cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 42, No 2 (2018)" : 8 Documents clear
MODEL HUBUNGAN FRAKSI P DENGAN SIFAT KIMIA TANAH SAWAH PADA TIGA KELOMPOK BAHAN INDUK BERBEDA DI JAWA BARAT Susanto, Bambang; Hartono, Arif; Anwar, Syaiful; Sutandi, Atang; Sabiham, Supiandi
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v42n2.2018.135-151

Abstract

Abstrak. Akumulasi P tanah sawah di Jawa Barat sudah sangat tinggi dan ini menyebabkan P tersedia yang dapat dimanfaatkan tanaman menjadi sedikit. Bahan induk (aluvium, sedimen dan volkan) berpengaruh terhadap dinamika, proses akumulasi, dan transformasi P di dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk fraksi P dan membuat model persamaan regresi untuk mengestimasi hubungan fraksi P dengan beberapa sifat kimia tanah. Metode penelitian yang digunakan yaitu survei lapang untuk pengambilan contoh tanah dan analisis tanah di laboratorium. Lokasi penelitian adalah tanah sawah di Jawa Barat. Pengambilan contoh tanah dilakukan secara komposit pada tiga garis transek dari utara ke selatan wilayah Jawa Barat pada 60 lokasi pada lapisan tanah 0-20 cm. Penetapan fraksi P tanah di laboratorium mengikuti prosedur fraksionasi secara sekuensial sesuai metode Tiessen dan Moir yang dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akumulasi P tanah sawah di Jawa Barat didominasi fraksi residual-P, NaOH-Po dan NaOH-Pi. Ketiga fraksi ini paling banyak ditemukan pada kelompok tanah sawah berbahan induk volkanik, kemudian sedimen dan terakhir aluvium. Ada tiga faktor utama yang berpengaruh terhadap distribusi fraksi P, yaitu: 1) Fe dan Al oksida, 2) C-organik dan kadar klei tanah, dan 3) basa-basa dapat ditukar, terutama Cadd. Model persamaan regresi yang cukup baik dalam mengestimasi fraksi P tanah sawah adalah model estimasi untuk fraksi NaOH-Pi dan NaOH-Po dengan nilai R2 > 0,4 pada taraf p < 0,05.Abstract. The accumulation of P in paddy fields of West Java is high, causing low available P for plants. The parent material (alluvium, sediment and volcanic materials) influences the dynamics, accumulation, and transformation of P in the soil. This study aims to determine the relationship of P fractions with selected soil chemical properties. The research method used was a field survey for soil sampling and soil analysis in the laboratory. The research location is paddy fields in West Java. Composite soil samples from 60 locations from three transects extending from north to south of the West Java where taken from a soil depth of 0-20 cm. Determination of soil P fraction follows the sequential fractionation procedure according to the modified Tiessen and Moir method. The results showed that the accumulation of P in paddy fields of West Java was dominated by residual-P, NaOH-Po and NaOH-Pi fractions. These three fractions are most commonly found in the group of volcanic parent materials, then followed by sedimentary and alluvium parent meterials. There were three main factors that influence the distribution of the P fraction, namely: 1) Fe and Al oxides both crystalline and amorphous, 2) organic C and soil clay content, and 3) base saturation especially excheABLE Ca. The regression equation models which are quite suitable for estimating the P fraction of paddy soil are the estimation models for NaOH-Pi and NaOH-Po fractions with R2 > 0.4 at p < 0.05.
Sifat Tanah pada Tegakan Vegetasi yang Berbeda di Kebun Raya Purwodadi Febrina Artauli Siahaan; Rony Irawanto; Apriyono Rahadiantoro; Ilham Kurnia Abiwijaya
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v42n2.2018.91-98

Abstract

Abstrak. Lapisan tanah bagian atas merupakan lapisan yang rentan mengalami perubahan. Tingginya keberagaman tumbuhan yang menanungi tanah di Kebun Purwodadi dapat menyebabkan perbedaan sifat fisika dan kimia tanah meski pada luasan dan landuse yang sama. Penelitan yang dilaksanakan pada tahun 2015 ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tegakan vegetasi terhadap sifat tanah lapisan atas Pemahaman tentang perbedaan sifat tanah dapat membantu untuk mengetahui pengelolaan tanah yang tepat. Metode pengambilan sampel tanah yang digunakan adalah purposive random sampling pada 27 plot dengan 3 ulangan. Sampel tanah diambil dari lapisan olah tanah dengan jeluk 0-20 cm. Setiap plot terdiri dari keluarga tumbuhan yang berbeda. Parameter yang diukur adalah Tekstur Tanah, pH Tanah, Kandungan Karbon Organik, Total N, P, K, Ca, Na, Mg, Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Kejenuhan Basa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plot Clusiaceae, Gymnospermae, Arboretum dan Mahoni merupakan tanah yang paling subur dilihat dari kandungan hara tanah. Nilai pH dan kejenuhan basa dipengaruhi oleh ground cover dan C-organik dipengaruhi oleh tutupan kanopi vegetasi atas. Kadar Ca, Na, Mg pada setiap plot bervariasi dari sangat rendah sampai yang sangat tinggi. KTK sebesar 22,38-44,18 me/100g sementara Kalium (K) pada menjadi faktor pembatas pada setiap plot karena kadar yang sangat rendah.Abstract. Topsoil is a susceptible layer that can easily change in its properties. The diversity of plants that shades the Purwodadi Garden’s soil can affect soil physical and chemical properties, even in the same area and landuse. The research carried out in 2015 aims to determine the effect of vegetation stand on the topsoil properties. Understanding the relationship between vegetation stands and soil properties is important in developing the proper soil management system. Soil sampling method used was purposive random sampling on 27 plots with 3 replications. Soil samples were taken from the top 0-20 cm of soils. Parameters measured were Soil Texture, Soil pH, organic carbon content, Total N, P, K, Ca, Na, Mg, Cation Exchange Capacity (CEC) and Base saturation. The results showed that the plots of Clusiaceae, Gymnosperms, Arboretum and Mahogany had the most fertile soils as shown by the nutrient content. Soil pH values and base saturations were affected by the ground cover, meanwhile soil organic C content is affected by the percentage of vegetation canopy. Total nitrogen content was 0.16 to 0.39% and phosphorus content was 2.26 to 13.80%. Ca, Na, Mg contents in each plot varied from very low to very high. The range of CEC values was 22.38-44.18 me/100g while the Potassium (K) was the limiting factor in each plot due to the very low content.
Pengaruh Pupuk Silika terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi Sawah pada Inceptisols I Gusti Made Subiksa
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v42n2.2018.153-160

Abstract

Abstrak. Pemupukan silikon (Si) pada lahan sawah di Indonesia tidak umum dilakukan mengingat pupuk ini belum dikenal luas. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman padi sangat memerlukan unsur Si untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan terhadap serangan hama penyakit. Penelitian pengaruh pupuk silika terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah telah dilakukan pada lahan sawah dengan jenis tanah Inceptisols di Serang, Provinsi Banten, Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas pupuk silika terhadap pertumbuhan dan produksi padi sawah serta menentukan dosis optimum pupuk silika. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan delapan perlakuan yaitu kontrol, NPK dan 6 tingkat dosis pupuk silika (SiO2) yaitu 147 kg ha-1, 294 kg ha-1, 441 kg ha-1 , 588 kg ha-1 , 735 kg ha-1 dan 882 kg ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan dengan pupuk mengandung silika meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan nyata yang ditandai dengan pertumbuhan tanaman lebih tinggi, anakan lebih banyak dan biomasa lebih banyak dibandingkan perlakuan NPK standar. Pemberian pupuk silika juga meningkatkan ketahanan terhadap rebah karena batangnya lebih kuat dan anakannya lebih banyak. Pemberian pupuk silika sebagai tambahan pupuk NPK juga meningkatkan produksi padi dengan nyata sebesar 117% dibandingkan kontrol dan 26,7% dibandingkan dengan perlakuan NPK standar. Dosis optimum pupuk silika yang direkomendasikan untuk padi sawah adalah 217 kg SiO2 ha-1 sedangkan dosis maksimum sekitar 320 kg SiO2 ha-1.Abstract. Silicon (Si) fertilization on lowland rice is not a common practice in Indonesia because this fertilizer is not yet widely known. Previous research results show that lowland rice needs Si as a nutrient to increase crop growth and resistance to pest and disease attacks. This research on the effect of silica fertilizer on the growth and yield of lowland rice was carried out on Inceptisols lowland rice fields in Serang, Banten Province, Indonesia. The objectives of this study was to determine the effect of silica fertilizer on the growth and production of paddy rice and determine the optimum dose of silica fertilizer. The study used a randomized block design with 8 treatments consisting of control, NPK fertilizers, and 6 levels of silica fertilizer namely 147 kg ha-1, 294 kg ha-1, 441 kg ha-1 , 588 kg ha-1 , 735 kg ha-1 dan 882 kg ha-1 . The results showed that silica fertilization significantly increased plant growth, as characterized by higher plant height, more tillers, and higher biomass compared to standard NPK treatments. The silica fertilizer application also increased the resistance of rice plant to lodging because the stem is stronger and has more tiller. The application of silica fertilizer in addition to NPK fertilizer also significantly increased rice yield by 117% compared to full control without fertilizer or 26.7% compared to the standard NPK treatment. The recommended optimum rate of silica fertilizer for lowland rice is 217 kg SiO2 ha-1 while the maximum dose is around 320 kg SiO2 ha-1
PELARUTAN 3 JENIS FOSFAT ALAM OLEH FUNGI PELARUT FOSFAT Flatian, Anggi Nico; Slamet, Sudono; Citraresmini, Ania
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v42n2.2018.83-90

Abstract

Abstrak. Fosfat alam dapat ditingkatkan kelarutannya melalui proses kimia dan menghasilkan pupuk P kimia mudah larut. Namun dalam proses pembuatannya memerlukan biaya dan jumlah bahan kimia yang relatif besar. Selain itu penggunaan pupuk kimia yang berlebihan juga dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Salah satu alternatif untuk meningkatkan kelarutan fosfat alam adalah menggunakan mikrob pelarut fosfat, termasuk golongan fungi yang dilaporkan memiliki kemampuan pelarutan P tinggi. Penelitian dilakukan dengan sasaran mendapatkan data hasil uji kemampuan 5 isolat fungi pelarut fosfat (FPF) dalam melarutkan P dari 3 jenis fosfat alam (fosfat alam Mesir, Yordania dan Maroko). Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk melihat dinamika P terlarut dan pH media selama pengujian. Hasil penelitian menunjukan bahwa isolat FPF yang diuji meningkatkan kelarutan fosfat alam secara signifikan. Kelarutan P maksimum pada pelarutan fosfat alam Mesir dicapai oleh isolat JK2 (211.8  µg P/ml), fosfat alam Yordania oleh JK1 (325.1 µg P/ml) dan fosfat alam Maroko oleh SS10.6 (118.7 µg P/ml). Besarnya pelarutan fosfat alam oleh FPF sangat dipengaruhi oleh nilai pH media yang dicapai. Kami mengamati bahwa terdapat korelasi negatif signifikan antara nilai P terlarut dengan nilai pH media. Semakin rendah nilai pH yang dicapai maka semakin tinggi nilai P terlarut di dalam media. Hasil penelitiaan juga menunjukan bahwa besarnya nilai P terlarut dan dan pH media berfluktuasi selama pengujian dengan pola fluktuasi yang berbeda antara masing-masing isolat.Abstract. The solubility of rock phosphates can be increased through chemical processes to produce soluble chemical P fertilizers. Howeever, this processes were costly and required chemicals in large quantities. In addition, Overuse of chemical fertilizers also caused environmental damage. One alternatif to increase the solubility of rock phosphate is to use Phosphate-solubilizing microbes, including  fungi group which have been reported  that have great abillity to solubilise P. Experiment conducted with the objective of obtaining the data result containing the ability of 5 isolates of phosphate-solubilizing fungi isolates in dissolving P from 3 types of rock phosphate (rock phosphate of Egypt, Jordan and Morocco). The dynamics of P solubilization and pH medium during eksperiment time were also observed. The results showed that the rock phosphate solubilization were significantly increased by the isolates tested. Maximum P-released from Egypt, Jordan and Marroco rock phosphates respectively were reached by JK2 (211.8  µg P/ml), JK1 (325.1 µg P/ml) and SS10.6 (118.7 µg P/ml).  The amount of soluble P was significantly effected by pH medium. Significant negative correlations were observed between the amount of P released with pH medium, which the higher drop in pH caused higher P released. The results also showed that the amount of soluble P and pH medium fluctuated during eksperiment time with different patterns between each isolate.
EFEK PERUBAHAN ZONA AGROKLIMAT KLASIFIKASI OLDEMAN 1910-1941 SAMPAI DENGAN 1985-2015 TERHADAP POLA TANAM PADI SUMATERA BARAT Saputra, Rizky Armei; Akhir, Nasrez; Yulianti, Via
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v42n2.2018.125-134

Abstract

Perubahan curah hujan telah menyebabkan perubahan zona klasifikasi agroklimat Oldeman serta berpengaruh terhadap pola tanam padi sawah tadah hujan di Provinsi Sumatera Barat yang merupakan salah satu sentra padi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daerah yang mengalami perubahan klasifikasi zona agroklimat Oldeman serta mengetahui kawasan sentra padi yang mengalami perubahan pola tanam dan memverifikasi kesesuaian pola tanam klasifikasi Oldeman dengan pola tanam aktual. Penelitian ini telah dilaksanakan di sentra padi Sumatera Barat. Data yang digunakan data klimatologis untuk menganalisis perubahan pola curah hujan 1910-1941 dan 1985-2015serta analisis perubahan zona agroklimat Oldeman. Penentuan pola tanam aktual dilakukan survei lapangan untuk memperoleh informasi perubahan pola tanam padi aktual. Hasil penelitian ini menunjukkan terjadi perubahan zona agroklimat Oldeman pada kawasan sentra padi Sumatera Barat di lima lokasi yaitu Luak Situjuh, Rao, Sijunjung, Sukarami dan Lima Kaum. Luak Situjuh dari tipe B1 menjadi E1, Rao dari D2 menjadi C1, Sijunjung dari C1 menjadi D1, Sukarami dari A1 menjadi B1 dan Lima Kaum dari E1 menjadi menjadi E3. Lokasi yang mengalami perubahan pola tanam padi pada sawah tadah hujan yaitu Luak Situjuh, Panti dan Lima Kaum. Hasil verifikasi pola tanam aktual yang sesuai dengan pola tanam klasifikasi Oldeman terdapat pada empat lokasi yaitu Lubuk Basung, Sungai Dareh, Muara labuh dan Sukarami. Produktivitas sawah tadah hujan yang mengalami perubahan pola tanam lebih rendah dari rata rata produktivitas Kabupaten.
Integrasi Prediksi Musim dengan Model Simulasi Tanaman untuk Penentuan Waktu Tanam Padi Elza Surmaini; Tri Wahyu Hadi; Kasdi Subagyono; M. Ridho Syahputra
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v42n2.2018.99-110

Abstract

Abstrak. Penyesuaian waktu tanam merupakan upaya dengan biaya yang paling efisien untuk meningkatkan produktivitas, menstabilkan, bahkan meningkatkan ketahanan pangan. Integrasi prediksi curah hujan musim dengan model simulasi tanaman dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi waktu tanam padi dengan hasil yang optimal. Dua tahap analog digunakan untuk memprediksi curah hujan harian untuk satu musim tanam. Analog tahap pertama untuk memprediksi curah hujan harian untuk 120 hari. Tahap kedua mencari satu analog terbaik prediksi sekuens curah hujan 120 hari. Basis data hasil tanaman padi periode 1982-2009 dengan interval harian dibangun menggunakan model simulasi tanaman. Rekomendasi waktu tanam ditentukan berdasarkan perubahan hasil dibandingkan dengan waktu tanam awal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediksi curah hujan musim dengan lead time 6-9 bulan menggunakan metode downscaling dengan dua tahap analog dapat memperpanjang lag prediksi 2 bulan sebelum tanam sehingga dapat digunakan untuk peringatan dini. Integrasi prediksi curah hujan musim dengan model simulasi tanaman dapat memberikan informasi selang waktu tanam yang berpotensi untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi. Prediksi waktu tanam dalam bentuk selang waktu diperlukan petani , karena berbagai faktor non teknis yang menyebabkan penanaman tidak dapat dilakukan pada rekomendasi waktu tertentu. Informasi tersebut dapat digunakan oleh pengambil kebijakan dan penyuluh untuk rekomendasi kepada petani tentang waktu tanam dengan hasil padi yang lebih tinggi.Abstract. Adapting planting time is a very cost-efficient way to increase crop productivity and stabilise or even increase food security. Linking seasonal rainfall prediction with crop simulation model is used to evaluate planting date with optimal rice yield. We used a two step analogue method. The first step is to predict 30 daily rainfall analogues for the next 120 days. The second step is to look for best analogue of 120 day rainfall prediction. Daily planting dates were simulated within 1982-2009 using crop simulation model. The second step is to determine the best analoque for the 120 day sequence. Planting time recommendation is adjusted using the difference between the earliest and later planting dates.The result concluded that 6-9 lead time seasonal rainfall prediction using two step analogue could increase lead time 2 months prior to planting time, therefore can be use for early warning. Linking season rainfall prediction with crop simulation model to adjust interval of planting time that provide higher rice yield. Farmers need that interval, due to non-technical factors are caused crop could not planted timely as recommended. In addition, the recommendation of planting time should be used by decision makers and extension workers to recommend appropriate planting time with higher yield to the farmers.
Perbaikan Stabilitas Agregat Tanah Pasir Berlempung Menggunakan Bakteri Pemantap Agregat dan Bahan Organik Diana Utama; Nuni Gofar; Adipati Napoleon
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v42n2.2018.161-167

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stabilitas agregat tanah dengan perlakuan berbagai isolat bakteri pemantap agregat (BPA) dan bahan organik berupa kompos yang terbuat dari campuran 90% rumput Cyperus pilosus Vahl dan 10% kotoran sapi, dengan masa inkubasi yang berbeda. Taraf perlakuan terdiri dari kontrol, kombinasi isolat I, II, dan III masing – masing dikombinasikan dengan komposisi bahan organik 0%, 0.5%, dan 1%. Hasil penelitian ini menunjukkan aplikasi isolat BPA pada tanah pasir berlempung disertai pemberian bahan organik menyebabkan populasi yang lebih tinggi dibandingkan tanpa aplikasi keduanya. Klebsiella sp. LW-13 yang dikombinasi dengan 1% bahan organik dan Bukholderia anthina MYSP113 yang dikombinasi dengan berbagai taraf bahan organik (0 hingga 1%) menyebabkan agregat menjadi sangat mantap sekali pada pengamatan 60 hari setelah aplikasi. Eksopolisakarida yang dihasilkan bakteri akan mengikat partikel tanah dan membentuk agregasi. Penggunaan bakteri Bukholderia anthina MYSP113 dinilai lebih efisien dalam pemanfaatannya untuk memantapkan agregat tanah karena memiliki kemampuan terbaik untuk memantapkan agregat tanah hingga sangat mantap sekali dengan atau tanpa penambahan bahan organik pada periode 60 hari pengamatan.Abstract. This study aimed to analyze the aggregate stability of soil with sdifferent treatments of aggregate-stabilizing bacteria and organic matter (compost made of mixture of 90% Cyperus pilosus Vahl grass biomass and 10% cattle manure) at different incubation period. Treatments consisted of control, combination of three different isolate with three different composition of organic matter (0%, 0.5%, and 1%). The results showed that the application of aggregate-stabilyzing bacteria to loamy sand soil and organic matter causes a higher bacteria population than without both applications. Klebsiella sp. LW-13 combined with 1% organic matter and Bukholderia anthina MYSP113 which was combined with various levels of organic matter (0 to 1%) showed high aggregation at observation of 60 days after application. The exopolysaccharide produced by bacteria binds soil particles and forms soil aggregation. The use of Bukholderia anthina MYSP113 bacteria is considered to be efficient in its utilization to stabilize soil aggregates because it has the best ability to stabilize soil aggregates to be highly stable with or without the addition of organic matter in the 60-day observation period. 
Tanah-tanah Dari Batuan Ultrabasik di Sulawesi: Kandungan Logam Berat dan Arahan Pengelolaan untuk Pertanian Erna Suryani; Sofyan Ritung
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v42n2.2018.111-124

Abstract

Abstrak.  Pemetaan tanah semidetail skala 1:50.000 mengidentifikasi sekurangnya 1.628.485 ha lahan di Sulawesi tanahnya berkembang dari batuan ultrabasik. Permasalahannya adalah tanah-tanah mengandung nikel (Ni) dan kromium (Cr) serta logam berat lainnya dalam konsentrasi tinggi. Kondisi ini dapat meracuni tanaman, yang pada akhirnya membahayakan kesehatan hewan dan manusia. Oleh karena itu sangat penting mengetahui kadar logam berat, terlebih potensi toksiknya terhadap tanaman, dan memberikan arahan pengelolaan untuk pertanian. Sebanyak enam profil terpilih yang berasal dari  Kolaka (Sulawesi Tenggara), Luwu Timur (Sulawesi Selatan) dan Morowali (Sulawesi Tengah) telah dideskripsi, dan 29 contoh tanah yang berasal dari 6 profil (HK-16, UY-16, SL-34, SL-09, RM-07 dan YY-09) telah dianalisis kandungan logam berat, mineralogi (komposisi mineral pasir dan liat), dan sifat kimia tanahnya. Hasil penelitian menunjukkan tanah yang berkembang dari batuan ultrabasik (peridotit dan serpentinit) telah mengalami pelapukan lanjut, ditunjukkan oleh warna tanah merah gelap/maron (hue 2.5YR -10R); mineral pasir didominasi oleh mineral resisten (opak, kuarsa, garnet, enstatit dan khlorit); mineral liat didominasi kaolinit dan goetit ditunjukkan pada puncak difraksi 7.3oA dan 4.15-4.16oA. Kesuburan tanah rendah sampai sangat rendah dicirikan oleh kandungan bahan organik, kadar P2O5 dan K2O potensial dan P-tersedia yang umumnya rendah sampai sangat rendah. Basa-basa dapat ditukar rendah, kecuali Mg2+. KTK-tanah dan KTK-liat rendah (< 16 cmol(+)/kg) sampai sangat rendah (< 5 cmol(+)kg-1). KTK-efektif (∑basa+Al-dd) > 1,5 cmol(+)/kg, kecuali profil YY-09 dan SL-34 mempunyai KTK efektif < 1,5 cmol(+)kg-1 mencirikan sifat acric. Konsentrasi Ni dan Cr sangat tinggi melebihi ambang batas yang ditetapkan (70 ppm untukNi dan 600-1000 ppm untuk Cr), masing-masing 670-1508 ppm dan 1230-1829 ppm.Konsentrasi boron (B) dan mangan (Mn) juga sangat tinggi, terutama pada profil SL-09. pH tanah 3,9-7,0 dan muatan koloid yang umumnya negatif, menyebabkan kelarutan Si lebih tinggi dari Cr, akibatnya kation-kation Ni terikat kuat pada permukaan partikel tanah, sehingga lebih mudah terserap dan dapat meracuni tanaman. Oleh karena itu saran pengelolaan tanah untuk menekan kelarutan Si adalah: 1) pemberian bahan organik, 2) pemberan kapur pertanian dalam bentuk CaCO3), dan 3) penanaman tanaman yang tidak dikonsumsi langsung, misal tanaman kehutanan.Abstract. Semidetail soil mapping on a scale of 1:50,000 identifies at least 1,628,485 ha of soil in Sulawesi developed from ultrabasic rocks. The problem is the soils contain high concentrations of nickel (Ni), chromium (Cr) and other heavy metals, lead to toxic conditions for plants, and finally endangers animal and human health. Therefore it is very important to know the levels of heavy metals, especially their toxic potential for plants, and provide proper management direction for agriculture. Six selected profiles from Kolaka (Southeast Sulawesi), East Luwu (South Sulawesi) and Morowali (Central Sulawesi) have been described, and 29 soil samples from 6 profiles (HK-16, UY-16, SL-34, SL-09, RM-07 and YY-09) have analyzed for the content of heavy metals, mineralogy (mineral composition of sand and clay), and the chemical properties of the soil. The results showed that the soil developed from ultrabasic rocks (peridotite and serpentinite) had undergone further weathering, indicated by dark red/maroon (hue 2.5YR -10R). Sand minerals are dominated by resistant minerals (opaque, quartz, garnet, enstatite and chlorite); clay minerals dominated by kaolinite and goethite are shown in 7.3oA diffraction peaks and 4.15-4.16oA. Low to very low soil fertility is characterized by organic matter content, potential P2O5 and K2O and P-available levels which are generally low to very low. Exchangeable bases are low, except Mg++. Soil-CEC and clay-CEC are low (<16 cmol (+)/kg) to very low (<5 cmol (+) kg-1). Effective CEC (sum of  base + exchangeable-Al)> 1.5 cmol (+)/kg, except the YY-09 and SL-34 profiles characterizing the acric properties which have effective-CEC <1.5 cmol (+)kg-1. Very high Ni and Cr concentrations exceeded the safety threshold (70 ppm for Ni and 600-1000 ppm for Cr), 670-1508 ppm and 1230-1829 ppm respectively. The concentration of boron (B) and manganese (Mn) is also very high , especially on the SL-09 profile. Soil pH is 3.9-7.0 and colloidal charges are generally negative, causing Si solubility to be higher than Cr, as a result Ni cations are strongly bound to the surface of soil particles, making them more easily absorbed and poison plants. Therefore, suggestions for soil management to suppress Si solubility are: 1) giving organic matter, 2) planting agricultural lime in the form of CaCO3), and 3) planting crops that are not consumed directly, e.g. forestry crops.

Page 1 of 1 | Total Record : 8