cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 41, No 2 (2017)" : 9 Documents clear
PENGEMBANGAN SISTEM IRIGASI POMPA TENAGA SURYA HEMAT AIR DAN ENERGI UNTUK ANTISIPASI PERUBAHAN IKLIM DI KABUPATEN BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Rejekiningrum, Popi; Kartiwa, Budi
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v41n2.2017.159-171

Abstract

Abstrak: Sehubungan dengan kendala keterbatasan air di lahan kering, maka diperlukan irigasi suplementer dengan memanfaatkan potensi sumberdaya air yang ada di wilayah tersebut dengan memanfaatkan beragam teknologi yang mampu mengangkat dan mengalirkan air dari sumbernya ke lahan-lahan pertanian. Untuk itu telah dikembangkan sistem irigasi pompa tenaga surya (SI-PTS) yang tidak tergantung pada tenaga listrik atau bahan bakar lainnya. Penggunaan energi matahari tidak memerlukan listrik, ekstra hemat energi, ramah lingkungan, penggunaannya mudah, efisiensi, kinerja stabil, dan dapat digunakan dalam jangka waktu lama. Penelitian bertujuan untuk mendesain SI-PTS yang hemat air dan energi serta menghitung efisiensi irigasi SI-PTS dibandingkan dengan pompa sentrifugal/jetpump yang digunakan petani. Hasil analisis kadar air tanah menujukkan bahwa penggunaan SI-PTS dengan teknik irigasi impact sprinkler (irigasi rekomendasi) mempunyai kadar air tanah relatif lebih tinggi dibandingkan dengan irigasi pola petani. Hal ini mengindikasikan bahwa irigasi rekomendasi relatif lebih efektif dalam mendisitribusikan air baik secara horizontal (sekeliling pertanaman) dan vertikal (ke lapisan perakaran tanaman). Pertumbuhan tanaman bawang merah yang direpresentasikan melalui tinggi tanaman menunjukkan bahwa perlakuan irigasi rekomendasi mempunyai rata-rata tinggi tanaman lebih tinggi dari perlakuan irigasi pola petani. Adapun bobot bawang merah total pada irigasi rekomendasi lebih berat bila dibandingkan dengan pola petani. Selain itu penggunaan SI-PTS dapat menghemat konsumsi BBM dari 162,5 liter menjadi 58 liter dan biaya pembelian BBM dari Rp. 1.202.000,- menjadi Rp. 425.500 per hektar per musim, sehingga terjadi penghematan 183%. Lebih lanjut penggunaan SI-PTS dapat menekan emisi GRK yang bersumber dari penggunaan bahan hidrokarbon dari 0,409 ton CO2 menjadi 0,146 ton CO2 sehingga lebih ramah lingkungan. Penelitian ini merekomendasikan untuk mengembangkan sistem irigasi pompa tenaga surya pada lahan kering terutama pada tanaman ke dua pada musim kering agar distribusi air dari sumbernya dapat dialirkan ke lahan sesuai kebutuhan tanaman dengan efektif, efisien, dan ramah lingkungan.Abstract. Refers to the limitation of water in upland agriculture, supplementary irrigation is required to utilize potential water resources in the area. Various technology can be utilized to lift water from the sources to agriculture land. For this purpose a solar water pump irrigation system (SI-PTS)has been developed for irrigation. The use of SI-PTS does not required electricity and other fuels. This system is also easy to operate, very efficient, stable performance, environmentally friendly, and can be used for long term. This research aims to design water and energy saving SI-PTS and to calculate the irrigation efficiency of SI-PTS compared to the use of centrifuge/jetpump currently used by farmers. Analyzed soil water content showed that the use of impact springkler irrigation technique (recommended irrigation) has increased soil water content compared to others using farmers irrigation system. This fact indicate that recommended irrigation is relatively effective in distributing water horizontally (around the crops), as well as vertically (down the crops) . The performance of shallot plants represented by crops height show that crops with recommended irrigation treatment are averagely taller compared to those using farmers irrigation system. Beside that, the use of SI-PTS has reduced the consumption of fuel from 162.5 liters to 58 liters which translates to the fuel cost reduction from IDR 1,202,000 to IDR 425,500 ha-1 season-1, or with the efficiency of about 183%. Furthermore, the use of SI-PTS has also supressed the GHG emission from 0.409 ton CO2 to0.146 ton CO2 from the use of hydro-carbon fuels, hence it is more environmentally friendly. This research recommends to develop solar water pump irrigation system on upland especially for the second crop of the dry season for the distribution of water from its source to the land effectively, efficiently, and environmentally friendly.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KEDELAI (GLYCINE MAX L.) PADA TYPIC KANHAPLUDULTS DENGAN APLIKASI PEMBENAH TANAH DAN PUPUK NPK Hartatik, Wiwik; Purwani, Jati
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v41n2.2017.123-134

Abstract

Abstrak: Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh beberapa jenis pembenah tanah dan pupuk NPK terhadap sifat tanah serta produktivitas tanaman kedelai. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terpisah (Split Plot), dengan 3 ulangan. Petak utama: A1= kapur pertanian 1,23 t ha-1, A2= kapur pertanian 200 kg ha-1, A3= kapur aktif 200 kg ha-1, A4= Biochar 2,5 ton ha-1, dan A5= senyawa humat 20 liter ha-1. Anak petak: B1 = kontrol, B2 = NPK, B3=3/4 NPK, dan B4 = 3/4 NPK + Tithoganic 2 ton ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kapur aktif tidak efektif dalam meningkatkan pH tanah dan bobot biji kering kedelai. Pemberian kapur pertanian dosis 1,23 t ha-1 (kejenuhan Al 20%) nyata meningkatkan pH, Ca-dd, KB dan menurunkan Al-dd selah panen serta meningkatkan bobot biji kering kedelai dari 0,5 menjadi 0,9 ton ha-1. Biochar nyata meningkatkan K-potensial, Mg dan K dapat ditukar tetapi tidak nyata meningkatkan bobot biji kering kedelai. Senyawa humat tidak nyata berpengaruh terhadap sifat kimia tanah dan bobot biji kering kedelai. Pemupukan ¾ NPK + Tithoganic 2 t ha-1 nyata meningkatkan hara P dan K potensial, Mg-dd, K-dd, serapan N, P dan K dan menurunkan Al-dd setelah panen, serta meningkatkan bobot biji kering kedelai sebesar 43% dibanding kontrol dan 24% dibandingkan ¾ NPK. Aplikasi pembenah tanah dan pemupukan pada kedelai meningkatkan aktivitas dehidrogenase tanah berkisar 10,39 ? 84,40 µg TPF g tanah-1 hari-1. Perlakuan pemupukan dengan dosis tinggi, memberikan aktivitas dehidrogenase lebih rendah dibandingkan dengan tanpa pupuk .  Peningkatan produktivitas kedelai pada Typic Kanhapludults, Lampung Timur memerlukan aplikasi kapur pertanian 1,23 t ha-1, Tithoganic 2 t ha-1 dan pupuk NPK (50 kg ha-1 Urea, 150 kg ha-1 SP-36 dan 100 kg ha-1 KCl).Abstract. The objectives of this study were to determine the effects of some soil ameliorant and NPK fertilizer on soil properties and soybean productivity. The experimental design was Split Plot, with three replications. As the main plots were A1: Lime 1.23 t ha-1, A2: Lime 200 kg ha-1, A3: Active lime 200 kg ha-1, A4: Biochar 2.5 ton ha-1 and A5: Humate compound 20 l ha-1. The subplots were B1: Control, B2: NPK; B3: ¾ NPK, and B4: ¾ NPK + Tithoganic 2.5 ton ha-1. The results showed that active lime dosage of 200 kg ha-1 is not effective to increase the soil pH and dry weight of soybeans. Lime dose of 1.23 t ha-1 (Al saturation 20%) significantly increased the pH, exchangeable Ca, base saturation, decreased exchangeable Al after harvest and increased the weight of dry grain of soybean from 0.5 to 0.9 t ha-1. Biochar significantly increased K-potential, exchangeable Mg and K, but did not significantly increase the dry weight of soybean. Humic compounds had no significant effect on soil chemical properties and dry weight of soybeans. Fertilization NPK + ¾ Tithoganic 2 t ha-1 significantly increased the potential of P and K, exchangeable Mg, exchangeable K, N, P and K uptake and lowered exchangeable Al after the soybean harvest and increased the dry weight of soybean as high as 43% compared to controls and 24% compared to ¾ NPK. Soil ameliorant and fertilization application on soybean increased the activity of dehydrogenase soil from 10.390 to 84.400 g TPF g soil-1 day-1 . Higher rate of fertilization treatment decreased dehydrogenase activity compared to the without fertilizer. Improvement of soybean productivity on Typic Kanhapludults at the Lampung Timur site needed applications of lime of 1.23 t ha-1, Tithoganic of 2 t ha-1 and NPK fertilizer (50 kg ha-1 Urea, 150 kg ha-1 SP-36 dan 100 kg ha-1 KCl). 
PEMUPUKAN K TANAMAN PADI GOGO PADA TANAH OKSISOL KANDIK DI LAMPUNG TENGAH (K FERTILIZATION FOR UPLAND RICE FOR A KANDIC OXISOL IN CENTRAL LAMPUNG) Sutriadi, Mas Teddy; Setyorini, Diah; Nursyamsi, Dedi
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v41n2.2017.91-100

Abstract

Abstrak. Penelitian kalibrasi uji tanah hara K tanah telah dilaksanakan pada tanah Typic Kandiudox di Kecamatan Wah Pangubuan, Lampung. Penelitian lapang menggunakan pendekatan lokasi tunggal dan terdiri atas 2 tahapan. Tahap pertama pada musim kering 2013 adalah membuat status hara buatan dengan pemberian pupuk K: 0 X (sangat rendah), ¼X (rendah), ½ X (sedang), ¾ X (tinggi), dan X (sangat tinggi), dimana X adalah jumlah K yang diperlukan untuk mencapai 0,3 cmolc kg-1. Tahap kedua pada musim hujan 2013/2014 adalah percobaan pempukan K di setiap status hara K yang dihasilkan dari tahap pertama dengan pemberian K: 0, 24, 96, dan 192 kg K ha-1 dari pupuk KCl dan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengekstrak Morgan-Wolf, Mechlich, dan NH4 pH 7 tidak sesuai untuk menduga kebutuhan K tanaman padi gogo pada tanah Typic Kandiudox, sedangkan pengekstrak Truogh, Colwell, Olsen, HCl 25%, dan NH4OAc pH 4,8 sesuai. Diantara semua pengekstrak tersebut, pengekstrak Truogh dan HCl 25% sebagai pengekstrak terbaik. Kelas ketersediaan hara K terekstrak Truogh dan HCl 25% adalah rendah, sedang, dan tinggi dengan nilai masing-masing untuk pengekstrak Truogh adalah < 5,5 ppm K2O, 5,5-15,5 ppm K2O, dan > 15,5 ppm K2O, sedangkan untuk HCl 25% adalah < 86 ppm K2O, 86-265 ppm K2O, dan > 265 ppm K2O. Rekomendasi pupuk K untuk padi gogo pada tanah Typic Kandiudox dengan kelas status hara rendah, sedang, dan tinggi berturut-turut adalah 74, 37, dan 0-15 kg K ha-1 atau setara dengan 125, 60, dan 0-25 kg KCl ha-1.Abstract. Calibration of K soil testing was conducted at Typic Kandiudox soil on Way Pangubuan, Lampung. Field experiment applied single location approach with two steps of activities. The first step was conducted on dry season 2013 was to make artificial soil K status by adding K: 0 X (very low), ¼ X (low), ½ X (medium), ¾ X (high), dan X (very high), where X was amount of K required to attain 0.3 cmolc kg-1. The second step, conducted in the following season (wet season 2013/2014), was K treatment in each artificial soil K status by using K fertilizer: 0, 24, 96, dan 192 kg K ha-1 from KCl with 3 replications. The result showed that Morgan-Wolf, Mechlich, and NH4OAc pH 7.0 did not suitable to determine K requirement for upland rice at Typic Kandiudox. Extraction of Truogh, Colwell, Olsen, HCl 25%, and NH4OAc pH 4,8 could be used to estimate K fertilizer requirement for upland rice. Among the extractions, Truogh and HCl 25% were the best. The level of soil K availability extracted using Truogh were classified into: low (< 5.5 ppm K2O), medium (5.5-15.5 ppm K2O), and high classes (> 15.5 ppm K2O), whereas soil K availability extracted using HCl 25% were into: low (< 86 ppm K2O), medium (86-265 ppm K2O), and high classes (> 265 ppm K2O). K fertilizer recommendation for upland rice on Typic Kandiudox with low, medium, and high soil K availability classes were 74, 37, and 0-15 kg K ha-1 or equal to 125, 60, and 0-25 kg KCl ha-1 respectively.
Plot Scale Nitrogen Balance of Newly Developed Lowland Rice at Kleseleon Village Malaka District, Nusa Tenggara Timur nFN Sukristiyonubowo; Sugeng Widodo; Kusumo Nugroho
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v41n2.2017.115-122

Abstract

 Abstract. Study on plot scale nitrogen balance of newly developed lowland rice was conducted in Kleseleon village, Malaka District, Nusa Tenggara Timur in 2014. The soil was classified as ustifluvent with ustic moisture regime. Five treatments were tested including T0: farmers practices, T1: NPKat recommendation rate + Rice straw compost, T2: NPKat recommendation rate + Smart + Rice straw compost, T3: ¾ NPKat recommendation rate + Smart + Rice straw compost and T4: NPKat recommendation rate + Smart + Rice straw compost, in which N, P  and K were split two times. Nitrogen balance was computed according to the differences between nitrogen gains and losses. To quantify total nitrogen input, nitrogen content in urea, dosage of urea, rate of compost, nitrogen concentration in compost, irrigation water supply, and nitrogen concentrations in rain water were collected. Output parameters included rice grains yield, rice straw production, nitrogen concentrations in rice grains and rice straw. The results indicated that surplus nitrogen balances were taken place in all treatments including the farmer practices. Concerning the environmental, agronomical and economic point of views, the recommendation of urea fertilizer rate at least was about 100 kg ha-1 season-1 like done in the farmer practices plus the compost rate about 3000 kg ha-1 season-1. Urea should be available in the district level every planting season was the urea application rate multiplied by total low land area in Malaka district equal to 1.207 tons district -1 season -1.Abstrak. Percobaan neraca hara nitrogen pada skala petak pada sawah bukaan baru dilaksanakan di Dusun Kleseleon, Kabupaten Malaka, Propinsi Nusa Tenggara Timur pada Tahun Anggaran 2014. Tanah yang digunakan termasuk golongan ustifluvent denga kelembaban tanah ustik. Lima teknologi yang menjanjikan diuji pada percobaan ini meliputi T0: Praktek Petani sebagai kontrol, T1: NPKpada dosis  rekomendasi + Kompos jerami, T2: NPKpada dosis  rekomendasi + Smart + Kompos jerami , T3: ¾ NPKpada dosis  rekomendasi rate + Smart + Kompost jerami dan T4: NPKpada dosis rekomendasi + Smart + Kompos jerami, dimana  N, P  dan K diberikan dua kali. Keseimbangan N dihitung berdasarkan berdasarkan selisih antara nitrogen yang masuk ke lahan sawah dengan nitrogen yang hilangdari lahan sawah . Untuk menghitung nitrogen yang masuk ke lahan sawah diperlukan kandungan N pada urea, dosis pupuk urea, kadar nitrogen dalam kompos,  takaran kompos, air irigasi dan kandungan nitrogen pada air irigasi dan air hujan. Sedangkan nitrogen yang hilang dari lahan sawah meliputi hasil gabah dan produksi jerami serta kadar nitrogen pada gabah dan jerami. Hasil penelitian menjukkan bahwa positif nitrogen balance pada semua perlakuan. Mengingat bahaya pencemaran lingkungan, keuntungan agronomik dan ekonomis yang didapat, pemberian Urea sebaiknya dikurangi dari  250 kg ha-1musim-1 menjadi 100 kg Urea kg ha-1musim-1 seperti pada praktek petani dengan memberi kompos jerami sebanyak 3000 kg ha-1musim-1. Dengan demikian urea yanbg harus tersedia di Kabupaten Malaka setiap musim tanam sebanyak dosis urea rekomendasi dikalikan dengan luas sawah di kabupaten Malaka sama dengan  1.207 ton kabupaten -1 musim-1.
LAHAN BEKAS TAMBANG TIMAH DI PULAU BANGKA DAN BELITUNG, INDONESIA DAN KESESUAIANNYA UNTUK KOMODITAS PERTANIAN (EX-MINING LAND IN BANGKA AND BELITUNG ISLANDS, INDONESIA AND THEIR SUITABILITY FOR AGRICULTURAL COMMODITIES) Sukarman, nFN; Gani, Rachmat Abdul
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v41n2.2017.101-114

Abstract

Abstrak: Penambangan timah di Indonesia pada umumnya dilakukan dengan sistem terbuka dengan mengeruk dan merusak tanah lapisan atas sehingga mempengaruhi kesesuaian lahan untuk pertanian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik tanah dan biofisik lahan di areal bekas tambang timah di Pulau Bangka dan Belitung serta menilai kesesuaiannya untuk tanaman pertanian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2016 dengan metode survei dan pemetaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan bekas tambang di kedua pulau tersebut seluas 125.875 ha. Telah terjadi perubahan bentang lahan, yaitu dengan terbentuknya kolong dan timbunan hasil galian. Timbunan galian dibagi menjadi: (1) Tanah galian bagian atas (tanah pucuk), merupakan campuran antara horison A, B dan horison C tanah asli, (2) Tanah galian bagian bawah berasal dari horison C tanah asli, (3) Tailing berupa pasir kuarsa dan sisa pencucian biji timah, dan (4) Campuran tailing dan galian bagian bawah. Tailing dicirikan oleh tekstur kasar dan kandungan hara yang sangat rendah. Tanah pucuk relatif lebih baik dicirikan oleh tekstur sedang sampai agak kasar, dan kandungan C-organik serta hara paling tinggi dibandingkan bagian lainnya. Logam berat yang ditemukan adalah Cu, Pb, Cd, dan Hg. Tanah galian bagian bawah mengandung logam berat paling tinggi, namun kandungan tersebut tergolong sangat rendah dan dalam batas yang aman. Sebagian besar lahan bekas tambang tergolong kelas N1 (tidak sesuai saat ini) karena lahan sudah mengalami degradasi berat. Masukan yang diberikan harus tinggi, agar tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh secara optimal.Abstract. Tin mining in Indonesia is generally done with an open system by dredging and damaging the topsoil, and hence it changes land suitability. The purpose of this research is to study soil and biophysical characteristics of land in ex-tin mining area in Bangka and Belitung Islands and assess its suitability for agricultural crops. The study was conducted from March to May 2016 with survey and land mapping methods. The results showed that the area of ex-mining land on both islands was 125,875 ha. There has been tremendous changes of the landscape, with the formation of small lakes (voids) and pile of excavation. Heaps of the excavation are: (1) Top soil containing the mixture of horizons A, B and C of the original soil, (2) The bottom part which was derived from C horizon of the original soil, (3) Tailings of quartz sand resulted from washing separating the sand and the ore, and (4) Mixture of tailings and bottom part of soil excavation. Tailing is poorest in fertility and characterized by coarse texture and very low nutrient content. The ?top soil? layer is relatively better and characterized by moderate to slightly coarse textures, and the highest in organic and nutrient content than other parts. The heavy metals found were Cu, Pb, Cd, and Hg. The bottom part of excavation contains the highest heavy metals, but the content was within the acceptable limits. Land suitability assessment shows that most of the ex-mining land is classified as N1 (Currently Not Suitable) because the land has experienced severe degradation. The input should be high, so that the cultivated plants can grow optimally.
Analisis Ketersediaan dan Kebutuhan Air Irigasi pada Lahan Sawah : Studi Kasus di Provinsi Sulawesi Selatan Nani Heryani; Budi Kartiwa; Adang Hamdani; Budi Rahayu
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v41n2.2017.135-148

Abstract

Abstrak. Data dan informasi sumber daya air dalam suatu kawasan dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan teknologi pengelolaan air yang tepat sehingga dapat menjamin keberlanjutan ketersediaan sumber daya airnya. Lebih lanjut teknologi pengelolaan air tersebut perlu diaplikasikan pada skala petani untuk menjawab permasalahan aktual di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Selatan pada bulan Januari sampai dengan Desember 2015. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui ketersediaan dan kecukupan air irigasi pada budi daya padi dan jagung di Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian dilaksanakan melalui beberapa tahapan yaitu: i) persiapan dan pengumpulan data pendukung, ii) survei dan pengumpulan data lapang, dan iii) analisis data dan pemetaan. Ketersediaan air irigasi diketahui melalui pemodelan hidrologi dengan model IFAS (Integrated Flood Analysis System), sedangkan kebutuhan air ditentukan berdasarkan kebutuhan air tanaman padi dan jagung pada satu siklus pertanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 4 golongan ketersediaan irigasi (1-4) dengan debit air antara 0,3->0,9 l/detik/ha, dan 4 indeks kecukupan irigasi yaitu A1 sampai A4, yaitu wilayah yang memiliki IP (indeks pertanaman) 300 berturut-turut padi-padi-padi; padi-padi-palawija; padi-palawija-palawija; dan palawija-palawija-palawija. Studi  kasus di 5 kabupaten yaitu: Gowa, Jeneponto, Kota Makasar, Maros dan Takalar menunjukkan bahwa di kelima kabupaten tersebut dengan 33 kecamatan memiliki indeks kecukupan irigasi A1 dengan pola tanam padi-padi-padi. Informasi neraca ketersediaan dan kecukupan air irigasi yang digambarkan dalam bentuk indeks kecukupan irigasi dapat digunakan sebagai dasar penentuan pola tanam dan sangat bermanfaat dalam pengelolaan sumber daya air untuk meningkatkan produktivitas lahan dan mendukung ketahanan pangan.Abstract. Water resources data and informations in the region can be used as a basis for determining the technology of water resources management to ensure the sustainability of water resource availability. That water management technology should be applied on farmer scale to address the actual problems in the field. The research was conducted on Januari-December 2015, and the aims of the research to determine the water availability and adequacy index of irrigation. in the Province of South Sulawesi. The research was conducted on: a) the preparation and collection of supported data, b) field surveys, and c) data analysis and mapping. Irrigation water availability was calculated by IFAS (Integrated Flood Analysis System) hydrological modeling. Water demand is determined based on crop water requirement of rice and corn in one cropping cycle. Result showed that South Sulawesi Province has 4 irrigation availability group with discharge 0,3->0,9 l/dt/ha, and 4 irrigation sufficiency indexs ( A1 until A4) namely the areas which have 300 cropping index:  rice-rice-rice; rice-rice-cash crop, rice- cash crop-cash crop; cash crop-cash crop–cash crop respectively.  Case studies of 5 districs: Gowa, Jeneponto, Kota Makassar, Maros and Takalar showed that in those districs which have 24 sub districs have irrigation sufficiency index of A1 with the planting pattern of rice-rice-rice. The informations of water availability and adequacy index as the basis for determining the cropping pattern is very helpful in water resources management to improve land productivity and support food security.
Ketersediaan Nitrogen dan Populasi Bakteri Tanah di bawah Pengaruh Pemupukan pada System of Rice Intensification (Nitrogen Availability and Soil Bacteria Population under Fertilization Treatments in the System of Rice Intensification) Nurul Istiqomah; Tanya Naomi Indarto; Virgus Amien Nugroho; Cahyo Prayogo
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v41n2.2017.81-90

Abstract

Abstrak. Sistem tanam SRI merupakan teknik untuk meningkatkan produktivitas padi dengan pengairan berselang . Kondisi aerobik menstimulasi aktivitas mikroorganisme di dalam tanah dan meningkatkan ketersediaan nutrisi terutama Nitrogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pupuk N, P dan K dan pupuk hayati pada sistem SRI terhadap status mineral N dan populasi bakteri tanah yang terlibat dalam dinamika Nitrogen. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2015 sampai dengan Maret 2016 di Kepanjen-Malang, Jawa Timur dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada 0 dan 100 Hari Setelah Tanam (HST) pada kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm. Parameter tanah yang terukur meliputi pH, organik-C, mineral N (NH4+ dan NO3-). Bakteri tanah diidentifikasi dengan metode lempeng hitung (spread plate) untuk memperkirakan populasi mereka. Analisis varian (ANOVA) digunakan dan diikutiuji Duncan pada tingkat 5% seiring dengan analisis korelasi dan regresi. Analisis Multivariat Canonical (CVA) digunakan untuk mengelompokkan perlakuan berdasarkan parameter yang terpilih. Sistem budidaya SRI dengan penggunaan pupuk hayati dapat meningkatkan kandungan NO3- dari 5,08 menjadi 62,5 mg kg-1 (ppm) dan populasi bakteri dari 4, 3 x 108 menjadi 10,55 x 109 cfu g-1, pada kedalaman tanah 0-20 cm. Pola yang sama juga terlihat pada kandungan NH4+ yang meningkat dari 3,78 menjadi 17,87 mg kg-1. Secara umum, konsentrasi N mineral pada kedalaman 0-20 cm lebih rendah daripada kedalaman 20-40 cm. Analisis CVA menunjukkan bahwa perlakuan tanpa aplikasi NPK dan tanpa biofertilizer terkelompokkan secara nyata, berbeda dengan perlakuan lainnya berdasarkan nilai pH tanah, organik-C, dan mineral N (NH4+ and NO3-). Perlakuan terbaik adalah kombinasi NPK (15-15-15) sebesar 300 kg ha-1, pemakaian Urea 100 kg ha-1 dan penggunaan pupuk hayati sebanyak 10 l ha-1 yang menghasilkan gabah sebanyak 8,42 t ha-1. Abstract. The obstacles that caused the declining of rice production is due to reduction on soil fertility status. Various efforts were made to increase the production such as intensification and expansion in rice farming system. SRI cropping systems is alternative technique for improving soil productivity following maintaining water uses under aerobic condition which exagerated the raising of microorganisms activities in soil and improving the availability of nutrients particularly nitrogen status. This study was aimed to examine the impact of SRI system on mineral N status along with population of soil bacteria which involving in nitrogen dynamic. The research was conducted in October 2015-March 2016 in Kepanjeng-Malang using Randomized Block Design with 4 treatments and 4 replicates. Soil sampling was conducted at 0 and 100 Day After Planting (DAP) collecting at a depth of 0-20 cm and 20-40 cm. Measured soil parameter  was including pH, organic-C, mineral N (NH4+ and NO3-). Soil bacteria is identified using plate count method (spread plate) for estimating their population. Analysis of Variance (ANOVA) was used followed by Duncan test at 5% level along with correlation and regression analisis. Multivariate Analysis (CVA) was employed for clustering the treatment based on selected parameters. The results showed that the SRI cultivation system can increase the mineral N at the level of 14.09 ppm compared to their initial value, amounting to 57.48 ppm of Nitrate and bacterial population at the level of 6.25 x 108 cfu g-1. The best tratment was found under the combination of NPK (15-15-15) and biofertilizer yielded at 8.42 t ha-1. Multivariate analysis results indicates that P0 treatment significantly different with treatment P1, P2, and P3. However, the treatment of P1 were not significantly different P3.
Cover JTI Vol.41 No.2 Desember 2017 Wahid Noegroho
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover depan dan belakang,Guidelines Penulisan Naskah
Dampak ENSO Terhadap Produksi dan Puncak Panen Durian di Indonesia (ENSO Impacts on Production and Peak Harvest Season of Durian in Indonesia) Yeli Sarvina; Kharmila Sari
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 41, No 2 (2017)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v41n2.2017.149-158

Abstract

Abstrak: Salah satu faktor yang mempengaruhi variabilitas iklim Indonesia adalah El-Nino southern oscillations (ENSO). ENSO memberikan dampak yang signifikan pada sektor pertanian. Selama ini kajian pengaruh ENSO terhadap produksi pertanian lebih banyak terfokus pada tanaman pangan sementara pada tanaman hortikultura masih terbatas. Penelitian ini mengidentifikasi pengaruh ENSO terhadap produksi dan dinamika puncak panen durian (Durio zibethinus Murr). Data yang digunakan dalam penelitin adalah data triwulan produksi durian periode 1990-2015 seluruh wilayah Indonesia sedangkan indeks yang digunakan untuk mengetahui fase ENSO adalah Oceanic Nino Index (ONI). Pendekatan yang digunakan untuk melihat pengaruh ENSO terhadap dinamika produksi dan puncak panen dalam penelitian ini adalah membandingkan produksi dan puncak panen pada ketiga fase ENSO. Tahun ENSO yang dipilih adalah tahun-tahun El-Niño/ La-Niña dengan intensitas moderat, kuat dan sangat kuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ENSO, El-Niño dan La-Niña menyebabkan penurunan produksi durian di hampir seluruh wilayah Indonesia. Penurunan produksi pada tahun La-Niña lebih signifikan dibandingkan El-Niño. ENSO juga menyebabkan pergeseran puncak panen durian. Pergeseran puncak panen baik maju atau mundur bervariasi antar wilayah sehingga belum terlihat jelas pola pergeserannya. Kalender budidaya durian yang selama ini dilakukan oleh petani, pada tahun El-Niño dan La-Niña perlu disesuiakan baik waktu maupun kegiatan budidayanya. Hal ini diperlukan untuk menstabilkan produksi pada tahun El-Niño dan La-Niña.Abstract. One of the factors influencing Indonesia's climate variability is El-Nino southern oscillations (ENSO). ENSO has a significant impact on agricultural production. ENSO studies in the past focused more on food crops than on horticultural crops. This study aimed to identify the influence of ENSO on durian (Durio zibethinus Murr) production and peak of harvest season. This study used quarterly production data from 1990-2015 for all provinces in Indonesia and The Oceanic Nino Index (ONI) data were used to determine ENSO Phase. The peak harvest season and production at three different ENSO phases were compared. The analysis showed that ENSO both El-Niño and La-Niña decreased durian production whereas the production decrease in La-Niña years was more significant than in El-Niño years. ENSO also shifted durian peak harvest season. The alteration of harvest season peak varied across provinces and its pattern is still unclear. The existing durian cultivation calendar needs to be adjusted to stabilize durian production during ENSO events.

Page 1 of 1 | Total Record : 9