cover
Contact Name
Jurnal Psikiatri Surabaya
Contact Email
jps@journal.unair.ac.id
Phone
+6281936840455
Journal Mail Official
jps@journal.unair.ac.id
Editorial Address
Departemen/Staf Medis Fungsional Ilmu Kedokteran Jiwa/ Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga - RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Jl. Mayjen. Prof. Dr. Moestopo 6–8 Surabaya 60286
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Psikiatri Surabaya (Surabaya Psychiatry Journal)
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 23552409     EISSN : 2716358X     DOI : http://dx.doi.org/10.20473/jps.v9i1.16026
Core Subject : Health,
Jurnal Psikiatri Surabaya (JPS) is a scientific publication every 6 months (semester). JPS accepts submissions in the form of original manuscripts, literature review, case reports, and editorials in Indonesian in the format of Enhanced Spelling or English in accordance with the scope of Psychology, Mental Health, and Psychology.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2017): Juni" : 5 Documents clear
Hubungan Antara Konflik Peran Ganda dengan Psychological Well-Being pada Dokter Perempuan Berkeluarga yang Menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Yanti Fitria; Nalini Muhdi
Jurnal Psikiatri Surabaya Vol. 6 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.484 KB) | DOI: 10.20473/jps.v6i1.19107

Abstract

Objektif :Residen perempuan berkeluargarentan mengalami konflik peran gandasebagai PPDS danibu, sehingga kesulitan mencapai psychological well-being (kesejahteraan psikologis) yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara konflik peran ganda dengan psychological wellbeing pada dokter perempuan berkeluarga yang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 di RSUDDr. Soetomo Surabaya, yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program pendidikan.Metode : Studi analitik observasional, cross-sectional. Sampel dari seluruh prodi PPDS-1 di RSUD dr. Soetomo Surabaya pada Oktober-November 2016. Total sampling, kriteria inklusi berupa PPDS-1 perempuan, tidak cuti, semester 3-5 di bagian, berstatus menikah dan mempunyai anak. Analisis data disajikan dalam tabel dan narasi.Hasil : 104 subyek penelitiandari 20 prodi. Terdapat hubungan bermakna antara konflik peran ganda dengan psychological well-being (p=<0,0001; r=-0,387), pada subskala penerimaan diri, relasi positif dan pengendalian lingkungan. Konflik yang bersumber dari pekerjaan, mempunyai hubungan bermakna dengan psychological well-being pada subskala time (waktu), strains (ketegangan) dan behavior (perilaku), sedangkan yang bersumber dari keluarga, hanya pada subskala strains (ketegangan).Simpulan : PPDS merupakan sumber konflik utama bagi residen perempuan berkeluarga, yang dapat menurunkan psychological well-being. Residen diharapkan meningkatkan kemampuan manajemen konflik. Kesiapan seluruh keluarga untuk menerima kondisi salah satu anggota keluarganya untuk menjadi PPDS harus diperhatikan.
Perselingkuhan dalam Sudut Pandang Psikiatri Menina Vilanova Syamsuri; Suksmi Yitnamurti
Jurnal Psikiatri Surabaya Vol. 6 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.658 KB) | DOI: 10.20473/jps.v6i1.19101

Abstract

Perselingkuhan adalah pelanggaran sebuah kepercayaan, pengkhianatan sebuah hubungan, pemutusan sebuah kesepakatan. Faktor penyebabnya meliputi masalah dalam pernikahan, tujuan dari perselingkuhan itu sendiri, psikodinamika pelaku, kepribadian pelaku, dan perilaku seksual pelaku. Faktor yang mempengaruhi terjadinya perselingkuhan antara lain gender, usia, pendidikan, pekerjaan, ekonomi, pandangan agama, budaya, dan lain-lain. Tipe perselingkuhan dapat berupa emosional, seksual dan campuran emosional dan seksual. Kontrol sosial akan berfungsi sebagai prevensi. Dampak perselingkuhan dalam bidang medis adalah penyebaran penyakit menular seksual seperti HIV, Herpes, Chlamydia dan Hepatitis serta adanya paternal discrepancy. Pada dampak psikologis akan mempengaruhi pelaku, pasangan bahkan anak. Hasil dari perselingkuhan akan berupa perceraian dan perbaikan keretakan (recovery).
Disfungsi Seksual Berhubungan dengan Keharmonisan Rumah Tangga pada Lansia Afrina Zulaikha; Marlina S. Mahajudin
Jurnal Psikiatri Surabaya Vol. 6 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.012 KB) | DOI: 10.20473/jps.v6i1.19104

Abstract

Peningkatan usia harapan hidup menyebabkan peningkatan jumlah lansia dengan segala permasalahannya. Perubahan bentuk tubuh, penurunan fungsi organ, gejala-gejala menopause, penyakit degeneratif dan lainnya menimbulkan stress tersendiri dan memerlukan adaptasi dan penanganan yang baik. Salah satu masalah utama yang dihadapi oleh pasangan lansia adalah disfungsi seksual akibat terjadinya perubahan dan penurunan fungsi organ seksual. Aktifitas seksual merupakan merupakan hal yang fundamental dalam membentuk kedekatan antara suami dan istri dan sangat erat kaitannya dengan kualitas dan stabilitas perkawinan. Berbagai perubahan yang dialami, disadari dan saling dimengerti diantara pasangan lansia dalam melewati fase-fase pernikahan akan menimbulkan suatu kepuasan yang holistik tidak hanya kepuasaan seksual. Namun hal ini juga dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan kebudayaan seseorang. Kelekatan, intimasi, aktifitas seksual, dan komunikasi yang baik menciptakan kualitas pernikahan yang baik Disfungsi seksual pada lansia tidak mempengaruhi keharmonisan rumah tangga karena proses adaptasi yang baik, kemampuan pemecahan masalah, intimasi dan kelekatan serta komunikasi yang baik. Disamping itu pada lansia juga telah terjadi pergeseran dari cinta eros menjadi agape, sehingga cinta eros yang dipengaruhi oleh struktur biologispun tertutupi oleh cinta filia dan agape yang akhirnya meningkatkan ketiga cinta tersebut. Pasangan lansia yang memiliki kendala dalam hal seksualitas dapat meminta bantuan kepada tenaga kesehatan profesional. Penanganan yang bisa diberikan berupa konseling dan edukasi, farmakoterapi, terapi non famakologi seperti terapi perilaku kognitif, terapi pasangan dan terapi seksual yang melibatkan pasangannya.
Couple Therapy pada Pasangan Infertil yang Melakukan In Vitro Fertilization (IVF) Dina Elizabeth Sinaga; Marlina Setiawati Mahajudin
Jurnal Psikiatri Surabaya Vol. 6 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.282 KB) | DOI: 10.20473/jps.v6i1.19105

Abstract

Infertilitas adalah suatu kondisi dimana perempuan dan laki-laki berhubungan seksual secara rutin minimal 1 tahun atau lebih tanpa menjadi hamil.Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai reaksi emosi yang dapat mempengaruhi hubungan suami istri.Ada beberapa penanganan yang dapat dilakukan, baik secara fisik maupun psikologis.Secara fisik dapat dilakukan In Vitro Fertilization (IVF).Prosedur IVF ternyata menimbulkan beban psikologis pada pasangan, sehingga diperlukan intervensi psikologis, yang salah satunya dengan couple therapy.Couple therapy bertujuan untuk membantu pasangan memperoleh pengertian yang lebih baik tentang diri mereka sendiri dan pasangannya, serta menolong pasangan untuk mengungkapkan reaksi emosi mereka dengan komunikasi yang baik dan penerimaan terhadap kondisi pasangannya.Ada beberapa pendekatan couple therapy yang dapat dilakukan, diantaranya Emotionally Focused Therapy (EFT) dan Solution Focused Therapy (SFT).Diharapkan dengan dilakukannya intervensi couple therapy sebelum, selama dan setelah prosedur IVF ini, dapat meningkatkan keberhasilan kehamilan sekaligus mencegah kekecewaan dan masalah psikologis akibat kegagalan prosedur IVF.
Intimacy dan Marital Satisfaction Pasangan Suami–Istri Pasien Kanker Serviks yang Belum Histerektomi : Suatu Studi Kualitatif Kamila Adam; Marlina Setiawati Mahajudin; dr. Suhatno
Jurnal Psikiatri Surabaya Vol. 6 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.014 KB) | DOI: 10.20473/jps.v6i1.19106

Abstract

Objektif : Penelitian ini mengamati intimacy dan kepuasan pernikahan pasien kanker serviks beserta suaminya untuk menekankan pentingnya perspektif psikososial pada pasien kanker. Metode : Observasional kualitatif, serial kasus, total dan purposive sampling pada pasien kanker serviks stadium 0 sampai 3 berusia 20-50 tahun dan belum diterapi. Dilakukan wawancara mendalam, penilaian dengan kuesioner skala Personal Assessment of Intimacy, adaptasi Revised Dyadic Adjustment Scale dan follow up 3-6 bulan. Sample dari Klinik Onkologi Kandungan RSUD Dr. Soetomo tahun 2016. Analisis data kualitatif disajikan dalam narasi dan tabel. Hasil : 5 pasangan subyek, usia 39 – 58 tahun. Satu pasien stadium 3B menyalahkan kanker sebagai penyebab ketidakpuasan pernikahannya. Disrupsi intimacy ditemukan pada 4 pasangan terutama aspek seksual dan rekreasional. Satu pasangan mampu mempertahankan wellbeing sebagai individu maupun pasangan meskipun aktivitas intim aspek tertentu berubah. Faktor-faktor lain yang didiskusikan mencakup aspek budaya, lingkungan, kepribadian, stigma serta persepsi akan kanker dan pernikahan.Simpulan : Intimacy yang dimaknai sebagai kedekatan, dalam perkembangannya selama menikah dapat makin memperkuat komitmen, mempengaruhi kepuasan serta pertahanan relasi terutama selama masa sulit,termasuk adanya kanker. Kualitas intimacy berperan pada manajemen stres diantaranya membantu kenyamanan pasien selama adaptasi. Kanker mempengaruhi pasien dan pasangan sehingga lebih baik dikelola sebagai "penyakit pasangan".

Page 1 of 1 | Total Record : 5