cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 45, No 1 (2021)" : 8 Documents clear
Karakteristik Tanah Vulkanik di Kabupaten Wonosobo dan Pengelolaannya untuk Pertanian Rachmat Abdul Gani; Setiyo Purwanto; Sukarman Sukarman
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n1.2021.1-11

Abstract

Abstrak. Tanah vulkanik di daerah Kabupaten Wonosobo berkembang dari bahan abu dan pasir vulkan andesitis dan basalt. Jenis tanah di wilayah tersebut didominasi oleh Andosol. Pengkajian lanjut mengenai tanah-tanah vulkanik perlu dilakukan untuk memahami karakteristik, kesuburan, dan pengelolaannya untuk pertanian. Penelitian bertujuan mendapatkan informasi karakteristik morfologi dan kesuburan tanah. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi karakteristik kesuburan dan pengelolaan tanah di lahan pertanian dataran tinggi daerah vulkanik. Penelitian dilaksanakan sebagai bagian dari survei tanah untuk pemetaan semidetail pada tahun 2016 dan survei korelasi peta tanah semidetail tahun 2018. Dua puluh enam contoh tanah dari tujuh buah profil pewakil telah dideskripsikan morfologi tanahnya dan dianalisis kesuburan tanahnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah memiliki kedalaman dangkal, sedang, hingga dalam. Tekstur tanah agak kasar, sedang, dan agak halus dengan drainase tanah sedang hingga baik. Tingkat kesuburan tanah sedang dengan nilai kejenuhan basa bersifat rendah hingga tinggi, kapasitas tukar kation rendah hingga sedang, dan pH tanah bersifat agak masam hingga masam. Pemupukan P dan K serta penambahan bahan organik yang intensif pada lahan pertanian tanaman hortikultura menyebabkan tingginya kadar P dan K tersedia serta C-organik. Pemupukan P secara berimbang dengan hara lainnya dan penambahan bahan organik diperlukan pada lahan yang dimanfaatkan untuk pertanian hortikultura, baik yang memiliki kadar P tersedia tinggi terlebih pada lahan dengan kadar P tersedia rendah. Profil P-12 menunjukkan retensi P yang tinggi, sehingga memerlukan perhatian khusus untuk pengelolaan pupuk P. Penerapan pemupukan P dan penambahan bahan organik merupakan kunci pengelolaan lahan untuk tanah vulkanik di wilayah ini.Abstract. Volcanic soils in Wonosobo Regency were developed from andesite, basaltic, and volcanic sand materials. The land in the area is dominated by Andosol soil types. Further studies on volcanic soils are needed to understanding characteristics, fertility, and soil management for agricultural purposes. The aim of this research was to evaluate soil characteristics, morphology, physical, and chemical properties. The study was part of the semi detail soil map surveys in 2016 and the semi detail soil map correlation surveys in 2018. Twenty six soil samples from seven representative profiles have been characterized and sampled for soil analysis. The results found that soil in this region has shallow, moderate, and deep depths. Soil texture is slighty coarse, medium, and slighty fine with moderate to well soil drainage, moderate soil fertility levels with low to high base saturation, low to moderate cation exchange capacity, and slighty acidic to acidic soil pH. Fertilization of P and K and intensive addition of organic matter for horticultural crops seemd to have caused high levels of available P, available K, and organic C. Fertilization of P,  balanced with other nutrients, and addition of organic matter is required on land that is used for horticultural crops, both those with high available P levels, and especially those with low available P levels. Soil Profile 12 has a high P fixation, and hence need a special P fertilization treatment. The application of P fertilization and the addition of organic matter is the key to land management for volcanic soils in this region.
Perbaikan Sifat Tanah dan Hasil Kedelai (Glycine max) dengan Pemberian Amelioran Biochar dan Pupuk Kandang di Lahan Sawah Tadah Hujan Setiari Marwanto; Ratri Ariani; Umi Haryati; Irawan Irawan
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n1.2021.59-67

Abstract

Abstrak. Lahan sawah tadah hujan menjadi salah satu alternatif dalam budidaya kedelai, namun hasil kedelai pada lahan sawah tadah hujan relatif rendah, salah satu penyebabnya diperkirakan adalah rendahnya kesuburan tanah. Perbaikan produktivitas tanah dan tanaman dapat dilakukan dengan pemberian bahan amelioran, antara lain arang biomassa (biochar) dan pupuk kandang (Pukan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian amelioran biochar dan Pukan terhadap sifat fisikokimia tanah dan hasil kedelai di lahan sawah tadah hujan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur pada dua musim tanam, tahun 2018 dan 2019 dengan perlakuan berupa: pupuk dosis petani (P1); pupuk dosis rekomendasi (P2); P1 + Pukan 10 t ha-1 (P3); P1 + biochar 10 t ha-1 (P4); dan P1 + Pukan 5 t ha-1 + biochar 5 t ha-1 (P5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan biochar 10 t ha-1 dapat menurunkan bobot isi tanah, meningkatkan kandungan air tersedia, meningkatkan pH tanah, dan meningkatkan kandungan K dapat ditukar. Penambahan Pukan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sifat tanah, namun meningkatkan hasil kedelai. Penambahan biochar dan Pukan (P3, P4, P5) memberikan hasil biji dan brangkasan kedelai lebih tinggi 18-21% dibandingkan budidaya cara petani (P1). Hasil penelitian ini menegaskan kembali pentingnya penggunaan biochar dan Pukan dalam pengembangan komoditas kedelai di lahan sawah tadah hujan.Abstract. Rainfed paddy field is one of the alternative lands for soybean cultivation, but soybean yield is relatively low, seemingly due to low soil fertility. Soil and plant productivity could be improved by amelioration such as by using biochar and manure. This study aims to investigate the effetcs of biochar and manure on soil physicocemical characteristics and the yield of soybean in rainfed paddy field. This study was carried out in Tulungagung District, East Java Province, in two consecutive growing seasons of 2018 and 2019 with five treatments as follow: farmers’ fertilizer dosage (P1); recommended fertilizer dosage (P2); P1 + manure 10 t ha-1 (P3), P1 + biochar 10 t ha-1 (P4); and P1 + manure 5 t ha-1 + biochar 5 t ha-1 (P5). The results showed that the application of 10 t ha-1 biochar in association with farmer’s practice decreased soil bulk density, increased soil available water, increased pH, and increased exchangeable K. Manure application did not significantly improve soil properties, but increased soybean yield. Biochar and manure application (P3, P4, P5) increased grain and biomass yields of soybean 18-21% higher than those of farmers’ practice without soil ameliorant (P1). This study reemphasizes the importance of biochar and manure for soybeans production in rainfed paddy field.
Meningkatkan Kualitas Prediksi Curah Hujan Musiman saat Fase ENSO Menggunakan Metode Bayesian Model Averaging (BMA), Studi Kasus: Pulau Jawa Muharsyah, Robi; Ratri, Dian Nur
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n1.2021.13-25

Abstract

Abstrak. Ketika fase El Niño Southern Oscillation (ENSO), El Niño atau La Niña terjadi, Curah Hujan (CH) musiman di Pulau Jawa cenderung mengalami kondisi di Bawah Normal (BN) atau Atas Normal (AN). Oleh karena itu, prediksi CH musiman yang akurat menjadi sangat penting pada kedua fase tersebut. Model ECMWF System 4 (S4) adalah salah satu model prediksi musim yang dapat dipakai untuk menghasilkan prediksi probabilistik kejadian BN atau AN. Akan tetapi, kualitas dari keluaran langsung (RAW) model S4 masih buruk. Metode Bayesian Model Averaging (BMA) dipilih sebagai post-processing statistik untuk memperbaiki kualitas tersebut. Probability Density Function (PDF) prediktif BMA mampu menghasilkan prediksi deterministik dan probabilistik lebih akurat dari RAW model S4. Tingkat akurasi tersebut diketahui dari Root Mean Square Error (RMSE) dan Brier Score (BS) BMA lebih rendah dari RAW; RMSE Skill Score (RMSS), Brier Skill Score (BSS) dan Relative Operating Characteristic Skill Score (ROCSS) BMA lebih besar dari RAW, serta reliabilitas BMA menjadi kategori “sempurna” dan “sangat berguna” dari sebelumnya “tidak berguna” pada RAW model S4. Penerapan BMA mampu memperbaiki kualitas prediksi CH RAW model S4 sehingga prediksi CH musiman menjadi bermanfaat jika dipakai dalam pengambilan keputusan terkait kondisi iklim beberapa bulan ke depan, khususnya pada fase El Niño atau La Niña di Pulau Jawa.Abstract. When El Niño Southern Oscillation (ENSO), El Niño or La Niña phase is occurred, seasonal rainfall over Java Island tend to experience Below Normal (BN) or Above Normal (AN) conditions. Therefore, more accurate seasonal rainfall predictions are essential for both phases. The ECMWF System 4 (S4) is a seasonal prediction model which can be used to generate probabilistic predictions BN or AN event. However, the direct output (RAW) of S4 models such as rainfall prediction has poor quality. The Bayesian Model Averaging (BMA) is selected as one of the post-processing statistics to improve its quality. The predictive Probability Density Function (PDF) of BMA is able to produce deterministic and probabilistic prediction more accurately than RAW S4 models. The accuracy is known from Root Mean Square Error (RMSE), Brier Score (BS) BMA that is lower than RAW; RMSE Skill Score (RMSS), Brier Skill Score (BSS) and Relative Operating Characteristic Skill Score (ROCSS) BMA that is greater than RAW. Hence, the reliability of the BMA is changing to the “perfect” and “very useful” category from the previous “not useful” in RAW model S4. The implementation of BMA is able to improve the prediction quality of CH RAW model S4. As the result, seasonal rainfall prediction will be useful in making decisions related to climate conditions for the coming months, especially in the El Niño or La Niña phase over Java Island.
Penilaian Spasial Potensi Risiko Ekologis Logam Berat di Lapisan Olah Tanah Sawah DAS Serayu Hilir, Jawa Tengah Sukarjo, Sukarjo; Zulaehah, Ina; Harsanti, Elisabeth; Ardiwinata, Asep
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n1.2021.69-77

Abstract

Abstrak. Logam berat di DAS perlu diteliti untuk mengetahui tingkat cemarannya pada tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai tingkat kontaminasi logam berat di tanah sawah DAS Serayu Hilir. Penelitian dengan metode survey dilakukan dengan mengambil sampel tanah sawah pada kedalaman 0-20 cm. Distribusi lokasi sampel tanah dan risiko ekologis karena logam berat di lapisan atas tanah sawah DAS Serayu Hilir ditentukan secara grid. Sampel tanah dianalisis kandungan Pb, Cd, Co, Cr, Ni, Cu, Mn, Zn, As, dan Fe total dengan pelarut asam dan pengabuan basah. Analisis multivariat dan geostatistik dilakukan dengan menghitung indeks bahaya seperti geo-akumulasi, kontaminasi, beban polusi, dan risiko ekologis. Konsentrasi logam berat di lokasi penelitian adalah As < Cd< Zn< Cu< Cr< Co< Pb < Ni< Mn< Fe. Kontaminasi logam berat Pb, Cu, Ni, Cr, Fe, Co, Mn, As, dan Zn pada lapisan olah tanah sawah berasal dari kegiatan antropogenik, sedangkan kontaminasi As dan Cd disebabkan oleh sedimentasi geologis dan atmosfer. Tanah terkontaminasi tinggi (CF = 3-6) oleh Cd, dan terkontaminasi rendah (CF <1) oleh kontaminan Fe, Mn, Ni, Pb, Co, Cr, Cu, Zn, dan As. Potensi risiko ekologis termasuk kategori sedang pada logam kadmium, sedangkan logam lainnya tergolong rendah. Kontaminasi logam berat Cd dapat menimbulkan risiko ekologis dan keracunan manusia.Abstract. Heavy metal concentration in the watershed needs to be examined to determine the level of heavy metal contamination in soil. The study aimed to assess the level of heavy metal contamination in rice field at the Serayu Hilir watershed. Soil survey was conducted to collect soil samples from topsoil layer (0-20 cm). Distribution of soil sample location and ecological risk due to heavy metals at the top soils of the Serayu Hilir watershed were determined with grid bases. Soil samples were analyzed for total Pb, Cd, Co, Cr, Ni, Cu, Mn, Zn, As, and Fe with acid solvents and wet ashing methods. Multivariate and geostatistical analyses were conducted by calculating various hazardous indices such as geo-accumulation, contamination, pollution load, and ecological risk. Concentration of metals at the research site were in the order: As < Cd< Zn< Cu< Cr< Co< Pb < Ni< Mn< Fe. Contaminations of Pb, Cu, Ni, Cr, Fe, Co, Mn, As, and Zn were mainly derived from anthropogenic origins whereas, As, and Cd contaminations were mainly caused by geological and atmospheric precipitations. The soil was was highly contaminated (CF = 3-6) by  Cd, and lowly contaminated (CF <1) by Fe, Mn, Ni, Pb, Co, Cr, Cu, Zn, and As. The potential ecological risk is moderate for cadmium, while for other heavy metals are classified as low. Cd heavy metal contamination can raise ecological risks and human poisoning.
Penentuan Indeks Kesuburan Tanah di Sub DAS Dinoyo, Kabupaten Jember Romadhon, Muhammad Rizal; Hermiyanto, Bambang
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n1.2021.27-37

Abstract

Abstrak. Kurangnya informasi tentang kesuburan tanah suatu DAS menyebabkan penentuan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan tingkat kemampuan dan kesesuaian lahan. Penelitian ini bertujuan: (1) menentukan nilai dan kelas indeks kesuburan tanah di sub DAS Dinoyo Jember; (2) menentukan satuan peta lahan dengan kesuburan tanah tertinggi; (3) mengetahui urutan faktor penentu indeks kesuburan tanah dari yang berpengaruh hingga kurang berpengaruh. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2019 - Februari 2020. Penelitian berupa survey tanah dengan metode purposive sampling pada 18 satuan peta lahan (SPL), setiap SPL diambil tiga sampel tanah yang telah dikomposit. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada kedalaman 0-30 cm. Parameter yang diamati antara lain; KTK, C-Organik, N total, P tersedia, K dapat ditukar , Mg dapat ditukar, Ca dapat ditukar, dan Al dapat ditukar. Hasil analisis tanah digunakan untuk penilaian indeks kesuburan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks kesuburan tanah di sub DAS Dinoyo berkisar antara 130-170 yang dikategorikan dalam kelas agak rendah hingga sedang. Nilai indeks kesuburan tanah tertinggi (170) dengan kategori kelas sedang terdapat pada penggunaan lahan kebun dengan jenis tanah Latosol coklat kemerahan (Inceptisols) serta kemiringan lereng 25-40% (SPL 9) dan pada penggunaan lahan sawah dengan jenis tanah asosiasi Latosol coklat regosol kelabu (Inceptisols) serta kemiringan lereng 15-25% (SPL 14). Urutan faktor penentu indeks kesuburan tanah dari yang paling berpengaruh hingga kurang berpengaruh berturut-turut adalah kemiringan lereng, jenis tanah, dan penggunaan lahan.Abstract. The lack of information about soil fertility of a watershed leads to improper land uses that did not correspond to the capability and suitability of the lands. This research aimed to: (1) determine value and class of soil fertility index in sub watershed Dinoyo, Jember; (2) determine land map unit (LMU) with the highest soil fertility; (3)  find out the sequence of determining factors of soil fertility index from the more influential to less influential. This research was conducted in October 2019-February 2020. Research in the form of soil sampling with purposive sampling method on 18 LU, in each LU we took three composite soil samples. Soil sampling was carried out at a depth of 0-30 cm. The observed parameters included; CEC, Organic C, Total N, available P, exchangeable K, Mg, Ca, and Al exchangeable. The results of soil analysis were used to determined soil fertility index. The results showed that the value of soil fertility index in sub watershed Dinoyo ranged from 130-170 categorized in rather low to moderate grades. The highest soil fertility index value (170) with medium grade category is found in garden with reddish brown Latosol (Inceptisol) soil type and slope of 25-40% (LMU 9) and on field with association of Brown Latosol-Gray Regosol (Inceptisol) soil type and slope of 15-25% (LMU 14). The sequence of determining factors of soil fertility index from the most influential to less influential  were slope, soil type and land use.
Pengaruh Aplikasi Trichoderma spp. Indigenous terhadap Hasil Padi Varietas Junjuang Menggunakan System of Rice Intensification Elita, Nelson; Harmailis, Harmailis; Erlinda, Rita; Susila, Eka
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 1 (2021): (Akan Terbit Resmi pada Bulan Juli)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n1.2021.79-89

Abstract

Abstrak. Mikroba telah banyak digunakan untuk meningkatkan hasil padi dengan System of Rice Intensification (SRI). Namun peningkatan produksi padi SRI menggunakan jamur Trichoderma spp. indigenous belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh isolat jamur Trichoderma spp. indigenous yang diisolasi dari berbagai varietas padi terhadap peningkatan hasil padi varietas Junjuang dengan metode SRI. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan enam jenis isolat Trichoderma spp. indigenous, satu kontrol dan tiga ulangan. Perlakuan: T0 = Kontrol (tanpa isolat Trichoderma spp.), T1 sampai T6 berturut-turut adalah isolat jamur Trichoderma spp. indigenous, diekstrak dari rhizosfer padi varietas Kuning Kurik, Pandan Wangi, Junjuang, Silih Baganti, Ketan Merah, dan Sokan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi isolat jamur Trichoderma spp. indigenous nyata meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah anakan padi dibandingkan dengan kontrol. Aplikasi isolat Trichoderma spp. indigenous meningkatkan jumlah gabah per malai antara 52 sampai 110% dibandingkan T0 dan tertinggi pada T3. Persentase gabah hampa terrendah pada T3 (5%) dan tertinggi  pada T0 adalah (32%). Berat gabah kering per pot tertinggi pada T3 (98,2 g) dan nyata lebih tinggi dibandingkan pada T0 (58,4 g). Berat 1.000 biji tertinggi pada T3 (20,7 g) dan terendah pada T0 (17,9 g). Penelitian ini menyimpulkan bahwa isolat Trichoderma spp. indigenous dari rhizosfer varietas Junjuang (T3) memberikan pengaruh tertinggi terhadap peningkatan hasil padi varietas Junjuang dengan metode SRI. Terdapat kesesuaian isolat Trichoderma spp. indigenous dari rhizosfer varietas Junjuang dengan tanaman inangnya sehingga isolat tersebut meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.Abstract. Microbes has been widely used for increasing rice yield under the System of Rice Intensification (SRI). However, the increase in SRI rice yield using indigenous Trichoderma spp. fungus is not yet known. This study aimed to evaluate the effect of indigenous Trichoderma spp. isolated from the rizosphere of various rice varieties on the yield of Junjuang rice varieties under the SRI. This study used a completely randomized design with six types of indigenous Trichoderma spp. isolates, one control and three replications. Treatment: T0 = Control (without Trichoderma spp. isolate), T1 to T6 were indigenous Trichoderma spp. isolated from rice rhizosphere of varieties Yellow Kurik, Pandan Wangi, Junjuang, Silih Baganti, Red Sticky Rice, and Sokan, respectively. The results showed that the effects of indigenous Trichoderma spp. application on plant height and number of tillers were significantly higher than those of control. Application of indigenous Trichoderma spp. isolates increased the number of grain per panicle 52 to 110% compared to T0,  and the highest was at T3. The lowest percentage of empty unhulled rice was at T3 (5%) while that of T0 was 32%. The highest dry grain weight per pot at T3 was 98.2 g, and was significantly higher than that of  T0 (58.4 g). The highest weight of 1.000 seeds was at T3 (20.7 g) and the lowest was at T0 (17.9 g). This study concludes that indigenous Trichoderma spp. of the Junjuang (T3) variety rhizosphere gave the greatest effect on increasing the yield of Junjuang rice varieties under the SRI. There seems to be a suitability of indigenous Trichoderma spp. isolates extracted from the rhizosphere of the Junjuang rice variety with its host plant such that the isolate increased the crop growth and yield.
Media Cair Berbasis Molase untuk Meningkatkan Viabilitas dan Produksi Eksopolisakarida Azotobacter Reginawanti Hindersah; Etty Pratiwi
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n1.2021.39-46

Abstract

Abstrak. Inokulan bakteri pemfiksasi nitrogen (N2) Azotobacter umumnya diproduksi pada  media bebas N untuk mengoptimalkan fiksasi N2, padahal Azotobacter juga mensintesis eksopolisakarida (EPS) yang berperan sebagai amelioran tanah. Fiksasi nitrogen dihambat oleh N anorganik sedangkan produksi EPS memerlukan N anorganik. Dengan demikian diperlukan komposisi media yang mendukung produksi EPS tetapi tetap menjaga aktivitas fiksasi N2. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan komposisi media cair Azotobacter berbasis molase yang diperkaya dengan asam amino sisteina dan serina untuk menghasilkan sel, EPS, dan N tersedia dengan konsentrasi yang sama dengan media anorganik. Optimasi media dilakukan pada fermentor 2 L pada suhu kamar dengan pengadukan 115 rpm selama 7 hari, kemudian inokulan cair disimpan selama dua bulan pada suhu kamar. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pada hari ke-7, media molase 1% + NH4Cl 0,05% dengan maupun tanpa asam amino menurunkan populasi bakteri dibandingkan dengan media anorganik. Namun produksi EPS di media molase dengan asam amino menyamai kadar EPS di media anorganik. Setelah dua bulan penyimpanan media cair berbasis molase dengan penambahan sisteina 0,25% dan serina 0,1%  meningkatkan populasi sel, serta kadar EPS dan N dibandingkan media anorganik, serta mempertahankan pH netral. Percobaan ini menjelaskan bahwa molase dengan NH4Cl yang diperkaya sisteina dan serina dapat digunakan untuk mengganti media anorganik untuk produksi  EPS oleh Azotobacter.Abstract. Inculants of nitrogen-fixing Azotobacter are generally produced on N-free media to optimize N fixation. Nonetheless Azotobacter synthesizes exopolysaccharide (EPS) that has a function as soil ameliorant. Nitrogen fixation was carried out in the absence of inorganic N while EPS production was induced by N. Therefore, another media composition is required to produce EPS while maintaining N fixation. The purpose of this study was to obtain the composition of molasses-based Azotobacter liquid media with the amino acid cysteine and serine additives to produce cells, EPS, and N with the same concentration as that in inorganic media. The media optimization was carried out on a 2 L fermentor at room temperature with stirring at 115 rpm for 7 days, then the liquid inoculant was stored for two months at room temperature. The results showed that on the 7th day, 1% molasses + 0,05% NH4Cl media with or without amino acids decreased the bacterial population compared to inorganic media. However, the production of EPS in molasses-based media with amino acids was comparable to that in inorganic media. After two-month storage, molasses-based liquid media with 0.25% cysteine and 0.1% serine increased the cell population, and levels of EPS and N compared to inorganic media; and maintain neutral acidity. This experiment suggested that molasses with NH4Clenriched with cysteine and serine can  replace  inorganic media for EPS production by Azotobacter.
Pemutakhiran Peta Sumberdaya Agroklimat Indonesia untuk Mendukung Perencanaan Pertanian Erni Susanti; Elza Surmaini; Aris Pramudia; Nani Heryani; Woro Estiningtyas; Suciantini Suciantini; Yayan Apriyana
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n1.2021.47-58

Abstract

Abstrak. Peta Sumberdaya Agroklimat yang dihasilkan dari analisis ini menyajikan klasifikasi iklim Indonesia yang merupakan pemutakhiran dari Atlas Sumber Daya Iklim Pertanian Indonesia tahun 2003. Kebaruan klasifikasi ini adalah periode data 1981-2010 (mengikuti periode normal Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika, disusun dari 4.032 stasiun hujan yang lolos kualiti kontrol data dan pendapat pakar, dianalisis dengan metode geostatistik terpilih, yaitu teknik interpolasi co-kriging dengan parameter pendukung ketinggian tempat. Klasifikasi Peta Sumberdaya Agroklimat didasarkan pada klasifikasi curah hujan tahunan, jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut sesuai kriteria Oldeman, serta ketinggian tempat untuk pilihan komoditas. Peta Sumberdaya Agroklimat Indonesia memberikan 18 Tipe Agroklimat dengan 3 tipe iklim (basah, sedang, kering), 3 kelas curah hujan, 3 kelas bulan basah bertutut-turut dan 3 bulan kering berturut-turut, dengan informasi potensi tanam dan alternatif pola tanam. Informasi potensi Indeks Pertanaman (IP) dan alternatif pola tanam dapat digunakan sebagai pedoman perencanaan tanam sehingga dapat memaksimalkan IP di suatu wilayah dan pemilihan komoditas yang sesuai.  Wilayah yang IP-nya dibawah potensi IP, dapat ditingkatkan IP-nya dengan memanfaatkan potensi air yang ada, sedangkan untuk wilayah yang IP nya ingin ditingkatkan tetapi potensi  IP nya tidak mendukung disarankan dapat menggunakan teknologi penyediaan air.Abstract. The Agro-climate Resource Map, resulted from this analysis, is a classification of Indonesia's climate which is a revised version of the Atlas of Indonesian Agricultural Climate Resources (2003). The novelty of this classification is the inclusion of 1981-2010 data period (following the normal MCGA period), compiled from 4.032 rainfall stations that passed the quality control data and expert judgement, analyzed by geostatistical method through co-kriging interpolation technique with the altitude used as a supporting parameter. The classification of the Agro-climate Resource Map is based on the classification of annual rainfall, the number of consecutive wet and dry months according to Oldeman's criteria, and altitude for the choice of commodities. The Agro-climate Resource Map provides 18 classifications of Agro-climate Types with 3 types of climates (wet, moderate, dry), 3 rainfall classes, 3 consecutive wet month classes and 3 consecutive dry months, with information on planting potential and alternative cropping patterns. Information on the potential for cropping index (IP) can be used as a guideline for planting planning so as to maximize the IP in an area. Areas whose IP is below the potential IP, their IP can be increased by utilizing the existing water potential, while for areas whose IP needs to be increased but is not supported by the IP potential, IP increase can be achieved by improving water availability through implementation of water engineering  technology.

Page 1 of 1 | Total Record : 8