cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jsdlbbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jsdlbbsdlp@gmail.com
Editorial Address
Balai Besar penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Jln. Tentara Pelajar no 12, kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16114
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau mengenai kebijakan. Ruang lingkup artikel tinjauan ini meliputi bidang: tanah, air, iklim, lingkungan pertanian, perpupukan dan sosial ekonomi sumberdaya lahan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2015)" : 6 Documents clear
Teknologi Ramah Lingkungan dalam Budidaya Kelapa Sawit di Lahan Gambut Terdegradasi Masganti Masganti; Nurhayati Nurhayati; Rachmiwati Yusuf; Hery Widyanto
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.691 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Abstrak. Lahan gambut merupakan lahan yang sangat potensial dimanfaatkan untuk tujuan pertanian. Selain fungsi produksi,lahan gambut juga berfungsi dalam sistem hidrologi dan lingkungan. Diperkirakan dari total 14,95 juta hektar lahan gambutIndonesia, sekitar 6,66 juta hektar lahan ini telah terdegradasi. Degradasi lahan gambut menyebabkan fungsi hidrologi, produksi,dan lingkungan menjadi berkurang yang ditandai dengan penurunan produktivitas, pada musim hujan terjadi banjir, dan padamusim kemarau terjadi kekeringan, bahkan kebakaran. Gambut yang terdegradasi mempunyai kesuburan tanah yang lebihrendah, daya pegang air dan porositas lebih rendah, dan jenis dan populasi mikroorganisme lebih sedikit. Degradasi lahan gambutdisebabkan oleh aktivitas manusia seperti pengelolaan air yang salah, penambangan, dan penebangan pohon. Kriteria gambutterdegradasi meliputi (a) kadar karbon < 35 t ha-1, atau (b) tanaman penutup tanahnya merupakan semak belukar atau lahantersebut merupakan lahan terbuka bekas tambang. Meskipun terdegradasi, petani kelapa sawit banyak memanfaatkan lahan ini,sekitar 20-25% lahan gambut terdegradasi dimanfaatkan untuk budidaya kelapa sawit. Untuk itu diperlukan teknologi ramahlingkungan yang mampu menurunkan emisi GRK, meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Teknologi tersebutmeliputi pengelolaan air menggunakan kanal blok, penggunaan amelioran Tankos dan tumpangsari tanaman.Abstract. Peatlands are potential land used for agricultural purposes. In addition to the production function, peatlands alsofunctions in hydrology and environmental systems. It is estimated that of a total of 14.95 million hectares of Indonesia'speatlands, about 6.66 million hectares of land has been degraded. Peatland degradation caused hydrological function, production,and the environment is reduced which is characterized by a decrease in productivity, floods in the rainy season, and droughts inthe dry season, even a fire. Degraded peat has lower in soil fertility, water holding capacity and porosity, and less in the type andpopulation of microorganisms. Peatland degradation caused by human activities such as poor water management is wrong,mining, and felling trees. Degraded peat criteria include (a) the carbon content <35 t ha-1, or (b) the land cover plants are shrubsor open land is a former mining land. Although degraded, oil palm growers are making use of this land, about 20-25% of degradedpeat lands utilized for the cultivation of oil palm. It is necessary for environment friendly technologies that can reduce greenhousegas emissions, improve productivity and income of farmers. These include water management technologies to use chanal block,use ameliorant Tankos and intercropped plants.
PERANAN PUPUK ORGANIK DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAH DAN TANAMAN Hartatik, Wiwik; Husnain, Husnain; Widowati, Ladiyani R.
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.923 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Abstrak: Pupuk organik berperan dalam meningkatkan kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah serta mengefisienkanpenggunaan pupuk anorganik. Kualitas dan komposisi pupuk organik bervariasi tergantung dari bahan dasar kompos dan prosespembuatannya. Penggunaan tanaman legum baik berupa tanaman lorong (alley cropping) maupun tanaman penutup tanah (covercrop) serta bahan organik insitu, perlu diintensifkan untuk mendukung pemanfaatan pupuk organik non komersial danpemulihan kesuburan tanah.Pemberdayaan masyarakat dan kelompok tani dalam pengadaan pupuk organik dapat dilakukanmelalui: a) melatih petani membuat pupuk organik insitu yang berasal dari kotoran ternak dan sisa tanaman yangdikomposkan;b) mendorong petani melakukan diversifikasi usaha pertanian berbasis ternak; dan c) mendorong petanimelakukan pengelolaan bahan organik insitu terutama pada lahan kering. Pemanfaatan pupuk organik telah diterapkan dalamsistem budidaya pertanian organik (organic farming) dan System rice of intensification (SRI). Pemberian pupuk organik yangdikombinasikan dengan pupuk anorganik, telah diterapkan dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT), sistem integrasipadi/palawija dan ternak (SIPT), sistem pertanian mandiri yang mengintegrasikan ternak dan tanaman crop livestock system(CLS).Abstract: It is inevitable that organic fertilizer plays a major role in increasing the fertility of the physical, chemical and biologicalas well as the efficient use of inorganic fertilizers. The main composition of organic fertilizer when it decomposes will consist ofmostly water and cellulose, hemiselulose, lignin, and a small portion main macro nutrients, secondary macro nutrients, microelements and silica. There is also a growth regulating enzymes and vitamins as a byproduct of microbial decomposition. The maincomponent or specific parameters have a major role and the speed of the process of transformation of organic fertilizer into theform of mineral nutrients and the end product is humus. The significance of organic fertilizer is widely recognized by agriculturalresearchers and practitioners. In addition the use of organic fertilizers in paddy fields and dry land cultivation system ofagriculture that combines inorganic fertilizer and organic, has strived implemented by the government in this case the Ministry ofAgriculture that the system of integrated crop management (ICM), system integration paddy/crops and livestock (SIPT), anindependent agricultural systems that integrate livestock and crop plants livestock system (CLS). If the awareness of farmers onthe use of organic fertilizers increases, the availability of both in situ and have to come from outside should be available insufficient quantity and good quality. Technological innovation of Agricultural Research and Development Agency to support theuse of organic fertilizers continue to research and develop. Currently available guidebooks and technological innovation, such asland management guidelines, management guidelines of organic materials and organic fertilizer, granular organic fertilizerproduct (Tithoganik, POG, POCr), and decomposers products to accelerate the process of decomposition (such as M-dec).Opportunities and challenges in increasing stakeholder awareness is not a barrier in optimizing organic fertilizer. The key is thesynergistic integration between institutions regulatory, technical institutions, Research Agency, producers and users in theimplementation of socialization, production, guidance and supervision. 
COVER JSL VOL.9(2) 2015 Lahan, Jurnal Sumberdaya
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.898 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Cover JSDL
SISTEM INFORMASI SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN INDONESIA: STATUS TERKINI DAN ARAH PENGEMBANGAN KE DEPAN Sulaeman, Yiyi; S., Ropik; Bachri, Saefoel; Sutriadi, Mas Teddy; Nursyamsi, Dedi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.781 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Abstrak: Data dan informasi sumberdaya lahan telah banyak disediakan, yang menjadi tantangan adalah mencari cara bagaimana: (i) data dan informasi itu tersedia lestari, diperbaharui secara periodik, serta dapat diakses dengan cepat dan mudah, (ii) masyarakat luas mengetahui keberadaanya dan memahami isinya sesuai dengan keperluannya, (iii) meningkatkan nilai tambah data sebagai sumber data dan informasi lainnya, dan (iv) menjadi acuan dalam kebijakan keruangan bidang sumberdaya lahan dan pengembangan wilayah. Keempat tantangan itu dijawab dengan pembangunan dan pengembanagn sistem informasi geospasial berbasis internet. Tulisan ini mendiskusikan status terkini dan arah pengembangan ke depan dari sistem informasi sumberdaya lahan pertanian. Sistem informasi telah dibangun dan dikembangkan sejak era tahun 1980-an, namun seiring dengan kemajuan dibidang pendukung sistem, perbaruan dan pengembangan terus dilakukan. Saat ini Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan (BBSDLP) telah mengembangkan SIMADAS, IndoSoilObs, IndoSoilMap, Basisdata KL, SPKL, SI SULTAN, MOPET, dan KATALOG PETA sebagai bagian sistem informasi sumberdaya lahan pertanian.Masing-masing aplikasi mempunyai fasilitas dan fungsi khusus yang dikaitakan dengan pengelolaan, penelusuran, pemrosesan, dan diseminasi data dan informasi. Aplikasi ini terus dikembangkan dan diperbaharui (update) sistem dan isi/datanya. Isu-isu ke depan berkaitan dengan data dan informasi, software dan hardware, sumberdaya manusia, dan geovisuaslisasi akan mempengaruhi operasionalisasi sistem informasi dan aplikasi yang telah dibangun. Strategi ke depan untuk setiap isu tersebut juga didiskusikan.Abstract: Voluminous land resource data and information is available, the remaining challenge are: (i) how to sustain data availability, to update data periodically, and to ease data accessibility; (ii) how to disseminate to public the metadata about its availability and tailor the content according to its need, (iii) to increase data added value, and (iv) to offer such data as reference for spatial policy on land resource and regional development. This challenges are answered by developing internet-based geospatial information system. This paper discuss the current status and future direction of agricultural land resource information system. Information system has been developed since 1980, yet it need to be developed and updated to tailor with advances in supporting system. Currently Indonesian Center for Agricultural Land Resource Research and Development (ICALRD) has been developing SIMADAS, IndoSoilObs, IndoSoilMap, Basisdata KL, SPKL, SI SULTAN, Mopet, and KATALOG PETA as part of agricultural land resource information system. Each application offer facilities and special function related to managing, browsing, processing, and disseminating data and information. These application are being developing its system and updating its content. The future challenge related to data and information management, software and hardware, human resource, and geovisualization will influence operating of established information system and applications. Future strategies to cope with the issues are discussed. 
Pembenah Tanah untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan Pertanian Ai Dariah; S. Sutono; Neneng L. Nurida; Wiwik Hartatik; Etty Pratiwi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.612 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Abstrak. Pembenah tanah (soil conditioner) dapat digunakan untuk mempercepat pemulihan kualitas tanah. Tulisan ini menguraikan prinsip pemanfaatan pembenah tanah, jenis dan klasifikasi pembenah tanah, fungsi utama dan efek pembenah tanah terhadap kualitas tanah dan produktivitas tanaman, pengembangan pembenah tanah untuk pemulihan lahan pertanian, serta peluang dan kendala pengembangan pembenah tanah. Penggunaan pembenah tanah utamanya ditujukan untuk memperbaiki kualitas fisik, kimia, dan/atau biologi tanah, sehingga produktivitas tanah menjadi optimum. Pembenah tanah ada yang bersifat alami maupun buatan (sintetis). Berdasarkan senyawa atau unsur pembentuk utamanya, pembenah tanah bisa dibedakan sebagai pembenah tanah organik, hayati, dan mineral. Penggunaan pembenah tanah yang bersumber dari bahan organik sebaiknya menjadi prioritas utama, selain terbukti efektif dalam memperbaiki kualitas tanah dan produktivitas lahan, juga bersifat terbarukan, insitu, dan relatif murah, serta bisa mendukung konservasi karbon dalam tanah. Kelemahannya adalah dibutuhkan dalam dosis relatif tinggi. Beberapa pembenah mineral juga efektif dalam meningkatkan kualitas tanah, namun tetap harus disertai dengan penggunaan pembenah tanah organik. Penggunaan pembenah tanah sintetik perlu diuji terlebih dahulu dari segi dampak negatifnya terhadap lingkungan, selain pertimbangan harga yang umumnya relatif mahal, meski dosis yang digunakan relatif rendah.Abstract. Soil conditioner can be used to improve the recovery of soil quality. This paper mainly discuss on the use of soil conditioner, type and classification, function and its effect on soil quality and crop productivity, as well as the potency and challenge of using soil conditioner for recovery of the degraded agricultural land. The main role of soil conditioner is to improve soil physical, chemical and biological conditions and to provide optimum condition for soil productivity. There are natural and synthetic soil conditioners. Based on its component, they can be grouped as organic, biologic and mineral soil conditioner. The use of organic soil conditioner is strongly recommended as it proven very effective in improving soil quality and land productivity. Other benefits in using organic soil conditioner are their properties such as renewable, available in situ, and relatively less expensive. It also can support the conservation of carbon in the soil, but has the weakness associated with the high application rate. Some mineral soil conditioner is also effective in improving soil quality unless it’s combined organic soil conditioner. The use of synthetic soil conditioner should be evaluated for its negative impact on the environment prior to application and for its relatively expensive, although it is used at relatively low doses.
Aplikasi Teknik Computed Tomography (CT) Scan dalam Penelitian Porositas Tanah dan Perkembangan Akar Achmad Rachman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Abstrak: Perkembangan akar dan laju pergerakan air di dalam profil tanah sangat dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, dan orientasi dari pori tanah. Tingginya variabilitas pori tanah, baik pada skala keruangan (spatial) maupun waktu (temporal), membutuhkan teknik pengukuran yang cepat dan dapat dilakukan berulangkali tanpa merusak obyek penelitian agar dihasilkan rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat. Penggunaan X-ray computed tomography (CT) scan, yang digunakan dalam dunia kedokteran untuk mendiagnose penyakit pasien, dapat digunakan secara cepat dan akurat untuk mengkuantifikasi porositas dan sifat-sifat tanah lainnya serta perkembangan perakaran di dalam tanah. Kelebihan teknik CT scan dibanding teknik sebelumnya seperti kurva karakteristik air dan teknik irisan tipis adalah dapat mengkuantifikasi jumlah pori, pola distribusi keruangan, dimensi fraktal, dan bentuk pori dari gambar 3 dimensi (3-D) beresolusi tinggi yang dihasilkan. Makalah ini bertujuan untuk mereview penggunaan CT Scan dalam penelitian porositas tanah dan perakaran untuk mendapatkan pemahaman yang lebih detil tentang interaksi antara tanah dan akar. Dengan pemahaman yang lebih detil tersebut dapat ditentukan teknik pengelolaan tanah dan tanaman yang lebih baik untuk meningkatkan produktivtas pertanian.Abstract: Root development and water movement in the soil profile are highly affected by the shape, size and orientation of the soil pores. The high spatial and temporal variability of soil porosity required a quick and repeated non-distruptive technique to measure it in order to develop a more suitable land management recommendation. The use of computed tomography (CT) scan, which has been used for years in medical examination of patient, can be utilized in quantifying rapidly and accurately soil porosity and other soil characteristics as well as root development in the soil sample. The advantage of CT scan technique over other techniques such as soil water characterictis curve and thin section is the possibility to quantify the amount, spatial distribution, fractal dimension, and shape of the soil pores from 3-D high resolution image produced. The aim of this review is to offer a perspective on the possible application of CT scan technique in soil porosity and root studies to obtain more detail understanding of soil and root interactions. With that understanding, one can develop more accurate soil and crop management to improve agriculture productivity.

Page 1 of 1 | Total Record : 6