cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 40, No 1 (2016)" : 9 Documents clear
APLIKASI MIKROORGANISME LOKAL (MOL) DIPERKAYA MIKROB BERGUNA PADA BUDIDAYA PADI SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) ORGANIK Batara, Lily Noviani; Anas, Iswandi; Santosa, Dwi Andreas; Lestari, Yulin
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 1 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n1.2016.71-78

Abstract

Abstrak. Mikroorganisme Lokal (MOL), suatu cairan bahan organik yang ditambahkan gula merah atau molase, berperan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi serta mengatasi masalah hama dan penyakit tanaman padi pada System of Rice Intensification (SRI) organik. Sifat MOL sangat beragam dan sering tidak mengandung mikrob berguna. Tujuan penelitian ini adalah untuk (i) mengevaluasi kualitas berbagai macam MOL, (ii) memperbaiki kualitas MOL dengan menambahkan mikrob berguna, serta (iii) menguji pengaruh MOL yang diperbaiki kualitasnya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi dengan metode SRI organik. Pengujian kualitas dan perbaikan kualitas MOL dilakukan di Laboratorium dan di lapang di Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Mikrob berguna yang digunakan untuk memperbaiki kualitas MOL yaitu Azotobacter sp., Azospirillum sp., bakteri pelarut fosfat, dan Trichoderma harzianum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas MOL yang diproduksi oleh petani sangat beragam sifat fisik, kimia dan biologinya. Kandungan unsur hara N paling tinggi terdapat pada MOL krokot 0,15%, unsur hara P pada MOL krokot dan nasi 0,06%, sementara unsur hara K pada MOL rebung 0,63%. Pembuatan MOL secara kuantitatif dan penambahan mikrob berguna ke dalam MOL mampu meningkatkan kualitas MOL yang dapat dilihat dari peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Jumlah anakan MOL rebung diperkaya mikrob berguna 42 batang rumpun-1 lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan MOL rebung 39 batang rumpun-1. Jumlah gabah dengan MOL rebung diperkaya mikrob berguna rata-rata 148,5 gabah malai-1, lebih tinggi dibandingkan dengan MOL rebung 142,5 gabah malai-1. Berat gabah kering panen MOL rebung diperkaya mikrob 10,7 t ha-1, lebih tinggi bila dibandingkan dengan MOL rebung setinggi 9,3 t ha-1.Abstract. Indigenous Microbes (IMO), an organic liquid product enriched with palm sugar or molasses, can be used to improve the growth and yield as well as to protect plants from pest and diseases in the Organic System of Rice Intensification (SRI). IMO characteristics vary and some do not contain beneficial microbes. This research was aimed to (i) evaluate the quality of IMO, (ii) to improve IMO quality by enriching with beneficial microbes and (iii) to evaluate the effects of enriched IMO on rice growth and yield under the Organic SRI. Chemical, physical and biological properties of IMO were evaluated at the Laboratory and the field trial was performed at Ciasihan village, Pamijahan District, Bogor, West Java. Benefical microbes used to improve the quality of IMO were Azotobacter sp., Azospirillum sp., phosphate solubilizing bacteria and Trichoderma harzianum. The results of this study showed that the physical, chemical and biological properties of IMO produced by farmers varied. Purslane IMO was highest in N content (0.15%), P content in purslane and rice IMO was 0.06% while K content in bamboo shoot IMO was 0.63%. Quantitative preparation of IMO and enrichment with beneficial microbes is necessary to improve its quality as can be observed from the improvement of rice growth and yield. Numbers of tillers of bamboo shoots of IMO enriched with beneficial microbes was 42 tillers hill and was higher compared to the treatment of bamboo shoots IMO without microbe enrichment which was 39 tillers hill-1. The number of rice grain under bamboo shoot IMO enriched beneficial microbes was 148.5 grains panicle-1 which was higher than that of the bamboo shoot IMO without enriched beneficial microbes of 142.5 grains panicle-1. Grain yield under bamboo shoot IMO enriched beneficial microbes was also higher, i.e. 10.7 t ha-1, which was higher compared to bamboo shoots IMO without enriched beneficial microbes of 9.3 t ha-1.
PENGARUH PEMBERIAN PESTISIDA TERHADAP TRANSFORMASI ASAM FENOLAT SERTA PRODUKSI CO2 DAN CH4 PADA TANAH GAMBUT Suciati, Fuzi; Anwar, Syaiful; Dadang, Dadang; Aviantara, Dwindrata B.; Widyastuti, Rahayu
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 1 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n1.2016.11-23

Abstract

Abstrak. Degradasi bahan organik dari tanah gambut menghasilkan berbagai asam fenolat, CO2 dan CH4. Asam fenolat bersifat toksik dan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman. Sebagian pestisida yang diaplikasikan jatuh ke tanah dan bereaksi dengan bahan organik tanah. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh penambahan pestisida terhadap ikatan asam fenolat pada tanah gambut serta menganalisis tingkat emisi CO2 dan CH4. Penelitian ini menggunakan 2 jenis pestisida yaitu herbisida paraquat diklorida dan insektisida Buthylphenylmethylcarbamate (BPMC). Dosis pestisida yang digunakan mengacu kepada dosis anjuran, yaitu 4 liter ha-1 untuk paraquat dan 1 liter ha-1 untuk BPMC. Perlakuan menggunakan 3 dosis (setengah, setara dan dua kali dosis anjuran: ?g kg-1): 1.104, 2.208, dan 4.416 untuk paraquat dan 485, 970, dan 1.940 untuk BPMC dengan satu kontrol. Setelah diinkubasi 1, 7, 14 dan 28 hari dilakukan analisis yang meliputi asam fenolat, residu pestisida, gugus fungsional, serta emisi CO2 dan CH4. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pestisida menurunkan jumlah asam fenolat di dalam tanah gambut. Penggunaan bahan aktif paraquat dan BPMC memperlihatkan pola yang sama terhadap perubahan konsentrasi asam fenolat dalam tanah. Dosis bahan aktif BPMC 485 ?g kg-1 menyebabkan penurunan residu pestisida lebih tinggi dibandingkan dosis yang lainnya yaitu sebesar 95% setelah 28 hari masa inkubasi. Secara umum penggunaan bahan aktif paraquat pada semua dosis yang diuji tidak meninggalkan residu setelah 28 hari masa inkubasi. Pemeriksaan gugus fungsional dengan FTIR tidak mendeteksi adanya penambahan gugus fungsional baru pada semua dosis dan jenis bahan aktif, namun perubahan intensitas puncak serapan dapat merupakan indikasi bahwa terjadi perubahan komposisi senyawa kimia dalam tanah gambut selama periode inkubasi. Penambahan pestisida tidak nyata mempengaruhi emisi CO2 dan CH4.Abstract. Degradation of organic matter from peat soil produces various phenolic acids, CO2, and CH4. The phenolic acid is known toxic and causes plant growth retardation. Some of pesticide is unintentionally drip on peat soil surface and reacts with organic matter. This study was aimed at evaluating the influence of pesticides on phenolic acid bondings as well as CO2, and CH4 emissions. Two types of pesticides were used: herbicide paraquate dichloride and insecticide Buthylphenylmethyl-carbamate (BPMC). The pesticide dosages were based on the recommended application, i.e. 4 liter ha-1 for paraquat and 1 liter ha-1 for BPMC. Treatments were consisted of 3 levels of dosage (half, equal and two-fold the recommended rates: ?g kg-1): 1,104; 2,208; and 4,416 for paraquat and 485, 970, and 1,940 for BPMC and a control treatment. After 1, 7, 14, and 28 days of incubation, soils in each treatment were analyzed for phenolic acids, pesticide residues, functional groups, and CO2 and CH4 emissions. The results showed that pesticide application reduced the total phenolic acid concentrations of peat soil. Paraquat and BPMC applications showed a similar pattern on soil phenolic acid concentrations. BPMC dosage of 485 ?g kg-1 reduced 95% of pesticide residues, which was the highest reduction compared to any other dosages. In general, paraquat application at the tested dosages left no pesticide residues after 28 days of incubation. The FTIR analysis did not detect appearance of any new functional groups under the tested rates and types of pesticides. However, altered intensity of the absorption peaks could be an indication of compositional changes of the chemical substances within peat soil during the incubation period. Pesticide application did not significantly affect CO2 and CH4 emissions.
Karakteristik Andisol Berbahan Induk Breksi dan Lahar dari Bagian Timur Laut Gunung Gede, Jawa Barat Muhammad Giri Wibisono; Sudarsono Sudarsono; Darmawan Darmawan
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 1 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n1.2016.61-70

Abstract

Pengaruh Aerasi Tanah Sulfat Masam Potensial Terhadap Pelepasan SO42-, Fe2+, H+, dan Al3+ Yuli Lestari; Azwar Ma’as; Benito Heru Purwanto; Sri Nuryani Hidayah Utami
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 1 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n1.2016.25-34

Abstract

COVER JTI VOL.40(1) JULY 2016 Iklim, Jurnal Tanah dan
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 1 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n1.2016.%p

Abstract

The Journal's Cover
BIODIVERSITAS DAN SIFAT KIMIA TANAH PADA EKOSISTEM LADA DAN UBI KAYU DI LAMPUNG TIMUR Irawati, Arfi; Widyastuti, Rahayu; Sutandi, Atang; Idris, Komaruddin
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 1 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n1.2016.51-59

Abstract

Abstrak. Biodiversitas tanah dipengaruhi oleh ekosistem lahan pertanian dan biodiversitas menggambarkan kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh ekosistem lada (Piper nigrum) dan ubi kayu (Manihot esculenta) terhadap keragaman fauna tanah, mikroba tanah fungsional dan sifat kimia tanah. Pengambilan contoh tanah dilaksanakan di Kabupaten Lampung Timur pada akhir musim kemarau pada bulan Agustus 2013. Hasil identifikasi pada ekosistem lada dan ubi kayu menunjukkan bahwa terdapat 11 taksa biota tanah yang terdiri dari kelompok mesofauna (Acari dan Collembola) dan kelompok makrofauna ( Aranea, Chilopoda, Coleoptera, Diplura, Diplopoda, Hymenoptera, Isopoda, Isoptera dan Pseudoscorpion). Total kelimpahan fauna tanah yang ditemukan sebanyak 17529 individu terdiri dari 7210 individu pada ekosistem lada dan 10319 individu pada ekosistem ubi kayu. Populasi azotobacter, mikroba selulotik dan total bakteri pada ekosistem lada berbeda secara signifikan dengan ekosistem ubi kayu, sedangkan populasi bakteri pelarut fosfat dan total fungi tidak berbeda nyata. Sifat kimia tanah tidak berbeda signifikan antara kedua ekosistem ini. Berdasarkan analisis diskriman diketahui bahwa KTK, ldd, C-organik, pasir, liat dan total bakteri memiliki nilai fungsi sebagai faktor pembeda dan sifat-sifat ini dapat dimanfaatkan sebagai basis untuk pengelolaan tanah pada ekosistem lada dan ubi kayu.Abstract. Soil biodiversity is influenced by agricultural ecosystems and the biodiversity is an indicator of soil fertility. The objective of this research were to evaluate the effects of pepper (Piper nigrum) and cassava (Manihot esculenta) ecosystems on soil fauna biodiversity, population of functional microbes, and soil chemical properties. Soil samples were taken from East Lampung District in the end of dry season (August) 2013. The identification revealed 11 taxa of soil biota, i.e. group of mesofauna (Acari and Collembola) and group of macrofauna (Araneae, Chilopoda, Coleoptera, Diplura, Diplopoda, Hymenoptera, Isopoda, Isoptera, and Pseudoscorpion). The total abundance of soil fauna was 17529 individuals; 7210 in pepper and 10319 in cassava, but there was no significant difference in mean soil fauna abundance between the two ecosystems. Azotobacter, cellulotic and total bacteria showed significant differences in the abundance between pepper and cassava ecosystems, but the significant difference was not detected for phosphate solubilizing bacteria and total fungi. The soil chemical characteristics were not different between the two ecosystems. Based on the discriminant analysis, the variables that differentiated the two ecosystems were cation exchange capacity, exchangeable Al, organic carbon content, sand content, clay content, and total bacteria. These variables can be used as the basis for managing the pepper and casava ecosystems. 
Phosphorous and Potassium Balances of Newly Developed Lowland Rice Field in Kleseleon Village, Malaka District, Nusa Tenggara Timur Sukristiyonubowo Sukristiyonubowo; Sugeng Widodo; Prima P. C.
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 1 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n1.2016.35-42

Abstract

Abstract. Development of newly opened lowland rice fields in Indonesia can be both from up land with ustic to hemic moisture regimes and wetland with quick moisture regime. The study was conducted in Ustifluvent soil type of newly developed lowland rice field in Kleseleon village, Malaka District, Nusa Tenggara Timur Province in 2014. Five treatments were tested including T0: farmers practices, T1: NPK at recommendation rate + Rice straw compost, T2: NPK at recommendation rate + Smart + Rice straw compost, T3: ¾ NPK at recommendation rate + Smart + Rice straw compost and T4: NPK at recommendation rate + Smart + Rice straw compost, in which N, P and K application were split two times. The treatments were arranged in randomized complete block design with three replications. The phosphorous and potassium balances were constructed according to the different between nitrogen inputs and nutrient losses. The aims were (1) to evaluate phosphorous and potassium input – output of newly developed lowland rice field and (2) to validate the phosphorous and potassium recommendation according to the phosphorous and potassium balances. The results indicated that there were surplus P and K across the treatments meaning that the amount of SP-36 and KCl were more than enough to replace P and K removed by harvest product. The recommended P and K should be kept to at least 100 kg SP-36 and 100 kg KCl with added compost at least 3 tons ha-1 season-1.Abstrak. Pengembangan sawah bukaan baru di Indonesia dapat berasal dari lahan kering dengan kelembaban tanah ustik sampai hemic dan lahan basah dengan kelembaban tanah cepat. Penelitian dilakukan pada tanah ustifluvent dengan kelembaban ustik dari sawah bukaan baru di Dusun Kleseleon, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur pada tahun 2014. Jenis. Lima teknologi diuji sebagai peralukan: T0: Praktek Petani, T1: NPK dengan dosis rekomendasi + Kompos Jerami Padi, T2: NPK denagn dosis rekomendasi + Smart + Kompos Jerami Padi, T3: ¾ NPK dengan dosis rekomendasi + Smart + Kompos Jerami Padi dan T4: NPK dengan dosis rekomendasi + Smart + Kompos Jerami Padi, dimana N, P and K diberikan dua kali. Perlakuan tersebut diatur dengan Rancangan Acak Kelompok yang diulang tiga kali Penelitian bertujuan (1) mengevaluasi unsur hara P dan K yang masuk dan yang keluar pada sawah bukaan baru, (2) memvalidasi rekomendasi pemupukan P dan K berdasarkan keseimbangan haranya. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terjadi surplus P dan K pada pemberian pupuk 100 kg SP-36 and 100 kg KCl ha-1 musim-1, berarti bahwa jumlah SP-36 dan KCl yang diberikan lebih dari cukup untuk menggantikan P dan K yang diangkut oleh hasil panen padi. Rekomendasi pemupukan P dan K sejogyanya dipertahankan paling tidak sebesar 100 kg SP-36 and 100 kg KCl ha-1 musim-1 dengan memberikan pupuk organik dari kompos jerami sebanyak 3 tons ha-1 musim-1.
Properties and Management Implications of Soils Developed from Volcanic Ash in North Sulawesi Edi Yatno; Hikmatullah Hikmatullah; Muhammad Syakir
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 1 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n1.2016.1-10

Abstract

Abstract. Soils formed from volcanic ash have unique properties and are among the most productive soils for agricultural use worldwide. The purpose of this study was to characterize mineralogical, physical, and chemical properties of volcanic ash soils. Four soil profiles developed from volcanic ash in North Sulawesi were described, sampled, and analyzed for their mineralogical, physical, and chemical properties. Results revealed that sand mineral composition was dominated by opaque, volcanic glass, labradorite, augite, and hypersthene followed by hornblende and olivine, whereas clay minerals were dominated by allophane and hydrated-halloysite. The mineral composition indicated that the soils were developed from andesitic to basaltic volcanic materials. Soil morphological characteristics were dark colors, weak to moderate sub-angular blocky structure, and friable to very friable consistency. The soils showed coarse to medium texture with sand content of > 40%. The bulk density ranged from 0.79 to 1.19 g cm-3 and water retention at 1,500 kPa were generally low to medium (6.3-18.5%). The soil reaction in the upper horizons was acid to slightly acid and pHH2O and pHNaF values ranged from 4.8-6.5 and 9.1 to 12.3, respectively. The soil organic carbon content and cation exchange capacity were low to high, while base saturation was moderate to high. Two soil profiles (P1 and P3) met the criteria of andic properties and are classified as Andisols. However, the other two profiles (P4 and P2) just met the criteria for vitrandic soil properties at subgroup level of Inceptisols and Entisols. All the studied soils are highly potential for agricultural production. However, some soils exhibit low organic carbon content and high P retention. Therefore, land management should be directed for increasing organic matter content and availability of P nutrient.Abstrak. Tanah yang terbentuk dari abu vulkan memiliki sifat-sifat khas dan merupakan salah satu tanah cukup produktif bagi pengembangan pertanian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat mineralogi, fisika, dan kimia tanah-tanah yang terbentuk dari abu vulkan. Empat profil tanah terbentuk dari abu vulkan di Sulawesi Utara telah diambil contoh tanahnya dan dianalisis sifat-sifat mineralogi, fisika, dan kimianya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi mineral fraksi pasir didominasi oleh opak, gelas vulkanik, labradorit, augit, hiperstin, hornblende, dan olivin, sedangkan mineral liat didominasi oleh alofan dan haloisit hidrat. Komposisi mineral tersebut menunjukkan bahwa tanah-tanah yang diteliti berkembang dari bahan vulkan andesitik hingga basaltik. Karakteristik morfologi tanah dicirikan oleh warna gelap, struktur gumpal agak bersudut dengan tingkat perkembangan lemah hingga sedang, dan konsistensi gembur hingga sangat gembur. Tekstur tanah sedang hingga kasar dengan kandungan pasir > 40%. Bobot isi tanah berkisar antara 0,79-1,19 g cm-3 dan retensi air pada 1.500 kPa umumnya rendah hingga sedang (6,3-18,5%). Reaksi tanah pada horison atas masam hingga agak masam dengan nilai pHH2O dan pHNaF masing-masing berkisar antara 4,8-6,5 dan 9,1-12,3. Kandungan karbon organik dan kapasitas tukar kation rendah hingga tinggi, sedangkan kejenuhan basa sedang hingga tinggi. Dua profil tanah (P1 dan P3) memenuhi kriteria sifat tanah andik dan diklasifikasikan sebagai Andisols. Sedangkan dua profil tanah lainnya (P4 dan P2) hanya memenuhi kriteria sifat tanah vitrandik pada tingkat subgrup Inceptisols dan Entisols. Semua tanah yang diteliti berpotensi tinggi untuk produksi pertanian. Akan tetapi, beberapa tanah mengandung bahan organik rendah dan mempunyai retensi P tinggi. Oleh karena itu, pengelolaan lahan perlu diarahkan pada peningkatan kadar bahan organik dan ketersediaan hara P. 
Emisi CO2 Kelapa sawit Histosols Muka air tanah Rizosfer Non-Rizosfer Tri Tiana Ahmadi Putri; Lailan Syaufina; Gusti Zainal Anshari
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 1 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n1.2016.43-50

Abstract

Abstrak. Emisi CO2 terdiri atas respirasi autorof dan heterotrof. Respirasi autotrof diasumsikan tidak berpengaruh pada pemanasan global, dan sebaliknya respirasi heterotrof berdampak pada pemanasan global. Tujuan penelitian ini untuk mengukur dan mempelajari emisi CO2 autotrof dan heterotrof, yang berasal dari rizosfer dan non rizosfer tanaman kelapa sawit yang ditanam pada lahan gambut dangkal. Lokasi penelitian terletak di Rasau Jaya Umum, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Emisi CO2 yang diukur dari dua belas sungkup tertutup dengan menggunakan alat analisis gas inframerah (EGM-4). Umur tanaman kelapa sawit 6 sampai 7 tahun. Pengukuran dilakukan satu bulan sekali, dari bulan Januari sampai Mei 2015. Hasil penelitian menunjukkan emisi CO2 dari rizosfer lebih tinggi dan berbeda sangat nyata dibandingkan emisi non rizosfer. Besaran emisi rizosfer dan non rizosfer diperkirakan sebesar 0,93 dan 0,44 g m-2 hr-1. Emisi bertambah besar dengan makin dalamnya muka air tanah, menunjukkan ada korelasi positif antara emisi CO2 dengan kedalaman muka air tanah.Abstract. CO2 emission consists of autotrophic and heterotrophic respirations. An autotrophic emission is not considered as negative, and in contrast, a heterotrophic oxidation of peat soils has detrimental impact on the global warming. The aim of this study is to investigate rates of emissions between autotrophic and heterotrophic respirations, generated by oil palm (Elaeis guineensis) plantation on shallow peat. The research site was located in Rasau Jaya Umum, Kubu Raya District, West Kalimantan Province, Indonesia. The ages of palms are 6 to 7 years. A total of twelve closed chambers were placed in both rhizospheres, representing autotrophic and heterotrophic oxidation, and non-rhizospheres, repsenting heterotrophic oxidation only. CO2 emissions were measured once a month, with an infrared gas analyzer (EGM-4), from January to May 2015. The results show rhizospheric emissions are significantly higher than non-rhizospheric emissions, i.e., 0.93 and 0.44 g m-2 hr-1, respectively. Values of CO2 emissions increase as water table level is low, indicating a positive correlation between water table level and CO2 emission from peats. 

Page 1 of 1 | Total Record : 9