cover
Contact Name
Ivan Sunata
Contact Email
sunataivan@gmail.com
Phone
+6285274603444
Journal Mail Official
sunataivan@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci Jl. Kapten Muradi, Kec. Sungai Liuk, Kerinci, Jambi, Indonesia 37112
Location
Kab. kerinci,
Jambi
INDONESIA
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah
ISSN : 27146510     EISSN : 27156273     DOI : https://doi.org/10.32939/ishlah
Core Subject : Religion,
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah is a journal that publishes current original researches on ushuluddin, adab and dakwah phenomenon and studies related to social and cultural context in Indonesia in multi concepts, theories, perspectives, paradigms and methodologies. The focus study of Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah are: Interpretation of the Quran and Hadis; Humanities and Philology; Islamic Historical and Cultural Studies; Islamic communication/public speaking (Tabligh); Islamic counseling (Irsyad); Da’wah management (Tadbir); Islamic community development (Tamkin); Religion Studies.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2025): Desember" : 14 Documents clear
Social Transformation Through Dhikr: Thoriqoh Naqsyabandiyah's Da'wah Strategy in Central Java khotimatuzzahro', khotimatuzzahro'; Yasfin, Moh Anwar
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study describes the da'wah strategy applied by Thoriqoh Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah in Central Java as a representation of Sufistic da'wah that is integrative and adaptive in responding to the challenges of modernity. This order not only focuses on the spiritual dimension through the internalization of dhikr khofi and the practice of muraqabah, but also implements a da'wah bil-hal approach, namely da'wah through concrete examples in the social sphere. Using a qualitative approach, data was collected through in-depth interviews, documentation studies, and participatory observation of the community of worshipers in the Demak area. The research findings indicate that the tarekat's da'wah strategy is built on the foundation of three main dimensions as proposed in Al-Bayanuni's theory: emotional-spiritual ('athifi), rational-intellectual ('aqli), and empirical-behavioral ('hissi) dimensions. Such strategies not only contribute to the formation of individual spiritual character, but also strengthen social solidarity and form an inclusive religious society. Another specialty of this Thoriqoh is its ability to contextualize Sufistic values with local culture, such as through the use of tembang macapat in dhikr activities and recitation assemblies. Thus, Thoriqoh Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah functions not only as a means of spiritual development, but also as a catalyst for social change that is transformative, contextual, and far-reaching in the midst of the diversity of Central Java society. Kajian ini menguraikan strategi dakwah yang diterapkan oleh Thoriqoh Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah di Jawa Tengah sebagai representasi dakwah sufistik yang bersifat integratif dan adaptif dalam merespons tantangan modernitas. Tarekat ini tidak hanya menitikberatkan pada dimensi spiritual melalui internalisasi dzikir khofi dan praktik muraqabah, tetapi juga mengimplementasikan pendekatan dakwah bil-hal, yakni dakwah melalui keteladanan konkret dalam ranah sosial. Dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi, serta observasi partisipatif terhadap komunitas jamaah di wilayah Demak. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa strategi dakwah tarekat ini dibangun di atas fondasi tiga dimensi utama sebagaimana dikemukakan dalam teori Al-Bayanuni: dimensi emosional-spiritual (‘athifi), rasional-intelektual (‘aqli), dan dimensi empiris-perilaku (‘hissi). Strategi tersebut tidak hanya berkontribusi pada pembentukan karakter spiritual individu, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan membentuk masyarakat religius yang inklusif. Keistimewaan lain dari Thoriqoh ini adalah kemampuannya dalam mengontekstualisasikan nilai-nilai sufistik dengan budaya lokal, seperti melalui pemanfaatan tembang macapat dalam aktivitas dzikir dan majelis pengajian. Dengan demikian, Thoriqoh Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah berfungsi tidak hanya sebagai sarana pembinaan spiritual, melainkan juga sebagai katalisator perubahan sosial yang transformatif, kontekstual, dan berdaya jangkau luas di tengah keberagaman masyarakat Jawa Tengah.
The Historical Approach in Muhammad Arkoun's Thought: Its Relevance to the Study of Contemporary Islamic Civilization History Nofrianti, Mami; Mardianto, Pisdoni; Fithri, Widia
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper discusses the historical approach in Muhammad Arkoun's thinking. It aims to reveal and analyze the historical approach in Muhammad Arkoun's thinking and explain its relevance to the development of contemporary Islamic Civilization History studies. This research stems from concerns about the normative and apologetic tendencies in Islamic historical writing, which necessitate a more contextual and rational critical reading. It uses a qualitative method based on literature study, specifically library research. Data was collected through searching primary and secondary sources in the form of Muhammad Arkoun's works, books, scientific articles, and relevant academic writings. Data analysis was carried out through content analysis in three stages: (1) data reduction, namely selecting and classifying the main concepts in Arkoun's thinking; (2) data presentation, by describing the findings in accordance with the frameworks of historicity, deconstruction, and interdisciplinary approaches; and (3) drawing conclusions, to assess the relevance of Arkoun's thoughts to the study of contemporary Islamic Civilization History. The results of the study show that Arkoun's thinking produced five important findings. First, the concept of textual historicity offers a new paradigm in reading Islam as an evolving socio-cultural construct, rather than a frozen dogma. Second, the deconstruction of classical Islamic historiography opens up space for criticism of ideological historical narratives and opens up opportunities for alternative historical writing from the perspective of marginalized groups. Third, Arkoun integrates the humanities—such as anthropology, linguistics, and philosophy—as the basis for an interdisciplinary approach to the study of Islam. Fourth, his thinking provides a new methodological model for education and research in Islamic Civilization History, namely Islamic history as a reflective discourse that interprets the social and cultural dynamics of the ummah. Fifth, Arkoun's historical approach became an instrument of religious reasoning reform, encouraging a transformation from closed reasoning (la raison close) to open reasoning (la raison ouverte) that is rational, dialogical, and contextual. Thus, the historical approach in Arkoun's thinking is not only a critique of classical Islamic historiography, but also provides a new direction for epistemological, methodological, and paradigmatic renewal in the development of Islamic Civilization History studies in the modern era. Tulisan ini membahas pendekatan sejarah dalam pemikiran Muhammad Arkoun. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisis pendekatan sejarah dalam pemikiran Muhammad Arkoun serta menjelaskan relevansinya bagi pengembangan studi Sejarah Peradaban Islam kontemporer. Penelitian ini berangkat dari kegelisahan atas kecenderungan penulisan sejarah Islam yang normatif dan apologetik, sehingga diperlukan pembacaan kritis yang lebih kontekstual dan rasional. Melalui metode kualitatif berbasis studi literatur, jenis penelitian kepustakaan (library research). Data dikumpulkan melalui penelusuran sumber-sumber primer dan sekunder berupa karya-karya Muhammad Arkoun, buku, artikel ilmiah, dan tulisan-tulisan akademik yang relevan. Analisis data dilakukan melalui analisis isi (content analysis) dengan tiga tahap: (1) reduksi data, yakni memilih dan mengklasifikasi konsep-konsep utama dalam pemikiran Arkoun; (2) penyajian data, dengan menguraikan temuan sesuai kerangka historisitas, dekonstruksi, dan pendekatan interdisipliner; dan (3) penarikan kesimpulan, untuk menilai relevansi pemikiran Arkoun terhadap studi Sejarah Peradaban Islam kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran Arkoun menghasilkan lima temuan penting. Pertama, konsep historisitas teks menawarkan paradigma baru dalam membaca Islam sebagai konstruksi sosial-budaya yang terus berkembang, bukan dogma yang beku. Kedua, dekonstruksi historiografi Islam klasik membuka ruang kritik terhadap narasi sejarah yang ideologis dan membuka peluang penulisan sejarah alternatif dari perspektif kelompok terpinggirkan. Ketiga, Arkoun mengintegrasikan ilmu-ilmu humaniora—seperti antropologi, linguistik, dan filsafat—sebagai landasan pendekatan interdisipliner dalam studi Islam. Keempat, pemikirannya menyediakan model metodologis baru bagi pendidikan dan riset Sejarah Peradaban Islam, yaitu sejarah Islam sebagai wacana reflektif yang menafsirkan dinamika sosial dan budaya umat. Kelima, pendekatan historis Arkoun menjadi instrumen reformasi nalar keagamaan, mendorong transformasi dari nalar tertutup (la raison close) menuju nalar terbuka (la raison ouverte) yang rasional, dialogis, dan kontekstual. Dengan demikian, pendekatan sejarah dalam pemikiran Arkoun tidak hanya bersifat kritik terhadap historiografi Islam klasik, tetapi juga memberikan arah baru bagi pembaruan epistemologis, metodologis, dan paradigmatik dalam pengembangan studi Sejarah Peradaban Islam di era modern.
The Phenomenon of Mukbang on Social Media: Sayyid Qutbuh’s Perspective on The Tafsir of The Qur’an Ummiyah, Meity; Zuhri, Ahmad; Aisyah, Nur
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Islam, all excesses are prohibited because they will have fatal consequences, such as mukbang which can damage the health of the human body. In this study, the analysis of the Mukbang phenomenon on social media was studied: "Tafsir Fii Zhilalil Qur'an". Mukbang on social media shows the phenomenon of overeating. In this study, a qualitative method was used with a Library Research Approach. The qualitative method was chosen to describe, study, and interpret narrative and descriptive data, especially related to the ethics of eating from the perspective of Sayyid Qutb. In the study, it can be concluded that the Tafsir Fi Ẓilālil Qur'an emphasizes that Islam is a religion that regulates all aspects of human life, including in seemingly simple matters such as eating. Through this prohibition, the Qur'an educates people to always protect themselves from excessive behavior that can lead to sin, and directs people to cultivate gratitude, simplicity, and responsibility. This message aligns with Quthub's principles of da'wah, which emphasize spiritual development through the internalization of Qur’anic values ​​in everyday life. Dalam Islam, segala hal yang berlebihan dilarang karena akan berakibat fatal, seperti mukbang yang dapat merusak kesehatan tubuh manusia. Dalam penelitian ini, analisis fenomena Mukbang di media sosial dikaji: “Tafsir Fii Zhilalil Qur’an”. Mukbang di media sosial menunjukkan fenomena makan berlebihan. Dalam penelitian ini, metode kualitatif digunakan dengan Pendekatan Library Research. Metode kualitatif dipilih untuk mendeskripsikan, mengkaji, dan menginterpretasi data naratif dan deskriptif, khususnya terkait etika makan dari perspektif Sayyid Qutb. Dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Tafsir Fi Ẓilālil Qur’an menekankan bahwa Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam hal-hal yang tampak sederhana seperti makan. Melalui larangan ini, Al-Qur’an mendidik manusia untuk senantiasa menjaga diri dari perilaku berlebihan yang dapat berujung pada dosa, dan mengarahkan manusia untuk memupuk rasa syukur, kesederhanaan, dan tanggung jawab. Pesan ini sejalan dengan prinsip dakwah Quthub yang menekankan pengembangan spiritual melalui internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
An Integration of Education and Economic Empowerment in Da'wah Strategies: A Case Study of Mualaf in the Dayak Meratus Tribe Mz, Ihsan; Marhani, Isnaeni; Yanuri, Yusuf R.; Pranajaya, Syatria Adymas
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the da'wah model implemented within the Dayak Meratus tribe in South Kalimantan, focusing on the provision of scholarships and economic empowerment. Da'wah in this community plays a significant role in enhancing religious understanding and improving the quality of life. The research adopts a descriptive qualitative approach, utilizing in-depth interviews and direct observation as data collection methods. The research was conducted in several areas inhabited by the Dayak Meratus tribe, with subjects comprising mualaf, religious leaders, and policymakers involved in economic empowerment programs. The findings indicate that the provision of scholarships for education and collaboration with multiple stakeholders has had a positive impact on the increase in the number of mualaf and the socio-economic welfare of the community. The family-based guidance approach and the frequency of meetings have proven effective in maintaining the commitment of converts to Islam. Furthermore, economic empowerment has made a significant contribution to strengthening their integration into the Muslim community. The discussion highlights that the success of da'wah is heavily influenced by the combination of educational support, economic empowerment, and sustainable social approaches. The conclusion of this study is that a holistic da'wah strategy, combining education and economic empowerment, is highly effective in increasing the number of converts and improving their quality of life. Recommendations for future research include expanding the scope of the study area and involving more variables that influence the success of da'wah within indigenous communities. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model dakwah yang diterapkan di suku Dayak Meratus, Kalimantan Selatan, dengan fokus pada pemberian beasiswa dan pemberdayaan ekonomi. Dakwah di komunitas ini memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman agama dan kualitas hidup masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan observasi langsung sebagai metode pengumpulan data. Lokasi penelitian berada di beberapa wilayah yang dihuni oleh masyarakat Dayak Meratus, dengan subjek yang terdiri dari mualaf, tokoh agama, dan pemangku kebijakan yang terlibat dalam pemberdayaan ekonomi umat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian beasiswa untuk pendidikan dan kerjasama dengan banyak stakeholder telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan jumlah mualaf dan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat. Pembinaan yang berbasis pada pendekatan keluarga dan intensitas pertemuan terbukti efektif dalam menjaga komitmen mualaf terhadap Islam. Selain itu, pemberdayaan ekonomi memberikan kontribusi besar dalam memperkuat integrasi mereka ke dalam masyarakat Islam. Diskusi ini mengemukakan bahwa kesuksesan dakwah sangat dipengaruhi oleh kombinasi antara dukungan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pendekatan sosial yang berkelanjutan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa strategi dakwah yang holistik, yang menggabungkan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi, sangat efektif dalam meningkatkan jumlah mualaf dan kualitas hidup mereka. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah memperluas cakupan wilayah dan melibatkan lebih banyak variabel yang mempengaruhi keberhasilan dakwah dalam komunitas adat.
Campaign Strategy of The Prosperous Justice Party in Banda Aceh City For The 2024 General Election Fathinah, Aufa; Nugraha, Fajar
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The main issue underlying this research is how PKS can design a campaign strategy that can survive amidst changing political communication patterns, limited resources, and the declining effectiveness of conventional campaigns that have been the party's strengths. This research is important and interesting because the PKS campaign in Banda Aceh for the 2024 General Election demonstrated a unique phenomenon: the use of a hybrid strategy that combines a door-to-door approach based on cadre proximity with creative campaign techniques such as flash mobs and massive digital messaging. This study aims to analyze the planning, implementation, and evaluation of the Prosperous Justice Party (PKS) campaign strategy in Banda Aceh City for the 2024 General Election. The method used is descriptive qualitative with data collection through direct interviews with the PKS campaign winning team in Banda Aceh City. The results show that PKS implemented effective communication strategies, such as door-to-door campaigns, indirect mass campaigns, and creative flash mob techniques to reach voters and increase public participation. This combination of traditional and digital strategies has produced significant impacts: increased emotional closeness with voters, increased public exposure to campaign activities, and an increase in PKS's vote share of 17.14% compared to the 2019 Election. This means that PKS's campaign strategy has not only succeeded in maintaining political support, but also expanding the voter base through innovative political communication. This research contributes to the understanding of political campaign strategies in the regional context and provides practical insights for political parties in increasing campaign effectiveness. Persoalan utama yang melatarbelakangi penelitian ini adalah bagaimana PKS merancang strategi kampanye yang mampu bertahan di tengah perubahan pola komunikasi politik, terbatasnya sumber daya, serta menurunnya efektivitas kampanye konvensional yang selama ini menjadi kekuatan partai. Penelitian ini menjadi penting dan menarik karena kampanye PKS di Banda Aceh pada Pemilu 2024 memperlihatkan fenomena unik: penggunaan strategi hibrida yang menggabungkan pendekatan door-to-door berbasis kedekatan kader dengan teknik kampanye kreatif seperti flash mob dan penyebaran pesan digital yang masif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi strategi kampanye Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Kota Banda Aceh pada Pemilihan Umum Tahun 2024. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara langsung dengan tim pemenangan kampanye PKS Kota Banda Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PKS menerapkan strategi komunikasi yang efektif, seperti kampanye rumah ke rumah, kampanye massa tidak langsung, dan teknik kreatif flashmob untuk menjangkau pemilih dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Kombinasi strategi tradisional dan digital ini menghasilkan dampak signifikan: meningkatnkan kedekatan emosional dengan pemilih, meningkatnya eksposur publik terhadap aktivitas kampanye, serta bertambahnya perolehan suara PKS sebesar 17,14% dibandingkan Pemilu 2019. Artinya strategi kampanye PKS tidak hanya berhasil mempertahankan dukungan politik, tetapi juga memperluas basis pemilih melalui inovasi komunikasi politik Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman strategi kampanye politik pada konteks regional serta memberikan wawasan praktis bagi partai politik dalam meningkatkan efektivitas kampanye.
Tigo Luhah Tanah Sekudung Customary Criminal Law as a Mirror of Local Wisdom: The Survival of Traditional Values in the Midst of Modernity Zahara, Mina; Hadi , Samsu
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tigo Luhah Tanah Sekudung Customary Criminal Law is a form of traditional legal system that lives and is practiced by indigenous peoples as a guideline in maintaining social order and harmony of life together. This research aims to analyze the customary criminal law as a mirror of local wisdom and examine the survival of traditional values in the midst of the ever-growing currents of modernity. This research uses a qualitative method with a cultural approach, which places customary law as a cultural product full of meaning, values, symbols, and social norms. Data collection techniques are carried out through participatory observation, in-depth interviews with indigenous leaders, stakeholders, and local communities, as well as documentation studies of customary texts and applicable legal practices. The results of the study show that the Tigo Luhah Tanah Sekudung Customary Criminal Law not only functions as an instrument for conflict resolution, but also as a means of inheriting moral values, restorative justice, and social solidarity. Despite facing the challenges of modernization and the state's formal legal system, this customary criminal law survives through a process of adaptation, compromise, and strong social legitimacy in society. This resistance emphasizes that local wisdom has a strategic role in maintaining cultural identity and providing alternative contributions to the development of justice and rooted in local values. Abstrak. Hukum Pidana Adat Tigo Luhah Tanah Sekudung merupakan salah satu bentuk sistem hukum tradisional yang hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat adat sebagai pedoman dalam menjaga keteraturan sosial dan harmoni kehidupan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hukum pidana adat tersebut sebagai cermin kearifan lokal serta menelaah kebertahanan nilai-nilai tradisional di tengah arus modernisasi yang terus berkembang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan budaya, yang menempatkan hukum adat sebagai produk budaya yang sarat makna, nilai, simbol, dan norma sosial. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, pemangku kepentingan, dan masyarakat setempat, serta studi dokumentasi terhadap naskah adat dan praktik hukum yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hukum Pidana Adat Tigo Luhah Tanah Sekudung tidak hanya berfungsi sebagai instrumen penyelesaian konflik, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai moral, keadilan restoratif, dan solidaritas sosial. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi dan sistem hukum formal negara, hukum pidana adat ini tetap bertahan melalui proses adaptasi, kompromi, dan legitimasi sosial yang kuat dalam masyarakat. Kebertahanan tersebut menegaskan bahwa kearifan lokal memiliki peran strategis dalam menjaga identitas budaya serta memberikan kontribusi alternatif dalam pembangunan hukum yang berkeadilan dan berakar pada nilai-nilai lokal.
Analysis of Miqat Mosque Management in Improving Service Quality for Indonesian Umrah Pilgrims Aidina, Sufin Nurul; Rozaq, Abdul
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the management of Hudaibiyah Mosque, one of the main miqat locations frequently visited by Indonesian umrah pilgrims, particularly in relation to improving service quality. A descriptive qualitative approach was employed, and data were collected through in-depth interviews with Indonesian pilgrims, muthawwif (pilgrim guides), and mosque staff. Data analysis employed interactive data analysis, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that the capacity of key facilities such as toilets, ablution areas, changing rooms, resting areas, and bus parking remains insufficient given the increasing number of pilgrims, leading to long queues, overcrowding, and reduced worship comfort. Sanitation is suboptimal due to limited cleaning personnel, and informational signage in Indonesian and English is still lacking. Women’s facilities do not adequately support privacy needs, which affects comfort during preparation for ihram. Additionally, crowd management relies heavily on travel agencies’ scheduling rather than a strong independent management system. The study concludes that expanding facility capacity, increasing sanitation staff, providing multilingual signage, and improving women’s areas are essential steps toward enhancing service quality. These findings may serve as a basis for developing standardized miqat service guidelines and for future comparative studies across different miqat mosques. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen pengelolaan Masjid Hudaibiyah, salah satu lokasi miqat utama yang sering dikunjungi oleh jemaah umrah Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pelayanan. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini, dengan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap jemaah Indonesia, muthawwif (pembimbing ibadah), dan petugas masjid. Analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas fasilitas utama seperti toilet, tempat wudu, ruang ganti, area istirahat, dan parkir bus masih belum memadai dibandingkan dengan peningkatan jumlah jemaah, yang menyebabkan antrean panjang, kepadatan, dan berkurangnya kenyamanan beribadah. Sanitasi dinilai belum optimal akibat keterbatasan petugas kebersihan, serta masih kurangnya papan petunjuk informasi (signage) dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Fasilitas bagi jemaah perempuan juga belum memadai dalam mendukung kebutuhan privasi, yang berdampak pada kenyamanan saat persiapan ihram. Selain itu, manajemen keramaian masih sangat bergantung pada penjadwalan biro perjalanan dibandingkan sistem manajemen mandiri yang kuat dari pihak masjid. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perluasan kapasitas fasilitas, penambahan petugas kebersihan, penyediaan informasi multibahasa, dan perbaikan area khusus perempuan merupakan langkah penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Temuan ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan pedoman standar pelayanan miqat serta untuk studi komparatif di masa depan pada masjid-masjid miqat lainnya.
Cultivating Islamic Environmental Consciousness: The Case of Al Muharram Eco Mosque in Yogyakarta Zahra, Fatma Nuraini; Nanda, Dendy H
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muslim activists in Indonesia have developed many movements that seek to harmonize Islamic values with ecological awareness. This study explores how muslim-mosque activists understand the environmental crisis and how eco masjid can be the medium for conveying and raising awareness of muslim communities regarding environmental issues. This study applied a qualitative case study approach on mosque communities and muslim-mosque activists in Yogyakarta, i.e. Al Muharram Mosque to gain insight and in-depth results related to the understanding of the environmental crisis and eco masjid. The empirical data were gathered through observation and semi-structured interviews with several muslim activists from the mosque. The ’Eco Masjid’, from its various applications and as a program in general, has demonstrated a positive impact in efforts to increase public environmental awareness. Moreover, mosques can serve as a primary medium for instilling ecological values grounded in the concepts of tawhid (the unity of all creation), stewardship as khalifah on earth (trust and responsibility), and akhirah or mizan (the hereafter and balance). This is supported by the perspectives of mosque activists, who view the environmental crisis as part of humanity’s trust as khalifah, which will become both provision and responsibility in the afterlife. Through more extensive promotion of eco mosque programs, mosques have the potential to become a central medium for disseminating environmental issues, enhancing awareness not only among muslim activists within mosque communities but also generating a broader movement effect within muslim communities across Indonesia. Aktivis muslim di Indonesia telah mengembangkan berbagai gerakan yang berupaya mengharmoniskan nilai-nilai Islam dengan kesadaran ekologis. Salah satu di antaranya adalah gerakan Eco Masjid. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri bagaimana para aktivis Islam memahami krisis lingkungan serta bagaimana eco masjid dapat berperan sebagai medium dalam menyampaikan dan meningkatkan kesadaran masyarakat muslim terhadap isu-isu lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus komunitas masjid dan aktivis muslim di Yogyakarta, yaitu Masjid Al Muharram, untuk memperoleh pemahaman dan hasil yang mendalam terkait persepsi terhadap krisis lingkungan dan penerapan eco masjid. Data empiris dikumpulkan melalui observasi dan wawancara semi-terstruktur dengan sejumlah aktivis muslim dari masjid tersebut. Hasil penelitian menunjukkan Program Eco Masjid, terbukti memberikan dampak positif dalam upaya meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat. Selain itu, masjid dapat berfungsi sebagai medium utama dalam menanamkan nilai-nilai ekologis yang berdasarkan pada konsep tawhid (kesatuan seluruh makhluk), khalifah di bumi (amanah–khalifah), dan akhirah atau mizan. Hal ini didukung dengan pandangan dari aktivis masjid yang menunjukkan bahwa krisis lingkungan adalah bagian dari amanah manusia sebagai khalifah yang akan menjadi bekal dan tanggung jawab di kehidupan akhirat. Melalui promosi yang lebih masif terhadap program eco masjid, masjid berpotensi menjadi medium utama dalam penyebaran isu-isu lingkungan dan tidak hanya meningkatkan kesadaran di kalangan aktivis muslim di lingkungan masjid, tetapi juga menciptakan efek gerakan di tengah komunitas muslim Indonesia.
The Hajar Aswad Jockey Phenomenon: Ethical Analysis and Implications for Pilgrim Management Nafiroh, Nur Hidayatun; Rozaq, Abdul
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of Hajar Aswad jockeys, emerging from extreme overcrowding in the Grand Mosque, has triggered multidimensional polemics ranging from physical safety risks and social ethical dilemmas to disruptions in pilgrim management governance. This study aims to examine the Hajar Aswad jockey phenomenon in depth from the perspective of Islamic ethics and its implications for pilgrim management. This research employs a descriptive qualitative approach with a phenomenological method. Data were obtained through in-depth interviews with pilgrims, mutawwifs, and travel organizers, documentation observation, and literature study. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman model, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that although the practice is perceived as facilitating worship for some pilgrims, it potentially poses safety risks, disorder, and degradation of moral values in worship. From an Islamic ethics perspective, this practice contradicts maqashid al-shari’ah principles, particularly hifz al-nafs (preservation of life) and hifz al-din (preservation of religion). Other implications include the need for pilgrim education, mutawwif accompaniment, and strengthening regulations to ensure safe, ethical practices that uphold the spiritual values of Hajj and Umrah. Fenomena joki Hajar Aswad yang muncul akibat kepadatan ekstrem di Masjidil Haram telah memicu polemik multidimensi, mulai dari risiko keselamatan fisik dan dilema etika sosial hingga gangguan terhadap tata kelola ketertiban jamaah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena joki Hajar Aswad secara mendalam dari perspektif etika Islam serta implikasinya terhadap manajemen jamaah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan jamaah, mutawwif, dan penyelenggara perjalanan ibadah, observasi dokumentasi, serta studi literatur. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun praktik joki dianggap mempermudah ibadah bagi sebagian jamaah, praktik ini berpotensi menimbulkan risiko keselamatan, ketidaktertiban, dan penurunan nilai moral ibadah. Dari perspektif etika Islam, praktik ini bertentangan dengan prinsip maqashid al-shari’ah, khususnya hifz al-nafs (menjaga jiwa) dan hifz al-din (menjaga kesucian ibadah). Implikasi lain termasuk perlunya edukasi jamaah, pendampingan mutawwif, serta penguatan regulasi dan sosialisasi agar praktik joki berlangsung aman, etis, dan tetap memperhatikan nilai spiritual ibadah haji dan umrah.
Operationalizing Hadith in Digital Ta’aruf: A Living Hadith Study of TikTok @taarufmenikah Muzakki, Muhammad Asgar
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the function of hadith in digital ta’aruf practices facilitated by the TikTok account @taarufmenikah. Using a living hadith approach, the research analyzes 36 TikTok posts containing hadith or Qur’anic references and is supported by interviews with practitioners of online and offline ta’aruf conducted through snowball sampling. The findings indicate that the cited texts originate from authoritative sources with acceptable levels of authenticity but are presented in simplified and decontextualized forms adapted to TikTok’s short-video format. In this context, hadith functions as normative legitimization, motivational encouragement, pragmatic guidance, and interpretive simplification, while its authority is shaped less by traditional religious figures and more by platform visibility and repetition, reflecting a form of algorithmic authority. The study concludes that digital ta’aruf reshapes the relationship between religious texts, authority, and user practices, illustrating a contemporary form of living hadith in social media spaces. Penelitian ini mengkaji fungsi hadis dalam praktik ta’aruf digital yang difasilitasi oleh akun TikTok @taarufmenikah. Dengan menggunakan pendekatan living hadis, penelitian ini menganalisis 36 unggahan TikTok yang memuat kutipan hadis atau ayat Al-Qur’an serta didukung oleh wawancara dengan praktisi ta’aruf daring dan luring yang dikumpulkan melalui teknik snowball sampling. Temuan penelitian menunjukkan bahwa teks-teks yang dikutip berasal dari sumber otoritatif dengan tingkat kesahihan yang dapat diterima, namun disajikan dalam bentuk yang disederhanakan dan terlepas dari konteks klasik agar sesuai dengan format video singkat TikTok. Dalam konteks ini, hadis berfungsi sebagai legitimasi normatif, penguatan motivasi, panduan pragmatis, dan penyederhanaan makna, sementara otoritasnya dibentuk tidak lagi oleh figur keagamaan tradisional, melainkan oleh visibilitas dan repetisi platform, yang mencerminkan bentuk algorithmic authority. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik ta’aruf digital membentuk ulang relasi antara teks keagamaan, otoritas, dan praktik pengguna, serta merepresentasikan bentuk living hadis kontemporer di ruang media sosial.

Page 1 of 2 | Total Record : 14