cover
Contact Name
Muhammad Ilham Akbar Alamsyah
Contact Email
231320043.muhammadilham@uinbanten.ac.id
Phone
+6285798995400
Journal Mail Official
hikmatul.luthfi@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jl. Syekh Moh. Nawawi Albantani, Kemanisan, Kec. Curug, Kota Serang, Banten
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Al-Fath
ISSN : 19782845     EISSN : 27237257     DOI : https://doi.org/10.32678/alfath
Al-Fath: published twice a year since 2007 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Interpretation of the quran. This journal is published by the Alquran and its Interpretation Department, Faculty of Ushuluddin and Adab, Sultan Maulana Hasanuddin State Islamic University of Banten INDONESIA. Al-Fath focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, and Theology. Editors welcome scholars, researchers and practitioners of Alquran and its Interpretation, Hadith, and Theology around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 10 No 1 (2016): Juni 2016" : 5 Documents clear
Tafakkur dalam Perspektif al-Qur'an Rani Liani
Al-Fath Vol 10 No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v10i1.3200

Abstract

Banyak seruan untuk bertafakkur ditemukan dalam al-Qur’ān, karena sejatinya manusia diciptakan oleh Allah Swt dengan komponen akal sebagai keistimewaannya. Meskipun begitu, masih banyak di antara manusia belum bisa memahami arti tafakkur dan menerapkannya di kehidupan mereka, sehingga seringkali melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT. Kegiatan berpikir dalam diri manusia mengarahkan perilaku dan sikap lahiriahnya, baik yang dirasakan maupun yang tidak dirasakan. Tafakkur tentang ciptaan Allah SWT. merupakan tiang utama keimanan yang dapat melahirkan segala perbuatan dan perilaku positif. Dan pemikiran yang benar akan melahirkan perbuatan yang baik dan benar, serta pemikiran yang salah akan melahirkan perbuatan yang kotor dan menyimpang.
Penafsiran Teori Big Bang dalam Perspektif al-Qur'an Dedeh Uies
Al-Fath Vol 10 No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v10i1.3039

Abstract

Berdasarkan ayat al-Qur’an, digambarkan bahwa bumi pada mulanya menempel atau menyatu dengan kumpulan galaksi yang lain beserta planet-planet atau benda-benda langit lainnya dalam sebuah bola besar. Lalu bumi yang ada di bagian celah bola besar tersebut, akibat letusan bola besar ini terbanting dan bagian bumi yang menempel tadi menjadi cekungan lautan dan samudra, serta sebagian lain yang terkena dentuman besar itu pun juga menjadi cekungan pula, lalu bola besar itu membelah, terbongkar, serta membengkak hingga pecah mengeluarkan dengannya termasuk air. Hasil pemecahan bola besar itulah yang kemudian menjadi benda-benda langit atau galaksi-galaksi selain bumi.
Kaidah-Kaidah al-Qasam dalam al-Qur'an Nurul Huda
Al-Fath Vol 10 No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v10i1.3088

Abstract

Manna>’ Khali>l al-Qat}t}a>n membagi faidah qasam berdasarkan mukha>t}ab-nya menjadi tiga kategori; mukha>t}ab kha>li al-dhihn, mukha>t}ab mutaraddid, dan mukha>t}ab munkir. Bagi mukha>t}ab jenis pertama (kha>li al-dhihn), yaitu orang yang hatinya masih netral (tidak yakin dan tidak mengingkari), maka al-qasam tidak terlalu dibutuhkan, karena padanya cukup diajukan kalam ibtida>’i> (berita tanpa taukid atau sumpah). Untuk mukha>t}ab kategori kedua (mutaraddid), yang hatinya diselimuti keragu-raguan terhadap ada tidaknya kebenaran, maka padanya perlu diajukan penguat (taukid atau sumpah) yang biasa disebut t}alabi> (kalimat bertaukid) untuk mensirnakan keraguraguannya. Dan mukha>t}ab kategori ketiga (munkir), yang menolak berita kebenaran, maka padanya wajib diberi penguat atau sumpah, supaya keingkarannya lenyap. Penguat ini disesuaikan dengan kadar keingkarannya, baik lemah maupun kuat. Biasanya, model penguat seperti ini disebut inka>ri> (berita yang diperkuat sesuai kadar keingkarannya).
Perlindungan dan Pengelolaan Terumbu Karang dalam Perspektif al-Qur'an Virginia Shofwatul Ummah
Al-Fath Vol 10 No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v10i1.3093

Abstract

Betapa pemurahnya Allah SWT. Ia menundukkan lautan yang begitu dalam dan dahsyatnya ombak serta angin yang menerpa untuk manusia berlayar di atasnya demi mencari karunia dan rizki Allah SWT. Dengan lautan kita dapat menikmati semua biota laut, menjadikan mutiara dan marjan sebagai perhiasan, melihat pemandangan yang menyejukkan, mengolah mineral yang ada dalam lautan sebagai sumber energi terbarukan, menjadikan obat dan kosmetik, dan sebagainya. Maka kita tidak perlu takut dan repot harus mencari ke mana rizki kita, karena Allah telah menunjukkan kita ayat-ayat-Nya agar kita bisa berpikir demi keberlangsungan hidup dan kepentingan manusia. Itulah mengapa kita perlu menelaah dan terus mempelajari al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat ilmu orang terdahulu dan kemudian.
Penafsiran Halalan Tayyiban dalam al-Qur'an Siti Maemunah
Al-Fath Vol 10 No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v10i1.3199

Abstract

Konsep halalan tayyiban dapat dilihat dalam fenomena yang banyak terjadi sekarang ini. Karena tuntutan ekonomi, banyak orang mencari rizki tanpa memperhatikan halal. Bisa melalui pencurian, perampokan, maupun pembunuhan. Ada juga yang bangga dengan mengikuti pola-pola hidup orang Barat dengan memakan makanan yang belum diketahui zatnya maupun cara memperolehnya. Pada dasarnya, semua makanan yang tersedia bagi manusia itu halal hukumnya, kecuali yang dijelaskan keharamannya dalam al-Qur’an maupun Hadis. Namun selama ini, masih banyak orang yang hanya cenderung memperhatikan rasa atau trennya saja mengenai makanan. Tidak hanya itu, melainkan kita harus dijaga pula kehalalan dan gizinya, karena makanan sebagai faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Penelitian tentang penafsiran Ibnu Kathir dan Hamka terhadap h}ala>lan t}ayyiban ini menunjukkan keduanya memiliki kesepakatan bahwa halalan tayyiban dalam hal makanan sangat berpengaruh terhadap jasmani dan rohani manusia.

Page 1 of 1 | Total Record : 5