cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 44, No 1 (2020)" : 8 Documents clear
Formulasi dan Pola Kelarutan N Pupuk Urea-Zeolit Lepas Lambat Hartatik, Wiwik; Mardliyati, Eti; Wibowo, Heri; Sukarto, Agus; Yusron, Yusron
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n1.2020.61-70

Abstract

Abstrak. Upaya pengendalian pelepasan Urea secara perlahan dapat dilakukan dengan memformulasi pupuk Urea dengan Zeolit dan penyalutan Kitosan sehingga dapat menyediakan hara N secara lambat, dan meningkatkan efisiensi pemupukan, produktivitas tanah dan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah memformulasi dan mempelajari kelarutan N dari formula pupuk Urea dan Zeolit yang berukuran submikron dan yang disalut dengan Kitosan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah 1) Kontrol lengkap (tanpa pupuk), 2) Urea prill (pupuk standar), 3) Formula Urea + Zeolit, dan 4) Formula Urea + Zeolit + Kitosan. Pengamatan yang dilakukan yaitu kelarutan N-total, N-NH4 dan N-NO3 selama inkubasi 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula pupuk Urea + Zeolit dengan perbandingan 3:2 yang disalut Kitosan memberikan kelarutan N-total sebesar 25,43% pada inkubasi 12 minggu dibandingkan Urea prill sebesar 43,43%. Selama inkubasi perlakuan kontrol memberikan kelarutan N-total paling rendah, karena kadar N tanah awal rendah. Formula pupuk Urea + Zeolit yang disalut Kitosan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan melalui kelarutan N yang slow release sehingga mampu mengurangi penguapan dan pencucian pupuk Urea. Abstract. The efforts to slow down Urea release can be conducted by formulating of Urea and Zeolit, and followed by chitosan encapsulation. The formulation can release Nitrogen (N), increase the efficiency of fertilization, and increase soil and crop productivity. This research was aimed to formulate and evaluate the solubility of N from Urea and submicron-sized Zeolit followed by coating with chitosan. The experiment was conducted from April to December 2012 at the Laboratory with experimental design of completely randomized design with three replications. The treatments tested were 1) Complete control, 2) Prilled Urea, 3) Formula of Urea + Zeolit, and 4) Formula of Urea + Zeolit + chitosan. Observations included solubilities of total N, NH4-N, and NO3-N during the incubation of 2, 4, 6, 8, 10, and 12 weeks. The results showed that the formula of Urea + Zeolit fertilizer with the ratio of 3:2, encapsulated with chitosan gave a total N-solubility of 25.43% at 12 weeks incubation, which was significantly lower than that of prilled Urea of 43.43%. During the incubation, the control treatment gave the lowest total N-solubility, because of the low initial N soil content. The formula of Urea + Zeolit coated with chitosan can increase fertilizer efficiency through slow release N solubility so as to reduce volatilization and leaching of Urea fertilizer.
Pengaruh Pupuk Gambut terhadap Pelindian dan Serapan Logam Berat oleh Tanaman Jagung pada Tanah Gambut Subiksa, I Gusti Made; Purnomo, Joko; Suastika, I Wayan
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n1.2020.19-29

Abstract

Abstrak. Penelitian pelindian dan serapan logam berat oleh tanaman jagung yang dipupuk dengan pupuk gambut (Pugam) dilakukan dalam bentuk percobaan pot di rumah kaca. Penelitian bertujuan untuk menguji laju pelindian dan serapan logam berat oleh tanaman jagung yang dipupuk dengan Pugam pada tanah gambut. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 5 perlakuan yaitu kontrol, NPK konvensional, dan dosis Pugam 15 g pot-1, 30 g pot-1 dan 45 g pot-1 atau setara dengan 500 kg, 1000 kg dan 1500 kg ha-1. Jumlah logam berat yang terlindi dapat dideteksi dari konsentrasi logam pada air licit (leachate) yang diambil secara reguler dari dasar pot, sedangkan serapan logam berat diukur melalui analisis tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pugam mengandung sejumlah logam berat yaitu Cr, Pb, dan Cd dalam konsentrasi yang rendah, yaitu berturut-turut 96, 17,3, dan 1,6 mg kg-1. Sebagian dari logam berat tersebut terdeteksi pada air licit dari tanah gambut yang diberi perlakuan Pugam, namun konsentrasinya di bawah nilai ambang batas konsentrasi logam berat untuk tanaman pertanian seperti yang tercantum pada lampiran PP. 82/2001 tentang kualitas air. Logam berat Cr dan Cu cukup banyak terdeteksi pada pupuk Pugam, yaitu masing masing 96 mg kg-1 dan 1546 mg kg-1, tetapi tidak terdeteksi pada air licit,  karena kedua logam berat ini memiliki afinitas yang tinggi untuk berikatan dengan ligan organik. Logam berat Pb, As, Se dan Zn mengalami pelindian yang terdeteksi melalui air licit, tetapi konsentrasinya  berada di bawah nilai ambang batas kualitas air (PP No. 82/2001) dan tidak berkorelasi dengan perlakuan pupuk Pugam. Bobot masa akar dan biomas pada perlakuan Pugam 500 kg ha-1 meningkat masing-masing 58 kali dan 45 kali lipat dibandingkan dengan perlakuan NPK karena Pugam bila larut melepaskan kation polivalen yang mampu menetralisir asam fenolat yang beracun bagi tanaman.  Perlakuan Pugam tidak meningkatkan konsentrasi dan serapan logam berat oleh tanaman jagung. Kisaran konsentrasi logam berat adalah (mg kg-1) 1,95 – 2,79 Pb; 0,2-0,3 As; 1,45 -2,83 Cr; 0,05 Co, sedangkan Cd, Hg dan Ni tidak terdeteksi. Semua kisaran konsentrasi logam berat tersebut jauh di bawah nilai ambang batas konsentrasi yang membahayakan. Abstract. Research on heavy metal leaching and uptake by maize fertilized with “peat fertilizer”  (Pugam) on peat soil was carried out in a greenhouse. The objectives of this research were to evaluate heavy metal leaching and uptake by maize due to Pugam fertilization. The study used a randomized block design with 5 treatments namely control, conventional NPK, and 3 rates of Pugam, i.e. 15, 30, and 45 g pot-1 or equivalent to 500, 1000, and 1500 kg ha-1. The leached heavy metals were detected from the concentrations in the leachate taken regularly from the bottom of the pots, while the uptake of metals by plant were measured by plant sample analysis. The results showed that Pugam contained a number of heavy metals namely Cr, Pb, and Cd in low concentrations, namely 96, 17.3, and 1.6 mg kg-1, respectively.  Some of the heavy metals were detected in the leachate of peat soil treated with Pugam, but the concentrations were below the threshold values of heavy metal concentrations for crops as listed in the attachment of the government regulation (PP. 82/2001) concerning  water quality. Cr and Cu were detected in quite high concentrations in Pugam namely 96 and 1546 mg kg-1 respectively, but they were not detected in the leachate because both metals tend to make a strong bound with organic ligand. Heavy metals namely Pb, As, Se and Zn underwent leaching, but the concentration in leachate was below the threshold value and did not correspond to Pugam treatment. Roots and shoots biomass under 500 kg ha-1 Pugam increased 58 and 45 folds compared to NPK treatment because Pugam released polyvalent cations that neutralized phenolic acids which otherwise are toxic to plants. The Pugam treatment did not increase the concentration and uptake of heavy metals by maize. The range of  heavy metal concentrations were (mg kg-1) 1.95 - 2.79 Pb, 0.2-0.3 As, 1.45 -2.83 Cr, 0.05 Co, whereas Cd, Hg and Ni were not detected. All ranges of heavy metal concentrations were much lower than the hazardous concentration threshold values.  
Pengaruh Aplikasi Senyawa Humat dan Pupuk Kandang Ayam terhadap Pertumbuhan Bibit Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Putri Tunjung Sari; Ach. Fauzan Mas'udi; Josi Ali Arifandi
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n1.2020.71-79

Abstract

Abstrak. Proses pembibitan ubijalar haruslah didukung dengan ketersediaan hara yang cukup agar mampu meningkatkan produksi bibit yang berkualitas. Penambahan pupuk kandang ayam dan senyawa humat mampu meningkatkan kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi pupuk kandang ayam dan senyawa humat terhadap jumlah bibit ubi jalar dan kesuburan tanah. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor yaitu faktor pupuk kandang ayam dan faktor senyawa humat. Variabel pengamatan meliputi variabel kuantitas bibit dan variabel kesuburan tanah. Variabel kuantitas bibit adalah jumlah cabang dan jumlah bibit stek yang dihasilkan sedangkan variabel kesuburan tanah meliputi C-organik, N-total, P-tersedia dan K tersedia. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi pupuk kandang ayam dan senyawa humat berpengaruh terhadap peningkatan jumlah cabang, jumlah bibit stek yang dihasilkan, N-Total, P-tersedia dan K-tersedia yang terdapat di dalam tanah. Pemberian faktor tunggal pupuk kandang berpengaruh terhadap peningkatan C-organik tanah. Kombinasi terbaik dalam meningkatkan kualitas bibit dan kesuburan tanah yaitu A2P3 (senyawa humat 200 ml dan pupuk kandang ayam 60 gram/tanaman/5 kg tanah). Abstract. The sweet potato seedling process must be supported by the availability of sufficient nutrients to increase the number of quality seed. The addition of manure and humic substance can increase soil fertility. This study aims to determine the effect of manure and humic substance applications on the quantity of sweet potato seeds and quality of soil fertility. The study was conducted using a factorial randomized block design with two factors: manure and humic substance. The observation variables included seed quantity  and soil fertility. Seed quantity variable is the number of branches and number of cuttings produced while soil fertility variables include organic-C, total-N, available-P, and available- K. The results showed that the combination of manure and humic substance increased  the number of branches, the number of cuttings produced, total- N, available-P, and available-K contained in the soil. A single factor of manure influences increase  soil organic-C. The best combination for improving seed quality and soil fertility is A2P3 (200 ml humic substance and 60-gram manure/plant/5 kg of soil).
Hubungan Curah Hujan dengan Produktivitas Apel (Malus sylvestris Mill.) di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur Ninuk Herlina; Fahmi Amrulah
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n1.2020.11-18

Abstract

Abstrak. Iklim, terutama curah hujan, memberikan dampak yang cukup besar terhadap produktivitas apel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan curah hujan tahunan dan jumlah hari hujan dengan produktivitas apel di sentra produksi di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Penelitian  dilaksanakan di kecamatan Tutur, Tosari dan Puspo pada bulan Maret sampai Mei 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei untuk data curah hujan, jumlah hari hujan dan produktivitas apel tahun 2002-2017, serta data persepsi petani berdasarkan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan curah hujan tahunan berkorelasi negatif terhadap produktivitas apel sedangkan jumlah hari hujan tidak berkorelasi. Curah hujan berpengaruh lebih besar terhadap produktivitas apel dan ini kelihatannya terkait dengan serangan hama penyakit dan kelembaban tanah. Dengan demikian pola curah hujan dapat dijadikan dasar pengelolaan organisme pengganggu tanaman dan pengelolaan fisiologi tanaman seperti halnya pemangkasan. Abstract. Climate has a considerable impact on the productivity of apple. This research aimed to evaluate the correlation of annual rainfall and the number of rainy days with apple productivity in the production center of Pasuruan Regency, East Java. This research was conducted in Tutur, Tosari and Puspo sub-districts, Pasuruan Regency from March to May 2018. The research used survey method for obtaining rainfall, number of rainy days, and apple productivity data in 2002-2017, as well as farmer’s perception based on interview with farmers. The results showed that rainfall was negatively correlated with apple productivity while the number of rainy days was not correlated. Rainfall had a greater effect on apple productivity. The knowledge of rainfall pattern can be used as a basis of crop management including controlling of pests and diseases and crop physiological management such as pruning.
Microclimate Condition in the Natural Ventilated Greenhouse Vita Ayu Kusuma Dewi; Budi Indra Setiawan; Roh Santoso Budi Waspodo; Liyantono Liyantono
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n1.2020.31-36

Abstract

A Greenhouse has a different microclimate compared to the outside field. Climate parameters such as solar radiation and air temperature are important parameters that affect plant growth and productivity. This research aims to understand the relation of climate factors in the inside and outside Greenhouse, the effect of microclimate on evapotranspiration and to predict the amount og evapotranspiration inside the Greenhouse. Microclimate analysis was held in two stages, the firststage was from February 5 to March 21, 2018 and the second stage from March 19 to April 29, 2019 at the Department of Civil and Environmental Engineering, IPB University. Primary data was measured by the Decagon sensor. Solar radiation was collected using the Decagon PYR Pyranometer sensor and air temperature using the Decagon VP-4 sensor. Based on the result, the daily air temperature inside the Greenhouse was higher than that of the outside. The inside solar radiation was lower than that of outside the Greenhouse. The relative humidity fluctuated, and the air pressure was higher inside the Greenhouse. Evapotranspiration inside the Greenhouse was lower than outside and solar radiation was the most determining factor of evapotranspiration.
Karakteristasi Bakteri Asal Lahan Gambut Jambi dan Potensinya Sebagai Pupuk Hayati Pratiwi, Etty; Satwika, Taruna D.; Akhdiya, Alina; Agus, Fahmuddin
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n1.2020.1-10

Abstract

Abstak. Penggunaan pupuk hayati di Indonesia menunjukkan tren yang semakin meningkat.  Pupuk hayati mulai banyak diaplikasikan di lahan optimal maupun di lahan suboptimal, termasuk lahan rawa dan lahan gambut. Tanah gambut memiliki banyak kendala, diantaranya adalah pH yang sangat rendah, dan kandungan serta ketersediaan unsur hara yang sangat rendah. Selain itu lahan gambut pada musim penghujan akan terjadi penggenangan air, sedangkan pada musim kemarau akan terjadi kekeringan. Untuk mendapatkan mikroba yang mampu bertahan di lingkungan ekstrim seperti ini kami isolasi mikroba indigenous dari lahan gambut di Tanjung Jabung Timur, Jambi. Daya adaptasi dan daya kompetisi mikroba di lapangan, merupakan dasar pemilihan mikroba sebagai pupuk hayati. Hasil pengujian karakterisasi dan fungsional isolat-isolat bakteri asal tanah gambut perkebunan kelapa sawit menunjukkan isolat Bacillus cereus 1, Bacillus soli 2, Mycobacterium cubense 8, Rhodococcus equi 15, Bacillus pumilus 21 dan Nocardia jiangxiensis 24 memiliki potensi sebagai pupuk hayati pemacu tumbuh tanaman. Bakteri-bakteri ini tidak bersifat patogen terhadap tanaman dan hewan mamalia, mampu memproduksi fitohormon IAA, mampu melarutkan P dan memfiksasi nitrogen. Abstrac. The use of biofertilizers in Indonesia shows an increasing trend. Biofertilizer is widely applied in optimal or suboptimal land, including swamp lands and peatlands. Peat soils has many problems, including very low pH, and very low concentration and availability of nutrients. In addition, peatlands are prone to seasonal waterlogging and drought. To be able to utilize microbes that survive the extreme environments, we isolated indigenous microbes from peatland in Tanjung Jabung Timur, Jambi. The adaptability and survival of the microbes in the field conditions are the basis for choosing microbes as biofertilizer. Results of the characterization and functional isolates of bacteria from peat soils under oil palm plantations at the site show that isolates of Bacillus cereus 1, Bacillus soli 2, Mycobacterium cubense 8, Rhodococcus equi 15, Bacillus pumilus 21 and Nocardia jiangxiensis 24 had the potential as biofertilizers. These bacteria were not pathogenic to plants and mammals, could produce IAA phytohormones, and were able to solubilize P and fix nitrogen.
Pengaruh Abu Dasar (Bottom Ash) dan Kompos Kotoran Sapi terhadap Serapan Hara, Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi pada Lahan Sawah Bukaan Baru Nurmegawati Nurmegawati; Iskandar Iskandar; Sudarsono Sudarsono
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n1.2020.51-60

Abstract

Abstrak. Abu dasar merupakan salah satu bahan potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai amelioran untuk memperbaiki kualitas tanah masam. Selain memiliki pH tinggi, jumlah abu dasar melimpah dan belum dimanfaatkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh amelioran abu dasar dan kompos kotoran sapi terhadap serapan hara, pertumbuhan dan hasil tanaman padi pada lahan sawah bukaan baru yang sering mengalami masalah keracunan Fe dan Mn. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca pada Bulan Agustus 2017 sampai Februari 2018 bertempat di rumah kaca, Balai Penelitian Tanah Laladon Bogor dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah empat taraf dosis abu dasar dengan, yaitu 0,1; 2,5 dan 5 t ha-1. Faktor kedua adalah dosis kompos kotoran sapi, yaitu 0,5 dan 10 t ha-1. Contoh tanah yang digunakan untuk percobaan adalah tanah Oxisols lahan kering yang dikondisikan sebagai sawah bukaan baru. Tanaman indikator adalah padi varietas Inpari 33. Parameter yang diamati adalah sifat kimia tanah, kadar unsur hara dalam tanaman dan hasil tanaman. Hasil penelitian menunjukkan pemberian abu dasar hingga 5 t ha-1 dan kompos kotoran sapi hingga 10 t ha-1 tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan hara dan serapan hara N, P, K, Fe dan Mn tanaman. Pemberian abu dasar tidak berpengaruh terhadap hasil tanaman padi sedangkan pemberian kompos kotoran sapi 10 t ha-1 mampu meningkatkan berat gabah bernas dan berat kering jerami secara nyata dibanding pemberian kompos kotoran sapi 5 t ha-1. Abstract. Bottom ash is one of the potential materials that can be used as ameliorants to improve the quality of acidic mineral soils. Besides having high pH-value, bottom ash is also abundant in amount and is still untapped. The purpose of this study was to examine the effects of bottom ash and cow manure compost ameliorant on the nutrient uptake, growth and yield of rice plants in a newly open rice field which often shows problems with a high solubility of Fe and Mn. This study was conducted in August 2017 to February 2018 at a greenhouse of Soil Research Institute and was carried out using a completely randomized design (CRD) factorial pattern. The first factor was the dose of bottom ash (0.1, 2.5 and 5 t ha-1) and the second factor was the dose of cow manure compost (0.5 and 10 t ha-1). Each experiment was repeated three times that resulted in 36 experimental pots in total. The soil sample used in this experiment was an Oxisols which was  conditioned as a newly established rice field. The rice variety used was Inpari 33. The parameters observed were soil chemical properties, nutrient content in plants and crop yields. The results showed that bottom ash up to 5 t ha-1 and cow manure compost up to 10 t ha-1 had no significant effect on nutrient content and nutrient uptake of N, P, K, Fe and Mn of plants. Provision of bottom ash does not affect the production of rice plants while the provision of 10 t ha-1 cow manure compost can significantly increase the weight of rice grain and straw dry weight significantly compared to 5 t ha-1 cow manure compost.
Respon Varietas Padi Berpotensi Hasil Tinggi terhadap Pemupukan Nitrogen pada Inceptisols Bertekstur Ringan dan Berat Diah Setyorini; Ladiyani Retno Widowati; Antonius Kasno
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n1.2020.37-49

Abstract

AbstraK. Nitrogen adalah salah satu unsur hara makro esensial yang dibutuhkan untuk meningkatkan hasil tanaman padi sawah. Tanpa pemupukan N hasil padi sangat rendah dan relatif sama dengan hasil padi yang tidak dipupuk sama sekali. Penelitian bertujuan untuk menentukan dosis rekomendasi pupuk N untuk padi berpotensi hasil tinggi varietas Inpari 4, Mekongga dan hibrida H6444. Penelitian telah dilaksanakan di Inceptisols Plemahan yang bertekstur berat dan Inceptisols Gurah yang bertekstur ringan, di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga varietas padi sebagai petak utama dan dosis pupuk N sebagai anak petak, pada Musim Kemarau (MK) 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil gabah padi hibrida H6444 lebih tinggi sekitar 14-21% dibandingkan Inpari 4 dan Mekongga. Semakin tinggi dosis N, pertumbuhan dan hasil gabah semakin meningkat. Interaksi antara perlakuan varietas dan dosis N hanya terjadi pada parameter hasil gabah. Dosis maksimum pupuk Urea untuk padi sawah pada tanah bertekstur ringan di desa Gurah berturut-turut adalah 680 dan 715 kg ha-1 untuk Inpari 4 dan Mekongga serta 450 kg ha-1 untuk H6444. Pada tanah bertekstur berat di Plemahan adalah 580 dan 560 kg ha-1 berturut-turut untuk Inpari 4 dan Mekongga dan 350 kg ha-1 untuk H6444. Abstract. Nitrogen is one of macro essential nutrients needed to increase rice yield. In the absence of N fertilization, the rice yield is very low and similar to the rice yield with no fertilization. The objective of the study was to determine recommended dose of N fertilizer for high yielding rice varieties of Inpari 4, Mekongga and H6444 hybrid varieties. Research has been carried out in Inceptisols Plemahan Village with heavy soil texture and Inceptisols in Gurah Village, in Kediri District, East Java Province with light soil texture. The study used a split plot design consisted of three rice varieties as the main plot and six levels of N dose as subplots, in the dry season of 2012. The results showed that the growth and yield of H6444 hybrid variety were 14-21% higher than Inpari 4 and Mekongga. The higher the N dose, the higher were the rice growth and yield. The interaction between varieties and N level was observed in grain yields. The maximum doses of Urea fertilizer for lowland rice in light textured soils in Gurah were 680 and 715 kg ha-1 for Inpari 4 and Mekongga, respectively, and 450 kg ha-1 for H6444. For  heavy textured soils in Plemahan is 580 and 560 kg ha-1 for Inpari 4 and Mekongga, respectively, and 350 kg ha-1 for H6444.

Page 1 of 1 | Total Record : 8