cover
Contact Name
Ivan Sunata
Contact Email
sunataivan@gmail.com
Phone
+6285274603444
Journal Mail Official
sunataivan@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci Jl. Kapten Muradi, Kec. Sungai Liuk, Kerinci, Jambi, Indonesia 37112
Location
Kab. kerinci,
Jambi
INDONESIA
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah
ISSN : 27146510     EISSN : 27156273     DOI : https://doi.org/10.32939/ishlah
Core Subject : Religion,
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah is a journal that publishes current original researches on ushuluddin, adab and dakwah phenomenon and studies related to social and cultural context in Indonesia in multi concepts, theories, perspectives, paradigms and methodologies. The focus study of Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah are: Interpretation of the Quran and Hadis; Humanities and Philology; Islamic Historical and Cultural Studies; Islamic communication/public speaking (Tabligh); Islamic counseling (Irsyad); Da’wah management (Tadbir); Islamic community development (Tamkin); Religion Studies.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2025): Desember" : 14 Documents clear
Perspective of Faith According to Sheikh H. Mukhtar in the Book of Al-Sholah Faizin, Faizin; Dafizki, Ashlih Muhammad; I, Martunus
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sheikh H. Mukhtar was a prominent Muslim scholar from Kerinci whose religious thought influenced Islamic communities in Kerinci, Malaysia, and the surrounding regions. As a leading figure in Islamic daʿwah, he played an important role in strengthening religious life, particularly in the domain of faith . This study employs qualitative research using a library research approach complemented by field research to examine the religious thought of Sheikh H. Mukhtar and its influence on contemporary religious practices in Kerinci. The research results show in theological matters, K.H. Mukhtar emphasized the purification of Islamic belief from superstition, bidʿah, and shirk, while firmly grounding faith in the teachings of the Qur’an and Sunnah. His understanding of iman, Islam, and tawḥid reflects the theological orientation of Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʿah, with a clear tendency toward the Ashʿari tradition. Faith, according to K.H. Mukhtar, is not merely inner belief but must be affirmed verbally and manifested through righteous practice in accordance with divine guidance and the attributes of Allah. This perspective demonstrates his contribution to shaping a balanced and orthodox understanding of Islamic faith within the Kerinci Muslim community. Syekh H. Mukhtar adalah seorang ulama Muslim terkemuka dari Kerinci yang pemikiran keagamaannya memengaruhi komunitas Islam di Kerinci, Malaysia, dan wilayah sekitarnya. Sebagai tokoh terkemuka dalam dakwah Islam, beliau memainkan peran penting dalam memperkuat kehidupan keagamaan, khususnya dalam bidang iman. Studi ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan yang dilengkapi dengan penelitian lapangan untuk mengkaji pemikiran keagamaan Syekh H. Mukhtar dan pengaruhnya terhadap praktik keagamaan kontemporer di Kerinci. Hasil Penelitian menunjukkan dalam hal teologi, K.H. Mukhtar menekankan pemurnian keyakinan Islam dari takhayul, bid'ah, dan syirik, sambil tetap berlandaskan pada ajaran Al-Qur'an dan Sunnah. Pemahamannya tentang iman, Islam, dan tauhid mencerminkan orientasi teologis Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʿah, dengan kecenderungan yang jelas terhadap tradisi Asy'ari. Menurut K.H. Mukhtar, iman bukanlah sekadar keyakinan batin tetapi harus ditegaskan secara lisan dan diwujudkan melalui praktik yang benar sesuai dengan petunjuk ilahi dan sifat-sifat Allah. Perspektif ini menunjukkan kontribusinya dalam membentuk pemahaman yang seimbang dan ortodoks tentang iman Islam dalam komunitas Muslim Kerinci.
The Transformation of Betangas in Contemporary Malay Society: From Communal Rituals to Modern Care Fitriah, Fitriah; Cholidi, Cholidi; Syawaludin, Mohammad
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines betangas, a traditional Malay steam-bathing practice, as a dynamic cultural ritual undergoing transformation in contemporary society. Previous studies have largely approached betangas from descriptive ethnobotanical or functional perspectives, emphasizing plant knowledge, ritual stages, or symbolic meanings, while paying limited attention to its ongoing transformation within changing social structures. Addressing this gap, the present research analyzes betangas as a cultural practice that is continuously reconfigured in response to modernity, shifting bodily regimes, and changing knowledge authorities. Drawing on an ethnographic approach with historical and cultural perspectives, this study integrates literature analysis with field-based insights from Malay communities in South Sumatra to capture both continuity and change in practice. The findings reveal three interrelated patterns of transformation: the expansion of betangas from a pre-marital communal ritual into therapeutic, relaxation, and cosmetic practices; the shift from collective, family-based rituals to more individualized and service-oriented forms; and the reproduction of local ethnobotanical knowledge into scientific, educational, and commercial formats. These transformations reflect broader processes of rationalization, individualization, and commodification of traditional knowledge, while simultaneously generating new forms of legitimacy for betangas in contemporary health and lifestyle contexts. Rather than signaling cultural decline, the transformation of betangas demonstrates a process of reinterpretation and adaptation, where ritual meanings, bodily practices, and local knowledge are renegotiated within modern social, economic, and epistemic frameworks. This study contributes to debates on ritual change, the sociology of the body, and postcolonial discussions on the commodification of indigenous knowledge, highlighting how traditional body care practices persist through transformation rather than disappearance. Keywords: Abstrak. Penelitian ini mengkaji betangas, sebuah praktik mandi uap tradisional Melayu, sebagai ritual budaya yang dinamis dan terus mengalami transformasi dalam masyarakat kontemporer. Kajian-kajian sebelumnya cenderung menempatkan betangas dalam kerangka deskriptif etnobotani atau fungsional, dengan menekankan pengetahuan tumbuhan, tahapan ritual, atau makna simbolik, namun masih terbatas dalam membahas proses transformasi praktik ini dalam konteks perubahan struktur sosial. Menjawab celah tersebut, penelitian ini menganalisis betangas sebagai praktik budaya yang senantiasa direkonfigurasi seiring dengan modernitas, perubahan rezim tubuh, dan pergeseran otoritas pengetahuan. Dengan menggunakan pendekatan etnografis yang diperkaya perspektif historis dan kultural, penelitian ini memadukan kajian literatur dengan temuan lapangan pada komunitas Melayu di Sumatera Selatan untuk menangkap dinamika kesinambungan dan perubahan praktik betangas. Hasil penelitian menunjukkan tiga pola transformasi yang saling terkait, yaitu: perluasan fungsi betangas dari ritual komunal pra-nikah menjadi praktik terapeutik, relaksasi, dan kosmetik; pergeseran dari ritual kolektif berbasis keluarga menuju bentuk praktik yang lebih individual dan berbasis layanan; serta reproduksi pengetahuan etnobotani lokal ke dalam format ilmiah, edukatif, dan komersial. Transformasi ini mencerminkan proses rasionalisasi, individualisasi, dan komodifikasi pengetahuan tradisional, sekaligus membentuk sumber legitimasi baru bagi betangas dalam konteks kesehatan dan gaya hidup kontemporer. Alih-alih menunjukkan kemunduran budaya, transformasi betangas memperlihatkan proses reinterpretasi dan adaptasi, di mana makna ritual, praktik tubuh, dan pengetahuan lokal dinegosiasikan ulang dalam kerangka sosial, ekonomi, dan epistemik modern. Penelitian ini berkontribusi pada perdebatan tentang perubahan ritual, sosiologi tubuh, serta kajian poskolonial mengenai komodifikasi pengetahuan tradisional, dengan menegaskan bahwa praktik perawatan tubuh tradisional bertahan melalui transformasi, bukan melalui kepunahan.
Artificial Intelligence (AI) Interpretation: Analysis of Mutasyabihat Verses in the Qur’an Atmojo, Prio Dwi; Kusnadi, Kusnadi; Hidayatullah, Ahmad Syarif
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of Artificial Intelligence (AI) has had a significant impact in various scientific fields, including the study of Qur'an interpretation. One of the most sensitive aspects of the study of tafsir is the interpretation of mutasyabihat verses, which are verses that contain vague meaning and require theological caution. This study aims to analyze the capabilities and feasibility of four Artificial Intelligence tools, namely ChatGPT, Claude, Gemini, and PI, in interpreting the verses of the Qur'an. This research uses a library research method with a qualitative approach through content analysis. The data was obtained from the results of AI interpretation of four mutasyabihat verses, namely QS. Ṭaha [20]:5, QS. Al-Qaṣaṣ [28]:88, QS. Ar-Raḥmān [55]:27, and QS. Al-Fatḥ [48]:10, which was then compared with the conventional commentaries of Ath-Ṭabari and Ibn Kathir as an indicator of validity. The results show that all AI tools tend to use a descriptive, non-literal, and theologically cautious approach. ChatGPT and Claude show the highest feasibility from methodological and theological aspects, Gemini excels in linguistic aspects, while PI has limitations in the depth of interpretation analysis. This research confirms that AI has the potential to be a tool in the study of the interpretation of mutasyabihat verses, but it has not been able to replace the authority of mufasir and classical interpretation methodologies. Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa dampak signifikan dalam berbagai bidang keilmuan, termasuk studi tafsir Al-Qur’an. Salah satu aspek yang paling sensitif dalam kajian tafsir adalah penafsiran ayat-ayat mutasyabihat, yaitu ayat-ayat yang mengandung makna samar dan memerlukan kehati-hatian teologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan serta kelayakan empat tools Artificial Intelligence, yaitu ChatGPT, Claude, Gemini, dan PI, dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif melalui analisis isi (content analysis). Data diperoleh dari hasil penafsiran AI terhadap empat ayat mutasyabihat, yaitu QS. Ṭaha [20]:5, QS. Al-Qaṣaṣ [28]:88, QS. Ar-Raḥmān [55]:27, dan QS. Al-Fatḥ [48]:10, yang kemudian dibandingkan dengan tafsir konvensional Ath-Ṭabari dan Ibnu Katsir sebagai indikator validitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh tools AI cenderung menggunakan pendekatan deskriptif, non-literal, dan berhati-hati secara teologis. ChatGPT dan Claude menunjukkan kelayakan tertinggi dari aspek metodologis dan teologis, Gemini unggul pada aspek linguistik, sementara PI memiliki keterbatasan dalam kedalaman analisis tafsir. Penelitian ini menegaskan bahwa AI berpotensi menjadi alat bantu dalam kajian tafsir ayat-ayat mutasyabihat, namun belum dapat menggantikan otoritas mufasir dan metodologi tafsir klasik.
Implementation of the Caliphate Values in Tidal Flood Mitigation in Sayung District: An Environmental Ethics Approach Based on the Qur'an Amalia, Zulfa; Sya'roni, Mokh.
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the application of the concept of khalifah in tidal flood (rob) mitigation in Sayung District, Demak Regency, using the Living Qur'an approach as an environmental ethics foundation. The main focus of this research is to understand how the concept of khalifah is integrated into community-based mitigation practices to address the increasingly severe issue of rob. This study employs a descriptive-analytical qualitative method, with data collected through in-depth interviews with religious leaders, village officials, and affected residents, as well as direct observation of mitigation actions. The findings show that the value of khalifah, which emphasizes human responsibility as stewards of the earth, is implemented through collective actions such as community cooperation, mangrove planting, and housing adaptation. The study also provides recommendations for integrating religious values into the planning of community-based disaster mitigation policies in coastal areas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan nilai khalifah dalam mitigasi banjir rob di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, dengan menggunakan pendekatan Living Qur'an sebagai dasar etika lingkungan. Fokus utama penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana konsep khalifah diintegrasikan dalam praktik mitigasi berbasis komunitas untuk mengatasi masalah rob yang semakin intensif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan tokoh agama, perangkat desa, serta masyarakat terdampak, serta observasi langsung terhadap tindakan mitigasi yang dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai khalifah, yang menekankan tanggung jawab manusia sebagai pengelola bumi, diimplementasikan dalam bentuk tindakan kolektif seperti gotong royong, penanaman mangrove, serta adaptasi rumah. Penelitian ini juga memberikan rekomendasi untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam perencanaan kebijakan mitigasi bencana berbasis masyarakat di wilayah pesisir.

Page 2 of 2 | Total Record : 14