cover
Contact Name
Warseto Freddy Sihombing
Contact Email
asafremel@gmail.com
Phone
+62813-6174-2074
Journal Mail Official
asafremel@gmail.com
Editorial Address
Jalan Bunga Malem VI/ Jalan Jamin Ginting Km 13 Kelurahan Laucih Kecamatan Medan Tuntungan 20141
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Kerugma
ISSN : 27147592     EISSN : 27147592     DOI : -
KERUGMA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristien merupakan wadah publikasi hasil penelitian para dosen di lingkungan Sekolah Tinggi Tehologia Injili Indonesia, Medan, dan STT lain di seluruh nusantara. KERUGMA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Medan, dengan Focus dan Scope penelitian pada bidang: 1. Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Pastoral 4. Pendidikan Agama Kristen
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER" : 6 Documents clear
The Davidic Covenant and Messianic Hope: Exploring Divine Faithfulness in 2 Samuel 7:12-16 and Psalm 89:30-37 Laoly, Nepho
KERUGMA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : STT Injili Indonesia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2500/kerugma.v6i2.160

Abstract

Artikel ini mengkaji eksplorasi teologis dan eksegetis mengenai Perjanjian Daud sebagaimana dipaparkan dalam 2 Samuel 7:12-16 dan Mazmur 89:30-37. Perjanjian Daud menandai momen penting dalam Alkitab Ibrani, di mana Allah menjanjikan kerajaan kekal melalui garis keturunan Daud. Studi ini menyoroti bagaimana perjanjian ini mengubah konsep kerajaan di Israel dari institusi temporal menjadi peran ilahi dengan implikasi eskatologis. Dengan menganalisis istilah Ibrani kunci seperti kisse (takhta) dan zera (keturunan), tulisan ini memeriksa sifat kekal dari janji Allah dan harapan mesianik yang berakar pada garis keturunan Daud. Sifat tanpa syarat dari perjanjian ini mengungkapkan kasih setia (chesed) Allah dan kedaulatan-Nya yang melampaui kegagalan manusia. Selain itu, hubungan antara kasih karunia ilahi dan tanggung jawab manusia dikaji, memberikan wawasan mendalam tentang interaksi antara inisiatif ilahi dan kewajiban moral keturunan Daud. Studi ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang kesetiaan ilahi dalam Alkitab Ibrani, membentuk ekspektasi teologis Israel akan kedatangan seorang mesias yang akan menegakkan kerajaan kebenaran dan keadilan.
Rekulturisasi Empat Titik Forma dan Meaning pada Epistemik Suku Murba di Indonesia: Sebuah Pendekatan bagi Misi Kontekstual Belay, Yosep
KERUGMA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : STT Injili Indonesia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2500/kerugma.v6i2.162

Abstract

Upaya manusia memahami realitas dirinya, lingkungan dan Yang Ilahi menghadirkan semacam wawasan dunia sebagai panduan hidup. Usaha-usaha ini sudah hadir dalam pola kehidupan masyarakat primal melalui berbagai sumber yang dipercaya mampu memberikan tuntunan bagi dirinya. Secara khusus di Indonesia, pola pengetahuan masyarakat primal memiliki ciri yang hampir sama dimana bentuk pengetahuan mula-mula yang diklaim tersebut kemudian diwariskan dalam berbagai bentuk kepada komunitas suku sebagai panduan hidup. Tulisan ini bertujuan menganalisis pola pengetahuan masyarakat primal di Indonesia kemudian berusaha mengkonstruksikan pendekatan teologi dan misi kontekstual melalui pola pendekatan kritik rekulturisasi empat titik forma dan meaning untuk menemukan signifikansi yang dapat digunakan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dan studi komparasi. Adapun hasil yang ditemukan pada bagian titik temu dijumpai beberapa bagian dalam konten kultur yang dapat digunakan sebagai instrumen misi dan teologi kontekstual. Beberapa lainnya yang tidak memungkinkan untuk diakomodasikan, perlu dilakukan rekulturisasi pada forma dan meaning dengan tetap mempertahankan karakter dari kultur lokalnya. Kata Kunci: Konsep Pengetahuan, Suku Murba Indonesia, Teologi dan Misi Kontekstual.
Janganlah Padamkan Roh: Studi Eksegesis terhadap 1 Tesalonika 5:19 Simamora, Freddy
KERUGMA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : STT Injili Indonesia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2500/kerugma.v6i2.172

Abstract

This article aims to find out the original meaning of “ Do not quench the Spirit” (1 Thessalonians 5:19). The research applies the descriptive method by elaborating any literatures regarding this topic which could contribute the exegesis task. This research find out the result that the issue was interpreted in any different ways. “Do not quench the Sprit” must be viewed in the context of 1 Thessalonians 5:19-22. The main purpose of the advice is to help Thessalonian church to be not avoiding the manifestation of the spiritual gift such as mocking any prophecies, intead to to test them. By doing the test of any spritual gifts, the reader of Thessalonians could hold the good things, avoiding the wicked and persevering the the kindness. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan maksud asli dari teks 1 Tesalonika 5:19, “Janganlah memadamkan Roh.” Penelitian ini memakai metode deskriptif, artinya data-data dikumpulkan sebagai fakta-fakta yang benar dari sumber-sumber literatur yang dapat memberikan kontribusi dalam studi eksegesis atas teks yang diteliti. Hasil penelitian menemukan fakta bahwa ayat ini telah ditafsirkan secara beragam dalam sejarah umat percaya. Sikap dan tindakan “memadamkan Roh” harus dilihat dalam bingkai teks 1 Tesalonika 5:19-22. Maksud dari nasihat adalah agar jemaat Tesalonika tidak menghalangi manifestasi dan karunia-karunia Roh yaitu penolakan dengan sikap menghina akan nubuat-nubuat. Namun, setiap karunia-karunia Roh itu harus diuji karena sangat rentan untuk dipalsukan. Pengujian di sini akan menuntun pembaca surat Tesalonika agar memegang yang baik, menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan, dan giat melakukan hal-hal yang baik.
Studi Intertextuality (Kejadian 22:18 dan Galatia 3:8 Tentang Iman) Tarigan, Ertina
KERUGMA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : STT Injili Indonesia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2500/kerugma.v6i2.180

Abstract

Alkitab firman Allah yang hidup sebagai wahyu Tuhan kepada Abraham dab Israel, disebarkan kepada bangsa-bangsa mendengar janji yang Tuhan turunkan kepada bangsa Israel. Nenek moyang bangsa Israel, Abraham, disebut sebagai bapak orang percaya dan kisah hidupnya menjadi landasan awal pemberitaan firman Tuhan hingga perkembangannya di Galatia kata tersebut masih terus menjadi tokoh Abraham perantara kepada orang-orang Galatia. Sebagai penegasan Paulus kepada jemaat Galatia dalam surat Paulus kepada jemaah Galatia 3:8. Paulus jelas menunjukkan konteks argumentasinya orang-orang Galatia berdasarkan sejarah dalam konteks Kejadian 22:18 ditujukan kepada jemaat Galatia, tenang “dibenarkan oleh Allah karena kasih karunia-Nya dan ketaatan Abraham” disebut bapa orang percaya, dan kaum keturunanya. Abraham adalah bapa bagi bangsa-bangsa akan menerima janji-janji Allah, “Abraham” mempunyai perananan penting dalam sejarah, penemuan makna konteks pentateukh surat Galatia. 3:8 berdasarkan penegasan Intertextuality dalam konteks makna yang terkandung dalam surat Paulus kepada orang Yahudi dan bangsa lain berdasarkan ketentuan sejarah nenek moyang orang percaya, dituangkan melalui nenek moyang orang Yahudi. Mengetahui tokoh penting pada konteks kitab Perjanjian Lama, maka surat Paulus kepada jemaat di Galatia secara sistematis menjelaskan pandangan Paulus dalam melaksanakan ketaatan Abraham (Gal. 3:8) adalah sikap seseorang yang beriman kepada Tuhan, dan dibenarkan oleh iman kepada Tuhan. Paulus berpandangan tentang kehidupan Abraham konteks Kejadian 22:18, Abraham disebut bapaorang percaya menjadi keselamatan, menurut ketaatan ditunjukkan kepada pribadi yang benar, yaitu orang yang taat kepada Tuhan saat harus menghadapi tantangan sulit sekalipun, Abraham menuruti kehendak Tuhan dalam hidupnya bersama Tuhan, ujian yang lebih sulit dijelaskan dalam Kejadian 22 sebelum ayat 18 telah terlewati, disaat memerintahkan Abraham untuk mengambil Ishak, putra satu-satunya dikasihinya untuk mengorbankan Ishak, sebagai korban bakaran, konteks menunjukkan kesetian Abraham teruji ketika Ishak anaknya yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham dengan penantian panjang, namun dijanjikan seperti bintang di langit banyaknya.
Mesianik Markus: Analisis Naratif terhadap Pelayanan dan Kesengsaraan Yesus Lumban Raja, Bonar; Br Sinaga, Daniela Anggina
KERUGMA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : STT Injili Indonesia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2500/kerugma.v6i2.169

Abstract

Abstract: The Messianic concept of Jesus is a debatable issue. Some New Testament scholars have discussed on Messianic Mark in different perspectives. One of the classic thoughts was the Messianic secrect by Wrede. This article proposes a natrative approach on Jesus’s ministry and His death to view the Mesianic Mark. By using the narrative genre approach this article focuses on analising the teaching of Jesus, His miracle ministry and His suffering-death. Key words: Messianic, Ministry, Teaching, Miracle, Suffering, Death Abstrak: Konsep Mesianik Yesus adalah isu yang terus diperdebatkan. Beberapa sarjana Perjanjian Baru telah mendiskusikan Mesianik dalam Injil Markus dengan beragam perspektif. Salah satu pemikiran yang klasik yaitu mengenai Messianic secrect oleh Wrede. Artikel ini mengusulkan pendekatan naratif terhadap pelayanan dan kesengsaraan-kematian Yesus untuk melihat isu Mesias dalam Markus. Dengan menerapkan genre narasi, artikel ini fokus menganalisis pengajaran, mujizat dan kesengsaraan-kematian Yesus. Kata kunci: Mesianik, Pelayanan, Pengajaran, Mujizat, Kesengsaraan, Kematian
FILSAFAT KARAKTER KRISTEN: Diskursus Dialog Analogis dan Konfirmasi Biblika Paparang, Stenly Reinal
KERUGMA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : STT Injili Indonesia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2500/kerugma.v6i2.174

Abstract

Character is an important subject in discussions about faith, philosophy, and morals. Character itself occupies the space of human life which is realized in the form of humanity relations, moral ethics, and spirituality. The decline of character is a serious phenomenon and challenge in the Christian faith. In some cases, ministers of God fall into the sin of adultery, even displaying bad character in certain actions. It appears that faith and deeds are discrepant and discursive. This fact has created wounds of spirituality and trust in the church. Through a descriptive approach, this study aims to elaborate a Christian philosophy of character that presents an analogous dialogue of views on character in relation to morals, spirituality, and human relations, and states biblical confirmation. The results of this study show that: first, Christian character rests on the juxtaposition of the law of love introduced by God for His people; second, Christian character applies the principle of imitating Christ; and third, Christian character is bound to an eschatological portrait that becomes the foundation for looking forward to His return.

Page 1 of 1 | Total Record : 6