 2012 dan ditargetkan selesai akhir tahun 2017 untuk seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Perencanaan dan strategi yang efektif dan pendanaan yang mencukupi sangat diperlukan untuk mendukung percepatan penyelesaian peta-peta tersebut. Kendala yang dihadapi dalam penyelesaian penyusunan peta AEZ skala 1:50.000 seluruh wilayah kabupaten antara lain keterbatasan tenaga peneliti dan teknisi, tingkat kehandalan/akurasi peta, diseminasi hasil, dan pembaharuan peta-peta. Pemanfaatan data geospasial sumberdaya lahan yang akurat dapat mendukung perencanaan pengembangan pertanian yang lebih terarah.Abstract. The agro-ecological zone map, as popular as AEZ map, is the thematic geospatial data derived from soil or land unit maps that indicates the distribution of land units which have similar characteristic of climate, terrain, soils, and potency for agricultural commodity development. The AEZ map was firstly developed by FAO in 1978 for small scale to help developing countries of Africa in providing land resource geospatial data for landuse planning. In Indonesia, the AEZ map was introduced in the early of 1990’s at scales of 1:1000,000 for island-basis and 1:250,000 for provincial-basis derived from the available reconnaissance soil or land system maps. The AEZ map gives general information on the direction of agricultural commodity zoning for supporting both national and provincial planning. Recently, the AEZ base maps published by Geospatial Information Agency to support One Map Policy movement. By increasing the need of the geospatial data at larger scale, the AEZ map should be detailed the map unit delineations into 1:50,000 scale. The AEZ maps at scale of 1:50,000 were firstly created in the early of 2000’s, but systematically they have been created on the regency-basis since 2012, and they will be completed for the whole regencies of Indonesia in the end of 2017. The effective planning and strategy, and sufficient cost are needed to speed up of completing these maps. Constraints for completing the maps include the limited number of researchers and technicians, level of map reliability/accuracy, dissemination of result, and updating the maps. The use of accurate geospatial land resource data could support the agricultural development planning properly.

Page 1 of 1 | Total Record : 6