cover
Contact Name
Spektrum Sipil
Contact Email
spektrum_sipil@unram.ac.id
Phone
+62370-638436
Journal Mail Official
spektrum_sipil@unram.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram Jl. Majapahit No. 62 Mataram Nusa Tenggara Barat Kode Pos: 83125
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Spektrum Sipil
Published by Universitas Mataram
ISSN : 18584896     EISSN : 25812505     DOI : https://doi.org/10.29303/spektrum.v7i1
Core Subject : Engineering,
Spektrum Sipil merupakan Jurnal Teknik Sipil yang bertujuan menjadi wadah komunikasi ilmiah untuk menyebarluaskan informasi, hasil-hasil penelitian, hasil kajian pustaka dan teori, yang mencakup bidang Struktur, Transportasi, Hidro, Geoteknik, Manajemen Konstruksi, dan Lingkungan. Spektrum Sipil diterbitkan dua kali dalam setahun (Maret dan September), dipublikasikan secara online dan akses terbuka dengan Nomor Seri Standar Internasional elektronik e-ISSN 2581-2505.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 1 (2018): SPEKTRUM SIPIL" : 7 Documents clear
STRATEGI PERENCANAAN INFRASTRUKTUR MENUJU KOTA TANPA KUMUH (Studi Kasus: Program Kotaku 2019 Gerung Selatan Kabupaten Lombok Barat): Infrastructure Planning Strategy toward City Without Slums (Case Study: 2019 Kotaku Programme of South Gerung, West Lombok Regency) Kurniawan, Nanda; Murtiadi, Suryawan; Agustawijaya, Didi Supriyadi
Spektrum Sipil Vol 5 No 1 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerung Selatan ditetapkan sebagai kelurahan berdasarkan Perda Kabupaten Lombok Barat Nomor 2 Tahun 2012. Kelurahan ini terdiri atas Lingkungan Perigi, Tanjung Gunung, Dodokan, Menang dan Reyan. Luas wilayahnya 15 km2 dengan jumlah penduduk sebesar 12.563 jiwa dengan mayoritas profesi sebagai petani. Masalah yang muncul kemudian ketika Gerung Selatan masuk sebagai ibukota Kabupaten Lombok Barat adalah pesatnya pembangunan di wilayah tersebut. Kepadatan huniannya semakin tinggi yang berdampak pada berkurangnya ruang terbuka, keterbatasan lahan, sanitasi, persampahan dan ketersediaan air bersih. Selain masalah fisik, masalah non fisik seperti sosial dan ekonomipun terus bermunculan. Untuk menjaga kota tersebut sebagai ibukota Kabupaten Lombok Barat dibutuhkan strategi pembangunan dalam kawasan permukiman yang terencana, sistematis dan berkelanjutan. Penelitian ini difokuskan pada dua lingkungan yang dianggap kumuh yaitu Lingkungan Perigi dan Menang. Data primer pada penelitian ini diperoleh melalui pengamatan langsung ke lokasi untuk mendapatkan informasi dan permasalahan lapangan. Wawancara dilakukan dengan bentuk dan daftar pertanyaan serta penentuan jumlah dan kedudukan responden yang ditentukan berdasarkan kebutuhan. Data sekunder berupa peta RTRW Kabupaten Lombok Barat, data eksisting kawasan, Perda yang terkait dengan perumahan dan permukiman, dan data dari BPS yang berupa statistik kondisi dan penduduk setempat. Pengukuran kondisi lapangan menggunakan panduan Dirjen Cipta Karya (2015). Empat kategori kekumuhan ditetapkan dalam panduan ini yaitu: tidak kumuh (0%-24%), kumuh ringan (25%-50%), kumuh sedang (51%-75%) dan kumuh berat (76%-100%). Masing-masing kategori diberi penilaian berturut-turut 0, 1, 3, dan 5 untuk tidak kumuh, kumuh ringan, kumuh sedang dan kumuh berat. Kekumuhan ditentukan berdasarkan 7 (tujuh) faktor fisik yang meliputi kondisi rumah, jalan, air bersih, drainase, air limbah, persampahan dan proteksi kebakaran. Faktor non fisik berupa sosial dan ekonomi juga menjadi acuan dalam penilaian ini. Strategi penanganan kawasan kumuh dilakukan dengan metode analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan Lingkungan Perigi dan Menang mempunyai nilai masing-masing 56% dan 66% menunjukkan keduanya masuk kriteria kawasan kumuh sedang. Analisis SWOT menghasilkan pola penanganan berada pada kuadran II dengan koordinat SW=+1,57 dan OT=+4,33.Tiga strategi dirumuskan untuk diimplementasikan berturut-turut pada tahun 2017, 2018, dan bebas kumuh pada tahun 2019. Konsep terbaik penanganan kawasan ini adalah dengan mendukung dan mengikuti program Pemerintah Daerah untuk mengentaskan kawasan kumuh yang selaras dengan program (100-0-100) dari Pemerintah Pusat menuju Program Kotaku 2019. Penanganan dirumuskan meliputi program kependudukan, pengembangan perumahan dan permukiman, serta pengembangan sarana dan prasarana lingkungan. Kondisi prasarana dan sarana yang kurang memadai akan berdampak pada menurunnya fungsi‐fungsi lingkungan perumahan terutama menyangkut fungsi sosial dan ekonomi.
KAJIAN OPTIMALISASI DISTRIBUSI JARINGAN AIR BERSIH (STUDI KASUS PDAM DELTA TIRTA SIDOARJO UNIT IPA KRIAN): Study on Water Distribution Network Optimization (A Case Study in the Sidoarjo Drinking Water Company of the Subdistric of Krian) Ratnanik, Ratnanik; Triatmadja, Radianta; Kamulyan, Budi
Spektrum Sipil Vol 5 No 1 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v5i1.130

Abstract

Hasil simulasi WaterNet jaringan eksisting dengan aliran berubah diketahui bahwa kinerja sistem jaringan tidak optimal yaitu masih terdapat aliran laminer pada pipa sebanyak 26 pipa dan sisa tekanan pada simpul pelayanan rendah yaitu 9,88 mH2O, seperti pada lokasi desa Sirapan, Kemangsen dan Jagalan. Optimalisasi jaringan eksisting dilakukan dengan metode memperbesar pipa yang berdiameter kecil dari node sub Jagalan ke node pelanggan, dan membangun tangki baru serta menaikkan elevasi tangki pada daerah pelayanan Perumtas III dimana pompa 2(dua) beroperasi. Pompa 2 yang beroperasi pada daerah pelayanan Perumtas III diatur debit dan headnya sesuai dengan daya tampung tangki baru. Setelah diadakan optimalisasi hasilnya lebih baik apabila dibandingkan dengan kondisi eksisting karena adanya penghematan operasional pompa rata-rata selama 14 jam dibanding dengan kondisi eksisting waktu operasional pompa 24 jam. Tekanan sisa pada node setelah optimalisasi menjadi lebih baik karena terjadi peningkatan tekanan di semua node meskipun sedikit yaitu 11.53 mH2O.
APLIKASI BETON SCC (SELF COMPACTING CONCRETE) PADA SAMBUNGAN BALOK-KOLOM AKIBAT BEBAN VERTIKAL: Application of SCC Concrete (Self Compacting Concrete) on the Joint of Columns Cause of Vertical Loads Hamdani, Hafiz; Kencanawati, Ni Nyoman; Akmaluddin, Akmaluddin
Spektrum Sipil Vol 5 No 1 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SCC (Self Compacting Concrete) adalah beton yang mampu memadat sendiri dengan slump yang cukup tinggi. SCC mempunyai flowability yang tinggi sehingga mampu mengalir, memenuhi bekisting serta memadat dengan sendirinya. Kegagalan struktur yang pada umumnya terjadi pada sambungan balok-kolom terjadi akibat lemahnya kempuan menahan geser dan rendahnya daktilitas. Kesulitan campuran beton masuk ke bagian sambungan dengan sempurna mengisi jarak pembesian yang sempit, menjadi ide pokok pengaplikasian beton SCC pada sambungan balok-kolom dengan memanfaatkan flowability yang tinggi. Benda uji yang digunakan adalah beton silinder dengan dimensi diameter 15 cm; tinggi 30 cm dan beton sambungan balok-kolom berpenampang persegi dengan dimensi 20x20x125 cm untuk kolom; 20x25x100 cm untuk balok. Selain itu untuk tulangan tarik pada balok divariasikan menjadi 3 variasi penulangan, yaitu 2D13, 2D16 dan 4D16. Dengan nilai FAS 0,44 untuk beton SCC dan normal, dilakukan peninjauan terhadap kuat tekan; keseragaman beton; dan perilaku beton terhadap gaya vertikal pada sambungan balok-kolom. Pengujian yang digunakan adalah CTM (Compression Test Machine) pada beton silinder, uji hammer beton silinder dan beton sambungan balok-kolom yang dibagi menjadi beberapa segmen pengujian, serta uji struktur dengan alat bantu set frame yang dilengkapi dengan load cell untuk pemberian beban serta LVDT untuk merekam displacement yang terjadi pada balok saat diberikan beban maksimum. Dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan rasio kuat tekan beton normal pada nilai FAS yang sama lebih besar 21% dibandingkan dengan rasio kuat tekan beton SCC. Nilai pantul yang dihasilkan pada benda uji sambungan balok-kolom relatif sama di setiap segmen. Beton normal memiliki displacement yang lebih kecil dari beton SCC yang dapat dilihat dari nilai displacement beton normal yang lebih kecil dibandingkan dengan beton SCC (BKN 0.6; 47,42 < BKS 0.6; 70,54). Nilai regangan pada besar beban yang sama lebih besar dimiliki oleh beton SCC (BKN 0.6; 0,00139 < BKS 0.6; 0,00268), modulus elastisitas beton SCC lebih kecil dari beton normal (28066,37 Mpa < 29263,30 Mpa), sehingga beton SCC lebih mudah untuk mengalami perpanjangan atau perpendekan. Berdasarkan nilai regangan pada kedua jenis benda uji sambungan balok-kolom yang belum mencapai nilai maksimum regangan beton (0,003) pada saat runtuh, maka jenis keruntuhan yang terjadi adalah over-reinforced. Rasio beban retak pertama hasil experimental (Pcr) terhadap beban retak teoritis berturut-turut untuk benda uji BKN 0.6 dan BKS 0.6 adalah 1,291 dan 0,948. Rasio momen ultimit experimental terhadap momen ultimit hasil perhitungan berdasarkan teori berturut-turut untuk benda uji BKN 0.6 dan BKS 0.6 adalah 1,73 dan 1,52.
ANALISIS MODEL PENAMPUNGAN LIMPASAN HUJAN DENGAN EMBUNG LAHAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) KRITIS TERASERING: Run off Recharge Embung Lahan Model Analysis at Critical Watershed Negara, I Dewa Gede Jaya; Supriyadi, Anid; Salehudin, Salehudin; Ainudin, Nurun
Spektrum Sipil Vol 5 No 1 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rusaknya daerah aliran sungai (DAS), sering kali ditunjukkan oleh adanya penurunan sumber air di sungai, aliran air sungai keruh di musim hujan dan hilangnya sumber-sumber air permukaan. Pemanfaatan DAS hulu untuk pertanian dapat menjadi penyebab terjadinya kerusakan resapan DAS tersebut. Perbaikan kondisi sumber air di DAS dengan peningkatan resapan air hujan perlu dilakukan pada petak lahan, agar limpasan hujan selesai diresapkan di petak lahan. Untuk itu uji embung lahan sebagai media peresapan limpasan hujan dipetak lahan perlu dilakukan agar limpasan tidak terbuang ke sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menguji embung lahan (EL) di petak lahan terasering dan pengaruhnya terhadap variasi intensitas hujan, luas lahan dan kemiringan terhadap potensi limpasan yang terjadi. Uji dilakukan dengan media uji lahan terasering berukuran A1= 150 cm x 100 cm, A2=150 cm x 80 cm, A3=150cm x 60 cm dan A4= 150 cm x 40 cm dengan kadar air 20%, pada intensitas hujan yang uji I1= 64,38 mm/jam, I2=30,69mm/jam dan I3=12,35 mm/jam. Pengujian dilakukan selama 1-2 jam sampai limpasan dipetak lahan terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa,limpasan hujan akan semakin besar terjadi pada intensitas hujan yang semakin besar dan pada kemiringan terasering yang semakin besar. Pada intensitas I2 dan I1, limpasan hujan terjadi dan pada intensitas I3, limpasan belum terjadi sigifikan. Selain itu pada luas terasering yang semakin besar, limpasan yang dihasilkan juga semakin besar. Dengan ukuran panjang dan lebar EL yang diperlukan masing-masing lahan 1/10 dari panjang lahan dan 1/20 dari lebar lahan. Jumlah EL terpasang dilahan disesuaikan dengan potensi limpasan yang akan ditampung.
KINERJA CAMPURAN BETON ASPAL WEARING COURSE DENGAN TAMBAHAN SERBUK SERAT PELEPAH BATANG PISANG: Performance of Asphalt Concrete Wearing Course Mixtures with additional Banana Stems Fiber Powder Widianty, Desi; Wahyudi, Mudji; Setiawan, Agustono
Spektrum Sipil Vol 5 No 1 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkerasan yang awet dan tahan lama dapat dicapai bila memiliki kualitas perkerasan jalan yang baik / tinggi. Kualitas perkerasan jalan sangat dipengaruhi oleh bagaimana memilih material dan penggunaan persentase yang tepat sehingga memiliki kualitas yang tinggi dan memenuhi standar/persyaratan dalam suatu campuran beraspal. Aspal sebagai bahan pengikat dan pengisi antar agregat dituntut memiliki kemampuan dalam mempertahankan sifat fisiknya. Kualitas aspal dapat ditingkatkan dengan menambah bahan aditif. Serbuk serat pelepah batang pisang dapat dijadikan sebagai bahan aditif pada aspal murni (aspal 60/70). Metode yang dilakukan untuk membuat campuran beton aspal dengan menambah 0,1% serbuk serat pelepah batang pisang dari total berat aspal untuk setiap variasi kadar aspal murni 5%; 5,5%; 6%; 6,5%; dan 7%. Dilanjutkan dengan menambah agregat untuk membuat benda uji campuran beton aspal (AC-WC). Benda uji dibuat masing–masing sebanyak 3 (tiga) sampel untuk setiap variasi kadar aspal. Pemeriksaan benda uji meliputi pemeriksaan volumetrik berupa VMA, VIM, dan VFB serta pemeriksaan mekanis berupa stabilitas, flow dan marshall quetions. Hasil pemeriksaan tersebut dijadikan dasar untuk menentukan besarnya kadar aspal optimum. Berdasarkan analisis dan pembahasan didapatkan bahwa campuran beton aspal yang menggunakan aspal dengan tambahan serbuk serat pelepah batang pisang, memiliki nilai VMA dan VIM semakin menurun seiring meningkatnya kadar aspal. Nilai VFB dan flow semakin meningkat seiring meningkatnya kadar aspal. Sedangkan nilai stabilitas dan marshall quetions sampai batas tertentu stabilitas dan MQ nya naik namun kemudian semakin tinggi kadar aspalnya nilainya semakin turun. Dari lima variasi kadar aspal, prosentase kadar aspal 5,5% yang menghasilkan nilai yang paling optimum.
PERILAKU STRUKTUR BATANG TEKAN TRUSS BAJA RINGAN DENGAN PERKUATAN BAMBU: Structural Behavior of Lightweight Steel Truss Compression Member with Bamboo Strengthening Ardiansyah, Ardiansyah; Akmaluddin, Akmaluddin; Murtiadi, Suryawan
Spektrum Sipil Vol 5 No 1 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konstruksi kuda-kuda umumnya dari bahan kayu atau baja konvensional, namun sejalan perkembangan teknologi dibidang konstruksi tidak dipungkiri kuda-kuda berbahan kayu telah banyak digantikan dengan kuda-kuda dari bahan baja ringan (cold formed steel). Salah satu keunggulan bahan baja ringan adalah mudah dalam perakitan dan pelaksanaan. Dalam praktiknya, sering dijumpai kegagalan rangka atap baja ringan, salah satu penyebabnya terdapat batang tekan yang mengalami tekuk akibat pembebanan yang tidak sesuai atau berlebihan. Bahaya tekuk (buckling) menjadi kelemahan tersendiri dari rangka baja ringan. Kombinasi material baja ringan dengan kayu merupakan hal baru yang diterapkan belakangan ini dengan maksud menutupi salah satu kelemahan elemen baja ringan. Dalam penelitian ini, dilakukan pengujian terhadap elemen dan struktur rangka kuda-kuda baja ringan C.75.75 tanpa dan dengan perkuatan bambu petung. Selanjutnya kapasitas beban hasil eksperimen dibandingkan dengan teori Euler dan permodelan software SAP 2000 Versi 14. Uji tekan elemen dilakukan terhadap 8 benda uji yang terdiri dari 4 buah tanpa perkuatan dan 4 buah dengan perkuatan. Masing-masing empat benda uji tersebut memiliki variasi panjang berturut-turut 400 mm, 600 mm, 800 mm dan 1000 mm. Pengujian struktur dilakukan terhadap 2 rangka kuda-kuda bentang 2400 mm dengan variasi tanpa perkuatan dan dengan perkuatan pada batang tekan. Beban terpusat dilakukan pada 3 titik buhul bagian atas kuda-kuda. Hasil uji tekan (compression test) elemen C.75.75 setelah diberi perkuatan bambu petung pada variasi panjang elemen (L) 400 mm, 600 mm, 800 mm dan 1000 mm mengalami peningkatan kapasitas tekuk (buckling capacity) masing - masing sebesar, 1,223, 1,320, 1,381 dan 1,421 dengan peningkatan kapasitas rata-rata 33,60%, sedangkan pada pengujian struktur kuda-kuda bentang 2400 mm terjadi peningkatan kapasitas dari 15,805 KN menjadi 22,585 KN atau sebesar 42,90% setelah diberi perkuatan dengan bambu petung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan perkuatan batang tekan pada konstruksi kuda-kuda mempunyai peran yang besar dalam meningkatkan kapasitas menahan beban. Sehingga perkuatan bambu ini dapat dipertimbangkan untuk diaplikasikan pada konstruksi bangunan.
PENENTUAN KOEFISIEN RESESI UNTUK PERAMALAN DEBIT SETENGAH BULANAN SUNGAI JANGKOK: The Determination of Recession Coefficient for a Half Monthly Jangkok River Flow Forecasting Saidah, Humairo; Budianto, Muh Bagus; Hanifah, Lilik; Sulistyono, Heri; Setiawan, Agustono
Spektrum Sipil Vol 5 No 1 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkiraan debit sungai pada dua minggu atau sepuluh hari yang akan datang adalah hal krusial yang harus diketahui sebelum Panitia Irigasi melakukan pembagian air. Teknik perkiraan yang tepat akan mendukung Rencana Alokasi Air Global (RAAG) yang andal, efisien dan memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat. Metode resesi dipilih untuk diaplikasikan karena debit yang akan datang ditentukan dengan cara mengenali karakteristik aliran saat aliran rendah yang dianggap lebih sesuai dan masuk akal, khususnya dalam memprediksikan debit pada saat aliran rendah. Hasil studi menyimpulkan bahwa penentuan nilai faktor resesi (faktor k) menjadi penentu keberhasilan kinerja metode ini. Faktor k akan memberi kinerja lebih baik jika diperoleh dari data debit saat musim kemarau saja, yaitu sekitar awal Juni hingga akhir September. Faktor k yang diperoleh untuk Sungai Jangkok adalah sebesar 0.0459, sehingga persamaan untuk peramalan debit pada Sungai Jangkok adalah Qt = Q0 e-0.0459 t. Kinerja nilai faktor k ini dalam memprediksi debit 10 harian (dasarian) mendatang adalah cukup baik dengan mean errors -0.46 m3/det, RMSE 0.26 m3/det dan koefisien korelasi sebesar 0.67.

Page 1 of 1 | Total Record : 7