cover
Contact Name
Susanto Dwiraharjo
Contact Email
jurnalgraciadeo@gmail.com
Phone
+6282310002924
Journal Mail Official
jurnalgraciadeo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO
ISSN : 26556871     EISSN : 26556863     DOI : 10.46929
Jurnal Teologi Gracia Deo merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan bidang ilmu teologi dan Pendidikan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2655-6863 (online), ISSN: 2655-6871(print), diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Jakarta. Focus dan Scope dalam Jurnal ini adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Misiologi Kepemimpinan Kristen Pendidikan Kristiani
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2019): Januari 2019" : 6 Documents clear
The Implications of Matthew 15: 21-28 to Christian Teacher Multicultural Problems Esther Yunita Dewi
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 1, No 2 (2019): Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.871 KB) | DOI: 10.46929/graciadeo.v1i2.7

Abstract

The reality of the plurality of the Indonesian nation is the reason for the occurrence of multicultural problems in society, including in the educational environment, both occurring for teachers and students. The method used in this research is descriptive analysis method, research that tries to describe by interpreting the consequences that are happening. While the type of research used is qualitative by conducting literature studies, a study of biblical texts in Matthew 15: 21-28, and field studies. The results of the study are: first, the teacher needed to increase knowledge about multicultural and multicultural education. Second, developing creative attitudes in learning. Third, have an open attitude. Fourth, have an attitude of exemplary, and fifth have the attitude of seeing other people who are different from themselves as images of God.
Hambatan Guru dan Pelayanan Sekolah Minggu di Gereja Kristen Jawa Jebres Surakarta Tanto Kristiono; Deo Putra Perdana
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 1, No 2 (2019): Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.35 KB) | DOI: 10.46929/graciadeo.v1i2.9

Abstract

Children will later continue the baton of church service. They will be responsible for the condition of the church in the future. Sunday schools are present as church institutions to prepare them to become candidates for church leaders. The Church needs people who are willing to become Sunday school teachers. The fact is that it is not easy to become a Sunday school teacher, they must understand and learn about the various competencies that must be possessed to become a good teacher and servant of God. This study was conducted to obtain empirical evidence about the effect of teacher barriers on the motivation for Sunday school services in Jebres Javanese Christian Church Surakarta. The population in this study were GKJ Jebres Surakarta Sunday school teachers, totaling 20 people. In the study used data collection techniques that are considered suitable, namely questionnaire (questionnaire). In this study, the independent variables are barriers to Sunday school teachers, while the dependent variable is the motivation of Sunday school services at GKJ Jebres Surakarta. The collected data will be analyzed using correlation test and simple regression analysis at a significance level of 5%. The results showed that there was a very strong correlation between the obstacles of Sunday school teachers and the motivation of Sunday school services in Jebres Javanese Christian Church. The results also show that the constraints of Sunday school teachers have a significant effect on the motivation of Sunday school services in Jebres Javanese Christian Church. Abstrak Anak-anak nantinya akan meneruskan tongkat estafet pelayanan gereja. Merekalah yang akan bertanggung jawab dengan kondisi gereja di masa mendatang. Sekolah minggu hadir sebagai lembaga gereja guna mempersiapkan mereka untuk menjadi calon pemimpin gereja. Gereja membutuhkan orang-orang yang bersedia menjadi guru sekolah minggu. Faktanya tidak mudah untuk menjadi seorang guru sekolah minggu, mereka harus memahami dan belajar tentang berbagai kompetensi yang harus dimiliki untuk menjadi seorang guru sekaligus pelayan Tuhan yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh bukti empiris tentang pengaruh hambatan-hambatan guru terhadap motivasi pelayanan sekolah minggu di Gereja Kristen Jawa Jebres Surakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah guru-guru sekolah minggu GKJ Jebres Surakarta yang berjumlah 20 orang. Dalam penelitian digunakan tehnik pengumpulan data yang dianggap cocok, yakni angket (kuesioner). Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah hambatan-hambatan guru sekolah Minggu, sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah motivasi pelayanan sekolah Minggu di GKJ Jebres Surakarta. Data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan uji korelasi dan analisis regresi sederhana pada tingkat signifikansi sebesar 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat sekali antara hambatan-hambatan guru sekolah Minggu dengan motivasi pelayanan sekolah Minggu di Gereja Kristen Jawa Jebres. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hambatan-hambatan guru sekolah Minggu berpengaruh signifikan terhadap motivasi pelayanan sekolah Minggu di Gereja Kristen Jawa Jebres.
Trilogi Persaudaraan yang Rukun Menurut Mazmur 133: Sebuah Nasehat, Dasar, dan Berkat Bimo Setyo Utomo
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 1, No 2 (2019): Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.055 KB) | DOI: 10.46929/graciadeo.v1i2.15

Abstract

Psalm 133 is known as one of the 15 Songs of Ascents and specifically this Psalm teaches about the importance of living in a harmonious brotherhood for the people of Israel in the context of God's people. In essence, Psalm 133 contains a trilogy which are: advice, foundation, and blessing regarding harmonious brotherhood. There are two depictions used by the Psalmist in this section to teach about harmony; first oil for the ordination of Imam Aaron and second, the dew from Mount Hermon. These two things were formulated by the psalmist to teach also the purpose of harmony, that God's blessings could be poured out on His people. God's blessing can be in the form of success, well-being or the tranquility of life in a long period of time that will certainly benefit the lives of His people. Abstrak Mazmur 133 dikenal sebagai salah satu dari 15 nyanyian ziarah (Songs of Ascents) dan secara spesifik Mazmur ini mengajarkan pentingnya hidup dalam persaudaraan yang rukun bagi orang Israel dalam konteks umat Allah. Secara garis besar, Mazmur 133 memuat sebuah trilogi yakni sebuah nasehat, dasar, dan berkat mengenai persaudaraan yang rukun. Ada dua penggambaran yang dipakai oleh Pemazmur dalam bagian ini untuk mengajarkan tentang kerukunan, yaitu minyak untuk penahbisan Imam Harun dan juga embun dari Gunung Hermon. Dua hal ini dirumuskan oleh pemazmur untuk mengajarkan pula mengenai tujuan dari sebuah kerukunan, yakni supaya berkat Allah dapat dicurahkan kepada umat-Nya. Berkat Tuhan dapat berupa keberhasilan, kesejahteraan atau kesentosaan hidup dalam kurun waktu yang panjang yang pasti bermanfaat bagi kehidupan umat-Nya.
Pengaruh “Nota Probowinoto” Terhadap Perubahan Strategi Pekabaran Injil di Gereja-Gereja Kristen Jawa Santosa Budi Harjono
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 1, No 2 (2019): Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.269 KB) | DOI: 10.46929/graciadeo.v1i2.16

Abstract

Based on historical research, the emergence of the "Probowinoto Note" was mainly caused by political and economic factors, especially political factors that occurred around the 1950s. In those days, relations between the Indonesian government and the government of the Kingdom of the Netherlands experienced severe tension. Everywhere there was a rejection from the Indonesian side of the Dutch people. "Probowinoto Note" Reverend Basoeki Probowinoto delivered a new concept of cooperation in anticipation of when the Akkoord Regionaal really stopped. By using the descriptive method of history, it can be concluded that the effect of the "Probowinoto Note" on the change in the strategy of the Gospel Message in the GKJ is the use of Christian foundations or institutions established by the church as means for inter-denominational churches to ally, testify and serve the community, develop guidelines the implementation of the preaching gospel according to the conditions of the GKJ by involving lay people. Abstrak Berdasarkan pada penelitian sejarah munculnya “Nota Probowinoto” lebih banyak disebabkan oleh faktor politis dan ekonomis, terutama faktor politik yang terjadi di sekitar tahun 1950-an. Pada masa-masa itu, hubungan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Kerajaan Belanda mengalami ketegangan yang hebat. Di mana-mana terjadi penolakan dari pihak Indonesia atas orang-orang Belanda. “Nota Probowinoto” Pendeta Basoeki Probowinoto menyampaikan sebuah konsep kerja sama baru guna mengantisipasi apabila Regionaal Akkoord benar-benar berhenti. Dengan menggunakan metode deskriptif hisotris, maka dapat disimpulkan pengaruh “Nota Probowinoto” terhadap perubahan strategi Pekabaran Injil di GKJ adalah dipakainya yayasan atau lembaga-lembaga Kristen yang didirikan oleh gereja sebagai sarana bagi gereja-gereja lintas denominasi bersekutu, bersaksi dan melayani masyarakat, menyusun pedoman pelaksanaan pekabaran Injil yang disesuaikan dengan kondisi GKJ dengan melibatkan kaum awam.
Kajian Eksegetikal Amanat Agung menurut Matius 28:18-20 Susanto Dwiraharjo
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 1, No 2 (2019): Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.378 KB) | DOI: 10.46929/graciadeo.v1i2.8

Abstract

The Great Commission is an integral part of the life of believers. This is the message of Christ for all citizens of the kingdom of God. It is called the Great Commission that does not mean its position is more important than other parts of the Bible. But this has demands that every believer must do. On the other hand it can be confirmed that the Great Commission is nothing but the pulse of the believer. In Matthew 28: 18-20, discussions about the Great Commission can be divided into three main parts. These three parts stand to support one another, and refer to the central theme of the Great Commission. First, the Great Commission is based on the authority of the Father bestowed on Christ. Second, the Great Commission is a continuous activity that is always inherent in the lives of believers. When the Great Commission is sustained by the ability or inclusion of Christ. These three things are the essence or essence of the interpretation of the Great Commission in the daily life of believers. Abstrak Amanat Agung adalah bagian integral hidup orang percaya. Ini adalah amanat Kristus bagi semua warga kerajaan Allah. Disebut Amanat Agung itu bukan berarti kedudukannya lebin penting dari bagian lain di dalam Alkitab. Namun ini memiliki tuntutan yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Di sisi lain dapat dipertegas bahwa Amanat Agung tidak lain adalah denyut nadi orang percaya. Dalam Matius 28:18-20, pembahasan tentang Amanat Agung dapat dibagi ke dalam tiga bagian utama. Ketiga bagian ini berdiri untuk saling menopang satu dengan yang lain, dan mengacu pada tema sentral tentang Amanat Agung. Pertama, Amanat Agung itu didasarkan pada otoritas Bapa yang dilimpahkan kepada Kristus. Kedua, Amanat Agung itu merupakan aktivitas berkesinambungan yang selalu melekat dalam hidup orang percaya. Ketika Amanat Agung itu ditopang oleh abilitas atau penyertaan Kristus. Ketiga hal ini merupakan hakekat atau intisari dari intepretasi Amanat Agung dalam hidup harian orang percaya.
Prinsip-prinsip dalam Membangun Pernikahan Kristen yang Kuat Yakub Hendrawan Perangin Angin; Yonatan Alex Arifianto
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 1, No 2 (2019): Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v1i2.129

Abstract

Kompetensi utama yang harus dimiliki oleh suami istri dalam membangun pernikahan yang kokoh sangatlah berharga untuk itu setiap pasangan suami istri harus dipersiapkan sejak awal pernikahan agar terbangun pernikahan yang abadi. Pernikahan yang sehat dan bahagia merupakan impian dari setiap pasangan suami istri. Pernikahan yang dijalani dengan berhasil dapat memberikan gelora bagi suami dan istri dalam melalui dan mengatasi berbagai persoalan dan tekanan yang dihadapi dan semakin teguh dan kuat seiring usia pernikahannya. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dari berbagai jurnal dan buku yang ditulis oleh konselor dan pakar pembina pernikahan Kristen. Hasil dari penelitian ini ada 6 cara yang harus dibangun oleh pasangan suami istri yang merindukan pernikahan yang tangguh, yaitu: Pertama, Menjadikan Kristus Sebagai Pusat Kehidupan Pernikahan.  Kedua, Mengembangkan Keterampilan Pernikahan Melalui Kursus dan Sekolah Keluarga. Ketiga, Mengembangkan Kreativitas Dalam Mempertahankan Kemesraan Pernikahan. Keempat, Bersama Sengaja Bertumbuh Terus Menerus. Kelima, Berdoa Bersama Pasangan dan Saling Memperkaya. Keenam, Menjadi Penjaga Pernikahan Lainnya.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6